Pemerintah Israel Tidak Senang Dengan Pengakuan Mantan Tawanan yang Puji Hamas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Para pejabat Israel dilaporkan tidak senang dengan keterangan hasil wawancara yang diberikan oleh seorang lansia mantan tawanan Hamas di Gaza.

Dalam jumpa pers pada hari Selasa (24/10/2023), Yocheved Lifshitz, 85 tahun, seorang tawanan Israel yang dibebaskan dari Gaza pada Senin malam, mengatakan bahwa dia ditangkap pada tanggal 7 Oktober, hari dimana para pejuang Palestina menyerbu Israel selatan, namun kemudian diperlakukan dengan lemah lembut.

Narasumber mengatakan kepada Kan News media milik Israel bahwa wawancara itu adalah sebuah kesalahan, dan menambahkan bahwa “pertemuan pendahuluan mungkin tidak diadakan dengan Lifshitz sebelum pernyataan persnya dan seandainya diadakan pertemuan terlebih dahulu, maka tidak akan ada semua pertanyaan yang diajukan itu. Lakukan dengan persiapan tentang pertanyaan yang akan diajukan.” ungkap pejabat Israel.

Lifshitz adalah satu dari empat warga Israel yang dibebaskan setelah pejuang Palestina Hamas menyerbu komunitas Israel di dekat Jalur Gaza dalam serangan yang menewaskan sekitar 1.400 warga Israel, dan Israel yakin ada 220 tawanan ditahan di Gaza.

Yocheved Lifshitz merupakan salah satu sandera tertua yang ditahan oleh Hamas di Gaza, dan menghabiskan lebih dari dua pekan di penahanan.

Dia dibebaskan bersama tawanan lainnya, Nurit Yitzhak yang berusia 79 tahun.

Dalam siaran persnya Lifshitz menceritakan kepada wartawan: “Saya telah melalui neraka, saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan mencapai keadaan seperti itu. Mereka (pejuang Palestina) menyerang di kibbutz kami dan menaikkan saya ke dalam sepeda motor.”

Lifshitz menambahkan bahwa, seorang petugas medis dan kemudian seorang dokter mengunjunginya ketika dia ditahan oleh Hamas, untuk memeriksa kondisinya. “Mereka mengurus setiap detailnya,” katanya.

Lifshitz mengatakan para penculiknya memenuhi kebutuhannya. “Mereka memastikan bahwa mereka mengonsumsi makanan yang sama seperti yang kita makan, keju putih dan mentimun,” tambahnya.

Menceritakan kembali kisah ibunya, putri Lifshitz, Sharone, mengatakan: “Ketika dia pertama kali tiba, mereka (Hamas) mengatakan kepada ibunya bahwa mereka adalah Muslim dan mereka tidak akan menyakiti.”

Ketika Lifshitz ditanya mengapa dia berjabat tangan dengan pejuang Hamas sebelum dibebaskan, dia menjawab: “Mereka bersikap lembut terhadap kami, kebutuhan kami dipenuhi.”

Dalam pernyataan persnya, Lifshitz juga mengutuk kurangnya kesiapan tentara Israel menghadapi serangan pada 7 Oktober, dengan mengatakan bahwa “dua miliar shekel telah dihabiskan untuk sistem keamanan yang tidak berguna.”

Dia juga mengkritik pemerintah Israel atas kegagalannya menjelang serangan tersebut. “Kami adalah kambing hitam pemerintah, kami ditinggalkan. Kami mengalami masa-masa sulit,” katanya.

Oded Lifshitz, suami Yocheved Lifshitz, masih hilang dan diduga ditahan oleh kelompok pejuang Palestina di Gaza, meski keberadaan atau kondisinya tidak diketahui.

Israel mengatakan bahwa Hamas menahan 220 warganya sebagai tahanan, beberapa di antaranya memiliki kewarganegaraan dari berbagai negara, namun jumlah tersebut sebenarnya mungkin bisa lebih tinggi, karena puluhan orang masih dinyatakan hilang.

Sementara itu, Hamas mengumumkan 22 tawanan tewas dalam pemboman Israel di Gaza, yang telah membunuh sedikitnya 5.000 warga Palestina, yang sebagian besar adalah warga sipil.

Dalam wawancara dengan Sky News yang disiarkan pada hari Selasa, pemimpin senior Hamas Khaled Meshaal mengatakan kelompoknya akan melepaskan semua sandera sebagai imbalan atas berakhirnya pemboman di Gaza.

Reporter: Bahri

Roket Hamas Hantam Sekitar Kota Tel Aviv, 6 Warga Israel Terluka

YERUSALEM (jurnalislam.com)- Setidaknya enam warga Israel terluka ketika rentetan roket yang ditembakkan dari Gaza menghantam wilayah tengah Israel pada Rabu malam (25/10/2023)

Sebagaimana dilansir oleh situs berita Times of Israel, roket dari Gaza menghantam wilayah Rishon Lezion, Petah Tikva, Bat Yam, dan Rosh Ha’ayin di Israel tengah dekat kota Tel Aviv.

Ia menambahkan bahwa terjadi kerusakan bangunan yang signifikan disebabkan oleh roket tersebut.

Sementara itu, Brigade Al-Qassam sayap Hamas mengatakan pihaknya menyerang daerah sekitar Tel Aviv, Israel tengah, dengan roket “sebagai tanggapan atas kejahatan Israel terhadap warga sipil (Palestina) di Gaza.”

Pesawat-pesawat tempur tentara Israel terus menyerang daerah-daerah di Gaza menyebabkan ribuan warga sipil terbunuh, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada hari Rabu.

Lebih dari 7.900 orang tewas dalam perang tersebut, termasuk sedikitnya 6.546 warga Palestina dan 1.400 lebih warga Israel.

Sebanyak 2,3 juta penduduk Gaza telah kehabisan makanan, air, obat-obatan dan bahan bakar, dan konvoi truk bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza hanya membawa sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan.

Sumber: Anadolu Ajansi

Reporter: Bahri

Erdogan: Hamas adalah Pejuang Melindungi Palestina, Bukan Teroris

TURKI (jurnalislam.com)- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya yang berapi-api pada hari Rabu (25/10/2023), mengecam Israel dan para pendukungnya serta mendesak para pemimpin dunia untuk menghentikan serangan terhadap warga Palestina di Gaza.

Pidato di parlemen, Erdogan mengatakan Turki “tidak berhutang apa pun kepada Israel” dan mengumumkan bahwa ia tidak akan lagi mengunjungi negara itu seperti yang direncanakan sebelumnya.

Dia juga mengatakan Hamas bukanlah kelompok teroris, dan menyebut mereka sebagai gerakan pembebasan yang berjuang untuk “melindungi tanah dan warganya”.

“Sekitar setengah dari mereka yang terbunuh dalam serangan Israel di Gaza adalah anak-anak. Bahkan angka-angka ini menunjukkan bahwa tujuannya adalah sebuah kekejaman untuk melakukan kejahatan terencana terhadap kemanusiaan,” tegas Erdogan.

“Serangan Israel di Gaza adalah sebuah situasi yang membuktikan adanya pembunuhan dan kondisi penyakit mental, baik bagi mereka yang melakukan serangan tersebut maupun bagi mereka yang mendukung serangan tersebut,” pungkasnya.

Tentara Israel terus melancarkan serangan udara dan penembakan artileri skala besar terhadap Jalur Gaza selama 18 hari berturut-turut, mengakibatkan pembantaian terhadap warga sipil di Jalur Gaza, meningkatkan korban jiwa menjadi sekitar 5.800 syuhada dan lebih dari 15 ribu terluka.

Sumber: MEE

Reporter: Bahri

Drone Brigade Al Qassam Serang Pangkalan Militer Israel

PALESTINA (jurnalislam.com)- Kelompok pejuang Palestina Hamas mengatakan pada Senin (23/10/2023) bahwa mereka telah menargetkan dua pangkalan militer Israel dengan pesawat tak berawak.

Brigade Al Qassam, mengatakan dua drone ditembakkan ke pangkalan militer Hatzerim dan Tze’elim di Israel selatan.

Tidak ada informasi yang diberikan mengenai dampak dan korban jiwa dari serangan itu.

Sementara pihak Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah mencegat dua drone yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

“Dua UAV diidentifikasi menyeberang dari Jalur Gaza ke wilayah Israel” di Nir Oz dan Ein HaBesor dekat perbatasan, kata tentara Israel dalam sebuah pernyataan.

“Kedua UAV tersebut digagalkan,” tambahnya, namun Israel tidak menjelaskan apakah drone itu ditembak jatuh.

Sebagaimana video yang beredar, sejak operasi Thaufanul Aqsa (Operasi Badai Al-Aqsa) 7 Oktober, sayap militer Hamas, Brigade Izzudin Al-Qassam merilis 3 video tentang drone yang diberi nama Zouari ini. Yangmana nama Zouari ini diambil dari nama salah satu Insinyur Al Qassam asal Tunisia Muhammad Zhawari yang telah gugur syahid oleh Agen Mossad pada 15 Desember 2016 di depan Rumahnya ketika berada di dalam Mobilnya.

Sumber: Anadolu Ajansi, The Jerusalem Post

Reporter: Bahri

FLP Solo Gelar Pelatihan dan Perekrutan Anggota Baru

SOLO (jurnalislam.com)- Forum Lingkar Pena (FLP) Solo menyelenggarakan acara pelatihan kepenulisan dan perekrutan anggota baru. Kegiatan yang diberi nama Pelatpulpen 15 tersebut diselenggarakan di Hotel Grand Sae, Solo, Minggu (22/10/2023).

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut Afifah Afrah Ketua Umum FLP Periode 2017-2021.

Ranu Muda, Ketua FLP Solo dalam kesempatan tersebut menjelaskan Pelatpulpen merupakan pelatihan kepenulisan dan juga pintu gerbang bagi siapa saja yang ingin bergabung menjadi anggota FLP.

“Pelatpulpen kali ini merupakan yang kali ke 15, sejak FLP Solo berdiri pada tahun 1997. Selain itu kegiatan ini diadakan sebagai syarat bagi masyarakat yang ingin bergabung menjadi anggota FLP,”ujarnya, Minggu (22/10/2023).

Melalui Pelatpulpen ini Ranu berharap akan muncul penulis-penulis baru yang sevisi dengan komunitas Forum Lingkar Pena itu sendiri.

Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari berbagai macam latar belakang, ada yang SMA, mahaiswa, karyawan, Guru hingga pengusaha.

“FLP merupakan komunitas penulis kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin bergabung menjadi anggota tidak melihat usia, gender hingga profesi. Asal dia senang dengan dunia tulis menulis kami senang menerima anggota,”tambahnya.

Melalui gerakan literasi ini Ranu berharap muncul gerakan cinta literasi di masyarakat, dengan semangat membaca dan menulis maka secara tidak langgsung dapat menumbuhkan semangat membangun peradaban bangsa kedepannya.

Selain menerima materi selama 1 hari nantinya anggota baru juga akan digembleng dengan pelatihan-pelatihan lanjut bisa berupa tatap muka atau online.

Dalam pelatihan tersebut anggota akan mendapatkan pencerahan beragam ilmu tentang dunia tulis menulis mulai dari editor, penerbit, tips menembus media atau penerbit dan lain sebagainya.

“Anggota FLP Solo banyak yang mempunyai keahlian di bidang tulis menulis dan ahli dibidangnya seperti dosen sastra, editor, penerbit, jurnalis dan lain sebagainya. Dengan menghadirkan mereka tentunya akan memberikan materi dan motivasi sehingga kedepan anggota baru semakin memiliki tambahan wawasan tentang dunia tulis menulis,”katanya.

Salah satu peserta Pelatpulpen Bagus Sugiarto asal Ungaran menyampaikan rasa senangnya bisa mengikuti kegiatan Pelatpulpen. Menurutnya dengan mengikuti kegiatan ini semakin menambah motivasi untuk menulis dan berkarya.

“Saya apresiasi atas acara ini karena menghadirkan pembicara hebat namun untuk tiketnya sangat murah. Materi yang disampaikan sangat sistematis dan bernas,”ungkapnya.

Selain mengadakan Pelatpulpen dalam kegiatan tersebut FLP Solo juga melaunching Rumah Cahaya yaitu perpustakaan yang kedepannya digunakan untuk mengajak masyarakat agar gemar membaca dan juga menulis. Dalam peluncuran kali ini FLP Solo bekerjasama dengan Rumah Talenta.

Sementara itu Afifah Afra yang diminta menjadi pemateri menyampaikan tentang perbedaan antara jenis tulisan fiksi dan non fiksi.

“Fiksi dan non fiksi itu panjang sekali jika dibahas tapi perbedaan yang dapat atau mudah di fahami adalah, fiksi membutuhkan analitik interpestasi dan non fiksi hanya di daerah akademisi,”ungkap penulis yang sudah menerbitkan 60 judul buku.

Karena fiksi sering berada di ranah-ranah hiburan maka fiksi sering sekali menggunakan kalimat imajinatif. Sedangkan non fiksi membutuhkan analitik dan data-data pembuktian.

Kalau Bukan Jihad Apalagi? Bakti Santri Untuk Negeri

Budi Eko Prasetiya, SS
Manajer Griya Qur’an Al Hafizh Jember

Peringatan hari santri 2023 membawa tema “Jihad Santri untuk kejayaan negeri“. Tema Jihad Santri Jayakan Negeri diusung Kementerian agama untuk mengajak para santri berjuang membangun kejayaan negeri dengan semangat jihad.

Momentum ini perlu disyukuri sebagai bentuk pengakuan dan  apresiasi negara kepada jasa perjuangan dan pengorbanan para ulama dalam memobilisir rakyat Indonesia dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun demikian, ini bukan alasan untuk berpuas diri dengan sekedar membanggakan sejarah lalu berdiam diri tanpa berusaha meneruskan perjuangan para pendahulu kita.

Al-Quran mengingatkan, _”Mereka itu adalah umat yang telah berlalu, bagi mereka pahala perbuatan mereka dan bagi kalian hasil jerih payah kalian. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.”_  QS. Al-Baqarah: 134.

Sebagai generasi pewaris para ulama, kita wajib meneladani spirit jihad dan pengorbanan yang telah dicontohkan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kemuliaan agama. Yang selanjutnya ditransformasikan menjadi kiprah nyata yang bermanfaat luas sesuai potensi kebaikan yang telah Allah berikan.

Santri identik dengan jihad. Kita semua tahu bagaimana dahulu ulama dan santri berjuang melawan penjajah. Penuh dengan pengorbanan, tangisan dan darah. Hidup Mulia atau Mati Syahid !

Resolusi Jihad bukanlah slogan kosong. Ia berhasil menyalakan bara semangat di hati para santri yang khusyu’ dalam khidmat keilmuan di pesantren, lalu bertransformasi menjadi pejuang. Dengan azzam yang kuat, mereka meninggalkan halaman pesantren, menggantikan buku-buku dengan senjata, dan mengubah doa-doa menjadi gemuruh pekik perjuangan.

Semangat jihad santri tetap menjadi obor yang menerangi perjalanan bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, santri tetap berdiri kokoh, menjadikan jihad sebagai landasan untuk mengisi kemerdekaan. Merefleksi tema Hari Santri tahun ini, kita diajak untuk mengambil inspirasi dari kiprah santri. Mereka telah memberikan contoh konkret bagaimana semangat jihad diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan negeri.

Sebagai generasi saat ini dan yang akan datang, kita memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet perjuangan santri. “Kalau Bukan Jihad Apalagi?!”

Kemarau Panjang, Warga Kota Cilegon Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan

CILEGON (jurnalislam.com)- Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia membuat kesulitan dan kekhwatiran warga, termasuk di Kota Cilegon Banten. Di beberapa wilayah di sekitar Kota Cilegon bahkan sangat sulit untuk mendapatkan air bersih.

Atas dasar itulah sejumlah warga di lapangan Arga Baja Pura, Masjid Ar Rohmah, Perumahan Arga Baja Pura, Gerogol, Cilegon, Banten melakukan shalat istisqa berdoa agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan pada Ahad, (22/10/2023).

Ketua DKM Masjid Ar Rohmah Zamhari mengatakan bahwa di wilayahnya saat ini sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan air, terutama kebutuhan air bersih.

“Kegiatan ini sebagai doa dan ikhtiar kita agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan di Kota Cilegon khususnya, Indonesia umumnya. Di beberapa Kota Cilegon bahkan warga sangat kesulitan air bersih untuk kegiatan sehari hari,” katanya.

“Untuk warga yang berada di sekitar area Masjid Ar Rohmah juga stock air semakin menipis, tidak menutup kemungkinan kalau kemarau terus berkepanjangan maka air akan habis. Kami pun menghimbau kepada seluruh warga agar lebih hemat dan bijak lagi dalam penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari,” tambah Zamhari.

Sementara imam dan khatib shalat Istisqa Ustaz Ahmad Slamet Ibnu Syam dalam khutbahnya mengajak masyarakat untuk bertaubat atas dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukan.

”Sebelum melaksanakan Shalat Istisqa ini, marilah kita bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah diperbuat karena satu dari sekian ciri orang beriman Ketika ditimpa kesusahan dia beristighfar, bertobat memohon ampunan kepada-Nya,” ungkapnya.

“Shalat Istisqa adalah merupakan Sunnah Rasulullah dan pada jaman sahabat pun menurut beberapa riwayat Ketika kemarau melanda melakukan shalat istisqa. Kalau bukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa lagi kita meminta? Dan Allah lah sebaik baik tempat meminta,” pungkasnya.

Kegiatan Shalat Istisqa ini diikuti oleh puluhan warga sekitar Komplek Masjid Ar Rohmah dan dari luar komplek Masjid.

“Semoga dengan dilaksanakan shalat Istisqa ini Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan dan membawa keberkahan buat kita semua,” terang salah satu warga Edi Pur.

Shalat Istisqa ini mulai pada jam 07.00 dan selesai jam 08.00 WIB.

Reporter: Jajat Sudrajat

9 Warga Terluka Akibat Serangan Tank Israel yang Menyasar Perbatasan Mesir

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengatakan pada Ahad (22/10/2023) bahwa salah satu tanknya “secara tidak sengaja menembak dan mengenai sebuah pos Mesir” di dekat perbatasan dengan Gaza saat tentara Israel membombardir wilayah perbatasan tersebut.

Dilaporkan Midle East Eye, 9 warga Mesir terluka akibat serangan Israel di wilayah Mesir dekat perbatasan Gaza, yang juga menghancurkan menara pengawas Mesir. Tentara Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka menembak ke udara dan insiden itu adalah sebuah kecelakaan.

“Militer Israel menyatakan kesedihan atas insiden tersebut” di dekat daerah Kerem Shalom, terang Israel dalam sebuah pernyataannya.

“Insiden tersebut sedang diselidiki dan rinciannya sedang ditinjau,” tambah pernyataan itu.

Sementara itu, tentara Mesir membenarkan bahwa Israel “segera menyatakan penyesalannya atas insiden yang tidak disengaja tersebut dan penyelidikan sedang dilakukan”.

Media Mesir menegaskan serangan Israel tidak akan mengganggu aliran bantuan ke Gaza, terang para saksi.

Sejak Sabtu, 37 truk yang membawa pasokan penting telah menyeberang ke Gaza melalui pos perbatasan Rafah dengan Mesir.

PBB memperkirakan sekitar 100 truk per hari dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Gaza.

Sumber: ndtv, MEE

Reporter: Bahri

Air Mata Palestina, Air Mata Kita

Serangan Israel terakhir ini terhadap rumah sakit Baptis di kota Gaza, seketika menewaskan sekitar 500 orang lebih dan menghampiri 1000 orang yang terluka. Bahkan data dari kementerian kesehatan Palestina hingga hari ini korban yang berada di Jalur Gaza sekitar 3.785 orang dan korban luka 12.500 orang.

Menjadi sebuah peristiwa yang mengenaskan, merengguk nyawa anak-anak yang tak bersalah, meruntuhkan gedung-gedung yang kokoh, mensirnakan tawa dan riang gembira anak-anak gaza dengan kesedihan, tangisan, ketakutan dan kepedihan.

Tangisan keras yang merengguk nyawa orang tua dan keluarganya, simpah darah yang tak ada langkah kaki lepas darinya, bahkan tubuh manusia menjadi hancur berkeping akibat bom dahsyat dari zionis laknatullah.

Dalam sebuah peristiwa, terlihat seorang gadis kecil berdiri tegap di depan ribuan warga Palestina dengan mendendangkan syair Abdullah al-Tamimi. Suara gadis mungil itu tegas dan lantang, tapi tidak berteriak. Dia seperti merintih tapi tidak menangis. Suaranya keras tapi tidak marah. Dia bertanya tapi tak perlu jawaban. Tampaknya misi syair itu disampaikan untuk seluruh umat Islam. Inilah penggalan syairnya.

“Pinjamkan kepada kami…pinjamkan kepada kami senjata untuk kekebasan al-Aqsa. Wahai pemuda Islam…Bukankah kita saudara seagama? Apakah menyakitkanmu ketika kami di embargo? Apakah menggembirakanmu jika kami binasa? Apakah menggembirakanmu jika kami lapar? Apakah kalian harus menunggu sampai keberadaan masjid al-Aqsa dihilangkan, dan kita semua hilang?

Wahai saudaraku seagama, beritahu kami kapan kalian marah? Apakah ketika kehormatan kita dirobek-robek? Apakah ketika masjid kita dihancurkan? Apakah ketika harga diri kita dibunuh? Apakah ketika kehormatan kita direndahkan?

Di saat al-Quds marah, kamu juga belum marah. Kapan kamu marah? Jika karena Allah, harga diri, karena Islam kamu tidak marah. Maka beritahu kami kapan kamu marah?”

Ketika menyimak dan menelah syair itu, dengan penuh kesadaran mestinya kita terhentak. Mengapa orang Palestina minta dipinjamkan senjata. Tidakkah kita mengetahui bahwa mereka memiliki rudal-rudal canggih yang dikebambangkan oleh ilmuwan-ilmuwan mereka sendiri? Nampaknya bukan demikian maksudnya. Mereka merasa sendiri dan tidak banyak manusia yang membela mereka.

Namun kini suasana itu berbeda, banyak Negara yang telah mengecam israel. Kaum terpelajar, non muslim dan para pemimpin negara, hati nurani kemanusiaan mereka mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk keras kekejaman israel kepada rakyat Palestina. Nampaknya, jika rasa kemanusiaan itulah motif utamanya untuk mendukung Palestina, maka rasa iman dalam diri seorang muslim harus lebih membara untuk mendukung Palestina.

Nampaknya, permintaan syair itu untuk meminjam senjata bukanlah rudal dan tank untuk mempertahankan Al-Aqsa, tapi pembelaan mereka secara diplomasi dan negosiator internasional. Bahkan perkembangan dunia digital hari ini memungkinkan kita untuk bersuara lebih lantang lagi dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ketika syair itu memilih diksi ‘saudara seagama’ untuk menuangkan rasa kebersamaan, kita menjadi seperti bersalah. Sebab ciri seorang mukmin menurut syariah adalah berukhuwwah dan saling marasakan, menguatkan, mendukung bagaikan satu anggota tubuh.

Tapi mengapa, ketika saudara kita di Palestina diembargo, sehingga kelaparan dan dibunuh dengan senjata semena-mena, bahkan satu ledakan bom menewaskan 500 orang, dan kita tidak ikut merasakan? Penyair itu menuduh kita ‘persaudaraan seagama macam apa yang kalian miliki ini?’ Jangan-jangan kita baru sekadar berislam dan hati kita belum beriman.

Kata-kata “…beritahu kami kapan kalian marah? sungguh merupakan kata-kata yang tajam menusuk lubuk hati kita. Seakan penyair ini berkata ‘kami sudah alami seperti ini kalian belum juga marah? Kapan? Mungkin jika dilanjutkan akan berbunyi seperti ini: ‘jika selama ini kalian merasa telah berjuang lillah, lil Islam, telah menjaga Islam dan memperjuangkan agama, tapi tidak marah melihat saudaramu ini ditindas dan dihabisi seperti ini, berarti kalian tidak benar-benar lillah dan tidak sungguh-sungguh lil Islam. Syair ini begitu indah namun menyakitkan hati kita, karena penderitaan mereka lebih sakit dan pedih dari sekedar ungkapan dalam bait-bait syair.

Jika kita masih belum tersentuh, mari kita bayangkan. Seakan telunjuk sang penyair atau gadis cilik yang melantunkan syair itu mengarah ke muka kita dan suaranya memekik di telinga kita. Kata-katanya sekan menjadi seperti ini, ‘Wahai saudaraku seagama, apakah anda baru akan marah ketika kehormatan anda atau keluarga anda dilecehkan? Setelah masjid anda dirobohkan? Setelah kemanusiaan anda diinjak-injak?’ Mari kita bayangkan, sadari, rasakan dan hayatai dalam hati sanubari kita.

Jika bayangan di atas masih belum menyentuh hati dan menggetarkan jiwa kita dan kita juga belum marah, maka kita penting merenungi sabda Nabi, “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan umat Islam, maka ida bukan golongan Islam,” (al-Hadits). Atau sindiran Buya Hamka, “Jika agamamu dihina dan kamu tidak marah, maka ganti bajumu dengan kain kafan,”. Artinya, jika anda Muslim dan Mukmin tapi tidak mempunyai ghirah diniyyah, maka kematian adalah lebih baik bagi anda.

Sejarah telah mencatat, bahwa Bumi Syam selalu menjadi penerang antara haq dan kebatilan, setiap zaman para pengusung kebatilan senantisa melakukan berbagai bentuk kedzalimannya, baik dengan penjajahan, pembunuhan dan penindasan. Setiap zaman itu pula, tetap Allah pilih golongan orang-orang yang tampil dengan penuh keberanian melawan setiap kebatilan dan kedzaliman bagi bangsa Palestina.

Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan, “Serangan-serangan pasukan Salib semakin agresif sehingga berhasil menguasai wilayah yang sangat luas. Pada tahun 491 H/1097 M, mereka menguasai Anthakiyah dan terus melakukan serbuan sehingga berhasil merebut Baitul Maqdis (Palestina) pada tahun 492 H/1098 M. Di setiap kota dan desa yang dilalui, pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap penduduk dengan cara sangat keji. Kaki kuda-kuda mereka berlumuran darah korban-korban pembantaian yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Semua peristiwa ini terjadi di saat mayoritas masyarakat Muslim terlena dengan pertikaian dan perselisihan antara mereka sendiri. Para sultan dan penguasa tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan invasi pasukan Salib yang terus meluas,” (al-Bidayah wa an-Nihayah, vol.12, hlm, 157).

Beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat Muslim yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa dicatat oleh Ibnu al-Jauzi dalam buku sejarahnya, al-Muntazham, juga oleh Ibnu al-Atsir dan sejarawan lainnya, yaitu ketika pasukan Salib menguasai Ramallah, Quds, dan ‘Asqalan. Mereka membunuh penduduk kota-kota tersebut dan membantai sekitar 70.000 (tujuh puluh ribu) kaum Muslimin di kawasan al-Aqsha yang meliputi masyarakat biasa, ulama, pelajar, ahli ibadah, dan ahli zuhud.” (Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada ‘wa al-Khabar, vol. 5, hlm. 2).

Kenyataan pahit ini mendorong Abu al-Muzhaffar al-Abiwardi untuk melantungkan syair, sebagaimana gadis mungil di atas mendendamkan syair atas kondisi tragis yang dialaminya, syair itu berbunyi:
“Darah kami bercampur air mata yang tercucur Tidak ada lagi bagian tubuh yang tak berbalut luka. Senjata yang paling rapuh adalah air mata yang berderai Ketika perang semakin memanas dengan pedang yang saling beradu.

Alangkah malangnya putra-putra Islam.. Di saat sekian bahaya besar mengancam anak keturunanmu.. Bagaimana mungkin mata ini bisa tidur lelap Ketika didera berbagai penderitaan yang membangunkan setiap orang yang tidur.

Saudara-saudaramu di Syam. Tidur di atas bantalan pembantaian atau di dalam perut binatang-binatang buas. Tentara Eropa telah membuat mereka terhina, sementara engkau terus bergelimang nikmat dan hanya bisa bersikap pasrah.

Jika ada orang yang menghindari perang-perang itu, justru akan menggigit jari di kemudian hari. Jasad suci yang terkubur di Thaibah Nyaris memanggil dengan suara lantang, “Wahai keluarga Hasyim!” Aku melihat umatku enggan menyerbu musuh, sedangkan sendi-sendi agama begitu rapuh.

Mereka menghindari api karena takut mati, tanpa menganggap kehinaan sebagai akibat yang pasti. Apakah pembesar-pembesar Arab rela dengan kehinaan, sehingga membuat seluruh masyarakat menjadi terhina pula.

Jika memang mereka enggan bangkit atas dasar menolong agama. Tidakkah mereka bangkit karena kecemburuan terhadap istri dan keluarga!. Jika memang mereka tidak peduli dengan pahala, ketika terjun di medan laga. Tidakkah mereka mau peduli karena harta rampasan di depan mata.

****

Sebagai bangsa yang telah merdeka selama 78 tahun dan dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim, bangsa Indonesia memiliki catatan history yang erat dan kuat dengan Palestina, utamanya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Syaikh Muhammad Amin Husaini, Mufti Besar Palestina, bersama KH Agus Salim. Setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944, Syekh Amin memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia di radio. Bukan sekedar itu, Palestina juga dilaporkan ikut melobi sejumlah negara-negara di Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Yang mana pada 22 Maret 1946 Mesir menyusul memberikan pengakuan kemerdekaan Indonesia, sebagaimana dikutip dari buku Indonesia, Islam, and Democracy yang ditulis oleh Azyumardi Azra.

Dukungan yang diberikan oleh Palestina tidak hanya bersifat diplomatis, tetapi juga materi. Hal ini dilakukan oleh seorang pengusaha Palestina yang kaya raya dan sangat simpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Dengan tulus, ia menyerahkan seluruh uangnya yang berada di Bank Arabia kepada Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan. Ia berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!” Dukungan tersebut disampaikan tanpa mengharapkan imbalan atau tanda bukti penerimaan.

Sehingga tak heran, dalam UUD 1945 ditegaskan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Begitulah pembukaan UUD 45, pernyataan awal cita-cita luhur Republik Indonesia, yang paham betul. Maka siapapun yang mendukung penjajah, dia tak layak menjadi Indonesia, bahkan bertentangan dengan fitrah manusia dan martabatnya sebagai seorang muslim.

Faktanya, Israel itu penjajah, pendatang haram yang mengambil paksa tanah Palestina, membunuhi penduduk aslinya sejak Inggris memberinya ruang di tahun 1920. Entah sudah berapa ribu nyawa merenggang dibantai dengan sadis, baik dipertunjukkan terbuka, juga tertutup media dan berita hingga saat ini.

Maka, air mata palestina adalah air mata kita. Hanya binatang dan manusia dengan level terendah yang diam dengan semua penjajahan, pembantaian dan kebiadaban Israel pada rakyat Palestina dan dunia, tapi menggonggong dan menyalak nyaring seolah Israel yang menjadi korban ketika rakyat Palestina melawan penjajahan dan pendudukan tanah dan hidup mereka.

Maka perlawanan Hamas dan rakyat Palestina pada saat ini adalah sebuah keberanian dan kebenaran, didasarkan cita-cita luhur ingin merdeka, mempertahankan tanah, harga diri dan agamanya. Sebagaimana Indonesia dulu, dengan penuh upaya, kerja keras dan pertolongan Allah kita dapat meraih kemerdekaan bagi bangsa kita.

Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita, bahwa peperangan yang terjadi di Palestina adalah penegasan bagi dua golongan, antara haq dan batil. Maka sepatutnya kita memasukkan diri kita dalam golongan yang memperjuangkan kebenaran, sebab kita memiliki banyak dimensi yang menghubungkan diri kita dengan Palestina, kita bersaudara secara agama, amanat bangsa kita, dan rasa kemanusiaan atar sesama manusia.

Semoga Allah kuatkan saudara-saudara kita di Palestina, dan bagi kita, semampu mungkin membantu saudara-saudara kita di sana, meski lewat doa semata dan berbagai upaya yang lainnya. Mohon bacakan doa ini bagi para pejuang Palestina. اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd., C.ET
(Aktivis Media Islam, Peneliti Madani Institute dan Kandidat Doktor UIN Alauddin Makassar)

Puluhan Truk Bantuan Kemanusiaan Mulai Masuk ke Gaza

PALESTINA (jurnalislam.com)- Konvoi 20 truk membawa pasokan medis, makanan, dan air melewati Penyeberangan Rafah menuju Gaza pada hari Sabtu (21/0/2023), dan bertambah 14 truk lagi menyusul masuk pada hari Ahad (22/10/2023).

Menurut David Satterfield, Utusan Khusus untuk Masalah Kemanusiaan Timur Tengah, bantuan tersebut akan terus mengalir setiap hari.

Tujuannya adalah agar “aliran bantuan terus mengalir” ke Gaza, kata Satterfield di acara “Inside with Jen Psaki” di MSNBC.

“Potensi invasi darat Israel ke Gaza dikhawatirkan juga dapat mempersulit pengiriman bantuan,” sambungnya.

Ada juga kekhawatiran mengenai akses warga Palestina terhadap air bersih, dan Satterfield mengatakan salah satu dari dua jalur pipa utama telah dipulihkan dan mereka sedang mengerjakan jalur lainnya.

Selain pengiriman bantuan, Satterfield juga berupaya mencari cara agar warga Amerika dan warga asing di Gaza dapat keluar meninggalkan Gaza.

Sumber: CNBC

Reporter: Bahri