Silaturahim Berperan Perkuat Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia menggelar kegiatan Halal bi Halal bersama internal, Pimpinan Bank Muamalat, serta Pimpinan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) karena masih dalam nuansa Idul Fitri. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menyampaikan tentang peran silaturahmi berbagai pihak dalam memajukan ekonomi umat.

“Jika umat sudah bersatu dengan menyambungnya MUI, ditambah nyambungnya lembaga keuangan, ditambah menyambungnya BPKH mengelola 168 Triliun dana umat, saya yakin ekonomi umat akan bangkit,” ujar Anggota Dewan Pengawas BPKH RI ini, Selasa (17/05) saat memberikan sambutan di Ballroom BJ Habibie, Muamalat Tower, Jakarta.

Dikatakannya, bersatunya tiga lembaga tersebut misalnya, akan membangkitkan ekonomi umat. MUI sendiri merupakan wadah ulama, umaro, zuama, dan cendekiawan muslim. Sementara Bank Muamalat misalnya adalah lembaga keuangan syariah sedangkan BPJPH adalah lembaga yang mengelola dana keuangan haji yang pengelolaannya juga menggunakan prinsip syariah. Silaturahmi yang terjalin baik antara MUI, Bank Muamalat, dan BPKH ini, ujar dia, bisa membangkitkan ekonomi umat.

“Jika umat sudah saling terjalin dengan terjalinnya MUI, ditambah terjalinnya lembaga keuangan syariah, ditambahnya menyambungnya BPKH yang mengelola dana 168 Triliun, saya yakin ekonomi umat akan bangkit,” ujar dia. (mui)

 

BPOM dan Kemenag Jalin Kerja Sama Bahas Penyiapan Konsumsi Jamaah Haji

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama terus berupaya untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi jemaah haji Indonesia. Teranyar, Kementerian Agama berupaya untuk memastikan keamanan dan kesehatan pangan atau konsumsi jemaah haji selama di tanah suci dengan menyiapkan Nota Kesepahaman dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

Menurut Menag Yaqut Cholil Qoumas, kesehatan makanan jemaah selama di tanah suci perlu diperhatikan. Sebab, asupan gizi yang baik dapat menunjang kesehatan jemaah sehingga bisa beribadah dengan khusyuk.

“Kami tetap menyarankan makanan yang dikonsumsi jemaah selama di Tanah Suci adalah makanan yang bercita rasa nusantara agar dapat meyesuaikan selera dan kondisi pencernaan jemaah yang terbiasa dengan makanan khas nusantara,” ujar Menag saat menerima Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito dan tim di Jakarta, Selasa (17/5/2022).

“Terkait makanan khas nusantara ini, kami juga sudah mengimbau katering di Tanah Suci untuk menggunakan bahan dan bumbu dari tanah air agar cuta rasa masakannya tidak banyak berubah,” lanjutnya.

Ditambahkan Menag, makanan memang menjadi hal yang cukup krusial dan penting untuk diperhatikan. Sebab, dari makanan yang bergizi ini para jemaah dapat menjadi sehat dan khusyuk dalam beribadah.

“Terkadang makanan yang dikonsumsi jemaah sudah cukup kandungan gizinya. Namun distribusi makanan mungkin saja tidak tepat waktu sehingga makanan yang harusnya sehat menjadi kurang sehat dan ini perlu diperhatikan. Sehingga, kami sangat bersyukur tim dari BPOM mengingatkan kami akan hal ini,” tutur Menag.

Kepala Badan POM Penny Kusumastuty Lukito mengatakan timnya siap membantu proses pengecekan pangan jemaah agar sesuai dengan aturan kesehatan yang baik bagi para jemaah.

“Kami memiliki food inspector sehingga dapat memaksimalkan pengawasan terhadap kesehatan pangan dan obat-obatan bagi para jemaah,” terang Penny.

“Badan POM akan berusaha maksimal bekerja sama dengan Kemenag agar kenyamanan ibadah jemaah dapat terwujud,” pungkasnya.

Momen Lebaran Gunakan untuk Pererat Silaturahim

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Presiden RI, KH Maruf Amin menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan momentum lebaran ini untuk mempererat silaturahim.

Kiai Maruf mengingatkan, jangan sampai kepentingan sesaat bisa merusak persaudaraan sesama umat dan bangsa.

“Jadi persaudaraan sebangsa itu jangan karena persoalan-persoalan sesaat, karena kepentingan kelompok kemudian dikorbankan,” kata Kiai Maruf dalam kegiatan Halalbihalal yang digelar oleh MUI, di Ballrom B.J Habibie Muamalat Tower, Jakarta, Selasa (17/5).

Untuk itu, Kiai Maruf menegaskan bahwa semua pihak tidak boleh merusak ukhuwah (persaudaraan), baik itu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), maupun ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air).

Wapres mengatakan, salah satu tugas perkhidmatan MUI yaitu untuk mempersatukan umat sangat lah berat.

 

Hal ini, menurut kiai Maruf, sekarang ini zamannya kesamaran terhadap kebenaran dan banyaknya fitnah-fitnah yang muncul.

“Ini kalau kita tidak pagari, zamanul iltibas wal fitan, ini berbahaya sekali,”tegasnya.

Oleh karena itu, kata kiai Maruf, upaya silaturahim sangat diperlukan agar bangsa ini tidak terpecah dan terbelah.

“Boleh saja aspirasi itu di dalam negara demokrasi begitu boleh, asal jangan melampaui batas-batas kesepakatan-kesepakatan yang sudah ada,” jelasnya.

Kiai Maruf berpesan, apabila kesepakatan yang sudah ada tidak dipatuhi, bisa berakibat perpecahan antar umat dan bangsa.(mui)

 

 

Mahasiswa sebagai Sasaran Sekaligus Ujung Tombak dalam Menangkal Paham LGBT

Oleh:Rika Arlianti DM

LGBT di Indonesia merupakan hal yang tabu khususnya bagi masyarakat yang paham agama dan paham konsekuensinya. Bahkan MUI sudah mengeluarkan fatwa yang menolak praktek hubungan badan dan perkawinan sesama jenis pada tanggal 31 Desember 2014.

Istilah LGBT digunakan pada tahun 1990 untuk mengantikan frasa komunitas gay atau yang memiliki orentasi seks terhadap sesama jenis, meliputi Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Lesbian ini adalah seorang homosexual perempuan; perempuan yang mengalami percintaan atau ketertarikan secara seksual kepada perempuan lain. Sedangkan Gay menurut Douglas, 2013 merupakan laki-laki yang tertarik dan berhubungan dengan sesama laki-laki.

Mengutip dari APA, 2013; 2011; , GLAAD, 2011, Bisexualitas adalah ketertarikan secara romantis, perilaku sexual atau ketertarikan secara sexual kepada laki-laki dan perempuan. Jadi bisexual ini tertarik kepada semua gender; baik laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan Transgender menurut Reference.com mengacu pada identitas gender seseorang yang tidak terkait dengan jenis kelamin biologis sejak lahir. Transgender biasanya dikenal dengan istilah “wadam atau “bencong” di Jakarta, “calabai” di Sulawesi, dan untuk orang Jawa menyebutnya “wandu”.

Menjadi LGBT adalah upaya yang tidak mudah bahkan setelahnya pun bukan tanpa masalah. Banyak persoalan dan risiko, seperti terpapar HIV, pelecehan seksual dari yang lebih berpengalaman, penolakan dari masyarakat, dan yang paling penting ialah melawan fitrah dan merupakan kelainan atau penyimpangan.

Kebanyakan homoseksual (Lesbian, Gay dan transgender) mulai menyadari dirinya mempunyai kecenderungan berbeda ketika dalam usia muda. Studi menunjukan perilaku homosexual dan ketertarikan sesama jenis banyak dijumpai sejak usia 15, prevalensinya pada pria, di Amerika 20.8%, UK 16.3%, dan Amerika 18.5%. Sedangkan pada kelompok wanita masing-masing 17.8%, 18.6%, and 18.5% (Sell, 1995).

Ini menunjukkan bahwa kelompok usia sekolah adalah usia yang rentan untuk mulai terlibat dalam hubungan sesama jenis. Sedangkan keputusan untuk menjadi homoseksual kebanyakan terjadi pada usia dewasa muda (Nugroho,2010) atau pada usia ketika mereka kebanyakan menjadi mahasiswa.

LGBT ini sangat membahayakan bangsa dari segala aspek terutama aspek agama, budaya, ekonomi dan politik. Selain itu, dapat berdampak pada regenerasi manusia karena tidak ada pasangan sejenis yang dapat melahirkan keturunan normal. Jika hal ini tidak ditangkal sejak dini, komunitas ini akan membahayakan generasi penerus bangsa: pemuda, pelajar, dan mahasiswa.

Sadar atau tidak, komunitas LGBT bukan persoalan sex semata, tetapi adanya rekayasa yang telah diatur sedemikian rupa dan disusun secara sistematis oleh kaum liberalisme. Mereka seolah megkampanyekan LGBT sebagai salah satu bentuk kenikmatan hidup duniawi yang berupa kebebasan individu dan dapat dipraktikkan sebebas-bebasnya.

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perbuatan homoseks menurut Willis (2014: 26-27) adalah:
1. Faktor bawaan sejak lahir (faktor heriditas) dan hal ini sangat jarang terjadi.
2. Ketidakseimbangan hormon seks (Sex Hormonal Imbalance)
3. Pengaruh lingkungan:
a. Terpisahnya dengan lawan jenis dengan waktu yang sangat lama misalnya di penjara.
b. Pengalaman hubungan seks yang dilakukan dengan sesama jenis pada waktu kecil (masa kanak-kanak), dengan istilah sodomi.
c. Kesalahan perlakuan. Jika anak laki-laki diperlakukan sebagai anak perempuan setiap harinya misalnya dibedaki, di make up, diberi pakaian wanita, dan lain-lainnya. Maka akan tumbuh sifat-sifat kewanitaan pada dirinya (seolah-olah dia merasa bahwa dia memiliki jenis kelamin wanita), pun sebaliknya.

Penyebab lainnya juga karena keluarga yang kurang harmonis, pergaulan atau lingkungan yang kurang baik, minimnya pengetahuan tentang agama, dan pengalaman masa lalu yang buruk dengan lawan jenis.

Melansir dari edukasi.okezone.com, Psikolog sekaligus Anggota Dewan Pakar Masjid Salman Institut Teknologi Bandung, Adriano Rusfi, menilai bahwa mahasiswa berada dalam kondisi scientific euphoria and delusion. Mahasiswa banyak yang mudah terpukau ketika LGBT dibenarkan lewat teori-teori ilmiah. Adriano menganalogikan, banyak mahasiswa yang memiliki ilmu, namun tidak memahami filosofinya, ditambah karakter mahasiswa yang mudah berempati pada kaum tertindas dapat menjadi celah bagi penggerak LGBT.

Sejenak kita mengingat sejarah bahwa perilaku LGBT sejatinya ialah kebangkitan dari perilaku kaum Sodom dahulu di masa Nabi Luth. Di mana, penyimpangan seksual ini mulai muncul pada masa Nabi Luth yang sebelumnya sejak nabi Adam tidak ada kaum yang seperti itu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Terjemahnya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 80-81)

Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa penyimpangan seksual ini sudah ada dan pertama kali muncul sejak zaman Nabi Luth.

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

Terjemahnya: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)

Disebut melampaui batas karena mereka tidak menyukai perempuan. Padahal perempuan diciptakan sebagai pasangan laki-laki. Mereka hanya menyukai sesamanya; laki-laki. Begitu pula perempuan yang pada masa itu juga hanya menyukai sesama perempuan. Dan peristiwa pada masa itu, sama dengan kasus LGBT di masa sekarang.

LGBT ini telah menjadi fenomena global yang mengkhawatirkan dan meresahkan. Terlebih di dunia yang dewasa ini komunitas tersebut sudah semakin terang-terangan menunjukkan jati dirinya di media sosial bahkan ada beberapa yang di dunia nyata.

Nah, mahasiswa menjadi salah satu sasaran empuk pengaruh kelompok tersebut. Alasannya seperti dijelaskan sebelum-sebelumnya. Untuk itu mahasiswa harus lebih membentengi diri dan meningkatkan kewaspadaan, sebab mahasiswa juga merupakan ujung tombak dalam menangkal kelompok tersebut sebelum sampai di masyarakat umum. Mengapa harus mahasiswa? Karena mahasiswa adalah yang paling dekat dengan masyarakat. (Ingat peran mahasiswa: agent of change, social control, moral force, guardian of value, dan iron stock).

Salah satu upaya pencegahan masuknya paham LGBT pada mahasiswa, pelajar, dan pemuda dapat dilakukan lewat berbagai pendekatan, misalnya lewat seminar, training, buletin, buku, atau poster yang edukatif.

Tak kalah penting juga ialah belajar ilmu agama dan selektif dalam bergaul. Ketika paham agama, insyaa Allah akan ada penjagaan diri karena ada rasa takut kepada Allah ketika hendak melakukan sesuatu yang menyimpang. Dan selektif dalam bergaul juga menjadi faktor yang sangat mendukung, sebab akan selalu ada teman yang mengingatkan tatkala kita keliru dalam menjejakkan langkah. Wallahu ‘alam.

 

Buka Mukernas ke IV PP Lidmi, Tamsil Linrung : Indonesia Membutuhkan Gerakan Anak Muda yang Progresif

MAKASSAR(Jurnalislam com)– Drs. H. Tamsil Linrung, Senator Republik Indonesia ini hadir untuk membuka acara di kegiatan Mukernas PP LIDMI ke IV dengan Tema Transformasi Gerakan Progresif dan Kolaboratif. Acara ini dilaksanakan secara hybrid, Jum’at (14/5/2022).

Dalam sambutannya, Bapak Tamsil Linrung menyampaikan bahwa momentum Musyawarah Kerja Nasional IV LIDMI diharapkan mampu mematahkan problem kebangsaan dan keumatan serta meretas solusi agar bangsa Indonesia segera keluar dari pekatnya masalah yang mendera. Hal ini sebagaimana tema musyawarah yang diusung yaitu Gerakan Progresif dan Kolaboratif.

“Indonesia membutuhkan gerakan anak-anak muda yang progresif, berfikir maju, mau dan rela berkorban tidak hanya untuk kepentingan kelompok organisasinya, namun juga untuk kepentingan bangsa yang lebih besar,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa mahasiswa selama ini senantiasa menjadi lokomotif gerakan perubahan.

“Bangsa Indonesia punya segudang catatan sejarah yang ditorehkan oleh mahasiswa, di setiap zaman sejak era pra kemerdekaan hingga saat era reformasi bergulir. Mahasiswa selalu di garda terdepan menjadi lokomotif perubahan. Indonesia beradab yang kita impikan hanya bisa diwujudkan oleh anak-anak muda yang berani berperang, tidak bagi mereka yang diam berpangku tangan”, pungkasnya.

Ratusan Ribu Warga Palestina Hadiri Prosesi Pemakaman Shireen Abu Akleh

PALESTINA(Jurnalislam.com)–Ratusan ribu warga Palestina berkumpul pada hari Kamis (12/5/2022) di prosesi pemakaman Shireen Abu Akleh, jurnalis Al-Jazeera yang dibunuh oleh tentara Israel, di kota Ramallah dan kampung halamannya di Beit Hanina, utara Yerusalem.

 

Abu Akleh adalah seorang jurnalis Palestina-Amerika terkemuka yang meliput sebagian besar peristiwa di wilayah Palestina selama 25 tahun terakhir.

 

Di hadapan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, jenazah Abu Akleh yang dibungkus dengan bendera Palestina, dipindahkan dalam prosesi pemakaman resmi ke markas presiden di Ramallah tengah.

 

Para pelayat memanggul jenazah Abu Akleh di pundak para pengawal kehormatan militer, sementara yang lain meletakkan bunga.

 

Para pelayat juga mengibarkan bendera Palestina dan foto-foto Abu Akleh, serta meneriakkan slogan-slogan menentang Israel.  Pejabat Palestina mengatakan bahwa pemakaman terakhirnya akan diadakan untuknya pada hari Jum’at (13/5/2022) di gereja Katolik Roma di Yerusalem, dan dia akan dimakamkan di Pemakaman Sion bersama orang tuanya.

 

Samiha Farraj, seorang wanita muda dari Nablus, mengatakan dia tidak dapat menahan air matanya selama pemakaman. “Shireen bukan jurnalis biasa tapi dia adalah suara kita semua. Dia mengungkapkan masalah, keprihatinan, dan kehidupan sehari-hari kita yang tragis akibat pendudukan Israel,” kata wanita berusia 39 tahun itu kepada The New Arab.

 

“Begitu saya mendengar berita kematiannya, saya merasa seolah-olah saudara perempuan saya telah dibunuh. Israel membunuh kami semua dengan melakukan kejahatan keji ini,” katanya.

 

Pelayat lain, perjalanan panjang yang ditempuh Ibrahim Wazwaz ke pemakaman Abu Akleh dari Hebron memakan waktu berjam-jam, tetapi dia mengatakan hal itu sepadan.

 

“Kami dibesarkan dengan suara Sherine saat dia meliput pelanggaran dan kejahatan Israel terhadap orang-orang kami yang tidak berdaya,” kata pemuda berusia 23 tahun itu, sambil membawa foto besar Abu Akleh.

 

“Kami telah kehilangan ikon media Palestina yang meninggalkan kenangan di hati semua orang Palestina,” kata Wazwaz.

 

“Saya menangis ketika saya menonton video saat dia dibunuh dengan sengaja oleh tentara Israel.”

 

“Tentara Israel selalu membuktikan bahwa setiap orang adalah target bagi mereka,” imbuhnya.

 

“Suara Shireen adalah senjata mematikan yang ditujukan kepada orang Israel, jadi keputusan untuk mengeksekusinya adalah solusi terbaik bagi mereka untuk menyingkirkan gangguan terhadap mereka.” sambung Wazwaz.

 

Namun, dia menekankan, “Upaya Israel untuk membungkam warga Palestina akan gagal karena ada ratusan jurnalis yang mengadopsi pendekatan Shireen dalam melawan pendudukan melalui media dan terus-menerus mengungkap kejahatannya.” pungkasnya.

 

Sementara itu, banyak pelayat menuntut agar staf senior tentara Israel dibawa ke pengadilan internasional untuk dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka.

 

Sebagaimana diketahui, Abu Akleh (51) sedang bertugas melaporkan untuk Al Jazeera tentang serangan Israel di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat yang diduduki ketika dia ditembak di kepala oleh penembak jitu Israel, meskipun mengenakan rompi yang mengidentifikasi dirinya sebagai jurnalis.

 

Penembakan Abu Akleh menjadikan jumlah jurnalis yang dibunuh oleh militer Israel sejak tahun 2000 menjadi 55 korban jiwa, kata Persatuan Jurnalis Palestina. (Bahri)

 

Sumber: The New Arab

Pembunuhan Jurnalis Al-Jazeera oleh Tentara Zionis. Sukamta: Kejahatan Keji dan Melanggar Hukum Humaniter Internasional

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Seorang jurnalis senior Al Jazeera Shireen Abu Akleh, tewas tertembak tentara Israel saat meliput bentrokan antara pasukan negara Zionis dengan warga Palestina di Kota Jenin tepi Barat pada Rabu (11/5). Menanggapi hal ini, anggota Komisi 1 DPR RI Sukamta mengecam keras tindakan keji pasukan zionis tersebut.

“Ini kejahatan yang sangat keji dan jelas-jelas melanggar hukum humaniter internasional. Setiap insan pers yang bertugas dan apalagi sudah menggunakan identitas pers, tidak boleh menjadi sasaran kekerasan oleh pihak manapun. Saya kira ada kesengajaan untuk melakukan pembunuhan terhadap wartawan sebagai upaya untuk menutupi fakta-fakta kejahatan yang dilakukan oleh tentara pendudukan Zionis di wilayah Tepi Barat. Upaya yang sama juga pernah dilakukan oleh tentara Israel dengan melakukan pemboman terhadap kantor Al-Jazeera di Jalur Gaza yang juga menampung wartawan Associated Press (AP)”

Wakil Ketua Fraksi PKS lebih lanjut meminta pemerintah Indonesia untuk mendorong upaya penyelidikan secara menyeluruh dan transparan atas kasus pembunuhan jurnalis ini oleh otoritas Palestina dan pemerintah Israel dengan melibatkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

“Upaya penyelidikan atas kasus pembunuhan ini penting untuk dilakukan, dan pelaku harus diberikan hukuman yang setimpal. Ini penting untuk dilakukan sehingga ada rasa aman bagi insan pers yang bertugas di lapangan. Dengan adanya kasus ini, PBB mestinya juga memberikan peringatan secara keras kepada pemerintah Zionis untuk menghentikan tindakan brutalnya kepada wartawan dan masyarakat sipil.”

Anggota DPR RI asal Yogyakarta menyatakan kekerasan di Palestina akan terus berlangsung selama Israel masih melakukan pendudukan terhadap wilayah-wilayah Palestina.

“Akar masalahnya penjajahan masih terus berlangsung. Maka kita sangat berharap pemerintah Indonesia terus mengupayakan melalui diplomasi internasional untuk mendorong kembali skema Solusi Dua Negara dan hadirnya kemerdekaan Palestina.”

Jurnalis Muslim Kecam Pembunuhan terhadap Jurnalis Shireen Abu Akleh, Israel Harus Diseret ke ICC

JAKARTA(Jurnalislam.com)-– Forum Jurnalis Muslim (Forjim), sebuah organisasi jurnalis muslim di Indonesia, mengecam keras sekaligus mengutuk kebiadaban tentara Zionis Israel yang telah menargetkan dan membunuh dengan sengaja jurnalis televisi Al Jazeera pada Rabu pagi (11/05/2022) kemarin.

“Forjim mengutuk keras pembunuhan terhadap Shireen dan meminta pasukan penjajah Israel untuk bertanggung jawab atas aksi mereka yang disengaja itu,” ungkap Sekretaris Umum Forjim M. Shodiq Ramadhan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 12 Mei 2022.

Pembunuhan terhadap Shireen, jurnalis senior yang menggunakan rompi pers yang dapat diidentifikasi dengan jelas, merupakan serangan yang disengaja dan sistematis.

Karena itu, lanjut Shodiq, Forjim mendesak agar segera dilakukan penyelidikan secara menyeluruh, transparan dan independen. Siapapun yang terlibat harus dimintai pertanggungjawaban.

“Kematian Shireen adalah penghinaan terhadap kemerdekaan pers di mana saja,” ungkapnya.

Forjim juga mendukung langkah Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) yang akan menambahkan kasus penembakan terhadap Shireen ini ke pengaduan ICC (Mahkamah Pidana Internasional) yang diajukan IFJ.

Direktur Eksekutif Forjim Robigusta Suryanto menambahkan, pihaknya berharap pemerintah Indonesia turut mengambil langkah-langkah serius dalam kasus ini.

“Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia, negara yang menolak penjajahan Israel dan mendukung kemerdekaan Palestina, kita harap dapat bersuara lantang di forum-forum internasional,” kata Robi.

Sebelumnya, jurnalis televisi Al Jazeera Shireen Abu Akleh (51) ditembak mati saat meliput serangan Israel di kota Jenin, Tepi Barat, pada Rabu pagi (11/05/2022). Selain Shireen, kata Kementerian Kesehatan Palestina, wartawan lainnya, Ali Al-Samoudi, juga ditembak dari belakang.

Direktur Institut Kedokteran Forensik di Universitas An-Najah di kota Nablus, Rayyan al-Ali, mengatakan otopsi yang dia lakukan menyimpulkan Shireen ditembak mati di kepala.

Al Jazeera, saluran yang berbasis di Doha, Qatar, mengatakan wartawatinya “dibunuh dengan darah dingin” oleh pasukan Israel. Mereka menyebut pembunuhan itu sebagai “kejahatan keji, yang hanya bertujuan untuk mencegah media melakukan tugas mereka.”

“Kami berjanji untuk mengadili para pelaku secara hukum, tidak peduli seberapa keras mereka berusaha menutupi kejahatan mereka, dan membawa mereka ke pengadilan,” ungkap Al-Jazeera.

Shireen Abu Akleh lahir di Yerusalem pada 1971, dan meraih gelar BA dalam bidang jurnalisme dan media dari Universitas Yarmouk di Yordania. []

Program Masjid Berdaya Didorong Hidupkan Ekonomi Umat

CILACAP(Jurnalislam.com)– Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Cilacap menggulirkan program Penguatan Masjid Berdaya. Kepala Kankemenag Cilacap, Imam Tobroni menyebut, program ini sebagai upaya menghidupkan ekonomi umat berbasis masjid.

“Kita memiliki program yang disebut Penguatan Masjid Berdaya. Program ini menjadikan masjid tidak hanya pusat kegiatan ibadah ritual saja, tapi juga penguatan bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan kewirausahaan,” kata Imam di Cilacap, Rabu (11/5).

Imam mengatakan, pihaknya hendak membangun cara pandang takmir terhadap eksistensi masjid, salah satunya melalui kerja sama dengan SBI (Semen Bangun Indonesia) dan dinas kesehatan serta lembaga sosial yang ada di Cilacap.

“Karena memang program ini bertujuan untuk penguatan di bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan kewirausahaan, maka kita menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait. Kita ingin setidaknya di setiap kecamatan ada satu masjid yang menjadi pilot project,” katanya.

Di Cilacap, kata Imam, ada sebanyak 24 kecamatan. Melalui program ini, Kemenag Cilacap memberikan pembinaan terkait manajemen organisasi takmir dan penguatan ekonomi umat.

“Kita bergerak bersama penyuluh dan para takmir masjid untuk melakukan pendataan para jemaah masjid di 24 kecamatan. Kita sudah memilih satu masjid yang menjadi role model yaitu Masjid Baitul Amaliah di Mertasinga, Cilacap Utara,” katanya.

Dia berharap, melalui program Penguatan Masjid Berdaya ini bisa menghadirkan masyarakat yang kuat secara ekonomi dan hidup rukun. “Kami berharap program ini bisa mewujudkan ekonomi masyarakat yang kuat,” tambahnya.

Angka Stunting Ditargetkan Turun hingga 14 Persen

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pemerintah terus berupaya mewujudkan target penurunan angka prevalensi stunting di tanah air hingga 14% pada 2024. Untuk mencapai target tersebut, setidaknya pada 2022 ini angka prevalensi stunting harus diturunkan minimal 3% dari angka saat ini yang masih mencapai 24,4%.

“Prevalensi stunting tahun 2022 harus turun setidaknya 3% melalui konvergensi (program) intervensi spesifik dan sensitif yang tepat sasaran, serta didukung data sasaran yang lebih baik dan terintegrasi, pembentukan TPPS dan (penguatan) tingkat implementasinya hingga di tingkat rumah tangga melalui Posyandu,” pinta Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat memimpin Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 6 Jakarta Pusat, Rabu (11/05/2022).

Lebih lanjut, Wapres memaparkan bahwa berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018.

“Pemerintah mempunyai target untuk menurunkan prevalensi hingga 14% pada tahun 2024. Itu artinya, kita harus menurunkan prevalensi sebesar 10,4% dalam 2,5 tahun ke depan, yang tentu saja ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk mencapainya,” tuturnya.

Untuk itu, ia pun berharap setiap Kementerian/Lembaga (K/L) dapat menyusun rencana pencapaian setiap target antara yang menjadi tanggung jawabnya dan memastikan kecukupan dana, sarana, serta kapasitas implementasinya.

“Pelaksanaan program harus dipantau, dievaluasi dan dilaporkan secara terpadu dan berkala. Sehingga dapat diketahui perkembangan, capaian, dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya, yang kemudian kita bisa mengambil langkah berikutnya untuk memastikan target prevalensi 14% pada tahun 2024 bisa dicapai,” pintanya.

Lebih jauh, Wapres menekankan bahwa Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai ketua tim pelaksana penanganan stunting perlu didukung seluruh K/L terkait sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

“Selain itu, perlu dipastikan agar Rencana Aksi Nasional Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN PASTI) digunakan sebagai pedoman untuk percepatan penurunan stunting di tingkat lapangan,” pintanya lagi.

Adapun terkait alokasi anggaran penurunan stunting di TA 2022 baik melalui APBN, APBD maupun APBDesa, Wapres meminta agar juga disinergikan.

“Kebutuhan anggaran penurunan stunting perlu dihitung lagi, dikalkulasi lagi, (dan) dikonsolidasikan agar lebih efektif dan efisien,” tegasnya.

Terakhir, Wapres mengarahkan agar penanganan stunting difokuskan pada daerah-daerah dengan angka prevalensi tinggi dan daerah yang mempunyai jumlah anak stunting tinggi melalui intervensi yang lebih intensif, pendanaan yang terkonsolidasi dan terpadu, sehingga lebih efektif dan efisien.

“Selain Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat yang mempunyai prevalensi tinggi, perlu juga diperhatikan daerah yang punya jumlah anak stunting yang banyak, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan Sumatera Utara. Daerah-daerah ini yang perlu mendapat perhatian,” pungkasnya.

Hadir dalam rapat ini Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, serta berbagai pejabat terkait.

Sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Suprayoga Hadi, Deputi Bidang Administrasi Guntur Iman Nefianto, Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi, Staf Khusus Wapres Bambang Widianto, serta Tim Ahli Wapres Saleh Husin dan Farhat Brachma