BPJPH: Produk Nonhalal Asing Boleh Dipasarkan di RI, Simak Aturannya

JAKARTA (jurnalislam.com)– Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama menegaskan bahwa produk nonhalal dari luar negeri tetap dapat diimpor dan dipasarkan di Indonesia, selama mencantumkan keterangan “tidak halal” secara jelas dan mencolok pada kemasan.

Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan, saat mewakili pemerintah Indonesia dalam sidang Technical Barriers to Trade (TBT) World Trade Organization (WTO) yang digelar secara daring pada Rabu malam (25/6/2025).

“Indonesia menggarisbawahi bahwa produk nonhalal masih dapat diimpor dan dipasarkan di dalam negeri, dengan ketentuan bahwa produk tersebut mencantumkan keterangan tidak halal yang jelas dan terlihat, baik dalam bentuk teks, gambar, maupun indikator visual pada kemasan produk,” ujar Haikal Hasan dalam paparannya.

Dalam forum internasional tersebut, Haikal juga menyampaikan apresiasi pemerintah Indonesia kepada delegasi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Swiss, Kanada, dan negara lainnya atas perhatian terhadap kebijakan Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, ujar Haikal, Indonesia memiliki komitmen kuat untuk melindungi konsumen dalam memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya terkait status kehalalan produk yang dikonsumsi.

𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸 𝗜𝗺𝗽𝗼𝗿 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗠𝘂𝗹𝗮𝗶 𝟭𝟴 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟲

Lebih lanjut, Haikal menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2024, pemerintah Indonesia telah menetapkan perpanjangan tenggat waktu kewajiban sertifikasi halal bagi produk impor, termasuk makanan, minuman, serta jasa penyembelihan, hingga 17 Oktober 2026. Dengan demikian, mulai 18 Oktober 2026, seluruh produk tersebut wajib bersertifikat halal.

“Perpanjangan ini bertujuan memberikan waktu yang memadai bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan diri dan bagi pemerintah untuk menyusun pengaturan kerja sama saling pengakuan (mutual recognition arrangement/MRA) dengan negara-negara mitra,” jelasnya.

BPJPH, lanjut Haikal, juga terus mendorong dialog konstruktif dengan mitra dagang internasional guna menyosialisasikan ketentuan baru terkait sertifikasi dan pelabelan produk halal.

𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗟𝘂𝗮𝗿 𝗡𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶 𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗟𝗲𝘄𝗮𝘁 𝗦𝗜𝗛𝗔𝗟𝗔𝗟

Haikal juga menegaskan bahwa produk luar negeri yang telah bersertifikat halal oleh lembaga sertifikasi halal (LSH) asing tetap wajib didaftarkan ke BPJPH melalui sistem Sihalal sebelum masuk pasar Indonesia.

“Proses registrasi ini penting untuk menjamin ketertelusuran (traceability) status kehalalan produk. Setelah diverifikasi, BPJPH akan menerbitkan nomor registrasi halal untuk produk tersebut,” katanya.

Indonesia pun telah menyampaikan notifikasi kepada WTO terkait revisi Keputusan Kepala BPJPH Nomor 90 Tahun 2023 melalui dokumen G/TBT/N/IDN/175/Add.1, yang mengatur tata cara pendaftaran sertifikat halal dari luar negeri. BPJPH membuka ruang bagi masukan dari para pemangku kepentingan terkait hal ini.

Terkait pelabelan, BPJPH juga telah menerbitkan Keputusan No. 88 Tahun 2023 (G/TBT/N/IDN/174/Add.1) yang memberikan dua opsi pencantuman label halal pada produk impor: menggunakan label halal Indonesia disertai nomor registrasi sertifikat asing, atau label halal Indonesia berdampingan dengan logo lembaga sertifikasi halal asing yang diakui.

𝟴𝟳 𝗟𝗲𝗺𝗯𝗮𝗴𝗮 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 𝗔𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝟯𝟮 𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗧𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗗𝗶𝗮𝗸𝘂𝗶

Hingga Juni 2025, BPJPH telah menjalin kerja sama saling pengakuan dengan 87 lembaga sertifikasi halal dari 32 negara. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem perdagangan halal secara global, terutama dengan negara-negara mitra dagang utama.

“Kami tetap terbuka terhadap kerja sama lanjutan dengan lembaga sertifikasi halal luar negeri. Kami percaya, dialog yang konstruktif dalam forum WTO akan memperkuat sertifikasi halal sebagai alat yang mendukung perdagangan internasional, bukan sebagai hambatan,” tutup Haikal.

Sumber: BPJPH

Bank Dunia Setujui Pendanaan Rp2,3 Triliun untuk Pemulihan Sektor Kelistrikan Suriah

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Bank Dunia telah menyetujui pendanaan sebesar 146 juta dolar AS atau sekitar Rp2,3 triliun untuk mendukung pemulihan sektor kelistrikan di Suriah, yang selama bertahun-tahun terdampak konflik berkepanjangan.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (26/6/2025), seperti dikutip dari Anadolu Ajansi, Bank Dunia menyebut program bertajuk Syrian Emergency Electricity Project (SEEP) tersebut bertujuan merehabilitasi jaringan transmisi dan gardu induk yang rusak. Selain itu, proyek ini juga mencakup bantuan teknis untuk pengembangan sektor kelistrikan serta peningkatan kapasitas kelembagaan terkait.

“Di antara kebutuhan rekonstruksi Suriah yang mendesak, rehabilitasi sektor kelistrikan merupakan investasi penting yang tak akan disesali. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, mempercepat kembalinya para pengungsi dan pengungsi internal, serta memungkinkan layanan publik seperti air dan kesehatan kembali berjalan,” kata Direktur Bank Dunia untuk Kawasan Timur Tengah, Jean-Christophe Carret.

Carret menambahkan, proyek ini menjadi langkah awal dari rencana dukungan jangka panjang Bank Dunia terhadap Suriah dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali.

Sementara itu, Menteri Keuangan Suriah, Yisr Barnieh, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai listrik merupakan infrastruktur vital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, serta pemulihan kehidupan sosial masyarakat.

“Ini adalah proyek pertama Bank Dunia di Suriah dalam hampir empat dekade terakhir. Kami berharap hal ini menjadi landasan menuju kerja sama yang lebih luas dan terstruktur dalam mendukung pemulihan jangka panjang Suriah,” ujar Barnieh.

Sebagai bagian dari upaya revitalisasi sektor energi, pemerintah Suriah juga dilaporkan telah menandatangani perjanjian dengan konsorsium internasional, yang melibatkan perusahaan-perusahaan dari Turki, Amerika Serikat, dan Qatar, untuk pembangunan pembangkit listrik baru di sejumlah wilayah.

Sejak meletusnya konflik lebih dari satu dekade lalu, infrastruktur energi Suriah mengalami kerusakan parah. Banyak wilayah di negara tersebut hanya mendapat pasokan listrik selama beberapa jam per hari, yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan layanan publik. (Bahry)

Sumber: AA

Trump Sebut Kemajuan Menuju Gencatan Senjata di Gaza, Israel Hadapi Desakan Akhiri Perang

WASHINGTON, D.C (jurnalislam.com)- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa telah terjadi kemajuan signifikan menuju gencatan senjata dalam perang Israel di Gaza. Hal itu disampaikan Trump pada Rabu (25/6/2025), lebih dari 20 bulan sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.

“Saya pikir kemajuan besar telah dicapai di Gaza,” ujar Trump kepada wartawan menjelang pertemuan puncak NATO di Belanda. Ia menambahkan bahwa utusannya, Steve Witkoff, telah menyampaikan kabar bahwa “Gaza sudah sangat dekat” dengan tercapainya kesepakatan damai.

Trump juga mengaitkan optimisme tersebut dengan kesepakatan gencatan senjata yang tercapai pada Selasa antara Israel dan Iran dalam konflik terpisah yang berlangsung selama 12 hari.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menyatakan bahwa perang melawan Iran baru-baru ini dapat menjadi kunci untuk mengakhiri pertempuran di Gaza. Namun, tekanan terhadap Netanyahu terus meningkat, baik dari politisi oposisi, keluarga para tawanan Israel yang masih ditahan Hamas, maupun dari mitra koalisinya sendiri.

Mediator utama, Qatar, mengumumkan pada Selasa bahwa mereka tengah menggalang upaya baru untuk mendorong tercapainya gencatan senjata. Hamas, melalui juru bicaranya Taher al-Nunu, mengatakan pada Rabu bahwa komunikasi dengan para mediator, termasuk Mesir dan Qatar, telah meningkat dalam beberapa jam terakhir.

“Namun hingga kini, kami belum menerima proposal baru untuk mengakhiri perang,” ujar al-Nunu kepada AFP.

Pemerintah Israel enggan memberikan komentar langsung terkait pembicaraan gencatan senjata, hanya menegaskan bahwa upaya untuk membebaskan para tawanan Israel masih terus dilakukan baik melalui jalur militer maupun diplomasi.

Sementara itu, Israel mengalami salah satu hari paling mematikan bagi tentaranya sejak invasi darat ke Gaza. Tujuh tentara dari korps teknik tempur dilaporkan tewas pada Selasa (24/6) di wilayah Khan Younis, Gaza selatan, setelah kendaraan mereka terkena ledakan alat peledak saat misi pengintaian.

Insiden ini memicu kritik dari internal koalisi pemerintahan Netanyahu. Anggota parlemen Moshe Gafni dari Partai United Torah Judaism menyampaikan kecaman dalam sidang parlemen Israel.

“Saya masih tidak mengerti mengapa kita masih bertempur di sana. Tentara terus-menerus terbunuh,” ujarnya.

Kritik tersebut juga didukung oleh Forum Sandera dan Keluarga Hilang, organisasi yang mewakili keluarga para tawanan.

“Perang di Gaza telah kehilangan arah, berlangsung tanpa tujuan yang jelas dan tanpa rencana yang konkret,” tegas kelompok tersebut dalam pernyataannya.

Dari total 251 sandera yang diculik oleh pejuang Hamas pada serangan 7 Oktober 2023, militer Israel menyebut 49 orang masih ditahan di Gaza, dan 27 di antaranya diyakini telah meninggal dunia. (Bahry)

Sumber: TNA

32 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza, Situasi Kemanusiaan Kian Memburuk

GAZA (jurnalislam.com)– Setidaknya 32 warga Palestina tewas sejak Rabu pagi (25/6/2025), dalam gelombang baru serangan udara dan tembakan pasukan Israel di Jalur Gaza. Serangan terbaru ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah yang telah lama terkepung tersebut.

Sebanyak 12 orang dilaporkan tewas dalam satu serangan yang menghantam sebuah rumah di lingkungan Shujaiya, Kota Gaza. Di wilayah utara Gaza, tiga orang juga dilaporkan meninggal dunia.

Di Gaza tengah, serangan di Kamp Nuseirat menewaskan enam orang, sementara empat lainnya tewas di Deir al-Balah. Selain itu, tujuh warga Palestina dilaporkan tewas saat sedang mengantre bantuan, sebuah kejadian yang kini menjadi tragedi hampir setiap hari di tengah konflik yang berkepanjangan.

𝗧𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀

Di sisi lain, militer Israel mengumumkan bahwa tujuh prajurit dari Batalyon Teknik Tempur ke-605 Divisi Barak tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Brigade Al Qassam di wilayah Gaza selatan.

Menurut laporan media berbahasa Ibrani, Kan, sebuah kendaraan pengangkut pasukan Israel terkena alat peledak dan terbakar. Upaya pemadaman api gagal dilakukan, sementara para prajurit masih berada di dalam kendaraan tersebut. Dua tentara lainnya dari batalyon yang sama dilaporkan terluka dalam insiden terpisah di hari yang sama.

Dengan demikian, jumlah resmi tentara Israel yang tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 kini mencapai 879 orang, menurut data otoritas Israel.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗿𝘂𝗸

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk sejak Israel memberlakukan pengepungan total pada awal Maret 2025, yang secara efektif menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Meskipun Israel kini telah mengizinkan masuknya sejumlah bantuan, proses distribusinya kerap diwarnai kekacauan dan insiden berdarah.

Mekanisme bantuan yang dikendalikan oleh AS dan Israel tanpa keterlibatan PBB telah menuai kritik tajam dari kelompok kemanusiaan dan hak asasi manusia. Mereka menyebut sistem ini sebagai “perangkap maut”, karena ratusan warga Palestina dilaporkan tewas di lokasi distribusi sejak sistem tersebut diterapkan pada akhir Mei.

Kelompok-kelompok kemanusiaan juga menyatakan bahwa jumlah bantuan yang masuk masih jauh dari mencukupi. Salah satu kebutuhan paling mendesak yang kini langka adalah susu formula bayi.

Sedikitnya 60 anak dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi. Rumah sakit yang tersisa di Gaza pun kini kesulitan merawat pasien karena kehabisan pasokan dan fasilitas medis.

Sebuah sumber di Rumah Sakit Nasser bahkan memperingatkan bahwa ratusan bayi prematur terancam meninggal dunia akibat tidak tersedianya susu formula, baik di rumah sakit, apotek, pasar, maupun gudang obat.

𝗨𝗡𝗥𝗪𝗔 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺 𝗛𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗟𝗮𝘆𝗮𝗻𝗮𝗻

Di tengah krisis ini, Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, memperingatkan pada Selasa (24/6) bahwa pihaknya mungkin akan mengambil “keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika pendanaan tidak segera tersedia.

Lazzarini menyebut badan tersebut menghadapi defisit sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,26 triliun dan kini mengelola arus kas secara mingguan.

“Tanpa tambahan dana, saya harus segera mengambil keputusan besar yang dapat memengaruhi layanan kami bagi para pengungsi Palestina,” ujarnya dalam konferensi pers di Berlin. Ia tidak merinci bentuk keputusan yang dimaksud.

𝗝𝘂𝗺𝗹𝗮𝗵 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵, 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗕𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗧𝗲𝗿𝘄𝘂𝗷𝘂𝗱

Otoritas kesehatan Palestina menyebut jumlah korban tewas sejak pecahnya perang mencapai lebih dari 56.000 orang, mayoritas merupakan warga sipil. Ribuan lainnya diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan.

Meski korban terus berjatuhan, upaya internasional untuk mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hamas hingga kini belum membuahkan hasil.

Pada Rabu (25/6), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “kemajuan besar” tengah terjadi dalam upaya gencatan senjata. Ia mengaitkannya dengan serangan militer AS baru-baru ini terhadap Iran yang dinilai memiliki dampak regional.

“Saya pikir kemajuan besar sedang dibuat di Gaza, saya pikir karena serangan yang kita lakukan ini,” ujar Trump, tanpa merinci lebih lanjut.

Israel memperkirakan sekitar 50 dari 251 tawanan yang diculik oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 masih berada di Gaza, dengan 20 hingga 25 orang diyakini masih hidup. (Bahry)

Sumber: TNA

Laporan Harvard: 377 Ribu Warga Gaza “Dihilangkan”, Separuhnya Diduga Anak-Anak

GAZA (jurnalislam.com)– Sebuah laporan terbaru yang dirilis melalui Harvard Dataverse pada Juni 2025 mengungkapkan temuan mencengangkan: sedikitnya 377.000 warga Gaza telah “dihilangkan” sejak agresi militer Israel dimulai pada Oktober 2023. Setengah dari jumlah tersebut diyakini merupakan anak-anak.

Laporan ini disusun oleh akademisi Israel, Profesor Yaakov Garb, yang menggunakan analisis data dan pemetaan spasial untuk meneliti dampak serangan Israel terhadap warga sipil serta penghalangan akses terhadap bantuan kemanusiaan.

Dalam laporannya, Garb menegaskan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan jauh lebih besar dari angka resmi yang dirilis saat ini, yakni sekitar 61.000 jiwa.

𝗦𝗲𝗹𝗶𝘀𝗶𝗵 𝗣𝗼𝗽𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗮𝘄𝗮𝘁𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻

Sebelum perang dimulai, populasi Gaza diperkirakan mencapai 2,227 juta jiwa. Namun, data pemetaan berdasarkan estimasi militer Israel menunjukkan populasi terkini hanya sekitar 1,85 juta jiwa. Rinciannya, sekitar 1 juta orang berada di Kota Gaza, 500.000 di kawasan Mawasi, dan 350.000 lainnya di Gaza tengah.

Perbedaan sekitar 377.000 jiwa tersebut memicu pertanyaan besar tentang keberadaan mereka. Meskipun sebagian mungkin mengungsi atau belum terdata, skala selisih ini mengarah pada kemungkinan besar bahwa banyak di antara mereka telah menjadi korban jiwa.

𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗶𝘄𝗮𝗿𝗻𝗮𝗶 𝗞𝗲𝗸𝗮𝗰𝗮𝘂𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼

Laporan Garb juga menyoroti peran Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung oleh Amerika Serikat. Menurutnya, struktur dan pengoperasian GHF lebih mencerminkan kepentingan militer Israel daripada kebutuhan kemanusiaan rakyat Gaza.

Dengan menganalisis lokasi distribusi bantuan, Garb menemukan bahwa sebagian besar penduduk Gaza tidak dapat mengakses pusat bantuan tersebut. Lokasinya berada dalam “zona penyangga” militer yang secara resmi dilarang dimasuki warga sipil. Mereka yang mencoba mendekat harus melintasi koridor Netzarim yang dikendalikan tentara Israel, dengan infrastruktur minim dan rute perjalanan berbahaya.

Desain kompleks bantuan ini juga dinilai membahayakan. Setiap titik distribusi hanya melayani sekitar 5,5 orang selama 3,5 hari. Hal ini memaksa warga untuk terus kembali ke zona militer berbahaya guna mendapatkan makanan atau kebutuhan pokok lainnya.

“Kompleks bantuan ini tampaknya justru dirancang untuk menciptakan kekacauan dan gesekan berkepanjangan,” tulis Garb dalam laporannya.

𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻, 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗠𝗮𝗿𝘁𝗮𝗯𝗮𝘁

Laporan juga menyoroti kurangnya perlindungan terhadap warga sipil yang mengantre bantuan. Sebagian besar lokasi tidak memiliki tempat berteduh, air, toilet, fasilitas medis, atau akses khusus bagi kelompok rentan. Manajemen kerumunan juga tidak tersedia, sehingga kerusuhan dan kekacauan sering terjadi.

Garb menyimpulkan bahwa pusat-pusat distribusi ini tidak memenuhi prinsip dasar kemanusiaan. “Mereka mencerminkan logika kontrol, bukan bantuan. Menyebutnya sebagai pusat distribusi bantuan adalah hal yang menyesatkan,” tegasnya.

𝟰𝟱𝟬 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘀𝗲𝘀 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻

Laporan ini dirilis hanya beberapa hari sebelum Kementerian Kesehatan Gaza, pada Selasa (24 Juni 2025), mengumumkan bahwa sedikitnya 450 orang tewas dan sekitar 3.500 lainnya terluka sejak akhir Mei karena mencoba mengakses bantuan dari titik distribusi GHF.

Sebagian besar korban dilaporkan terkena serangan ketika berada di dekat atau dalam perjalanan menuju lokasi distribusi bantuan yang dikelola GHF. (Bahry)

Sumber: TNA

FKTM Gandeng ACA Indonesia, Gelar Laga Amal Peduli Palestina

TAWANGMANGU (jurnalislam.com)- Sejak terjadinya serangan Israel ke Palestina hampir semua kalangan ikut membela. Dari turun aksi, hingga penggalangan dana untuk disumbangkan ke Rakyat Palestina.

Tak mau ketinggalan, Forum Komunikasi Takmir Masjid (FKTM) Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar gelar laga amal yang dikemas dalam pertandingan sepak bola se Kecamatan Tawangmangu, khusus untuk peserta berumur 40 tahun ke atas, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) yang ke 80 tahun. Dan ini merupakan event ke dua, setelah pertama di tahun 2024.

Kegiatan ini diprakarsai oleh FKTM, bekerja sama dengan ACA Indonesia, sebuah lembaga kemanusiaan yang berkomitmen dan konsisten dalam membantu masyarakat Palestina, sebagai panitia bersama. Pertandingan sepak bola di laksanakan di Lapangan Sepakbola Tegalrejo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, yang direncanakan kegiatan selama bulan Juni sampai Juli 2025.

Acara bertajuk “Ayo…!, Berkeringat untuk Palestina” ini dimaksudkan sebagai wujud kepedulian dan solidaritas untuk membantu masyarakat Palestina.

Kegiatan tersebut di awali seremonial pembukaan, Rabu sore (25/06/2025), di Lapangan Sepakbola Tegalrejo, Gondosuli. Dan hadir pula untuk pembukaan acara, Pangat, selaku Kepala Desa Gondosuli, Tawangmangu.

Mamek Supardi, selaku ketua panitia menyampaikan di pembukaan acara, “Bahwa laga amal ini di ikuti oleh 32 team, baik dari perwakilan masjid, pengajian, perkumpulan atau paguyuban. Yang penting peserta berumur 40 tahun ke atas,” terangnya.

“Ini laga amal, tidak untuk mencari menang kalah, tetapi pertandingan untuk kepedulian dan solidaritas, bentuk nyata dalam membela palestina, membela keadilan dan bersatu untuk Palestina,” jelasnya.

“Semoga menjadi amal jariyah kita semua, dan semoga duka Palestina bisa segera berakhir,” harap Mamek Supardi.

Hal sama juga di sampaikan oleh Direktur ACA Indonesia, Imron Rosadi, yang mengatakan pertandingan sepak bola ini untuk menyambut HUT RI yang ke 80, sekaligus laga amal penggalangan dana untuk Palestina.

“Pertandingan sepak bola ini sebagai amal, hiburan dan persahabatan, sekaligus laga amal penggalangan dana untuk Palestina,” jelas Imron Rosadi. “Semoga kegiatan seperti ini terus di laksanakan, agar terjalin persaudaraan antara pemain atau penghobi sepakbola,” katanya.

Serangan Militer AS Dinilai Hanya Menunda Program Nuklir Iran, Trump Geram pada Bocoran Intelijen

WASHINGTON DC (jurnalislam.com)– Sebuah laporan awal rahasia dari Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (DIA) menyimpulkan bahwa serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran akhir pekan lalu hanya menunda program nuklir Teheran selama beberapa bulan—tidak menghancurkannya secara total seperti yang diklaim oleh Presiden Donald Trump.

Dikutip dari sejumlah media AS pada Selasa (24/6/2025), laporan tersebut menyebut bahwa serangan udara dan rudal yang dilancarkan AS tidak berhasil merusak seluruh fasilitas pengayaan uranium maupun menghancurkan sentrifugal utama Iran. Beberapa pintu masuk fasilitas memang tertutup akibat ledakan, namun bangunan bawah tanah sebagian besar tetap utuh.

Temuan ini memicu kemarahan Presiden Trump yang menuduh media seperti CNN dan The New York Times sengaja “meremehkan” capaian militer AS. Dalam unggahannya di media sosial Truth, Trump menulis dengan huruf kapital: “Situs nuklir di Iran HANCUR TOTAL!”

Gedung Putih, melalui juru bicaranya Karoline Leavitt, membenarkan adanya laporan intelijen tersebut, namun menyebutnya sebagai informasi “sangat rahasia” yang bocor secara tidak bertanggung jawab. Ia juga menyebut kesimpulan laporan itu “keliru besar”.

“Semua orang tahu bahwa ketika Anda menjatuhkan empat belas bom seberat 30.000 pon dengan presisi, hasilnya adalah kehancuran total,” ujar Leavitt di platform X (Twitter).

Utusan Khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, Steven Witkoff, juga membantah laporan tersebut dalam wawancaranya di Fox News. Ia menegaskan bahwa fasilitas nuklir Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordow “sebagian besar, jika tidak semua, telah dihancurkan.”

Menurut Witkoff, serangan tersebut merusak sistem sentrifugal Iran secara signifikan.

“Hampir mustahil bagi mereka untuk menghidupkan kembali program nuklir itu dalam waktu dekat. Bisa memakan waktu bertahun-tahun,” ujarnya.

Serangan besar-besaran itu melibatkan pembom siluman B-2 AS yang menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 ke dua lokasi, serta rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal selam ke situs ketiga.

Presiden Trump menyebut operasi itu sebagai “keberhasilan militer yang spektakuler”, sementara Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menambahkan bahwa Washington telah “menghancurkan program nuklir Iran.”

Namun Jenderal Dan Caine, perwira tinggi militer AS, memberi nada lebih hati-hati. Ia menyebut serangan tersebut memang menyebabkan “kerusakan yang sangat parah”, namun belum tentu berarti kehancuran total.

𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗧𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗗𝗶𝗮𝗺

Sementara itu, Pemerintah Iran melalui Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa negaranya telah mengambil langkah cepat untuk memastikan kelangsungan program nuklir.

“Rencana untuk memulai kembali fasilitas telah disiapkan sebelumnya. Strategi kami adalah memastikan bahwa proses produksi dan layanan tidak terganggu,” kata Eslami kepada televisi pemerintah.

Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bahkan mengatakan bahwa Iran masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya dan memperingatkan, “Permainan belum berakhir.”

Sebelumnya, pada 13 Juni, Israel meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah situs nuklir Iran sebagai bagian dari upaya untuk menggagalkan ambisi nuklir Teheran.

Trump, yang sebelumnya mencoba menempuh jalur diplomasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang ia batalkan pada masa jabatan pertamanya, akhirnya memilih opsi militer dalam menghadapi Iran.

Operasi militer tersebut merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, melibatkan lebih dari 125 pesawat tempur, pembom siluman, pesawat pengisian bahan bakar, kapal selam rudal, serta pesawat pengintaian. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Tujuh Tentara Israel Tewas di Gaza Selatan, Kendaraan Tempur Terbakar Akibat Ledakan

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel (IDF) mengumumkan bahwa tujuh prajuritnya tewas dalam pertempuran sengit di Jalur Gaza selatan pada Selasa (24/6/2025). Para tentara tersebut berada di dalam kendaraan tempur lapis baja yang terkena ledakan kuat saat beroperasi di kawasan Khan Younis.

Menurut pernyataan resmi IDF, kendaraan tempur lapis baja jenis Puma yang ditumpangi para prajurit terkena bahan peledak yang ditanam oleh pejuang Palestina. Ledakan tersebut menyebabkan kebakaran hebat yang menghanguskan kendaraan dan menewaskan seluruh awak di dalamnya. Upaya pemadaman gagal dilakukan, dan kendaraan tersebut akhirnya ditarik keluar dari Jalur Gaza dalam kondisi hangus.

IDF mengidentifikasi enam dari tujuh korban tewas sebagai berikut:

– Letnan Matan Shai Yashinovski (21), dari Kfar Yona

– Sersan Staf Ronel Ben-Moshe (20), dari Rehovot

– Sersan Staf Niv Radia (20), dari Elyakhin

– Sersan Ronen Shapiro (19), dari Mazkeret Batya

– Sersan Shahar Manoav (21), dari Ashkelon

– Sersan Maayan Baruch Pearlstein (20), dari Eshhar

Seluruh korban merupakan anggota Batalyon Teknik Tempur ke-605. Nama prajurit ketujuh yang juga tewas dalam insiden ini masih belum diumumkan secara resmi.

Dalam pernyataan terpisah, IDF juga melaporkan bahwa satu tentara lainnya dari batalyon yang sama mengalami luka parah dalam insiden berbeda di wilayah selatan Gaza pada hari yang sama. (Bahry)

Sumber: TOI

Al-Qassam Rilis Video Baru Operasi “Batu Daud”, Klaim Tewaskan Puluhan Tentara Israel di Khan Yunis

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, merilis video terbaru pada Selasa (24/6/2025) yang menampilkan dokumentasi serangan dalam rangkaian operasi yang mereka sebut sebagai “Batu Daud”. Video ini memuat sejumlah aksi perlawanan yang menargetkan tentara dan kendaraan militer Israel di wilayah timur Khan Yunis, Jalur Gaza selatan.

Dalam tayangan tersebut, sejumlah operasi disebut berhasil menimbulkan korban di pihak militer Israel. Berikut rincian waktu dan lokasi serangan yang diungkapkan Al-Qassam:

– 11 Juni 2025, di Al-Sanati, Abasan al-Kabira, timur Khan Yunis:
Operasi penembakan oleh penembak jitu terhadap pasukan Israel mengakibatkan dua tentara mengalami luka serius.

– 15 Juni 2025, di Al-Qudayhat, Abasan al-Kabira:
Sebuah bangunan yang diklaim digunakan oleh 11 tentara Israel menjadi sasaran rudal TBG dan roket. Serangan ini menyebabkan sejumlah tentara tewas dan luka-luka. Brigade Al-Qassam juga melaporkan keberhasilan dalam menargetkan pengangkut personel lapis baja dengan alat peledak.

– 16 Juni 2025, di Abasan al-Kabira:
Operasi gabungan antara Brigade Al-Qassam dan Brigade Al-Quds diklaim menewaskan dan melukai beberapa tentara Israel.

– 18 Juni 2025, di Al-Sanati, Abasan al-Kabira:
Operasi penembak jitu gabungan dengan Saraya al-Quds dilaporkan menewaskan seorang sersan pertama dari Unit Teknik militer Israel.

Selain video, Brigade Al-Qassam juga merilis pernyataan tertulis pada hari yang sama. Dalam keterangan resminya, mereka menyebut:

“Pejuang Al-Qassam melakukan penyergapan kompleks terhadap pasukan Zionis yang bersembunyi di sebuah rumah dengan rudal ‘Yassin 105’ dan rudal ‘RBG’, menewaskan dan melukai tentara musuh. Setelah itu, bangunan tersebut kembali dihantam dengan tembakan senapan mesin di area ‘Old License’, selatan Khan Yunis.”

Masih dari wilayah yang sama, Brigade Al-Qassam juga mengklaim telah menargetkan tank Merkava milik Israel dengan alat peledak jenis “Shawaaz” dan rudal “Yassin 105”.

Seluruh informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional karena keterbatasan akses ke wilayah konflik.

Warga Teheran Mulai Kembali, Ketegangan Masih Bayangi Pasca Gencatan Senjata

TEHERAN (jurnalislam.com)- Ribuan warga kembali memadati jalan-jalan utama di Teheran, Iran, menyusul laporan bahwa Iran dan Israel telah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, pada Selasa (24/6/2025). Sebelumnya, warga ibu kota sempat berbondong-bondong meninggalkan kota setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran.

Kini, banyak warga yang kembali ke Teheran dengan harapan situasi akan membaik. Namun, seperti dilaporkan The Guardian, kehidupan di ibu kota Iran masih diwarnai ketegangan, gangguan, dan ketidakpastian.

Anahita, seorang perempuan berusia 30-an yang tinggal di Teheran, mengaku pekan terakhir menjadi masa yang penuh kecemasan bagi warga.

“Internet mati selama tiga hari. Kami tidak tahu kota mana yang diserang atau di mana evakuasi diumumkan. Orang-orang benar-benar ketakutan,” ungkapnya kepada media Inggris tersebut.

Serangan udara Israel beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan menyebabkan kerusakan besar di Teheran dan sejumlah kota lainnya. Di Provinsi Gilan, sembilan orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Meski televisi pemerintah Iran telah mengonfirmasi adanya gencatan senjata, sebagian warga tetap khawatir konflik belum benar-benar usai.

“Bom belum benar-benar berhenti,” kata Anahita.

“Banyak teman saya kembali ke kota hanya karena harus bekerja. Mereka tidak bisa terus tinggal di luar Teheran.”

Di jalan-jalan utama, keamanan diperketat. Pos pemeriksaan didirikan, dan aparat melakukan pemeriksaan kendaraan serta ponsel warga. Media pemerintah juga melaporkan adanya puluhan penangkapan terkait tuduhan spionase dan kolaborasi dengan Israel.

“Hari ini mereka umumkan penangkapan dan eksekusi,” tambah Anahita.

“Itu menakutkan. Bahkan jika seseorang bersalah, seharusnya tetap ada pengadilan yang adil.”

Banyak warga juga mengaku khawatir akan kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik berikutnya.

“Kami takut fasilitas nuklir seperti di Bushehr akan diserang lagi. Itu bisa memicu bencana seperti Chernobyl,” ungkap narasumber The Guardian.

Gencatan senjata diumumkan beberapa jam setelah operasi militer Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran. Presiden Trump mengklaim bahwa operasi tersebut berhasil menghancurkan target-target utama milik Iran. Gedung Putih juga menyatakan bahwa mereka telah “menghilangkan ancaman nuklir dan balistik” dari Iran, serta memperingatkan akan ada respons tegas jika perjanjian gencatan senjata dilanggar. (Bahry)

Sumber: TRT