Nasdem Dukung Anies di Pilpres 2024

JAKARTA(Jurnalislam.com) —  Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan untuk makan siang bersama.

Dalam pertemuan tersebut Surya menyampaikan hubungan ia dengan Anies layaknya kakak beradik.

“Ketika kita sudah bertugas cukup lama barang kali karena waktu yang memungkinkan, hari ini kita dipertemukan, kunjungan adik ke kakak,” ujar Paloh di Kantor DPP Nasdem, Rabu (24/7).

Saat disinggung terkait dukungan Nasdem terhadap pemerintahan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta, Surya menegaskan sudah pasti mendukung.

Surya juga berseloroh ketika ditanya soal dukungan secara politik ke Anies pada pilpres 2024.

Lahiriyah batiniyah-lah dukungan,” ujar Paloh sambil melepas tawa.

Menurut Paloh, untuk 2024 semua tergantung Anies. Meski ia yakin niat Anies untuk maju sudah ada. Niat tersebut, kata Paloh, harus tetap dipelihara.

Surya Paloh menambahkan, Anies menjadi salah seorang kandidat yang memiliki potensi untuk Pemilu 2024. Namun, proses itu masih panjang dan harus dapat dilewati dengan baik.

Menurut Paloh, bila semua berjalan sesuai dengan harapan, Nasdem membuka peluang untuk mendukung Anies.

Namun, dia menegaskan, untuk mengusung calon presiden tak cukup dari satu partai saja. “Kita mengharapkan para pihak untuk anak-anak bangsa ini memenuhi kapasitas dan kapabilitas pemimpin negeri ini,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Kajian Madani Islamic Forum Makassar Ungkap Hubungan Filsafat dengan Islam

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Direktur Eksekutif Madani, Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I menjadi pembicara di Madani Islamic Forum (MIF) yang di adakan oleh Madani Institute (Center For Islamic Studies) dengan pembahasan Posisi Filsafat dalam Islam, bertempat di Aula Lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang Pettarani Makassar, Sabtu (21/7/19).

Syamsuar Hamka merupakan alumni Pascasarjana Universitas Ibnu Kaldum (UIKA) Bogor. Di awal materinya menyampaikan tentang definisi filsafat.

“Istilah ’filsafat’ atau ’falsafah’ dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab: فلسفة . Ia merupakan peng-arab-an dari kata majemuk (philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan sophia (kearifan),” unkapnya

Lebih lanjut, definisi filsafat disampaikan oleh ilmuwan Islam Al-Farabi dan cendekiawan Muslim Dr. Syamsuddin Arif.

“Al-Farabi mengutarakan defenisi filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Singkatnya, menurut Syamsuddin Arif, “filsafat” adalah ilmu pengetahuan yang dicapai manusia dengan akal pikirannya,” ujarnya

Dari berbagai defenisi yang ada, kita bisa memilih apa yang dikemukakan oleh bapak Filsafat Islam, al-Kindi (800-870). Ia menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang hal-hal di dalam kemungkinan manusia,.

“Karena para filsuf yang berakhir pada pengetahuan teoretis adalah untuk mendapatkan kebenaran dan berperilaku sesuai dengan kebenaran,” imbuhnya.

Secara historisitas, di zaman Yunani kuno, dimana filsafat dianggap berkembang pertama kali.

Para filsuf mempelajari aneka persoalan alam semesta, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya sebagai objek pengetahuan.

Di zaman itu, mereka adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita memanggilnya sebagai saintis (ilmuwan).

Sebab dulu belum dikenal diferensiasi atau pengerucutan dan pembagian antara filsafat dan sains.

 

Visi Indonesia di Bawah Bayang-bayang Ekonomi Asing

Oleh: Novita Fauziyah*

(Jurnalislam.com)–Visi Indonesia ke depan makin jelas arahnya. Lewat pidato yang disampaikan oleh Presiden terpilih dalam acara bertajuk “Visi Indonesia” pekan lalu dirinya menyampaikan tentang investasi asing di Indonesia.

Dikutip dari bisnis.tempo.co (14/7) dirinya menyampaikan “Kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, karena itu jangan alergi terhadap investasi asing”.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa investasi asing ke depan akan semakin diteguhkan. Sebelumnya memang sudah berjalan dan persentasenya makin naik. Catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dikutip dari bisnis.tempo.co.id (14/7) menunjukkan realisasi Triwulan 1 2019 total mencapai Rp 195,1 triliun.

Nilai ini naik 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 yaitu sebesar Rp 185,3 triliun. Adapun perinciannya, nilai investasi dalam negeri sebesar Rp 87,2 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 107,9 triliun.

Dari angkat tersebut sangat terlihat jelas bahwa nilai dari investasi asing lebih besar ketimbang investasi dalam negeri. Investasi tersebut bergerak di sektor publik dan menjadi hajat hidup orang banyak.

Dilansir dari suara.com (30/4), terdapat lima besar sektor usaha yaitu transportasi, gudang dan telekomunikasi (19,1 %), listrik, gas dan air (17 %), konstruksi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran (9,7 %), serta pertambangan (7,7 %).

Proyek-proyek yang tersebar dalam berbagai sektor usaha tersebut adalah bentuk dari liberalisasi atas nama investasi. Segala hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru dikuasai oleh swasta bahkan asing. Rakyat tidak bisa lagi menikmati haknya secara gratis dan mudah karena adanya liberalisasi. Siapa yang memiliki modal besar dialah yang akan menguasai.

Alasan lapangan pekerjaan yang dilontarkan seiring dengan bebasnya investasi asing bukanlah dampak yang menguntungkan bagi Indonesia. Faktanya pos-pos lapangan pekerjaan pun makin dimudahkan untuk orang asing, apalagi pasca keluarnya Pepres tentang Tenaga Kerja Asing beberapa waktu lalu.

Sementara rakyat Indonesia hanya menikmati remah-remah lapangan pekerjaan yang tak seberapa dibanding para pemilik modal yang meraup untung yang besar.

Sebagai pemilik modal tentu berhak atas segala sesuatu dari negara yang dituju. Asing bisa mendikte negara tujuan dalam hal kebijakan yang arahnya menguntungkan bagi pemilik modal.

Konsekuensi pahit harus siap diterima oleh sebuah negara jika tidak mematuhi mereka. Negara di sini hanya berperan sebagai pengatur saja agar mekanisme pasar berjalan dengan lancar.

Inilah konsekuensi jika negara menerapkan sistem kapitalistik sekuler, lemah tak berdaya di hadapan asing dan rakyat menjadi korbannya. Sementara imperialisme asing makin menguat.

Sesungguhnya untuk menjadi negara yang kuat dan bervisi ideologis ia tidak boleh memiliki ketergantungan kepada pihak asing. Negara yang kuat akan memiliki kemandirian dari sisi pangan, ekonomi, pemerintahan, militer dan sebagainya. Tidak akan mengandalkan investasi asing apalagi untuk memenuhi hajat hidup orang banyak.

Segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak haram jika pengelolaanya diserahkan kepada pihak swasta atau asing. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Untuk menjadi negara yang bervisi kuat maka sudah semestinya mencampakkan sistem kapitalisme dan menerapkan sistem yang ditentukan Sang Pencipta yang menciptakan manusia yaitu Islam.

Islam memiliki seperangkat aturan yang komprehensif untuk mewujudkan kehidupan yang mulia, menciptakan kesejahteraan yang hakiki.

Allah berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (TQS. Al A’raf: 96).

 

*Penulis adalah pendidik generasi

 

BSMI Tembus Wilayah Terdampak Paling Parah Gempa Halmahera

LABUHA (Jurnalislam.com)– Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Halmahera Selatan (Halsel) mengirim bantuan ke wilayah terdampak gempa di wilayah Gane Barat, Halmahera Selatan.

Wilayah ini merupakan wilayah yang terdampak paling parah saat gempa 7.2 SR mengguncang Halmahera beberapa waktu lalu.

Ketua BSMI Halsel Ady Saputra mengatakan timnya memberangkatkan empat relawan dengan membawa bantuan medis untuk para pengungsi. Perjalanan ke Gane, ujar Ady, harus ditempuh lewat jalur laut dari Labuha.

“Relawan BSMI berangkat bersama kapal dari Pemda Halsel dengan membawa bantuan obat-obatan setelah dibelanjakan di Labuha,” papar dia, Senin (22/7).

Ady menyebut, relawan BSMI membawa tenaga kesehatan dari Puskesmas Bajo guna melakukan pelayanan kesehatan pengungsi usai diguncang gempa 7,2 SR.

Selain tindakan pengobatan, relawan BSMI juga akan melakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak yang masih ada di pengungsian.

“Selain bawa obat-obatan juga beberapa bahan makanan, makanan ringan untuk anak-anak,terpal dan dua dus pakaian pantas pakai,” papar dia.

Ady menambahkan, tim BSMI mengirimkan bantuan ke Desa Kurunga, Yomen di Gane Barat dan Sekeli di Kecamatan Gane Barat Selatan. Ady menerangkan, di desa Sekeli masyarakat masih tinggal di tenda pengungsian karena rumah-rumah yang hancur. Tetapi, pengungsi mendirikan tenda dari bahan seadanya dari papan atau terpal pribadi.

“Bantuan untuk terpal belum semuanya masuk, ada satu posko yang sudah dapat tetapi dikarenakan posko lain belum dapat akhirnya tetap pakai terpal seadanya karena khawatir kecemburuan sosial,” ungkap dia.

Ady mengungkapkan salah satu kendala mengirimkan bantuan adalah transportasi lewat laut. Tingginya ombak dan cuaca di perairan Halmahera Selatan kadang menjadi hambatan dalam penyaluran bantuan ke korban gempa yang masih memerlukan bantuan.

Sinergi Foundation Gelar Green Fun Walk Kampanyekan Kurban Ramah Lingkungan

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Sinergi Foundation menggelar Green Fun Walk, Ahad (21/7/2019) di Car Free Day Dago. Sebanyak 200 peserta antusias mengikuti kegiatan bertajuk “Berkurban untuk Hijaukan untuk Lingkungan” ini.

Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud keseriusan Sinergi Foundation dalam melestarikan alam. Sebab itu, dalam Fun Walk, peserta diajak untuk berjalan sepanjang Car Free Day seraya menyuarakan sejumlah poster yang berbunyi “Give Me a Tree” atau “Make Everyday Earth Day”.

“Dengan begitu, tak hanya peserta saja yang diajak untuk concern terhadap penghijauan. Tapi juga orang-orang yang berada di Car Free Day,” katanya.

“Isu lingkungan memang bukan sesuatu yang baru. Ramai mencuat kembali sekitar satu-dua dekade ini. Kami tengah membangun kesadaran dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa amanah menjaga lingkungan adalah sesuatu yang kelak dipertanggungjawabkan,” Asep melanjutkan.

Sebab itu, kegiatan ini pun menjadi wadah sosialisasi tentang program Green Kurban. Asep menjelaskan, Green Kurban sendiri adalah inovasi Program Kurban Plus penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi.

“Saya mengajak para pekurban semua untuk berkurban di Green Kurban. Semoga ikhtiar melestarikan bumi ini jadi nilai tambah dan nilai positif dalam ibadah kurban kita,” pungkasnya.

Selain Fun Walk, Green Kurban pun membagikan aneka door prize, dengan hadiah utama 1 hewan kambing kurban. Kurban ini akan disembelih dan didistribusikan di wilayah kekeringan, miskin, dan terpencil di Garut. []

Setop Kriminalisasi Bendera Tauhid!

Oleh: Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)–Pada Sabtu malam, 20 Juli 2019, viral sebuah berita di media sosial atas beredarnya sebuah foto yang diduga adalah siswa – siswi Madrasah Aliyah Negeri 1 Sukabumi, Jawa Barat.

Di dalam foto tersebut terlihat para siswa membentangkan Bendera Tauhid hitam dan putih, yang dikenal dengan Liwa dan Rayah. Di samping itu, para siswa juga ada yang membentangkan bendera Merah Putih di sisi Bendera Tauhid (www.nasional.tempo.co, 21 Juli 2019).

Oleh sebuah akun @Karolina_ bee11, foto yang dimaksud diunggah hingga menjadi pembicaraan hangat. Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzili menyayangkan kejadian di dalam foto tersebut.

Menurut Ace, seharusnya sekolah yang masih bernaung di bawah Kemenag itu mengedepankan semangat NKRI, bukan justru mengibarkan bendera yang identik dengan sebuah organisasi terlarang.

Sontak Ace menautkan cuitannya tersebut kepada Menag, Lukman Syaifuddin. Sementara dari pihak Menag menegaskan akan melakukan investigasi segera (detiknews.com, Ahad/21 Juli 2019).

Terlihat sekali tanggapan dari Ace berisi upaya melakukan framing jahat terhadap Bendera Tauhid. Mengkaitkan pengibaran bendera Tauhid dengan sebuah organisasi terlarang, artinya secara langsung atau tidak langsung sama dengan menyatakan bahwa Bendera Tauhid itu terlarang.

Bahkan akun @Karolina_bee11 dalam postingannya memberikan caption yang berisi harus waspada akan adanya afiliasi terhadap Khilafah. Jadi yang dimaksud sebagai organisasi terlarang dalam hal ini adalah organisasi yang agendanya adalah menegakkan Khilafah.

Mereka seolah lupa pada peristiwa pengibaran Bendera Bintang Kejora. Waktu itu Direktur ICJR, Erasmus Napitupulu mengatakan “Soal isu mengenai Papua Merdeka, mereka tidak boleh dipidana lantaran punya bendera sendiri. Sebab bendera itu tidak boleh dimaknai sebagai persiapan makar. Jadi itu satu poin pentingnya. Dalam putusannya MK bilang, makar itu harus dibuktikan permulaan atas perbuatannya dan permulaan persiapannya. Jadi itu yang harus diperhatikan oleh para penegak hukum” (www.kbr.id, Rabu 31 Januari 2018).

Yang tidak habis pikir, terhadap pengibaran Bendera Papua Merdeka saja bisa – bisanya tetap berprasangka baik. Padahal mereka sudah memiliki milisi bersenjata dan sudah melakukan aksi berdarah, seperti contohnya penembakan yang dilakukan OPM terhadap 31 para pekerja proyek jalan tol Trans Papua (https://m.detik.com, 4 Desember 2018). Sedangkan terhadap Bendera Tauhid begitu teganya melakukan framing sedemikian rupa bahkan mengarah kepada kriminalisasi.

Sementara itu terkait langkah yang ditempuh oleh Menag, Lukman yang akan segera melakukan investigasi di MAN 1 Sukabumi, Jawa Barat, dipertanyakan motif dan tujuannya oleh KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia). Justru langkah Menag semakin mengukuhkan label atas rejim saat ini sebagai Rejim Anti Islam. Ketua Eksekutif KSHUMI, Chandra Purna Irawan meyatakan bahwa pengibaran Bendera Tauhid itu bukanlah perbuatan melanggar hukum (www.m.jpnn.com, 22 Juli 2019).

Menurutnya, bahwa bagi setiap orang yang berusaha melakukan tindakan perampasan dan penyitaan terhadap Bendera Tauhid milik orang lain tanpa hak, bisa terancam pidana 9 tahun penjara dan termasuk tindakan persekusi sebagaimana dalam pasal 368 KUHP.

Sejarah Indonesia Erat dengan Bendera Tauhid

Bendera Tauhid telah lama digunakan sebagai lambang Kesultanan – Kesultanan Islam di Nusantara (www. Republika.co.id, Rabu 24 Oktober 2018). Pada tahun 1890, bendera Kesultanan Tidore berwarna kuning dengan tulisan kalimat Tauhid berwarna merah di atasnya. Begitu pula bendera Macan Ali dari Kesultanan Cirebon yang di dalamnya terdapat Kalimat Tauhid. Jadi kalimat Tauhid itu adalah urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Dengan kalimat Tauhid ini, berkobarlah semangat jihad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Bahkan Laskar Hizbullah yang menjadi cikal bakal TNI, juga menggunakan bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid di dalamnya. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Memang dalam penggunaan kalimat Tauhid pada sebuah bendera dimungkinkan terjadinya variasi mengikuti local wisdom masing – masing daerah. Walaupun begitu, tetaplah bangsa ini dalam sejarahnya menjunjung tinggi bendera yang di dalamnya tercantum kalimat Tauhid. Tidak ada upaya persekusi, kriminalisasi dan framing jahat terhadap bendera Tauhid yang dimilikinya. Bagaimana mungkin seorang muslim akan mengkriminalkan kalimat Tauhid? Jangankan mengkriminalkan, berpikir curiga terhadap bendera Tauhid tidak akan pernah terbersit dalam benak seorang muslim yang baik.

Terhadap bendera Tauhid yang di dalamnya terdapat sentuhan local wisdom saja, bangsa Indonesia memuliakannya, apatah lagi terhadap bendera Liwa dan Rayah. Liwa dan Royah yang dikenal dengan sebutan al-Uqob merupakan bendera dan panji Rasulullah SAW.

Dalam riwayat yang shohih dari Abdulloh bin Abbas ra disebutkan bahwa panji Rasul SAW itu berwarna hitam, sedangkan bendera beliau berwarna putih. Tertulis padanya kalimat Tauhid. Tidakkah kita selama Bulan Romadhon sehabis Sholat Tarowih selalu berdoa agar  dikumpulkan di bawah panji Rasul SAW, pada hari Kiamat?!  Panji Rasul SAW pada hari Kiamat diberi nama Liwaul Hamdi.

Tinggal satu persoalan lagi yaitu mengenai track record Khilafah. Pertanyaan kritis yang bisa diajukan adalah apakah ada data yang menjelaskan bahwa Khilafah itu yang menyebabkan krisis yang terjadi menimpa negeri ini?? Apakah Khilafah yang menyebabkan disintegrasi bangsa?? Apakah Khilafah yang menjual kekayaan negeri ini kepada asing dan aseng?? Apakah Khilafah yang menyebabkan Indonesia masuk dalam jebakan utang luar negeri yang menumpuk??

Bukankah penerapan sistem Demokrasi yang menyebabkan krisis bagi negeri ini? Empat kebebasan yang diagung – agungkan yakni kebebasan berkepemilikan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkeyakinan telah menjadi  racun – racun yang mematikan dalam sistem Demokrasi. Lahirlah politik opportunis dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Tantangan terbesar negeri ini adalah mewujudkan kemandirian dalam segala bidang. Lantas bagaimana akan terwujud kemandirian ketika penerapan Demokrasi ternyata justru merupakan alat untuk mengeruk kekayaan alam dan menjadi alat penjajahan dari negara – negara besar?

Jika memang sistem Demokrasi tidak bisa lagi diharapkan menjadi kendaraan kemandirian dan kemajuan negeri ini, maka tentunya menjadi wajar jika Khilafah yang lahir dari aqidah mayoritas rakyat Indonesia menjadi alternatif. Logikanya negara besar seperti Amerika Serikat dan China hanya akan bisa dilawan dengan negara besar milik kaum Muslimin yakni al – Khilafah. Di sinilah kalimat tauhid yang terwujud dalam bendera Tauhid menjadi sumber energi yang terbesar bagi bangsa Indonesia agar bisa lepas dari penjajahan dalam segala bentuknya demi terwujudnya kemandirian yang nyata.

*penulis adalah guru, tinggal di Malang

 

 

 

 

Kapolres: Tidak Ada Unsur Pidana dalam Pengibaran Bendera Tauhid di MAN 1 Sukabumi

SUKABUMI (Jurnalislam.com) – Kapolres Sukabumi, AKBP Nasriadi mengatakan tak ada niat macam-macam dalam pengibaran bendera tauhid di MAN 1 Sukabumi. Pernyataan itu disampaikan saat ia mengunjungi sekolah tersebut pada Senin (22/7/2019).

Ia pun memastikan tidak ada unsur pidana dalam kejadian pengibaran bendera tauhid di MAN 1 Kabupaten Sukabumi.

“Pengibaran bendera yang identik dengan salah satu ormas benar terjadi di sini,” ujar AKBP Nasriadi.

Dari hasil pemeriksaan di sekolah, siswa yang mengibarkan bendera ini bukan bagian dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Nasriadi menambahkan para siswa tidak ada berniat macam-macam dalam pengibaran bendera tersebut.

Pengibaran bendera bertujuan membuat simpati dalam perekrutan peserta organisasi remaja masjid sekolah. Selanjutnya, ia mengatakan, kepolisian menyerahkan masalah ini ke sekolah dan Kementerian Agama.

“Kami datang ke sini memberikan masukan dan diskusi agar lebih memahai aturan dan organisasi yang tidak boleh diikuti,” kata Nasriadi.

Menurut dia, pelajar merasa senang dan cinta tanah air sebagai generasi penerus bangsa.

Kepala Sekolah MAN 1 Kabupaten Sukabumi Fahirudin mengatakan bendera tauhid tersebut dikibarkan atas inisiatif siswa dan bukan guru untuk menarik pelajar bergabung dalam kegiatan remaja Islam di sekolah.

“Pengibaran bendera bukan inisiatif dari guru dan inisiatif siswa,” kata dia selepas upacara bendera yang dihadiri Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi.

Fahirudin mengatakan, tujuan siswa untuk menarik yang lain bergabung dalam kegiatan remaja Islam.

Mereka tidak ada niatan apapun di luar itu dan menilai lambang bendera itu dapat menarik pelajar bergabung dalam organisasi remaja masjid.

“Pada hari ini pun, para siswa memberikan klarifikasi untuk mengikrarkan tidak ada HTI di sekolah,” kata Fahirudin, Senin (22/7/2019).

Reporter: Taufik H
Sumber: Radar Sukabumi

PKS Sampaikan Peran Penting Oposisi dalam Sebuah Pemerintahan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera menilai, peran oposisi dalam demokrasi sangat penting. Menurutnya, harus ada kelompok yang melakukan check and balance pada pemerintah, sehingga pemerintahan berjalan seimbang.

Mardani mengatakan, setidaknya ada empat kriteria yang harus dipenuhi jika Indonesia ingin memiliki pemerintahan yang kuat.

Pertama adalah kehadiran orang-orang terbaik bangsa dalam kursi kabinet.

“Kedua, ada merit system yaitu memilih dan menempatkan sumber daya manusia (SDM) terbaik dan lincah berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara profesional, adil, dan wajar,” cuit Mardani dalam twitternya, Selasa (23/7/2019).

Ketiga, SDM tersebut bukan merupakan orang-orang yang berlindung di balik orang tua atau senior. Dalam hal ini, kedekatan personal dan kepentingan kelompok tertentu harus dikesampingkan.

Keempat, harus ada oposisi yang kuat dan berkualitas untuk membangun narasi kritis konstruktif pembangunan bangsa. Jika publik tidak memberi tekanan kritik konstruktif yang kuat dalam pembentukan kabinet kedua, pasti tekanan dari kelompok yang merasa berkeringat akan membuat Jokowi tunduk.

“Ke depan negeri kita menghadapi tantangan yang berat. Tekanan perekonomian Indonesia selama 5 tahun ke depan akan lebih berat dibandingkan 5 tahun yang lalu,” ucapnya.

Soal Perjalanan Luar Negeri, Mendagri: Tak Ada Aturan yang Dilanggar Anies Baswedan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo angkat bicara soal polemik izin keluar negeri Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Dia memastikan, tidak ada izin yang dilanggar oleh mantan rektor Universitas Paramadina itu.

“Dan bulan (Juli) ini, Pak Anies Baswedan baru satu kali keluar negeri,” ujar Tjahjo di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Tjahjo membela Anies dari tudingan atau asumsi sebagian kalangan yang berusaha memojokkan gubernur DKI itu.

Menurut dia, tak ada aturan yang dilanggar oleh Anies. Tjahjo pun mengimbau pihak-pihak yang meributkan detail kepergian Anies keluar negeri, untuk menanyakan langsung ke pihak Imigrasi.

Menurut Tjahjo, hal ini penting supaya tak ada spekulasi terkait perjalanan Anies ke mancanegara.

Tjahjo menegaskan, tidak ada yang istimewa dari pemberian izin kepada Anies untuk keluar negeri. Dia memastikan, semua kepala daerah diperlakukan sama.

“Saya tidak singgung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, malah saya sebut kunjungan kerjanya sudah ada izin. Hal ini saya tegaskan untuk tidak dipelintir pernyataan saya dan ini saya luruskan,” kata Tjahjo.

Pengamat: Demokrasi Akan Hancur Jika Hanya Ada Satu Partai Oposisi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago menganjurkan agar PAN, Gerindra, Demorkat turut serta bersama PKS mengambil peran sebagai oposisi terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin mendatang. Karena menurutnya demokrasi akan hancur kalau hanya satu partai yang menjadi oposisi.

“Hancur demokrasi kita kalau yang tersisa hanya PKS menjadi oposisi. Partai harusnya ingat masa depannya dan pikirkan insentif elektoral 2024,” katanya, Selasa (23/7/2019).

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini menegaskan, kalau hanya PKS yang menjadi oposisi pada periode 2019-2024, maka sistem demokrasi yang sudah dibangun dengan baik ini berlahan akan terkubur. Sebab, tak ada fungsi check and balance.

“Kalau hanya PKS saya pikir ngak punya bergaining, demokrasi terkubur karena kekuatan penyeimbang nggak ada,” pungkasnya.

Pangi menyelesalkan, partai-partai politik saat ini terkesan tidak memikirkan suara rakyat. Dibangunnya sistem demokrasi, harapannya agar ada yang berperan mengontrol kekuasan.

“Sayang sekali partai nggak memikirkan kedaulatan dan suara kehendak rakyat yang menginginkan partai oposisi sebagai fungsi kontrol dan penyeimbang kekuasaan,” tandasnya