FILIPINA (Jurnalislam.com) – Jumlah korban tewas dalam pertempuran yang berkepanjangan antara pasukan kelompok Islamic State (IS) Filipina dan pasukan pemerintah di kota Marawi, Filipina selatan, telah mencapai 500, kata militer.
Brigadir Jenderal Restituto Padilla mengatakan pada hari Selasa (11/7/2017) bahwa 90 orang yang tewas adalah tentara dan petugas polisi di Kota Marawi, 800 kilometer selatan Manila.
Sedikitnya 300 lebih orang yang tewas adalah milisi kelompok yang tewas dalam pertempuran tersebut, yang dimulai pada 23 Mei setelah pasukan pemerintah berusaha menangkap seorang pemimpin lokal dari kelompok yang bersekutu dengan IS, tambahnya.
Filipina Tunda Serangan pada Pemberontak Komunis untuk Fokus Memerangi IS di Marawi
Berbicara dari Marawi, Yaara Bou Melhem dari Al Jazeera mengatakan bahwa walaupun jumlah korban tewas sipil tetap 39, militer mengatakan angka ini diperkirakan akan meningkat secara dramatis.
“Masih ada bagian kota yang belum bisa diakses dimana warga sipil dikhawatirkan telah dieksekusi,” kata Melhem.
Pasukan pemerintah belum bisa merebut kembali wilayah kota yang terkepung karena ada penembak jitu dan jebakan di zona konflik, tambahnya.
Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana membantah sebuah laporan media lokal bahwa hingga 2.000 warga sipil terbunuh dalam konflik tersebut, dan mendesak masyarakat untuk tidak membagikan laporan “yang tidak terverifikasi” tersebut yang dapat “menimbulkan kekhawatiran, kepanikan dan kebingungan yang tidak semestinya.”
“Informasi semacam itu tidak hanya merugikan operasi kita yang sedang berlangsung, tapi juga merugikan ekonomi dan citra internasional kita sebagai sebuah negara,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Lorenzana juga meredakan ketakutan publik akan masa darurat militer yang berkepanjangan, yang diusulkan beberapa legislator berlangsung lima tahun lagi di wilayah selatan Mindanao.
Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan sebuah undang-undang darurat 60 hari di Mindanao untuk membantu meningkatkan perang melawan militan di Kota Marawi. Keputusan tersebut akan berakhir dalam 10 hari.
Kelompok IS Filipina akan Tinggalkan Kota Marawi Jika Pasukan Islam Moro Turut Campur
Lorenzana mengatakan bahwa darurat militer adalah “kekuatan luar biasa presiden sebagai panglima tertinggi yang harus dipilih hanya bila dijamin oleh keadaan keamanan nasional kita.”
“Konstitusi kita telah menetapkan batasan yang tepat untuk mencegah agar tidak disalahgunakan karena memiliki implikasi terhadap perdamaian, ketertiban, ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan cara hidup rakyat kita,” tambahnya.
Lebih dari 300.000 warga sipil telah mengungsi akibat pertempuran tersebut.
