50 Ahli Falak dan Astronomi Bahas Sinkronisasi Hisab Taqwim Standar Indonesia

50 Ahli Falak dan Astronomi Bahas Sinkronisasi Hisab Taqwim Standar Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)   Sebanyak 50 ahli falak dan astronomi Indonesia berkumpul di Bukittinggi, Sumatera Barat untuk melakukan Sinkronisasi Hisab Taqwim Standar Indonesia. Kegiatan yang diinisiasi Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama (Kemenag) ini berlangsung selama tiga hari, mulai 23 sampai 25 Juni 2022.

“Kegiatan ini bertujuan untuk membangun bank data terkait keadaan hilal awal bulan Kamariah, membuat keputusan awal bulan Kamariah, serta gerhana pada 2024 nanti,” kata Direktur Urais dan Binsyar Kemenag, Adib saat membuka kegiatan secara virtual, Kamis (23/6/2022).

 

Hadir sebagai narasumber para pakar astronomi dan falak seperti Thomas Jamaluddin, Susuknan Azhari, Gusrizal Gazahar, Basthoni, Kiyai Ma’rufin Sudibyo, dan Cecep Nurwendaya. Turut hadir Kakanwil Kementerian Agama Prov. Sumbar diwakili Kabid Urais Binsyar Edison dan Kepala  Kantor Kemenag Kota Bukittinggi Eri Iswandi.

Direktur  Urais dan Binsyar Adib mengapresiasi kiprah para ahli falak Indonesia. Mereka, menurut Adib, tekun dan teliti dalam melakukan kajian dan perhitungan guna mamberikan panduan bagi umat muslim di nusantara. Ia menambahkam, setidaknya ada 29 metode hisab yag dipakai di nusantara, dan semua bermuara pada kesepakatan nasional.

 

Kesepakatan nasional dalam penentuan awal bulan Kamariah ini penting karena terkait dengan pelaksanaan ibadah bagi umat muslim. Utamanya, dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Terbaru, rencananya Kemenag akan menggelar Sidang Isbat (penetapan) Awal Zulhijah pada 29 Juni mendatang.

“Semoga pada sidang isbat tersebut nantinya kita sebagai manusia yang diberikan kelebihan ilmu oleh Allah SWT di bidang hisab rukyat dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Terlebih lagi, Adib  menerangkan bahwa kondisi hilal dan sudut elongasi pada sidang isbat awal Zulhijah 1443 H nanti berpotensi menimbulkan perbedaan dalam penetapan awal bulan Zulhijah.  harapnya. Ia berharap para ahli falak dapat menerangkan  kepada masyarakat agar dapat menyikapi secara moderat bila terjadi perbedaan.

“Patut menjadi bahan perenungan bersama bahwa cita-cita kita mempunyai kalender hijriah yang satu akan dapat terwujud bilamana kita dapat berkolaborasi serta berperan aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa perbedaan adalah hal yang biasa namun bersatu merupakan hal yang luar biasa,” ujar Adib.

“Kami berharap pertemuan ini dapat melahirkan ide-ide cemerlang untuk kemajuan hisab rukyat di Indonesia,”  imbuhnya.

Hal  senada disampaikan Kepala Kankemenag Kota Bukittinggi Eri Iswandi. “Terima kasih telah menggelar kegiatan di Bukittinggi. Mudah-mudahan kegiatan yang dilakukan  di  kota kelahiran tokoh ilmu falak Saaduddin Jambek dan Sjech M. Djamil Djambek ini mendapatkan hasil yang diharapkan,” tuturnya.

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.