Fakultas Komunikasi di PTKIN Didorong Lahirkan Konten Dakwah di Medsos

PURWOKERTO(Jurnalislam.com)— Sekretaris Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI KH Nurul Badruttamam mengajak Forum Dekanat Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk penuhi media sosial dengan konten-konten dakwah.

“Media sosial saat ini menjadi sebuah kekuatan baru dalam mendukung program dakwah yang membumi,” ujar Badruttamam saat pertemuan Fordakom PTKIN se-Indonesia di Hotel Java Heritage Purwokerto, Jateng, Jumat (24/9).

Dia menambahkan, PDPAB MUI dalam waktu dekat ini akan meluncurkan website dan kanal media sosialnya.

“Jadi, kami mengajak para insan akademisi dakwah yang tergabung dalam Fordakom ini bisa ikutan andil secara aktif rutin mengisi konten dakwah di media digital baik Instagram, Twitter, Facebook, YouTube, TikTok, microblogs, website dan collaborative projects,” katanya.

Nurul Badruttamam mengungkapkan secara singkat empat program kerja pengurus PDPAB masa khidmat 2020-2025.

Program pertama adalah menyelenggarakan mudzakarah, seminar, diskusi, dan sejenisnya serta pengkajian mengenai akhlak.

Hasil kegiatannya akan disampaikan kepada pemerintah dan komponen bangsa sebagai sikap serta masukan MUI dalam ikhtiar memperbaiki akhlak bangsa.

Program lainnya, menyelenggarakan sosialisasi dan internalisasi mengenai akhlaqul karimah (akhlak mulia) kepada aparat penyelenggara negara dan masyarakat.

Adapun pokok program ketiga, melakukan pemantauan terhadap akhlak bangsa serta menyusun pandangan dan sikap MUI terhadap situasi dan kondisi bangsa dari perspektif akhlak.

Keempat, menjalin kerja sama dengan lembaga negara, lembaga pemerintah dan komponen masyarakat serta komponen bangsa lainnya dalam bidang perbaikan akhlak bangsa.

Pertemuan di Purwokerto itu dipandu oleh Ketua Fordakom PTKIN Suparto MEd PhD, yang juga Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Suparto menyambut baik upaya dari PDPAB. Dia berharap PDPAB dan PTKIN bisa berkolaborasi serta bersinergi.

Sebagai informasi, PTKIN berada di bawah tanggung jawab Kementerian Agama. Ada tiga jenis perguruan tinggi di dalamnya, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Saat ini ada 58 PTKIN yang tersebar di Indonesia saat ini, meliputi 17 UIN, 34 IAIN, dan 7 STAIN. (mui)

 

Medan Juang Santri Luas, Mulai dari Pengusaha hingga Pejabat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa kiprah para santri masa kini makin luas. Peran santri semakin dibutuhkan masyarakat. Medan juang mereka juga semakin luas.

“Santri bisa jadi apa saja. Bisa jadi ulama, pengusaha, anggota polisi, TNI, wakil menteri, menteri, bahkan presiden,” kata Wamenag saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Amin Tanjung Kawalu Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/9/2021).

Menurut Wamenag, perluasan kiprah santri di pelbagai bidang ini tidak terlepas dari pola pendidikan yang diajarkan di pesantren. Santri tidak hanya ditempa secara akal agar pandai nan cerdas, tetapi juga dibentuk untuk memiliki akhlak yang mulia.

“Dan itulah yang dibutuhkan seluruh bidang profesi,” ungkap Wamenag.

Wamenag berharap para santri tidak hanya menjadi saleh, tapi juga mushlih. “Menjadi apapun kelak, saya berharap santri tidak hanya menjadi saleh, tapi juga mushlih,” ujar Wamenag.

“Karena ukuran kebaikan seseorang adalah sejauhmana ia bermanfaat bagi orang lain. Khairunnasi anfa’uhum linnas,” lanjut Wamenag.

Oleh karena itu, Wamenag berpesan agar para santri menata niat dengan sebaik-baiknya. Harus semangat belajar dan ikhlas dalam menuntut ilmu.

“Jadi kita harus bangga menjadi santri, karena santri itu keren,” tandasnya.

Hadir dalam silaturahim ini, Pimpinan Pondok Pesantren Al Amin Tasikmalaya KH. Wawan Nawawi,  Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat Adib, Kepala Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya Ali Abdul Latief, Kepala Kankemenag Kabupaten Tasikmalaya Usep Saifuddin Muhtan, serta para Guru Ponpes Al Amin.

Inspiring Lecturer by Paragon: Lahirnya Dosen Penggerak Perubahan untuk Indonesia

Inspiring Lecturer by Paragon (ILP), sebuah program pemberdayaan dosen persembahan PT Paragon Technology and Innovation, merupakan langkah awal dari lahirnya agent of change di lingkungan kampus

 

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Dengan adanya kurikulum baru Kampus Merdeka, para dosen di Indonesia dituntut untuk dapat memberikan kebebasan pada mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan yang  dibutuhkan oleh industri. Selain itu, pandemi yang juga tidak kunjung berakhir membuat banyak dosen kewalahan untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan daring. Untuk menghadapi perubahan ini, para dosen perlu dibekali keterampilan yang menunjang kelancaran proses belajar. Menanggapi fenomena ini, PT. Paragon Technology and Innovation (Paragon) hadir dan mengajak berbagai mitra profesional pendidikan yang meliputi Maxima Indonesia, Pemimpin.id, IAF Indonesia, Aksara, Everidea Edu, Negarawan.id, serta Websis Edu untuk memberikan pelatihan kepada para dosen. Adapun program pemberdayaan ini diberi nama Inspiring Lecturer by Paragon.

 

Inspiring Lecturer by Paragon (ILP) diinisiasi oleh Paragon untuk meningkatkan kapasitas para dosen perguruan tinggi di Indonesia sehingga mampu menjadi agen perubahan (agent of change) dalam mewujudkan semangat Merdeka Belajar. Program ini memberikan penguatan kompetensi inti, pembekalan keterampilan kunci, dan pengayaan untuk memfasilitasi para dosen agar dapat menjadi penggerak utama ekosistem pendidikan di Indonesia. Sejak tanggal 26 Juni hingga 18 September 2021, 306 dosen terpilih dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengikuti sesi pembelajaran ILP melalui platform Zoom Meeting, Discord, dan EPIC (platform learning Paragon University). Metode ajar yang dilakukan meliputi pembuatan rencana aksi, group coaching, dan keterampilan fasilitasi. Lewat program ini, para dosen mendapatkan wawasan dan ilmu baru mengenai metode mengajar yang dapat diterapkan di perguruan tinggi. “Sangat luar biasa beruntung ikut agenda ini. Semoga paragon dan ILP dapat juga mewadahi hingga benar-benar sampai ada outcome dari kami semua baik itu paper internasional, buku kolaborasi, pengabdian masyarakat kolaborasi, dan kolaborasi lainnya” ujar Nurul Fauziyyah, salah satu dosen peserta Inspiring Lecturer by Paragon ketika diminta memberikan kesan dan pesan program.

 

Minggu, 26 September 2021, Paragon mengadakan graduation untuk para dosen yang telah mengikuti rangkaian ILP dari awal hingga akhir. 306 dosen yang merupakan peserta ILP hadir dalam Zoom Meeting untuk mengikuti acaragraduation yang meliputi talk show pendidikan dan graduation speech. Dalam talk show pendidikan yang bertajuk “Bertumbuh, Bermanfaat, dan Bermakna”, Amurwani Dwi Lestariningsih (Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kemendikbud Ristek) menyampaikan, “Dunia sekarang sudah memasuki era industri 4.0. Dosen tidak lagi harus mengajar dalam kelas satu arah. Sumber bacaan dan teknologi bisa diakses oleh seluruh mahasiswa dimana saja. Mahasiswa sekarang lebih pintar. Disinilah peran dosen diperlukan. Dosen tidak lagi sumber utama pengetahuan, tapi fasilitator dan penggerak. Kita perlu mendampingi dan memberikan coaching kepada mahasiswa agar mereka dapat menemukan tujuan dan visi misi mereka”.

 

ILP merupakan program yang memfasilitasi para dosen dengan sejumlah keterampilan termasuk diantaranya coaching. Lewat program ini, Paragon berharap dapat melahirkan banyak sosok agen perubahan dari kalangan dosen yang mampu memberikan learning inspiration. Hal ini akan memberikan culture management dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah mindset dan turut menjadi penggerak. Dosen penggerak dapat menjadi pendorong mahasiswa, mencetak mahasiswa yang inovatif, kreatif dan mampu menghadapi tantangan ke depan.

 

Kedepannya, Paragon juga berharap bahwa berakhirnya rangkaian ILP tidak menjadikan program ini berhenti di sini saja, namun justru menjadi awal dari lahirnya banyak perubahan dan karya menginspirasi yang diinisiasi oleh para dosen. “Setelah lulus usahakan belajar lagi seperti first day mentality. Dengan cara ini kita dapat menumbuhkan budaya coaching dalam kampus“, ujar Salman Subakat (CEO PT Paragon Technology and Innovation). Adapun setelah pengukuhan graduation dilakukan, para dosen alumni ILP akan disatukan dalam suatu komunitas bernama Inspiring Lecturer, wadah penggerak dari lahirnya agen perubahan di kampus. Buku “Antologi Inspiring Lecturer by Paragon” yang turut dirilis pada akhir acara graduation menjadi blueprint dari program ILP yang telah berlangsung. Dengan begitu, program ini dapat terus menginspirasi dan memberikan manfaat kepada para tenaga pendidik dan masyarakat luas.

Siswa Madrasah Diimbau Terus Jaga Prokes Saat PTM

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi meminta kepada para siswa madrasah agar terus menjaga protokol kesehatan pada pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat meninjau PTM terbatas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tasikmalaya, di Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/9/2021).

“Kesempatan untuk tatap muka ini agar dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kita juga harus kerja sama untuk sama-sama menerapkan protokol kesehatan,” kata Wamenag.

PTM terbatas di MAN 1 Tasikmalaya berjalan sejak awal September 2021. Kapasitas kelas hanya diisi maksimal 50 persen dari jumlah siswa. Sistem belajar PTM Terbatas bergantian setiap minggunya.

 

Usai meninjau PTMT, Wamenag meresmikan gedung baru Kantor MAN 1 Tasikmalaya. Kepala TU MAN 1 Tasikmalaya Rudiatna melaporkan bahwa gedung ini dibangun dari dana partisipasi masyarakat, alumni, dan komite.

Bangunan tiga lantai yang berdiri kokoh di samping lapangan, digunakan untuk ruang lab bahasa, ruang pembelajaran, kantor administrasi, serta ruang kepala sekolah.

“Alhamdulillah, gedung ini dibangun hasil dari antusiasme masyarakat, teman-teman alumni. Setelah lulus, alumni tidak melupakan almamaternya,” kata Rudiatna.

“Bahkan, tidak hanya gedung ini. Alumni juga gotong royong membangun masjid di madrasah ini,” tandasnya.

Hadir Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat Adib, Kepala Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya Ali Abdul Latief, Kepala Kankemenag Kabupaten Tasikmalaya Usep Saifuddin Muhtan, Kepala MAN 1 Tasikmalaya Atam Rustam, serta Dewan Guru MAN 1 Tasikmalaya.

10 Muharram Didorong Jadi Hari Yatim Nasional

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum menyatakan, saat ini Pemprov Jabar atas prakarsa Gubernur Jabar Ridwan Kamil, terus mengusulkan agar ada Hari Anak Yatim Nasional yang diperingati setiap 10 Muharram.

“Kami sedang berusaha mendorong pemerintah pusat terkait Hari Nasional Anak Yatim, dan momentum itu agar pemberian bantuan kepada anak yatim bisa dilakukan secara negara,” ujar Uu kepada wartawan, di Gedung Sate, Senin (27/9).

Menurut Uu, agar Hari Anak Yatim itu bisa terealisasi, pihaknya sedang meminta dukungan ke semua organisasi masyarakat agar ini bisa terwujud. “Proses usulan kami ke pusat sudah berjalan dari tahun kemarin. Alhamdulillah banyak dukungan dari berbagai pondok pesantren dan organisasi masyarakat (Ormas). Gubernur pun ikut mendorong lahirnya (hari) anak yatim ini,” paparnya.

Uu menjelaskan, Hari Anak Yatim sangat penting karena kalau tak ada legalitas dan payung hukum maka tak ada kekuatan untuk menganggarkan.

“Nantinya kan kalau Hari Anak Yatim ini dilegalkan maka akan digelar peringatan hari besar nasilnal (PHBN) untuk memberikan bantuan anak yatim alokasi anggarannya jelas,” katanya.

Menurut Uu, pihaknya mengusulkan tanggal 10 Muharam karena kemenangan perang dan kejayaan umat Islam di bulan Muharam. “10 Muharam kan biasanya hari untuk memberikan bantuan ke anak yatim piatu harus kita resmikan secara nasional,” kata Uu.

 

Sumber: republika.co.id

Ma’had Dinilai Menjadi Benteng Umat dan Edukasi Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mendukung pengembangan Ma’had Al-Jami’ah atau pesantren di perguruan tinggi. Menag melihat, keberadaan ma’had strategis dalam pembentukan karakter dan kepribadian mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Ma’had Al-Jami’ah adalah tempat menempa karakter dan kepribadian,” tegas Menag Yaqut saat meninjau Ma’had Al-Jamiah UIN Walisongo di Semarang, Minggu, (26/9/2021).

Di antara karakter dan kepribadian santri, kata Menag, adalah sikap hormat kepada orang tua. “Penghormatan itu adalah karakter. Kalian, anak-anakku sekalian, tidak akan menjadi apa-apa kalau tidak mempunyai karakter,” tuturnya.

Menag juga minta para mahasantri untuk tampil percaya diri. Menurutnya, santri tidak boleh minder. “Seorang santri, bisa jadi apa saja. Mau jadi Presiden, Wakil Presiden, Menteri, bahkan jadi Calon Presiden juga bisa. Itulah Santri bisa jadi apa saja,” kata Gus Yaqut disambut riuh tepuk tangan santri Ma’had Al-Jami’ah.

Di hadapan civitas akademika dan mahasantri UIN Walisongo, Menag Yaqut menegaskan komitmennya dalam pengembangan pesantren perguruan tinggi. “Saya siap mengawal sampai tuntas. Catat komitmen saya ini. Saya juga minta komitmen kepada adik-adik, belajar yang sungguh, agar nanti ketika keluar dari Ma’had mempunyai karakter dan keadaban, berguna bagi bangsa,” pesan Gus Yaqut.

Kepala Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, Ahmad Ismail menyampaikan kebanggaannya atas kunjungan Menteri Agama dan rombongan. “Ini kali pertama, Ma’had dikunjungi Menteri Agama,” kata Ahmad Ismail.

Ahmad Ismail menyampaikan bahwa Ma’had bukan lembaga ilmu saja, namun menjadi tempat pembentukan karakter mahasiswa, dengan kurikulum keislaman dan ketawadhu’an pengasuhnya.

“Ma’had bisa dijadikan benteng NKRI, dan pembentukan wawasan kebangsaan,” tambah Ahmad Ismail.

Rektor UIN Walisongo, Semarang, Imam Taufiq, melaporkan bahwa UIN Walisongo ingin menjadikan Ma’had menjadi ciri khas dan karakter tersendiri bagi kampus.

“Hanya melalui Ma’had akan melahirkan generasi-generasi yang hebat. Menjadikan center of excelence melalui Ma’had. Semoga, mulai tahun depan, semua mahasiswa baru bisa mondok di Ma’had Al-Jamiah. Semoga akselerasi ini dapat dipercepat. Kami menunggu arahan Bapak Menteri Agama,” tutup Imam Taufiq.

Tampak hadir Staf Khusus Bidang Image Building dan Pengembangan IT, Wibowo Prasetyo, dan Kakanwil Kemenag Jateng Musta’in.

 

Suka Duka Belajar di Pesantren Darul Fikri Sidoarjo

Sidoarjo, 26/09 perasaan campur aduk dirasakan oleh Naura Firlianti Muthmainnah, salah seorang santri SMP Darul Fikri kelas 9. Pasalnya, ia masih menerapkan pembelajaran daring disaat adik – adik kelasnya sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka. Di satu sisi santri yang biasa dipanggil Naura merasa senang karena masih bisa belajar di tengah keluarga. Di sisi lain Naura merasa sedih karena tidak bisa berkumpul bersama teman – teman.

Menurut Naura, pembelajaran tatap muka di pesantren memiliki beberapa kelebihan yang menghasilkan cerita bahagia. Salah satunya  adalah tumbuhnya persahabatan di antara para santri. Persahabatan itu tumbuh seiring dengan kebersamaan para santri.

“Saya sering makan bareng, mencuci baju bareng, berangkat sekolah bareng, dan belajar bareng.Hal itu membuat saya benar – benar senang sekolah di pondok pesantren,” ujar Naura.

Hal lain yang menjadi kelebihan belajar di pesantren menurut Naura adalah sistem pembelajaran yang sangat disiplin. Baik guru – guru maupun teman siap membantu siswa dalam belajar . Jika Naura mengalami kesulitan dalam belajar ia tidak akan sungkan untuk meminta tolong pada guru maupun teman.

“Saya sering kesulitan belajar matematika, biasanya kalau kesulitan saya minta bantuan ke teman yang pintar. Jika saya sulit menghafal Al – Qur’an saya minta bantuan ke guru tahfidz untuk mencarikan solusi dari masalah saya,” ungkap Naura bersemangat.

Belajar di pesantren juga tidak selamanya bahagia. Ada saat – saat sedih yang dialami para santri. Saat – saat sedih itu menurut Naura adalah saat jadwal besuk. “Saat teman saya dibesuk dan saya tidak dibesuk saya sangat sedih, saya merasa iri sama teman yang dibesuk keluarganya,” jelas Naura.

Naura menambahkan saat sedih yang ia pernah rasakan selama belajar di pondok adalah saat bertengkar dengan teman seasrama. Naura jadi tidak bisa bertegur sapa dan bermain dengan temannya.

Namun pertengkaran antar teman juga mempunyai hikmah. Hikmah yang bisa diambil Naura adalah tumbuhnya sikap dewasa. “Karena bertengkar, saya dan teman saya jadi lebih dewasa. Kita jadi mengerti kalau orang itu beda – beda sifat dan karakternya,” kata Naura.

Naura berpesan pada para siswa dan masyarakat untuk tidak berpikir negatif tentang pondok pesantren. Tidak selamanya pondok pesantren itu sarang orang – orang radikal dan teroris. Ada banyak orang – orang yang cinta pancasila yang berasal dari kalangan santri. Contohnya santri – santri di pondok pesantren Naura.

“Di pesantren saya diajarkan menjadi orang yang nasionalis. Banyak pelajaran nasionalisme yang diajarkan para guru. Di pesantren saya juga melaksanakan upacara bendera secara rutin. Maka, jangan ada keraguan tentang nasionalisme di pesantren,” tutup Naura.

MPU Aceh dan BPJPH Sepakat Sinkonkran Sertifikasi Halal

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama bersama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MPU Aceh sepakat untuk mensinkronkan pelaksanaan sertifikasi halal.

Kesepakatan ini diraih dalam pertemuan yang digelar di Banda Aceh. Hadir, Pelaksana Tugas Kepala BPJPH Mastuki, Wakil Ketua MPU Aceh Muhibbuthabary, Sekretaris BPJPH M. Arfi Hatim, Kepala Sekretariat MPU Aceh M Murni, dan Ketua LPPOM MPU Thabrani.

“Selain menegaskan bahwa Jaminan Produk Halal (JPH) telah menjadi komitmen bersama yang berlaku secara nasional, koordinasi ini juga menghasilkan kesepakatan penting untuk mensenyawakan penyelenggaraan Jaminan Produk Halal di Aceh sebagai bagian dari penyelenggaraan Jaminan Produk Halal nasional,” ungkap Plt Kepala BPJPH Mastuki di Banda Aceh, Jumat (24/9/2021).

Selama ini, pelaksanaan sertifikasi halal di provinsi Aceh dilaksanakan berdasarkan Qanun Aceh Nomor 8 tahun 2016 tentang Sistem Jaminan Produk Halal. Sertifikasi dilaksanakan oleh LPPOM MPU Aceh di bawah koordinasi MPU Aceh yang merupakan mitra kerja Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

“Prinsipnya Jaminan Produk Halal sebagai komitmen nasional wajib berlaku di seluruh Indonesia. Ini penting dan berkorelasi dengan pengakuan sertifikat halal secara internasional,” lanjut Mastuki.

“Oleh karena itu, maka perlu ada sejumlah sinkronisasi, agar berkesesuaian dengan semangat dan ketentuan Undang-undang JPH, Undang-undang Cipta Kerja, Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 2021, serta regulasi JPH lainnya,” lanjutnya.

Upaya sinkronisasi tersebut di antaranya terkait fungsi dan kewenangan MPU Aceh dan LPPOM MPU supaya berkesuaian dengan fungsi dan kewenangan sesuai regulasi JPH. Misalnya, LPPOM MPU di Aceh dapat difungsikan sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) tersendiri yang didukung oleh pemerintah Aceh secara khusus . Regulasi JPH juga memungkinkan LPH didirikan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.

“Jadi upaya ini sifatnya untuk memperluas, mengembangkan dan meningkatkan, bukan memotong yang sudah ada, tidak cut off, tapi smooth, sehingga Qanun tetap terakomodir, amanat UU dan PP juga tercover di dalamnya,” imbuh Mastuki.

Selain itu, BPJPH dan MPU Aceh juga berencana untuk mengintegrasikan sistem informasi layanan sertifikasi yang dimiliki kedua pihak.  BPJPH saat ini telah mengimplementasikan Sistem Informasi Halal atau SIHALAL, sedangkan MPU Aceh telah mengembangkan Sistem Informasi Jaminan Produk Halal atau SIJAMAL.

“Integrasi sistem layanan ini dimaksudkan untuk mempermudah integrasi data yang tentu dibutuhkan dalam penyesuaian sertifikat halal yang telah diterbitkan. Integrasi sistem layanan juga menjadi bagian dari upaya peningkatan layanan kita kepada pelaku usaha dan masyarakat,” tambah Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH tersebut.

Selain itu, BPJPH dan MPU juga bersepakat untuk meningkatkan kuantintas serta kompetensi auditor halal yang ada. Auditor halal dengan kualifikasi tertentu dapat direkognisi secara langsung. Sedangkan auditor halal dengan kualifikasi di bawahnya dapat diupgrade melalui pelatihannya baik yang diadakan oleh BPJPH atau lembaga lain.

Elemen Relawan Banten Gelar Bakti Sosial dan Aksi Layanan Kesehatan

SERANG(Jurnalislam.com)—Gabungan relawan Banten yang terdiri dari beberapa elemen seperti Yayasan Nusa Karya Insani, Pelayanan masyarakat (Yanmas)  Jamaah Ansharusy Syariah Banten, Forum Me-Dan Banten dan  Aya Klinik menghelat bakti sosial,cek kehamilan dan pelayanan kesehatan gratis di Kp. Laban  kecamatan Tanara Kabupaten Serang Provinsi Banten, Ahad (26/09/2021).

Rangkaian kegiatan terdiri atas pembagian sembako, cek kehamilan dan pelayanan kesehatan gratis. Kegiatan ini di mulai dari jam 09.30 pagi dengan di awali  sambutan dari Bpk Mulhat ketua RT Kp. Laban, Roby Maulana Kordinator Forum Me-dan wilayah banten,Addin dari Yayasan Nusa Karya Insani dan dilanjut dengan Tausiah dari Ustadz Imron.

“Saya menyampaikan rasa terimakasih yang setinggi-tingginya kepada para Relawan yang begitu peduli kepada warga kami ketika pemberlakuan PPKM yang berdampak turunnya hasil perekonomian warga. Semoga Allah balas kebaikan para relawan dengan pahala yang berlimpah. ” kata Mulhat, Ketua Rt Kp. Laban dalam sambutannya.

Roby Maulana, koordinator acara menyampaikan apresiasi kepada warga  yang menyambut baik para relawan. “Mudah-mudahan apa yang kami berikan bermanfaat untuk warga kp. Laban,” tambahnya.

Sembako yang  dibagikan berupa makanan pokok untuk 80 KK. Layanan Kesehatan juga diberikan seperti pengecekan kesehatan diantara lain adalah pengecekan kehamilan, pengecekan darah dan edukasi tentang reproduksi.

“Harapan dari pelayanan kesehatan ini yaitu untuk memberi wawasan kepada para warga agar tetap menjaga kesehatan, khususnya remaja agar memiliki kesehatan tubuh yang baik sehingga kelak keturunan nya memiliki fisik yang sehat, bugar serta cerdas dalam hal apapun,” kata bidan Mia perwakilan Aya Klinik kepada Jurnalislam.com.

Warga pun menyampaikan terima kasih kepada. Salah satu pihak, Ketua yayasan Nusa Karya Insani Tian Munggaran berharap acara ini menjadi ajang silaturahim dan membantu sesama.

reporter: Muhammad Dyan

Cetak Sarjana Unggul, STIKMA Malang Gelar Wisuda

MALANG(Jurnalislam.com)–Sebanyak 12 wisudawan tampak hadir dalam acara wisuda sarjana Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional. Dengan menggunakan toga, mereka siap untuk di wisuda tahun 2021 ini.

Bertempat di Harris Hotel Riverside, Jl. A. Yani, Polowijen, Malang acara wisuda menerapkan protokol kesehatan yang ketat, semua wisudawan dan peserta yang hadir wajib menggunakan masker & menjaga jarak. Sabtu, (25/9/2021)

Suasana khitmad mengiringi prosesi wisuda mahasiswa STIKMA dari 3 Prodi tersebut, yakni S1 Teknik Infomatika & Arsitektur serta D3 Komputer multimedia.

Ada yang menarik dalam wisuda tersebut,  bersamaan dengan wisuda, Manager Kelembagaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur, Indokhul Makmun, SE menyerahkan bantuan paket beasiswa Super Prestasi senilai 252 juta yang meliputi biaya pendidikan, biaya asrama dan pengembangan bakat.

“Selama beberapa tahun ini, Laznas BMH terus aktif peduli dalam dunia pendidikan, salah satunya STIKMA ini untuk terus mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global”ungkap Makmun.

Beliau juga menambahkan,

“Semoga dengan adanya bantuan pendidikan ini, semakin banyak generasi yang siap tampil di masyarakat dengan ketrampilan yang mumpuni dalam merespon problematika ummat di dunia global sekarang ini.”imbuh Makmun