Melonjak Tajam, Kasus Corona AS Bisa 100 Ribu per Hari

WASHINGTON(Jurnalislam.com) — Kasus virus corona, Covid-19 di Amerika Serikat (AS) diprediksi dapat menginfeksi lebih dari dua kali lipat menjadi 100.000 per hari. Kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Dr. Anthony Fauci menyatakan, kondisi tersebut terjadi karena lonjakan kasus tidak terkendali.

Kalifornia, Texas, dan Arizona menjadi episenter baru pandemi Covid-19 di AS. Masing-masing melaporkan peningkatan kasus Covid-19 yang menambah tekanan pada uji coba vaksin potensial yang sedang dilakukan.

“Jelas kita tidak berada dalam kendali penuh saat ini. Saya sangat khawatir karena itu bisa menjadi sangat buruk,” kata Fauci mengatakan kepada komite Senat AS.

Fauci mengatakan, peningkatan harian kasus baru secara nasional saat ini sekitar 40.000. Kondisi itu bisa meningkat dengan dapat mencapai 100.000 kasus per hari, kecuali upaya nasional dilakukan untuk memusnahkan virus yang bangkit kembali.

“Kami tidak bisa hanya fokus pada area-area yang mengalami lonjakan. Itu menempatkan seluruh negara dalam bahaya,” kata Fauci.

Fauci menyatakan, tidak ada jaminan memiliki vaksin untuk mencegah segera infeksi Covid-19. Namun, data awal telah menunjukan para ilmuwan sangat optimis vaksin akan tersedia untuk 2021.

“Mudah-mudahan akan ada dosis yang tersedia pada awal tahun depan,” kata Fauci.

Laporan Reuters menyatakan, kasus Covid-19 meningkat lebih dari dua kali lipat pada  Juni di setidaknya 10 negara bagian, termasuk Texas dan Florida. Di negaa bagian Texas dan Arizona, tempat tidur perawatan intensif rumah sakit untuk pasien Covid- 19 sudah mengalami kekurangan pasokan.

Lebih dari 126.000 warga AS meninggal karena Covid-19. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, karena negara bagian dan kota-kota besar memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah dan bisnis tutup. Ekonomi berkontraksi tajam pada kuartal pertama dan diperkirakan akan turun pada kuartal kedua.

Peningkatan kasus di AS juga berdampak pada pelarangan warganya untuk memasuki negara-negara Uni Eropa (UE). Terdapat daftar aman atau negara-negara yang diperbolehkan melakukan perjalanan yang tidak penting di UE dimulai pada Rabu (1/7).

Sumber: republika.co.id

 

Arab Saudi Catat Angka Harian Kasus Corona Tertinggi

RIYADH(Jurnalislam.com) — Arab Saudi melaporkan 4.387 kasus baru Covid-19 pada Selasa (30/6). Itu merupakan peningkatan kasus tertinggi yang pernah dicatat Saudi dalam sehari.

Dilaporkan laman Al-Arabiya, sebagian besar kasus baru yang dilaporkan berasal dari kota al-Hafouf, yakni berjumlah 980. Riyadh menyusul di urutan kedua dengan 342 kasus.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Dr. Mohammed al-Abd al-Ali mengungkapkan lonjakan kasus terjadi karena kurang dipatuhinya langkah-langkah pencegahan, seperti pembatasan sosial. Dia mendesak warga menaati protokol kesehatan guna mengekang penyebaran virus.

Sejak 17 Juni lalu, kasus baru Covid-19 yang dilaporkan Saudi selalu melebihi 3.000 kasus per hari. Saat ini negara tersebut diketahui telah mencabut peraturan pembatasan sosial di seluruh wilayahnya.

“Kita dapat melihat pada bulan Juni, khususnya dari pertengahan Juni, kita telah mencatat tingkat infeksi antara 1 dan sekitar 1,5,” kata al-Ali pada Senin (29/6) lalu.

Dia meminta warga memahami bahwa para ahli telah menyarankan agar pemerintah menjaga tingkat penularan Covid-19 di angka 1. Dengan demikian jumlah infeksi tetap rendah dan penyebaran virus lebih lambat. “Saat ini kita perhatikan dalam beberapa hari terakhir ada sedikit peningkatan yang mengharuskan kita untuk berhati-hati,” ujarnya.

Sejauh ini, Saudi memiliki 190.823 kasus Covid-19. Junlah korban meninggal di negara tersebut telah mencapai 1.649 jiwa.

sumber: republika.co.id

 

Uni Eropa Rilis Negara Diizinkan Masuk, AS Tak Termasuk

BRUSSELS(Jurnalislam.com) — Uni Eropa mengumumkan daftar negara yang warganya diizinkan masuk ke 31 negara anggota blok tersebut. Amerika Serikat (AS) tidak masuk dalam daftar tersebut setidaknya dalam dua pekan karena jumlah kasus infeksi Covid-19 di Negeri Paman Sam meningkat tajam.

Dampak pandemi virus corona mengguncang keras Eropa, sejumlah negara bagian selatan seperti Yunani, Spanyol dan Italia berusaha keras untuk menarik wisatawan. Mereka berusaha bernapas dari sesaknya dampak pandemi terhadap industri pariwisata.

Setiap tahun diperkirakan ada sekitar 15 juta warga AS yang melakukan perjalanan ke Eropa. Sementara sekitar 10 juta orang Eropa menyeberangi Samudra Atlantik.

Masih banyak orang di dalam atau luar Eropa khawatir untuk melakukan perjalanan selama pandemi virus corona. Sebab tidak pastinya gelombang baru penularan dapat berdampak pada penerbangan dan pemesanan hotel-hotel. Pada bulan Maret lalu puluhan ribu wisatawan tidak dapat pulang karena semua penerbangan dibatalkan dan perbatasan ditutup.

Dilansir dari Associated Press, pada Selasa (30/6) utusan-utusan Uni Eropa di Brussel meluncurkan prosedur tertulis yang dilihat sebagai daftar negara selama tidak ada negara anggota yang menolaknya. Daftar tersebut berisi 15 negara yang tingkat penyebaran virus coronanya sebanding dengan Uni Eropa.

Tingkat penularan di Brasil, Rusia dan India sangat tinggi sehingga kemungkinan mereka juga tidak masuk dalam daftar itu. Negara-negara yang masuk daftar juga harus mencabut larangan masuk bagi wisatawan dari Eropa.

Daftar negara yang diizinkan masuk akan terus diperbaharui setiap 14 hari sekali. Akan ada negara-negara baru yang ditambah atau juga dikeluarkan dari daftar tersebut bila mereka tidak bisa menahan laju penyebaran.

Sumber: republika.co.id

MUI: Kurban Berbeda dengan Sedekah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti ibadah qurban di tengah pandemi Covid-19. Salah satu opsi yang diperbincangkan adalah mengganti kurban dengan sedekah demi membantu menanggulangi dampak Covid-19.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Muhammad Cholil Nafis menjelaskan ibadah qurban tak bisa disamakan dengan sedekah. Ia meyakini ada makna berbeda di balik qurban.

Pria yang akrab disapa Kiai Cholil itu menceritakan nabi Muhammad pernah meminta Muslim yang mampu secara finansial tak mendekati tempat ibadah jika enggan berqurban. Kisah itu menggambarkan pentingnya berqurban bagi Muslim yang berkecukupan.

“Ada yang bilang kurban itu fardu kifayah, Rasul ancam orang mampu lalu tidak kurban maka nabi menyebutnya jangan dekat dengan mushola dan masjid karena artinya belum totalitas dalam beriman. Betapa pentingnya qurban untuk dekatkan diri pada Allah,” kata Kiai Cholil pada Republika.co.id, Selasa (30/6).

Kiai Cholil mengingatkan bahwa sedekah dapat dilakukan kapan saja. Sedangkan qurban pelaksanaannya terikat waktu khusus yaitu pada Idul Adha saja.

Selain itu, Kiai Cholil menjelaskan ibadah qurban bukan sekedar pemotongan hewan, melainkan membagikan dagingnya pada orang yang membutuhkan. “Jadi bukan dagingnya, darahnya yang ngalir (ke Allah) tapi takwanya. Kalau sedekah itu berbaginya pada orang lain,” ujar Kiai Cholil.

Guna mencegah kebingungan Muslim, Kiai Cholil mengimbau agar memilih antara sedekah atau qurban jika dananya kurang mencukupi. Sedangkan jika masuk kategori mampu maka dipersilahkan qurban saja atau ditambah dengan sedekah.

“Sama-sama sunnah (sedekah dengan qurban), dapat pahala. Ditinggalkan enggak apa-apa. Bukan berarti sedekah lalu cukup dengan kurban saja dianggap sama. Beda itu, tapi bisa kurban ditambah sedekah,” ucap Kiai Cholil.

Sebelumnya, dalam Edaran PP Muhammadiyah No 06/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah Puasa Arafah, Iduladha, Kurban, dan Protokol Ibadah Qurban pada Masa Pandemi Covid-19, menyebut pandemi Covid-19 menimbulkan masalah sosial ekonomi dan meningkatnya jumlah kaum duafa.

“Dengan demikian sangat disarankan agar umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan qurban,” tulis Muhammadiyah dalam keterangan di situs resminya yang diakses pada Sabtu (27/6).

Terkait penjelasan diatas, pelaksanaan ibadah qurban harus memperhatikan nilai-nilai dasar (al-qiyam alasāsiyyah) dan asas-asas umum (al-uṣūl al-kulliyyah) agama Islam. Pertama ialah nilai dasar saling membantu (at-taʻāwun) sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an Surat al Ma’idah (5) ayat 2

Sumber: ihram.co.id

Menag: Shalat Idul Adha dan Kurban Harus Patuhi Protokol

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama menerbitkan panduan penyelenggaraan Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Tahun 1441H/2020M menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19. Panduan tersebut terbit dalam bentuk Surat Edaran No SE. 18 Tahun 2020 yang ditandatangani hari ini oleh Menteri Agama Fachrul Razi.

“Pelaksanaan Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban juga harus mematuhi protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat,” kata Menag, Selasa (30/06).

Ia menambahkan, salat Idul Adha maupun penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan di semua daerah, kecuali pada tempat-tempat yang dianggap masih belum aman Covid-19 oleh Pemerintah Daerah/ Gugus Tugas Daerah.

Menag berharap, edaran yang dikeluarkan dapat menjadi petunjuk penerapan protokol kesehatan pada pelaksanaan salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dengan menyesuaikan pelaksanaan tatanan kenormalan baru atau New Normal. “Dengan begitu, pelaksanaan salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dapat berjalan optimal serta terjaga dari penularan Covid 19,” tuturnya.

Lebih lanjut, Menag menyampaikan sosialisasi dan pengawasan penerapan protokol kesehatan sebagaimana diatur dalam edaran tersebut akan dilakukan oleh Aparat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Kantor Urusan Agama Kecamatan bersinergi dengan instansi yang membidangi fungsi kesehatan hewan dan instansi terkait.

Masa Transisi Segera Berakhir, Penularan Covid DKI Masih Tinggi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta akan segera berakhir. Namun, Pemprov DKI belum memutuskan apakah melanjutkan PSBB atau Ibu Kota akan memasuki fase new normal atau kenormalan baru.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menerbitkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 563 Tahun 2020 tentang Pemberlakuan, Tahapan dan Pelaksanaan Kegiatan/Aktivitas PSBB Pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat Aman dan Produktif. PSBB pada masa transisi tersebut berlangsung sejak 5 Juni sampai 2 Juli 2020.

Mengutip data website corona.jakarta.go.id, Selasa (39/6/2020), tercatat kasus penyebaran Covid-19 masih berlangsung naik turun atau fluktuatif.

Kasus tertinggi tercatat berlangsung pada 9 Juni dengan 239 kasus. Sementara kasus terendah pada 12 Juni dengan penambahan 76 kasus.

Sumber: okezone.com

Ini Panduan Shalat Idul Adha Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan ada syarat yang harus dipenuhi umat muslim jika ingin menggelar salat Idul Adha 1441H di lapangan, masjid, atau ruangan di masa pandemi Covid-19 ini. Syarat-syarat tersebut tercantum dalam Surat Edaran No SE. 18 Tahun 2020 yang ditandatangani hari ini oleh Menteri Agama Fachrul Razi.

“Salat Idul Adha boleh dilakukan di lapangan, masjid, atau ruangan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah,” kata Menag, Selasa (30/06).

Menag menyampaikan salat Idul Adha maupun penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan di semua daerah, kecuali pada tempat-tempat yang dianggap masih belum aman Covid-19 oleh Pemerintah Daerah/ Gugus Tugas Daerah.

Ia menambahkan, sosialisasi dan pengawasan penerapan protokol kesehatan sebagaimana diatur dalam edaran tersebut akan dilakukan oleh Aparat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Kantor Urusan Agama Kecamatan bersinergi dengan instansi yang membidangi fungsi kesehatan hewan dan instansi terkait.

Berikut persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin menggelar Salat Idul Adha di lapangan/masjid/ruangan:

  1. Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan;
    b. Melakukan pembersihan dan disinfeksi di area tempat pelaksanaan;
  2. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan;
    d. Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/ hand sanitizer di pintu/jalur masuk dan keluar;
  3. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu/jalur masuk. Jika ditemukan jamaah dengan suhu >37,5’C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area tempat pelaksanaan;
    f. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter;
  4. Mempersingkat pelaksanaan salat dan khutbah Idul Adha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya;
    h. Tidak mewadahi sumbangan/sedekah jemaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan terhadap penularan penyakit;
  5. Penyelenggara memberikan imbauan kepada masyarakat tentang protokol kesehatan pelaksanaan salat Idul Adha yang meliputi:
    1) Jemaah dalam kondisi sehat;
    2) Membawa sajadah/alas salat masing-masing;
    3) Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat pelaksanaan;

4) Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer
5) Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan;
6) Menjaga jarak antar jemaah minimal 1 (satu) meter;
7) Mengimbau untuk tidak mengikuti salat Idul Adha bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang berrisiko tinggi terhadap Covid-19.

 

Hari Ini, Iuran BPJS Naik Lagi

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Iuran BPJS Kesehatan untuk kelas I dan II resmi naik per hari ini. Hal itu tertuang dalam Perpres Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Sementara itu, untuk golongan kelas III iurannya masih sama tahun ini, tahun depan baru akan naik.

“Untuk menjaga kualitas dan kesinambungan program Jaminan Kesehatan, kebijakan pendanaan Jaminan Kesehatan, termasuk kebijakan iuran perlu disinergikan dengan kebijakan keuangan negara secara proporsional dan berkeadilan serta dengan memperhatikan pertimbangan dan amar Putusan Mahkamah Agung Nomor 7 P/HUM/2020,” demikian pertimbangan Perpres 64/202, Rabu (1/7/2020).

Dalam beleid ini, iuran BPJS Kesehatan untuk kelas I peserta mandiri atau PBPU dan BP menjadi Rp 150.000 per orang per bulan atau naik 85,18%, kelas II menjadi Rp 100.000 per orang per bulan atau naik 96,07%.

Sementara itu, khusus untuk peserta kelas III iuran yang dibayarkan hanya Rp 25.500 per orang per bulan sepanjang tahun 2020. Sedangkan di tahun berikutnya peserta kelas III akan membayar Rp 35.000 per orang per bulan.

Sumber: detik.com

Innalillahi, Pendiri PKS Ustaz Hilmi Aminuddin Meninggal Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pendiri Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH Hilmi Aminuddin, Selasa (30/6), meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh sejumlah tokoh PKS.

“Benar, mas,” kata politikus PKS yang juga mantan presiden PKS, Tifatul Sembiring melalui pesan singkatnya, lansir Republika.co.id. Selasa (30/6).

Konfirmasi meninggalnya KH Hilmi Aminuddin juga disampaikan oleh tokoh PKS lainnya yang juga pernah menjadi presiden PKS, Hidayat Nur Wahid.

“Iya, saya sudah mendapatkan kabar beliau meninggal dunia dari keluarga dan rekan-rekan,” kata Hidayat saat dihubungi Republika.

Hidayat membenarkan informasi yang menyebut KH Hilmi meninggal di RS Santosa Central, Kota Bandung, siang ini. Secara pribadi, Hidayat mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya KH Hilmi Aminuddin,

“Tentu kita semua berduka atas wafatnya guru kami semua. Pendiri PK (Partai Keadilan) dan PKS. Tentu jasa beliau sangat besar untuk perjalanan dakwah,” kata Hidayat.

KH Hilmi Aminuddin merupakan tokoh PKS. Beliau pernah menjadi ketua Majelis Syuro PKS. Adapun pendidikannya, beliau pernah kuliah di Fakultas Syariah, Universitas Islam di Madinah, Arab Saudi.

Sumber: republika.co.id

 

Menag Tegaskan Indonesia Dukung Perjuangan Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan bahwa sikap Indonesia untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina. Penegasan ini disampaikan Menag saat berbicara pada Konferensi Internasional tentang Jerussalem yang digelar secara online dalam jaringan, Senin (29/06) malam.

 

Konferensi ini diikuti utusan dari sekitar 50 negara-negara mayoritas berpenduduk muslim di dunia. Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini diwakili oleh Menag dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Selaku Ketua Konferensi Jerussalem adalah Mahmud Al-Habbasy dari Palestina. Sebagai penghubung acara adalah Dubes Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun.

 

Menag mengapresiasi penyelenggaraan konferensi internasional tentang Jerussalem ini. “Mewakili pemerintah Indonesia, kami menyampaikan bahwa bangsa Indonesia selalu dan tetap akan berdiri di belakang perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh hak sebagai negara dan bangsa merdeka, berdaulat, dan mandiri,” tegas Menag.

 

“Prinsip bangsa kami adalah menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi yang tertuang dalam pembukaan konstitusi kami,” lanjutnya.

 

Sebagai negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, lanjut Menag, Indonesia menganut prinsip penegakan keadilan seluas-luasnya untuk semua warga bangsa di dunia, tanpa memandang perbedaan agama, keyakinan, ras, suku, bahasa, warna kulit dan lain-lain. Menurutnya, setiap bangsa memiliki hak penuh untuk merdeka, bebas dari penjajahan yang membelenggu keinginan untuk maju dan berkembang dalam menentukan nasibnya sendiri.

 

Sejarah telah mencatat bahwa Jerussalem merupakan Kota yang penuh dengan berkah sekaligus banyak kepentingan dan silih berganti dalam penguasaan dari berbagai kekuatan di Timur Tengah yang sangat rumit. Namun, fakta telah berbicara bahwa sebagai kota suci tiga agama, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, harus dipastikan tidak ada aneksasi secara sepihak dengan permusuhan dan kedzaliman.

 

Menurut Menag, Bangsa Indonesia terus memberikan dukungan kepada proses perdamaian abadi di Jerussalem khususnya dan Palestina pada umumnya, saling membangun kepercayaan antara satu dengan yang lain, sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk menatap masa depan yang cerah. Menag mengajak seluruh elemen bangsa di dunia untuk mendukung upaya perdamaian di Palestina, khususnya di Jarussalem agar tidak lagi ada peperangan dan krisis kemanusiaan yang tiada ujungnya.

 

“Sekali lagi atas nama bangsa Indonesia, kami memberikan support penuh kepada pemerintah Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai negara merdeka dan lepas dari penjajahan,” tegas Menag.

 

“Kami selalu memberikan dukungan kepada saudara-saudara kami di Palestina, baik politik, bantuan sosial, maupun doa-doa yang kami panjatkan agar Jerussalem sebagai tempat berdirinya Masjid Al-Aqsha (kiblat pertama umat Islam) tetap dalam pangkuan otoritas Palestina sebagai bangsa yang merdeka,” tandasnya.