Di Malaysia, Imam dan Muazin Penolak Vaksin Jalani Sesi Konseling

KOTA BHARU(Jurnalislam.com)—Wakil Menteri Departemen Perdana Menteri Urusan Agama Datuk Ahmad Marzuk Shaary mengatakan, kelompok imam dan muazin yang menolak divaksinasi akan menjalani sesi konseling di Departemen Pengembangan Islam Malaysia (Jakim).

Sesi konseling itu bertujuan untuk menjelaskan pentingnya vaksinasi dan menjamin bahwa itu tidak akan membahayakan penerimanya.

“Di beberapa negara bagian, kelompok sasaran tertentu menolak untuk divaksinasi karena mereka telah dipengaruhi oleh propaganda pihak-pihak tertentu. Perlu tindakan yang tepat, bukan tindakan hukum tetapi informasi dan klarifikasi, termasuk konseling,” katanya yang dikutip di Bernama, Senin (6/9).

Ahmad Marzuk mengatakan penolakan kelompok antivaksin harus ditanggapi dengan serius, karena vaksinasi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan bahwa semua kelompok masyarakat sadar bahwa negara tidak hanya akan menghadapi pandemi saat ini, tetapi juga dapat menjadi endemik dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Sultan Selangor, Sultan Syarafuddin Idris Syah mengungkapkan kekecewaannya atas banyaknya ustad, pengurus masjid dan juru nikah yang menolak vaksinasi, meski jumlah kasus harian Covid-19 di Selangor cukup tinggi, lebih dari 95 ustadz, 17 pengurus masjid dan jurunikah di negara bagian itu menolak divaksinasi.

Sumber: republika.co.id

PPKM Diperpanjang hingga 13 September, Ada Beberapa Pelonggaran

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pemerintah memperpanjang lagi PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat per level di Jawa-Bali. Perpanjangan PPKM dilakukan hingga 13 September 2021.

Demikian disampaikan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi persnya, Senin (6/9/2021).

“Bapak Presiden menekankan covid-19 tidak akan hilang dalam waktu singkat, kita siapkan protokol hidup bersama covid-19.”

“Ada beberapa penyesuaian dalam periode (PPKM) 7-13 September 2021,” kata Luhut.

Misalnya, waktu makan menjadi 60 menit dengan kapasitas 50% akan dilakukan uji coba 20 tempat wisata level 3 dengan penerapan prokes ketat dan implementasi peduli lindungi.

Luhut juga menyampaikan, situasi perkembangan covid-19 di Jawa-Bali terus terkendali.

Sebagai informasi tambahan, Kemenkes melaporkan per Senin (6/9/2021) kasus baru Covid-19 pada hari ini tercatat 4.413 orang.

Dalam seminggu terakhir, rata-rata pasien positif corona bertambah 7.884 orang per hari. Jauh menurun ketimbang rerata tujuh hari sebelumnya yaitu 13.482 orang saban harinya.
Puncak kasus positif harian terjadi pada 15 Juli 2021. Kala itu, pasien positif bertambah hingga 56.757 orang dalam sehari.

Sejak puncak itu, kasus positif sudah turun drastis. Dibandingkan posisi puncak tersebut dengan kemarin, tambahan pasien positif sudah berkurang 90,48%. Pencapaian yang patut mendapatkan apresiasi.

Saat pasien baru berkurang, jumlah pasien yang sembuh meningkat. Per 5 September 2021, pasien sembuh bertambah 10.191 orang.

Sumber: cnbcindonesia

65 Persen Penyintas Covid Alami Kelelahan Berkepanjangan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Penyintas Covid-19 seringkali merasakan sejumlah gejala gangguan kesehatan meski telah dinyatakan sembuh dari infeksi. Dokter Rumah Sakit Yarsi dr Erlina Burhan mengatakan, ada beberapa hal yang harus diwaspadai pascasembuh dari Covid-19.

Pertama, ia mengungkapkan, 65 persen penyintas Covid-19 mengalami kelelahan. Untuk itu, ia mengatakan, penyintas sebaiknya mewaspadai kelelahan setelah sembuh dari Covid-19 dengan cara berkonsultasi ke dokter.

Kedua, penyintas juga harus meningkatkan kewaspadaan pasca Covid terkait kesehatan mental. “Jangan lupa juga melakukan vaksinasi, jika sudah dosis pertama silakan segera lakukan vaksinasi dosis kedua,” kata Erlina dalam acara focus group discussion yang digelar Republika bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid 19 via Zoom Meeting, Senin (6/9).

Erlina juga menekankan setiap individu memiliki kondisi pasca Covid-19 yang bervariasi. Setiap orang bisa merasakan keluhan yang berbeda dengan tingkat keparahan yang berlainan pula.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi beberapa keluhan pasca Covid-19 adalah berolahraga ringan. Olahraga dapat dilakukan untuk mengembalikan kondisi tubuh pasca Covid-19.

Namun, olahraga tetap harus dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. “Sesuai toleransi masing-masing orang. Jangan dipaksakan karena ada juga yang mengeluh seperti ada yang jalan 200 meter sudah lelah,” kata dia.

Selain itu, gizi yang seimbang pun harus selalu dijaga. “Gizi yang seimbang antara karbohidrat, protein dan vitamin, cairan juga cukup,” kata dia.

Ia juga mengingatkan untuk segera melakukan vaksinasi pascasembuh Covid-19. Memang, sesuai aturan pemerintah vaksinasi dilakukan tiga bulan setelah sembuh.

“Namun itu kan karena keterbatasan vaksin saat ini. Kalau nanti sudah banyak tersedia vaksin, maka paling cepat satu bulan setelah tidak ada gejala, saya kira sudah boleh divaksin, tapi ingat aturan pemerintah harus dihargai, itu bisa dilakukan kalau sudah ada ketersedian vaksin yang cukup,” terangnya.

Sumber: republika.co.id

 

Pesantren Kuatkan Komitmen Keislaman dan Kebangsaan

CIREBON(Jurnalislam.com)— Muslim Indonesia memiliki tradisi luhur yang terus dilestarikan hingga saat ini, yaitu Haul atau peringatan tahunan atas wafatnya seseorang. Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, dalam konteks pesantren, haul merupakan tradisi luhur yang mencerminkan hubungan batin sekaligus jaringan keilmuan kiai dan santri.

Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan secara virtual dalam Haul dan Tasyakkur Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik yang digelar Pesantren KH Aqil Siradj (KHAS), Senin (6/9/2021) malam.

Haul ini diikuti Pengasuh Pondok Pesantren KHAS (Kyai Haji Agil Siradj),  KH. Muhammad Musthofa Aqil Siradj, Bupati Cirebon, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj,  KH. Ni’amillah Aqil Siradj, serta para santri dan alumni Pondok Pesantren KHAS.

Menurut Menag, Haul dan Tasyakkur Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik ini setidaknya memiliki makna tentang wujud kesadaran kolektif atas penguatan eksistensi dan komitmen untuk senantiasa berterima kasih dan merekatkan silaturahim, baik dalam hubungan kerabat keluarga orang tua-anak maupun kiai santri.

“Begitu juga dengan jaringan intelektual kiai-santri, maupun hubungan batin dengan orang-orang yang telah memberikan pengaruh dalam kehidupan ini,” ujar Menag.

Ditambahkan Menag, Khatmil Qur’an, Juz ‘Amma, dan Alfiyah Ibnu Malik juga merupakan tradisi yang mampu melacak validitas ilmu dan silsilah atau jaringan pengetahuan.

“Dalam mencari ilmu, kita perlu berguru kepada orang-orang yang memiliki silsilah dan kevalidan ilmu pengetahuan yang jelas. Sehingga, insya Allah, meraih ilmu yang barokah dan manfaat. Hal ini sama sekali berbeda dengan belajar melalui media sosial, misalnya, yang belum tentu valid akan keilmuan dan tradisi akademiknya,” jelas Menag.

Di mata Menag, haul dan tasyakkur ini merupakan sebuah tradisi agung yang lekat dengan dunia pondok pesantren. Dunia pondok pesantren adalah dunia yang menanamkan keluhuran akhlak dan budi pekerti yang mulia, serta dunia pendidikan yang menanamkan komitmen kebangsaan yang teruji.

“Bangsa Indonesia patut bersyukur dengan kehadiran pondok pesantren. Melalui pesantren, komitmen keislaman dan kebangsaan selalu saling menguatkan,” ujarnya.

Menag mengajak kaum santri untuk mendoakan dan meneladani sosok Almaghfurlah KH. Agil Siradj dan Almarhumah Nyai Hj. Afifah Harun, serta  dua putra yang juga sudah wafat,  yakni Almarhum KH. Ja’far Shadiq Agil Siradj dan Almarhum KH. Ahsin Syifa Agil Siradj. “Mereka merupakan orang-orang teladan, yang telah banyak memberikan pembelajaran bahwa betapa nilai seseorang itu sangat dipengaruhi oleh keikhlasan dan dedikasi untuk melahirkan generasi penerus yang berilmu pengetahuan luas dan berkarakter,” sambung Menag.

“Selamat atas pencapaian para santri dan lapisan masyarakat yang luar biasa. Semoga ilmu yang diraihnya memberi manfaat dan barokah,” tutup Menag.

Ironi Glorifikasi Penyambutan Saiful Jamil, Bahaya Bagi Generasi

Oleh : Jumi Yanti Sutisna*

Fenomena bebasnya narapidana pelecehan seksual cum pedangdut  Saiful Jamil dari lapas Cipinang pada Kamis lalu (2/9/2021) yang disambut meriah bak pahlawan dengan kalungan bunga dan disiarkan pula oleh  stasiun-stasiun televisi menunjukkan bahwa benarlah saat ini kita sedang berada diakhir zaman.

Mengapa demikian?

Karena kasus yang menjerat Saiful Jamil adalah benar-benar kriminal yang meninggalkan trauma mendalam bagi para korban yaitu pencabulan anak dibawah umur. Boleh jadi saat Saiful Jamil sang pelaku telah menyelesaikan masa hukuman 5 tahun 7 bulan, para korban sepanjang waktu itu masih mengalami trauma atas perbuatan pelaku.

Penyambutan kebebasan Saiful Jamil dengan euforia, begitu meriah dikalungi bunga bak pahlawan berjasa, ditambah lagi berbagai media yang  terkesan amplifikasi dan glorifikasi dalam menyiarkannya, ini menurut para ahli akan memberi dampak negatif yang sangat besar untuk generasi bangsa ini.

Apa saja dampak itu?

Pertama,  generasi bangsa ini akan memandang perilaku kekerasan seksual yang dilakukan Saiful Jamil menjadi suatu perbuatan wajar yang bisa dibenarkan jika melakukannya, bahkan pelakunya tetap mendapatkan kemuliaan. Pembentukan persepsi menormalisasi kejahatan seksual ini sangat membahayakan masa depan generasi bangsa dan mengancam peradaban.

Seperti kekhawatiran yang diungkapkan oleh Psikolog Anak Firesta Farizal yang dilansir oleh Republika.co.id mengatakan: “Kebayang ya bagaimana nilai ini akan ditangkap masyarakat secara umum apalagi diundang televisi, seperti sesuatu yang dilakukannya bagus-bagus saja.”

Firesta beranggapan bahwa fenomena kebebasan Saiful Jamil yang terkesan dimuliakan ini akan membahayakan generasi bangsa. “Saya merasa kita bisa jadi tidak meneruskan nilai yang baik pada anak-anak kita, dan membuat anak-anak kita berada pada situasi yang bahaya,” imbuhnya.

Sedangkan bahaya dari pelecehan seksual itu sendiri menurut Psikolog Kasandra Putranto “Kekerasan seksual tergolong dalam kejahatan kemanusiaan yang memiliki dampak psikologis yang sangat serius. Beberapa diantaranya bisa berdampak post-traumatic disorder, depresi, gangguan kecemasan, bahkan berakibat terjadinya upaya bunuh diri dilakukan korban.”

Kedua, korban-korban pelecehan seksual yang dilakukan Saiful Jamil melihat fenomena ini akan semakin menyayat luka yang belum sembuh, menyaksikan orang yang dianggap telah menghancurkan kehidupan mereka ternyata malah dielu-elukan dan dipuja-puja,   sedangkan mereka para korban masih harus terus berjuang melawan traumatic yang mengganggu pikiran hingga berdampak pada aktifitas pribadi dan sosial mereka.

 

Psikolog Dody Tri mengatakan “Buat orang yang menjadi korban dalam hal ini belum tentu merasa sepadan dengan yang dialaminya. Karena ini sangat emosional. Sehingga ketika melihat pemberitaan dari orang yang tidak disukai pasti ada dampak psikologisnya. Apalagi orangnya mengalami trauma yang belum selesai. Ini menjadi semacam kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.”

 

Glorifikasi yang diberikan pada Saiful Jamil pada kebebasannya akan memperburuk trauma para korban yang seharusnya mereka dapat sembuh dan dapat berperan baik untuk peradaban ini, namun dengan fenomena glorifikasi terhadap penyambutan kebebasan Saiful Jamil malah bisa memicu para korban untuk kemudian menjadi pelaku seperti Saiful Jamil, dan ini sangat berbahaya.

Ketiga, menciptakan ketakutan bersuara (speak upI) bagi korban-korban pelecehan diluar korban Saiful Jamil, seperti yang diungkapkan Monika Yuliarti dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.

“Bahaya sekali kalau ini diterus-teruskan. Jangan-jangan orang yg menjadi korban pelecehan seksual itu semakin takut untuk bicara, semakin takut untuk terbuka. Karena sekalinya mereka terbuka, pemberitaan mengemasnya akan berbeda, yang jatuhnya akan lebih misalnya menjatuhkan dia atau kehidupan pribadi dia.”

Ketakutan speak up dari para korban pelecehan seksual akan sangat berbahaya untuk korban itu sendiri, karena bisa mengakibatkan perilaku bunuh diri atau bahkan kemudian ia menjadi pelaku pelecehan seksual dan ini sangat berbahaya karena kejahatan itu dikatakan beranak pinak yang kemudian bisa menghancurkan generasi ini.

Terkait fenomena glorifikasi penyambutan kebebasan Saiful Jamil syukurlah masih banyak tokoh dan elemen masyarakat yang dengan sigap mengkritisi, melakukan boikot hingga menandatangi petisi. Memanglah kita harus lebih kuat untuk melawan kemungkaran yang membahayakan ini.

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

MUI Daerah Didorong Aktif Sosialisasikan Kegiatannya

BERASTAGI(Jurnalislam.com)– Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Buya Maratua Simanjuntak, menyampaikan lima taushiyah kepada pimpinan MUI Kabupaten/Kota di Sumut. Hal itu dia ungkapkan pada acara Penutupan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) I MUI Sumatera Utara, Ahad (05/09) di Berastagi, Sumut.

“Pertama, DP MUI Sumut meminta agar setiap MUI di setiap tingkatan punya sekretariat tetap dan pakai papan merek (papan nama) Kabupaten/Kecamatan, ” ujarnya dari daerah paling dingin di Sumut itu.

Dia sadar bahwa tidak semua MUI Kabupaten/Kota memiliki gedung sekretariat tetap. Banyak sekretariat MUI Kabupaten/Kota berada di rumah salah satu pengurus/ketua umum MUI setempat. Meski hanya di rumah, dia ingin agar papan nama itu tetap ada di depannya.

“Kalau sekretariat tetapnya di rumah, tetap harus ada plat/papan merek di depannya, ” ujarnya.

Kedua, dia melanjutkan, setiap MUI Kabupaten/Kota yang belum memiliki wakil ketua umum agar mengajukan wakil ketua umum. Seperti di MUI Pusat maupun MUI Provinsi, jika dibutuhkan maka boleh mengangkat ketua umum mulai satu sampai maksimal tiga orang.

“Ini untuk penguatan organisasi. Kalau periode khidmah tinggal setahun lagi, jika dibutuhkan, silakan saudara ajukan minimal satu orang ” ujarnya.

Ketiga, dia menyampaikan, MUI Kabupaten/Kota harus melaksanakan rapat rutin minimal satu kali dalam satu bulan. Tujuannya, agar ada kesinambungan dengan MUI Pusat dan MUI Provinsi.

Jika MUI Pusat melaksanakan rapat rutin Dewan Pimpinan setiap hari Selasa, MUI Sumut setiap hari Rabu pertama dan kedua, maka MUI Kabupaten juga harus melaksanakan minimal satu kali sebulan. Karena sifatnya rapat rutin, maka tidak dipersyaratkan ada kuorum (batas minimal peserta rapat) di dalamnya.

“Jadi, paling lambat pada Januari 2022 sudah ada rapat rutin setiap MUI Kabupaten/Kota seperti yang sudah dilaksanakan MUI Pusat dan MUI Provinsi. MUI Sumut mengagendakan rapat rutin setiap hari Rabu. Rabu pertama untuk Dewan Pimpinan umum sementara Rabu

 

Ke empat, dia mengatakan, MUI Kabupaten/Kota diminta aktif melaporkan kegiatannya. Selama ini, kata dia, banyak kerja MUI Kabupaten/Kota yang bagus namun tidak dilaporkan ke MUI Sumut sehingga luput dari perhatian.

Terakhir, dia melanjutkan, Infokom MUI Sumut meminta MUI Kabupaten/Kota aktif menggunakan website MUI Sumut. Banyak keputusan yang akan disampaikan melalui website.

Mukerda MUI Sumut, lanjut dia, juga telah menyepakati tiga media sekaligus untuk mengesahkan rapat yaitu rapat tatap muka langsung, rapat online, dan rapat melalui whatsapp.

“Karena mulai Mukerda ini, seluruh imbauan dan petunjuk sebagainya akan kita melaksanakan melalui WA. Kita sudah tetapkan bahwa tiga cara yang dianggap sah untuk berkomunikasi dan rapat,” paparnya. (mui)

 

Bertemu PBB, Taliban: Bantuan Kemanusiaan untuk Afganistan Akan Dilanjutkan

KABUL(Jurnalislam.com) – Para pejabat senior Taliban bertemu dengan wakil sekjen PBB untuk urusan kemanusiaan di Kabul pada Ahad (5/9/2021), dalam pertemuan itu PBB berjanji akan tetap mempertahankan bantuan bagi rakyat Afghanistan, kata juru bicara Taliban Suhail Shaheen.

Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala kantor politik Taliban dan pejabat lainnya bertemu Martin Griffiths ketika Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan yang berpotensi menimbulkan bencana yang disebabkan oleh kekeringan parah.

“Delegasi PBB menjanjikan melanjutkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Afghanistan, dengan mengatakan dia akan meminta bantuan lebih lanjut untuk Afghanistan saat pertemuan dengan negara-negara penyumbang yang akan datang,” kata Shaheen di Twitter.

Afghanistan, telah jatuh ke dalam krisis dengan tiba-tiba berakhirnya bantuan luar negeri miliaran dolar menyusul runtuhnya pemerintah yang didukung Barat dan kemenangan Taliban bulan lalu.

Shaheen mengatakan Taliban meyakinkan delegasi PBB tentang “kerja sama dan penyediaan fasilitas yang dibutuhkan.”

PBB diperkirakan akan mengadakan konferensi bantuan internasional di Jenewa pada 13 September untuk membantu mencegah apa yang disebut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai “bencana kemanusiaan yang menjulang”. (Bahri)

Sumber: Reuters

Pemerintahan Taliban Deklarasi Kemenangan Lembah Panjshir yang Sempat Dikuasai Pemberontak

IMARAH ISLAM AFGANISTAN (Jurnalislam.com)— Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan Lembah Panjshir, Afghanistan,  berhasil dikuasai pemerintahan Taliban setelah ribuan tentara pemerintah Imarah Islam menyerbu daerah tersebut pada Ahad malam (5/9).

“Provinsi Panjshir sepenuhnya jatuh ke tangan Emirat Islam Afghanistan,” ucap Mujahid melalui akun Twitternya seperti dikutip Reuters.

“Dengan kemenangan dan upaya ini, negara kita telah keluar dari pusaran perang dan rakyat kita akan memiliki kehidupan yang bahagia dalam damai dan kebebasan di seluruh negeri,” paparnya menambahkan.

Mujahid juga menambahkan bahwa beberapa anggota kelompok anti-Taliban pimpinan Ahmad Massoud (NRF), yang selama ini menguasai Lembah Panjshir, ikut tewas dalam pertempuran tersebut.

Juru bicara NFR, Fahim Dashti, dikabarkan menjadi salah satu prajurit loyalis Massoud yang tewas dalam peperangan tersebut.

Dengan kemenangan Taliban di Panjshir, Mujahid menekankan bahwa di wilayah itu tetap akan aman.

“Kami memberikan keyakinan penuh kepada orang-orang terhormat di Panjshir bahwa mereka tidak akan mengalami diskriminasi, bahwa (mereka) semua adalah saudara kami, dan bahwa kita akan mengabdi pada negara dan tujuan bersama,” kata Mujahid seperti dilansir dari Associated Press.

Sebelumnya, perwakilan Taliban dalam salah satu tweetnya menyampaikan bahwa mereka berhasil menguasai distrik Rokha, salah satu dari delapan distrik terbesar di Panjshir.

sumber: cnnindonesia

 

SDM Unggul dan Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pendidikan merupakan faktor terpenting dalam mewujudkan bangsa yang bermartabat. Sebab, dengan pendidikan, dapat terbentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik yang dapat menjadi faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Untuk itu pemerintah menempatkan pembangunan SDM unggul melalui pendidikan sebagai prioritas nasional.

“SDM unggul merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global,” tutur Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin dalam sambutannya pada Rapat Terbuka Senat Universitas Islam Malang (UNISMA) dalam rangka Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2021/2022 melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres di Jl.Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Senin (6/9/2021).

Lebih jauh Wapres menjelaskan, SDM unggul harus menjadi tag line nasionalisme para milenial yang akan membawa tongkat estafet kemajuan bangsa Indonesia. Untuk itu, para mahasiswa baru harus dapat mewujudkan semangat nasionalisme tersebut sehingga memiliki keunggulan kompetitif secara global namun tetap berpijak pada jati diri dan kearifan lokal.

“Anda semua dituntut punya kemampuan bersaing pada tingkat global, tetapi hati dan jati diri Anda tetap harus melekat sesuai dengan identitas dan akhlak insan nusantara,” ungkap Wapres.

Disisi lain, Wapres pun menguraikan data Angkatan Kerja BPS bulan Februari 2021. Data tersebut mencatat bahwa dari sekitar 137 juta pekerja hanya 13,3 juta orang atau sekitar 10 persen yang lulusan jenjang pendidikan tinggi.

“Hal ini tentu berkorelasi erat dengan kualitas, produktivitas serta daya saing Indonesia,” tegasnya.

Oleh karena itu, Wapres mengimbau kepada mahasiswa baru agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diperoleh untuk menikmati pendidikan tinggi ini sebagai karunia Allah dengan menunjukkan semangat belajar dan bekerja keras sehingga dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu dengan hasil memuaskan.

Namun, lanjut Wapres, perlu diingat juga bahwa sebagai intelektual, para mahasiswa harus senantiasa menjunjung tinggi moralitas dan menghargai keragaman sosial.

“Dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena banyak orang cerdas, tetapi lebih karena terjaganya moralitas dan kohesi sosial yang baik,” pungkasnya.

Gagal Evakuasi, Ratusan LGBT Afghanistan Takut Dihukum Sesuai Syariat

KABUL(Jurnalislam.com)–LGBT Afghanistan mengatakan pada hari Jum’at (3/9/2021) merasa bahwa mereka kini ditinggalkan oleh komunitas internasional karena penutupan bandara Kabul bagi penumpang pada pekan ini telah menghancurkan harapan mereka untuk melarikan diri dari pemerintahan Taliban.

Banyak anggota LGBT+ telah bersembunyi sejak kelompok Islamis merebut kekuasaan bulan lalu, mereka takut pemerintahan kembali ke aturan tahun 1996-2001 ketika Taliban menegakkan bentuk Syariah atau hukum Islam.

“(Pemerintah asing) seharusnya membantu kami keluar dari sini,” kata seorang mahasiswa gay melalui telepon dari Kabul, setelah gagal naik salah satu penerbangan evakuasi terakhir ke luar negeri minggu lalu.

“Segalanya menjadi semakin putus asa setiap hari (dan) sekarang kami telah ditinggalkan,” terang mahasiswa tersebut, yang nama dan usianya dirahasiakan untuk melindungi identitasnya, kepada Thomson Reuters Foundation.

Dia mengatakan penjaga di Bandara Internasional Hamid Karzai telah menyimpang dari peraturan pada minggu ini, penjaga menolaknya meskipun memiliki dokumen yang benar.

Taliban yang bersiap untuk mengumumkan pemerintahan baru pada hari Jumat, telah mencoba untuk menampilkan wajah yang lebih moderat sejak mereka kembali berkuasa, berjanji untuk melindungi hak asasi manusia dan menahan diri dari pembalasan terhadap musuh-musuh lama.

Tetapi beberapa orang LGBT+ mengatakan bahwa mereka takut akan nyawa mereka, mengutip laporan tentang laki-laki gay yang di hukum rajam selama pemerintahan terakhir Taliban.

“Hidup saya dalam bahaya,” kata seorang guru gay melalui telepon dari Kabul.

Dia juga gagal untuk pergi dengan angkutan udara pimpinan AS yang mengevakuasi lebih dari 123.000 orang dari Kabul sejak pengambilalihan Taliban, tetapi masih meninggalkan puluhan ribu warga Afghanistan yang rentan.

“Itu bisa sangat berbahaya bagi saya dan keluarga saya juga, karena jika mereka mengetahui tentang orientasi seksual saya, mereka akan membawa kita ke padang pasir dan membunuh kita dengan melemparkan batu ke arah kita atau menembak kita di kepala,” kata guru itu.

Orang-orang LGBT+ sudah menghadapi ancaman signifikan di Afghanistan sebelum pengambilalihan Taliban, kata Patricia Gossman, direktur asosiasi, divisi Asia, di Human Rights Watch.

“Banyak yang menjalani kehidupan bawah tanah karena takut akan kekerasan,” katanya.

“Ketakutan ini sekarang diperbesar dengan Taliban yang berkuasa, mengingat tanggapan kelompok yang umumnya brutal terhadap mereka karena dianggap melanggar ajaran agama.” sambung Grossman.

Novelis AS Nemat Sadat, seorang gay Afghanistan-Amerika yang mengajar di American University of Afghanistan dari 2012 hingga 2013, menghabiskan beberapa minggu mencoba membantu LGBT+ Afghanistan melarikan diri dari negara itu.

Dia membantu menyewa lima bus untuk membawa sekitar 175 orang LGBT+ ke bandara minggu lalu, tetapi mereka tidak dapat melewati gerbang perimeter dan akhirnya dipulangkan karena peringatan akan ada serangan bom.

Dengan daftar lebih dari 360 LGBT+ Afghanistan yang putus asa untuk pergi, Sadat mengatakan komunitas internasional harus berbuat lebih banyak.

“Mereka tidak peduli mengeluarkan orang aneh, mereka tidak peduli,” katanya.

“Karena jika mereka benar-benar peduli, maka kata-kata akan didukung oleh tindakan.” imbuhnya.

Beberapa pasangan LGBT+ telah dipisahkan karena terburu-buru meninggalkan Afghanistan.

Guru dari Kabul mengatakan pacarnya berhasil melarikan diri dengan penerbangan evakuasi dan sekarang berada di kamp pengungsi di Qatar. Dia khawatir mereka tidak akan pernah bisa bersatu kembali.

“Saya telah kehilangan satu-satunya orang yang saya cintai,” katanya.

“Semuanya memilukan. Hidup menjadi tidak berarti bagiku.” pungkas Guru itu. (Bahri)

Sumber: The New Arab