Pesantren DQS Al Azhar Internasional Hadir di Karanganyar, Padukan Standar Al-Azhar Kairo dan MAN Insan Cendekia

Pesantren DQS Al Azhar Internasional Hadir di Karanganyar, Padukan Standar Al-Azhar Kairo dan MAN Insan Cendekia

KARANGANYAR (jurnalislam.com)– Pesantren DQS Al Azhar Internasional yang berlokasi di Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, disiapkan sebagai lembaga pendidikan Islam berstandar internasional yang memadukan sistem pendidikan Al-Azhar Kairo, Mesur dengan standar pendidikan nasional melalui model Madrasah Aliyah (MA) Insan Cendekia.

Salah satu pendiri Pesantren DQS Al Azhar Internasional, Drs. HM Adib Ajiputra, MM, mengatakan gagasan pendirian pesantren tersebut telah dirintis sejak sekitar tiga tahun lalu. Gagasan itu lahir dari kerja sama Pesantren Darul Quran Surakarta dan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah.

“Jadi, ide awal latar belakang pendirian Pesantren DQS Al-Azhar Internasional dan Madrasah Aliyah DQS Al-Azhar Insan Cendekia. Ini idenya 3 tahun yang lalu, kami dari Pesantren Darul Quran Surakarta bersama dengan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah punya keinginan, punya cita-cita untuk mendirikan pesantren yang punya standar internasional, yang mana yang bisa langsung kerja sama dengan Al-Azhar Kairo,” katanya kepada wartawan saat menggelar jumpa pers di Kotabarat, Surakarta pada Rabu, (26/8/2026).

Menurut Drs. Adib yang juga Ketua Yayasan DQS tersebut, pendidikan formal yang dikembangkan juga diarahkan memiliki standar nasional yang kuat dengan menjadikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia sebagai salah satu rujukan.

“Lalu yang kedua, untuk pendidikan formalnya, juga yang punya standar nasional yang cukup baik, yang terbaik di Indonesia. Dalam hal ini adalah MAN Insan Cendekia. Dan alhamdulillah, dengan berbagai perjuangan, alhamdulillah bisa terlaksana, kita bisa kerja sama dengan Al-Azhar Kairo dan juga dengan sesama dengan MAN Insan Cendekia,” ungkapnya.

Didukung Kementerian Agama

Drs. Adib mengatakan pengembangan lembaga pendidikan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Agama. Hal itu ditandai dengan kehadiran Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama dalam peletakan batu pertama pembangunan pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Pendidikan Islam turut didampingi Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah Dr. H. Saiful Mujab, M.A. dan Kepala MAN Insan Cendekia Pekalongan.

Pada peletakan batu pertama yang berlangsung 14 Juni 2026, pihak pengelola juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan MAN Insan Cendekia Pekalongan yang diketahui oleh Dirjen Pendidikan Islam.

“Dan pada saat peletakan batu pertama, tanggal 14 Juni yang lalu, itu kita langsung tanda tangan MoU, dan MoU dengan MAN Insan Cendekia Pekalongan dan diketahui oleh Bapak Dirjen. Sejak itu, maka kita langsung mengadakan rapat kerja selama 3 hari untuk menyusun rencana kerja dan juga mengadakan workshop di Pekalongan, MAN Insan Cendekia Pekalongan, untuk menyusun materi kurikulum yang nanti akan dilaksanakan,” katanya.

Bangun Kampus di Lahan 8.000 Meter Persegi

Pembangunan pesantren telah dimulai sejak 14 Juni 2026. Pada tahap pertama, pembangunan dilakukan di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan lahan hingga sekitar tiga hektare.

“Lalu yang ketiga, alhamdulillah, untuk pembangunan sudah kita mulai sejak tanggal 14 Juni yang lalu. Di atas lahan tahap pertama ini memang kurang lebih ada 8.000 meter. Nanti menyusul tahap berikutnya. Total nanti memang kita punya keinginan memiliki lahan kurang lebih 3 hektar. Dengan fasilitas sarana prasarana yang sesuai dengan standar dari MAN Insan Cendekia Pekalongan dan Al-Azhar,” ujarnya.

Pada tahap awal, Pesantren DQS Al Azhar Internasional akan menerima 100 santri setiap angkatan, terdiri dari 50 santri putra dan 50 santri putri. Dengan masa pendidikan tiga tahun, kampus pertama ditargetkan menampung hingga 300 santri.

Drs. Adib menjelaskan penerimaan santri akan dilakukan melalui tiga jalur, yakni jalur prestasi, jalur Insan Cendekia, dan jalur mandiri.

Jalur prestasi diperuntukkan bagi siswa yang memiliki prestasi tingkat nasional, termasuk olimpiade dan kejuaraan nasional. Siswa yang memenuhi kriteria tersebut berkesempatan memperoleh beasiswa.

Jalur kedua mengikuti seleksi nasional Insan Cendekia. Sementara jalur mandiri diperuntukkan bagi calon santri dari SMP negeri maupun SMP Islam di seluruh Indonesia yang tidak mengikuti jalur Seleksi Nasional Insan Cendekia.

Gunakan Nama AZHARIKA International Islamic College

Pesantren DQS Al Azhar Internasional ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2027/2028. Penerimaan calon santri direncanakan dibuka pada Oktober 2026, dengan proses seleksi pada awal Januari dan penutupan seluruh proses penerimaan pada 30 Januari.

“Lalu kapan akan dimulai? Tahun ajaran baru 2728, secara resmi nanti akan dimulai, sekaligus peresmian dari Pesantren DQS Al Azhar internasional, sekaligus Madrasah Aliyah Al-Azhar Insan Cendekia. Dan ini untuk namanya kita namakan dengan AZHARIKA. International Islamic College. jadi biar namanya itu menancap kepada seluruh masyarakat,” jelasnya.

Menurut Drs. Adib, nama AZHARIKA merupakan singkatan dari Al-Azhar Insan Cendekia dan dirancang agar mudah dikenal, khususnya oleh generasi muda.

“Wabil khusus bagi Gen Z dan Gen Alpha ya. Maka kita namakan AZHARIKA itu singkatan dari Al-Azhar Insan Cendekia. International Islamic College karena ini sekolah atau boarding atau pesantren yang punya standar internasional,” ungkapnya.

Guru Dipersiapkan melalui Pelatihan

Selain menyiapkan kurikulum dan sarana pendidikan, pengelola juga mempersiapkan sumber daya manusia. Rekrutmen guru dan asatidz dijadwalkan dilakukan pada September 2026.

Para pengajar nantinya akan mengikuti program magang di MAN Insan Cendekia Pekalongan dan mendapatkan pembinaan dari Syaikh yang berasal dari Al-Azhar Kairo.

“Jadi bulan September sudah semua datang dan itu akan mengajar kepada seluruh ustadz-ustadz, asatidz kita untuk mempersiapkan diri, sehingga begitu tahun ajaran baru mereka semua sudah siap untuk menjalankan materi kurikulum yang punya standar yang sangat tinggi. Istilahnya itu istilah Dirjen ini menggabungkan dua kutub yaitu kutub Mesir sama kutub Indonesia,” paparnya.

Drs. Adib berharap perpaduan dua sistem pendidikan tersebut dapat melahirkan generasi yang memiliki kualitas akademik dan keislaman yang kuat.

“Ini Bobot materi ini memang cukup tinggi. Sehingga memang kita harapkan nanti menghasilkan generasi-generasi penerus pemimpin masa depan yang berkualitas,” katanya.

Kerja Sama dengan Al-Azhar Kairo

Drs. Adib juga menyampaikan bahwa proses kerja sama dengan Al-Azhar Kairo telah memasuki tahap persetujuan prinsip. Selanjutnya, perwakilan dari Kedutaan Besar dijadwalkan datang pada September sebelum proses MoU dilanjutkan di Kairo.

“Al-Azhar Kairo ini surat persetujuan prinsip sudah turun. Lalu bulan September dari kedutaan akan datang. Lalu nanti disusul MoU-nya nanti di Kairo,” terangnya.

Ia menegaskan Pesantren DQS Al Azhar Internasional membawa tagline “Quranic, Berprestasi, Mendunia”. Tagline tersebut menjadi gambaran visi lembaga dalam menyiapkan generasi Qurani yang memiliki prestasi dan wawasan internasional.

“Otomatis memang kita branding kita, tagline kita adalah quranic, berprestasi, mendunia. Jadi, menghasilkan generasi-generasi qurani yang punya prestasi, yang mencetak ulama-ulama tidak hanya untuk ulama Indonesia, tapi untuk dakwah kita ke seluruh dunia,” pungkasnya.

Dengan konsep tersebut, Pesantren DQS Al Azhar Internasional di Matesih, Karanganyar, diharapkan menjadi lembaga pendidikan yang memadukan pendidikan Al-Qur’an, prestasi akademik, dan wawasan internasional untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas.

 

Bagikan