Dapat Bantuan AS, Netanyahu: Terima Kasih Presiden Trump!

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat telah berhasil menghancurkan fasilitas nuklir utama milik Iran. Pernyataan ini disampaikan Netanyahu dalam sebuah video resmi pada Ahad (22/6/2025), menyusul serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada Sabtu malam.

“Sejak awal operasi, saya berjanji kepada Anda bahwa fasilitas nuklir Iran akan dihancurkan, dengan satu atau lain cara. Janji itu telah terpenuhi,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya.

Ia menyebut bahwa serangan udara AS merupakan kelanjutan dari operasi militer yang dilakukan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan badan intelijen Mossad terhadap program nuklir Iran, yang menurutnya mengancam eksistensi Israel dan mengganggu perdamaian global.

“Amerika Serikat dengan kuat melanjutkan serangan IDF dan Mossad terhadap program nuklir Iran. Program ini mengancam keberadaan kita dan membahayakan perdamaian seluruh dunia,” katanya.

Netanyahu menyampaikan bahwa tak lama setelah serangan udara tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubunginya secara langsung untuk menyampaikan ucapan selamat, begitu pula para pejabat militer Israel dan rakyat Israel.

“Presiden Trump dengan berani memimpin dunia bebas. Dia adalah teman Israel yang luar biasa, teman yang tak tertandingi,” kata Netanyahu.

Ia juga menyebut serangan udara terhadap fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan pada Ahad pagi sebagai tindakan yang belum pernah dilakukan negara manapun.

“Tindakan ini benar-benar tak tertandingi karena telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh negara lain di Bumi,” ujar Netanyahu, sembari menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Presiden Trump.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menilai bahwa keputusan Presiden Trump akan tercatat dalam sejarah sebagai momen penting dalam mencegah proliferasi senjata pemusnah massal di Timur Tengah.

“Keputusan berani Trump untuk menargetkan fasilitas nuklir Iran dengan kekuatan Amerika Serikat yang luar biasa dan benar akan mengubah sejarah,” katanya.

“Sejarah akan mencatat bahwa Presiden Trump bertindak untuk menolak rezim paling berbahaya di dunia dari senjata paling berbahaya di dunia,” tambahnya.

Netanyahu juga menekankan filosofi yang kerap diucapkannya bersama Trump: “perdamaian melalui kekuatan.”

“Pertama datanglah kekuatan, kemudian datanglah perdamaian. Dan malam ini, Presiden Trump dan Amerika Serikat bertindak dengan sangat kuat,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Netanyahu mengucapkan terima kasih tidak hanya atas nama dirinya, tetapi juga atas nama rakyat Israel dan apa yang ia sebut sebagai “kekuatan peradaban.”

“Saya berterima kasih kepada Anda, rakyat Israel berterima kasih kepada Anda, kekuatan peradaban berterima kasih kepada Anda,” tutupnya. (Bahry)

Sumber: TJP

AS Turun Tangan Bantu Israel, Tiga Situs Nuklir Iran Dihancurkan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tiga lokasi nuklir utama Iran, termasuk fasilitas pengayaan Fordow yang dijaga ketat. Trump menyebut operasi tersebut sebagai “serangan yang sangat berhasil”.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (21/6/2025) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa pasukan AS telah menyerang fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

“Kami telah menyelesaikan serangan kami yang sangat berhasil terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Isfahan,” tulis Trump.

“Pesawat kami kini sedang dalam perjalanan kembali. SEKARANG WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!” imbuhnya.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, Trump menyampaikan pidato singkat berdurasi tiga menit lebih di Ruang Oval yang disiarkan secara nasional. Ia mengatakan bahwa masa depan Iran kini berada di antara “perdamaian atau tragedi”, dan memperingatkan bahwa masih banyak target lain yang dapat diserang oleh militer AS jika diperlukan.

“Fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah sepenuhnya dihancurkan,” tegas Trump.

𝗜𝗿𝗮𝗻: 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗦 𝗟𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras serangan tersebut dan menuduh Amerika Serikat melanggar hukum internasional serta perjanjian nuklir internasional.

“Amerika Serikat, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, telah melakukan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dengan menyerang fasilitas nuklir damai Iran,” ujar Araghchi melalui media sosial.

Ia menyebut serangan ini sebagai tindakan yang “keterlaluan” dan menegaskan bahwa akan ada konsekuensi jangka panjang. “Setiap anggota PBB harus waspada terhadap tindakan yang sangat berbahaya, ilegal, dan kriminal ini,” katanya.

Iran, lanjut Araghchi, akan menggunakan segala opsi untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.

Serangan AS ini menandai eskalasi besar dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Kedua negara saling melancarkan serangan udara, yang menewaskan dan melukai ratusan orang di kedua belah pihak.

Israel sebelumnya meluncurkan serangan ke wilayah Iran dengan dalih untuk mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

𝗜𝗿𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗸 𝗔𝗱𝗮 𝗞𝗲𝗯𝗼𝗰𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗱𝗶𝗮𝘀𝗶, 𝗣𝗿𝗼𝗴𝗿𝗮𝗺 𝗡𝘂𝗸𝗹𝗶𝗿 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻

Badan Energi Atom Iran pada Ahad (22/6) menyatakan bahwa serangan yang dilakukan AS tidak menimbulkan kontaminasi radiasi atau ancaman bagi penduduk di sekitar lokasi.

“Setelah serangan ilegal AS terhadap situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan, hasil survei lapangan dan data sistem radiasi menunjukkan: tidak ada kontaminasi yang tercatat. Tidak ada ancaman terhadap masyarakat sekitar. Situasi keamanan stabil,” bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut.

Badan tersebut juga menegaskan bahwa serangan ini tidak akan menghentikan kemajuan program nuklir Iran.

“Organisasi Energi Atom Iran meyakinkan bangsa Iran bahwa meskipun musuh terus berupaya menghentikan kemajuan kami, dengan dukungan ribuan ilmuwan dan teknisi revolusioner, kami tidak akan membiarkan industri nasional ini hasil perjuangan dan pengorbanan para syuhada nuklir dihentikan,” tegasnya.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗝𝗲𝘁 𝗦𝗶𝗹𝘂𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗱𝗮𝗹 𝗝𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗵

Menurut laporan media AS, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dilancarkan menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom penghancur bunker (bunker-buster bombs), serta rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam.

CBS News melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan pesan diplomatik kepada Teheran pada hari yang sama, menegaskan bahwa serangan tersebut adalah satu-satunya tindakan militer yang direncanakan dan tidak bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Iran. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serangan Israel Hantam Situs Nuklir Iran di Isfahan, Konflik Telah Tewaskan 430 Orang

TEHERAN (jurnalislam.com)– Situs nuklir utama Iran di Provinsi Isfahan menjadi sasaran serangan udara Israel pada Sabtu pagi (21/6/2025), dalam eskalasi terbaru konflik Timur Tengah yang kini memasuki pekan kedua. Pejabat setempat menyatakan tidak ada kebocoran radiasi akibat serangan tersebut.

Asap terlihat mengepul dari kawasan pegunungan dekat kota Isfahan setelah serangan semalam yang memicu sistem pertahanan udara Iran. Ini adalah serangan kedua yang terjadi di Isfahan sejak konflik memanas.

Menurut Kementerian Kesehatan Iran, serangan udara dan rudal yang dilancarkan sejak awal konflik telah menewaskan sedikitnya 430 orang dan melukai hampir 3.500 lainnya di seluruh Iran. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari serangan terbaru di Isfahan.

Sementara itu, media Iran juga melaporkan bahwa pasukan Israel menargetkan sebuah instalasi militer di kota Shiraz, Provinsi Fars, Iran selatan.

Di pihak Israel, ledakan terdengar di atas langit Tel Aviv. Sejumlah bangunan dilaporkan terbakar. Layanan darurat merilis gambar kebakaran di atap sebuah gedung hunian bertingkat di kawasan Israel tengah, yang menurut laporan lokal disebabkan oleh puing rudal Iran yang berhasil dicegat namun jatuh di area permukiman.

Otoritas Israel melaporkan sedikitnya 24 orang tewas akibat serangan rudal Iran ke wilayah mereka, menjadikan ini sebagai salah satu konflik paling mematikan antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam perkembangan terpisah, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer Israel telah membunuh Saeed Izadi, kepala Korps Palestina dari Pasukan Quds—sayap eksternal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)—dalam sebuah serangan udara terhadap sebuah apartemen di kota suci Qom, Iran.

Katz menyebut pembunuhan Izadi sebagai “pencapaian besar intelijen Israel dan Angkatan Udara”, dan menuduhnya sebagai tokoh utama yang membiayai dan mempersenjatai kelompok Hamas menjelang serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023. Meski media Iran menyebut lima anggota IRGC tewas dalam serangan Israel, nama Izadi tidak termasuk di antara mereka.

Sebagai informasi, Izadi masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Inggris.

Permusuhan antara kedua negara pecah sejak 13 Juni, ketika Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran dalam bentuk serangan rudal dan drone.

Israel mengklaim bahwa operasi militer mereka bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, berdasarkan penilaian Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan intelijen Amerika Serikat, belum ditemukan bukti bahwa Iran sedang membangun bom nuklir, meski level pengayaan uranium Iran telah melebihi batas kebutuhan sipil.

Presiden AS Donald Trump membantah klaim tersebut dan menyebut kepala intelijen AS, Tulsi Gabbard, “salah” karena menyatakan Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, kepada Al Jazeera mengatakan bahwa Teheran tetap terbuka untuk jalur diplomasi, termasuk dalam forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Kami percaya pada pentingnya mendengarkan pihak lain. Itulah sebabnya para diplomat kami berada di Jenewa. Tapi diplomasi sejati hanya bisa dimulai jika dunia mengakui bahwa Iran telah diserang lebih dulu oleh Israel,” tegas Mohajerani.

Sementara itu, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi melaporkan dari Teheran bahwa warga sipil Iran kini berada dalam tekanan berat akibat serangan yang tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga kawasan permukiman.

“Banyak warga Ibu Kota memilih mengungsi. Tapi kita harus ingat, ada lebih dari 10 juta orang tinggal di Teheran dan 14 juta di seluruh provinsinya. Ini memberikan tekanan luar biasa bagi wilayah sekitar,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Korea Utara Kirim Ribuan Personel Militer ke Rusia, Tanda Aliansi Moskow-Pyongyang Kian Erat

MOSKOW (jurnalislam.com)– Korea Utara akan mengirim ribuan personel militer dan penjinak ranjau ke wilayah Kursk, Rusia, sebagai bagian dari bantuan rekonstruksi di wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Ukraina selama berbulan-bulan. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari semakin eratnya hubungan militer antara Moskow dan Pyongyang.

Mengutip laporan media pemerintah Rusia, RIA Novosti, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu mengungkapkan bahwa Korea Utara akan mengirim “satu divisi pembangun dan dua brigade militer sebanyak 5.000 orang serta 1.000 penjinak ranjau” ke wilayah barat Rusia tersebut.

“Ini adalah semacam bantuan persaudaraan dari rakyat Korea dan pemimpin Kim Jong Un untuk negara kita,” ujar Shoigu dalam pernyataan yang disampaikan Selasa (17/6/2025) saat kunjungannya ke Pyongyang untuk bertemu langsung dengan Kim Jong Un.

Korea Utara diketahui menjadi salah satu sekutu utama Rusia sejak invasi ke Ukraina berlangsung lebih dari tiga tahun lalu. Pyongyang dilaporkan telah mengirim ribuan tentara dan persenjataan konvensional untuk mendukung Moskow mengusir pasukan Ukraina dari wilayah Kursk.

Amerika Serikat dan Korea Selatan menyatakan kekhawatiran mendalam atas kerja sama militer tersebut. Mereka menilai, sebagai imbal balik, Korea Utara kemungkinan memperoleh transfer teknologi militer canggih dari Rusia yang bisa memperkuat kemampuan nuklirnya.

Kantor berita Rusia TASS menyebutkan bahwa kedua negara juga sepakat untuk “melanjutkan kerja sama yang konstruktif”, mengutip pernyataan Shoigu.

Hubungan Moskow dan Pyongyang kian menguat setelah penandatanganan perjanjian militer besar-besaran pada November tahun lalu. Perjanjian tersebut, yang disepakati saat kunjungan langka Presiden Rusia Vladimir Putin ke Korea Utara, mencakup klausul pertahanan bersama antara kedua negara.

Bulan April lalu, kedua negara secara terbuka mengonfirmasi pengerahan pasukan Korea Utara ke wilayah Rusia untuk pertama kalinya. Mereka mengklaim bahwa pasukan Korea Utara telah berperan dalam merebut kembali wilayah Kursk klaim yang dibantah oleh pihak Ukraina.

Dalam pertemuan dengan Kim Jong Un dan jajaran militer Korea Utara pada 4 Juni lalu, Shoigu menegaskan komitmen kedua negara untuk memperluas hubungan strategis yang komprehensif dan berjangka panjang. Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah menuju “kemitraan strategis yang kuat”.

Presiden Vladimir Putin sendiri sebelumnya telah menyampaikan rasa terima kasih kepada Korea Utara atas dukungannya dalam perang. Ia juga berjanji tidak akan melupakan “pengorbanan” yang diberikan. Menurut laporan dari Intelijen Pertahanan Inggris, lebih dari 6.000 tentara Korea Utara dilaporkan tewas dalam konflik di Ukraina. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Iran Retas CCTV Warga Israel untuk Tingkatkan Akurasi Serangan Rudal

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Iran diduga telah meretas kamera keamanan pribadi di seluruh wilayah Israel guna mengumpulkan informasi intelijen dan meningkatkan akurasi serangan rudal ke wilayah pendudukan. Serangan siber ini dikonfirmasi oleh pakar keamanan siber Israel dan diberitakan oleh Bloomberg pada Jumat (20/6).

Refael Franco, mantan Wakil Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel (INCD), mengatakan bahwa dalam dua hingga tiga hari terakhir, Iran berusaha mengakses kamera-kamera tersebut untuk memantau lokasi jatuhnya rudal, dan mengarahkan serangan lanjutan dengan presisi lebih tinggi.

“Kami tahu bahwa dalam dua atau tiga hari terakhir, Iran telah mencoba terhubung ke kamera untuk memahami apa yang terjadi dan di mana rudal mereka mengenai sasaran, demi meningkatkan akurasinya,” ungkap Franco.

Seorang juru bicara INCD juga membenarkan adanya upaya peretasan yang sedang berlangsung selama masa perang, dan menyatakan bahwa serangan ini tengah diperbarui dengan taktik terbaru.

Pejabat INCD lainnya, Gaby Portnoy, menyebut bahwa peretasan kamera serupa juga pernah dilakukan oleh Hamas menjelang Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023. Ia menambahkan bahwa metode ini juga digunakan dalam konflik lain, termasuk oleh Rusia dalam perang di Ukraina.

Sebelumnya pada pekan ini, seorang mantan pejabat keamanan siber Israel memperingatkan publik melalui siaran radio untuk mematikan kamera keamanan rumah atau segera mengganti kata sandinya.

Perang siber kini telah menjadi strategi utama dalam berbagai konflik global, dan Israel dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam pengembangan perangkat mata-mata dan operasi peretasan. Salah satu kelompok peretas yang berafiliasi dengan Israel, Predatory Sparrow, baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap beberapa bank besar di Iran serta platform pertukaran mata uang kripto.

Dalam serangan tersebut, Predatory Sparrow dikabarkan berhasil mencuri mata uang kripto, termasuk bitcoin, senilai lebih dari Rp1,4 triliun (sekitar USD 90 juta).

Sebagai respons atas serangan itu, Iran memberlakukan pemadaman internet nasional guna menekan infiltrasi digital yang diyakini berasal dari intelijen Israel. Menurut laporan kantor berita Tasnim, langkah ini juga disebut berhasil menonaktifkan sejumlah drone yang diluncurkan dari dalam negeri oleh agen-agen yang berafiliasi dengan musuh.

Di tengah meningkatnya intensitas perang, akurasi serangan rudal Iran pun meningkat drastis. Pada Jumat pagi, sebuah rudal balistik Iran menghantam kota Beersheba, dan pertahanan udara Israel dilaporkan gagal mencegatnya.

Pihak berwenang Israel kini melarang media asing menyiarkan rekaman atau dokumentasi lokasi jatuhnya rudal, dengan alasan bahwa “musuh memantau setiap gambar untuk meningkatkan efektivitas serangan balasan.”

Sementara itu, pada Kamis (19/6), seorang pejabat Israel yang dikutip NBC News menyatakan bahwa tingkat keberhasilan intersepsi pertahanan udara Israel menurun hingga 25 persen hanya dalam dua hari terakhir. (Bahry)

Sumber: Cradle

Israel Rugi Triliunan Rupiah per Hari Akibat Serangan Rudal Iran

ISRAEL (jurnalislam.com)– Perang yang berkecamuk antara Israel dan Iran sejak 13 Juni 2025 dilaporkan menelan biaya hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara triliunan rupiah per hari di pihak Israel.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (19/6), beban finansial yang ditanggung Israel berasal dari penggunaan rudal pencegat untuk menangkis serangan rudal balistik Iran, serta amunisi, operasional pesawat, dan kerusakan besar akibat serangan yang disebut para ahli sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Para analis menyebut, besarnya biaya ini akan sangat memengaruhi berapa lama serangan militer Israel terhadap Iran akan berlangsung.

“Faktor utama yang benar-benar akan menentukan besaran biaya perang adalah durasinya. Jika hanya berlangsung selama seminggu, itu satu hal. Namun jika mencapai dua minggu atau sebulan, itu cerita yang sangat berbeda,” ujar Karnit Flug, mantan Gubernur Bank Israel yang kini menjadi peneliti senior di lembaga pemikir Israel Democracy Institute.

Sejak Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada 13 Juni, Teheran telah menembakkan lebih dari 400 rudal balistik ke wilayah Israel. Untuk menangkisnya, Israel mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 3.

𝗕𝗶𝗮𝘆𝗮 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘀𝗶 𝗖𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗥𝗽𝟯,𝟮𝟴 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗿 𝗛𝗮𝗿𝗶

Menurut para ahli, operasi intersepsi rudal saja diperkirakan menghabiskan biaya hingga USD 200 juta per hari, atau sekitar Rp3,28 triliun.

Setiap kali sistem David’s Sling diaktifkan, biayanya sekitar USD 700 ribu (sekitar Rp11,48 miliar), dengan asumsi penggunaan minimal dua rudal pencegat.

Sementara itu, sistem Arrow 3 disebut menghabiskan biaya hingga USD 4 juta per satu kali intersepsi, atau sekitar Rp65,6 miliar.

𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘁 𝗦𝗮𝗶𝗻𝘀 𝗪𝗲𝗶𝘇𝗺𝗮𝗻𝗻

Serangan besar terjadi pada 14 Juni, ketika puluhan rudal Iran menghantam Tel Aviv dan Haifa. Salah satu targetnya adalah Institut Sains Weizmann di Rehovot, yang sering disebut sebagai “MIT-nya Israel”.

Menurut pihak kampus, serangan itu mengakibatkan kerusakan pada tiga gedung utama laboratorium dan memengaruhi sekitar 45 laboratorium lain, dengan total kerugian mencapai 2 miliar shekel atau setara dengan sekitar USD 570 juta (Rp9,35 triliun).

Kerugian tersebut hanya mencakup infrastruktur fisik dan belum termasuk kerugian ilmiah seperti hancurnya bahan penelitian langka, sampel yang tak tergantikan, dan terhentinya riset jangka panjang. Diperkirakan biaya pembangunan ulang tiap laboratorium bisa mencapai puluhan juta dolar (setara ratusan miliar rupiah per laboratorium).

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗛𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿, 𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗹𝗮𝗶𝗺 𝗔𝘀𝘂𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶

Iran terus melancarkan serangan hampir setiap hari sejak 13 Juni. Serangan ini mengakibatkan kehancuran atau kerusakan parah pada ribuan bangunan, dan menyebabkan ribuan warga Israel kehilangan tempat tinggal.

Data dari Otoritas Pajak Israel mencatat, hingga awal pekan ini, telah ada 9.900 klaim kompensasi, yang terdiri dari:

– 8.549 klaim untuk kerusakan struktural rumah,

– 668 klaim untuk kerusakan kendaraan, dan

– 683 klaim untuk kerusakan isi rumah dan properti lainnya.

Antara 13 hingga 16 Juni saja, serangan rudal Iran diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 1 miliar shekel, atau setara USD 277 juta (sekitar Rp4,54 triliun).

𝗞𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸

Risiko keamanan yang meningkat juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan perusahaan internasional di Israel.

Stasiun televisi Channel 12 Israel melaporkan bahwa perusahaan pelayaran raksasa Maersk telah menangguhkan aktivitas di Pelabuhan Haifa karena ancaman serangan rudal dari Iran.

Sementara itu, kilang minyak terbesar di Israel milik Bazan Group di Haifa terpaksa ditutup sejak 16 Juni setelah dihantam rudal Iran. Serangan itu menewaskan tiga pekerja dan melumpuhkan pembangkit listrik utama di kompleks tersebut.

Kilang tersebut menyuplai hampir 60 persen kebutuhan solar Israel dan sekitar 50 persen kebutuhan bensin nasional, sehingga penutupan ini sangat berdampak pada pasokan energi nasional. (Bahry)

Sumber: Cradle

Trump Beri Waktu Dua Pekan, AS Akan Gabung Perang Israel-Iran?

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tenggat waktu dua minggu untuk memutuskan apakah Negeri Paman Sam akan ikut bergabung dalam perang antara Israel dan Iran. Langkah ini diambil untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi sebelum konflik meluas ke skala yang lebih besar, demikian pernyataan dari Gedung Putih pada Kamis (19/6/2025).

Keputusan ini muncul setelah pernyataan terbuka Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran menjadi tujuan perang mereka. Dalam kunjungan ke rumah sakit Soroka di Beersheba yang menjadi sasaran rudal Iran, Katz menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, “tidak boleh dibiarkan hidup.”

“Khamenei telah secara terbuka menyerukan penghancuran Israel dan memerintahkan serangan langsung ke rumah sakit. Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan ada,” tegas Katz di hadapan wartawan.

Israel, yang sebelumnya hanya menargetkan situs militer dan fasilitas nuklir Iran, kini mulai menyerang target-target nonmiliter seperti stasiun penyiaran nasional yang disebut Katz sebagai “simbol rezim.”

Serangan rudal Iran ke rumah sakit Soroka sendiri tidak menimbulkan korban jiwa karena pasien dan staf telah berlindung di tempat aman. Namun, kerusakan bangsal dan suasana panik yang terjadi memicu kemarahan publik Israel.

Rudal lainnya menghantam wilayah sekitar Tel Aviv, menyebabkan lebih dari 200 orang terluka, termasuk empat luka berat. Salah satu rudal menghantam dasar gedung pencakar langit di Ramat Gan, hanya 200 meter dari pusat perdagangan berlian Israel.

“Rasanya seperti bom atom. Seperti gempa bumi,” kata Asher Adiv (69), warga sekitar. Adiv, yang memiliki darah Yahudi Iran dan fasih berbahasa Persia, menyampaikan harapan agar rakyat Iran bangkit menentang rezim Ayatullah.

“Kami berjuang bukan hanya untuk Israel, tapi untuk dunia. Kami minta Trump untuk turun tangan dan selesaikan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mencoba meredam ketegangan dengan menyatakan bahwa perubahan rezim Iran “bukanlah tujuan resmi” dari operasi militer mereka.

Namun, tekanan dari dalam Israel terhadap AS untuk terlibat secara langsung terus meningkat. Terutama karena hanya Amerika Serikat yang memiliki senjata konvensional sekuat bom penghancur bunker GBU-57, yang diyakini mampu menembus situs nuklir Iran yang paling terlindungi seperti Fordow, yang terkubur lebih dari 100 meter di bawah gunung dekat kota suci Qom.

Netanyahu dan para pejabat senior Israel terus mendorong Trump agar tidak hanya mendukung dari belakang, tetapi ikut serta dalam serangan langsung ke jantung program nuklir Iran. Sumber di pemerintahan AS menyebutkan bahwa rencana serangan sudah disusun, namun Trump masih menunggu kemungkinan kesepakatan terakhir dari Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium.

Fordow bukan satu-satunya sasaran. Situs Natanz yang sudah beberapa kali diserang sebelumnya dan reaktor air berat lainnya juga dianggap sebagai target utama karena potensinya dalam menghasilkan plutonium, bahan baku alternatif untuk senjata nuklir.

Iran sendiri bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya telah mengecam Iran karena memperkaya uranium hingga 60%, hanya satu langkah teknis menuju tingkat senjata nuklir.

Ironisnya, Israel yang menuduh Iran, justru merupakan satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan meski tidak pernah secara resmi mengakui memiliki senjata tersebut. Negara Zionis itu juga belum pernah menandatangani perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Di tengah meningkatnya eskalasi, sejumlah negara mulai bersiap mengevakuasi warganya dari Iran dan Israel. Pemerintah Israel juga tengah mengupayakan pemulangan puluhan ribu warganya yang terdampar di luar negeri, sementara bandara utama Israel tetap ditutup sejak gelombang serangan pertama terhadap Iran dimulai. (Bahry)

Sumber: The Guardian

Brigade Al-Qassam Hancurkan Tiga Tank Merkava Israel, Al-Quds Tembak Jatuh Drone Canggih

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, mengklaim telah menghancurkan tiga tank tempur Merkava milik Israel menggunakan alat peledak berkekuatan tinggi.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut aksi ini terjadi pada pertengahan Juni 2025 di kawasan timur kamp pengungsi Jabaliya, Jalur Gaza bagian utara.

“Setelah kembali dari garis pertempuran, para pejuang kami mengonfirmasi penghancuran tiga tank Merkava dengan tiga bom darat berdaya ledak tinggi,” tulis Al-Qassam dalam rilis yang dipublikasikan pada 19 Juni.

Mereka juga mengklaim berhasil menembak mati seorang tentara Israel di timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza, pada 6 Juni lalu.

Sementara itu, Brigade Al-Quds—sayap militer Gerakan Jihad Islam—mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone tempur Israel jenis Matrice 600 di kawasan Al-Tuffah, Gaza timur.

Menurut mereka, drone tersebut bersenjata dan membawa bom serta mortir yang dapat dijatuhkan secara vertikal.

Brigade Al-Quds juga mengklaim telah meledakkan kendaraan militer Israel menggunakan alat peledak di dekat Masjid Riyadh al-Salehin, timur Jabaliya, tiga hari sebelumnya. Dalam serangan itu, mereka menyatakan juga meluncurkan tembakan mortir ke arah pasukan Israel dan mengenai sasaran secara langsung.

Tak hanya itu, para pejuang mereka juga disebut berhasil menghancurkan kendaraan militer Israel lainnya dengan alat peledak laras tinggi yang telah ditanam lebih dulu di daerah Jouret al-Lout, selatan Khan Yunis, Gaza bagian selatan.

Dalam pernyataan terpisah, militer Israel mengonfirmasi tewasnya empat tentaranya di Jalur Gaza. Salah satunya adalah Sersan Staf Stav Halfon (20 tahun) dari Batalyon Teknik Tempur ke-603, yang tewas akibat tembakan penembak jitu di Khan Younis, Gaza selatan, pada Rabu (18/6).

Selain itu, seorang prajurit cadangan dari Brigade Parasut Cadangan ke-646 juga mengalami luka parah di lokasi yang sama. Dua prajurit lainnya, Kapten (Purn.) Tal Movshovitz dan Sersan Staf Naveh Leshem, sebelumnya dilaporkan tewas dalam insiden terpisah di Khan Younis. Hingga saat ini, total korban tewas dari pihak Israel dalam serangan darat di Gaza dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza telah mencapai 433 personel. (Bahry)

Sumber: PC & TOI

IRGC Klaim Kuasai Langit Israel, Rudal Fattah Tembus Pertahanan Udara Zionis

TEHERAN (jurnalislam.com)– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Rabu (18/6/2024) mengklaim telah menguasai sepenuhnya wilayah udara Israel setelah meluncurkan gelombang serangan rudal hipersonik Fattah-1 dalam Operasi True Promise 3.

IRGC menyatakan bahwa rudal Fattah generasi pertama berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam tempat-tempat perlindungan militer dengan presisi tinggi. Serangan ini diklaim sebagai balasan terhadap agresi militer Israel terhadap situs militer dan nuklir Iran pekan lalu.

“Rudal Fattah yang kuat dan sangat lincah telah menembus perisai pertahanan rudal, mengguncang perlindungan para pengecut Zionis berkali-kali,” demikian kutipan pernyataan resmi IRGC.

“Serangan rudal malam ini membuktikan bahwa kami kini memegang kendali penuh atas langit wilayah yang diduduki.”

Pernyataan tersebut merupakan respons terhadap klaim sebelumnya dari pejabat militer Israel dan Amerika Serikat yang menyatakan telah menguasai wilayah udara Iran. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangan udara intensif dan menyebut kini dapat terbang di atas Teheran tanpa perlawanan signifikan, usai melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran.

Israel juga memperingatkan warga sipil di Teheran untuk mengungsi, dan dilaporkan telah menyerang kantor pusat televisi pemerintah Iran saat sedang melakukan siaran langsung. Serangan tersebut merupakan bagian dari Operasi Lion’s Courage yang dicanangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Serangan ini akan terus berlanjut hingga semua fasilitas nuklir dan persenjataan rudal Iran dihancurkan,” tegas Netanyahu.

Presiden AS Donald Trump, melalui akun Truth Social miliknya, juga mendukung operasi Israel. Ia menulis bahwa pasukan AS dan Israel kini memegang kendali penuh atas langit Iran, menyebut dominasi udara itu sebagai hasil kekuatan teknologi buatan Amerika.

Namun IRGC menegaskan bahwa dengan pengerahan rudal Fattah-1, mereka kini juga memegang kekuasaan penuh atas langit Israel. Rudal hipersonik ini pertama kali diluncurkan Iran pada 2023 dan dirancang khusus untuk menghindari sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow.

Fattah-1 adalah rudal jarak menengah sepanjang 12 meter, dengan hulu ledak seberat 200 kilogram, jangkauan hingga 1.400 kilometer, dan kecepatan maksimum Mach 14,6 atau sekitar 17.900 km/jam. Ditenagai bahan bakar padat satu tahap dan dilengkapi wahana luncur hipersonik (HGV), rudal ini mampu bermanuver selama penerbangan untuk menghindari intersepsi.

IRGC menegaskan bahwa penggunaan rudal Fattah-1 dalam konflik saat ini merupakan pengerahan militer strategis pertama sejak konflik eskalatif dimulai pada pertengahan Juni, dan diproyeksikan akan menjadi titik balik signifikan dalam dinamika militer di kawasan.

Dengan kedua pihak kini saling mengklaim supremasi udara, eskalasi konflik tampaknya akan terus berlanjut, belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan mereda dalam waktu dekat. (Bahry)

Sumber: Cradle

Bunker Nuklir Iran Terlalu Kuat, Bom Amerika Jadi Harapan Terakhir?

IRAN (jurnalislam.com)- Bom penghancur bunker milik Amerika Serikat menjadi satu-satunya senjata konvensional yang mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Senjata ini disebut-sebut sebagai pilihan utama Presiden Donald Trump jika ia memutuskan untuk secara militer mendukung Israel menghadapi Iran.

Bom tersebut adalah GBU-57 atau Massive Ordnance Penetrator (MOP) — hulu ledak seberat 30.000 pon (sekitar 13.600 kilogram) yang mampu menembus hingga 200 kaki (61 meter) ke dalam tanah sebelum meledak. Meskipun dirancang untuk menghancurkan target strategis seperti fasilitas nuklir, bom ini tidak tersedia dalam gudang senjata Israel.

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴?

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel telah melakukan serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah komandan militer Iran dan merusak berbagai instalasi di permukaan. Namun, serangan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

“Stok rudal, peluncur, pangkalan militer, fasilitas produksi, ilmuwan nuklir, serta sistem komando dan kendali militer Iran telah mengalami kerusakan serius,” ujar Behnam Ben Taleblu, Direktur Program Iran di lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang berbasis di Washington.

Meski begitu, lanjut Taleblu, masih menjadi tanda tanya besar apakah serangan Israel benar-benar mampu menarget jantung program nuklir Iran.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa fasilitas pengayaan uranium Fordow, yang terletak di selatan Teheran, tidak mengalami kerusakan. Berbeda dengan situs Natanz dan Isfahan yang lebih mudah diakses, Fordow dibangun jauh di bawah tanah, dan diyakini berada 300 kaki di bawah permukaan batuan keras, membuatnya di luar jangkauan bom konvensional Israel.

“Semua mata tertuju pada Fordow,” kata Taleblu sebagaimana dilansir dari The New Arab (18/6).

𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗔𝗦 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝘀

Mantan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS sekaligus peneliti di Rand Corporation, Mark Schwartz, menegaskan bahwa hanya Amerika Serikat yang memiliki kapasitas konvensional untuk menghancurkan situs semacam itu — yang dimaksud adalah bom GBU-57.

Militer AS menyatakan bahwa bom ini dirancang khusus untuk menembus struktur bawah tanah yang sangat dalam. Tidak seperti bom pada umumnya yang meledak setelah benturan, GBU-57 memiliki selongsong baja khusus yang diperkeras, serta sekering tahan tekanan tinggi agar mampu menembus batuan dan beton sebelum meledak di dalam tanah.

Pengembangan bom ini dimulai pada awal 2000-an dan kontrak produksi sebanyak 20 unit diberikan kepada Boeing pada 2009.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗗𝗶𝗸𝗶𝗿𝗶𝗺𝗸𝗮𝗻?

Satu-satunya pesawat yang mampu membawa dan menjatuhkan GBU-57 adalah pesawat pengebom siluman B-2 milik AS. Beberapa unit B-2 sempat terlihat dikerahkan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, pada awal Mei lalu. Namun, berdasarkan analisis citra satelit dari Planet Labs yang dikutip AFP, pesawat-pesawat ini tak lagi tampak pada pertengahan Juni.

Dengan jangkauan penerbangan yang sangat jauh, B-2 mampu terbang langsung dari AS menuju Timur Tengah untuk melakukan misi pengeboman — sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, menurut peneliti pertahanan CSIS, Masao Dahlgren.

Setiap B-2 mampu membawa dua bom GBU-57, dan menurut Schwartz, satu kali serangan tidak cukup.

“Mereka tidak akan cukup hanya dengan satu bom, kemungkinan besar perlu beberapa bom untuk mencapai efektivitas maksimal,” ujar Schwartz. Ia juga menambahkan bahwa dominasi udara Israel atas wilayah Iran saat ini dapat mengurangi risiko misi pengeboman jika dilakukan oleh AS.

𝗔𝗽𝗮 𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮?

Taleblu menekankan bahwa intervensi militer AS seperti ini akan membawa beban politik besar, mengingat dampaknya terhadap kawasan dan dunia internasional. Ia juga menegaskan bahwa GBU-57 bukan satu-satunya cara untuk menangani program nuklir Iran.

Tanpa bom GBU-57 dan tanpa adanya solusi diplomatik, Israel kemungkinan akan memilih cara alternatif, seperti menyerang pintu masuk fasilitas bawah tanah, menghancurkan jalur listrik dan sistem pendukung lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap situs Natanz. (Bahry)

Sumber: TNA