Ragam Gerakan Ekonomi Umat Pasca Aksi 212

4 Juli 2018
Ragam Gerakan Ekonomi Umat Pasca Aksi 212
Aksi 212

“Aksi 212 kalau tidak dirawat dengan baik hanya akan menjadi sebuah gambar, jadi video, sejarah, jadi novel atau jadi film layar lebar,”

JURNALISLAM.COM–Gerakan 212 telah membangkitkan kembali energi umat Islam untuk membangun bangsanya. Muncul upaya untuk menyalurkan energi besar ini pada penguatan perekonomian masyarakat, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),

Lahirnya Koperasi 212 dan berbagai warung ritel serta produk yang dilabeli angka 212 merupakan indikasi yang sangat positif bahwa energi besar ini memerlukan wadah saluran yang tepat, sehingga membawa manfaat bagi perekonomian bangsa. Apalagi bangsa ini tengah berhadapan dengan situasi perekonomian yang berat.

“Bagaimana kekuatan massa ini harus diarahkan menjadi gerakan kinetik, yang dapat membangkitkan umat,” jelas dewan pengurus Koperasi Syariah 212, Valentino Dinisi, SE, MM, MBA.

Menyoal kebangkitan umat melalui momentum aksi 212, ia telah mencetuskan sebuah ide kepada Ustaz Bahtiar Nasir, selaku ketua GNPF MUI waktu itu untuk membuat tim gugus tugas, termasuk di bidang ekonomi.

“Kebetulan saya praktisi di bidang ekonomi, jadi saya mengambil peran ini,” ungkapnya.

Diskusi demi diskusi, obrolan demi obrolan untuk menjadikan aksi 212 sebagai momen kebangkitan umat menghasilkan gerakan terpusat berbasis koperasi, Koperasi Syariah 212. Didalam koperasi ini setidaknya telah menarik simpati 25 ribu peserta untuk mendaftar. Walau jauh dari target jutaan pendaftar.

Penulis buku lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, dalam aksi 212 ini tidak dapat dijadikan satu warna kesatuan. Masyarakat lebih banyak memilih untuk melakukan caranya tersendiri untuk membangkitkan ekonomi umat.

Sistem retail 212 Mart yang digarap Koperasi Syariah 212 bagi Valentino menjadi salah gerakan ekonomi dari beragam gerakan ekonomi umat pasca aksi 212.

Kita Mart dan Ekonomi Ekosistem

Valentino Dinsi

Menurut Valentino, model sistem ekonomi kebersamaan atau ekonomi Ekosistem dinilai dapat menjadi metode yang pas saat ini. Dimana, bagaimana kita mengambil peran dan berbagi peran.

“Cara mengatasi kapitalisme itu dengan sharing ekonomi, dengan cara berbagi, kemudian kita kuat dan mengajak orang dibagian masing-masing dan membagi kekuatan, peran dan bagi hasil, dalam sebuah bisnis ekosistem,” jelasnya.

Untuk itu, ia membuat Dewan ekonomi masjid Indonesia (DEMI). DEMI adalah program pemberdayaan Masjid agar Masjid dapat berfungsi sebagaimana fungsi Masjid di zaman Rasulullah SAW. DEMI hanya fokus pada aspek ekonomi dan pengembangan diri (Life Skill) dimana bidang inilah umat paling tertinggal.

Kita Mart, salah satu produk dari DEMI telah menerapkan hal tersebut. Dalam Kita Mart, kepemilikannya bukan hanya perorangan, namun dari berbagai masjid dengan target konsumen jamaah masjid.

Keuntungan atau omzet yang diraih dikembalikan kepada tiap masjid itu sendiri. Seperti yang ada di Bojongkulur, Bogor. Dimana KitaMart Bojongkulur ini dimiliki oleh 70 masjid dan mushola serta 570 jamaah kepemilikannya.

Bangkit dengan Syariah

Dr. Muhammad Ghozali, MA dosen Senior Fakultas Syariah Prodi Hukum Ekonomi Syariah dan pasca Sarjana Prodi HES Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, menegaskan kebangkitan umat untuk menghancurkan sistem ekonomi kapitalis dapat dilakukan dengan sistem ekonomi syariah.

Memang benar. Tren ekonomi global sudah menjurus ke sistem ini, dimana tidak hanya kaum muslimin yang menerapkan, melainkan non muslim juga turut mengikuti sistem ekonomi ajaran Islam tersebut.

“Kita punya perangkat syariah yang cukup bagus dari Allah, kemaslahatanmya untuk semuanya, bukan untuk orang Islam saja,” katanya.

Di dunia barat, sistem ekonomi syariah sengaja diberlakukan bahkan menjadi tren. Tetapi sebatas untuk mendapatkan pasar. Sedang kaum muslimin, khususnya Indonesia dengan penduduk Islam mayoritas mempunyai motivasi lebih untuk menerapkan sistem ini.

Motivasi kesadaran membeli dari produsen muslim seharusnya dapat mendongkrak kebangkitan ekonomi. Masyarakat akan sadar pentingnya membeli dari produk muslim sendiri.

“InsyaaAllah umat Islam akan terangkat secara ekonominya sendiri, yang sifatnya kapitalizem insya Allah perlahan akan ditingkalkan oleh kita kaum muslimin,” terangnya.

Sampai akar rumput

Lulusan Srata 3 Universiti of Malaya Malaysia ini mengatakan, Kunci dari suksesnya sistem ekonomi syariah tidak lepas dari penyampaian yang menyeluruh dari berbagai pihak tentang pentingnya berekonomi Syariah.

Umat sebenarnya akan patuh kepada para panutan. Seperti ulama, tokoh nasional, cendekiawan, dan yang lainnya. Terbukti ketika kasus boikot salah satu produk pasca Aksi 212. Dalam sepekan saja perusahaan tersebut anjlok, dan dibuat pusing. Itu semua karena seruan dari berbagai pihak.

Jadi, kata dia, pemahaman tentang ini jangan hanya dikalangan tertentu saja terutama dikalangan menengah keatas, dan berpendidikan tinggi. Tapi juga harus menyentuh akar rumput (kalangan awam, dan menengah kebawah).

“Karena gerakan ini kalau hanya orang-orang tertentu katakanlah kalangan aktifis bukan akar rumput maka akan jadi kendala tersendiri,” lugas Ghozali.

Dr. Ghozali

Kebangkitan apapun, termasuk ekonomi harus dimulai dari niat dari setiap pribadi, bukan dari perorangan atau kelompok tertentu. Istiqomah atau kontinuitas sangat diperlukan untuk menggagas hal tersebut.

Keterlibatan berbagai pihak terkait untuk kemaslahatan umat menjadi penting untuk mengemas momentum yang belum tentu terjadi pada 5, 10, 20, atau mungkin 50 tahun kedepan ini. Juga pembagian tugas perlu dilakukan agar fokus, fokus untuk menjadi penawar rindu umat yang telah bosan dengan sistem kapitalisme yang hanya membuat kaya segelintir orang.

penulis : fajar aditya | Jurnalislam.com