Takfir adalah Syariat, Tapi Tidak Semua Muslim Boleh Menggunakannya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kaidah takfir (pengkafiran) pada perjalanannya telah mengalami distorsi, sehingga takfir ini sering disematkan kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan gerakannya atau kelompoknya.

Demikian ditegaskan pemerhati gerakan Jihad, Abu Jihad Al Indonisy dalam kajian akbar bertajuk Bahaya Faham Takfiri dalam Tubuh Gerakan Islam di Masjid Al Fatah, Jakarta Pusat, Ahad (28/2/2016).

Abu Jihad mengatakan, istilah takfir adalah aqidah Ahlus Sunnah Wa Jamaah yang diturunkan untuk kekafiran yang sudah disepakati. Namun dalam perjalanannya takfir menjadi rancu karena dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memvonis kelompok lain yang tidak sependapat.

“Mereka mendistorsi makna kekafiran yang tadinya disepakati oleh kaum muslimin yang sudah dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah, tetapi mereka menjadikan ini untuk mengkafirkan orang-orang yang menyelisi mereka, yang tidak sependapat dengan mereka, inilah distorsi,” terangnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sesungguhnya ajaran takfir ini memiliki syarat. Tidak semua orang bisa menggunakan istilah takfir. Menurutnya, hanya para ulama yang memiliki kapasitas dan kompetensi dalam metodologi takfir ini

“Jadi tidak semua orang bisa, para aktifis, atau saya, atau kaum muslimin sekalipun mengunakan kaidah (takfir-red) ini dengan serampangan, kemudian menuduh pada orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan kaidah ini, tidak bisa,” tegasnya.

Meski demikian, ajaran takfir tidak bisa dihilangkan dari ajaran Islam.

Reporter: Irfan | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.