17 Imam Masjid Indonesia Dikirim ke UEA

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama (Kemenag) segera memberangkatkan 17 imam masjid ke Uni Emirat Arab (UEA), dalam waktu dekat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kemenag, Adib.

Dia mengatakan, kepastian keberangkatan para imam masjid ke UEA menunggu kelengkapan hasil _medical check up_ (MCU) dan visa. Selain persiapan seperti kelengkapan berkas data diri hingga bimbingan pemahaman Islam wasatiah.

“Insyaallah dalam waktu dekat, imam-imam masjid akan berangkat ke UEA. Kita menunggu kelengkapan tes medis dan berkas-berkas yang dibutuhkan. Setelah itu, kita juga akan memberi bimbingan kepada mereka terkait Islam wasatiah,” ujar Adib di Jakarta, Rabu (11/5).

Adib menargetkan, 17 imam masjid akan berangkat pada awal Juni 2022 mendatang. Hal ini, kata dia, mengingat beberapa imam sudah memberikan konfirmasi terkait hasil MCU dan kelengkapan berkas. “Karena dari pihak UEA juga sudah meminta secepatnya imam masjid untuk diberangkatkan,” ungkapnya.

Selain fokus pada pemberangkatan imam masjid yang sudah terseleksi pada 2021, lanjut mantan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat ini, pihaknya juga tengah fokus menyeleksi imam-imam masjid baru. Sesuai rencana, tahun 2022 ini Kemenag menargetkan menyeleksi 150 imam masjid.

“Kita juga sedang fokus pada penerimaan seleksi imam masjid baru. Pada 2022 ini, kita menargetkan sebanyak mungkin hafiz qur’an bisa mendaftarkan diri. Ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak pengalaman bagi para hafiz,” katanya.

“Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Husin Bagis pada tahun 2022 ini dibutuhkan 150 imam masjid yang dapat ditempatkan di beberapa negara bagian UEA,” tambahnya.

Sebagai informasi, penerimaan seleksi imam masjid untuk UEA tahun 2022 masih dibuka hingga 30 Mei mendatang. Salah satu syarat diubah, yaitu batas minimal usia dari 25 tahun atau sudah menikah menjadi 21 tahun atau sudah menikah.

Marak Hepatitis Akut, Siswa Diminta Bawa Bekal dari Rumah

MAKASSAR(Jurnalislam.com) — Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Sulawasi Selatan Muhyidin mengimbau para siswa membawa bekal makanan sendiri saat sekolah. Langkah ini penting untuk mencegah penularan hepatitis akut dari jajanan makanan yang tidak terjamin kualitas dan kesehatannya.

“Sebagai langkah antisipasi, kami telah menyampaikan kepada orang tua untuk mewaspadai, terutama pada makanan jadi (jajanan). Memang sejak pandemi kami meminta siswa membawa bekal sendiri saat ke sekolah,” tutur dia, Rabu (11/5).

Ia menekankan seluruh siswa tidak membeli makanan sembarangan di luar lingkungan sekolah agar terhindar dari penularan virus misterius tersebut. Bagi para siswa yang biasanya menunggu jemputan di sekolah, katanya, mereka diminta tidak jajan sembarangan di luar sekolah. Sedangkan orang tua harus meningkatkan kewaspadaan atas penularan penyakit itu dengan mengingatkan anak-anaknya.

“Kita berharap, mudah-mudahan di Makassar tidak ada (kasus anak terpapar hepatitis akut). Untuk mencegah hepatitis misterius itu, kita minta seluruh sekolah tidak ada kegiatan saat pulang sekolah,” ucapnya.

Selain itu, Satuan Tugas Covid-19 pendidikan termasuk guru-guru, kata dia, ditugaskan memantau siswa dan melarang tidak keluar dari lingkungan sekolah untuk sementara waktu. “Kita juga tidak bisa melarang (penjual jajanan) untuk menjual dagangan makanan di sekitar sekolah meski sudah diperingatkan. Saya juga sudah sampaikan pada Satpol PP sejak awal PTM sudah kita koordinasikan agar bisa ditertibkan,” paparnya.

Mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) untuk SD setelah libur Lebaran, kata Muhyudin, tetap dilanjutkan. Sejauh ini belum ada instruksi untuk pelaksanaan secara daring.

Ujian nasional juga masih berlangsung sampai hari ini. “Besok kelas 1-5 kembali lagi masuk sekolah PTM, meski PPKM level 3 di Makassar, tapi tidak ada kasus baru. Untuk vaksinasi Covid-19, seluruh guru sudah divaksin, di atas 98 persen. Kalau untuk Pemkot Makassar  80 persen ke atas,” sebut dia.

Sumber: republika.co.id

 

6169 Siswa Ikuti Seleksi Beasiswa Santri

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Proses pendaftaran dan verifikasi peserta seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) sudah selesai. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama mencatat ada 6.169 santri yang berhak mengikuti tes berbasis elektronik yang akan berlangsung pada 12 Mei 2022.

“Program Beasiswa Santri Berprestasi selalu ramai peminat. Tahun ini ada 6.169 santri yang lolos verifikasi dan berhak ikut computer assested test (CAT) pada 12 Mei 2022,” terang Direktur PD Pontren Waryono Abdul Ghafur di Jakarta, Rabu (11/5/2022).

“Tingginya minat santri untuk mendaftar PSBB ini perlu diafirmasi dengan alokasi anggaran yang memadai,” sambungnya.

Menurutnya, sampai penutupan, total ada 13.011 santri yang mendaftar. Mereka berasal dari 1.730 pesantren. Namun, yang melengkapi data persyaratan pendaftaran berjumlah 6.391. Setelah dilakukan verifikasi, ada 6.169 santri yang berhak ikut CAT.

Menurutnya, materi tes dibagi dalam dua jenis. Pertama, materi untuk seluruh peserta tes, berupa materi kepesantrenan, keagamaan, dan kebangsaan, serta materi Bahasa (Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris). Kedua, materi sesuai pilihan program studi (prodi). Ada delapan pilihan prodi, yaitu: Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial Humaniora, Sains dan Teknologi, Magister Teknik Informatika, Magister Industri dan Bisnis Halal, Magister Manajemen, dan Magister Ilmu Falak.

“Hasil tes CAT akan diumumkan pada 19 Mei. Peserta yang dinyatakan lolos, berhak ikut tes wawancara yang juga akan dilakukan secara online,” jelas Waryono.

“Tes Wawancara rencana akan dilakukan pada rentang 24 – 27 Mei 2022. Hasil kelulusan PBSB 2022 diumumkan 9 Juni 2022. Nantinya, ada 600 santri yang akan menerima beasiswa pada tahun 2022,” sambungnya.

Waryono menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan 26 perguruan tinggi mitra dalam Program Beasiswa Santri Berprestasi ini. Ada tujuh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), yaitu: UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Gunung Djati, UIN Walisongo, UIN Sunan Kalijaga, UIN Maulana Malik Ibrahim, UIN Sunan Ampel, dan UIN Alauddin.

Selain itu, ada 13 Perguruan Tinggi umum, yaitu: Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Universitas Islam Nusantara, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Wahid Hasyim, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Malang, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, Universitas Islam Makassar, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Ada juga enam Ma’had Aly, yaitu: Ma’had Aly As’adiyah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Ma’had Aly Kebon Jambu, Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah, Ma’had Aly Maslakul Huda, dan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah.

Jurnal Perguruan Tinggi Islam Masuk 10 Besar Tingkat Asean

JAKARTA(Jurnalislamcom)— Jurnal ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terus unjuk prestasi. Ada enam jurnal yang kini menduduki peringkat 10 besar tingkat Asia dalam bidang religious studies atau kajian keagamaan.

Data ini tercatat dalam rilis pemeringkatan jurnal-jurnal dunia yang diterbitkan Scimago Journal & Country Rank (SJR) per 11 Mei 2022. Ada 11 jurnal PTKI yang telah terindeks Scopus. Empat di antaranya meraih peringkat tertinggi pada Q1 (Quartile 1). Selain itu, ada dua jurnal yang berada di peringkat Q2 dan dua jurnal di Q3. Sedang tiga jurnal lainnya belum masuk dalam pemeringkatan.

Adapun enam jurnal yang masuk peringkat sepuluh besar Asia dalam bidang kajian keagamaan adalah: (1) Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) IAIN Salatiga (peringkat pertama), (2) Journal of Indonesian Islam (JIIS) UIN Sunan Ampel Surabaya (kedua); (3) Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS), IAIN Kudus (ketiga); (4) Studia Islamika PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (keempat); (5) Islamic Guidance and Counseling Journal Institut Agama Islam Maarif Nahdlatul Ulama (IAIMNU) Metro Lampung (keenam); dan Al-Jami’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (kesembilan).

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, menilai capaian ini menunjukkan tingginya kontribusi ilmiah civitas akademika PTKI terhadap paradigma berfikir dan pembangunan peradaban global.  “PTKI bukan hanya milik Indonesia, tetapi milik dunia. Eksistensinya tidak hanya untuk membangun peradaban Indonesia tetapi juga masyarakat dunia”, ungkap guru besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini di Jakarta, Kamis (11/5/2022).

Apresiasi juga disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Amin Suyitno. “Hemat saya, jurnal merupakan jendela atas kualitas akademik perguruan tinggi. Semakin tinggi kualitas perguruan tinggi di antaranya ditandai dari seberapa besar reputasi jurnal yang dikelola oleh perguruan tinggi yang bersangkutan,” ungkapnya.

Menurutnya, reputasi terbaik tingkat global, khususnya di bidang religious studies, ini menunjukkan tingginya kualitas PTKI. “PTKI tidak hanya menjadi instrumen dalam meningkatkan mobilitas vertikal kalangan muslim Indonesia di tingkat nasional, tetapi juga tingkat dunia, khususnya mobilitas akademik yang sangat berkualitas,” sebut Suyitno yang juga guru besar UIN Raden Fatah Palembang.

Rektor IAIN Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy mengungkapkan bahwa keberadaan IJIMS dan jurnal-jurnal PTKI di peringkat tertinggi jurnal di Asia adalah buah kerja yang sistematis dan kolaboratif. “Capaian ini bukan semata mengharumkan nama IAIN Salatiga, bahkan juga berimbas pada nama baik PTKIN dan Kementerian Agama,” ungkap Zaki.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pendiri portal MORAREF Kementerian Agama, Al Makin menyatakan bahwa jurnal-jurnal PTKI telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, terutama dalam 10 tahun terakhir. Dia berharap keberpihakan terhadap jurnal melalui berbagai skema pembiayaan perlu dilakukan secara konsisten.

“Dengan meningkatnya jurnal-jurnal kita bertambah percaya diri untuk bersaing dengan perguruan tinggi di lingkungan Indonesia ataupun regional, bahkan dunia. Jurnal di PTKI pasti akan lebih baik lagi ke depan, maka pendanaan riset, berbagai skema riset, dan dukungan kepada riset harus lebih ditingkatkan lagi,” Al Makin.

Koordinator Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Diktis, Suwendi, menyatakan bahwa dirinya terus memberikan pendampingan, fasilitasi, dan afirmasi agar jurnal yang dikelola oleh PTKI terus meraih reputasi yang lebih baik. “Bahkan, saat ini tengah disusun modul peningkatan kualitas jurnal internasional bereputasi agar jurnal yang telah terakreditasi secara nasional mampu meraih reputasi internasional. Selain itu, kami juga sedang menyusun modul agar jurnal yang belum terakreditasi dapat menjadi akreditasi,” ungkap Suwendi yang juga doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Lebih dari itu, afirmasi bantuan untuk peningkatan publikasi ilmiah baik dalam bentuk buku maupun artikel pada jurnal terus diberikan. “Ini semua dilakukan agar kapasitas intelektual dosen di lingkungan PTKI terus meningkat dan semakin produktif,” papar Suwendi.

Sejumlah pengelola jurnal pun tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Managing Editor Studia Islamika, Oman Fathurahman, menyebutkan bahwa capaian ini adalah sinyal baik yang menegaskan posisi kajian Islam Indonesia di mata dunia. “Studia Islamika sejak awal memiliki misi menjembatani kesenjangan kajian keislaman di Indonesia dan dunia. Meskipun pemeringkatan bukan tujuan, namun peningkatan sitasi dalam sebuah jurnal adalah indikator tinggi rendahnya kebermanfaatan dan kontribusi artikel yang diterbitkan terhadap kemajuan bidang keilmuan terkait,” ungkap Guru Besar FAH UIN Jakarta ini.

Executive Editor Journal of Indonesian Islam, Khoirun Niam mengamini pernyataan Oman. Menurutnya, capaian ini bermanfaat bagi tumbuh kembangnya academics atmosphere di PTKI menuju pendidikan tinggi yang mendunia. “Ini adalah upaya yang berliku. Tidak mudah mempertahankan prestasi ini. Saya bangga dengan capaian Journal of Indonesian Islam (JIIs) di Scimago JR tahun 2021. JIIs dapat mempertahankan posisi Q1 pada semua bidang keilmuan yang dinaungi: Religious Studies, Cultural Studies dan History. Terlebih lagi dengan nilai SJR yang naik dari posisi 0.254 di tahun 2020 menjadi 0.286 di tahun 2021,” ungkap Niam.

Kebanggaan yang sama juga diungkap oleh Editor-In-Chief Islamic Guidance and Counseling Journal (IGCJ), Aprezo Pardodi Maba. “Ini adalah buah kerja sama yang solid dari semua pihak. Quartile dan SJR ini menjadi modal penting bagi IGCJ dalam menarik perhatian penulis-penulis bereputasi internasional dimasa yg akan datang,” ungkap Aprezo.

Setahun Setelah Penyerangan Israel di Gaza, Para Penyintas Masih Berduka

GAZA(Jurnalislam.com)–Meskipun setahun telah berlalu sejak perang Israel di Jalur Gaza yang terisolasi, puluhan warga Palestina di daerah kantong yang selamat dari serangan itu masih mencium bau kematian dan melihat kerusakan ke mana pun mereka pergi.

Pada Mei 2021, Israel meluncurkan serangan militer 11 hari di Jalur Gaza, menyusul rentetan roket dari Gaza, yang pada gilirannya ditembakkan sebagai tanggapan atas perambahan Israel di Masjid Al Aqsa, situs tersuci ketiga bagi umat Islam.

Selama gelombang pertempuran sengit, pesawat tempur Israel melakukan ratusan serangan udara di Jalur Gaza, rumah bagi lebih dari dua juta orang, yang sebagian besar adalah pengungsi. Lebih dari 260 warga Palestina tewas, dan lebih dari 2.000 orang terluka.

Pada saat yang sama, faksi bersenjata Palestina di Gaza menembakkan ribuan roket ke Israel, menewaskan lebih dari 10 orang.

Selain itu, tentara Israel melakukan beberapa pembantaian yang mencakup pembunuhan 19 keluarga Palestina (semuanya warga sipil), yang berjumlah 91 orang termasuk 41 anak-anak dan 25 wanita.

Jalan Al-Wihda, di pusat Kota Gaza, adalah salah satu jalan terpenting yang menjadi saksi bisu pembantaian kompleks setelah menjadi sasaran pesawat tempur Israel yang menyerang beberapa bangunan tempat tinggal tanpa peringatan sebelumnya kepada penghuninya.

Bekas-bekas kehancuran dan kekejaman tempat kejadian masih tetap ada, karena memang belum ada rekonstruksi di tempat-tempat ini sebabkan adanya blokade oleh Israel.

Abu al-Ouf, al-Kulak dan Shkontana, termasuk di antara keluarga paling terkemuka yang kehilangan puluhan anggota keluarga mereka pada “malam yang mengerikan” 16 Mei, ketika pesawat tempur Israel menargetkan bangunan dengan puluhan rudal sambil mengklaim bahwa terdapat terowongan bawah tanah milik Hamas di bawah bangunan rumah mereka.

Berbicara kepada The New Arabs, orang-orang yang selamat dari pembantaian brutal ini mengatakan bahwa mereka tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi mangsa bagi kriminalitas Israel, menjadi catatan bahwa saat-saat tragis itu masih menghantui mereka setiap hari.

Alaa Abu al-Ouf kehilangan 14 anggota keluarganya, termasuk istri dan dua putrinya, Shaimaa dan Rawan, sementara putri bungsunya, Maram, lolos dari maut.

“Saya tidak bisa melupakan hari yang menentukan itu,” kata pria berusia 50 tahun itu kepada The New Arab. Malam itu, suara pengeboman berat terdengar di mana-mana, kenang al-Ouf.

“Kami tidak tahu apa yang terjadi. Awalnya, saya pikir kami semua akan mati, tetapi dua putri saya meninggal, sementara istri saya terluka parah,” katanya.

Meskipun kesakitan, dia memberi tahu istrinya tentang kematian putri mereka. “Saya menunggu selama berhari-hari hingga istri saya bangun dari koma, tetapi dia meninggal beberapa hari setelah berakhirnya perang Israel.”

“Saya masih mengalami mimpi buruk di malam hari dan saya tidak bisa menghapus gambar menyakitkan ini dari ingatan saya,” tambahnya.

Shukri al-Kulak menghadapi situasi yang sama seperti Abu al-Ouf, tetangganya. Al-Kulak kehilangan 22 anggota keluarganya, termasuk orang tuanya, istrinya, tiga anaknya, dan empat saudara laki-lakinya, selain anak-anak mereka.

“Rumah tinggal enam lantai kami ada di sini, tetapi sekarang tidak ada apa-apanya,” kata ayah empat anak berusia 50 tahun itu sambil berdiri di depan alun-alun yang kosong.

“Saya selalu berpikir bahwa kami tinggal di tempat yang aman, tetapi tampaknya justru sebaliknya,” kata al-Kulak, seraya menambahkan bahwa “semalam dan semua anggota keluarganya terjebak di bawah puing-puing rumah mereka tanpa mengetahui apa yang terjadi dengan nasib mereka.”

Baik Abu al-Ouf dan al-Kulak mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum dapat memulihkan kehidupan normal mereka “karena segala sesuatu di Gaza mengingatkan mereka bahwa mereka telah kehilangan keamanan dan stabilitas selamanya.”

Perang Israel di Gaza juga menyebabkan kerusakan material besar-besaran yang diperkirakan sekitar US$479 juta, menurut laporan Komisi Independen Palestina untuk Penuntutan Kejahatan Pendudukan Israel.

“Serangan Israel di Jalur Gaza telah memengaruhi ratusan rumah, termasuk sejumlah menara tempat tinggal yang berisi puluhan rumah, dan pusat hukum dan media seperti Menara Al-Jalaa, Al-Shorouk, Al-Jawhara, dan Menara Hanady,” Ehab Kuhail, terang Direktur Jenderal Komisi kepada The New Arab.

“Tentara Israel dengan sengaja melancarkan serangannya tanpa peringatan; ini mengakibatkan kerugian besar dalam kehidupan warga sipil Palestina: 50% korban tewas adalah wanita dan anak-anak, dan 65% dari total korban,” tambahnya.

Organisasinya telah menyerahkan ratusan dokumen ke Pengadilan Kriminal Internasional, menyerukan penyelidikan segera atas “kejahatan Israel yang dilakukan terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza” serta dakwaan terhadap para pemimpin tentara Israel sebagai sarana untuk mencapai keadilan dan ganti rugi bagi rakyat Palestina. (Bahry)

Sumber: The New Arab

What is Remote Work?

They meticulously record everything employees work on to a private timeline for them, which they can then easily share with their team. Moving away from a traditional office setting and working at home removes a huge social aspect of work. While they may seem innocuous, coffee breaks, group lunches and office jokes are an important mean of bonding and building connection. Telecommuting risks removing this sense of community and support network. A remote employee is someone who is employed by a company, but works outside of a traditional office environment. This could mean working from a local coworking space, from home, at a coffee shop, or in a city across the world.

skill variety

Learn from Hotjar’s experiences to make your customer success program a winner. Unless you’re a world leader, you don’t need to be constantly available. Creative & Design Create high-quality assets and get them approved in record time. We can’t wait to see all that you can accomplish once you’re free to live your life on your terms. Find a remote working travel program to take the first step toward flexible work.

Kick-Start Your Career by Landing Your Dream Remote Job

As lovely as rolling out of bed and into your desk chair might sound, remote work does have some downsides. Working in your home can be distracting (think your roommate’s loud sales calls or your cat constantly walking across the keyboard). It’s also easy to get sucked into doing just one load of laundry when you know your boss isn’t going to walk by and ask you why you haven’t turned that report in yet. Plus, you don’t have colleagues sitting all around you to serve as positive peer pressure to keep working or to provide a sense of camaraderie that keeps you going. So hiring managers will want some assurance that you’ve got a grasp on how to push through the inherent distractions and distance of remote work. “You have a lot of independence in how you manage your time when working remotely,” Taparia says.

  • They love bouncing ideas off each other, and meeting regularly in person.
  • Through service moments, employee events and spatial design, places can become more than just walls and desks – they become spaces where people can do their best, most productive work.
  • Nobody at Hotjar controls or monitors our working hours, except for ourselves.
  • However, the implementation of remote work during COVID-19 was hurried, and new technologies and operating systems have had to be implemented without previous testing or training.
  • Prior remote work experience certainly helps, but it’s sometimes just the way a candidate describes what they’re looking for, or what they liked or disliked about a past experience that tips you off.
  • One of the most touted arguments for remote work is the increased productivity that comes with its flexibility.

The goal of this blog post was to share my experiences as a remote worker, with the hope that it provides a bit of clarity around whether or not remote work could be a good fit for you. And it’s a hard question to answer, since “remote work” can mean so many different things. Very few of the experiences I’ve had—both good and bad—are universally true for remote work. A recent study found that70% of global professionals work remotely at least one day per week, while 53% work remotely at least half the week.

Tell Me About a Time When You Weren’t Sure How To Do Something. How Did You Go About Seeking Out Information?

Keep track of project progress and profitability in real-time. Here are some resources to talk to your company about going remote. There are a variety of ways in which people can work remotely. That’s the beauty of remote work – people can choose to work in a way that makes the most sense for their lives.

  • Talking things out in person tends to be the most straightforward way to resolve issues, so when you can’t do that in a timely manner, conflicts can simmer.
  • Most decisions are temporary, especially in a growing company with a rapidly evolving product, so what’s important is that a reasonably sound decision gets made so that work can move forward.
  • We are drawn to people with great verbal and written communication skills, plus attention to detail.
  • You may allow employees to travel the world, and work from remote locations, or to design a custom schedule that works for both them and the business.
  • Working remotely means that sometimes you’re going to feel a bit…remote.
  • We want people that are looking to keep a consistent work routine, and be available when they’re expected to be available.

Additionally, remote work may not always be seen positively by management due to fear of loss of managerial control. Employees need training, tools, and technologies for remote work. Working in the office with other workers could increase the potential of the worker. Remote work allows employees and employers to be matched despite major location differences. According to the United States Office of Personnel Management, in fiscal 2020, 50% of all U.S. federal workers were eligible to work remotely and agencies saved more than $180 million because of remote work in fiscal 2020. Workers who have the option of working a flexible schedule score higher across every element of the Index than those made to continue working 9-to-5.

What are some common misconceptions about remote work?

If you want to take it up a notch, you can talk to your HR team to personalize team building activities. They will surely have ideas for improving remote employee experience as well. For example, some people have the opportunity to work remotely for the majority of the working week, but have to commute to in-person meetings at the office one day a week.

How can I work remotely with no experience?

To work remotely with no experience, you can start by looking for entry-level remote job opportunities, such as customer service or data entry roles. You can also try freelancing or starting your own remote business, such as offering virtual assistance or tutoring services. Additionally, you can build relevant skills by taking online courses or volunteering for remote work opportunities. Networking and reaching out to professionals in your desired field can also be helpful in finding remote job opportunities.

We look for describe your experience working remotely who have shown initiative and ability to work independently and place a high value on those who have previously worked remotely. Success in a remote position is one of our priorities, as we understand that as attractive as it is to work from home, it is not for everyone. We also look for those who have an extreme focus on customer care and attention and are organized and disciplined. The discipline trait is obviously critical since there is no day-to-day monitoring of their activities. We have to trust that they are doing their job and that distractions are minimized during working hours—and that takes discipline.

Social media manager

An analysis of data collected through March 2021 found that nearly six out of 10 workers reported being more productive working from home than they expected to be, compared with 14% who said they got less done. The Remote Employee Experience Index is based on data from a survey of 9,032 knowledge workers who identify as “skilled office workers” in the U.S., the U.K., France, Germany, Japan and Australia. It analyzes the key perceptual elements of the working experience for 4,700 of the workers surveyed who are primarily working remotely. The survey was fielded between June 30 and August 11, 2020, via GlobalWebIndex, a third-party online panel provider, and commissioned by Slack.

Penghimpunan Wakaf Selama Ramdahan Capai Rp 215 Miliar

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Penghimpunan ziswaf, khususnya wakaf selama bulan Ramadhan lalu mengalami peningkatan. Ketua Forum Wakaf Produktif, Bobby Manulang menyampaikan pencapaian wakaf FWP mencapai kenaikan hingga Rp 215 miliar.

“Kumulatif seluruh anggota FWP berkisar Rp 215 miliar,” katanya, Senin (9/5).

Sementara itu, di Dompet Dhuafa pencapaian wakaf selama Ramadhan mencapai Rp 17 miliar, naik 39 persen (yoy Ramadhan). Bobby yang juga General Manager Wakaf Dompet Dhuafa mengatakan porsi penghimpunan secara digital sendiri mencapai 50 – 65 persen.

Meskipun tidak seluruhnya transaksi melalui digital banking, tetapi mayoritas sudah melalui kanal M-Banking dan QR code. Sebagian ada juga yang bertransaksi via ATM dan juga konter meski tetap mencari atau mendapatkan informasi secara digital atau online.

“Tetap mencari informasi secara online meskipun cara bertransaksinya masih melalui kanal non digital,” katanya.

Menurutnya, tingkat transaksi memang meningkat, tapi untuk nominal cenderung melandai. Hal ini menunjukkan konsistensi berwakaf telah meningkat.

Sumber: republika.co.id

Pemerintah Diminta Serius Tangani Hepatitis Misterius

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah (pemda), serta sekolah mengantisipasi dengan serius kasus hepatitis misterius yang menyerang anak.

Dia meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengingatkan sekolah untuk meningkatkan protokol kesehatan (prokes).

“Kami mendesak Kemdikbudristek dan pemda membuat surat edaran sebagai pengingat, agar sekolah-sekolah meningkatkan disiplin protokol kesehatan, mencegah Covid-19 yang masih pandemi, termasuk mencegah penularan hepatitis terhadap anak,” ujar Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim dalam siaran persnya yang diterima Republika.co.id, Rabu (11/5/2022).

Dia mengatakan, pencegahan kasus hepatitis misterius terhadap anak ini harus menjadi perhatian lebih, khususnya bagi anak usia play group (day care), PAUD/TK, dan SD/MI. Pencegahan harus menjadi kesadaran kolektif, khususnya bagi guru, siswa, dan orang tua.

Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri menjelaskan, surat edaran kepada sekolah, termasuk guru, siswa, orang tua, dan warga sekolah lainnya sangat penting. Dia berharap seluruhnya memiliki pemahaman yang baik terkait kasus hepatitis misterius anak.

“Apa saja indikasi gejala, faktor penyebab, langkah pencegahan, serta kiat hidup bersih demi menjaga anak agar tidak tertular,” kata Iman.

P2G mendesak Kemdikbudristek, Kemeterian Agama, Kementerian Kesehatan, dan pemda meningkatkan pengawasan dan mengevaluasi ketaatan protokol kesehatan di sekolah termasuk pelaksanaan prinsip adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sebab, P2G masih menemukan banyaknya pelanggaran protokol kesehatan di sekolah setelah kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen dimulai beberapa bulan lalu.

“Prokes banyak dilanggar warga sekolah, baik siswa maupun guru makin tak disiplin prokes. Apalagi, pascamudik lebaran ini. Mestinya warga sekolah jangan dulu euforia, status Covid-19 masih pandemi belum endemi,” kata Iman.

Iman melanjutkan, P2G berharap langkah-langkah pencegahan penularan dan disiplin prokes di sekolah menjadi upaya strategis untuk menurunkan angka penyebaran Covid-19. Demi mencegah kasus hepatitis misterius anak tidak menjadi pandemi, yang akan berdampak terhadap kualitas pendidikan nasional.

Sumber: republika.co.id

Mudik Lebaran Dinilai Tanda Indonesia Tangguh Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, penyelenggaraan mudik pada Lebaran Idul Fitri tahun ini menunjukan Indonesia cukup tangguh menghadapi pandemi Covid-19.

Dengan demikian, Indonesia mampu mempertahankan kasus agar tetap rendah dan menciptakan kondisi aman dalam perayaan hari besar.

“Tentunya, ini  momentum penting dan menandakan Indonesia cukup tangguh dan resilience dalam menghadapi pandemi Covid-19,” kata Wiku saat konferensi pers, dikutip pada Rabu (11/5/2022).

Seiring penurunan kasus Covid-19 di tingkat global, beberapa negara mulai melonggarkan pengaturan perjalanan secara berkala, termasuk Indonesia. Menurut Wiku, keputusan ini diambil dengan mengevaluasi perkembangan Covid-19 di seluruh wilayah Indonesia, terutama pada daerah-daerah tujuan mudik terbesar yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, DIY, Lampung, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Wiku mengatakan, kasus positif, kasus aktif, kematian, BOR, serta positivity rate di delapan wilayah yang terus mengalami penurunan signifikan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan tersebut. “Namun, penting untuk mengevaluasi kembali indikator-indikator perkembangan kasus Covid-19 pasca periode libur panjang,” lanjut dia.

Kendati demikian, ia mengingatkan, dengan mobilitas yang tinggi serta kemungkinan lengahnya protokol kesehatan saat kegiatan berkumpul, masih ada potensi peningkatan penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

“Pada pembelajaran libur panjang sebelumnya, dampak periode libur panjang terhadap perkembangan kasus baru dapat dilihat dua sampai tiga minggu pasca periode tersebut,” jelas Wiku.

 

Covid Melandai, Sebagian Sekolah Izinkan Siswa Gelar Perpisahan

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengizinkan siswa SMK, SMA, dan SLB mengadakan kegiatan perayaan kelulusan sekolah. Selain itu, kegiatan study tour juga diberi lampu hijau asalkan memenuhi sejumlah persyaratan.

“Jadi kami mengizinkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan perpisahan, khususnya bagi siswa kelas XII yang sudah lulus,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jabar Dedi Supandi di Bandung, Selasa (10/5/2022).

Dedi mengatakan, kebijakan tersebut menjadi upaya mendukung perkembangan dan pemulihan perekonomian di daerah setempat setelah pandemi Covid-19 mereda. Kegiatan perpisahan itu bisa dilakukan di sekolah maupun luar sekolah dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat dan berpedoman pada status kesiagaan Covid-19 di wilayah masing-masing.

Dedi mengingatkan pelaksanaan acara perpisahan yang digelar di luar sekolah tetap harus dilakukan di wilayah Jawa Barat. Syarat yang sama juga berlaku untuk kegiatan study tour.

“Kami berharap perpisahan sekolah tidak dilakukan di luar wilayah Jabar karena dasarnya dalam rangka pemulihan ekonomi daerah,” kata Dedi.

Menurut Dedi, syarat tersebut harus dipenuhi sebagai upaya mendukung perkembangan dan pemulihan perekonomian di wilayahnya. Ia mengakui, banyak pihak, termasuk siswa, jenuh menghadapi situasi pandemi Covid-19.

“Ini karena kalau warga dan siswa di Jabar membelanjakan atau berkeliling di daerah Jabar, ekonomi akan naik,” kata dia.

Sumber: republika.co.id