JAKARTA (Jurnalislam.com) – Berbagai tokoh, ulama, habaib serta musisi ikut menyuarakan aksi bela Islam di depan Istana Kemerdakaan, Jakarta Pusat, Jum’at (4/11/2016).
Musisi anyar grup band Dewa 19, Ahmad Dani turut menyuarakan aspirasinya pada aksi bela Islam di Istana Kemerdakaan kemarin.
Dani mengatakan, pada aksi itu dia merasakan 2 perasaan yang berbeda. Yakni senang dan sedih.
“Kejadian sore ini sangat membahagiakan. Sebab seluruh element Islam dapat bersatu. Tapi saya juga merasa sedih Presiden tidak menghargai para ulama dan habaib dengan tidak adanya di Istana,” terang musisi papan atas itu.
Artis yang sedang merambah ke dunia politik itu mengecam, jika tuntutan umat Islam untuk penjarakan Ahok tidak dipenuhi, dia bersama umat akan menduduki gedung MPR RI.
“Jika saat ini tidak ada keputusan, maka saya bersama umat Islam akan menduduki gedung MPR,” pungkas Dani.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi Bela Islam yang berakhir ricuh di depan Istana Kemerdekaan Jakarta Pusat, Jum’at (4/11/2016) kemarin menuai tanggapan. DPP Hidayatullah misalnya, mereka mengecam tindakan beringas kepolisian kepada ulama.
Hidayatullah mendesak, Presiden untuk segera menangkap petahana DKI Jakarta itu atas dugaan penistaan agama yang telah diperbuat. Sebab, itu merupakan keinginan jutaan umat Islam yang berunjuk rasa kemarin.
Ustadz Arifin Terluka Akibat Kerusuhan 4 November
“Mendesak kepada Presiden untuk segera mengadili Basuki T Purnama yang nyata telah menistakan al-Qur’an sebagaimana permintaan ulama dan kaum Muslim di tanah air,” pungkas Hidayatullah geram.
Namun demikian, Hidayatullah menghimbau kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tidak anarkis. Sebab, sikap anarkis bisa menyebabkan perjuangan kita menuntut diadilinya sang penista al-Qur’an akan terhambat.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi pada hari Jumat (4/11), antara siang menjelang sore muncul potensi hujan di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Pantauan Radar Cuaca BMKG menunjukkan daerah pertumbuhan awan hujan yang terkonsentrasi di wilayah Selatan dan Barat Daya Jakarta.
Kondisi itu, sebagaimana dikutip dari siaran pers tertulis BMKG kepada Republika Jumat (4/11), akhirnya mengakibatkan hujan lebat di beberapa tempat sekitar Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Depok dan Bogor.
Namun yang menarik, menurut Kepala Bidang Layanan Informasi Cuaca BMKG Ana Oktavia, terdapat perubahan kondisi angin yang mengakibatkan munculnya penyebaran arah dan kecepatan angin atau divergensi tepat di wilayah Jakarta.
“Artinya zona tersebut menyebabkan kandungan uap air terurai dan tidak terdapat proses pertumbuhan awan di sekitar Jakarta khususnya wilayah Pusat, Utara dan Timur,” ujarnya dikutip republika
Keadaan itu, kata dia, dapat dilihat dari pengamatan Citra Satelit Cuaca Himawari, dimana wilayah Banten, Jakarta Selatan, Depok, Bogor dan Tangerang Selatan terjadi hujan dan wilayah Jakarta Pusat dan sekitarnya berubah menjadi cerah berawan.
“Kandungan uap air yang cukup basah di wilayah jabodetabek yang terpantau sejak pagi hari cenderung bergeser ke wilayah Banten dan Jawa Barat bagian Selatan serta mengakibatkan hujan lebat disertai petir terjadi di wilayah tersebut,” terang Ana.
Sebagaimana diketahui, siang hari kemarin hingga malam hari (4/11/2016) jutaan umat Islam dari berbagai wilayah melakukan aksi bela Islam tuntut Ahok di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
JURNALISLAM.COM – Suara tembakan menggelegar di atas langit Ibu Kota, tepat di Depan Istana. Mobil Barracuda itu menyemburkan cahaya yang bercabang ke atas langit dan kembali bercabang menukik mengkilat keemasan.
“Blush..” asap menyebar melayang-layang menyergap hidung dan mata.
“Dor..” “dug..” Dor..” susulan tembakkan terdengar super keras berdebam.
Takbir menggema di segala penjuru di hamparan Jalan Merdeka Barat selemparan batu dari Istana Negara kita. Polisi memegang pentungan dan perisai mulai merangsek maju.
Lampu – lampu mobil baja itu berkelap-kelip. Gemuruh riuh di sana-sini.
“Brrrmmmm…” mobil Water Cannon itu mulai menderung menyemburkan ribuan kubik air tak henti-hentinya.
Takbir bercampur haru di tengah hampir satu juta massa Aksi Bela Islam atau Aksi Bela Al-Quran Jumat malam (04/11/2016) tepat pukul 19.30 WIB.
Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, aksi kericuhan bermula karena ketidak-jelasan Presiden Joko Widodo menemui massa umat Islam yang menuntut penegakkan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.
Sebelumnya, Bahtiar Nasir, Jurubicara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mengabarkan mereka hasil pertemuan dengan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla bahwa sudah ada komitmen pemerintah memproses Basuki Tjahaja Purnama dalam waktu dua minggu.
Tenggat waktu yang dinilai lama ini rupanya ikut memicu kemarahan massa yang datang hampir dari seluruh propinsi di Indonesia.
“Kenapa Pak Presiden tidak mau menemui kami yang jumlahnya hampir satu juta orang? Sementara jika yang datang itu GIDI pelaku pembakaran Masjid di Tolikara beliau malah mengundang ke Istana?’ ujar seorang pria berbaju putih berjenggot tipis.
Kericuhan lain juga dipicu ulah perwakilan Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI) MPO yang sejak aksi turun ke jalan dimulai memancing aparat ke amanan di posisi depan dengan teriakan dan lemparan-lemparan benda.
Massa mulai panik ketika dimulai tembakan gas air mata di tengah massa.
“Jangan tembak kami, jangan tembak kami,” kata massa dengan tenang. Namun, suara-suara minor itu terkalahkan dengan suara menggelegar yang memenuhi awan.
Kerusuhan aksi bela Islam II
“dor..dor..dor..” Berpuluh-puluh gelegar menggantung di atas langit Jakarta.
Korban gas air mata banyak terjadi di pihak massa Aksi Bela Al-Quran.
Air mata menggeliat tak terasa dari sudut mata. “Ya Rabb…itu kiai dan habib kami ditembaki,” ujar seorang peserta massa melihat mengapa polisi menembaki kea rah mobil yang ditempati para tokoh Islam, kiai dan habaib.
Termauk diantaranya ada KH Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, Habib Rizieq Shihab dan beberapa lainnya.
Di atas mimbar, Habib Rizieq masih tak bergeming dan tetap menenangkan massa.
“Apa salah para ulama kami ya Allah,” lirih massa lainnya. Sementara massa terus menutup hidung dan mengucek mata. Hawa yang memekakkan mata membuat air mata terus berderai. Sebagian lari mencari tempat aman.
Para jurnalis terhenyak, menutup telinga, suara tembakkan yang berseru tak berhenti sekejappun. Semua menepi, mulai mengoleskan secuil odol di kantung-kantung mata dan apasaja yang bisa menjadi pengaman tubuh. Sebagian membasahi wajahnya dengan air. Gas air mata sudah mengambang di pelataran Medan Merdeka.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar, “teriak para wartawan yang ketakutan.
Sementara itu, di atas pick up, para ulama terus berseru takbir, beristigfar bahkan sempat menyeru melafalkan Kalimat Tauhid.
“Lailahailallah..lailahailallha..lailahailallah..” ujar suara Habib Rizieq. Sementara tembakan gas air mata tak berhenti dan beberapa peserta aksi ada yang tumbang.
Nampaknya, seruan jangan tembak menguap dan sirna di udara malam yang semakin memanas. Satu per satu peserta aksi tumbang, mual, hingga batuk-batuk dan muntah. Nyala keemasan menyala di atas langit, membentuk kabut merah.
Gemuruh semakin hebat. Massa hanya bisa pasrah ditembaki hingga para kiai dan tokoh-tokoh Islam yang berdiri di mobil komando Aksi Bela Islam. Kalimat takbir, tahlil, tahmid masih terus terlafal. Habib Rizieq bahkan masih berkali-kali menenangkan massa sambal berlafal kalimat tauhid lirih.
Tiba-tiba suara ketukan mikrophone menggelegar.
“Saya Panglima TNI, semua dengarkan saya, komando ada di saya,” ujar Jenderal TNI Gatot berusaha menenangkan suasana di tengah tembakkan yang terus terjadi. “Ini ada Kapolri ingin bicara, coba dengarkan,” kata Panglima TNI menyerahkan mikrophone ke Kapolri.
“Saya Tito Karnavian, Kapolri kalian, kepada setiap anggota kepolisian tolong hentikan tembakan,” kata Jenderal Tito yang datang memerintahkan kepada anggotanya untuk tak menembak. Bukannya mereda, suara tembakan justru semakin banyak.
“Tolong dengarkan saya sebagai Kapolri, hentikan tembakkan sekarang juga,” kata Tito kembali mengulang.
Namun, imbauannya tak digubris, suara tembakkan masih terus menggelegar. Polisi masih terus menembaki demonstran.
Jam 20.30 WIB suasana makin tak terkendali, massa sebagian mundur dan banyak terluka, terutama kena pengaruh gas air mata.
Pukul 21.00 malam massa umat Islam menarik diri beristirahat di Masjid Istiqlal, sebagian terus melaku menuju Kantor DPR-MPR Jalan Gatot Subroto – Jakarta untuk menginap dan beristirahat. Sementara itu, suasana sekitar Istana Negara mulai sepi.
Sumber: laporan pandangan mata wartawan JITU, Rizki L, M Pizzaro dan Daus
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhyiddin Junaidi, mengkhawatirkan kebungkaman Jokowi dapat memperparah kemarahan umat Islam.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum juga memutuskan apakah akan menerima perwakilan aksi Bela Islam II di Jakarta, Jumat (04/11/2016). Jokowi dinilai juga belum memberikan respons langsung secara tegas terkait kasus Ahok.
Seperti yang dilansir Republika.co.id, Jumat, Muhyiddin mengatakan,“Ini sekedar demo awal. Kalau memang dengan jumlah seperti ini bapak presiden tidak juga mau mendengar, maka bukan mustahil akan ada demo berikutnya dengan jumlah yang amat dahsyat.”
Secara psikologis, Muhyiddin menilai, jika Jokowi tidak mendengar suara umat Islam yang merupakan kelompok mayoritas di Indonesia maka secara tidak langsung presdien tidak memperhatikan aspirasi rakyatnya.
Lebih jauh, Muhyiddin mengkhawatirkan kebungkaman ini dapat memicu munculnya kelompok masyarakat yang tidak sabar dan kehilangan akal sehat untuk mengambil jalan pintas.
Muhyiddin berharap Jokowi dapat melihat demo ini sebagai gambaran kesatuan umat Islam yang tidak mau agama dan kitab sucinya dinistakan. Ketulusan dan keikhlasan umat Islam yang datang dari pelosok negeri ini diharapkan dapat dijadikan barometer oleh presiden untuk segera mengambil sikap.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Eggi Sudjana dalam orasinya yang tergabung dalam aksi Bela Islam II, menyatakan hadirnya kita kesini karena energi dari Allah, karena energi surat al Maidah 51 kita berkumpul disini.
Menurut Eggi tidak perlu dilakukan aksi demostrasi pada hari ini jika saka Presiden Jokowidodo berani memerintahkan Kapolri untuk menagkap Ahok.
“Gak perlu capek-capek kita demo, gak perlu susah payah kita hadir disini, jika ditindak tegas” ujarnya.
Akan tetapi lanjut Eggi ini ada hikmahnya, umat Islam dari berbagai daerah bersatu menentang Ahok.
Lebih lanjut Eggi kecewa karena penanganan kasus Ahok begitu lamban, dia mencontohkan kasus pelecehan di Bali terhadap agama Hindu yang langsung diproses secara hukum.
“Ini jelas-jelas di kepulauan seribu, dengan menggunakan baju dinas menyatakan dibohongi pake al Maidah sampe hari ini gak diapa-apain,”tegasnya.
“Siapapun yang membeking Ahok, siapapun dibelakang Ahok semoga Allah hancurkan,”tukasnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ratusan ribu Umat Islam dari berbagai ormas Islam dan dari berbagai daerah selepas shalat Jumat sudah memenuhi lokasi Patung Kuda Jakarta pusat.
Sambil menunggu ribuan umat Islam yang telah mengerjakan Sholat Jumat berkumpul di Masjid Istiqla melakukan yel-yel labaik-labaika ya Allah.
Dalam orasinya perwakilan umat Islam mengatakan Ahok buka hanya menghina Al Qur’an, akan tetapi Ahok telah melawan Allah Swt.
“Bapak-bapak, ibu-ibu telah dibohongi dengan al Maidah 51, itu kata-kata yang melawan.Alloh,” tegasnya dengan semangat yang langsung disambut gemuruh takbir dari ribuan umat Islam.
Massa yang terdiri dari BKPRMI, Majelis Pekerja Muslim Indonesia, Punk Muslim, Forum Betawi Rempug, GPII, lakukan orasi secara bergantian.
Sedangkan ribuan massa dari Jamaah Ansharusyariah bergerak dari Masjid Said Naum Tanah Abang bergabung dengan umat Islam lainnya di depan gedung BI.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ribuan Jamaah Ansharusyariah bergabung dalam Aksi Bela Islam II yang digelar pada hari Jum’at (04/11/2016) dihadiri ratusan ribu umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan berjalan kaki ribuan Jamaah Ansharusyariah bergerak dari Masjid Said Naum menuju Istana merdeka disertai orasi-orasi dari para asatidz Jamaah Ansharusyariah .
“Kami menurunkan jamaah secara resmi dari tiga wilayah, Banten, Jakarta dan Jawa Barat, ada juga yang hadir dari Solo dan Semarang sebagai partisipasi, mereka telah hadir dari hari kamis di Jakarta,” kata bapak Yudho selaku koordinator lapangan.
Jamaah Ansharusyariah menuntut pengadilan untuk Ahok, Gubernur Jakarta, atas penistaan Al Qur’an yang hingga kini tidak ada langkah-langkah positif dari pemerintah.
“Kami menuntut Ahok segara diadili, ditangkap dan dijatuhi hukum, kalau tidak pemerintah akan rugi, karena kami akan terus berjihad sampai Ahok ditangkap,” kata Ustadz Wildan selaku orator dilapangan.
“Kaum muslimin telah terbiasa dengan jihad fisabilillah, lanjut Ustadz Wildan, darah para syuhada telah tumbuh subur di bumi nusantara ini sejak dulu,” tegas Wildan.
WASHINGTON DC (Jurnalislam.com) – Dukungan perhelatan akbar pada hari ini, Jum’at (4/11/2016) menyeruak hingga ke Amerika. Unjuk rasa untuk menuntut diadilinya petahana DKI Jakarta itu dinilai sekelompok muslimin Indonesia di Amerika pantas dilakukan.
“Kami melihat, proses hukum yang dilakukan oleh penegak hukum di Indonesia terhadap Ahok berjalan sangat lambat, sehingga menimbulkan kesan ditunda-tunda bahkan ditutup-tutupi,” katanya dalam pesan siar yang diterima jurniscom, Jum’at (4/11/2016).
Proses hukum yang lambat ini, kata dia, telah menyulut kemarahan umat Islam, yang menginginkan agar Ahok di proses secara hukum se-segera mungkin.
“Kami melihat, lambatnya penegakkan hukum terhadap Ahok, dapat menimbulkan potensi kerusuhan yang akhirnya akan mengganggu stabilitas keamanan negara Republik Indonesia yang kami cintai,” ucapnya.
Oleh sebab itu, masyarakat pencinta Al-Qur’an di Amerika itu mendukung kaum muslimin beserta para ulama untuk aksi unjuk rasa hari ini. Mereka juga mendesak pemerintah beserta aparatur hukum segera adili Ahok.
“Mendesak Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi, beserta seluruh elemen penegak hukum di Indonesia, untuk menegakkan hukum dengan menyegerakan proses hukum Saudara Ahok dan mengambil keputusan yang seadil-adilnya,” pungkasnya.
Diketahui, siang ini jutaan umat Islam se-Indonesia diperkirakan hadir untuk berunjuk rasa “Adili Ahok” di Istiqlal sampai Istana Presiden, Jakarta.
ALEPPO (Jurnalislam.com) – Faksi jihad “Jund al-Sharia” dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu mengumumkan integrasi penuh dan kesetiaan mereka kepada Jabhat Fath al Syam (JFS), ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (03/11/2016).
Pernyataan itu mengatakan bahwa langkah integrasi tersebut bertujuan untuk menyatukan seluruh kekuatan yang berperang melawan ateis (Rusia) dan rezim Nushairiyah yang memulai perang besar-besaran terhadap wilayah “al-Sham.”
Jund al Syariah memiliki hampir 300 pasukan yang terkonsentrasi di pedesaan selatan Idlib, dan sebelumnya merupakan bagian dari brigade “Soqur al-Sham”, menurut laporan dari sumber JFS untuk jaringan berita ElDorar.