KABUL (Jurnalislam.com) – Imarah Islam Afghanistan (Taliban), pada hari Selasa (12/04/2016) mengumumkan peluncuran serangan spring baru yang diberi nama “Operasi Omari” saat perjuangan mujahidin Afghanistan memasuki tahun ke-15, lansir Anadolu Agency, Selasa.
Sambil memuji prestasi pendiri Taliban, almarhum Syeikh Mullah Mohammad Omar, dewan kepemimpinan Taliban mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka berjuang untuk membebaskan Afghanistan dari penjajahan asing dan pemerintahan boneka serta untuk penerapan hukum Islam.
Dewan kepemimpinan Taliban melanjutkan dengan mengatakan bahwa serangan militer musiman telah resmi dimulai pada pukul 05:00 hari Selasa.
"Operasi Omari … berfokus, dengan harapan bantuan ilahi, untuk membersihkan daerah dari sisa kendali dan kehadiran musuh," kata pernyataan itu.
Ia menambahkan bahwa serangan spring bertujuan untuk menurunkan semangat/moral pasukan asing dan merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali mereka, di mana Taliban bersumpah untuk mendirikan sebuah "sistem pemerintahan yang adil."
Taliban juga mengatakan akan meluncurkan proses dialog dengan "rekan senegara di jajaran musuh" dengan membujuk mereka untuk meninggalkan oposisi mereka terhadap pembentukan sebuah pemerintahan Islam.
Pemerintah rezim Kabul mengatakan pengumuman Taliban sebagai "propaganda", mengatakan pasukannya siap untuk menanggapi segala bentuk agresi.
"Taliban mengumumkan serangan tersebut setiap tahun dan angkatan bersenjata negara telah menghadapinya dengan baik," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Dawlat Waziri.
Namun analis politik Afghanistan Gul Ahmad Reshad, , mengatakan serangan baru Taliban kemungkinan akan menimbulkan "tantangan besar" bagi militer Afghanistan dan pasukan koalisi internasional yang dipimpin AS.
"Pasukan Nasional Afghanistan mengalami tahun paling berdarah pada tahun 2015, yang memaksa pasukan asing untuk masuk kembali ke medan perang – meskipun mereka secara resmi mengakhiri misi tempur mereka pada tahun 2014," kata Reshad.
Serangan musim semi baru juga cenderung melemparkan bayangan mengenai proses dialog baru yang lahir antara Taliban dan Kabul.
Pada pertemuan keempat Kelompok Koordinasi Segiempat (the Quadrilateral Coordination Group-QCG) – yang meliputi Afghanistan, Pakistan, AS dan Cina – telah diputuskan bahwa sebuah upaya harus dilakukan untuk membawa Taliban kembali ke meja perundingan.
Namun Taliban cepat menanggapi keputusan QCG dengan menyatakan penolakannya untuk masuk ke dalam pembicaraan damai.
Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam