Hari Santri, Baznas Luncuran Program Beasiswa Santri

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Wakil Presiden RI, Prof KH Ma’ruf Amin meluncurkan Program Beasiswa Santri Baznas Tahun 2022, bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2022 di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Sabtu (22/10/2022).

Program Beasiswa Santri Baznas ditujukan untuk santri berprestasi dari kalangan keluarga miskin.

Beasiswa Santri Baznas 2022 adalah beasiswa persiapan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri dan Favorit bagi 2.500 santri aktif dan berprestasi yang sedang menempuh pendidikan formal di kelas XII/3 tingkat MA/Sederajat.
Total beasiswa dari Baznas Pusat sebesar Rp15 miliar dan Beasiswa Santri dari 20 Baznas Provinsi/Kabupaten/Kota sebesar Rp8,5 miliar. Angka ini masih akan terus bertambah dari daerah lain.

Program Beasiswa Santri Baznas 2022 disambut baik oleh Wapres Ma’ruf, yang berharap program Beasiswa Santri Baznas ini mampu mendorong program penanggulangan kemiskinan yang digencarkan pemerintah dan didukung Baznas.
Melalui pendidikan, kata Wapres Ma’ruf, tidak hanya santri saja yang akan berkembang tetapi keluarga santri juga dapat terangkat dari sisi ekonomi, bahkan juga masyarakat di sekeliling pesantren, bahkan orang-orang disekitarnya pun akan terbantu, mengingat sasaran Beasiswa Santri Baznas ini adalah para santri berprestasi dari kalangan keluarga miskin, dari pondok pesantren di seluruh Indonesia.

“Bagi para santri yang berprestasi, yang mendapatkan beasiswa saya berpesan untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi khususnya di Perguruan Tinggi Negeri dan Favorit lainnya,” jelas Wapres Ma’ruf.

Wapres Ma’ruf menambahkan, “Kita semua menantikan saudara-saudara sekalian menjadi kader-kader penerus bangsa yang profesional serta menjadi pemimpin bangsa dan negara di masa depan yang giat melakukan khittah-nya sebagai pembawa kebaikan dalam bidang yang ditekuni masing-masing.

Sementara itu, Ketua Baznas RI, Prof KH Noor Achmad menyebut, melalui Program Beasiswa Santri, Baznas ingin mencetak para santri calon teknokrat, birokrat, dan pemimpin Indonesia di masa depan.

Program Beasiswa Santri ditujukan untuk santri berprestasi dari kalangan keluarga miskin. Agar bantuan yang diberikan tepat sasaran, Baznas bekerja sama dengan pondok pesantren dan akan melakukan seleksi ketat secara menyeluruh.
“Demi menyukseskan program itu, Baznas RI menyiapkan Rp15 miliar untuk membiayai 2.500 Santri, dan jumlah ini masih akan terus bertambah karena belum termasuk Beasiswa Santri yang dilakukan Baznas provinsi, kabupaten/kota,” kata Noor.

Noor menambahkan, setiap santri akan mendapatkan dana bantuan sebesar Rp6 juta, dan dana yang diberikan akan ditujukan untuk pembiayaan pendampingan, pembiayaan kegiatan masuk ke perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi favorit.
Selain dana beasiswa, Baznas juga menyiapkan pembinaan berupa pengembangan soft skill bekerja sama dengan pondok pesantren dan mitra terkait.
“Dengan adanya beasiswa santri ini, diharapkan santri berprestasi dapat menyelesaikan pendidikannya dan dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, khususnya di perguruan tinggi negeri (ptn) dan favorit, sehingga terciptanya kader penerus bangsa yang profesional di bidangnya dan menjadi pemimpin bangsa dan negara di masa depan,” kata Noor.

MUI Gelar FGD Sikapi Modus Pemurtadan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Lembaga Dakwah Khusus MUI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menyikapi Modus Pemurtadan dan Mualaf Dalam Dakwah Terdepan” di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat pada Sabtu (22/10/2022).

Diskusi ini, menurut Ketua Panitia FGD, Nazar Haris, bertujuan menyikapi munculnya modus pemurtadan baru di Indonesia.

“Dulu pemurtadan dilakukan lewat perkawinan. Sekarang modusnya sudah berkembang. Sudah tidak sekadar itu lagi,” jelas Nazar saat memberikan laporan di acara pembukaan FGD.

Sementara Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan, dalam sambutan secara daring menjelaskan, perkawinan beda agama, meskipun bukan menjadi modus pemurtadan yang baru, namun tetap perlu menjadi perhatian serius semua pihak. Sebab, hal ini tak sekadar ini pelanggaran UU no 1 tahun 1974.

“Dalam UU No 1 tahun 1974 jelas disebutkan kalau perkawinan itu sah jika dilakukan menurut agama dan kepercayaan masing-masing,” jelas Amirsyah. Karena itu, menjadi tanggungjawab kita semua, terutama para aktivis, untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat.

Apalagi pernikahan beda agama jelas-jelas memberikan mafsadat, yakni pemurtadan.
FGD ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama membahas model baru pemurtadan di Indonesia dengan pembicara Dandy Tan, seorang mualaf, Dr KH Muhyidin Junaidi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, dan Dr Teten Romli Qomaruddin pengurus Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI.

Adapun sesi kedua membahas pemurtadan dan perseteruan di lapangan dengan pembicara Ust Fadlan Gharamatan, tokoh Papua, Shalahuddin al Ayubi, dan Drs Abu Deedat Shihab.

Menurut Dandy Tan, metode baru pemurtadan, selain pernikahan dan pacaran, juga pluralisme, pengadaan atau perbaikan fasilitas umum, jabatan di pemerintahan, ekonomi, media, dan bencana alam.
Sedangkan Teten Romli menjelaskan salah satu model pemurtadan baru adalah penyesatan terminologi dalam istilah-istilah Islam.

Beberapa terminologi yang disesatkan adalah ummatan wasathan, rahmatan lil alamin, dan ahlul kitab. Demikian pula diksi intoleran mereka belokkan. Karena itu, kata Tetan, para ulama perlu meletakkan kembali diksi Islam yang tepat kepada istilah-istilah tersebut.

FGD ini berlangsung sejak pukul 09.00 dan berakhir pukul 15.00. Peserta yang hadir berjumlah sekitar 50 orang, terdiri atas utusan berbagai ormas Islam, badan dan lembaga MUI, serta beberapa mualaf center.

 

Hari Santri Penghargaan untuk Pejuang Kemerdekaan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengingatkan bahwa Hari Santri yang ditetapkan Pemerintah pada tahun 2015 adalah penghargaan atas perjuangan para pendahulu dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

Menurut Menag, Hari Santri tidak terlepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadratus-syekh KH Hasyim Asy’ari agar para kiai dan santri ikut berjuang dalam memerdekakan negeri.

“Saya mengingatkan kita semua, terutama santri bahwa Hari Santri ini penghargaan yang diberikan pemerintah, bukan untuk kita. Hari santri ini penghargaan yang diberikan oleh negara kepada santri-santri pendahulu kita yang ikut berjuang memerdekaan NKRI,” tegas Menag saat memberikan sambutan pada “Shalawat Kebangsaan” di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (22/10/22).

Shalawat Kebangsaan ini merupakan malam puncak Peringatan Hari Santri 2022. Hadir, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, jajaran Kementerian Agama, dan ribuan santri.

“Kita ini semua bagian menikmati atas perjuangan para santri pendahulu kita. Karenanya, kita yang tinggal menikmati ini jangan enak-enakan, minta diistimewakan, tidak bisa. Santri tidak boleh merasa diistimewakan hanya gara-gara punya peringatan Hari Santri. Kita harus berusaha dan berdaya,” tegas Menag.

Menag menegaskan bahwa santri harus berdaya dan untuk itu harus terus berusaha. Santri tidak cukup berbangga hati dengan apa yang diperjuangkan para santri pendahulu. “Santri memang bisa menjadi apa saja. Santri bisa menjadi pengusaha, menteri, bahkan presiden juga bisa. Tapi santri harus berjuang dan berusaha,” tutur Menag.

Menurut Menag, contoh kiprah santri sudah banyak. Ada santri yang menjadi Presiden, yaitu KH Abdurrahman Wahid. Ada santri yang menjadi wakil presiden, yaitu KH Ma’ruf Amin. Bahkan, banyak santri yang menjadi menteri, polisi, TNI, pengusaha, dan profesi lainnya.

“Santri bisa menjadi apa saja. Tugas pertama para santri masa kini adalah tekun belajar dan mengaji,” pesan Gus Men, panggilan akrabnya.

Peringatan Hari Santri, lanjut Gus Men, juga mengingatkan perjuangan para santri terdahulu dalam memerdekakan bangsa dan negara. Ini harus dipertahankan. “Siapa pun yang akan mengganggu kemerdekaan negeri yang dimerdekaan para kyai dan santri, para santri wajib berada pada garda terdepan untuk melawannya,” pekik Menag.

Tema ‘Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan’, kata Menag, juga memberi pesan kepada para santri untuk mempertahankan martabat dengan menjaga negara dari setiap ganggungan dan rongrongan yang ingin mengganggunya.

“Selamat merayakan Hari Santri. Jadikan peringatan Hari Santri ini pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan kita masih panjang. Negeri ini membutuhkan para santri,” tandas Gus Men yang juga seorang santri.

 

 

 

 

BPJPH: Tiga Tahun,  749 Ribu Produk Telah Tersertifikasi Halal

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama telah menginjak usia lima tahun pada Oktober 2022. Sejumlah capaian jaminan produk halal (JPH) berhasil ditorehkan oleh unit eselon I termuda di Kementerian Agama ini.

Pertama, tercatat adanya peningkatan rata-rata jumlah produk tersertifikasi halal setiap tahunnya. “BPJPH berdiri pada 11 Oktober 2017. Sementara, layanan sertifikasi halal baru kita mulai pada 17 Oktober 2019. Artinya, baru tiga tahun layanan sertifikasi halal dilakukan BPJPH,” ungkap Kepala BPJPH M. Aqil Irham, di Jakarta, Jumat (21/10/2022).

Berdasarkan data Sistem Informasi Halal (SiHALAL), Selama kurun waktu 2019-2022, tercatat sebanyak 749.971  produk telah tersertifikasi halal.

“Maka, kalau kita melihat data, rata-rata ada 250 ribu produk per tahun yang berhasil kita berikan sertifikasi halal,” ujar Aqil.

Rata-rata ini, lanjut Aqil, meningkat jika dibandingkan angka sertifikasi halal sebelum dikelola BPJPH. “Sebelumnya, rata-rata jumlah produk tersertifikasi halal pertahunnya hanya 100 ribu. Jadi saat ini naik sekitar 2,5 kali lipat,” ungkapnya.

BPJPH, lanjut Aqil, terus berupaya untuk meningkatkan capaian ini. “Segala upaya kita kerahkan untuk meningkatkan capaian sertifikasi halal ini. Hal ini dilakukan untuk mencapai cita-cita agar Indonesia menjadi produsen produk halal nomor 1 di dunia pada 2024,” ujar Aqil.

Perbaikan juga dilakukan BPJPH di semua lini. Hal ini dimulai dari penerbitan 1 Peraturan Pemerintah, 5 Peraturan Menteri Agama (PMA), 3 Keputusan Menteri Agama (KMA), 1 Peraturan Badan, dan 8 Keputusan Kepala Badan.

Upaya untuk memberikan pelayanan sertifikasi halal yang lebih mudah, murah, dan cepat, dilakukan BPJPH dengan menerapkan transformasi digital dalam proses registrasi dan sertifikasi halal. “Saat ini, SiHALAL sudah terintegrasi dengan OSS BKPM dan sistem Lembaga Pemeriksa Halal (LPH),” kata Aqil.

“Pendaftaran sertifikasi halal juga telah dilakukan secara online melalui ptsp.halal.go.id. Ini yang kami perkirakan membuat pendaftaran sertifikasi halal meningkat, karena semakin mudah,” sambungnya.

Belum lagi penetapan tarif sertifikasi halal oleh Kementerian Keuangan, menjadikan proses bisnis yang dilakukan lebih jelas. “Berdasarkan PMK 57 tahun 2021, sudah ada parameter tarif yang jelas, dan lebih murah dibandingkan sebelum-sebelumnya,” jelas Aqil.

Di bidang registrasi dan sertifikasi halal,  program fasilitasi diperkuat. Pada 2020, BPJPH memberikan fasilitasi sertifikasi halal bagi sekitar tiga ribu pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK). Angka ini ditingkatkan pada 2021, dengan menggelontorkan program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) bagi 10 ribu UMK.

Di tahun yang sama, pertama kali BPJPH  memperkenalkan program sertifikasi halal dengan mekanisme pernyataan pelaku usaha (self declare). “Tahun 2022, program Sehati kita lanjutkan. Di tahun ini, BPJPH memberikan fasilitasi bagi 349.834 pelaku UMK yang mengajukan sertifikasi halal melalui mekanisme self declare,” papar Aqil.

Perbaikan juga dilakukan di bidang pembinaan dan pengawasan jaminan produk halal. Saat ini, BPJPH telah menggandeng 151 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LPPPH) yang terdiri dari ormas Islam dan universitas.

BPJPH juga telah mensertifikasi 344 penyelia halal dan 18.248 pendamping Proses Produk Halal (PPH). “Jumlah ini akan terus kami tingkatkan agar bisa menjangkau 37 provinsi di Indonesia,” tutur Aqil.

Hal serupa dilakukan pada bidang kerja sama dan standardisasi halal. Saat ini, ungkap Aqil, BPJPH telah melakukan penandatanganan kerja sama dengan 203 lembaga dalam negeri dan 4 lembaga luar negeri.

Untuk memastikan standardisasi jaminan produk halal, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) diperbanyak dan diperkuat. Bila sebelumnya Indonesia baru memiliki tiga LPH maka di Oktober sudah berdiri 28 lembaga. Tak kurang sebanyak 497 auditor halal pun dilatih dan disertifikasi. “Akhir tahun ini kita dorong minimal ada 30 LPH. Jadi jumlahnya bisa meningkat 10 kali lipat. Kita berharap ini bisa mempercepat capaian sertifikasi halal,” paparnya.

“Kita juga menerima pengajuan akreditasi dan saling berketerimaan dari 99 Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) dari 40 negara,” papar Aqil.

 

Hari Santri, Momen Doakan Bangsa dan Ulama

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sejak ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 2015, 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri. Peringatan Hari Santri ini lalu digelar di seantero negeri, tidak hanya pesantren tapi juga beragam lapisan masyarakat di Indonesia.

Memimpin upacara Hari Santri di halaman kantor pusat Kementerian Agama, Menag Yaqut Cholil Qoumas mengajak para santri untuk istiqamah pada jalan perjuangannya, membela agama dan bangsa, serta menjaga martabat kemanusiaan. Menag juga mengajak para santri dan masyarakat Indonesia untuk terus mendoakan para pahlawan bangsa, termasuk kiai dan ulama, yang telah syahid dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kemaslahatan Indonesia.

“Doakan bangsa dan ulama, jaga martabat kemanusiaan,” pesan Menag selaku inspektur Upacara Peringatan Hari Santri di Jakarta, Sabtu ((22/10/2022).

 

Upacara ini diikuti pejabat Eselon I dan II, serta para pejabat fungsional dan pegawai Kementerian Agama. Berbeda dari biasanya, Menag beserta seluruh peserta upacara mengenakan kain sarung dipadukan peci hitam. Upacara ini juga diikuti ribuan santri dan ASN Kementerian Agama dari berbagai daerah di Indonesia secara streaming.

“Melalui momen Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2022 ini, mari kita bersama-sama mendoakan para pahlawan terutama dari kalangan ulama, kiai, santri yang telah syahid di medan perang demi kemaslahatan bangsa dan agama. Semoga arwah para pahlawan bangsa ditempatkan yang terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Amin,” ajak Menag.

 

Dijelaskan Gus Men, panggilan akrabnya, Peringatan Hari Santri 2022 mengangkat tema ‘Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan’. Tema ini memberi pesan bahwa santri dalam kesejarahannya selalu terlibat aktif dalam setiap fase perjalanan Indonesia. Ketika Indonesia memanggil, santri tidak pernah mengatakan tidak. Santri dengan berbagai latar belakangnya siap sedia mendarmabaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara.

Dulu, lanjut Menag, ketika Indonesia masih dijajah, para santri turun ke medan laga, berperang melawan penjajah. Ada banyak catatan sejarah yang menggambarkan kiprah para santri berperang melawan penjajah.

Menggunakan senjata bambu runcing yang terlebih dahulu didoakan Kiai Subchi Parakan Temanggung misalnya, mereka tidak gentar melawan musuh. Di Surabaya, Resolusi Jihad yang digelorakan Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat pemuda Indonesia melawan Belanda. Di Semarang, ketika pecah pertempuran lima hari di Semarang, para santri juga turut berada di garda depan perjuangan.

“Di tempat lainnya sama. Santri selalu terlibat aktif dalam peperangan melawan penjajah,” tutur Menag.

Pada masa ketika Indonesia sudah memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka, santri juga tidak absen. Disebutkan, KH. Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid, adalah salah satu santri yang terlibat secara aktif dalam pemerintahan di awal-awal kemerdekaan. Dialah, bersama santri-santri, dan tokoh-tokoh agama lainnya turut memperjuangkan kemaslahatan umat agama-agama di Indonesia.

Pascakemerdekaan Indonesia, santri juga lebih semangat lagi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Mereka tidak asyik dengan dirinya sendiri, tetapi terlibat secara aktif di dunia perpolitikan, pendidikan, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan, selain juga agama.

 

Kiprah Santri Diakui Negara

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Hari Santri sejak ditetapkan Presiden Jokowi pada 2015, diperingati oleh banyak pihak. Hari ini, Jumat (21/10/2022), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menghadiri Peringatan Hari Santri yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan HAM (Kemenkopolhukam).

Peringatan kali ini diselenggarakan dalam bentuk Halaqah Kebangsaan dengan tema “Ideologi Negara, Ideologi Santri”.

Hadir membuka Halaqah, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan bahwa peran serta kiprah santri sangat diakui oleh negara. Salah satu bentuk pengakuan atas kiprah santri yang dilakukan bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka adalah adanya Peringatan Hari Santri.

“Alhamdulillah, memang peran santri di Indonesia ini diakui oleh negara. Yaitu dengan ditetapkannya Hari Santri. Santri terus berkiprah, bahkan sejak sebelum kemerdekaan,” kata Wapres.

Wapres menuturkan, peran santri tidak hanya sampai mengusir penjajah dari bumi Indonesia, tetapi santri juga terlibat dalam menyusun konstitusi negara.

“Santri terus berkiprah hingga hari ini dalam mengisi kemerdekaan Indonesia dan mengisi pembangunan menuju Indonesia maju,” ungkap Wapres.

Menurutnya, terdapat tiga doktrin yang dipegang teguh oleh santri sehingga dapat terus berperan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pertama, hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Karena itu santri siap melakukan apa saja untuk membela, memperjuangkan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ini karena hubbul wathan minal iman terus ditanamkan. Itu saya kira yang membuat santri siap bahkan mengorbankan nyawanya untuk bangsa dan negara,” ujar Wapres.

Kedua, masih menurut Wapres, adalah hifdzul mitsaq, menjaga kesepakatan. Slogan NKRI yang tertuang dalam Mars Hari Santri artinya adalah memegang teguh kesepakatan dan menolak kesepakatan lain.

Ketiga, semangat memakmurkan bumi. Ini adalah perintah Allah. Terutama oleh karena jabatan manusia sebagai khalifah fil ardh. Untuk mengemban tugas itu, butuh ilmu pengetahuan. Maka santri harus dan wajib semangat menuntut ilmu.

“Santri bertugas melakukan perbaikan-perbaikan. Langkah santri bukan untuk kedudukan tapi untuk melakukan perbaikan. Oleh karena itu, santri siap untuk menerima tugas apapun itu ketika dipercaya untuk berkiprah,” kata Wapres.

 

 

PP Muhammadiyah Luncurkan Wikimu.org

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Untuk meneguhkan sebagai organisasi berkemajuan, Muhammadiyah hadir di ranah digital secara lebih massif. Selain konten-konten yang masih tercecer kini akan lebih terintegrasi dalam sebuah ruang digital yang disebut wikimu.org.

Dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Sabtu (21/10/2022), wikimu.org diluncurkan langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Dadang Kahmad. Hadir juga dalam peluncuran ini yaitu Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Dr. Mukhlas MT, Rektor UMJ Dr. Ma’mun Murod, para pengurus MPI PP Muhammadiyah, dan peserta dari Amal Usaha Muhammadiyah dan MPI se-Indonesia yang mengikuti secara daring dan luring.
Pada kesempatan tersebut Dadang Kahmad menyampaikan tentang inovasi yang menjadi karakter Muhammadiyah. “Peluncuran wikimu.org melengkap karya-karya MPI yang sudah dibuat sebelumnya seperti TVMU, Pusat Syiar Digital Muhammadiyah (PSDM), DigiMu, rintisan Fiqih Informasi, Museum Muhammadiyah, Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW), buku Ensiklopedi Muhammadiyah, buku Fachrodin, dan yang lainnya.”

Kehadiran wikimu.org ini menurut Mukhlas MT, tiada lain merupakan persembahan MPI di akhir periode ini untuk meneguhkan Muhammadiyah di ranah digital. “Jadi walaupun ini sudah akhir periode, MPI ini terus berkarya, membuat sesuatu untuk kemajuan Muhammadiyah.”

Secara teknik, wikimu.org menurut Arif Nurahman sebagai sekretaris program, berbeda dengan website dan media lain yang sudah ada di Muhammadiyah. Sebab wikimu platform baru yang memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengisi, mengedit dan menyempurnakan konten yang sudah ada. “Jadi wikimu.org ini merupakan sarana digital yang dipersembahkan bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tetapi juga unyuk seluruh ummat manusia yang membutuhkan informasi tentang Muhammadiyah secara dinamis.”

Dalam sesi diskusi tentang “Transformasi Muhammadiyah di Era Digital”, Agus Sudibyo menyatakan bahwa Muhammadiyah sebenarnya sudah bertransformasi sejak dulu, yang dibutuhkan justru Muhammadiyah membantu transformasi negeri ini.

Namun demikian, Sudibyo juga mewanti-wanti bahwa dunia digital ini banyak persoalan, karenanya harus disikapi secara serius. “Karenanya saya berharap digitalisasi harus masuk ke kurikulum sekolah. Sekarang dampak negatif digital sudah sangat nyata dan massif, tapi menanganinya belum serius. Karenanya harus menjadi bagian dari pembelajaran formal agar lebih serius. Di sini Muhammadiyah harus ambil peran.”

Dalam meningkatkan kemampuan digitalisasi ini, maka Nur Azizah dari Kominfo RI menyampaikan pentingnya para pimpinan seperti di Muhammadiyah untuk memiliki kecakapan digital.

Ustaz Dasrizal Raih Juara 1 MTQ Internasional di Kuwait

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Prestasi internasional kembali diraih qari Indonesia.  Dasrizal M. Nainin, utusan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sumatera Barat (Sumbar) meraih Juara 1 pada MTQ Internasional di Kuwait yang dilaksanakan pada 10-19 Oktober 2022.

“Selamat kepada Ustaz Dasrizal yang meraih Juara 1 MTQ Internasional di Kuwait. Ini kabar gembira melengkapi kegembiraan kita setelah suksesnya MTQ Nasional ke-29 di Kalsel,” ungkap Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin di Jakarta, Kamis (20/10/22).

Kamaruddin berkomitmen bahwa pihaknya bersama LPTQ akan terus melakukan pembinaan kepada generasi muda agar semakin dekat dengan Al-Qur’an. Upaya pembinaan terus dilakukan di tingkat Nasional hingga Kabupaten/Kota bahkan Kecamatan.

“Prestasi di kancah internasional tentu saja mengharumkan nama bangsa. Ini juga menjadi optimisme dan harapan kita semua untuk terus melakukan pembinaan kepada masyarakat,” sambung pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum LPTQ Nasional.

Dirjen meyakini, para qari merupakan influencer di tengah masyarakat. Ia berharap qari mampu menjadi katalisator semangat masyarakat untuk belajar, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

“Bacaan Al-Qur’an dengan suara indah para qari akan melahirkan kecintaan masyarakat untuk belajar Al-Qur’an. Seiring berjalannya waktu, masyarakat akan terus mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an yang dipenuhi dengan muatan paham moderat serta penyemai kerukunan di tengah masyarakat,” harap Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar ini.

Terpisah, Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an dan Al-Hadits Kemenag Rijal Ahmad Rangkuty menambahkan, MTQ Internasional Kuwait merupakan salah satu MTQ bergengsi. Ia mengaku bersyukur atas capaian qari Indonesia di ajang tersebut.

“Kita bersyukur dan ini menjadi bukti bahwa generasi kita mampu sejajar bahkan unggul di kancah internasional. Sesuai arahan Ketua Umum LPTQ Nasional, kita akan terus memberikan pembinaan dan kesempatan kepada qari dan hafiz Indonesia untuk berlaga di MTQ Internasional,” tandas pria yang hafal 30 Juz Al-Qur’an ini.

Sebagai informasi, Dasrizal merupakan Juara 2 Tilawah Dewasa pada MTQ Nasional ke-28 di Kota Padang, Sumatera Barat. Selain Dasrizal, Kemenag juga mengutus Haris Dwi Putra pada Cabang Hafalan 30 Juz di MTQ Internasional Kuwait. (kemenag)

PP Muhammadiyah Minta Pemerintah Serius Tangani Gagal Ginjal Akut pada Anak

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Banyaknya laporan tentang masalah kesehatan ginjal akut pada anak, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas meminta pemerintah turun tangan atasi masalah ini, sebab dikhawatirkan akan merugikan masa depan bangsa.

Menurutnya, masalah kesehatan ginjal akut yang menjadi temuan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak boleh dipandang sebelah mata. Ini masalah serius, sebab bukan merugikan anak-anak dan keluarganya, tetapi juga mengancam masa depan bangsa. Sebab mereka adalah generasi penerus yang akan mengisi bangsa ini di masa depan.

“Untuk itu karena negara adalah melindungi dan mensejahterakan rakyat, maka pemerintah harus turun secepatnya untuk mengetahui sebab musabab mengapa hal demikian sampai terjadi,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (20/10).

Terkait langkah yang sudah diambil, dirinya mengapresiasi itu, tetapi tidak boleh ada pembiaran. Diperlukan langkah taktis dan jangka panjang supaya kasus serupa tidak terulang. Dengan demikian akan lebih banyak anak-anak yang bisa diselamatkan. Karena menyelamatkan anak-anak Indonesia, sama dengan menyelamatkan masa depan.

Dia menegaskan jangan sampai anak-anak sebagai aset masa depan bangsa terenggut masa kecilnya disebabkan masalah kesehatan. Anak-anak Indonesia harus sehat, cerdas, berakhlak utama supaya mereka menjadi anak-anak yang produktif.

“Kalau hal demikian terus berlangsung, maka besar kemungkinan anak-anak yang terkena gangguan ginjal tersebut tentu akan menjadi tidak atau kurang produktif,” ungkapnya.

Kembali Pakar Ekonomi Islam ini menegaskan bahwa, masalah kesehatan yang dialami oleh anak-anak akibat masalah kesehatan ginjal akut ini tidak bisa dianggap sebagai masalah yang parsial. Karena selain merugikan anak dan orang tua, juga akan merugikan bangsa dan negara.

“Sehingga hal itu jelas akan sangat mengganggu dan merugikan tidak hanya terhadap diri anak yang bersangkutan tapi juga terhadap kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dan kita tentu saja tidak mau hal demikian terjadi,” kata Anwar. (muhammadiyah)

 

 

Pentingnya Rekonstektualisasi Islam Melalui Wahana Akademis dan Intelektual

MATARAM(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama kembali menggelar Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS). Helat ke-21 ini berlangsung di Mataram, 20–22 Oktober 2022 dan mengangkat tema: “Future Religion in G-20, Digital Transformation, Knowledge Management and Social Resilience”.

AICIS diikuti para akademisi kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan peserta lainnya. Ajang akademis ini melibatkan para narasumber kunci dan pembicara undangan yang berasal dari manca negara, dan dari latar belakang agama yang berbeda pula.

Membuka acara, Menag Yaqut Cholil Qoumas meminta agar AICIS tidak hanya membahas public policy, tapi juga tema-tema yang relevan dengan konteks masa kini, baik nasional maupun global. Karenanya, Menag kembali berpesan tentang pentingnya rekonsteksualisasi Islam melalui wahana-wahana akademis dan intelektual.

Menurut Menag, hingga saat ini, wawasan Islam klasik masih didominasi pandangan yang menempatkan non-muslim sebagai musuh atau sekurang-kurangnya sebagai pihak yang harus dicurigai dan diwaspadai. Dijelaskan, non-muslim dinyatakan tidak memiliki kedudukan dan hak yang setara dengan muslim di berbagai ruang publik. Padahal, ujar Menag, wawasan Islam klasik memiliki otoritas yang sangat kuat di mata umat Islam dan dianggap sebagai standar ortodoksi Islam.

Hal ini, menurut Menag, menjadi tantangan tersendiri bagi akademisi, tidak hanya pada aspek pandangan keagamaan saja, tapi juga otoritas pandangan tersebut yang nyata berpengaruh secara luas dan membentuk cara berpikir dan mentalitas umat Islam seluruh dunia. Proses-proses sosial politik, katanya, sangat menentukan terwujudnya otoritas tersebut, sehingga diperlukan bangunan strategi yang menggabungkan tiga elemen utama.

“Pertama, mendorong berkembangnya wacana rekontekstualisasi Islam melalui wahana-wahana akademis dan intelektual,” terang Gus Men, sapaan akrab Menag, di Mataram, Kamis (20/10/2022) malam.

Elemen kedua, terang Menag, adalah medorong terbentuknya konsensus-konsensus di antara kekuatan-kekuatan politik global untuk mendukung upaya rekontekstualisasi Islam dan melegitimasi pandangan Islam yang sesuai konteks kekinian dan nilai-nilai kemanusiaan. Elemen ketiga, terang Gus Men, mendorong tumbuhnya gerakan sosial di tingkat akar rumput untuk menerima nilai-nilai kemanusiaan sebagai nilai universal yang mempersatukan seluruh umat manusia serta mengoperasionalkannya dalam kehidupan sosial-budaya yang nyata.

“Karena yang dihadapi adalah masalah global, maka strategi yang dibangun untuk mengatasinya pun harus berskala global pula. Kita berharap, AICIS menghasilkan peta jalan yang dapat dieksekusi dengan melibatkan para pemimpin dunia, bukan hanya pemimpin agama dan bukan hanya agama Islam saja, tapi seluruhnya secara inklusif, termasuk para pemimpin politik, pemimpin organisasi-organisasi sosial dan pusat-pusat pendidikan, selebriti, dan sebagainya,” papar Menag Yaqut.

“Kalau perlu, tunjuk duta (emmisarries) untuk penugasan menjalankan strategi ini. Artinya, ikhtiar ini memerlukan effort yang serius,” sambungnya.