Iran dan Israel Setujui Gencatan Senjata Setelah 12 Hari Saling Serang

IRAN (jurnalislam.com)- Iran dan Israel dikabarkan telah menyepakati gencatan senjata setelah 12 hari saling melancarkan serangan udara, termasuk serangan “menit-menit terakhir” yang dilakukan Teheran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa pagi (24/6/2025) menyatakan bahwa Israel menyetujui usulan gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada malam sebelumnya. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa gencatan senjata telah mulai berlaku.

“Gencatan senjata sekarang berlaku. Tolong jangan langgar!” tulis Trump melalui akun media sosialnya.

Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan merespons dengan keras apabila terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Meski demikian, perjanjian ini memunculkan harapan akan meredanya ketegangan dalam konflik yang meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, setelah AS menggempur fasilitas nuklir Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar.

“Dengan mempertimbangkan tercapainya tujuan operasi dan koordinasi penuh dengan Presiden Trump, Israel menyetujui usulan gencatan senjata bilateral dari Presiden,” ujar Netanyahu.

𝗚𝗲𝗹𝗼𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗱𝗮𝗹

Situasi yang relatif tenang terlihat pada Selasa pagi, menyusul enam gelombang peluncuran rudal yang dilakukan Iran hingga menjelang dimulainya gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengisyaratkan bahwa serangan rudal diluncurkan tepat sebelum batas waktu gencatan senjata pukul 07.30 GMT.

“Operasi militer Angkatan Bersenjata kami yang kuat untuk menghukum Israel atas agresinya berlanjut hingga menit terakhir,” tulis Araghchi di media sosial.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan beberapa orang, menurut keterangan dari militer dan layanan darurat Israel. Tak lama kemudian, warga Israel diimbau dapat meninggalkan tempat perlindungan rudal karena tidak ada lagi serangan lanjutan yang terpantau.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi mengatakan bahwa serangan udara Israel terhadap ibu kota Iran telah berhenti. Ia menyebut ketenangan tersebut sebagai “indikasi menjanjikan terhadap prospek gencatan senjata,” meski menegaskan bahwa situasi tetap rapuh karena kedua pihak berjanji akan membalas jika kembali diserang.

𝗦𝗼𝗿𝗼𝘁𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗮𝘇𝗮

Pasca pengumuman gencatan senjata dengan Iran, oposisi di Israel mendesak pemerintah untuk segera menyepakati penghentian perang juga di Gaza yang telah berlangsung selama 20 bulan.

“Dan sekarang Gaza. Sudah waktunya untuk mengakhirinya juga di sana. Bawa pulang para sandera, akhiri perang,” tulis pemimpin oposisi Yair Lapid.

Namun demikian, sejumlah pihak dari kubu garis keras mengkritik gencatan senjata ini, dengan menyebut Iran tetap merupakan ancaman berbahaya.

“Rezim Iran bukanlah rezim yang bisa diajak membuat kesepakatan, tapi rezim yang harus dikalahkan,” ujar anggota parlemen dari Partai Likud, Dan Illouz. Ia menambahkan bahwa jika tidak dikalahkan, Iran akan terus mencari cara untuk menyerang Israel.

Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 13 Juni, dengan tudingan bahwa Teheran hampir berhasil mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan senada disampaikan Presiden Trump menjelang serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Sabtu sebelumnya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Senin menuntut akses ke fasilitas nuklir Iran guna memverifikasi keberadaan dan kondisi uranium yang diperkaya. Ada spekulasi bahwa Iran telah memindahkan cadangan bahan nuklirnya sebelum serangan udara AS terhadap fasilitas Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya tengah menilai kerusakan pada instalasi nuklir, dan telah mengambil langkah pemulihan.

“Rencananya adalah untuk mencegah gangguan dalam proses produksi dan layanan,” ujar Eslami, seperti dikutip kantor berita Reuters. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serang Pangkalan AS di Qatar, Iran Dikecam Keras Saudi dan UEA

RIYADH (jurnalislam.com)— Arab Saudi pada Senin malam (23/6/2025) mengutuk keras serangan rudal yang dilancarkan Iran terhadap Qatar, menyebut tindakan tersebut sebagai agresi yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Kerajaan Arab Saudi mengutuk dan mengecam dengan keras agresi yang dilancarkan oleh Iran terhadap Negara Qatar,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi.

“Agresi ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip bertetangga yang baik. Hal ini tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun,” lanjut pernyataan tersebut.

Saudi menegaskan solidaritas penuh terhadap Qatar dan menyatakan siap mengerahkan segala kemampuannya untuk mendukung negara Teluk tersebut dalam segala tindakan yang diambil.

Sebelumnya, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal “menghancurkan dan dahsyat” ke arah Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar instalasi militer Amerika Serikat terbesar di kawasan sebagai pembalasan atas serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.

Pemerintah Qatar mengutuk keras serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka berhak untuk memberikan respons langsung yang sepadan sesuai hukum internasional.

Sikap senada disampaikan oleh Uni Emirat Arab (UEA). Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri yang disiarkan kantor berita WAM, UEA mengecam “dengan kata-kata yang paling keras” tindakan Iran.

“UEA mengutuk dengan sekeras-kerasnya tindakan [Iran] yang menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid di negara saudaranya Qatar, menganggapnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan wilayah udara Qatar,” tegas pernyataan tersebut. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Trump Sebut Serangan Balasan Iran ke Pangkalan AS di Qatar “Sangat Lemah”

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (23/6/2025) menyebut serangan balasan Iran yang menargetkan pangkalan udara al-Udeid di Qatar sebagai “sangat lemah”. Ia juga menyampaikan apresiasi atas pemberitahuan awal dari Teheran yang memungkinkan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.

“Iran secara resmi telah merespons penghancuran fasilitas nuklir mereka dengan serangan yang sangat lemah, seperti yang kami harapkan, dan telah kami tangani dengan sangat efektif,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.

Presiden Trump mengungkapkan bahwa Iran telah memberikan pemberitahuan dini sebelum peluncuran rudal, yang menurutnya memungkinkan pasukan AS untuk bersiaga dan menghindari korban.

“Saya ingin berterima kasih kepada Iran karena telah memberi kami pemberitahuan awal, yang memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang, dan tidak ada yang terluka,” tambahnya.

Trump juga menyerukan kepada Iran untuk mengejar perdamaian dengan Israel, seraya menyatakan keyakinannya bahwa tidak akan ada balasan lebih lanjut dari Teheran terhadap Amerika Serikat.

“Iran tampaknya telah mengeluarkan semuanya dari sistem mereka, dan mudah-mudahan, tidak akan ada lagi kebencian,” kata Trump.

“Mungkin Iran kini dapat melangkah menuju perdamaian dan harmoni di kawasan, dan saya akan dengan antusias mendorong Israel untuk melakukan hal yang sama,” lanjutnya.

Sebelumnya, militer Iran mengonfirmasi telah meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer AS di al-Udeid, Qatar, pada Senin malam, sebagai bentuk balasan atas serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Menurut pejabat militer Iran, serangan rudal itu bersifat “menghancurkan dan dahsyat”. Namun, pihak militer AS menyatakan bahwa tidak ada personel yang tewas maupun terluka dalam insiden tersebut.

Sumber diplomatik regional mengungkapkan kepada Reuters bahwa Iran telah memberi tahu AS mengenai serangan tersebut melalui dua saluran diplomatik beberapa jam sebelumnya, serta memberitahu otoritas Qatar.

Qatar sendiri mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal yang mengarah ke pangkalan al-Udeid, yang merupakan instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah.

Serangan Iran ini terjadi menyusul aksi bom seberat 30.000 pon (13,6 ton) yang dijatuhkan pesawat pembom strategis AS ke fasilitas nuklir bawah tanah Iran akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan serangan udara Israel terhadap Iran. Presiden Trump juga sempat mengisyaratkan kemungkinan pergantian rezim di Teheran.

Pangkalan udara al-Udeid di Qatar adalah pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah, yang menjadi pusat komando utama untuk operasi militer AS di kawasan. Pangkalan ini menampung sekitar 10.000 personel militer AS dan koalisi, serta menjadi markas bagi Komando Pusat AS (CENTCOM), dengan fasilitas strategis seperti landasan pacu sepanjang 3,6 kilometer, pusat pengendali operasi udara, dan tempat parkir bagi pesawat pembom dan pengintai. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Krisis Energi Ancam Kelangsungan Hidup Warga Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Krisis energi akibat blokade yang diberlakukan Israel kian memperburuk kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) memperingatkan bahwa kurangnya akses terhadap energi yang andal kini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup warga Palestina.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (23/6/2025), NRC menyebut bahwa penolakan akses terhadap listrik dan bahan bakar oleh Israel merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebutuhan dasar manusia.

“Di Gaza, energi bukan tentang kenyamanan ini tentang bertahan hidup,” ujar Benedicte Giaever, Direktur Eksekutif NORCAP, bagian dari NRC.

Giaever menegaskan bahwa ketika keluarga tidak dapat memasak, rumah sakit tidak dapat beroperasi, dan pompa air berhenti bekerja, dampaknya sangat menghancurkan. Ia mendesak komunitas internasional untuk memprioritaskan kebutuhan energi dalam seluruh upaya kemanusiaan di Gaza.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) memperkirakan sebanyak 2,1 juta penduduk Gaza tidak memiliki akses terhadap listrik. Akibatnya, fasilitas kesehatan lumpuh: operasi darurat terpaksa ditunda, ventilator dan mesin dialisis tidak berfungsi, dan inkubator bayi tidak dapat digunakan.

Kekurangan energi juga memengaruhi fasilitas desalinasi, membuat 70 persen rumah tangga tidak memiliki akses air bersih. Banyak warga terpaksa membakar plastik dan puing-puing untuk memasak, yang turut membahayakan kesehatan.

NRC juga menyoroti meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender di malam hari akibat ketiadaan penerangan.

“Sudah terlalu lama, masyarakat Gaza mengalami siklus konflik, blokade, dan kekurangan. Namun, krisis saat ini menghadirkan keputusasaan baru yang mengancam kelangsungan hidup dan masa depan mereka,” kata Sekjen NRC, Jan Egeland.

Di tengah krisis tersebut, militer Israel dilaporkan terus melancarkan serangan ke titik distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) organisasi yang kontroversial karena didukung oleh Israel dan Amerika Serikat.

Dalam laporan hariannya pada Senin (23/6/2025), Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa sedikitnya 39 jenazah telah dibawa ke rumah sakit dalam 24 jam terakhir, dan sedikitnya 317 orang terluka akibat serangan Israel.

Sejak Israel melonggarkan blokade totalnya bulan lalu, lebih dari 400 warga dilaporkan tewas saat mencoba mengambil bantuan makanan dari pusat distribusi.

Peringatan juga disampaikan oleh Kepala OCHA untuk Gaza dan Tepi Barat, Jonathan Whittall, pada Minggu (22/6/2025). Ia menyoroti pola serangan Israel terhadap warga yang tengah berupaya mencari makanan.

“Kami melihat pola mengerikan pasukan Israel yang melepaskan tembakan ke kerumunan yang berkumpul untuk mendapatkan makanan. Upaya bertahan hidup disambut dengan hukuman mati,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

25 Pesantren Terpilih dari Jawa Timur dan Bali Ikuti Pelatihan Ramah Lingkungan oleh PPIM UIN Jakarta

PAMEKASAN (jurnalislam.com)— Dalam upaya memperkuat peran pesantren dalam menjaga kelestarian lingkungan, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas Pesantren Ramah Lingkungan selama empat hari, sejak Jumat, (20/6/2025) pukul 15.00 WIB hingga Senin, (23/6/2025) pukul 12.00 WIB. Kegiatan ini bertempat di Hotel Odaita, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari 25 pesantren terpilih yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Bali. Di antaranya: Bustanul Ulum, Matholi’ul Anwar, Raudlatul Islamiyah, KH. Abdul Chalim, Sabilur Rahmah, Royan Al-Manshurien, Miftahul Ulum Al Asy’ariyah Putri Bunten, Madrasatul Quran Tebuireng, Modern Hikmatuddien, Nurul Hidayah, Miftahul Khoir, MTA Tahfidz Al Amien Prenduan, Firdaus, Arraudhah Utara, Fathul Ulum, Al-Ishlah, Bayt Al Hikmah Pasuruan, Salafiyah Kapurejo Pagu Kediri, Darut Tholabah, PPTQ Al Himmah Dau Malang, Gadingmangu, Thursina International Islamic Boarding School Malang, Bustanus Syubban, Miftahul Ulum, dan Al Azhar.

Selama kegiatan, para peserta dibekali pemahaman menyeluruh tentang pentingnya ekosistem berkelanjutan dan peran pesantren dalam menciptakan budaya ramah lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman. Tidak hanya dalam bentuk seminar, pelatihan ini mengedepankan metode komunikasi dua arah yang interaktif, memperkuat jejaring antar-pesantren, serta mendorong kolaborasi program nyata di lapangan.

Salah satu agenda spesial dari pelatihan ini adalah kunjungan lapangan ke Pesantren Ramah Lingkungan Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, yang menjadi model praktik pengelolaan lingkungan berbasis pesantren. Para peserta diajak langsung melihat proses pemilahan, pengolahan, hingga pemusnahan limbah, serta meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terintegrasi dengan sistem pesantren. Pengalaman lapangan ini menambah wawasan konkret dan inspirasi baru bagi para peserta.

Apresiasi luar biasa datang dari seluruh peserta. Mereka bahkan berharap pelatihan serupa bisa digelar dalam durasi lebih panjang agar pembahasan semakin komprehensif.

“Saya berharap kegiatan semacam ini diagendakan selama 7 hari sehingga pembahasan semakin tuntas,” ungkap Al-Ustadz Ammar Zainuddin dari Pesantren KH. Abdul Chalim, Pacet-Mojokerto.

Sementara itu, ucapan terima kasih tulus disampaikan oleh Al-Ustadz Ali Hasan Al Banna dari Pesantren Firdaus, Bali.

“Kami atas nama pribadi dan lembaga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Prof. Iim beserta tim PPIM UIN Jakarta atas semua ilmu, pengalaman dan pelayanan yang telah diberikan. Terima kasih juga kepada semua kiai, bu nyai, gawagis, nawaning, lawair, ustadz dan ustadzah atas ukhuwah dan sharingnya. Semoga silaturahmi ini tetap bahkan harus berlanjut dan membawa kemanfaatan serta keberkahan ke depan,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pelopor dalam gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam.

Semoga upaya ini menjadi langkah besar menuju pesantren hijau yang mandiri, edukatif, dan berkelanjutan di masa depan.

Kontributor: Nofa Miftahudin

Bom Bunuh Diri ISIS di Gereja Damaskus Tewaskan 22 Orang, 63 Terluka

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Sebuah serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok teroris ISIS menargetkan sebuah gereja di Damaskus, Suriah, pada Ahad malam (22/6/2025). Serangan itu menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 63 orang lainnya, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Suriah.

Peristiwa tragis ini menjadi serangan bom bunuh diri pertama di Suriah sejak Presiden Bashar al-Assad digulingkan pada Desember lalu dan digantikan oleh pemerintahan baru yang dipimpin oleh kelompok Islamis.

Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan bahwa seorang pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan ISIS menyerang Gereja Ortodoks Yunani Saint Elias di kawasan Kristen lama Damaskus. Pelaku masuk ke dalam gereja saat ibadah berlangsung, melepaskan tembakan, dan kemudian meledakkan rompi peledaknya. Saksi mata menyebut adanya pelaku kedua yang juga melepaskan tembakan ke arah sekitar 150 jemaat namun tidak meledakkan dirinya.

“Orang-orang ibadah dengan aman di bawah pengawasan Tuhan,” ujar Fadi Ghattas, seorang saksi mata yang mengaku melihat sedikitnya 20 korban tewas. “Ada 350 orang yang ibadah di gereja itu,” tambahnya.

Video yang beredar menunjukkan kondisi di dalam gereja yang hancur berantakan, bangku-bangku roboh, dan mayat-mayat berserakan di lantai, berlumuran darah. Warga sekitar mendengar ledakan besar disusul suara tembakan dan sirene, sementara pasukan keamanan langsung mengepung lokasi kejadian.

Issam Nasr, seorang jemaat yang selamat, mengatakan bahwa ia menyaksikan orang-orang “terbakar berkeping-keping”. “Kami tidak pernah memegang pisau seumur hidup kami. Yang kami bawa hanyalah doa-doa kami,” ucapnya haru.

Serangan ini terjadi setelah beberapa bulan terakhir ISIS melakukan aktivitas dan propaganda berskala kecil, memanfaatkan kekosongan keamanan pasca jatuhnya Assad untuk kembali bangkit. Menurut pejabat Suriah, kelompok teroris tersebut telah menyita sejumlah besar senjata dan amunisi yang ditinggalkan tentara Assad untuk memperkuat persenjataan mereka.

Pemerintah baru Suriah, yang dipimpin oleh eks-komandan Hayat Tahrir al-Sham (HTS), terus melancarkan operasi kontra-ISIS. HTS yang sebelumnya merupakan kelompok perlawanan, kini menjadikan keamanan nasional sebagai prioritas dan menganggap ISIS sebagai ancaman serius.

Namun, ISIS mencoba menarik simpati pejuang Islamis yang kecewa dengan arah baru pemerintahan Islamis moderat. Media propaganda ISIS bahkan menyebarkan foto Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Riyadh, menyebutnya sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap perjuangan jihad”.

Meski begitu, pemerintah Suriah tetap menegaskan komitmennya terhadap perlindungan kelompok minoritas. Aparat keamanan terus memperketat penjagaan di kawasan Kristen Damaskus, termasuk memeriksa semua kendaraan yang masuk.

Menteri Informasi Suriah, Hamza Al-Mustafa, menyatakan, “Tindakan pengecut ini bertentangan dengan nilai-nilai kewarganegaraan yang menyatukan kita semua. Kami menyerukan persatuan nasional dan penguatan ikatan antarkomunitas.”

Pemerintah kota Damaskus menyebut penyelidikan sedang berlangsung untuk mengungkap latar belakang serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam keras kejadian ini, menyebutnya sebagai “upaya putus asa untuk merusak kerukunan nasional dan stabilitas negara”.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, juga menyampaikan kecaman keras. Dalam pernyataannya, ia menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan keji” dan mendesak investigasi menyeluruh oleh otoritas Suriah.

Hingga kini, pemerintah Suriah masih berupaya memperluas kendali atas seluruh wilayah negara yang masih dipenuhi kelompok milisi bersenjata. Kementerian Pertahanan sedang dalam proses menggabungkan milisi ke dalam angkatan bersenjata nasional dan melucuti kelompok-kelompok yang menolak.

Sementara itu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin suku Kurdi dan didukung Amerika Serikat, tetap menjadi kekuatan utama dalam memerangi ISIS. Kerja sama antara SDF dan pemerintah baru Suriah terus dibangun meski masih berada pada tahap awal.

Pemerintah AS dan negara-negara koalisi anti-ISIS lainnya menyatakan kebangkitan ISIS di Suriah sebagai perhatian utama mereka dalam menjaga stabilitas kawasan.

Sebagai catatan, ISIS telah masuk dalam daftar kelompok teroris internasional dan sebelumnya sempat menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak, sebelum kekuasaannya dipukul mundur secara militer. Mereka masih menjadi ancaman nyata melalui serangan sporadis dan jaringan bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah. (Bahry)

Sumber: Guardian 

Iran Luncurkan Rudal Kheibar Shekan Generasi Ketiga ke Israel, Targetkan Bandara Ben Gurion dan Fasilitas Strategis

TEHERAN (jurnalislam.com)– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Ahad (22/6/2025) mengumumkan telah meluncurkan rudal balistik Kheibar Shekan generasi ketiga dengan hulu ledak ganda ke wilayah Israel. Ini merupakan pertama kalinya rudal tersebut digunakan sejak dimulainya serangan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat.

Menurut IRGC, dalam serangan terbaru ini Iran mengerahkan 40 rudal balistik berbahan bakar padat dan cair, termasuk rudal Kheibar Shekan generasi terbaru. Rudal canggih ini dirancang dengan beberapa hulu ledak manuver yang mampu diarahkan hingga saat benturan untuk meningkatkan akurasi dan daya hancur.

“Dalam operasi ini, untuk pertama kalinya, Pasukan Dirgantara IRGC mengerahkan rudal balistik Kheibar Shekan generasi ketiga dengan hulu ledak ganda, menggunakan taktik baru dan mengejutkan demi presisi, daya destruktif, dan efektivitas yang lebih tinggi,” demikian pernyataan resmi IRGC.

Kheibar Shekan generasi ketiga merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 1.450 hingga 1.500 kilometer. Versi terbaru ini dilengkapi dengan sistem panduan fase terminal yang memungkinkan rudal bermanuver saat fase penurunan, guna menghindari intersepsi dari sistem pertahanan seperti Arrow dan David’s Sling milik Israel.

Kemampuan manuver rudal ini di tengah penerbangan menjadikannya sulit dicegat, sementara muatannya yang besar mampu menghantam infrastruktur strategis dan diperkeras. Ini menandai kemajuan signifikan dalam teknologi rudal Iran, karena pertama kalinya menggunakan kendaraan masuk kembali yang dapat ditargetkan secara independen (MIRV).

Menurut IRGC, sasaran serangan terbaru meliputi Bandara Internasional Ben Gurion, pusat penelitian biologi Israel, dan pusat komando dan kontrol cadangan. IRGC juga mengklaim sirene peringatan di Israel hanya berbunyi setelah rudal menghantam target, serta menegaskan bahwa sebagian besar kekuatan militer Iran belum dikerahkan.

Media Israel melaporkan sedikitnya 86 orang mengalami luka akibat serangan rudal tersebut. Israel telah meningkatkan penyensoran militer terhadap berbagai lokasi strategis, membatasi informasi terkait efektivitas serangan Iran.

IRGC memperingatkan bahwa gelombang serangan ini—bagian dari Operasi True Promise 3—belum menunjukkan kekuatan penuh Iran, dan menyebut masih ada potensi eskalasi yang lebih besar bila agresi terhadap Iran berlanjut.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melakukan pengeboman terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik serangan AS tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Presiden Donald Trump, menyebut langkah itu sebagai wujud “perdamaian melalui kekuatan.” (Bahry)

Sumber: Cradle

Cemas Diserang Rudal Iran, Rumah Sakit Militer Israel Pindah ke Bawah Tanah

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Dalam waktu kurang dari 48 jam, Sheba Medical Center, rumah sakit terbesar dan paling lengkap di Israel, telah melakukan transformasi besar dengan mengalihkan operasionalnya ke fasilitas bawah tanah yang terlindungi. Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap situasi darurat setelah serangan balasan rudal dari Iran sejak Jumat (13/6/2025).

“Jumat pagi, Israel diserang,” ujar Yoel Har-Even, Kepala Sheba Global, dikutip dari situs resmi Sheba pada Selasa (17/6).

“Sebagai pusat medis nasional, kami punya tanggung jawab untuk siap dalam segala situasi.” sambungnya.

Dalam hitungan jam, Sheba memindahkan berbagai unit penting seperti NICU (unit perawatan intensif neonatal), hemato-onkologi, ruang bersalin, ortopedi, dan departemen berisiko tinggi lainnya ke dalam rumah sakit bawah tanah yang telah disiapkan untuk situasi krisis. Selain itu, rumah sakit juga mulai membangun dapur darurat di area bawah tanah untuk mendukung operasional jangka panjang.

“Fasilitas ini bukan hanya untuk pasien, tapi juga siap menampung warga sipil di sekitar Sheba yang tidak memiliki tempat berlindung,” kata Har-Even.

Saat ini, Sheba beroperasi pada Level D, status siaga tertinggi dalam sistem tanggap darurat rumah sakit tersebut, dengan 95 persen staf telah berada di lokasi.

Menurut laporan terkini, Sheba telah menangani 176 warga yang terluka, dengan 13 pasien dirawat inap, 8 dalam kondisi darurat, dan 69 pasien dari konflik sebelumnya (Operasi Iron Swords di Gaza) yang masih dirawat. Dalam 24 jam terakhir, 68 pasien dengan gangguan kecemasan akut juga datang, mencerminkan dampak psikologis dari eskalasi konflik.

Guna memastikan kelangsungan pelayanan medis, rumah sakit mengalihkan 50 persen layanan rawat jalan ke platform virtual mereka, Sheba Beyond, dan mendirikan pusat komando khusus untuk mengelola layanan kesehatan jarak jauh.

“Kami semua berada di bawah tekanan, tetapi misi kami tetap melayani masyarakat dengan kasih sayang dan profesionalisme,” tegas Har-Even.

Sebagaimana diketahui, Sheba Medical Center memiliki divisi khusus yang melayani kebutuhan medis tentara Israel, menjadikannya bagian dari infrastruktur pendukung militer negara tersebut. (Bahry)

Sumber: Sheba

Kapal Induk Amerika Lewati Perairan Indonesia, TNI: Tak Perlu Izin tapi Diawasi

JAKARTA (jurnalislam.com)– Pusat Penerangan (Puspen) TNI menanggapi informasi yang beredar di masyarakat terkait pelayaran kapal induk Amerika Serikat, USS Nimitz, yang melintasi perairan Indonesia pada Senin (16/6/2025).

Kepala Puspen TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menjelaskan bahwa kapal perang tersebut sedang berlayar dari Laut China Selatan menuju Selat Singapura, Selat Malaka, dan selanjutnya ke Samudera Hindia.

Menurutnya, pelayaran USS Nimitz di Selat Malaka dilakukan dengan memanfaatkan hak lintas transit sebagaimana diatur dalam Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.

“Kapal tersebut berlayar di Selat Malaka dengan menggunakan Hak Lintas Transit. Sesuai ketentuan UNCLOS 1982, kapal-kapal asing, termasuk kapal perang, diperbolehkan melintas tanpa harus meminta izin kepada negara pantai, selama tetap mematuhi aturan pelayaran internasional dan tidak membahayakan keamanan wilayah yang dilintasi,” ujar Mayjen Kristomei, dikutip dari situs resmi TNI, Sabtu (21/6).

Ia menegaskan bahwa TNI secara aktif memantau setiap aktivitas pelayaran asing yang melintasi wilayah yurisdiksi nasional. Seluruh satuan TNI yang berkaitan juga tetap dalam kondisi siaga dan melakukan koordinasi guna menjamin stabilitas serta melindungi kepentingan nasional di wilayah perairan strategis Indonesia.

Israel Serang Warga Pengungsi, 202 Orang Tewas dalam Dua Hari

GAZA (jurnalislam.com)– Sedikitnya 26 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan terbaru militer Israel di Jalur Gaza, termasuk para pencari bantuan kemanusiaan. Serangan terjadi saat warga yang kelaparan masih terus menunggu distribusi bantuan di tengah krisis pangan yang kian memburuk akibat blokade Israel.

Menurut laporan, 11 dari korban tewas merupakan penerima bantuan di pusat distribusi milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Serangan terhadap pusat distribusi bantuan ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebut Israel telah “mempersenjatai bantuan kemanusiaan”.

Sementara itu, kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan bahwa tiga orang lainnya tewas dan beberapa terluka akibat serangan drone Israel yang menargetkan warga pengungsi di wilayah al-Mawasi, Gaza selatan. Serangan itu menghantam tenda pengungsian milik keluarga Shurrab, yang terletak di zona yang sebelumnya ditetapkan militer Israel sebagai “zona aman”.

Dalam 48 jam terakhir, sedikitnya 202 warga Palestina tewas, termasuk empat jenazah yang ditemukan setelah serangan, serta 1.037 lainnya luka-luka akibat agresi Israel di berbagai wilayah Gaza, menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina.

Sejak awal perang pada Oktober 2023, total korban tewas akibat serangan Israel di Gaza telah mencapai 55.908 orang, dengan 131.138 lainnya terluka.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗟𝗼𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻

Dalam beberapa hari terakhir, serangan terhadap titik-titik distribusi bantuan semakin intensif. Ribuan warga Palestina berkumpul setiap hari untuk mendapatkan jatah makanan di tengah blokade pengiriman bantuan yang sudah berlangsung dua bulan.

Pada Sabtu (21/6), tiga orang dilaporkan tewas di lokasi distribusi GHF di Khan Younis akibat tembakan pasukan Israel. Beberapa lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Seorang pengungsi Palestina, Omar al-Hobi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pergi ke titik distribusi berarti mempertaruhkan nyawa.

“Saya menyebutnya titik kematian. Tank ada di depan kami, senapan mesin di depan kami, drone di atas kami, dan penembak jitu di darat. Siapa pun yang bergerak lebih awal langsung ditembak. Ketika tank mundur, kami baru bisa berlari,” ungkapnya.

Militer Israel mengklaim bahwa serangan dilakukan untuk mengendalikan massa. Namun, para saksi dan kelompok kemanusiaan menyebut bahwa penembakan sering kali dilakukan tanpa alasan yang jelas, menyebabkan ratusan warga menjadi korban.

Palang Merah Internasional juga menyampaikan bahwa sejak bantuan GHF mulai didistribusikan akhir bulan lalu, sebagian besar pasien yang datang ke rumah sakit lapangan di Gaza mengalami luka akibat mencoba mengakses bantuan atau berada di sekitar lokasi distribusi.

Sementara itu, Otoritas Regulasi Telekomunikasi Gaza, seperti dikutip Wafa, melaporkan adanya gangguan layanan internet dan telepon rumah di beberapa wilayah, termasuk Kota Gaza dan Gaza utara. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera