SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan Islamic (IS) State dilaporkan mengeksekusi sejumlah besar orang di sebuah kota yang mereka kuasai secara singkat di Suriah tengah sebelum direbut oleh pasukan rezim Suriah, menurut sebuah kelompok pemantau dan aktivis lokal, Aljazeera melaporkan Senin (23/10/2017).
Kota Al-Qaryatayn, yang dikuasai oleh kelompok IS pada awal Oktober, direbut kembali oleh tentara yang setia kepada rezim Syiah Bashar al-Assad pada hari Sabtu (21/10).
Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris, sedikitnya 128 orang tewas oleh pasukan IS dalam tiga pekan sebelum mereka mundur dari kota di provinsi Homs tersebut pada hari Jumat (20/10).
Begini Pernyataan Donald Trump Setelah Kejatuhan Benteng IS di Raqqah
IS membunuh warga sipil yang mereka tuduh berkolaborasi dengan rezim Suriah, kata aktivis.
Mohammed al-Homsi, anggota Komite Koordinasi Palmyra, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sebuah daftar berisi sedikitnya 90 orang yang dikonfirmasi tewas akan segera dirilis.
“Kami membutuhkan sedikit waktu lagi karena kami ingin memeriksa ulang nama orang-orang yang terbunuh,” kata al-Homsi.
“Sebagian besar korban adalah laki-laki, tapi ada beberapa anak di antaranya.”
Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera, yang melaporkan dari kota Turki Gaziantep di perbatasan dengan Suriah, mengatakan bahwa ribuan warga sipil yang khawatir tentang keselamatan mereka ingin melarikan diri dari Qaryatayn selama pengepungan, namun dicegah oleh IS.
“Beberapa dari orang-orang yang bertekad untuk pergi dieksekusi oleh pasukan IS,” tambahnya.
Ahelbarra mengatakan bahwa aktivis oposisi dan warga sipil yang kerabatnya terbunuh di Qaryatayn mengatakan, “ini adalah tindakan balas dendam oleh pasukan IS”.
“Tapi pada saat yang sama, mereka mengatakan bahwa rezim Suriah juga telah melakukan kekejaman terhadap warga sipil di Qaryatayn di masa lalu, menuduh mereka berkolaborasi dengan IS.”
Ahelbarra mengatakan bahwa kota ini telah berpindah tangan berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir.
“Setiap kali diambil alih IS, pasukan kelompok tersebut akan mengeksekusi orang-orang yang mereka tuduh berkolaborasi dengan rezim,” katanya. “Ketika rezim merebut kota kembali, mereka akan mengeksekusi orang-orang yang dituduh berkolaborasi dengan IS.”
Qaryatayn, yang sebagian besar tetap netral selama tahun-tahun pertama konflik Suriah, dikuasai oleh IS pada bulan Agustus 2015, menyusul dikuasainya Palmyra oleh IS.
Tanggapan Syaikh Abu Mahmud Al-Filistini Bagi Orang yang Menyamakan HTS dengan IS
“Pada saat itu, banyak keluarga pergi dan akhirnya menetap di kamp pengungsian Rukban di perbatasan dengan Yordania atau di daerah-daerah di utara negara tersebut,” kata al-Homsi.
Pada bulan April 2016, kota tersebut diambil oleh pasukan rezim Suriah, yang menurut al-Homsi, mencegah penduduknya untuk kembali dengan alasan mereka terlibat jauh atau mendukung pertarungan melawan Assad.
Akhirnya, pemerintah Syiah Assad sepakat bahwa 20.000 warga sipil dapat kembali.
Al-Homsi mengatakan bahwa masuknya kembali IS merebut kota bulan ini sangat mengejutkan penduduknya dan menimbulkan tanda tanya besar.
“Bagaimana IS bisa masuk dan kemudian berhasil meninggalkan Qaryatayn saat tentara menguasai seluruh wilayah yang berada di bawah kendali mereka?” dia bertanya, menuduh bahwa pasukan pro-rezim Assad juga membunuh beberapa penduduk kota tersebut.
“IS memulai serangan tersebut dan membunuh orang-orang karena diduga mendukung Assad, dan ketika pasukan Suriah masuk, mereka juga membunuh penduduk di sana berdasarkan dugaan dukungan mereka terhadap IS,” katanya.
Pemerintah belum berkomentar mengenai jumlah warga sipil yang terbunuh.
Namun, Media Militer Pusat rezim pada hari Sabtu mengatakan bahwa “tentara Suriah dan sekutu-sekutunya telah memulihkan kendali dan stabilitas Qaryatayn”.