Serangan Udara Rusia Guncang Ibu Kota Ukraina, Pembicaraan Damai Masih Buntu

KYIV (jurnalislam.com)– Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran menggunakan pesawat nirawak (drone) ke ibu kota Ukraina, Kyiv, dan kota pelabuhan Odesa pada Selasa pagi (10/6). Serangan ini menewaskan satu orang, melukai sejumlah lainnya, dan menghantam infrastruktur sipil termasuk rumah sakit bersalin.

Menurut pejabat Ukraina, serangan intensif ini menjadi bukti bahwa Moskow terus mengabaikan seruan internasional untuk perdamaian, meskipun perundingan damai telah digelar akhir pekan lalu namun gagal mencapai terobosan berarti.

“Rusia berbohong setiap hari tentang keinginannya untuk perdamaian dan menyerang orang setiap hari. Saatnya untuk menjatuhkan sanksi. Saatnya untuk mendukung Ukraina dengan senjata. Saatnya untuk membuktikan bahwa demokrasi memiliki kekuatan,” tegas Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, dalam pernyataan di Telegram.

Gubernur Odesa, Oleg Kiper, mengumumkan seorang pria berusia 59 tahun tewas dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal, sementara empat orang lainnya terluka. Ia menyebut serangan Rusia kali ini sangat besar dan menyebabkan kebakaran serta kerusakan parah pada infrastruktur sipil.

“Musuh menyerang Odesa secara besar-besaran dengan drone. Rumah sakit bersalin, bangsal medis darurat, dan bangunan tempat tinggal menjadi sasaran. Untungnya, rumah sakit telah dievakuasi tepat waktu,” ungkap Oleg Kiper.

Di pusat kota Kyiv, sedikitnya 12 ledakan terdengar pada dini hari, disertai suara tembakan antipesawat dan dengung drone. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengimbau warga tetap berada di tempat perlindungan karena “serangan besar-besaran di ibu kota terus berlanjut.”

Serangan tersebut menghantam sedikitnya tujuh distrik di Kyiv, membakar bangunan dan kendaraan serta menyebabkan beberapa warga luka-luka.

Konflik yang dimulai pada Februari 2022 ini telah menjadi perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Meskipun Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump mencoba memediasi gencatan senjata, perundingan damai putaran kedua di Turki tidak menghasilkan kesepakatan berarti.

Satu-satunya kesepakatan yang dicapai adalah pertukaran tawanan perang yang terluka parah, sakit, atau masih berusia di bawah 25 tahun. Namun tidak ada kesepakatan soal gencatan senjata.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut kesepakatan pertukaran tahanan tersebut, namun menyebut perundingan lebih lanjut dengan delegasi Rusia “tidak ada gunanya,” bahkan menyebut mereka sebagai “orang bodoh” karena tidak mau menyetujui gencatan senjata.

Rusia menolak usulan gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari yang diminta oleh Ukraina dan Uni Eropa. Moskow menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah yang telah mereka aneksasi dan bersumpah untuk tidak bergabung dengan NATO, yang oleh Kyiv dianggap sebagai “ultimatum.”

Ukraina bersikeras bahwa penarikan penuh pasukan Rusia dan jaminan keamanan dari Barat adalah syarat mutlak untuk perdamaian.

“Rusia hanya memahami serangan, bukan kata-kata rasional,” ujar Yermak, menyiratkan kritik terhadap pendekatan diplomasi yang dianggapnya lemah terhadap Moskow.

Sementara itu, pada Minggu lalu, militer Rusia juga mengklaim menyerang wilayah Dnipropetrovsk yang berbatasan dengan Donetsk dan Zaporizhzhia sebagai bagian dari eskalasi konflik. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Suriah Kembali Terhubung ke SWIFT, Langkah Besar Menuju Pemulihan Ekonomi dan Investasi Asing

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Suriah resmi kembali terhubung ke sistem pembayaran internasional SWIFT melalui Bank Sentralnya. Pengumuman ini disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral Suriah, Abdul Qader al-Husriya, pada Sabtu (7/6), menandai tonggak penting dalam rehabilitasi ekonomi negara itu setelah lebih dari satu dekade terkucil akibat sanksi internasional.

“Kami bertujuan untuk meningkatkan citra negara sebagai pusat keuangan mengingat investasi asing langsung yang diharapkan dalam pembangunan kembali dan infrastruktur – ini sangat penting,” ujar Husriya dalam wawancara dengan Financial Times (FT).

Menurut laporan FT, Husriya tengah bekerja sama dengan Kementerian Keuangan dalam menyusun “rencana stabilisasi enam hingga 12 bulan.” Prakarsa ini mencakup reformasi undang-undang perbankan dan Bank Sentral, serta upaya restrukturisasi jaminan sosial dan pembiayaan perumahan untuk menarik minat investor, khususnya dari diaspora Suriah.

Langkah ini disambut positif di Damaskus, namun Husriya menegaskan bahwa masih diperlukan reformasi kebijakan secara menyeluruh.

“Sejauh ini, kami hanya melihat penerbitan lisensi dan pencabutan sanksi selektif. Implementasinya harus komprehensif, bukan ad hoc,” tegasnya.

Kembalinya Suriah ke sistem SWIFT terjadi setelah negara tersebut menunjukkan kesediaan untuk memenuhi sejumlah kondisi politik dari negara-negara Barat.

Suriah terakhir kali terhubung ke SWIFT pada 2011, tahun dimulainya perang perubahan rezim yang didukung oleh Amerika Serikat.

Lebih lanjut, Husriya mengatakan bahwa sistem keuangan Suriah akan diperkuat oleh jaminan investasi. Ia mengungkapkan bahwa meskipun bank-bank milik negara telah mendapat dukungan pemerintah, pihaknya sedang menyiapkan lembaga penjamin simpanan untuk bank swasta.

“Rencananya adalah semua perdagangan luar negeri sekarang akan disalurkan melalui sektor perbankan formal,” jelasnya. Sebelumnya, penukar uang informal mengambil sekitar 40 sen dari setiap dolar yang masuk ke Suriah.

Kode SWIFT telah diberikan kembali kepada bank dan lembaga keuangan Suriah. “Langkah yang tersisa adalah agar bank-bank koresponden kembali memproses transfer,” ujarnya.

Menurut Husriya, kembalinya SWIFT akan memperlancar perdagangan luar negeri, mengurangi biaya impor, memperkuat ekspor, serta meningkatkan akses terhadap mata uang keras. Selain itu, langkah ini juga akan mendukung sistem anti pencucian uang dan mengurangi ketergantungan pada jaringan transaksi informal lintas negara.

Sebelumnya, Arab Saudi dan Qatar telah menjanjikan dukungan finansial kepada Damaskus setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa mencabut sebagian besar sanksi bulan lalu, hal ini memberi Suriah jalur hidup baru setelah hampir 14 tahun perang dan isolasi ekonomi.

Sebagai bagian dari reformasi ekonomi yang lebih luas, Damaskus telah menandatangani kesepakatan energi senilai $7 miliar (sekitar Rp114 triliun) dengan Qatar, membuka kembali Bursa Efek Damaskus yang telah lama tidak aktif, serta meluncurkan proyek jaringan serat optik senilai $300 juta (sekitar Rp4,9 triliun) bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi dari Teluk.

Kembalinya Suriah ke sistem SWIFT menandai upaya serius negara tersebut untuk membangun kembali ekonomi dan kredibilitas internasionalnya.

Sebagai catatan, SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) adalah jaringan global yang menghubungkan lebih dari 11.000 lembaga keuangan di lebih dari 200 negara untuk melakukan transaksi keuangan internasional secara aman dan terstandar. Akses ke SWIFT memungkinkan negara-negara melakukan transfer dana lintas batas, pembayaran ekspor-impor, serta memperkuat hubungan perbankan internasional. Kehadiran kembali Suriah dalam sistem ini merupakan sinyal positif bagi pemulihan keuangan negara tersebut. (Bahry)

Sumber: Cradle

Yayasan Nur Hidayah Surakarta Tebar Kurban Hingga Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Ada yang berbeda dalam perayaan Idul Adha 1446 Hijriyah di Yayasan Nur Hidayah Surakarta. Tidak hanya melaksanakan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga melakukan penyaluran hewan kurban ke Palestina. Sejumlah unit di bawah naungan Yayasan Nur Hidayah Surakarta melakukan penyembelihan pada Jum’at-Senin (6-9/6/2025). Tercatat ada sebanyak 86 hewan kurban yang terdiri dari 12 sapi, 69 kambing, dan 5 domba.

LKSA Nur Hidayah Surakarta menyembelih 2 sapi dan 28 kambing pada hari pertama Jum’at (6/6/2025). Hari kedua, Sabtu (7/6/2025) PAUD IT Nur Hidayah Surakarta menyalurkan 1 sapi dan 2 kambing ke beberapa tempat. Satu sapi disalurkan ke Palestina melalui LAZ Nur Hidayah Surakarta bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Madani (YAKESMA) Cabang Surakarta dan dilaporkan melalui aplikasi zoom.

Penyembelihan sapi tersebut dilakukan di Lucknow, India, lalu disalurkan ke Palestina. Sedangkan 1 kambing disalurkan ke Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit dan 1 lagi disalurkan ke MI Muhammadiyah Walen 2, Simo, Boyolali.

Hari ketiga, Ahad (8/6/2025) Yayasan Nur Hidayah Surakarta melalui LAZ Nur Hidayah melakukan tebar hewan kurban ke Wonogiri. Sebanyak 1 sapi, 1 kambing, dan 5 domba tersebar di empat lokasi di Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. Keempat Lokasi tersebut yaitu Masjid Al-Ikhlas Wonokriyo, Mushola Al-Hidayah Dringo, Masjid Nurul Iman Tawangharjo, dan Masjid Al Amin Ngluweng.

Pada hari yang sama, SD IT Nur Hidayah Surakarta, SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo, serta Pondok Pesantren Nur Hidayah Kebakkramat juga melakukan penyembelihan hewan Kurban. SD IT Nur Hidayah Surakarta menyembelih 3 sapi dan 13 kambing. SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo menyembelih 2 sapi dan 2 kambing. Adapun Pondok Pesantren Nur Hidayah Kebakkramat menyembelih 1 ekor sapi.

Adapun SMP IT Nur Hidayah Surakarta dan Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit melakukan penyembelihan pada hari terakhir tasyrik, Senin (9/6/2025). SMP IT Nur Hidayah Surakarta menyembelih 2 sapi dan 11 kambing. Daging hewan kurban disalurkan ke lima masjid di sekitar sekolah, yaitu Masjid Al-Hidayah, Masjid Al-Huda, Masjid Baiturrohim, Masjid Al-Fath, dan Masjid Istiqlal. Sedang Pondok Pesantren Nur Hidayah Sawit menyembelih 12 ekor kambing dan dibagikan ke warga sekitar.

MasyaAllah, semoga para donatur, orang tua atau wali murid, dan mitra yang telah mengamanahkan hewan kurbannya kepada Yayasan Nur Hidayah Surakarta mendapat pahala yang berlimpah dari Allah Ta’ala. Aamiin.

Tentara Israel Culik Aktivis Kapal Bantuan Kemanusiaan ‘Madleen’ di Perairan Internasional

GAZA (jurnalislam.com)– Tentara Israel dilaporkan menculik sejumlah aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal bantuan Madleen yang sedang menuju Gaza pada Ahad malam (8/6/2025), demikian disampaikan Koalisi Armada Kebebasan, penyelenggara misi tersebut.

“SOS! Para relawan di ‘Madleen’ telah diculik oleh pasukan Israel,” tulis LSM internasional itu melalui saluran Telegram resminya.

Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, mengonfirmasi bahwa ia sempat berbicara dengan kapten kapal sebelum komunikasi terputus.

“Pada saat kapal dicegat, tidak ada yang terluka kapten meminta saya untuk merekam,” ujarnya.

Albanese menyebut dirinya mendengar suara tentara Israel di latar belakang sebelum sambungan telepon terputus.

“Saya kehilangan koneksi dengan kapten saat dia memberi tahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat,” tambahnya.

Koalisi Armada Kebebasan menyatakan bahwa pasukan angkatan laut Israel menaiki kapal Madleen di perairan internasional. Sejak itu, komunikasi dengan kapal sepenuhnya terputus. Rekaman langsung yang sempat tersiar memperlihatkan kapal-kapal Israel mengelilingi Madleen, dengan tentara bersenjata memerintahkan para aktivis untuk mengangkat tangan.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa kapal tersebut diperintahkan untuk mengubah arah karena mendekati apa yang disebutnya sebagai “daerah terlarang”.

Kapal layar sepanjang 18 meter itu berlayar menuju Gaza pada 1 Juni lalu dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti di Catania, Sisilia, Italia. Misi ini merupakan bagian dari upaya Koalisi Freedom Flotilla untuk menembus blokade Israel atas Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Sebanyak 12 orang berada di atas kapal Madleen, terdiri dari 11 aktivis dan satu jurnalis. Di antara mereka terdapat nama-nama terkenal seperti aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, anggota parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina Rima Hassan, serta aktivis dari berbagai negara: Jerman, Prancis, Brasil, Turki, Spanyol, dan Belanda. Seorang jurnalis dari Al Jazeera Mubasher, Omar Faiad, juga berada di kapal tersebut.

Kapal ini membawa berbagai bantuan penting bagi warga Gaza, termasuk susu formula bayi, tepung, beras, popok, produk sanitasi wanita, peralatan desalinasi air, pasokan medis, kruk, dan prostetik untuk anak-anak.

Hingga saat ini, nasib para aktivis dan kondisi kapal Madleen masih belum diketahui secara pasti. (Bahry)

Sumber: AA

Israel Bombardir Suriah Selatan, Satu Orang Dilaporkan Tewas

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Suriah pada Ahad pagi (8/6/2025), dan mengklaim telah menewaskan seorang anggota Hamas dalam serangan tersebut. Ini menjadi bagian dari rangkaian serangan militer Israel terhadap Suriah yang terus berlanjut sejak awal tahun.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Telegram, militer Israel mengatakan serangan menargetkan seorang yang diduga anggota Hamas di wilayah Mazraat Beit Jin.

Lembaga pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka akibat serangan yang mengenai sebuah kendaraan di dekat zona penyangga yang diawasi pasukan PBB. Hingga kini, Hamas belum memberikan komentar terkait klaim Israel tersebut.

Sepanjang tahun ini, Observatorium mencatat Israel telah melakukan 61 serangan terhadap wilayah Suriah, terdiri dari 51 serangan udara dan 10 serangan darat.

Serangan terbaru Israel ini juga terjadi setelah dua roket ditembakkan dari wilayah Suriah ke arah Israel awal pekan ini serangan lintas batas pertama sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu. Dua kelompok yang sebelumnya tak dikenal mengklaim bertanggung jawab: “Brigade Martir Mohammed Deif” dan “Front Perlawanan Islam di Suriah”, keduanya diduga beroperasi dari wilayah selatan Suriah.

Israel merespons dengan serangan udara tambahan di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Tel Aviv menganggap Suriah sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung atas serangan lintas batas tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “provokasi terkoordinasi” yang bertujuan mengganggu stabilitas nasional Suriah.

“Tindakan ini menciptakan peluang bagi kelompok terlarang untuk mengeksploitasi kekacauan,” kata Shaibani.

“Suriah telah memperjelas posisinya: kami tidak menginginkan perang, melainkan fokus pada rekonstruksi.” imbuhnya.

Serangan Israel ini terjadi di tengah upaya pemulihan Suriah di bawah pemerintahan baru Presiden Ahmed al-Sharaa, yang menggantikan Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu. Pemerintahan baru telah memulai proses rekonsiliasi nasional dan menjalin kembali hubungan diplomatik dengan sejumlah negara.

Bulan lalu, Amerika Serikat dan Uni Eropa mencabut sanksi terhadap Suriah, langkah yang disebut sebagai titik balik penting dalam proses pemulihan ekonomi negara itu pasca perang yang berkepanjangan.

Meski demikian, Israel tetap menunjukkan sikap keras terhadap pemerintahan baru Suriah, dengan alasan kekhawatiran yang masih ada atas pemerintahan baru negara itu yang dipimpin oleh Presiden Ahmed al-Sharaa, yang dianggapnya sebagai “jihadis.”

Selain terus menggempur infrastruktur militer Suriah, Israel juga masih menduduki wilayah Dataran Tinggi Golan yang direbut sejak perang Arab-Israel tahun 1967 dan mengambil lebih banyak wilayah setelah al-Assad digulingkan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Dekat Kediaman Wali Kota Tasik, Mobil Bermuatan Ratusan Dus Miras Digerebek Santri

TASIKMALAYA (jurnalislam.com)– Sebuah mobil jenis blind van yang digunakan untuk mengangkut minuman keras digerebek oleh Ormas Islam Al Mumtaz, pada Minggu malam (8/6/2025), tak jauh dari kediaman Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.

Penggerebekan ini bermula dari laporan masyarakat yang diterima Al Mumtaz mengenai aktivitas mencurigakan sebuah mobil berwarna abu gelap yang kerap mondar-mandir mendistribusikan miras. Berbekal nomor polisi, beberapa santri melakukan pemantauan secara langsung hingga akhirnya menemukan momen yang tepat.

Sekitar pukul 22.30 WIB, mobil tersebut terpantau melintas di kawasan Dadaha dan melaju ke arah Jalan BKR, Kelurahan Kahirupan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Penguntitan berlanjut hingga kendaraan memasuki kompleks perumahan elit Grand Mayasari Estate yang diketahui merupakan tempat tinggal pribadi Wali Kota.

Santri Al Mumtaz sempat tertahan di pos keamanan. Petugas sekuriti mengimbau agar kegiatan santri tidak mengganggu kenyamanan warga karena sudah memasuki waktu istirahat. Namun, setelah dilakukan pengecekan melalui rekaman CCTV, pihak keamanan membenarkan bahwa mobil tersebut sempat melintasi gerbang perumahan.

Setelah diberi izin, beberapa santri masuk ke dalam kompleks dan menemukan mobil target sedang terparkir di depan salah satu rumah. Mereka pun mengetuk rumah tersebut dan meminta agar pemilik kendaraan membuka pintu mobil. Hasilnya cukup mengejutkan puluhan dus miras ditemukan menumpuk di dalam mobil tersebut.

“Iya, awalnya dari informasi yang diterima kami. Kami pantau mobil itu, memang sudah dicurigai. Alhamdulillah malam ini berhasil kami gerebek,” ungkap Ustadz Abu Hazmi, Sekjen Al Mumtaz, di lokasi kejadian.

Mobil bermuatan miras tersebut akhirnya digiring ke Mako Polres Tasikmalaya Kota dengan pengawalan pihak kepolisian yang hadir saat penggerebekan. Di Mako, sekitar 1.800 botol minuman keras diturunkan, didata, dan diamankan sebagai barang bukti.

Atas kejadian ini, Ustadz Abu Hazmi mendesak Wali Kota Tasikmalaya untuk mengambil tindakan tegas. Ia menuntut agar barang bukti segera dimusnahkan dalam waktu 2×24 jam, serta meminta agar penghuni rumah yang menjadi tempat parkir mobil tersebut diusir dari lingkungan perumahan.

“Wali kota harus menunjukkan komitmennya terhadap fakta integritas yang sudah ditandatangani bersama para ulama dan santri untuk memberantas miras di Tasikmalaya,” pungkas Abu Hazmi.

Jika tuntutan tersebut tidak direspons, Al Mumtaz bersama para ulama dan santri menyatakan siap mendatangi Balekota Tasikmalaya sebagai bentuk aksi lanjutan.

Suriah Resmi Tutup Kamp Rukban, Ribuan Pengungsi Pulang Setelah Bertahun-tahun Ditindas Rezim Bashar al-Assad

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Pemerintah Suriah mengumumkan penutupan kamp pengungsian Rukban, kamp yang selama bertahun-tahun menjadi tempat pelarian ribuan warga sipil dari kekejaman rezim Bashar al-Assad. Ribuan keluarga yang sebelumnya tertahan di gurun tanpa akses bantuan kini telah kembali ke kampung halaman mereka.

Menteri Informasi Suriah, Hamza al-Mustafa, menyampaikan bahwa pembongkaran kamp tersebut menjadi akhir dari babak kelam dalam sejarah bangsa Suriah.

“Rukban bukan sekadar kamp, melainkan segitiga kematian yang menjadi saksi kekejaman pengepungan dan kelaparan. Kisah tragis ini kini telah usai,” tulis al-Mustafa di akun X, Sabtu (7/6).

Kamp Rukban didirikan pada tahun 2014, di perbatasan gurun antara Suriah dan Yordania, sebagai tempat perlindungan bagi warga sipil yang melarikan diri dari pemboman dan serangan brutal rezim Assad. Kamp ini berada di zona dekonflik yang dikuasai pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dan menjadi simbol penderitaan rakyat sipil akibat kebijakan penyiksaan massal, pengepungan, dan pemblokiran bantuan kemanusiaan.

Selama bertahun-tahun, kamp ini terisolasi. Bantuan kemanusiaan sulit masuk akibat blokade, sementara kondisi kehidupan di dalam kamp sangat memprihatinkan. Ribuan pengungsi bertahan hidup dengan makanan yang diselundupkan dengan harga tinggi, tinggal di gubuk lumpur tanpa fasilitas dasar.

Situasi mulai berubah setelah rezim Assad digulingkan oleh pasukan loyalis Ahmed al-Sharaa pada Desember lalu. Pemerintah baru segera membuka jalan pemulangan dan reintegrasi warga yang terpaksa hidup dalam pengungsian akibat kekejaman masa lalu.

“Kami kembali dengan hati penuh harapan, meski rumah kami hancur dan hidup dalam kekurangan. Namun tetap saja, pulang ke rumah rasanya seperti berada di istana,” ujar Yasmine al-Salah, pengungsi yang kembali ke kampung halamannya di al-Qaryatan, provinsi Homs.

Pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa kini bertekad memulihkan Suriah dan memulangkan para pengungsi yang selama ini terlantar akibat konflik dan penindasan. Dukungan dari dunia internasional terus mengalir, termasuk dari Amerika Serikat dan Uni Eropa yang mencabut sanksi terhadap Damaskus untuk membuka jalan pemulihan ekonomi.

Menteri untuk Situasi Darurat dan Bencana, Raed al-Saleh, menyebut penutupan kamp Rukban sebagai akhir dari salah satu krisis kemanusiaan paling memilukan dalam sejarah Suriah.

“Kami berharap ini menjadi langkah awal untuk mengakhiri penderitaan di kamp-kamp lainnya, dan membawa rakyat kami pulang dengan aman dan bermartabat,” ungkapnya.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat bahwa lebih dari 1,8 juta warga Suriah telah kembali ke rumah mereka sejak kejatuhan rezim Assad. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Krisis Gizi Anak Gaza Memburuk, Lebih dari 2.700 Balita Derita Malnutrisi Akut

GAZA (jurnalislam.com)– Lebih dari 2.700 anak di bawah usia lima tahun di Jalur Gaza didiagnosis menderita malnutrisi akut, menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis Kamis (5/6). Angka ini mencerminkan “kemunduran tajam” dalam situasi gizi anak-anak di wilayah yang terkepung itu.

Kelompok Gizi PBB melaporkan bahwa “dari 46.738 anak di bawah usia lima tahun yang diskrining untuk mengetahui malnutrisi pada paruh kedua bulan Mei, 2.733 (5,8 persen) didiagnosis dengan malnutrisi akut.” Angka ini naik dari 4,7 persen pada paruh pertama bulan Mei, dan hampir tiga kali lipat dibandingkan bulan Februari 2025 selama gencatan senjata.

Sejak awal tahun ini, lebih dari 16.500 anak telah didaftarkan untuk perawatan malnutrisi akut berat (Severe Acute Malnutrition/SAM), termasuk 141 kasus yang mengalami komplikasi medis serius dan memerlukan rawat inap.

“Pada bulan Mei, 7,5 persen kasus SAM memerlukan rawat inap karena komplikasi, dibandingkan dengan hanya tiga hingga empat persen dalam dua bulan sebelumnya,” ungkap laporan tersebut.

“Ini menunjukkan peningkatan jumlah kasus berat.”

Namun, saat ini hanya terdapat empat pusat stabilisasi untuk perawatan anak-anak dengan SAM yang mengalami komplikasi medis — dua di Deir al Balah, satu di Khan Younis, dan satu di Kota Gaza. Sementara itu, “pusat-pusat stabilisasi di Gaza Utara dan Rafah terpaksa menghentikan operasinya, sehingga anak-anak di daerah tersebut tidak dapat memperoleh perawatan yang dapat menyelamatkan nyawa.”

Krisis gizi juga memengaruhi perempuan hamil dan menyusui.

“Pada bulan Mei, malnutrisi akut terdeteksi pada 17 persen wanita yang menjalani pemeriksaan di provinsi Gaza dan pada 18 persen wanita yang menjalani pemeriksaan di Deir al Balah,” demikian bunyi laporan. Padahal, pada Februari dan Maret, angkanya masih di bawah 10 persen.

Klaster Gizi PBB menegaskan bahwa “dimulainya kembali distribusi makanan dalam skala besar sangat dibutuhkan untuk mencegah memburuknya situasi gizi lebih lanjut.”

Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) mengungkapkan bahwa konsumsi dan keragaman pangan di Gaza telah “anjlok ke tingkat kritis” pada bulan Mei. Makanan bergizi utama seperti daging, telur, produk susu, sayur-sayuran, dan buah-buahan “hampir tidak ada dalam pola makan.”

WFP memperingatkan, “Pola makan di seluruh Gaza telah menjadi sangat tidak seimbang dan sangat kekurangan nutrisi, menandakan keruntuhan parah dalam keragaman makanan dan krisis gizi yang semakin dalam.” (Bahry)

Sumber: TPC

Taliban Imbau Warga Afghanistan di Luar Negeri Pulang, Janjikan Keamanan Meski Pernah Bekerja untuk AS

KABUL (jurnalislam.com)– Pemerintah Afghanistan yang saat ini dipimpin oleh Taliban mengimbau seluruh warganya yang berada di luar negeri untuk kembali ke tanah air. Dalam pidato yang disiarkan pada Sabtu (6/7), Perdana Menteri Taliban, Hassan Akhund, menjanjikan keselamatan dan perlindungan bagi para pengungsi, termasuk mereka yang pernah bekerja untuk pasukan Amerika Serikat.

Pidato tersebut disampaikan bertepatan dengan perayaan Idul Adha dan dimaksudkan untuk meyakinkan para pengungsi bahwa mereka akan dilindungi berdasarkan amnesti umum yang telah dideklarasikan oleh Pemimpin Tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada.

“Bahkan jika Anda melayani Amerika selama beberapa dekade… Anda tidak akan menghadapi pelecehan atau masalah,” ujar Akhund dalam pidato yang disiarkan melalui media pemerintah.

Seruan ini datang di tengah kebijakan baru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menandatangani perintah eksekutif melarang perjalanan dari 12 negara, termasuk Afghanistan. Pemerintah AS menyatakan larangan tersebut diberlakukan karena negara-negara itu dianggap tidak memiliki otoritas yang kompeten dalam memproses dokumen perjalanan dan melakukan pemeriksaan keamanan.

Sejak pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban pada 2021, hukum Islam diberlakukan secara ketat di seluruh wilayah Afghanistan. Bersamaan dengan itu, jalur migrasi bagi warga Afghanistan semakin terbatas. Amerika Serikat sendiri telah menutup kedutaan besarnya di Kabul sejak 2021. Kini, warga Afghanistan yang ingin mengajukan visa harus melakukannya di negara ketiga, dengan Pakistan sebagai opsi utama. Namun, Pakistan juga diketahui meningkatkan deportasi terhadap warga Afghanistan yang tidak memiliki dokumen resmi.

Pemerintah Taliban berharap imbauan ini dapat mendorong kembalinya warga Afghanistan ke tanah air untuk “membangun kembali negara” di bawah pemerintahan baru. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Kementerian Kesehatan Palestina: Rumah Sakit di Gaza Terancam Lumpuh Total dalam 3 Hari Akibat Krisis Bahan Bakar

GAZA (jurnalislam.com)– Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengeluarkan peringatan keras pada Sabtu (7/6/2025) bahwa sektor kesehatan di wilayah tersebut berada di ambang kehancuran total akibat blokade dan agresi militer Israel yang terus berlangsung. Persediaan bahan bakar untuk rumah sakit diperkirakan hanya mampu bertahan tiga hari ke depan.

Pihak kementerian menyebut situasi ini sebagai ancaman “bencana kemanusiaan yang tidak dapat diprediksi”. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan bahwa militer Israel telah menghalangi organisasi internasional dan PBB untuk mengakses lokasi penyimpanan bahan bakar dengan alasan lokasi tersebut berada di zona merah.

“Pendudukan Israel mencegah masuknya bahan bakar ke rumah sakit. Padahal, rumah sakit sangat bergantung pada generator untuk menghidupkan unit-unit penting seperti ICU, ruang operasi, dan perawatan darurat,” kata pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Gaza.

Kementerian juga memperbarui seruan kepada seluruh pihak internasional untuk segera campur tangan, mendesak Israel membuka akses masuk obat-obatan dan peralatan medis yang sangat dibutuhkan.

Saat ini, hanya 19 dari 38 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi, dan sebagian besar hanya berjalan dengan kapasitas terbatas. Dari jumlah itu, delapan merupakan rumah sakit pemerintah dan 11 rumah sakit swasta. Sembilan rumah sakit lapangan juga memberikan layanan darurat terbatas di tengah serangan yang disebut kementerian sebagai “operasi militer pemusnahan sistematis terhadap warga sipil Gaza”.

Situasi paling kritis terjadi di Khan Younis, Gaza selatan. Kementerian menegaskan bahwa Kompleks Medis Nasser menjadi satu-satunya rumah sakit yang masih berfungsi setelah Rumah Sakit Gaza Eropa ditutup dan akses ke Rumah Sakit Al-Amal dibatasi akibat peringatan dan perintah evakuasi dari militer Israel.

“Jika Kompleks Medis Nasser lumpuh, maka akan terjadi bencana kemanusiaan besar-besaran yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun,” tegas Kementerian Kesehatan, seraya menambahkan bahwa kehancuran fasilitas ini akan menandai runtuhnya sistem kesehatan di Gaza selatan secara menyeluruh.

Sementara itu, Rumah Sakit Al-Amal yang dioperasikan Bulan Sabit Merah Palestina kini berada dalam situasi terisolasi setelah militer Israel menetapkan area sekitarnya sebagai “zona pertempuran berisiko tinggi”. Para pasien dan tenaga medis yang masih berada di dalam rumah sakit tersebut menghadapi kondisi sangat berbahaya di tengah pengepungan.

Kementerian Kesehatan Gaza menyerukan intervensi segera dari lembaga-lembaga internasional untuk memberikan perlindungan terhadap fasilitas medis, serta membuka koridor kemanusiaan yang memungkinkan pasien dan korban luka untuk mengakses layanan kesehatan dasar, terutama di wilayah selatan Gaza yang terdampak paling parah.

Peringatan ini datang di tengah eskalasi baru konflik sejak gagalnya gencatan senjata pada bulan Maret lalu. (Bahry)

Sumber: TNA