Tentara Suriah Rebut Ladang Minyak Terbesar dari Milisi SDF di Deir Ezzor

Tentara Suriah Rebut Ladang Minyak Terbesar dari Milisi SDF di Deir Ezzor

SURIAH (jurnalislam.com)– Pasukan pemerintah Suriah yang bertempur melawan milisi pimpinan Kurdi yang didukung Amerika Serikat (AS) berhasil merebut ladang minyak al-Omar, ladang minyak terbesar di Suriah, serta ladang gas Conoco di Provinsi Deir Ezzor bagian timur, Ahad (18/01/2026).

Keberhasilan ini terjadi setelah pasukan suku Arab sekutu Damaskus melancarkan serangan di wilayah kaya minyak sepanjang perbatasan Suriah–Irak, menurut keterangan pejabat pemerintah dan sumber keamanan.

Pengambilalihan ladang-ladang minyak yang terletak di sebelah timur Sungai Eufrat—yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama milisi pimpinan Kurdi—dinilai sebagai pukulan telak bagi Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Para pejabat pemerintah Suriah menegaskan bahwa kekayaan minyak yang selama ini dikuasai militan untuk menopang wilayah otonom mereka telah merampas sumber daya yang sangat dibutuhkan negara.

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan pekan lalu bahwa tidak dapat diterima jika sebuah milisi mengendalikan seperempat wilayah negara serta menguasai sumber daya minyak dan komoditas strategis utama.

Pemerintahan Otonom Suriah Utara dan Timur (AANES) saat ini menguasai sekitar sepertiga wilayah Suriah, dengan SDF sebagai sayap militernya.

Tentara Suriah terus melancarkan operasi ke wilayah timur laut yang mayoritas penduduknya Arab dan sebelumnya dikuasai SDF yang didukung AS, meski Washington menyerukan penghentian serangan.

Sumber pemerintah menyebutkan bahwa pasukan pimpinan Kurdi berhasil dipukul mundur setelah serangan yang dipimpin para pejuang suku Arab. Hal ini memungkinkan pasukan pemerintah dan sekutu sukunya menguasai wilayah sepanjang lebih dari 150 kilometer di tepi timur Sungai Eufrat, membentang dari Baghouz di dekat perbatasan Irak hingga kota-kota penting seperti al-Shuhail dan Busayra.

Para pejabat Damaskus mengatakan operasi tersebut secara efektif membuat pemerintah menguasai sebagian besar Provinsi Deir Ezzor, wilayah strategis penghasil minyak dan gandum utama Suriah.

Sementara itu, pada Sabtu malam, tentara Suriah juga mengumumkan telah menguasai kota Tabqa, bendungan di dekatnya, serta Bendungan Kebebasan (sebelumnya dikenal sebagai Bendungan Baath) di sebelah barat Raqqa.

Namun, otoritas Kurdi Suriah belum mengakui kehilangan situs-situs strategis tersebut. Mereka menyatakan bahwa pertempuran masih berlangsung di sekitar area bendungan dan menuduh Damaskus melanggar kesepakatan penarikan pasukan dari wilayah timur Aleppo untuk memperluas serangannya.

Para pejabat AANES menuduh faksi-faksi yang bersekutu dengan pemerintah menyerang pasukan mereka meski terdapat upaya untuk mencapai solusi damai. Mereka juga menuding Damaskus berupaya menabur perpecahan antara komunitas Arab dan Kurdi.

“Kita berada di persimpangan kritis. Kita harus melawan atau hidup bermartabat dan menghadapi segala bentuk ketidakadilan,” demikian pernyataan AANES, yang menyerukan penduduk wilayah mayoritas Arab untuk mendukung SDF.

Mereka juga mengajak kaum muda untuk mengangkat senjata dan bersiap menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “perang demi kelangsungan hidup”.

Di sisi lain, pemerintah Suriah menyerukan para pejuang SDF yang sebagian besar berasal dari suku-suku Arab untuk membelot. Pemerintah mengklaim ratusan pejuang telah meninggalkan SDF dan bergabung dengan pasukan suku yang memerangi kelompok tersebut.

Puluhan pemimpin suku Arab menyatakan bahwa mereka telah dipinggirkan di bawah dominasi kepemimpinan Kurdi, tuduhan yang dibantah oleh SDF. SDF mengklaim bahwa barisan mereka mencerminkan keragaman masyarakat Suriah. (Bahry)

Sumber: TNA

Bagikan