Pidato Perdana, Ketua MUI KH Miftachul Akhyar Ingin Setiap Ormas Islam Saling Bekerjasama

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Umum terpilih Majelis Ulama Indonesia periode 2020-2025, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan pidato perdananya saat penutupan Munas X MUI.

Dalam sambutannya, dia mengatakan misi berdakwah yang akan dia emban selama lima tahun kedepan bukanlah hal mudah. Menurutnya tugas baru yang harus dia pikul merupakan amanah yang sangat berat.

“Saya ini yang lebih terbebani daripada yang lain karena saat ini bukan hanya anak bangsa, tetapi  dunia juga menanti kiprah dan apa yang akan kita suguhkan kepada mereka,” ujarnya dalam arena Munas X MUI, di Jakarta, Jumat (27/11).

Kiyai Miftach, begitu akrab disapa, juga memaparkan konsep berdakwah yang akan dia lakoni selama masa kepemimpinannya nanti, dimana dia akan membawa arus dakwah Islam menjadi lebih berwarna dengan menyongsong nilai kedamaian agama Islam sebagai ciri khas cara berdakwahnya tanpa ada sistem provokasi yang justru bisa memecah belah umat Muslim terutama di Indonesia.

“Dakwah itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela,” paparnya.

Dia memahami bahwa Indonesia sangat erat kaitannya dengan keberagaman bangsa dan organisasi keagaaman di dalamnya. Maka dari itu,d ia memandang menjadi perlu untuk adanya kerjasama dengan setiap ormas-ormas keislaman.

Menurut dia, mengemban tugas berdakwah bersama, dengan menyatukan visi dan misi dari setiap ormas-ormas Islam yang ada dan saling mempererat tali silaturahim dalam rangka memberikan kemajuan untuk masyarakat Muslim di nusantara.

“Tugas berat ini, tidak bisa ditangung sendiri, tetapi kebersamaan, mari tetap jaga silaturahim, bagaimana Indonesia yang merupakan negara terbesar penduduk Muslimnya, bukan besar jumlahnya, tapi pikiran, produk-produknya, dinantikan umat dan bangsa di seluruh dunia,” kata dia.

Munas X MUI resmi ditutup Jumat (27/11). Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof KH Ma’ruf Amin, menutup secara resmi perhelatan lima tahunan ini. Selain menetapkan kepengurusan baru periode 2020-2025, mengeluarkan rekomendasi eksternal dalam dan luar negeri. Rekomendasi itu tertuang dalam Taujihat Jakarta merespons berbagai persoalan yang tengah terjadi.

Kapolres Bogor: Habib Rizieq Pulang, Yang Sebut Kabur Media

BOGOR(Jurnalislam.com)– Kapolres Kota Bogor Kombes Hendri F membantah kabar hoaks kalau Habib Rizeq Shihab kabur dari Rumah Sakit Ummi Bogor.

“Kalau rumah sakit bilang sembuh atau bagaimana terserah. Yang bilang kabur kan temen-temen wartawan semua ketika meninggalkan rumah sakit Ummi,” pungkasnya kata dia, Ahad (29/11/2020).

Ia mengatakan sang habib pulang setelah menjalani pemeriksaan, bukan kabur.

“Meninggalkan rumah sakit, kategori kabur bukan. Siapa yang menyimpulkan kabur,”

Menurutnya, polisi, menurutnya, tak pernah mengatakan Habib Rizieq kabur.

“Kita tidak pernah bilang kabur.” tambah dia.

(Dony/viva)

Kapolres Bogor: Habib Rizieq Pulang, Yang Sebut Kabur Media

BOGOR(Jurnalislam.com)– Kapolres Kota Bogor Kombes Hendri F membantah kabar hoaks kalau Habib Rizeq Shihab kabur dari Rumah Sakit Ummi Bogor.

“Kalau rumah sakit bilang sembuh atau bagaimana terserah. Yang bilang kabur kan temen-temen wartawan semua ketika meninggalkan rumah sakit Ummi,” pungkasnya kata dia, Ahad (29/11/2020).

Ia mengatakan sang habib pulang setelah menjalani pemeriksaan, bukan kabur.

“Meninggalkan rumah sakit, kategori kabur bukan. Siapa yang menyimpulkan kabur,”

Menurutnya, polisi, menurutnya, tak pernah mengatakan Habib Rizieq kabur.

“Kita tidak pernah bilang kabur.” tambah dia.

(Dony/viva)

Beredar Hoaks Habib Rizieq Kabur, Polisi: Kami Tidak Pernah Bilang Kabur

BOGOR(Jurnalislam.com)– Kapolres Kota Bogor Kombes Hendri F membantah kabar hoaks kalau Habib Rizeq Shihab kabur dari Rumah Sakit Ummi Bogor.

Ia mengatakan sang habib pulang setelah menjalani pemeriksaan, bukan kabur.

“Meninggalkan rumah sakit, kategori kabur bukan. Siapa yang menyimpulkan kabur,”kata dia, Ahad (29/11/2020).

Polisi, menurutnya, tak pernah mengatakan Habib Rizieq kabur.

“Yang bilang kabur kan wartawan, temen temen semua yang buat tulisan kabur.,” tambah dia.

Bagi Kapolresi, siapapun masyarakat yang ingin berobat, mau datang malam, mau datang pagi itu kan urusan masyarakat dengan  rumah sakit.

“Kalau rumah sakit bilang sembuh atau bagaimana terserah. Kita tidak pernah bilang kabur yang bilang kabur kan temen-temen wartawan semua ketika meninggalkan rumah sakit Ummi,” pungkasnya.

Ini Rekomendasi Musyawarah Nasional MUI X

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Musyawarah Nasional X  Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan sejumlah rekomendasi internal dan eksternal.  Rekomendasi tersebut tertuang dalam Taujihat Jakarta yang diterbitkan pada Sidang Pleno Munas X MUI, Kamis, 26 November 2020.

Dalam Taujihat Jakarta yang dibacakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Amany Lubis ini, terkandung beberapa rekomendasi internal terkait kebijakan pemerintah maupun kehidupan politik bangsa. Salah satunya MUI mendorong agar pemerintah mampu menciptakan dunia politik yang mengedepankan etika dan moral, juga berorientasi pada aspirasi masyarakat untuk tercapainya kehidupan politik yang demokratis, nomokratis, beretika, dan bermoral.

Pemerintah dan aparat penegak hukum diharapkan mampu menegakkan hukum secara tegas, istiqamah agar dapat diwujudkan keadilan dan tegaknya kebenaran. Penegakan hukum yang diskriminatif dan tebang pilih dianggap hanya akan mengecewakan dan membuat masyarakat apatis dan kurang menghargai aparat dan lembaga penegak hukum dan pemerintah. Hal ini dapat berdampak pada kurangnya partisipasi masyarakat luas dalam mendukung pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan.

Selain itu, menyikapi terus meningkatnya angka penyebaran virus corona yang masih tinggi, MUI berharap seluruh masyarakat agar menetapkan protokol kesehatan secara ketat dan istiqomah dengan tetap bertawakkal kepada Allah, serta mendukung sepenuhnya kepada pemerintah untuk bisa menemukan vaksin covid-19 yang halal untuk diberikan kepada masyarakat. Setiap lembaga pemerintah dan komponen masyarakat juga diharapkan untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam upaya mengatasi dampak negatif Covid-19, terutama di bidang perekonomian masyarakat.

 

Dalam dunia pendidikan, Penyelenggaraan pendidikan di tengah wabah Covid-19 hendaknya mampu memadukan secara tepat dan serasi antara kebutuhan mendapat ilmu pengetahuan dan ketrampilan dengan kebutuhan agar semua anak didik tetap sehat dan terlindungi dari virus Covid-19.

MUI juga mendorong agar setiap elemen bangsa kembali kepada Khittah Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 di semua bidang kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Termasuk dalam tatanan beragama, penerapan paradigma Islam Wasathiyah dalam kehidupan umat Islam, kehidupan masyarakat, dan berbangsa dianggap perlu untuk mewujudkan tatanan yang harmonis, damai, toleran, dan tertib.

Sementara itu, rekomendasi yang terkait dunia internasional, dalam konteks global masih didapati perlakuan terhadap umat Islam yang diskriminatif dan tidak sesuai demokrasi, HAM, dan keadilan di berbagai belahan dunia, termasuk di beberapa negara di Asia dan Eropa. Dalam hal ini, menjadi penting bagi MUI untuk mengambil peran dalam mengingatkan kembali para pimpinan negara-negara yang selama ini dipandang belum menerapkan persamaan dan keadilan bagi warganya yang beragama Islam, agar mampu memperlakukan warganya Muslimnya secara tepat, proporsional serta sesuai demokrasi, hukum, dan HAM.

STTD Al Hikam Surakarta Gelar Tabligh Akbar dan Galang Donasi untuk Penghafal Qur’an

SOLO (jurnalislam.com)- Sekolah Tahfizh Tingkat Dasar (STTD) Al Hikam Surakarta menggelar kegiatan tabligh akbar bertajuk ‘Pesan Cinta Dari Penghafal Al Qur’an’ bersama ustaz ‘Cinta’ Restu Sugiharto di Ballroom Riyadi Palace Hotel, Solo pada sabtu, (28/11/2020).

 

Dalam kesempatan tersebut, ustaz restu Sugiharto mengajak masyarakat untuk bisa menjadi ahli ahli sedekah di dunia, karena menurutnya ada 7 amalan yang nanti akan tetap bisa mengalirkan pahala meski yang orang tersebut sudah meninggal.

 

“Yakni wakaf Al Quran, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, anak anak yang sholih dan sholihah, membangun masjid, membangun rumah singgah, panti asuhan, rumah tahfidz, pondok pesantren, wakaf air dan infak dan sedekah di saat masih hidup dan sehat,” paparnya.

 

Sementara itu, Kepala sekolah STTD Al Hikam Surakarta ustaz Saerozy mengatakan, bahwa dalam kegiatan tabligh akbar tersebut, pihaknya juga melakukan penggalangan dana untuk pembebasan lahan yang nantinya akan digunakan sebagai asarama di STTD Al Hikam.

 

“Tujuan acara ini yaitu, pertama untuk memahamkan kepada wali santri khususnya dan juga umat Islam atau warga yang mendukung sekolah kami. Dan selanjutnya bahwa kita ini punya proyek besar yaitu pembebasan tanah yang berada di sebelahnya masjid Salamah Surakarta,” katanya

 

“Kemudian rencana tanah tersebut akan kami gunakan untuk asrama dan sekolah tahfid tingkat dasar, kebetulan rumah tersebut mau dijual dan luas tanah tersebut 133 m dengan total harga 750 juta. Jadi kalo di kalkulasi permeternya 6 juta,” imbuhnya.

 

Ustaz Saerozy juga menjelaskan bahwa tabligh akbar tersebut dihadiri sekitar 125 peserta dan terkumpul dana untuk pembebasan sekitar 350 juta rupiah.

 

“Insyaallah setelah acara ini kita akan berusaha untuk menggali dan mencari dana kembali guna menutup kekurangannya. Kalau 750 ada dana 350 berati kurangnya ya 400 juta,” ujarnya.

 

“Karena dari kerisauan kami bahwa santri STTD Al Hikam makin tahun makin tambah santrinya, maka kita harus mencari tempat untuk di pakai ruangan atau kelas – kelas belajar santri kami,” tambahnya.

 

Guna menutup kekurangan dana tersebut, ustaz Saerozy juga memberikan peluang pahala bagi para muhsinin untuk ikut dalam program pembebasan lahan untuk Sekolah Tahfizh Tingkat Dasar Al Hikam Surakarta.

Mengenal Lebih Dekat KH Miftahul Achyar, Ketua MUI 2020-2025

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah usai menggelar Musyawarah Nasional (Munas)  X selama tiga hari Rabu-Jumat (25-27/11/2020) di Hotel Sultan Jakarta.

Pengurus baru periode 2020-2025 telah terpilih termasuk Ketua Umum pengganti KH. Ma’ruf Amin yang kini menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Sebuah posisi penting dalam lembaga kepercayaan muslim Indonesia ini kembali terpilih dari Nahdatul Ulama dimana Ketua Umum sebelumnya KH. Ma’ruf Amin pun berasal dari Nahdatul Ulama.

  1. Miftachul Akhyar yang merupakan Rais Aam (Pemimpin Tertinggi) PBNU terpilih sebagai Ketua Umum MUI periode 2020-2025.

Bagaimana sosok dan profil KH. Miftachul Akhyar pemimpin baru MUI sebuah lembaga kepercayaan muslim Indonesia ini?

Mari kita mengenalnya lebih dekat.

  1. Miftachul Akhyar adalah seorang ulama kelahiran Surabaya, 1 Januari 1953. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya. Ia pun seorang Rais Aam PBNU periode 2018-2020, menggantikan Ma’ruf Amin yang saat itu mencalonkan diri sebagai Wapres di Pilpres 2019.

Kyai Miftah begitu panggilan akrab beliau, adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH. Abdul Ghoni. Beliau anak kesembilan dari 13 bersaudara. Terlahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Sehingga nama Kyai Miftah bukanlah nama baru dikalangan NU, terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur.

Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi yang dikutip NUOnline, genealogi keilmuan Kyai Miftah tidak diragukan lagi. Beliau tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Penguasaan ilmu agama KH. Miftachul Akhyar menurut Karomi membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga beliau diambil menantu oleh Kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Mulai dari nol Kyai Miftah mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Awalnya beliau hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat kondisi masyarakat setempat yang membutuhkan nilai-nilai religius, beliau pun membuka pengajian.

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH. Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

Masih menurut Karomi, kesederhanaan Kyai Miftah yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya. “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya KH. Abdul Ghoni,” tulis Karomi.

Mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, Karomi menuliskan bahwa ayah Kyai Miftah merupakan karib KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. Sangatlah tepat dengan pepatah  “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

  1. Abdul Ghoni sendiri dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH. Abdul Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi.

Ady Amar seorang pengamat sosial dan pengurus MUI Jatim Komisi Ukhuwah Islamiyah pun dalam tulisannya mengungkapkan kesederhanaan Kyai Miftah, KH. Miftachul Akhyar dikenal sebagai alim yang sederhana, jauh dari hingar-bingar dan pernyataan kontroversial. Seorang yang kalem namun tetap kritis pada hal-hal sepatutnya.

Bagaimana perjalanan kariernya?

Seperti dilansir oleh penasantri.id, tahun 2000-2005 KH. Miftachul Akhyar menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya.

Tahun 2007-2013 dan 2013-2018 selama dua periode menjabat Rais Syuriah PWNU Jatim.

Tahun 2015-2020 menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU.

Tahun 2018-2020 didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU menggantikan Ma’ruf Amin yang saat itu mencalonkan diri sebagai Wapres di Pilpres 2019.

Dan kini melalui Munas X MUI, KH. Miftachul Akhyar terpilih sebagai Ketua Umum MUI Pusat periode 2020-2025, semoga Kyai Miftah dapat menjalankan amanah dengan baik dan tetap menjadikan MUI sebagai lembaga independen kepercayaan muslim Indonesia.

Reporter : Jumi Yanti Sutisna

Tafakur Perguruan Tinggi Muhammadiyah Luncurkan Gerakan Wakaf

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–Puncak acara Tafakur Perguruan Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat dihelat Sabtu pagi (28/11) di ruang pertemuan SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta secara virtual.

Masih dalam suasana pandemi, perayaan dirgahayu Perguruan Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat pun digelar secara virtual via kanal youtube PK TV dan disiarkan secara langsung oleh TV MU. Tafakur ke-20 ini, mengusung tema sentral Berprestasi, Menginspirasi, dan Berbagi. Adapun tema acara hari ini adalah Meneguhkan Pendidikan Berkemajuan Meretas Generasi Ulul Albab.

Ketua Komite Perguruan Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Drs. H. Marpuji Ali, M. Si  dalam sambutannya mengucapkan selamat datang dan selamat menyaksikan persembahan tafakur 20 tahun kiprah Perguruan Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta.

Alhamdulillah hari ini kita, sekaligus akan launching program gerakan wakaf pembelian tanah seluas 3.974m2. Untuk itu, acara milad bukan hanya digelar dengan meriah saja, namun juga bermakna. Momen berbahagia itu juga, Ustaz Dr. Mohamad Ali beserta jajaran Kepala KB-TK, SD, SMP, SMA Muhammadiyah PK Kottabarat merilis 20 buku karya insan pendidikan PK Kottabarat. Tajuk 20 tahun 20 buku, sebuah prestasi yang membanggakan dan insipiratif,” paparnya di depan hadirin.

Marpuji Ali menambahkan bahwa perjalanan 20 tahun merintis dan mengembangkan sekolah Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat tidaklah mudah. Dengan segala keterbatasan yang ada, tekad, dan hikmat semua pihaklah yang mampu mewujudkan cita-cita tinggi untuk memajukan pendidikan. Kerja keras, profesionalitas, ketabahan, dan upaya mengokohkan solidaritas dan persatuan adalah kunci untuk meraih prestasi.

“SD Muhammadiyah PK, Ujian Nasional (UN) tahun 2015 menduduki nilai tertinggi di Jawa Tengah. Adapun, SMP Muhammadiyah PK, UN tahun 2017 menduduki rangking 8 terbaik SMP di Indonesia, UN tahun 2018 meraih rangking 18 untuk 100 terbaik SMP di Indonesia, UN tahun 2019 menduduki rangking 29 untuk 100 terbaik SMP se-Indonesia. Ini menunjukkan segala keterbatasan yang ada mampu meraih prestasi karena keteguhan dan tekad yang tinggi,” jelasnya.

Rangkaian acara Tafakur tersebut dihadiri tokoh-tokoh pendidikan baik secara langsung maupun melalui video testimoni menjadi saksi kualitas pelayanan pendidikan di Kottabarat. Selain itu, terdapat pula pemberian penghargaan kepada tokoh pengembang Perguruan Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta yaitu Drs. H. Ahmad Dahlan Rais, M. Hum. selaku Tokoh Penggagas Full Day School yang sekarang bernama Perguruan Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Berikutnya adalah Almarhum Profesor Mochamad Sholeh Y.A. Ichrom, Ph.D. sebagai Tokoh Perancang Kurikulum Syariah. Kemudian, Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp. A (K). sebagai Loyality Achievement. Terdapat pula penghargaan guru dan tenaga kependidikan yang berdedikasi dan berprestasi.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Dr. H. Kasiyarno, M.Hum. juga hadir dan memberikan sepatah dua patah kata mengapresiasi model pendidikan di Kottabarat.

“Apresiasi kepada para tokoh pendidikan Muhammadiyah Surakarta yang berani menciptakan model baru dengan nama program khusus. Model ini sudah diadopsi oleh beberapa sekolah Muhammadiyah seperti di Bangka. Hal ini semangat menginspirasi mulai tersebar,” tuturnya.

Ia pun berharap agar pendidikan di program khusus dapat terus berkembang dengan baik. Program khusus Kottabarat kini menjadi inspirator dan influencer di bidang pendidikan Islam.

“Semangat untuk terus memodernisasi pendidikan yang menjunjung nilai-nilai Islam dan memanfaatkan perkembangan teknologi,” imbuhnya.

 

Tentang Sigi Poso dan Pertanyaan Besar terhadap Aparat

Oleh: Harits Abu Ulya (Pengamat Terorisme)

Kasus Pembunuhan terhadap satu keluarga serta membakar rumah korban di Sigi, Poso diduga kuat pelaku terkait kelompok MIT pimpinan Ali Kalora.

Apa sebab yang melatarbelakangi aksi kekerasan tersebut?

Berikut hipotesa singkatnya;

Latar belakang pembantaian; Ini dominan soal bertahan hidup bagi kelompok MIT. Untuk survive,  selain mereka butuh logistik makanan dan kebutuhan pokok lainya juga butuh aman bagi keselamatan nyawa kelompok mereka.

Soal logistik, bisa didapat dari santunan penduduk setempat yang dekat dengan persembunyian mereka atau mereka mengambil dengan cara ilegal. Dan di saat menjadi buronan apparat, mereka butuh keamanan.

Dua faktor; logistik dan keamanan kelompok ketika terancam bisa memicu tindakan kekerasaan terhadap pihak yang menghalangi atau menjadi sumber ancaman.

Oleh sebab itu, semua pihak terutama penduduk setempat yang di anggap bisa menjadi pembocor atau informan kepada aparat perihal keberadaan mereka maka jalan pintasnya di eksekusi.

Beberapa pekan yang lalu ada dua anggota MIT yang tewas ditangan aparat, dan bisa jadi kelompok MIT menduga ada salah satu keluarga dari penduduk setempat menjadi informan atas keberadaan mereka. Dan ini sangat mungkin memicu dendam kelompok MIT untuk melakukan aksi pembantaian yang terjadi di Sigi Poso.

Atau aparat perlu mengali lebih jauh,  bisa jadi ada kemungkinan konflik pribadi antara keluarga yang di bantai dengan kelompok pelaku.

Kalkulasi strategisnya; Kalau  aksi tersebut disengaja hanya sekedar untuk memberikan pesan bahwa eksistensi kelompok mereka masih ada. Maka ini langkah bunuh diri bagi MIT. Karena aksi yang dilakukan menjadi jejak dan mempermudah aparat untuk segera memetakan serta langkah penyekatan agar ruang gerak kelompok MIT makin sempit.

Menjadi lain perkara, jika aksi tersebut telah diperhitungkan oleh MIT sebagai pengalihan atau pengelabuhan perhatian aparat. Yang eksekusi cuma beberapa orang saja, tapi sebagian besar kelompok ditempat yang berbeda atau ingin bergeser ditempat yg lebih aman. Dengan kata lain; Aksi pembantaian sebagai “exit door” agar bisa bergeser ketempat yang lebih aman menurut mereka.

 

Kemungkinan terakhir, soal pembantaian ini yang eksekusi bukan dari kelompok MIT. Sebab dibalik itu ada kepentingan lebih besar terkait isu terorisme di Poso. Ini sekedar hipotesa, perlu elaborasi lebih mendalam biar terang benderang.

Dan diluar itu semua muncul tanda tanya besar. Operasi perburuan teroris di Poso sudah digelar berjilid-jilid, bertahun-tahun, negara punya Polisi dengan Brimob dan Densus88 nya. Bahkan di backup TNI; yang punya pasukan Raider, pasukan khusus (Komando) di tiap angkatan, bahkan sekarang punya Koopsus. Dengan logistik melimpah, dan dukungan politik yang cukup. Bahkan ada BNPT yang juga bekerja di Poso.

Lantas untuk memburu sekitar 10 orang kenapa jadi berlarut-larut??? Kapan saatnya Poso rakyatnya bisa damai dan normal menjalani hidupnya?? Siapa yang peduli??[]

Capaian MUI 2015 -2020: 338 Fatwa dan Menjadi Panduan Keagamaan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Rapat Pleno I Munas X MUI dengan agenda pembacaan laporan pertanggunggjawaban pengurus MUI Pusat periode 2015-2020 dipungkasi dengan menerima secara bulat LPJ tersebut oleh peserta.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Panitia Pengarah Munas X MUI, KH Abdullah Jaidi itu, juga dinyatakan bahwa keseluruhan pengurus MUI Pusat periode 2015-2020 telah demisioner. Ini berarati bahwa Prof KH  Ma’ruf Amin tak lagi menjabat sebagai ketua umum MUI.

Sementara itu, saat membacakan LPJ, Kiai Ma’ruf men  menjelaskan pencapaian terbaik MUI lima tahun selama di bawah kepemimpinannya. Dia menjelaskan pencapaian terbaik MUI adalah menjadikan standard ISO sebagai standard MUI.

Kiai Ma’ruf juga berpesan agar MUI bisa menjadi contoh untuk ormas-ormas yang dinaunginya, dengan tetap menjaga nilai ittifaqat atau kesepakatan.

“MUI harus menjadi kendaraan untuk semua pihak. Itulah yang saya sebut MUI itu ibarat kereta api. Ada relnya, ada tujuannya, ada penumpangnya, karena itu kita tidak bisa membawa MUI semau kita. Ada ittifaqat itu/qararat itu yang menjadi landasan kita,” kata dia, Kamis (26/11/2020).

Sementara itu sekjen demisioner MUI, Buya Anwar Abbas, memaparkan bahwa selama lima tahun kiprah MUI, Komisi Fatwa telah mengembangkan ilmu syariah di kalangan ulama sesuai kebutuhan dalam rangka memberikan bimbingan hukum bagi umat Islam.

Dia menyebutkan, tercatat sudah ada 338 fatwa, yakni 261 fatwa merupakan keputusan produk halal dan 47 fatwa bukan tentang produk halal. Dia juga menyampaikan bahwa adanya fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI sangat membantu untuk menyelesaikan isu isu kontemporer terutama bidang keagamaan.

Dia menyebutkan, fatwa dari MUI sangat membantu masyarakat terutama umat dan bahkan saya seringkali mengatakan, pemerintah sangat tertolong oleh kehadiran fatwa MUI. “Pemerintah sangat terbantu dalam mengatasi masalah yang timbul karena Covid-19,” kata dia.

Di lokasi yang sama, wakil ketua demisioner Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), KH Didin Hafidhuddin, menyampaikan pesannya untuk kepengurusan yang terpilih di periode mendatang.

Dia berpesan agar pengurus berikutnya bisa membawa MUI kedepan menjadi lebih baik dengan mempertahankan marwah kepemimpinan MUI yang bersifat kolektif. Menjaga nilai keagamaan dan kejamaahan yang selama ini sudah tertanam kuat di MUI.

“Begitu kuatnya MUI dalam pandangan masyarakat karena kebersamaan, sehingga terjadi ta’liful qulub (penyatuan hati), fikrah (gagasan), dan harakah (gerakan). Inilah yang harus diamanahkan pada pengurus yang akan datang,” kata dia.

Munas X MUI berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, 25-27 November 2020. Munas digelar secara luring dan daring. Peserta luring adalah pengurus MUI Pusat dan perwakilan daerah, sementara peserta daring adalah para pengurus daerah.

Munas X MUI mengangkat tema “Meluruskan Arah Bangsa dengan Wasathiyatul Islam, Pancasila, dan UUD NRI 1945, secara Murni, dan Konsekuen.” Munas X MUI akan membahas sejumlah agenda penting antara lain fatwa, rekomendasi, dan pergantian kepengurusan dan puncak pimpinan MUI untuk periode 2020-2025.