Kasus Covid Melonjak, Ini Saran IDI

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menganalisis lonjakan kasus positif terinfeksi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) menjadi 1.043 kasus per Selasa (9/6) karena beberapa kemungkinan. Salah satunya karena dampak arus balik lebaran 2020.

Menurut Wakil Ketua Umum PB IDI Adib Khumaidi, kasus positif Covid-19 rekor diatas 1.000 kasus per hari ini bukan karena kebijakan tatanan kehidupan kenormalan baru (new normal).

“Karena masa inkubasi (infeksi Covid-19) kan butuh waktu selama dua pekan sedangkan new normal kan baru berlaku kemarin. Itu ada faktor-faktor seperti kemampuan pengujian yang ditambah, penambahan jumlah spesimen yang diperiksa, atau efek lebaran dan arus balik,” ujarnya, Selasa (9/6).

Karena itu, ia meminta pemerintah memperhatikan hal ini dan melakukan surveilans tracing contact peningkatan kasus-kasus positif Covid-19 terjadi di wilayah-wilayah mana saja.

Ia menambahkan, kalau peningkatan kasus terjadi di wilayah masyarakat yang baru balik dari kampung halaman misalnya Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek), berarti ada efek dari lebaran atau arus balik dan pascalebaran karena masih adanya masyarakat bersilaturahmi di tempat mudik.

“Yang jelas sebulan pascalebaran dan arus balik perlu ada antisipasi,” katanya.

Ia juga menganalisis potensi kemungkinan terjadinya kenaikan kasus Covid-19 saat kebijakan new normal berlaku. Ia menilai peningkatan kasus ini baru bisa dilihat dalam dua pekan mendatang. Karena itu, ia menyarankan pemerintah melakukan evaluasi setiap dua pekan.

“(New normal) ini harus dievaluasi lebih ketat dan protokol kesehatan harus diterapkan lebih tegas karena bukan tidak mungkin kasus positif bisa  meningkat,” katanya.

Jika memang terjadi lonjakan kasus kedepannya, dia melanjutkan, ia menyarankan pemerintah kembali memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pada Selasa (9/6), Pemerintah Indonesia kembali mengumumkan adanya penambahan kasus baru Covid-19.

Terdapat tambahan 1.043 kasus baru sehingga total ada 33.076 kasus positif Covid-19. Hingga Selasa (9/6), ada sebanyak 11.414 orang yang sembuh dan 1.923 meninggal dunia.

“Kasus konfirmasi positif ada 1.043, sehingga totalnya menjadi 33.076 orang,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, Selasa (9/6).

Sumber: republika.co.id

Jenazah yang Dimakamkan Ratusan Driver Ojol Tanpa Protap Ternyata Positif Covid

SURABAYA(Jurnalislam.com)—Driver Ojol di Surabaya, DAW (39) meninggal dan dimakamkan tanpa protap COVID-19. Kini terungkap bahwa almarhumah ternyata positif Corona.

“Ini hasil swab-nya, bahwa ojol yang kawan-kawan ketahui beberapa waktu lalu meninggal karena kecelakaan, swab-nya positif Corona,” kata Ketua Gugus Kuratif Penanganan COVID-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (9/6/2020).

Joni menjelaskan, dalam pemeriksaan yang dilakukan RSU dr Soetomo, ditemukan flek di paru wanita tersebut. Selain itu, DAW juga memiliki penyakit bronchitis.

“Pasien ini kecelakaan. Diperiksa sesuai prosedur, rapid test memang nonreaktif. Kemudian di-city scan, ini lebih sensitif. Pasien ini dirujuk dari RS swasta ke Soetomo, kemudian dilakukan pemeriksaan,” papar Joni.

“Kita punya sistem scoring, apakah pasien ini berisiko terkena COVID-19 atau tidak. Karena memenuhi scoring, akhirnya dilakukan swab. Lah swab perlu waktu untuk mendiagnosa adanya Corona/tidak. Pasien ini selain patah tulang, juga memiliki bronkitis,” lanjutnya.

Setelah di-swab, kata Joni, pasien kemudian sempat akan dioperasi karena mengalami patah tulang. Namun sebelum dioperasi, pasien dinyatakan meninggal dunia.

Sumber: detik.com

 

Pemerintah Diminta Pertimbangkan Ilmu Pengetahuan dalam Ambil Kebijakan Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pemerintah diminta untuk melakukan kajian ilmiah jika ingin melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mengimplementasikan skenario kenormalan baru atau newa normal di tengah pandemi Covid-19.

“Setiap negara harus menentukan strategi masing-masing dalam menerapkan skenario new normal. Negara perlu membuat keputusan berdasarkan konteks, kapasitas yang tersedia, dan situasi yang dialami,” kata profesor tamu di Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore,Tikki Pangestu dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Center for Healthcare Policy and Reform Studies (Chapters) bekerja sama dengan SwissCham Indonesia dan NordCham Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Tikki menegaskan, pemerintah harus menerapkan kebijakan kesehatan yang rasional di era new normal. “Pemerintahan harus berjalan secara efektif, namun kebijakan harus didasakan pada bukti ilmiah dan ilmu pengetahuan, dan perlu dievaluasi implementasinya,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah juga harus mempertimbangkan faktor lain dalam membuat kebijakan new normal. Misalnya, sistem kesehatan harus diperkuat agar menjamin rumah sakit tidak kewalahan dalam menangani pasien.

“Masyarakat harus tetap meminimalkan risiko penularan Covid-19 melalui berbagai cara, seperti menghindari keramaian dan melaksanakan protokol kesehatan di tempat kerja maupun tempat umum lainnya,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Ekonomi Kesehatan Indonesia (InaHEA) Hasbullah Thabrany mengatakan, kunci sukses dalam menghadapi Covid-19 adalah disiplin. “Korea Selatan bisa menjadi contoh, dimana pemerintahnya memiliki respons yang cepat di awal ketika Covid-19 masuk ke negaranya sehingga bisa menerapkan kebijakan new normal terlebih dahulu. Sementara Amerika Serikat dinilai terlambat mendeteksi COVID-19. Penerapan new normal di Amerika Serikat saat ini juga masih menjadi perdebatan,” papar Hasbullah.

Dia memperkirakan, vaksin Covid-19 tidak akan tersedia dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, untuk mempertahankan ekonomi di era new normal, solusinya adalah dengan menjaga kesehatan.

Sumber: sindonews.com

Kebijakan Kemenhub Dinilai Berpotensi Tingkatkan Jumlah Kasus Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Langkah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghapus ketentuan pembatasan penumpang pada transportasi umum dan kendaraan pribadi dinilai berpotensi meningkatkan jumlah kasus positif Covid-19.

Maka itu, Anggota Komisi V DPR RI Muhammad Aras tidak setuju dengan keputusan Kemenhub itu.

Aras yang merupakan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini meminta Kemenhub mempertimbangkan kembali penghapusan aturan pembatasan penumpang pada transportasi umum.

“Mengingat kasus COVID-19 di Indonesia masih cukup tinggi. Keputusan ini berpotensi meningkatkan jumlah kasus positif COVID-19,” ujar Aras dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/6/2020).

Dia mengatakan pandemi COVID-19 ini masih berstatus bencana nasional sesuai Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Bencana Nonalam COVID-19 sebagai Bencana Nasional pada 13 April 2020 lalu.

“Oleh karena itu, segala hal berkenaan dengan pencegahan penyebaran COVID-19 termasuk aturan pembatasan penumpang kami kira belum layak untuk dihentikan,” jelas Ketua DPW PPP Sulawesi Selatan ini.

Menurut dia, solusinya sebaiknya semua mode transportasi umum diperbolehkan kembali beroperasi, namun dengan tetap mempertimbangkan protokol kesehatan serta pembatasan penumpang. Kemudian, lanjut dia, penegasan kembali pembatasan kegiatan atau aktivitas masyarakat di luar rumah, seperti pembatasan karyawan bekerja di kantor, pembatasan pengunjung di mal, pasar dan tempat umum lainnya.

sumber: republika.co.id

Ingin Bertahan, Perusahaan Harus Berani Lakukan Transformasi Produk

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyarankan agar perusahaan berani melakukan transformasi atau diversifikasi terhadap produk atau jasanya. Langkah ini perlu dilakukan jika perusahaan bisa bertahan di masa normal baru dan tetap produktif.

“Menurut saya, perusahaan-perusahaan yang mau bertahan di masa normal baru harus berani melakukan perubahan serta transformasi produk atau jasanya, atau melakukan diversifikasi terhadap produk mereka. Ini yang akan bisa bertahan untuk dua tahun ke depan,” ujar Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (9/6).

Selain itu, dia juga menambahkan bahwa kondisi normal baru ini tidak secara otomatis meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi dunia usaha harus mampu mengikuti perubahan. “Kita melihat ada beberapa perusahaan yang mampu bertahan di masa pandemi Covid-19, seperti industri tekstil serta baju yang beralih memproduksi masker dan baju-baju khusus di rumah,” kata Aviliani.

Aviliani menilai bahwa perusahaan-perusahaan yang berhasil melakukan transformasi atau diversifikasi terhadap produk atau jasanya di masa normal baru justru menangguk keuntungan lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi. “Pada akhirnya pelaku-pelaku usaha ini mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, karena dia bisa mengetahui apa yang dibutuhkan oleh konsumen saat ini,” katanya.

Sebelumnya pengamat bisnis Lucky Esa dari Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) menilai banyak pelaku usaha menawarkan hal-hal baru terhadap bisnisnya agar dapat bertahan di era pandemi Covid-19. Selain itu, Lucky Esa juga menyarankan agar para pelaku bisnis mulai melakukan desain ulang terhadap bisnisnya masing-masing selama pandemi Covid-19 ini.
Sumber: republika.co.id

Survei: Transaksi Online Meningkat Enam Kali Lipat Selama Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Survei perusahaan konsultan pemasaranMarkPlus,Inc menunjukkan transaksi belanja ritel secara daring atau online meningkat hingga enam kali lipat dari 4,7 persen menjadi 28,9 persen selama masa pandemi Covid-19. Associate Client Success Team MarkPlusChrestella Carissa di Jakarta, Selasa (9/6) menyampaikan untuk berbelanja secara offline turun drastis dari 52,3 persen menjadi 28,9 persen.

“Survei diikuti oleh 128 responden di seluruh Indonesia dalam satu pekan terakhir dengan rentang usia terbanyak 25-45 tahun dan mayoritas berasal dari Jabodetabek ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja sebelum dan selama pandemi Covid-19,” paparnya dalam diskusi bertajuk MarkPlus Industry Roundtable.

Ia mengatakan sebelum munculnya pandemi di Indonesia, masyarakat rutin berbelanja kebutuhan pokok setiap satu pekan sekali, namun sejak adanya Covid-19 frekuensi berbelanja masyarakat di toko ritel terjadi satu bulan sekali meskipun dalam jumlah yang lebih banyak.

“Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran masyarakat jika terlalu sering berbelanja dengan mengunjungi toko secara langsung,” katanya.

Ia menambahkan berbelanja secara online mampu menjadi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, lebih efisien dan menghemat waktu. Dengan adanya kebijakan PSBB transisi di Jakarta dan kemungkinan dibukanya pertokoan pada 15 Juni 2020, Chrestella mengatakan perusahaan perlu melakukan persiapan agar masyarakat tidak khawatir untuk kembali berbelanja di toko secara langsung.

“Penerapan protokol kesehatan menjadi hal yang paling diharapkan oleh masyarakat untuk diterapkan oleh setiap pertokoan,” katanya.

Ia menyampaikan sebanyak 83,6 persen responden berharap perusahaan menerapkan standar kesehatan bagi pegawai dan pengunjung dengan menggunakan masker dan sarung tangan. Sebanyak 82,8 persen, lanjut dia, berharap tersedianya hand sanitizer di toko dan 69,5 persen menginginkan dilakukannya pengecekan suhu tubuh.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan pelaku industri ritel menghadapi tantangan lainnya terkait pemenuhan kebutuhan masyarakat secara online dan offline. “Meskipun, tidak bisa menyentuh dan merasakan secara langsung produk yang dibeli, berbelanja secara online dianggap mampu meminimalisasipotensi penularan virus,” katanya.

Sumber: republika.co.id

INDEF: Perilaku Konsumen Utamakan Kesehatan dan Kebutuhan Primer

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengungkapkan terjadi perubahan perilaku konsumen secara signifikan yang lebih mengutamakan kebutuhan primer. Selain itu, ada upaya menjaga dan merawat kesehatan pada masa normal baru.

“Selama pandemi Covid-19 terdapat perubahan perilaku masyarakat yang menarik, pertama mereka ada kebutuhan terutama untuk kebutuhan primer yakni pangan plus menjaga kesehatan atau health care, karena orang-orang membutuhkan sabun cuci tangan dan masker. Pengeluaran itu jadi berubah dari yang awalnya untuk kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer, terutama kesehatan,” kata Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (9/6).

Padahal, lanjut dia, sebelum pandemi Covid-19 masyarakat mengutamakan kebutuhan pangan dan pariwisata atau jalan-jalan, di mana pengeluaran masyarakat untuk jalan-jalan atau pariwisata menduduki peringkat kedua. Namun ketika Covid-19 melanda justru sektor yang terkena duluan adalah sektor pariwisata.

“Otomatis kebutuhan sekunder ini akan lama untuk bisa kembali pulih di era normal baru saat ini. Kenapa? Walaupun mal-mal sudah dibuka di era normal baru, masyarakat masih tetap takut,” ujar Aviliani.

Selain itu selama dua bulan terakhir, daya beli masyarakat cukup turun signifikan. Artinya orang-orang yang bekerja dari rumah atau working from home tidak mendapatkan uang makan, uang lembur, dan sebagainya sehingga penghasilan mereka turun 50 persen.

Di samping, kata dia, mereka harus memenuhi kebutuhan pokok. Sebagian pekerja juga sudah menggunakan dana tabungannya.

“Sedangkan untuk masyarakat menengah ke bawah yang biasanya masih bisa menghidupi diri sendiri, sudah harus menerima bantuan langsung tunai atau bantuan sosial,” ujar Aviliani.

Oleh karena itu, menurut dia, penyaluran dana bantuan sosial ini harus cepat agar daya beli tidak semakin menurun.

Sumber: republika.co.id

 

Hamas Surati Jokowi, Minta Bertindak Cegah Pencaplokan Israel

GAZA(Jurnalislam.com) — Pimpinan Hamas Ismail Haniyah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam surat tertanggal Jumat (5/6) pekan lalu itu, ia meminta Jokowi mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah aneksasi Tepi Barat oleh Israel.

“Hamas meminta kesediaan Anda untuk melakukan intervensi guna menangkal kebijakan kriminal aneksasi yang rasis oleh pihak Israel di Tepi Barat dan Lembah Yordan,” tulis Haniyeh.

Haniyeh mengatakan, Indonesia sebagai bagian dari umat Islam sedunia punya tanggung jawab untuk bersatu menolak kebijakan tersebut.

Indonesia juga diminta berperan sebagai bagian dari “ummah” untuk melindungi tempat-tempat suci umat Islam yang akan terdampak aneksasi tersebut. Jika tidak, lokasi-lokasi yang disucikan umat Islam di Yerusalem, Tepi Barat, dan Masjid al-Aqsha terancam tergerus penguasaan Israel.

Ia mendorong Presiden Jokowi meningkatkan komunikasi dan menggerakkan negara-negara di regional dan organisasi internasional untuk menyatukan pandangan melawan aneksasi. Komunitas internasional juga perlu diyakinkan bahwa tindakan Israel mencaplok Tepi Barat adalah upaya kriminal yang melanggar hukum-hukum internasional.

Haniyeh juga meminta Indonesia mendorong konferensi tingkat tinggi negara-negara mayoritas Muslim untuk menyikapi aneksasi Tepi Barat. “Umat Islam harus menciptakan jaringan politik, diplomatik, ekonomi, dan media untuk mengkampanyekan hak-hak bangsa Palestina,” kata dia.

Menurut Haniyeh, negara-negara Muslim harus  menolak normalisasi hubungan dengan Israel selama negara tersebut masih terus melakukan tindakan kriminal terhadap rakyat Palestina. “Kami akan menghadapi terorisme Israel dengan perlawanan komprehensif dengan seluruh cara yang memungkinkan,” kata Haniyeh.

Dalam surat itu, Haniyeh juga mendoakan Pemerintah Indonesia sukses menangani wabah Covid-19 yang melanda berbagai wilayah. “kami mengharapkan Anda akan mencapai kesuksesan dan memimpin negara menuju masa depan yang lebih sejahtera,” kata Haniyyeh.

Sumber: republika.co.id

Ribuan Orang Hadiri Pemakaman George Floyd

TEXAS(Jurnalislam.com)–Ribuan pelayat memenuhi Texas di tengah terik matahari untuk memberikan penghormatan terakhir di hadapan peti jenazah George Floyd, Senin (8/6) waktu setempat. Floyd dimakamkan secara tertutup untuk keluarganya pada Selasa (9/6).

Bendera-bendera Amerika Serikat (AS) berkibar di sepanjang jalan menuju Gereja Fountain of Praise di Houston, kota tempat Floyd tumbuh. Para pelayat mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan mengenakan masker untuk mencegah penularan virus korona.

Mereka menghadiri peringatan ketiga sekaligus penghormatan terakhir kepada jasad Floyd yang disemayamkan di Gereja Fountain of Praise, sebelum dimakamkan. Pengurus gereja memperkirakan lebih dari 6.300 hadir saat publik diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir yang dibuka selama enam jam. Petugas pemadam kebakaran mengatakan beberapa orang yang kepanasan dalam antrean dibawa ke rumah sakit.

“Saya ingin pembunuhan oleh polisi dihentikan. Saya ingin mereka mereformasi proses untuk mencapai keadilan dan menghentikan pembunuhan,” ujar Marcus Williams, warga kulit hitam berusia 46 tahun dari Houston.

Sumber: republika.co.id

Asosiasi Muslim Amerika Kecam Rasisme

NEW YORK(Jurnalislam.com) – New York Chapter dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR-NY) menyebut akan bergabung dengan Dewan Kepemimpinan Muslim terkemuka di New York City. Secara bersama-sama, CAIR-NY akan menyerukan reformasi peradilan pidana.

Selain itu, seluruh pimpinan Muslim akan mengusulkan perubahan struktural kebijakan yang secara langsung mempengaruhi sosial-ekonomi dan komunitas Afrika-Amerika yang lebih rendah.

Dalam situs resminya, CAIR-NY menyebut pilihan bergabung dengan Dewan Kepemimpinan Muslim NYC, sebagai usaha untuk kembali menunjukkan komitmen kerja anti-rasis dan kemitraan koalisi dengan komunitas Kulit Hitam. Hal ini akan dilakukan Selasa (9/6) pukul 11 pagi waktu setempat.

Kegiatan akan dilakukan di Gedung Kantor Negara Adam Clayton Powell Jr, 163 W 125th Street, New York, NY. CAIR-NY dan Dewan Kepemimpinan Islam New York akan mengadakan konferensi pers yang menguraikan koalisi dan komitmen pusat untuk berkomitmen terhadap pekerjaan anti-Rasis dan pembebasan orang kulit hitam.

CAIR-NY merupakan organisasi yang didedikasikan untuk memanfaatkan nilai-nilai Islam dalam pelayanan kepada masyarakat. Pihaknya juga mengakui keadilan bagi semua orang tidak dapat membuahkan hasil tanpa komitmen yang teguh.

“CAIR-NY mengutuk semua bentuk kekerasan anti-Hitam. Kami berupaya membangun koalisi kuat untuk memerangi diskriminasi rasis di beragam sektor, mulai dari perumahan, pengangguran, perawatan kesehatan, dan pendidikan,” ucap CAIR-NY dalam keterangannya dikutip di situs resmi mereka, Selasa (9/6).

CAIR-NY merupakan organisasi kebebasan dan advokasi sipil Muslim terbesar di Amerika. Misi CAIR adalah untuk melindungi hak-hak sipil, meningkatkan pemahaman Islam, mempromosikan keadilan, dan memberdayakan Muslim Amerika.

Sumber: republika.co.id