ALEPPO (Jurnalislam.com) – Pesawat-pesawat tempur rezim Suriah atau Rusia membom truk bantuan dekat Aleppo setelah gencatan senjata selama seminggu berakhir dan perang global yang telah berlangsung lima tahun kembali berkobar sepenuhnya pada Senin malam, lansir Aljazeera Senin (19/09/2016).
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan sedikitnya 32 orang tewas dalam puluhan serangan udara yang diluncurkan di dan sekitar Aleppo setelah gencatan senjata resmi berakhir pada 1600 GMT.
Monitor perang itu mengatakan truk bantuan yang melakukan pengiriman rutin ke wilayah barat kota Aleppo diserang dekat kota Urm al-Kubra, menewaskan 12 orang.
Seorang pejabat Bulan Sabit Merah Suriah mengkonfirmasi bahwa kendaraan bantuan yang dioperasikan oleh kelompok itu telah ditargetkan oleh serangan udara saat pesawat tempur kembali melakukan pemboman di provinsi Aleppo.
Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, mengecam serangan udara itu. “Kemarahan kami atas serangan ini sangat besar … konvoi itu adalah hasil dari proses panjang dalam memperoleh izin dan melakukan persiapan untuk membantu warga sipil yang terisolasi,” katanya.
Militer Suriah pada hari Senin menyatakan bahwa gencatan senjata tujuh hari yang ditengahi AS-Rusia adalah berakhir saat rezim melakukan berkali-kali pelanggaran dan oposisi membalasnya.
Koresponden kantor berita AFP di Aleppo melaporkan utara kota sedang dihantam.
Sirene meraung saat ambulans bergerak melalui wilayah timur yang dikuasai koalisi pejuang Suriah, setengah dari kota yang terbagi, koresponden mengatakan, menggambarkan pemboman berlangsung “non-stop (tanpa henti)”.
Militer Rusia mengatakan para pejuang Suriah melancarkan serangan besar terhadap posisi pasukan rezim di pinggiran barat daya Aleppo.
“Serangan oposisi itu diikuti pemboman artileri besar … dari tank dan sistem roket,” katanya.
AS mengatakan bahwa mereka siap memperpanjang gencatan senjata, dan Rusia – mengatakan bahwa gencatan senjata masih bisa diselamatkan.
![]()
Setelah serangan oleh militer rezim tersebut, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyatakan jengkel atas penanganan gencatan senjata Damaskus dan Moskow.
“Akan lebih baik jika mereka tidak berbicara kepada pers terlebih dahulu melainkan berbicara dengan pihak-pihak yang benar-benar melakukan negosiasi ini,” kata Kerry. “Seperti yang saya katakan kemarin, ini adalah waktu untuk mengakhiri sikap sok pamer dan waktu untuk melakukan kerja nyata memberikan akses bagi bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan.”
Tapi Kerry juga mengakui bahwa tahap pertama gencatan senjata – yang mengharapkan situasi tenang selama seminggu dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke beberapa komunitas yang terkepung – tidak pernah benar-benar mendatangkan hasil.
Dari awal, gencatan senjata dipenuhi kesulitan dan rezim berkali-kali melakukan pelanggaran.
Pengiriman bantuan ke distrik-distrik bagian timur Aleppo yang dikepung belum sampai di tempat tujuan. PBB menuduh rezim Assad menghalangi pengiriman, sementara para pejabat Rusia menuduh kelompok oposisi melepaskan tembakan di jalan-jalan yang dilalui konvoi bantuan.
Sedikitnya 22 warga sipil tewas dalam pemboman pemerintah selama seminggu terakhir, menurut Observatorium Suriah, yang menggunakan jaringan sumber di lapangan untuk menyusun laporan tersebut.