SURIAH (Jurnalislam.com) – Jabhah Nusrah, cabang resmi al Qaeda di Suriah, telah merilis sebuah pernyataan untuk menarik diri dari posisi garis depan utara di Aleppo.
Langkah ini dilakukan sebagai respon terhadap upaya Turki untuk mendirikan zona penyangga bagi pasukannya yang sedang memerangi pasukan Abu Bakr al Baghdadi.
Sebagaimana yang di lansir oleh The Long War Journal, pernyataan dirilis melalui Twitter pada tanggal 9 Agustus 2015, tidak menunjukkan bahwa Jabhah Nusrah berpihak dengan Islamic State (IS).
Sebaliknya, kerjasama Turki dengan koalisi yang dipimpin AS, yang menargetkan pemimpin veteran al Qaeda di Suriah utara, telah memaksa Jabhah Nusrah mengubah taktik.
Jabhah Nusrah mengatakan bahwa mereka melepaskan kendali wilayahnya di bagian utara provinsi Aleppo. Tapi Faksi Jihad Suriah lainnya akan mengisi kekosongan.
Jabhah Nusrah menyikapi rencana zona penyangga dalam pernyataannya, mengatakan hal ini dimaksudkan untuk melayani kepentingan keamanan nasional Turki dan bukan merupakan bagian dari upaya nyata untuk membantu mujahidin.
Pemerintah Turki mengkhawatirkan negara Kurdi di perbatasan selatan mereka, menurut Jabhah Nusrah, dan itu adalah dorongan sebenarnya di balik keputusan Turki. Kurdi adalah salah satu lawan utama IS dan telah menguasai beberapa wilayah mengalahkan pasukan IS dalam beberapa bulan terakhir.
Cabang Al Qaeda tersebut juga mengatakan tidak dibenarkan dalam segi Syariat bekerja sama dengan pasukan musuh yaitu pasukan gabungan AS – Turki.
Pentagon mengumumkan awal bulan ini bahwa mereka telah mulai menerbangkan drone dari Pangkalan Udara Incirlik di Turki. Beberapa misi udara dilaporkan mendukung pasukan darat yang dilatih AS. Pasukan tersebut telah memerangi Jabhah Nusrah, dan telah membunuh serta menangkap sejumlah mujahidin.
Pada akhir Juli, Jabhah Nusrah telah menangkap anggota kelompok Divisi 30, sekelompok pasukan khusus yang dibentuk dan dilatih oleh Amerika. Anggota Divisi 30 lainnya tewas dalam pertempuran dengan Jabhah Nusrah setelah menyerbu markas Divisi 30di utara Aleppo.
Departemen Pertahanan Pentagon memberikan dukungan udara untuk pasukan Divisi 30 bentukan militer AS, yang dijuluki Suriah Angkatan Baru. Dan Jabhah Nusrah telah menyatakan sikap untuk memeranginya.
Secara terpisah,aggressor AS juga berulang kali menargetkan pemimpin senior al Qaeda di jajaran Jabhah Nusrah. Berlabel "Khorasan Group," kader veteran al Qaeda ini telah merencanakan serangan-serangan di Barat.
Dari perspektif al Qaeda, kerjasama taktis dengan Turki, atau unsur pemerintah Turki, adalah satu hal. Namun bekerja dengan koalisi yang didukung AS, walaupun didukung Turki dalam beberapa hal, adalah masalah yang lain dan sama sekali tidak dibenarkan.
Mempertimbangkan perkataan Syeikh Nasser bin Ali al Ansi, tokoh al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yang juga menjabat sebagai wakil manajer umum al Qaeda hingga Syahidnya di bulan April, tentang Turki awal tahun ini.
Dalam sesi tanya jawab yang dirilis secara online, Syeikh al Ansi ditanya bagaimana para jihadis seharusnya bersikap dalam berurusan "dengan negara-negara seperti Qatar dan Turki, yang kebijakannya cenderung menguntungkan para mujahidin." Jawab Al Ansi bahwa "tidak ada salahnya menerima manfaat dari pihak yang berseberangan, selama kita tidak harus mengorbankan iman atau ajaran kita." Namun, Syeikh al Ansi memperingatkan bahwa hal ini "tidak boleh melemahkan untuk berkolaborasi dengan Amerika dalam perang melawan mujahidin." Para jihadis "perlu memperhatikan masalah ini," Syeikh al Ansi menjelaskan.
Dengan kata lain, mujahidin al Qaeda dan mujahidin lain boleh mendapatkan keuntungan dari bekerja sama dengan Turki dan Qatar (sama-sama ingin menggulingkan rezim Bashar al Assad misalnya), asalkan negara-negara tersebut tidak melewati batas batas syariah apalagi sampai membantu Amerika "perang melawan mujahidin." Mengingat situasi yang dijelaskan di atas, pernyataan sikap ini persis serupa dengan sikap Jabhah Al nusrah saat ini menghadapi zona penyangga Turki.
Deddy | TLWJ | Jurniscom