PBNU Dorong MUI Berperan Sebagai Penjaga Akhlak Umat dan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam.

Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar. Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

 

Sebagai organisasi keulamaan, MUI mengemban risalah kenabian. Risalah kenabian paling utama adalah risalah keutamaan akhlak. Nabi sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak umatnya. Sesuai hadis nabi Muhammad SAW, innama buitstu li utammima makarimal akhlak.

 

“Untuk itu, MUI harus memantabkan diri sebagai penjaga akhlak umat dan bangsa, menjadi teladan makarimal akhlak oleh ulama untuk kemaslahatan bangsa. Akhlak ulama akan menjadi faktor munculnya keberkahan bagi umat dan bangsa, terutama saat berada dalam krisis,” ujarnya.

 

Bentuk makarimal akhlak yang ingin dicapai pada Milad ke-45 adalah terus menerus istiqomah mendakwahkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan menyatukan.

Bukan sebaliknya yaitu membelah dan menegasikan perbedaan. Ulama juga harus mengedepankan prinsip tasamuh (toleransi) dalam hubungan insaniyah, tafahum (saling pengertian) dan mengedepankan maslahah ammah (kepentingan umum) atas dasar ukhuwah.

 

“Ulama juga menjauhi sikap dan perilaku ananiyyah (egoisme) dan ‘ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme kelompok), yang bisa mengakibatkan ‘adawah (saling permusuhan), tanazu’ (pertentangan), dan syiqaq (perpecahan) di antara kita,” katanya.

 

Kiai Miftah menilai, hal-hal yang harus dihindari itu merupakan sebab pasang surut ukhuwah Islamiah. Sikap yang cenderung mengedepankan ananiyyah dan ashabiyyah baik ashabiyyah hizbiyah maupun ashabiyyah jam’iyyah itu merusak konsistensi ukhuwah.

 

“Untuk itulah, perlu ada komitmen untuk terus memupuk ukhuwah Islamiyah kita di tengah realitas perbedaan yang ada. MUI tanpa komitmen menghargai perbedaan dengan semangat ukhuwah islamiyah dan al tafahum akan kehilangan makna sebagai tenda besar,” pungkasnya.

Madarasah Diiznikan Buka di Zona Hijau dan Kuning, Ini Syaratnya

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Fachrul Razi memperbolehkan madrasah di zona hijau dan kuning untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, ada syaratnya dan madrasah harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hal ini disampaikan Menag dalam webinar Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. “Madrasah boleh memilih (pembelajaran tatap muka), dengan pertimbangan masing-masing. Namun tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan, agar semuanya tetap aman,” kata Menag pada Webinar yang disiarkan pada kanal Youtube Kemendikbud RI, Jumat (07/08). 

Menag menyampaikan hal ini diputuskan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuatnya bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri. “Saya akan dukung apa yang sudah disampaikan (Mendikbud) tadi. Sama-sama kita dukung ini, sama-sama kita upayakan untuk mensukseskan dengan sebaik mungkin,” ujar Menag 

Sekurangnya ada empat hal yang menjadi persyaratan madrasah atau pun pesantren melakukan pembelajaran tatap muka. Pertama, lingkungan madrasah/pesantren aman covid. Kedua, guru, ustadz, atau pengajar lainnya aman covid. Ketiga, murid atau santrinya aman covid. Keempat, pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat. 

Menag juga menuturkan, saat ini hampir seluruh pesantren di Indonesia telah melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka. Dengan melakukan empat hal di atas, Menag menyampaikan bahwa kondisi pesantren hingga saat ini aman dari penyebaran Covid-19. 

“Alhamdulillah sejauh ini boleh dikatakan yang kita tahu, hanya ada tiga pesantren (ada kasus covid-19). Jadi kalau dihitung presentasenya hanya 0,0000 sekian persen,” imbuh Menag. 

Menag menyampaikan, pembukaan madrasah tentunya memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan pesantren. “Kalau pesantren, ustadz dan santrinya masuk, sudah tidak keluar lagi. Masuknya sehat, di dalam suasana sehat, kemudian nggak boleh keluar lagi, protokol kesehatan diterapkan, Alhamdulillah semua sehat,” kata Menag.

“Sementara kalau di madrasah kan siswanya datang, kemudian kembali lagi ke rumah. Kita tidak tahu dia mampir kemana dulu,” lanjutnya. 

Untuk itu Menag mengajak masyarakat khususnya orang tua siswa untuk ikut memantau pergerakan siswa bilamana madrasah mulai melakukan pembelajaran tatap muka. “Ingatkan anaknya agar langsung pulang ke rumah,” pesan Menag. 

Kiai Ma’ruf Bersyukur MUI Berhasil Jadi Wadah Silaturahim Ormas Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menyatakan, MUI patut bersyukur karena berhasil menjadi saluran silaturahim antar ormas Islam.

Ada sekitar 70 ormas Islam di dalam MUI yang terdiri dari beragam corak madzhab yang berbeda-beda, namun minim sekali konflik internal yang terdengar di dalamnya.

Dalam acara peringatan Milad ke-45 MUI, Jum’at (07/08) malam, Kiai Ma’ruf menyampaikan, apa yang dicapai MUI sudah luar biasa. Mui sudah bermur 45 tahun dan masih sehat, masih bugar, masih kompak, masih kokoh.

“Ini sesuatu yang tidak mudah, padahal MUI terdiri dari berbagai macam ormas Islam yang tentu ada perbedaan ada kesamaan, tetapi dengan izin Allah dengan kemampuan yang kita lakukan, kita masih bisa mengelola MUI ini masih tetap utuh,” ungkapnya saat acara Milad ke-45 MUI, Jumat (07/08) di Rumah Dinas Wapres, Jakarta.

Karena itu, ia berharap, jangan sampai nasib MUI seperti perhimpunan-perhimpunan lain yang usianya tidak lama sebab adanya selisih paham antar tokoh.

Menurutnya, MUI sudah lama membangun kesamaan pandangan di dalam organisasi. Kesamaan pandangan yang kerap disebut ‘taswiyatul manhaj’ itu masuk dalam dasar organisasi MUI. Taswiyatul manhaj ini, tuturnya, membuat terbangunnya toleransi terhadap pendapat yang berbeda, sepanjang perbedaan itu masih dalam koridor ‘mukhtalaf fiih’. Tetapi tentu saja tidak akan diberikan toleransi kalau itu sudah mujma’ alaih.

 

Rais Aam PBNU: Umat Islam Indonesia Harus Bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam. Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar.

Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

Dia ingin, MUI terus istiqomah mengemban peran sebagai tenda besar ini. Perbedaan-perbedaan antra ormas Islam satu dengan yang lainnya semestinya bisa dijembatani oleh MUI.  Ia menilai MUI sukses menjadi wadah titik temu ormas Islam.

Kiai Miftah mencermati, ada tiga kondisi perbedaan di dalam umat Islam yang itu harus dipahami sehingga tetap bersatu di bawah ukhuwah Islamiah.

Perbedaan itu, ujar dia, muncul karena perbedaan tafsir terhadap suatu masalah, yang masih mungkin disatukan. Pada kondisi seperti ini, maka upaya menyatukan menjadi suatu hal yang amat mulia sesuai dengan kaedah “al-khuruj minal khilaf mustahabb”.

 

Sedangkan perbedaan kedua berdasar pada ijtihadi dengan argumen shahih pada wilayah majalul ikhtilaf. Perbedaan di titik ini tidak mungkin disatukan.

Maka perlu dibangun komitmen saling pengertian atau saling memahami untuk mewujudkan harmoni di tengah perbedaan. Sementara perbedaan ketiga adalah perbedaan yang harus diluruskan karena sudah masuk kategori menyimpang.

 

“Ketiga, perbedaan terhadap masalah keagamaan yang masuk kategori ma’lum mind din bi al-dlarurah, seperti tentang otentisitas al-Quran, soal kewajiban shalat, maka pada hakekatnya, ini bukan wilayah perbedaan yang bisa dimaklumi,” katanya.

 

“Dalam Islam, perbedaan pendapat yang ditoleransi adalah perbedaan pendapat yang dengan dlawabith dan hudud, bukan waton suloyo atau asal beda tanpa kaedah yang dibenarkan.Yang ketiga ini adalah penyimpangan yang harus diluruskan,” imbuhnya.

 

Pemahaman terhadap jenis-jenis perbedaan itu penting sehingga bijak dalam merespon sebuah perbedaan. Dalam kondisi Pandemi Covid-19 seperti sekarang, menurut Kiai Miftah, salah satu caranya adalah komitmen bersama melalui persatuan.

Bersatu dalam bingkai ukhuwah di tengah perbedaan, bukan dengan bercerai berai dan saling menyalahkan.

45 Tahun MUI, Menag Apresiasi Kiprah Ulama Membangun Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, ulama adalah tokoh yang tak pernah lelah mengabdi kepada bangsa dan negara dari dulu hingga sekarang.

Ia memuji kiprah Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah berkumpul alim ulama dalam pembangunan bangsa.

 

“Ulama yang tak kenal lelah mengabdi dan mengawal bangsa sepanjang waktu. Semoga MUI terus berkiprah dan memberi warna bagi pembangunan Indonesia, bangsa Indonesia,” ujarnya di acara Milad ke 45 MUI yang diadakan secara virtual, Jumat (7/8/2020) malam.

 

MUI merupakan wadah persatuan para ulama yang ikut mengusir para penjajah pada era pra kemerdekaan. Setelah merdeka, kehadiran MUI juga masih terus diharapkan oleh umat sampai sekarang.

 

“Salah satu unsur penting dalam perjuangan (Indonesia) tersebut adalah hadirnya para ulama, dan tokoh-tokoh agama yang kemudian bergabung dalam wadah Majelis Ulama Indonesia atau biasa disebut dengan MUI. Didirikan pada tanggal 17 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juni 1975 Masehi oleh Munas pertama Majelis Ulama se-Indonesia di Jakarta,” tuturnya.

 

“MUI adalah wadah musyawarah ulama dan cendekiawan muslim untuk mengamalkan ajaran Islam untuk ikut serta mewujudkan masyarakat yang Aman damai adil makmur rohaniah dan jasmaniahnya diridhoi Allah Subhanahu wa taala dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

 

Menag bilang, fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI yang meluruskam dan menyejukan masyarakat, yakni di tengah-tengah persoalan, khususnya wabah Covid-19 yang sedang dihadapi kali ini.

Kementerian Agama dan MUI merupakan partner yang saling berdampingan. Terlebih, sebagian langkah-langkah yang diambil MUI sejalan dengan pemerintah.

 

“Banyak fatwa yang telah diterbitkan MUI, dan itu sangat berhubungan dengan tugas-tugas Kementerian Agama dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersamaan,” pungkasnya.

RSUD Bogor Siap Operasikan Laboratorium PCR

BOGOR(Jurnalislam.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor dalam waktu dekat akan mengoperasikan Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengakserasi mitigasi infeksi Covid-19 di Kota Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim meninjau persiapan laboratorium PCR atau di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Jalan Semeru, Bogor Barat, Jumat (7/8/2020).

 

Dalam kesempatan itu, Bima Arya mengatakan, sebagai ‘alumni Covid-19’ dirinya tidak menyesal telah memutuskan untuk dirawat di RSUD Kota Bogor saat hasil tes menyatakan sang wali kota terkonfirmasi positif.

 

“Saya tidak pernah menyesal dan merasa keputusan itu tepat untuk dirawat di RSUD. Padahal waktu itu ada orang juga yang mengingatkan dan bilang ‘Pak wali, sebaiknya dirawat di Jakarta saja lebih siap, lebih pengalaman. RSUD kan belum pengalaman, jangan ambil risiko.’ Yakinilah tidak ada yang kebetulan, semua itu ada hikmahnya. Bayangkan, RSUD ini saya yang meresmikan gedungnya, saya pula jadi pasien Covid pertamanya disitu. Tapi lagi-lagi saya percaya bahwa semuanya itu sudah jalan-Nya,” ungkap Bima.

 

Namun, lanjut Bima, ujian belum selesai. Ia meminta RSUD Kota Bogor membuktikan bahwa telah memiliki sistem yang siap.

 

“Saya senang dan bangga. Diulang tahun ke-6 ini, Pemkot Bogor mengumumkan kepada publik bahwa laboratorium PCR segera beroperasi di RSUD ini untuk memenuhi target kita 11 ribu swab sesuai standar WHO, yakni 1 persen dari jumlah penduduk. Sekarang sudah 8.400 swab, mungkin sekitar satu bulan lagi bisa 11 ribu ya,” jelasnya.

 

Bima menambahkan, Laboratorium PCR sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas uji diagnostik spesimen Covid-19.

 

“Apalagi kita membaca bahwa kalaupun selesai covid ini tidak akan selesai dalam waktu yang cepat, masih lama. Kalaupun Covid nanti sudah selesai, alat ini tetap akan dibutuhkan untuk case lainnya,” ujarnya.

 

“Semoga RSUD bisa semakin mengakselerasi mitigasi infeksinya. Ketika satu orang ketahuan positif, ini kan ada Detektif Covid langsung bergerak, ada tracing kontaknya melalui unit lacak dan unit pantau. 2 x 24 jam muncul nama-nama ODP lalu kita tes swab dan hasilnya bisa kita ketahui segera karena ada Lab PCR di RSUD. Jadi, membuat sistem ini lebih terakselerasi, memaksa sistem bekerja. Insya Allah segera prosesnya kita percepat. Mudah-mudahan Minggu depan bisa dioperasionalkan Lab PCR ini,” tambahnya.

 

Di tempat yang sama, Direktur Utama RSUD Kota Bogor dr Ilham Chaidir mengungkapkan, saat ini proses pengoperasian laboratorium PCR di RSUD masih menunggu izin dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan.

 

“Laboratorium PCR kita masih menunggu keluar izin. Sudah diajukan surat ke Dinkes Provinsi dengan bantuan dari Dinkes Kota Bogor. Nanti akan ada visitasi dari provinsi untuk diajukan ke Kemenkes, kemudian nanti keluar izin. Mudah-mudahan bisa cepat karena sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan diagnostik kami,” terang Ilham.

 

Ia menambahkan, jika sudah beroperasi kapasitas uji diagnostik maksimal bisa mencapai 200 spesimen per hari.

 

“Jadi, hasil swabnya bisa keluar satu hari. Kapasitasnya nanti sekitar 96 spesimen untuk sekali running. Maksimal bisa 2-3 kali running, Mudah-mudahan kemampuan diagnostik kita menjadi meningkat sehingga lebih mempermudah tracing dalam mitigasi serta fungsi RSUD lebih kompleks,” katanya.

 

Saat ini, RSUD Kota Bogor sudah menyiapkan 112 tempat tidur khusus untuk pasien Covid yang dirawat. “Delapan tempat tidur diantaranya sudah memiliki ventilator dan tekanan negatif. Tempat tidur yang terisi ada 64 dari 112 kapasitas,” terangnya.

 

Nama RSUD

Dalam kesempatan tersebut juga Bima Arya meminta masukan dari berbagai pihak untuk pilihan nama yang akan dipakai menjadi nama RSUD. “RSUD ini harus punya nama. Masa RSUD Kota Bogor terus. Untuk identitas sangat perlu. Silahkan diusulkan nanti teman-teman dewan bisa mengusulkan, RSUD bisa mengusulkan, dan lain sebagainya. Usulkan nama yang meyakinkan, punya kredibilitas terutama dibidang kesehatan. Saya inginnya nama dari tokoh Bogor yang lekat dengan perjuangan dibidang kesehatan,” ujar Bima.

‘Keberkahan yang Lahir di Negeri Ini Karena Kehadiran Ulama’

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Fachrul Razi menuturkan berbagai keberkahan yang selalu dirasakan bangsa Indonesia, seperti kemerdekaan dan kedamaian, adalah berkat hadirnya para ulama.

“Berbagai keberkahan yang lahir di bumi kita tercinta adalah saksi atas kiprah para ulama dalam mengawal pembangunan,” tutur Menag dalam sambutannya pada peringatan Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-45, di Jakarta, Jumat (07/08).

“Sejarah tak boleh dilupakan oleh bangsa ini. Ulama dan Umaro adalah dua entitas yang tak bisa dipisahkan, juga tak saling menegasikan. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang saling menguatkan, melengkapi dan memotivasi,” lanjut Menag yang menyampaikan sambutannya melalui sambungan videoconferense.

Keberadaan MUI sebagai wadah musyawarah para ulama, menurut Menag juga menjadi keuntungan tersendiri dalam pengelolaan negara Indonesia yang majemuk dan religius.

Ia mencontohkan, setiap ada upaya memecah belah bangsa dengan membawa bendera agama, MUI selalu tampil dengan fatwa-fatwa yang meluruskan dan menyejukkan. “MUI juga menjadi partner pemerintah dalam berkonsultasi memecahkan persoalan kemasyarakatan dan bangsa,” kata Menag.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak untuk melihat kiprah para ulama sejak zaman sebelum kemerdekaan. Ia menyampaikan, sebagai negara yang diberkahi sumber daya alam, Indonesia adalah negara yang menarik dunia luar untuk datang.
“Seperti itulah dahulu bangsa-bangsa luar datang berusaha menguasai sumber daya alam kita yang melimpah. Ratusan tahun kita dijajah, namun kekuatan persatuan anak-anak bangsa berhasil mengusir para penjajah dari bumi nusantara tercinta,” paparnya.
“Dan salah satu unsur penting dalam perjuangan tersebut adalah hadirnya para ulama, tokoh agama, yang kemudian bergabung dalam wadah Majelis Ulama Indonesia (MUI),” imbuh Menag.
Berdasarkan catatan sejarah, diketahui bahwa MUI didirikan pada tanggal 17 Rajab 1395 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975, oleh Munas 1 Majelis Ulama se Indonesia, di Jakarta.
Hadir dalam peringatan Milad MUI ke-45 tersebut Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin, dan Wakil Menteri Agama KH Zainut Tauhid Sa’adi.

Rais Aam PBNU Apresasi MUI Sukses Jadi Wadah Titik Temu Ormas Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam. Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar.

Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

 

Dia ingin, MUI terus istiqomah mengemban peran sebagai tenda besar ini. Perbedaan-perbedaan antra ormas Islam satu dengan yang lainnya semestinya bisa dijembatani oleh MUI.

Ibarat benang-benang yang berupa warna, tugas MUI menjahit benang-benang itu menjadi pakaian yang enak dipakai dan nyaman dipandang.

 

“MUI diharapkan terus istiqomah memerankan fungsi dalam menjahit perbedaan yang ada menjadi satu model pakaian yang satu, yang enak dipakai, dan elok dipandang. Pengurus MUI ibarat desainer handal yang meracik warna-warni kain menjadi satu kesatuan dalam satu tema bersatu dalam perbedaan, mencari titik temu atas perbedaan yang bisa disatukan, dan mewujudkan sikap saling memahami atas perbedaan yang tak mesti harus disatukan,” katanya.

 

Sebagai wadah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, Kiai Miftah menilai MUI memiliki peran sangat penting.

Utamanya dalam menjalankan perannya sebagai melting pot, titik temu, rumah besar Umat Islam yang terdiri dari banyak kamar namun disatukan dengan dinding ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, MUI selama ini telah menjalankan peran sebagai majelis ini dengan baik.

 

“Komitmen ukhuwwah Islamiyyah inilah yang menjadi titik temu dalam warna warni organisasi ke-Islaman di Indonesia. Dan saya melihat MUI telah menjalankan fungsi ini secara sangat baik. MUI telah memfungsikan dirinya sebagai “majlis”, sebagai tempat duduk, di dalamnya berhimpun berbagai ormas Islam yang berbeda-beda, untuk meneguhkan khidmah persatuan umat dan bangsa,” ungkapnya.

Muhammadiyah Sebut MUI Berperan Rekatkan Ukhuwah Umat dan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

 

“Merekatkan ukhuwah dalam berbagai aspek dan golongan serta menjadi uswah hasanah di dalam memajukan dan membangun kebersamaan di republik tercinta ini,” kata Prof Haedar dalam sambutannya di acara Milad MUI ke-45 yg diadakan secara virtual, Jumat (07/08) malam.

 

Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim terbesar di Dunia haruslah memiliki  berbagai macam keunggulan pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlaq mulia dan kecerdasaan keilmuan.

 

Menurutnya, kuantitas mayoritas harus tetap diimbangi dengan kualitas, terutama penguasaan teknologi dan peran kemanusiaan dalam kehidupan umat dan bangsa.

 

“Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan,” ungkap dia.

 

Prof. Haidar juga menyampaikan harapan dan doa terbesarnya kepada MUI untuk memajukan Indonesia, mencerahkan umat, dan membawa pesan rahmatan lil alamin bagi kemanusiaan alam semesta

 

“Mudah-mudahan seluruh ulama, zuama dan cendikiawan Muslim yg berhimpun di MUI tetap menjaga dan menjadi kekuatan yang menjunjung tinggi marwah Islam untuk Rahmatan Lil Alamin,” pungkasnya.

Festival Ekonomi Syariah 2020 Diharap Jadi Stimulus Pemulihan Ekonomi Indonesia

BATU(Jurnalislam.com)–Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berharap Festival Ekonomi Syari’ah 2020 bisa menjadi stimulus bagi proses pemulihan perekonomian di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Khofifah saat menghadiri Kick Off 7th ISEF 2020 yang dibuka secara virtual bersama Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin di Ballroom Hotel Amarta Hills Batu pada Jumat (7/8).

 

Pada kesempatan ini Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESYar) 2020 regional Jawa yang akan digelar pada Oktober mendatang pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020.

 

Khofifah menjelaskan, penyelenggaraan ekonomi syariah di Jawa Timur secara aktif telah dilakukan di berbagai aspek. Dimulai dari produk fashion, makanan halal, hotel dan wisata syariah, UMKM, produk pertanian dan perbankan syariah.

 

Mengingat di Jawa Timur terdapat lebih 6000 pesantren, maka pemberdayaan ekonomi pesantren di Jawa Timur terus didorong. Khususnya untuk pesantren antara lain dilakukan melalui program OPOP (One Pesantren One Product), penyelenggaraan training Juleha (Juru Penyembelihan Halal) serta inisiasi produk halal, keuangan syariah, dana sosial syariah dan ikhtiar penguatan ekonomi syariah lainnya.

 

Melalui FESYar 2020, diharapkan juga bisa memberi dampak dan manfaat yang besar bagi masyarakat secara luas.

 

“Mudah-mudahan FESYar 2020 ini bisa memberi manfaat dan keberkahan yang luas bagi bangsa Indonesia,” harap Khofifah.

 

Adapun, Wapres RI KH. Ma’ruf Amin juga menyampaikan harapan besar agar Indonesia dapat menjadi referensi negara-negara lain di dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

 

“Saya sangat mendukung penyelenggaraan ISEF sebagai upaya mendorong ekonomi dan keuangan syariah agar menjadi arus utama kebijakan nasional dan internasional. Sekaligus menjadikan Indonesia sebagai referensi dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” ujar mantan ketua MUI ini.

Reporter: Budi