Dilema Pemerintah; Antara Pandemi dan Penyerangan Ulama

Dilema Pemerintah; Antara Pandemi dan Penyerangan Ulama

Oleh : Jumi Yanti Sutisna*

Antara pandemi corona dan penyerangan ulama, dua hal besar yang sedang menjadi tren saat ini di Indonesia. Dikatakan dua hal besar karena penanganan keduanya dinilai menentukan masa depan Indonesia, negeri tercinta.

Terkait yang pertama, tentang pandemi corona, dapat kita saksikan hingga kini, kondisi pandemi di Indonesia belum menunjukkan angin segar berupa harapan akan usai.

Sebaliknya yang terjadi malah semakin menjadi. Hal ini berbeda misalnya, dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura yang mulai mampu mengatasi pandemi corona.

Catatan BNPB ditemukan 3.963 kasus baru setiap harinya, hingga tanggal 16 September 2020 tercatat positive covid-19 sebanyak 228.993 jiwa dan angka kematian akibat covid-19 mencapai 9.100 jiwa yang merupakan 2 kali lipat gabungan kematian sisa negara ASEAN, sedangkan populasi Indonesia 43% populasi ASEAN.

Akibatnya, 59 negara luar me-lockdown Indonesia, melarang dari Indonesia masuk ke negara mereka. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berisiko tinggi untuk dikunjungi karena kasus risiko penularan virus corona.

Dengan kondisi yang semakin menjadi, Presiden Jokowi pun mengeluarkan statement,

“Saya ingatkan, sekali lagi bahwa kunci dari ekonomi kita agar baik adalah kesehatan yang baik. Kesehatan yang baik akan menjadikan ekonomi kita baik”, artinya kata Jokowi, fokus utama pemerintah adalah penanganan kesehatan “Tetap nomor satu adalah kesehatan, adalah penanganan Covid-19. Karena memang kuncinya ada di sini” kata Jokowi ketika membuka sidang kabinet paripurna untuk penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi tahun 2021, di Istana Negara, Jakarta, Senin, 7 September 2020.

Meski terkesan terlambat, Presiden  Jokowi mengeluarkan pernyataan ini, namun tetap itu bagaikan angin segar berupa harapan keseriusan pemerintah akan menangani pandemi ini.

Pernyataan Presiden Jokowi disambut dengan gerak cepat Gubernur Jakarta Anies Baswedan dengan mengumumkan ibu kota negara akan memberlakukan PSBB jilid 2 namun ternyata mendapatkan kritikan dua menteri negara yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Sampai disini, ada sebuah pertanyaan besar. Apakah pemerintah sedang bermain drama? Pemimpin dan kabinetnya tidak satu suara.

Kemudian hal penyerangan ulama dan tokoh agama. Sedang marak diantara riuhnya pandemi virus corona. Lucunya, semua kasus penyerangan ulama dan tokoh agama akan berakhir dengan kesimpulan yang sama, hingga masyarakat pun sudah dapat menebaknya, yaitu penyerang ulama adalah orang gila.

Dari Kiai Hakam Mubarok di Lamongan, ustadz HR Prawoto di Bandung, KH Umar Basri di Cicalengka Bandung, ustadz Yazid di Pekanbaru hingga Syaikh Ali Jaber, semua penyerang mereka adalah orang gila, bahkan kasus ustadz HR Prawoto sampai kehilangan nyawa, namun kasus terhenti dengan kesimpulan penyerang adalah orang gila.

Rentetan kasus penyerangan ulama yang disimpulkan oleh pihak berwenang pelakunya adalah orang gila membuat masyarakat berpikir ada drama dibalik kasus penyerangan ulama, hingga tagar orang gila menjadi trending twitter diurutan kelima.

Dengan kegentingan ini akhirnya Presiden  Jokowi angkat bicara melalui Menko Polhukam Mahfud, “Presiden tadi pagi juga memerintahkan kepada saya agar BNPT, Polri, dan BIN menyelidiki semua kasus penyerangan kepada ulama yang dulu-dulu, apakah ada pola yang sama. Ini agar diusut tuntas agar tidak ada spekulasi di masyarakat,” kata Mahfud di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, seperti dalam keterangan tertulis dari Kemenko Polhukam, Rabu (19/6/2020)

Apakah pernyataan Jokowi ini akan sama seperti pernyataannya mengenai covid-19 yang hanya lip service belaka?

Antara corona dan penyerangan ulama. Dua hal besar yang menentukan masa depan Indonesia. Pandemi corona mempengaruhi keberlangsungan kesejahteraan ekonomi Indonesia dan ulama mempengaruhi keberlangsungan adab, keamanan dan persatuan Indonesia.

Bukan hal yang tidak mungkin Indonesia mampu mengatasi pandemi corona, karena Malaysia pun mampu melakukannya, asalkan pemerintan serius dan fokus dalam penanggulangannya, tidak banyak main drama.

Jika tidak mampu berfikir keras cara penanggulangannya, cukuplah belajar pada negara-negara yang telah berhasil menaklukkan pandemi corona.

Bukan hal yang sulit pula, mengatasi penyerang-penyerang ulama, dengan diberlakukannya undang-undang perlindungan kepada ulama dan tokoh agama. Mengatasi penyerang ulama akan menjadi sulit jika drama penyerangan ini sengaja diciptakan oleh pemegang kekuasaan negara.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi pemerintah Indonesia untuk mampu mengatasi pandemi corona dan penyerang para ulama, hanya dengan fokus dan tidak banyak main drama.

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X