Pemakaman Pengacara Muslim Myanmar Dihadiri 100.000 Pelayat

Pemakaman Pengacara Muslim Myanmar Dihadiri 100.000 Pelayat

YANGON (Jurnalislam.com) – Ratusan ribu orang berkumpul di kota Myanmar Yangon pada hari Senin untuk pemakaman Ko Ni, seorang pengacara Muslim yang ditembak mati sehari sebelumnya.

Ko Ni yang berusia 63 tahun adalah seorang ahli dalam hukum konstitusional dan penasihat penguasa Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy-NLD) yang mulai berkuasa pada bulan April, lansir Aljazeera, Senin (30/01/2017)

Selain seorang anggota terkemuka minoritas Muslim Myanmar, pengacara tersebut terlibat dalam upaya untuk mengubah rancangan konstitusi militer.

Polisi telah menahan seorang pria berusia 53 tahun, yang diduga sebagai pria bersenjata yang menembak Ko Ni di kepala di luar bandara internasional Yangon pada Ahad malam.

Ko Ni baru saja memeluk cucu laki-lakinya saat ia melangkah keluar dari terminal bandara sekembalinya dari Jakarta, kata putri pengacara itu, Yin Nwe Khine.

“Ayah saya sedang berbicara dengan cucunya. Lalu, aku mendengar suara tembakan. Pada awalnya, saya pikir itu adalah ban mobil yang pecah, kemudian saya melihat ayah saya tergeletak di tanah,” katanya.

Korban baru saja kembali dari perjalanan ke Indonesia, di mana pejabat pemerintah Myanmar dan tokoh masyarakat Muslim mendiskusikan isu-isu rekonsiliasi dengan rekan-rekan mereka di Indonesia.

Sopir taksi Nay Win, 42, juga tewas ketika ia berusaha untuk menangkap pria bersenjata itu, menurut media pemerintah.

“Kami telah menahan dan menginterogasi pria bersenjata itu untuk mencari tahu mengapa dia membunuhnya, dan siapa yang berada di balik penembakan itu atau membayarnya untuk melakukannya,” kata Zaw Htay kepada kantor berita Reuters.

Diperkirakan 100.000 pelayat, termasuk anggota keluarga, pengacara, aktivis NLD dan anggota korps diplomatik Yangon menghadiri pemakaman Ko Ni di sebuah pemakaman Muslim di Yangon utara.

Aung San Suu Kyi tidak hadir dan belum mengomentari pembunuhan itu. Partainya mengatakan pada hari Ahad bahwa kematian Ko Ni adalah “kerugian besar yang tidak ada penggantinya.”

Pembunuhan jelas terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di Negara Myanmar yang mayoritas Buddha, di mana Aung San Suu Kyi berada di bawah tekanan selama operasi keamanan berat di daerah barat laut negara itu yang kebanyakan dihuni oleh umat Islam.

Ko Ni, seorang ahli hukum konstitusi, telah berbicara tentang peran kuat militer dalam mengatur Myanmar, meskipun menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi pada bulan April.

“Ayah saya sering diancam dan kami diperingatkan untuk berhati-hati, tapi ayah saya tidak menurutinya dengan mudah. ​​Dia selalu melakukan apa yang dia pikir benar,” kata Yin Nwe Khine.

“Banyak orang membenci kita karena kita memiliki keyakinan agama yang berbeda, jadi saya pikir itu mungkin menjadi sebab mengapa hal itu terjadi padanya, tapi saya tidak tahu alasannya.”

Ko Ni bergabung dengan Pe Myint, Menteri Informasi, pada kunjungan ke Negara mayoritas Muslim Indonesia, sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman mengenai rekonsiliasi nasional.

Delegasi tersebut termasuk beberapa pemimpin Muslim Myanmar, beberapa dari minoritas Rohingya yang sebagian besar stateless (tidak memiliki warga Negara).

Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk Myanmar, menyuarakan kemarahan atas pembunuhan Ko Ni, mengatakan ia telah bertemu di perjalanan terakhirnya ke Myanmar awal bulan ini, termasuk kunjungan ke Rakhine.

“Saya menyatakan belasungkawa terdalam dan paling tulus kepada keluarga U Ko Ni, pengacara Muslim yang paling menonjol dan dihormati Myanmar,” dia tweeted, menyerukan pemerintah Aung San Suu Kyi untuk “menyelidiki kematiannya sampai ke akar.”

Bagikan