DKM Diimbau Tetap Hadirkan Kesyahduan Suasana Ramadhan dari Masjid

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengimbau para pengurus masjid untuk tetap menghadirkan suara kesyahduan atau kekhidmatan dari masjid selama Ramadhan.

 

Meski masyarakat tetap menjaga jarak fisik dan jarak sosial serta tidak melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

“Para seluruh dewan kerukunan masjid (DKM), takmir masjid, marbot masjid dan pengurus masjid di berbagai tingkat di seluruh Indonesia hadirkan kesyahduan dan kekhidmatan suara masjid di tengah suasana keprihatinan ini melalui pengeras suara masjid,” kata Wakil Ketua Umum DMI, Syafruddin di kantor DMI Pusat, Rabu (22/4).

Syafruddin mengatakan, suara kesyahduan tersebut sebaiknya yang bersifat seruan untuk membantu satu sama lain, menghadirkan rasa kebersamaan antar umat, dan kekhusuan menjalankan ibadah puasa.

 

Bisa juga menyampaikan seruan dari masjid agar masyarakat tetap menjaga jarak fisik, jarak sosial, memakai masker, dan mencuci tangan.

 

Sumber: republika.co.id

 

Anies: Ramadhan Kali Ini Mirip Ramadhan Masa Rasulullah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengisahkan, umat Islam akan menjalani ibadah puasa Ramadhan saat wabah virus corona (Covid-19) mirip ketika zaman Nabi Muhammad SAW.

“Ramadhan kali ini mungkin mirip dengan Ramadhan pada saat Nabi Besar Muhammad SAW. Pada saat itu semua tidak dikerjakan di masjid,” kata Anies saat konferensi pers secara virtual di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/4).

Anies menuturkan, Ramadhan kali ini agak berbeda karena akan dijalani di rumah sebab ada aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna memutus rantai penularan Covid-19 di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Anies menyebutkan, sebelumnya mayoritas masyarakat Indonesia menjalani sholat Tarawih, baca Alquran, dan sholat berjamaah di masjid saat Ramadhan.

Namun, saat ini hal itu tidak dapat dilakukan di masjid sebagai pusat tempat ibadah karena berisiko memperbanyak penularan virus corona (Covid-19).

Selain itu, tradisi buka bersama juga urung dilakukan bersamaan dengan pemberlakuan PSBB di DKI Jakarta yang diperpanjang selama 28 hari sejak 24 April hingga 22 Mei 2020.

Ramadhan saat pandemi Covid-19 harus dapat meningkatkan ketakwaan dan menahan hawa nafsu memerangi wabah virus tersebut.

 

“Di rumah, di keluarga, tingkatkan peribadatan di rumah dan ini sesungguhnya adalah kesempatan untuk kita dalam meningkatkan ketakwaan di dalam keluarga dan bagi seluruh masyarakat di Jakarta,” ujar Anies.

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu juga mengimbau masyarakat tidak melaksanakan tradisi mudik pada Lebaran tahun ini karena adanya potensi penularan Covid-19 cukup tinggi.

 

Anies juga menegaskan, PSBB diberlakukan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan salah satu kelompok sehingga harus ditaati semua pihak.

Sumber: republika.co.id

Masyarakat Produsen Pangan Indonesia Perkuat Sektor Pangan di Kala Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Selain sektor kesehatan, sektor pangan turut terdampak pandemi Covid-19. Penguatan di sektor pangan tidak hanya dilakukan dalam bentuk pendistribusian pangan tetapi juga melibatkan petani dan buruh tani dalam program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia yang diresmikan di Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Kamis (24/4).

Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin menerangkan, pandemik Covid-19 harus ditangani bersama agar tidak menciptakan bencana sosial yang lebih besar seperti kemiskinan dan kelaparan.

Oleh sebab itu, instrumen pangan menjadi langkah penyelamatan utama dalam menghadapi Covid-19. Keterlibatan petani dalam program ketersediaan pangan di masa pandemi ini layaknya perjuangan para pahlawan medis di garda terdepan dalam menangani Covid-19.

“Pandemi Covid-19 adalah masa yang sulit bagi kita semua. Di tengah situasi seperti ini, jangan berdiam diri. Semua bisa berkontribusi, apa pun profesinya. Dokter, aparat keamanan, pekerja kemanusiaan, bahkan petani. Saat wabah menjalar luas seperti saat ini, umat sangat membutuhkan pangan. Para petani yang terus berkontribusi dalam penyediaan pangan tak berbeda jauh dengan elemen masyarakat lainnya yang menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi corona,” jelas Ahyudin.

Penyediaan pangan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia.

Namun lebih jauh dari itu, produsen pangan yang dalam hal ini adalah petani, juga perlu didukung agar pasokan pangan dalam bentuk beras tetap dapat dijamin ketersediaannya.

Nantinya, beras yang dihasilkan akan didistribusikan melalui program Operasi Beras Gratis dan Operasi Pangan Gratis.

Hadirnya program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia melengkapi lini program pangan ACT lainnya untuk penanganan dampak Covid-19, selain Operasi Pangan Gratis dan Operasi Beras Gratis yang sudah berjalan.

Berbeda dengan program yang lainnya, target program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia adalah kelompok petani atau kelompok yang beraktivitas dalam kegiatan produksi pangan.

DMI Dorong Masjid Sediakan Dapur Umat untuk Warga

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sebagai upaya membantu masyarakat di tengah penyebaran wabah Covid-19, Dewan Masjid Indonesia (DMI) mendirikan Dapur Umat. Dapur ini disediakan tepatnya di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre.

Dapur ini nantinya berjalan di bawah koordinasi antara Perhimpunan Remaja Masjid Prima DMI Jakarta, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Jakarta, Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) DKI Jakarta, serta Indonesia Islamic Youth Economi Forum (ISYEF) Masjid Raya Jakarta Islamic Centre yaitu Madaris.

Rencananya, kegiatan Dapur Umat akan berlangsung selama satu bulan, dimulai Hari ini (23/4) hingga akhir Mei, tepatnya 20 Mei 2020. Setiap hari, dapur ini akan menyediakan 100 sampai 1000 boks makanan siap saji.

Pusat Dapur Umat berada di kompleks Masjid Raya Jakarta Islamic Centre. Makanan siap saji ini akan diberikan kepada mereka berhak berdasarkan usulan dari Badan Managemen masjid Raya JIC.

Ketua DMI Jakarta, KH Ma’mun Al Ayyubi menjelaskan, bahwa dana untuk Dapur Umat ini berasal dari iuran para pengurus DMI. Selain itu ditambah pula dari dermawan yang peduli.

“Modal awal dari iuran pengurus nanti selanjutnya mangajak para dermawan. Saya berharap kita bisa memasak sampai 1000 box dalam sehari sehingga jamaah masjid JIC yang terdampak ekonominya karena wabah Covid-19 merasakan manfaatnya” ucap KH Ma’mun Al Ayyubi dalam keterangan yang didapat Republika.co,id, Kamis (23/4).

Wakil Ketua Umum DMI, Syafruddin menyebut, yang paling banyak terdampak wabah Covid-19 adalah umat Islam. Maka sewajarnya masjid sebagai pusat keagamaan juga menjadi pusat penanganan penyebaran Covid-19.

“Saya berharap tidak hanya di masjid JIC tetapi masjid-majid di seluruh Indonesia. Karena pengurus masjid adalah insan-insan beriman pasti kepercayaan ummat lebih tinggi dari institusi lainnya” ucap Safrudin.

sumber” republika.co.id

MUI: Wabah Terjadi Seizin-Nya, Mari Minta Pertolongan kepada Allah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sebagai makhluk, manusia harus meyakini terhadap kekuasaan Allah SWT. Segala hal yang terjadi di alam semesta adalah dengan seizin Allah, tak terkecuali pandemi Covid-19.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menjelaskan Allah telah membuat aturan dan ketentuannya yang disebut sunnatullah atau natural law.

Begitupun dengan wabah virus corona, yang menurut Buya Anwar juga tidak bisa keluar dari ketentuan yang dibuat Allah. Karenanya hanya Allah seorang hamba meminta pertolongan.

Dia menjelaskan, bila virus masuk ke dalam tubuh orang yang rendah tingkat imunitas tubuhnya maka tentu orang itu bisa sakit dan bahkan bisa meninggal.

Sedangkan jika ada orang yang rajin sholat malam tapi rendah tingkat immunitas tubuhnya, tentu tidak mustahil dia juga bisa sakit.

Tapi karena Tuhan sangat suka kepada orang yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya maka tentu tidak mustahil Allah SWT membuat ketentuan lain di luar ketentuan yang sudah ada.

“Sehingga yang bersangkutan meskipun rendah tingkat immunitas tubuhnya maka dia tidak sakit karena virus tersebut,” kata Buya Anwar Kamis (23/4).

Karenanya, kata dia, sangat tidak mustahil bagi seorang hamba yang senantiasa menggantungkan dirinya kepada Allah melalui mendirikan sholat dapat selamat dan tidak terkena virus corona.

Namun demikian untuk mencapai sebuah ibadah terutama sholat malam yang berkualitas, menurut Buya Anwar, harus terpenuhi  syarat dan rukunnya serta segala ketentuan yang terkait serta melaksanakan sholat dengan khusyuk.

“Ini memang tidak rasional karena masa orang yang rendah tingkat imunitas tubuhnya tidak sakit. Tetapi kalau kita pergunakan pendekatan supra rasional tentu hal itu akan bisa kita terima karena kita tahu virus itu dan manusia itu adalah makhluk Tuhan,” ujar dia.

Dia pun menukilkan kisah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api Raja Namrud. Allah SWT sudah memerintahkan kepada api itu untuk tidak membakar maka Nabi Ibrahim selamat dari tindakan durjana Namrud.

“Begitu juga karena Tuhan sayang kepada hamba-Nya yang mendekatkan diri kepada-Nya maka dia perintahkan makhluknya untuk tidak mencelakai orang yg mendekatkan diri kepada-Nya,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

Haedar Minta Jernihkan Hati, Tetap Ibadah di Rumah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir mengatakan, di tengah berlangsungnya masa penyebaran pandemi virus corona jenis baru (Covid-19), umat Muslim diharapkan menaati imbauan beribadah di rumah saja.

Di masa darurat, hal ini dibolehkan. Dia menjabarkan, terdapat beberapa orang yang beranggapan meninggalkan masjid karena takut wabah Covid-19 merupakan tindakan keliru sebab masjid adalah tempat yang suci.

Menurutnya, pandangan inilah yang justru keliru sebab hanya melihat sesuatu tidak secara komprehensif.

“Kita jangan melihat sesuatu dengan pandangan yang hitam-putih saja. Sunatullah saja berwarna-warni. Artinya, kita perlu gunakan nalar, keimanan, serta kejernihan hati kita dalam menyikapi suatu permasalahan,” kata Haedar dalam live streaming Pengajian Menyambut Ramadhan Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4).

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, dia menjelaskan, umat Islam perlu menggunakan nalar yang kuat dan jernih.

Hal itu sebagaimana yang dicontohkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ketika menemui lembah yang terdapat wabahnya.

Ketika itu Sayyidina Umar ‘melarikan’ diri dari wabah tersebut dan langkahnya dipertanyakan: “Hai Umar, apakah engkau lari dari takdir Allah?”

Sayyidina Umar, kata Haedar, menjawab dengan jawaban yang cerdas bahwa benar dia telah lari dari takdir Allah yang satu untuk menghadapi takdir Allah yang lain. Allah Mahatinggi, Mahasuci, dan kesucian masjid pun tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sehingga menurutnya, bukan perkara ketakutan mana yang manusia rasakan lebih tinggi antara Allah SWT dengan Covid-19 sehingga harus memilih keluar dan beribadah di masjid dalam kondisi seperti ini, namun bagaimana nalar berpikir secara benar.

Secara perbandingan, kata dia, ketakutan antara keduanya tidak apple to apple. “Untuk itu, saya mengajak kepada keluarga besar Muhammadiyah untuk memahami setiap permasalahan secara rasional, kontekstual, dan juga situasional,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

 

Corona Tidak Bisa Jadi Dalih Tolak Pengungsi Rohignya

 

JENEWA(Jurnalislam.com) – Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan para pengungsi Rohingya yang terdampar di laut menghadapi masalah yang mengerikan.

 

Oleh karenanya UNHCR meminta negara-negara mengizinkan para pengungsi untuk turun dari kapal terdampar dengan alasan kemanusiaan meskipun ada krisis kesehatan Covid-19 ini.

Direktur UNHCR Asia-Pasifik, Indrika Ratwatte, mengatakan badan PBB semakin prihatin dengan laporan pengungsi Rohingya di kapal penangkap ikan yang ditolak masuk ke negara-negara tujuan mereka. Para pengungsi ditolak meskipun kondisi berbahaya pada kapal penyelundup mengintai mereka.

 

“Kami semakin prihatin dengan laporan-laporan tentang kegagalan untuk menurunkan kapal-kapal dalam kesusahan dan risiko yang serius yang ditimbulkannya pada pria, wanita, dan anak-anak di atas kapal,” kata Ratwatte dikutip Aljazirah, Kamis (23/4).

“Pencarian dan penyelamatan, bersama dengan pendaratan cepat, adalah tindakan yang menyelamatkan jiwa,” ujarnya menambahkan.

Dalam beberapa hari terakhir, dilaporkan pesawat pengintai Malaysia mencegah sebuah kapal yang membawa sekitar 200 pengungsi Rohingya memasuki perairan Malaysia. Kapal berisi pengungsi itu kemudian terpaksa kembali ke perairan di selatan Thailand.

Angkatan udara Malaysia mengatakan pihaknya khawatir kelompok pengungsi membawa virus corona ke negara yang dipimpin perdana menteri Muhyiddin Yasin tersebut.

 

Malaysia mengatakan bahwa awak kapal angkatan laut Malaysia telah membagikan makanan kepada orang asing di atas kapal sebelum mengawal kapal mereka keluar dari perairan negara.

Sehari sebelum insiden 17 April, penjaga pantai Bangladesh melaporkan setidaknya 24 pengungsi Rohingya meninggal dunia di laut setelah kapal mereka gagal mencapai Malaysia. Hampir 400 lainnya selamat di atas kapal yang telah terpaut di Laut Andaman selama berminggu-minggu.

Thailand sebagai negara yang berbatasan dengan Myanmar memiliki kebijakan yang lebih ketat terhadap pengungsi Rohingya.

 

Mereka yang berhasil sampai ke pantai Thailand dikenakan penahanan yang tidak terbatas. Bangkok juga menolak mengizinkan UNHCR melakukan penentuan status pengungsi bagi Rohingya sehingga memaksa banyak orang untuk berusaha mencapai Malaysia.

Ratwatte mengatakan negara-negara di kawasan itu seharusnya tidak membiarkan terulangnya krisis pengungsi Rohingya 2015. Kala itu, ribuan orang terjebak di laut mencoba melarikan diri dari Myanmar. “Kita tidak boleh kembali ke ketidakpastian yang mengancam jiwa hari ini,” kata Ratwatte.

sumber: republika.co.id

Fatwa Terbaru MUI Tegaskan Dana Zakat Boleh untuk Tangani Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa engeluarkan Fatwa Nomor 23 tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan fatwa ditetapkan di Jakarta saat rapat pleno Komisi Fatwa pada 22 Sya’ban 1441 H/16 April 2020 M.

Setelah melalui rangkaian finalisasi dan disetujui  Ketua Komisi Fatwa MUI dan Dewan Pimpinan MUI resmi dikeluarkan pada Kamis (23/4).

Asrorun menjelaskan,  fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

Untuk itu Komisi Fatwa MUI melakukan ijtihad dan menetapkan fatwa agar zakat, infak, dan sedekah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan wabah Covid-19.

“Termasuk masalah kelangkaan APD, masker, kebutuhan pokok masyarakat terdampak,” kata Asrorun, di Jakarta, Jumat (24/4).

Berikut isi lengkap Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.

Ketentuan Hukum:

1.Pemanfaatan harta zakat untuk penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya, hukumnya boleh dengan dhawabith sebagai berikut:

 

  1. Pendistribusian harta zakat kepada mustahik secara langsung dengan ketentuan sebagai berikut:

 

1).Penerima termasuk salah satu golongan (asnaf) zakat, yaitu Muslim yang fakir, miskin, amil, mualaf, yang terlilit  utang, riqab, ibnu sabil,                   dan/atau fi sabilillah;

 

2). Harta zakat yang didistribusikan boleh dalam bentuk uang tunai, makanan pokok, keperluan pengobatan, modal kerja, dan yang sesuai                 dengan kebutuhan mustahik

 

3). Pemanfaatan harta zakat boleh bersifat produktif antara lain untuk stimulasi kegiatan sosial ekonomi fakir miskin yang terdampak wabah.

 

  1. Pendistribusian untuk kepentingan kemaslahatan umum, dengan ketentuan sebagai berikut:

 

1) Penerima manfaat termasuk golongan (asnaf) fi sabilillah

 

2) Pemanfaatan dalam bentuk aset kelolaan atau layanan bagi kemaslahatan umum, khususnya kemaslahatan mustahik, seperti untuk               penyediaan alat pelindung diri, disinfektan, dan pengobatan serta                       kebutuhan relawan yang bertugas melakukan aktifitas kemanusiaan                   dalam penanggulangan wabah.

 

  1. Zakat mal boleh ditunaikan dan disalurkan lebih cepat (ta‘jil al-zakah) tanpa harus menunggu satu tahun penuh (haul), apabila telah mencapai nishab.

 

  1. Zakat fitrah boleh ditunaikan dan disalurkan sejak awal Ramadhan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri.

 

  1. Kebutuhan penanggulangan wabah Covid-19 dan dampaknya yang tidak dapat dipenuhi melalui harta zakat, dapat diperoleh melalui infak, sedekah, dan sumbangan halal lainnya.

325 Tenaga Medis Malaysia Tercatat Positif Covid-19

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) — Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) melaporkan hingga Kamis (23/4) terdapat sebanyak 325 petugasnya yang dideteksi positif Covid-19.

 

Jumlah tersebut mencapai 5,8 persen dari jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 di Malaysia.

Dirjen Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah, mengemukakan hal itu dalam jumpa pers rutin di Putrajaya. Dari jumlah tersebut, menurut dia, sebanyak 185 pasien telah pulih sepenuhnya dan dipulangkan, 137 penderita sedang dirawat di rumah sakit dan tiga orang meninggal dunia.

Kasus-kasus itu, dikemukakannya melibatkan 77 orang pegawai medis, 66 orang jururawat, 34 orang petugas medis, 23 orang pakar medis, 21 orang asisten staf medis dan 104 orang di bidang lain-lain pelayanan.

“Berdasarkan penyelidikan penyebab terjangkit bagi semua anggota KKM ini bukan disebabkan oleh penanganan kasus yang telah disahkan positif Covid-19 difasilitasi petugas kesehatan KKM. Didapati, 70 persesn kasus adalah akibat dari aktivitas sendiri, misalnya menghadiri acara hiburan, ke luar negeri, dan sebagainya,” katanya.

KKM menegaskans upaya semua anggota petugas media dan barisan depan (frontliners) senantiasa mempraktikan langkah-langkah pencegahan, seperti memastikan tangan senantiasa bersih, menghindari kawasan yang sesak (crowded space) dan kawasan yang tertutup (confined space) secara beramai-ramai pada masa yang sama, seperti di ruang makan (pantry) di tempat kerja.

“Jaga jarak satu meter ketika bercakap-cakap dengan orang lain (close conversation), memastikan kawasan kerap disentuh adalah bebas daripada kuman, termasuk di kawasan yang kerap digunakan secara bersama oleh banyak petugas, misalnya ruang makan di tempat kerja, menggunakan alat pelindung diri mengikut keperluan, terutama penggunaan alat penutup mulut dan hidung (face mask) semasa menangani pasien,” katanya.

Sumber: republika.co.id

PCNU Hongkong Bantu UMKM Terdampak Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong menggandeng Santri Milenial Center (Simac) menggalang bantuan untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19.

Rais Syuriyah PCINU Hong Kong yang juga CEO Kopi Abah Group, Nur Rohman, dalam pernyataannya, Kamis (23/4), mengatakan pihaknya menggandeng Simac berinisiatif melakukan gerakan penggalangan dana untuk membantu warga dan UMKM terdampak wabah corona.

“Kami sadar banyak warga yang terdampak, sehingga inisiatif bantuan ini muncul. Kami melakukan penggalangan dana guna membantu saudara-saudara kami di Indonesia, terutama UMKM dan jamaah Nahdliyin yang khususnya terkena dampak langsung secara sosial,” katanya.

Kegiatan penyaluran ini dilakukan tidak hanya di Tangerang, namun juga di Malang, Ponorogo, Kebumen, dan Semarang.

Sebagai penyaluran bantuan di Indonesia, PCINU Hong Kong menggandeng Simac yang memiliki jaringan UMKM serta program-program pemberdayaan umat.

Ketua Dewan Pembina Simac, Syauqi Ma’ruf Amin, menyambut baik inisiatif dari PCINU Hong Kong atas kepedulian dan gerakan tersebut.

“Kami menyambut baik langkah ini yang telah peduli terhadap kondisi saudara-saudaranya di Tanah Air. Semoga kegiatan positif ini juga menjadi inspirasi jaringan masyarakat lain untuk saling gotong royong menghadapi wabah corona,” kata Syauqi.

Dia berharap hal ini menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat terutama yang berada di dalam negeri.

“Karena saudara kita yang jauh di Hong Kong saja peduli dengan keadaan di Indonesia. Bagaimana saudara, mari kita saling bantu dan gotong royong,” ajaknya.

Wabah Covid-19mengakibatkan dampak ekonomi dan sosial di banyak daerah, di Tangerang, Banten, misalnya banyak masyarakat yang harus dirumahkan akibat bencana ini karena produksi dan fasilitas distribusi tidak berjalan normal, bahkan sebagian sudah tutup.

Hal itu juga yang dialami Han, pemuda asal Kecamatan Rajeg yang sehari-harinya beraktivitas sebagai barista Kopi Abah di Bandara Soekarno-Hatta.

“Saya biasa menjalankan aktivitas sebagai barista kedai Kopi Abah di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, tempat pemberangkatan haji dan umrah. Sejak haji dan umrah ditiadakan, kedai kami tutup,” katanya.

Sumber: republika.co.id