Terkait Mosul, Komandan Militer Iran Bertemu Langsung Pemimpin PKK di Irak

ERBIL (Jurnalislam.com) – Komandan Pasukan elit Syiah Iran, Quds Force dari Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani, baru-baru ini bertemu Cemil Bayik, pemimpin kelompok ektremis PKK, di kota utara Irak Al-Sulaymaniyah, website Kurdi melaporkan, lansir Anadolu Agency, Selasa (08/11/2016).

Menurut situs basnews, Soleimani meminta Bayik mengirim gerilyawan PKK di Sinjar untuk ambil bagian dalam operasi berkelanjutan yang bertujuan merebut kota Mosul di utara Irak dari kelompok Islamic State (IS).

Terkait dengan Partai Demokrat Kurdi (PPK), website basnews berbasis di wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara.

Sementara di Al-Sulaymaniyah (yang juga terletak di wilayah Kurdi), Soleimani dilaporkan berjanji kepada Bayik bahwa Iran akan meningkatkan dukungan keuangan dan militer kepada PKK jika pasukan kelompok itu ambil bagian dalam operasi Mosul.

Dia juga dilaporkan meminta Bayik untuk meningkatkan kehadiran PKK di wilayah Irak yang jatuh dalam lingkup pengaruh Iran.

Menurut website, pertemuan langsung tersebut terjadi setelah anggota pemerintah pusat Irak “menyediakan fasilitas bagi PKK di Baghdad untuk membangun markas militer dan politik.”

Namun, Shahfan Abdullah, seorang anggota parlemen untuk PPK yang juga anggota komite keamanan dan pertahanan parlemen Irak, menunjukkan bahwa, menurut kesepakatan dengan koalisi operasi Mosul, militan PKK akan ditargetkan (diserang) jika mendekati Mosul dari wilayah Sinjar Mountain.

Ini, kata dia, tidak hanya berlaku untuk PKK, tetapi juga untuk milisi Syiah Hashd al-Shaabi dan kelompok yang berafiliasi.

Didirikan pada pertengahan 2014 dengan tujuan memerangi IS, Hashd al-Shaabi adalah kelompok payung milisi Syiah pro-pemerintah.

Abdullah melanjutkan untuk menegaskan bahwa para ahli militer Iran baru-baru ini mengunjungi garis depan Mosul dan mengadakan sejumlah pertemuan dengan para pemimpin Hashd al-Shaabi.

Ini Tanggapan Abu Rusydan Terkait Aksi Bela Quran

SERANG (Jurnalislam.com) – Pemerhati perjuangan Islam, Ustadz Abu Rusydan memberi tanggapan terkait aksi bela Islam beberapa waktu lalu. Menurutnya aksi 411 itu penting dilakukan untuk proses tahapan selanjutnya.

“Itu perlu dilakukan dan kita doakan yang datang dengan ikhlas pada aksi kemarin diberi balasan oleh Allah,” terangnya saat ditemui jurniscom di Yayasan at-Taubah, Serang, Ahad (6/11/2016).

Perkara yang paling bermanfaat pada 411 kemarin, kata dia, yaitu bagaimana ada komunikasi antar ormas Islam atau kelompok muslim yang selama ini tidak ada komunikasi. Sebab, itu perlu dilakukan untuk yang akan datang.

“Perjuangan itu tidak mungkin dilakukan oleh sekelompok, dua kelompok saja, musti oleh umat Islam,” terangnya.

bela-islam-2Menurutnya, pada aksi bela Islam itu sebagian dari jutaan umat Islam tidak hanya turun untuk merespon Ahok saja. Tetapi, lebih kepada semangat berkorban untuk membela Islam.

“Saya rasa sebagian dari mereka semangat untuk membela Islam. Bukan Ahoknya saja,” ungkapnya.

Berbicara tentang syarat perjuangan yang mengatas namakan Islam, lanjutnya lagi, setidaknya ada 3 syarat yang harus ditepati.

“Dibawah bendera Islam yang jelas, dengan itu tuntutan tidak ragu. Kedua, perjuangan musti dipikul oleh umat, terakhir harus ada pimpinan yang satu, dan pimpinan itu harus yang bertaqwa,” cetusnya.

“Sekali lagi, aksi kemarin itu perlu dilakukan untuk proses tahapan,” tambahnya.

Ia juga mengomentari janji RI 2, Jusuf Kalla pada aksi 411 kemarin.
Menurutnya itu hanya jawaban standar, harapan antara saja.

“Kita memang berharap janji itu terlaksana. Tapi itukan harapan antara saja, sejarah membuktikan selama ini, itu adalah jawaban standar,” pungkasnya.

Ikuti Aksi 411, PAS Apresiasi Kepemimpinan Ulama dan Tekad Perjuangan Umat Islam

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Menyikapi berlangsungnya Aksi Damai Sejuta Ummat Bela Islam dari berbagai elemen masyarakat, lembaga dakwah dan ormas Islam termasuk dari elemen PAS Jabar yakni sebanyak 1000 orang yang berlangsung pada Jum’at, 4 November 2016 dari Masjid Istiqlal hingga depan Istana Negara dan kemudian dilanjutkan di gedung DPR/MPR, maka PAS Jabar menyatakan sikap dan seruan sebagai berikut:

  1. Bersyukur kepada Allah SWT bahwa massa aksi damai Bela Islam telah didukung dan diikuti oleh jutaan umat Islam dari berbagai elemen dakwah dan ormas Islam yang berasal dari berdaerah di Indonesia ( Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Papua dan sebagainya) yang didorong oleh semangat ukhuwah islamiyah dengan penuh pengorbanan yang besar, persatuan, persaudaraan dan kebersamaan, hikmat, dan kesukarelaan yang tinggi.
  2. Berterima kasih kepada umat Islam seluruh dunia yang telah dengan sigap dan bermartabat menjawab seruan untuk membela kehormatan agama dan harga diri umat yang telah diremehkan dan diinjak-injak oleh kaum dan pendukung penista Al-Qur’an.
  3. Mengapresiasi sebesar-besarnya atas kepemimpinan para ulama dan habaib, khususnya Habib Rizieq Syihab dan Ust Bachtiar Nasir yang telah dengan tegar dan sabar memimpin jutaan umat Islam yang berdemonstrasi yang berakhir damai.
  4. Mengapresiasi ketangguhan umat Islam yang berdemo dengan rute cukup panjang dan melelahkan dari Istiqlal, Patung Kuda, Istana, hingga ke DPR/MPR dan sampai berakhir dini hari Sabtu, 5 November 2016 dengan semangat tanpa padam.
  5. Mengapresiasi timbulnya tekad perjuangan dan akhlak yang baik berupa tindakan kebersamaan, saling berbagi dan saling melindungi, kedermawanan yang muncul secara spontan dari sesama massa dan pendukung unjuk rasa dari ummat.
  6. Menyerukan kembali agar umat seluruhnya bersatu mengawal tuntutan aksi damai Bela Islam yang sudah disuarakan untuk memenjarakan Ahok tanpa kenal menyerah.
  7. Menuntut kepada aparat keamanan khususnya Polri atas jatuhnya korban baik yang meninggal dunia maupun luka untuk diusut dan dibawa ke pengadilan.
  8. Tetaplah berjuang, bersatu, dan meningkatkan keimanan dan solidaritas antar umat Islam dan jangan berpecah-belah.
  9. Mengajak semua elemen masyarakat, lembaga dakwah, ormas Islam dan masyarakat yang peduli dan cinta NKRI agar kasus penistaan Al Quran ini harus terus dikawal hingga yang bersangkutan diproses secara hukum sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia serta segera mendapat status hukum yang jelas.

Bandung, 6 November 2016

Muhammad Roinul Balad,Sos.I ( Ketua PAS Jabar)

Mohammad Ferdian ( Sekretaris PAS Jabar)

Ini Pesan Ustadz Fuad Al Hazimi Kepada Aktifis Media

SERANG (Jurnalislam.com) – Pemerhati dunia Islam, Ustadz Fuad Al Hazimi berpesan kepada aktifis media untuk tetap konsisten mengungkap fakta dan kebenaran. Tidak merasa putus asa dalam menyampaikan kebenaran dengan musuh besar yang dihadapi.

“Seperti di dalam al Qur’an, haq (kebenaran -red) akan melenyapkan kebhatilan (keburukan -red). Artinya haq itu harus dilontarkan,” katanya saat ditemui jurniscom di Yayasan at-Taubah, Serang, Ahad (6/11/2016).

Mantan Imam besar di salah satu Masjid Australia itu menganalogikan, Perang media seperti perang David dan Gholiat, seluruh media dikuasai oleh mereka, baik media mainstream, cetak dan elektronik. Mereka punya pasukan sosial media.

Mengomentari rangkaian aksi 4/11 kemarin, menurutnya, menjaga momentum akan kebangkitan umat, dinilai penting dilakukan aktifis media. Sebab, peristiwa dugaan penistaan agama Ahok merupakan puncak kesabaran umat akan rezim ini.

“Melontarkan haq itu butuh kekuatan, ketekunan, kesungguhan dan profesionalisme,” ucap da’i asal Magelang itu.

Ia juga mengatakan, saat ini musuh Islam lewat medianya sangat kuat dan banyak. Dana yang berlimpah serta motivasi yang kuat untuk memutar-balikan fakta.

“Berita mereka massif didukung dengan dana yang besar. Mereka itu bad news is a good news, berita buruk itu malah bagus untuknya,” terangnya.

“Membalikan fakta itu memang pekerjaan mereka,” tambahnya.

Ustadz Fuad menegaskan, Pers pada hari ini sama halnya dengan tukang sihir Firaun dulu. Menyihir pandangan umat dengan pemberitaannya.

Oleh karena itu, ia menyeru kepada aktifis media untuk serius dalam meniti jalan tulis-menulis. Sebab jika tidak Allah tidak memberi pertolongan-Nya.

“Kita yakin makar Allah itu lebih baik dari makar mereka. Tetapi haq itu harus ditata dengan rapih, dengan kesungguhan yang luar biasa lalu Allah melihat kesungguhan kita dan Allah akan memberikan pertolongan,” pungkasnya menasehati.

Muslim AS Hadapi Pilihan Sulit dalam Pemilu

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Saat warga Amerika pergi ke tempat pemungutan suara hari Selasa untuk memilih presiden baru, umat Islam menemukan diri mereka berada di antara batu dan dinding keras.

Itu bukan istilah untuk mengatakan bahwa mereka ragu-ragu, tetapi mereka juga memiliki sentimen yang sama dengan beberapa warga Amerika lain: Mereka percaya bahwa mereka tidak memiliki pilihan yang baik dalam memilih calon untuk mereka dukung.

Pemilih muslim sebagian besar mendukung kandidat Demokrat sejak Presiden Republik George W. Bush menyatakan “perang melawan teror” pada Oktober 2001 dan berakibat negara-negara Islam menanggung beban keputusan itu.

Presiden Barack Obama memenangkan dukungan besar dari 3 juta Muslim Amerika, dengan hampir 89 persen suara untuk Obama pada tahun 2008 dan 85 persen pada 2012, menurut jajak pendapat oleh kelompok advokasi utama Dewan Hubungan Muslim Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations-CAIR).

Tahun ini, data CAIR menunjukkan dukungan lebih condong bagi calon Demokrat Hillary Clinton, yang juga calon perempuan pertama kalinya dari partai besar. Tapi itu bukan keseluruhan cerita.

“Saya tidak berpikir Hillary Clinton adalah calon yang menarik. Pada kenyataannya, fakta bahwa dia hanya ‘menarik’ dibandingkan dengan Donald Trump yang meresahkan,” Sara Zayed, seorang analis teknologi di Wall Street berusia 22 tahun mengatakan kepada Anadolu Agency, Senin (07/11/2016), “Kebijakan luar negerinya juga militan dan sering menyakitkan perempuan dan anak-anak, yang kontras dengan pesannya yang ‘feminis’.”

Perkataan Zayed serupa dengan spektrum luas kelompok pemilih Muslim yang sangat beragam.

Dalam keragaman, mereka memiliki ikatan umum, salah satunya adalah mereka percaya bahwa mereka terjebak antara pilihan yang jelek dan pilihan buruk. Juga, dalam hal mendukung calon presiden, mereka berpikir tentang ummat – komunitas Muslim global – sebanyak mereka memikirkan diri mereka di AS.

Tapi tahun ini, pemilih Muslim berjumlah lebih banyak dari sebelumnya.

Lebih dari 1 juta Muslim telah terdaftar untuk memilih, menurut CAIR. Jumlah itu naik dari 500.000 pada tahun 2012 – menempatkan pemilih Muslim berada dalam posisi memiliki pengaruh nyata yang lebih besar yang dapat menentukan hasil pemilu.

Clinton mengambil sikap. Dalam pertama kalinya dalam kampanye presiden di AS, dia menunjuk direktur penjangkauan Muslim yang bepergian ke seluruh negeri untuk berbicara dengan para pemilih tentang apa yang dipertaruhkan pada hari Selasa.

Selain itu, Clinton memiliki pembantu profil tinggi dan Muslim Huma Abedin, di sisinya. Dia juga mendapat dukungan dari tokoh advokasi terkemuka Rep. Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih duduk di Kongres.

Kebijakan imigrasi Mantan Sekretaris Negara tersebut termasuk menawarkan tempat penampungan untuk pengungsi dalam jumlah yang jauh lebih tinggi, terutama pengungsi dari Suriah. Dia mengusulkan kenaikan 650 persen di atas jumlah 10.000 yang diperbolehkan dari negara yang sedang dilanda perang tersebut.

Sebaliknya, kandidat Partai Republik Donald Trump tidak membuat umat Islam mau mendukungnya.

Pertama, ia menuntut imigrasi garis keras sebagai landasan kampanyenya. Beberapa bulan setelah tahun lalu ia meluncurkan “gerakan” untuk “Membuat Amerika menjadi besar lagi”, Trump mengusulkan “pelarangan total dan lengkap bagi Muslim untuk memasuki Amerika Serikat” dalam reaksinya terhadap pertumbuhan terorisme di AS.

Kemudian pada bulan Maret, Trump mengatakan kepada CNN bahwa “Islam membenci kita”, dan tidak berusaha untuk membedakan antara agama Islam dan kelompok-kelompok ekstremis radikal pinggiran yang dia akui ingin ditargetkan.

Pada Konvensi Nasional Demokrat Juli, Trump menghadapi kritik dari keluarga Gold Star Muslim yang kehilangan anak mereka yang berusia 27 tahun, Capt. Humayun Khan pada tahun 2004 saat ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan sesama prajurit di Irak.

Ayahnya, dalam pernyataan pedih bertanya kepada Trump, “Apakah Anda pernah membaca Konstitusi Amerika Serikat?” yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari konvensi dan menjadi salah satu sorotan dalam kampanye Demokrat tersebut.

Trump mengabaikan kesempatan untuk menjembatani komunikasi dengan pemilih Muslim tersebut dan malah membalas pahit dengan meremehkan Khan dan menggambarkan istrinya sebagai orang yang tertindas.

Dan Trump tidak pernah meminta berkomunikasi dengan pemilih Muslim dalam beberapa kampanyenya di seluruh negeri. Dialog Trump yang mungkin paling dekat dengan umat Islam adalah ketika ia mengatakan bahwa Muslim “harus bekerja sama dengan penegak hukum” karena “mereka tahu” siapa saja yang memiliki niat buruk.

Beberapa hal itu sebagian menjelaskan mengapa hanya 4 persen dari Muslim yang mengatakan mereka akan mendukung Trump, menurut jajak pendapat CAIR terbaru. Sebaliknya, Clinton mendapat dukungan sebesar 72 persen.

Tapi Sajid Tarar, pendiri Muslim Amerika untuk Trump (American Muslims for Trump), percaya bahwa “mayoritas diam – silent majority” akan membantu menempatkan Trump ke Oval Office. Dan umat Islam harus memainkan peran mereka.

“Pemilu ini lebih besar dari Donald Trump,” kata Tarar kepada Anadolu Agency. “Bendera Amerika telah kehilangan rasa hormat di dunia,” katanya, menempatkan kesalahan tepat di pundak pemerintahan Obama-Clinton.

Trump “datang dengan ide-ide baru” dan “mendiagnosis isu ekstremisme IS,” menurut Tarar.

“Saya setuju dengan tawaran Trump untuk melarang umat Islam datang ke AS.”

Ini adalah posisi yang ironis bagi Tarar, yang berasal dari Pakistan, bila kita menganggap keluarganya sendiri akan dilarang memasuki AS jika kebijakan Trump diberlakukan tiga dekade lalu.

Tarar mengakui Pakistan, negara asalnya, “terkenal dengan terorisme” dan ia tidak ingin orang-orang datang dari sana jika mereka ingin menyakiti AS, “Saya mencintai negeri ini lebih dari hidup saya,” katanya.

Tarar, yang menempuh pendidikan di sekolah hukum di AS dan memiliki real estate, memiliki kata-kata kasar bagi umat Islam yang datang ke AS, mengatakan bahwa mayoritas “tidak memiliki konsep demokrasi.”

Dia tidak terganggu dengan beberapa tuduhan penyerangan seksual terhadap Trump atau komentar cabul yang dikeluarkan calon presiden itu tentang memangsa dan meraba-raba perempuan. Orang-orang Amerika telah mengampuni Bill Clinton, dan mereka akan memaafkan Donald Trump, menurut Tarar.

Sentimen mereka tampaknya berada dalam minoritas.

Amerika terkenal memiliki kenangan pendek tapi pemilih perempuan Muslim yang berbicara dengan Anadolu Agency tidak menginginkan presiden Trump.

“Saya tidak bisa membungkus kepala saya dengan gagasan bahwa ada sekelompok umat Islam yang mendukung kampanye Trump,” kata Hatice Cagla Gunaydin, 21-tahun mahasiswa jurusan hubungan internasional Turki-Amerika di Universitas George Washington.

“Saya tidak melihat bagaimana kampanye dan sentimen Trump selaras dengan prinsip Islam tentang perdamaian, masyarakat, dan keadilan,”

katanya.

 

Syiah Pakistan Bentrok dengan Polisi setelah Pemimpin Mereka Ditangkap

KARACHI (Jurnalislam.com) – Polisi di Karachi menembakkan gas air mata dan meluncurkan pentungan saat ratusan pengunjuk rasa memblokir jalan raya dan rel kereta api utama kota setelah penangkapan pemimpin Syiah di tengah gelombang pembunuhan sektarian, kata media lokal, lansir Anadolu Agency, Senin (07/11/2016).

Demonstran sekte Syiah melemparkan batu ke polisi dan penyiar Geo TV melaporkan dua perwira terluka dalam bentrokan di distrik timur pusat komersial Pakistan yang juga kota terbesar.

Rekaman yang disiarkan di televisi menunjukkan antrian panjang kendaraan di kedua sisi jalan raya saat demonstran menyerukan pembebasan pemimpin yang ditangkap Ahad malam.

Ada beberapa gambar pertempuran antara demonstran dan polisi yang didukung oleh kendaraan lapis baja. Lebih dari selusin orang ditangkap.

Polisi telah menangkap sekitar 100 tersangka anggota sekte Syiah dan muslim Sunni dalam tiga hari terakhir, termasuk seorang mantan senator Partai Rakyat Pakistan, Syed Faisal Raza Abidi, atas pembunuhan sektarian yang telah merenggut 11 korban dalam seminggu terakhir.

Pakistan yang mayoritas Muslim Sunni, memiliki sejarah panjang konflik agama. Syiah berjumlah sekitar 10 sampai 15 persen dari 202 juta penduduk Pakistan.

Lagi, Hanya 2 Hari Puluhan Pasukan Milisi Syiah Hizbullah Tewas di Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah Hizbullah kehilangan puluhan pasukan selama dua hari di Suriah dalam pertempuran yang sedang berlangsung dengan faksi mujahidin Suriah di selatan Aleppo, dimana terjadi pertempuran sporadis dan operasi terhadap milisi Syiah Hizbullah dan gerakan Syiah Irak Nujaba, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (07/11/2016).

Sumber-sumber militer menegaskan bahwa sedikitnya 35 milisi Syiah Hizbullah tewas setelah mereka ditargetkan dengan peluru kendali di dekat bukit “Uhod” di pedesaan selatan Aleppo, sementara sedikitnya 10 pasukan gerakan Irak Nujaba juga tewas di tempat yang sama.

Jaysh al-Mujahidin telah menyiarkan sebuah rekaman yang menunjukkan rudal anti-armor mereka menargetkan kelompok militer yang dikatakan milik Hizbullah Lebanon dan gerakan Irak Nujaba selatan Aleppo, dan menampilkan tembakan langsung ke arah kelompok-kelompok tersebut.

3 Pekan Operasi Mosul, Pasukan Irak Ambil Alih Banyak Wilayah, Ini Laporannya

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Tentara Irak dan sekutunya pada hari Senin terus mencatat kemenangan di dan sekitar wilayah Mosul yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) di tengah operasi pembersihan pasukan IS dari kota kedua terbesar Irak yang sedang berlangsung – yang sekarang memasuki pekan keempat, Anadolu Agency melaporkan, Senin (07/11/2016).

Dalam sebuah pernyataan, General Abdulamir Rashid Yarullah, kepala militer Komando Operasi Niniwe, mengumumkan bahwa pasukan Irak telah merebut tiga desa di barat daya Mosul serta desa dan kabupaten lain di utara Mosul.

Jenderal itu menambahkan bahwa dua komandan IS tewas di selatan dan timur Mosul, sementara pasukan Irak di tenggara Mosul telah merebut tank dan sejumlah besar senjata dari para militan.

Menurut Kolonel Ahmed al-Jubouri, seorang perwira di Komando Operasi Niniwe, pasukan Irak sekarang berdiri sekitar 14 kilometer dari bandara internasional Mosul.

“Setelah menguasai desa Al-Zefteyya, pasukan Irak sekarang berada sekitar 14 kilometer dari bandara dari arah daerah Hammam al-Alil di selatan Mosul,” kata al-Jubouri kepada Anadolu Agency.

Pada hari Sabtu, tentara mengumumkan merebut kembali Hammam al-Alil, salah satu benteng terakhir IS di selatan Mosul, segera setelah menyerbunya.

Pada tanggal 18 Oktober, tentara, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, yang dikuasai IS – bersama dengan tambahan wilayah di utara dan barat Irak – pada pertengahan 2014.

Beberapa bulan terakhir tentara Irak telah merebut kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul – ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak – dan di provinsi barat Anbar.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM), lebih dari 22.000 orang telah mengungsi sejak operasi Mosul dimulai tiga pekan lalu.

Pasukan Kurdi Irak Rebut Kota Bashiqa dari IS

NiNIWE (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak Peshmerga telah “benar-benar merebut” pusat kota strategis Bashiqa dan sekarang mencoba untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) dari seluruh kota, petugas Peshmerga mengumumkan pada Senin sore (07/11/2016).

“Pasukan kami sekarang mengontrol penuh pusat Bashiqa,” kata petugas Peshmerga Sherzad Zakholi kepada Anadolu Agency, Senin.

“Bendera Irak dan bendera daerah [yaitu wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara] telah dikibarkan di atas semua bangunan pemerintah di daerah,” katanya.

Zakholi menambahkan bahwa pasukan Peshmerga sekarang dalam proses membersihkan ranjau dan booby-traps (jebakan/perangkap) yang tersisa yang ditanam oleh militan IS.

Sebelumnya pada hari Senin, pasukan Peshmerga Kurdi menyerbu kota Bashiqa di utara Irak sebagai bagian dari serangan militer yang sedang berlangsung untuk merebut kembali kota terdekat Mosul dari kelompok IS.

Menurut seorang wartawan Anadolu Agency yang berada dekat lokasi pertempuran, pasukan Peshmerga memasuki pusat kota Senin pagi – dari tiga arah – dan saat ini menyerang posisi IS di daerah tersebut.

Ahli militer dari koalisi pimpinan AS memberikan dukungan kepada pasukan Peshmerga yang saat ini berperang di dalam kota, kata wartawan itu.

Menurut Sankar Mustafa, petugas Peshmerga lain, pasukan Peshmerga juga sekarang menguasai penuh jalan utama yang menghubungkan Bashiqa ke Mosul.

Kota Bashiqa yang mayoritas dihuni Ezidi terletak sekitar 12 kilometer (kira-kira 8 mil) di timur laut Mosul, ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak.

Turki memiliki misi pelatihan militer lama di dekat Camp Bashiqa, di mana tentara Turki telah melatih pasukan Peshmerga dan relawan suku lokal dalam hal teknik tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran misi di Irak utara telah meningkatkan ketegangan antara Baghdad dan Ankara di tengah seruan oleh beberapa anggota parlemen Irak agar pasukan Turki menarik diri dari daerah tersebut.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi besar yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Pada pertengahan 2014, IS menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah luas wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, menduduki kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar barat dalam beberapa bulan terakhir

Ketum DDII Himbau Umat Untuk Membentengi Iman di Era Fitnah

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketum Dewan Dawah Islam Indonesia (DDII), Ustadz KH Syuhada Basri mengatakan fitnah di jaman sekarang jauh lebih besar dari pada sebelumnya.

“Akibat fitnah itu kata Rosulullah orang yang paginya iman sorenya menjadi kafir, sore iman paginya kafir, karena banyak orang menjual agamanya dengan keuntungan dunia katanya,” katanya pada acara Executive Gatering di Kusuma Sahid Prince Hotel, Jl Sugiyopranoto 20, Solo, Ahad (6/11/2016).

Kesimpulan dari hadits itu, kata dia, banyak orang saat ini disibukan dengan dunia. Menjaga Iman untuk tetap kokoh di jaman fitnah dinilainya penting dilakukan. Sebab, hal itu dapat membentengi dari derasnya ujian yang akan dihadapi.

“Kalau iman mudah dibeli, maka orang lain mudah pula mengolok-olok dan menghina kita. Kita menghadapi kenyataan bagaimana orang semakin banyak berlomba-lomba untuk membela yang bathil dan memusuhi yang haq,” terangnya menasehati peserta STTD Tabarok.

Menurutnya, kondisi itulah yang melahirkan generasi jauh dari Al Quran. Maka wajar, lanjutnya, jika saat ini ada orang berani terang-terangan melecehkan Al Quran. Ia juga menilai umat tak kokoh iman itu yang membela pelaku penistaan Al-Qur’an.

Untuk itu, Ustadz Syuhada menghimbau kepada umat Islam untuk membentengi bahaya itu dengan mencetak generasi penghafal Qur’an.