80 Persen Jamaah Haji Indonesia Sudah di Tiba Tanah Suci

MEKAH (Jurnalislam.com) — Suasana di Kota Makkah tampak semakin padat dengan kedatangan jamaah haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia.

Berdasarkan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama, hingga Rabu, 31 Juli 2019, sebanyak 84 persen jemaah haji Indonesia telah tiba di Arab Saudi.

Data yang dirilis pukul 19:00 waktu Arab Saudi tersebut menunjukkan sebanyak 445 kelompok terbang (kloter) jemaah haji Indonesia yang membawa 179.416 jemaah beserta 2.225 petugas ini telah tiba di Arab Saudi melalui Bandara AMMA Madinah dan King Abdul Aziz Jeddah.

“442 kloter di antaranya, saat ini telah berada di kota Makkah. Sementara jumlah kloter tersisa yang akan diberangkat dari tanah air berjumlah 84 kloter,” jelas Kepala Seksi Data dan Informasi Daerah Kerja Makkah Nurhanudin, Rabu (31/07).

Lebih lanjut Nurhan menyampaikan, data Siskohat menunjukkan terdapat 9.574 jemaah haji Indonesia berusia di atas 75 tahun yang telah berada di Arab Saudi.

Adapun, jumlah jemaah haji meninggal tercatat berjumlah 9.574 orang. Sementara, jumlah jemaah wafat hingga saat ini berjumlah 42 orang. 

Kemenag.go.id

Kurangi Plastik, Ridwan Kamil Minta Penyebaran Hewan Kurban Gunakan Daun Pisang

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah 27 kabupaten/kota di Jabar terkait manajemen kurban, Rabu (31/7/19).

Jelang Idul Adha tahun ini, Ridwan Kamil (RK) ingin memastikan bahwa tidak ada lagi penjualan hewan kurban yang dilakukan di trotoar atau pinggir jalan.

Selain mengganggu hak pejalan kaki, penjualan hewan kurban di trotoar juga dinilai mengurangi keindahan kota.

“Hari ini akan mengeluarkan Surat Edaran Gubernur untuk para bupati dan walikota, saya ingin manajemen kurban yang lebih baik tahun ini. Pertama, tidak boleh ada penjualan hewan kurban yang mengganggu ketertiban umum dengan cara difasilitasi di lapangan, jangan di trotoar yang mengganggu hak pejalan kaki,” ujar RK usai melepas tim pemeriksa hewan kurban di halaman Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (31/7).

Dalam surat edaran itu, gubernur juga bakal mewajibkan konversi penggunaan kantong kresek untuk daging kurban menjadi besek atau daun pisang.

“Saya kira itu budaya daerah yang layak untuk dikembangkan,” tambah RK.

Untuk memaksimalkan penjualan dan memfasilitiasi para muzaki (orang yang wajib membayar zakat) yang terbiasa berbelanja online, RK menginginkan penjualan hewan kurban pun bisa dilakukan secara online.

Poin edaran berikutnya terkait pendistribusian daging kurban yang harus dilakukan secara merata.

RK tidak ingin penumpukan daging kurban ada di perkotaan, tapi harus merata hingga perdesaan yang membutuhkan.

“Pastikan saat distribusinya ada kemerataan, jangan bertumpuk di kota tapi daging yang dipotong di kota di distribusikan ke pelosok seperti wilayah Jabar selatan yang lebih membutuhkan,” katanya.

sumber: sindonews.com

Pemerintah Cina Larang Simbol Islam dan Logo Halal

BEIJING (Jurnalislam.com)– Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) memerintahkan restoran halal dan kedai makanan menghilangkan aksara Arab dan simbol-simbol Islam.

Kebijakan otoritas di ibu kota RRC, Beijing ini merupakan langkah terkini yang diambil pemerintah untuk menghalau gerakan yang mereka sebut pan-halal.

Karyawan di 11 restoran dan toko di Beijing yang menjual produk halal menyatakan pada Reuters bahwa para pejabat memerintahkan mereka menghapus gambar yang berhubungan dengan Islam, seperti bulan sabit dan kata halal yang ditulis dalam bahasa Arab di depan toko.

Pegawai pemerintah dari berbagai kantor memberi informasi seorang manajer sebuah toko mi Beijing untuk menutupi halal dalam bahasa Arab pada papan nama tokonya.

“Mereka mengatakan ini adalah budaya asing dan Anda harus menggunakan lebih banyak budaya RRC,” kata manajer tersebut, seperti dilansir Reuters, kemarin.

Seperti semua pemilik restoran dan karyawan yang ditanyai, manajer itu menolak namanya ditulis karena sensitivitas masalah tersebut.

Kampanye melawan aksara Arab dan gambar-gambar Islam menandai fase baru dari upaya sejak 2016, yang bertujuan untuk memastikan agama sesuai dengan budaya RRC.

Kampanye ini mencakup penghapusan kubah gaya Timur Tengah di banyak masjid di seluruh negeri demi pagoda gaya RRC.

RRC yang merupakan rumah bagi 20 juta Muslim, secara resmi menjamin kebebasan beragama. Akan tetapi, pemerintah telah berkampanye untuk membawa umat beriman sejalan dengan ideologi Partai Komunis.

Bukan hanya Muslim yang berada dalam pengawasan. Pihak berwenang telah menutup banyak gereja Kristen dan menghancurkan beberapa gereja yang dianggap ilegal oleh pemerintah.

sumber: republika.co.id

Mengintip Green Kurban, Program Kurban Ramah Lingkungan dan Tanpa Plastik

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Program Green Kurban yang diinisiasi Sinergi Foundation menyalurkan daging kurban pada warga yang membutuhkan tanpa kantong plastik.

Sebagai penggantinya, Green Kurban mengajak masyarakat menggunakan kearifan lokal daerah masing-masing. Mulai dari pelepah daun pisang, daun jati besek bambu, ganting, hingga wadah makanan sendiri.

“Di Green Kurban sendiri, distribusi daging kurban tanpa plastik sudah lama diterapkan, yaitu sejak program ini didirikan pada 2013,” jelas CEO Sinergi Foundation, Asep Irawan

Ia melanjutkan, “Di Pedalaman Aceh Timur misalnya, tim distribusi Green Kurban menggunakan pelepah daun pisang untuk mendistribusikan daging. Atau perayaan Idul Adha di Kampung Sadarbakti Desa Sukasirna Cianjur. Ada ganting (irisan bambu) yang digunakan untuk wadah daging yang siap diibagi ke masyarakat,”

Menurut Asep, melalui program ini, Sinergi Foundation berikhtiar mengedukasi agar masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik saat distribusi daging dengan menggunakan ramah lingkungan dan bahan organik.

Ia menuturkan, saat Idul Adha, bukan sedikit kita mendapati plastik yang tercecer bekas pembagian daging. Padahal plastik adalah zat yang sulit terurai dan berbahaya bagi lingkungan. Alih-alih bermanfaat, kata Asep, efeknya justru mencemari alam.

“Plastik sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menguranginya sama sekali. Green Kurban menawarkan sejumlah alternatif dalam pengurangan kantong plastik saat kurban,” katanya.

Melalui program Green Kurban, Asep menyatakan pekurban tak hanya menjalankan perintah agama, berkurban juga bisa menjadi sarana untuk mencintai lingkungan.

Selain itu, katanya, di Green Kurban, hewan-hewan dipersiapkan sebaik mungkin untuk memenuhi ketentuan syariah dan kesehatan. Pun saat pemotongan dan pencacahan, Green Kurban memperhatikan adab-adab terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah.

Asep pun mengajak segenap masyarakat untuk bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban dengan klik www.sinergifoundation.org/green-kurban. “Selain meraih kebaikan ibadah kurban, semoga ini menjadi bagian dari kontribusi kita untuk melestarikan bumi,” pungkasnya

Warga Sambangi MUI Lapor Kasus Wanita Bawa Anjing Tak Jelas Kelanjutannya

BOGOR(Jurnalislam.com) – Sejumlah ulama dan pimpinan ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Bogor Raya melakukan audiensi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor di kantor MUI Kabupaten Bogor, Jl Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (30/7/2019).

Ketua FUI Bogor Ustaz Hasri Harahap mengatakan, audiensi dilakukan dalam rangka membahas kasus wanita membawa anjing ke Masjid Al Munawaroh, Sentul City, Bogor pada akhir Juni 2019 lalu.

“Kasus ini bukan hanya viral secara nasional tapi juga internasional, kebetulan saya baru safari dakwah di Malaysia dan bertemu kawan-kawan dari berbagai negara itu menanyakan kelanjutan kasus ini,” ujarnya.

“Kasus ini sepertinya bukan hanya sudah dingin tapi kelihatannya sudah seperti masuk ‘freezer‘. Karena itu kita mengunjungi majelis ulama untuk meminta nasihat dan petunjuk langkah selanjutnya yang harus dilakukan,” tambah Hasri.

Sementara itu, tim kuasa hukum Masjid Al Munawaroh Endy Kusuma menambahkan, kedatangan delegasi ini untuk meminta fatwa atas kasus tersebut.

Pasalnya, SM yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka ini belum diputus di pengadilan.

“Fatwa diperlukan untuk memperkuat apa yang sudah ditetapkan oleh polisi yaitu pasal 156a tentang penodaan agama, fatwa juga nantinya bisa menguatkan di kejaksaan,” ujar Endy.

Menanggapi hal tersebut, Ketua MUI Kabupaten Bogor KH Ahmad Mukri Aji menegaskan bahwa kasus tersebut jelas adalah pelecehan agama.

Menurutnya, elemen-elemen dalam delik pidana pasal 156a tentang penodaan agama dalam kasus ini sudah terpenuhi.

“Sejak awal saya minta kepada aparat agar kasus ini ditegakkan hukum secara profesional, objektif dan terbuka. Itu jelas pelecehan, bukan hanya penodaan,” jelasnya.

Pihaknya mengaku mengawal kasus ini dan berharap bisa tuntas penegakkan hukumnya secara adil.

Terkaitnya fatwa yang diminta, MUI Kabupaten Bogor, kata Kiai Mukri Aji, akan segera membahas dalam rapat pleno.

“Pembuatan fatwa ini akan dikaji dalam waktu cepat. Nanti kita bawa dalam bagian fatwa dulu, lalu kemudian kita bawa ke sidang pleno sampai ke pusat. Kita cari waktu yang pas,” tandasnya.

Seperti diketahui, kasus SM membawa seekor anjing masuk Masjid Al-Munawaroh, Sentul pada Ahad (30/6) itu bikin heboh. Tak sedikit masyarakat yang mengecam tindakan perempuan 52 tahun tersebut.

Tak hanya membawa anjing, SM juga masuk dalam masjid tanpa melepas alas kaki. Tindakan SM ini pun langsung ditangani Polres Bogor dan ditetapkan sebagai tersangka.

Jadi Mediator, MUI: Taliban Melihat Kesungguhan Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Wasekjen MUI, Zaitun Rasmin mengatakan kedatangan Taliban ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran pak Jusuf Kalla (JK).

“Ini tentu saja karunia Allah, kemudian tidak lepas dari peran besar pak Wapres yang sabar,” katanya kepada Jurnalislam.com usai MUI menerima delegasi Taliban di Gedung MUI Pusat, Cikini, Jakpus, Selasa (29/07/2019).

Menurutnya apa yang dilakukan pak JK terhadap kedamaian Afganistan seperti saat melakukan perdamaian di Aceh.

“Bagaimana pak JK sabar mengikuti dan walaupun sempat ditolak tapi dia cari jalan terus. Akhirnya mereka luluh juga,” tuturnya.

Zaitun menilai keinginan Taliban bersedia menjadikan Indonesia sebagai negosiator karena melihat kesungguhan kita.

“Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Ini bukan semata-mata lip service, bukan mau menyenangkan yang berkuasa. Tapi benar-benar dari akar masalah,” pungkasnya.

Jadi Mediator, Ini 5 Usulan MUI untuk Pemerintah Afganistan dan Taliban

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia menerima kunjungan delegasi Taliban.

Kunjungan itu ditujukan Indonesia sebagai mediator perdamaian antara Pemerintah Afganistan dan Taliban.

Dalam pertemuan tersebut, MUI memberikan usulan agar tidak terjadi lagi perang di Afganistan.

“Pertama, MUI mendorong membentuk komite rekonsiliasi demi perdamaian dan kebaikan,” kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Kiai Muhyidin Junaidi kepada Jurnalislam.com usai pertemuan, Selasa (30/07/2019).

Kedua kami sarankan adanya pembentukan MUI Afganistan, seperti di Indonesia, terdiri anggota pimpinan ormas dan lembaga keislaman di seluruh Afganistan.

“Ketiga, kita sarankan agar mereka sering lakukan kunjungan ke negara Indonesia guna memberi informasi terkini,” tuturnya.

Keempat mendukung inisiatif pemerintah meyelenggarakan pelatihan bagi kaum perempuan karena angka kematian di negara tersebut cukup tinggi.

“Mungkin wanitanya ditraining di sini dua tiga empat bulan atau Indonesia mengirim tenaganya ke sana untuk membantu sehingga angka kematian menurun,” ujarnya.

Kelima, MUI siap menampung siswa siswi Afganistan untuk belajar di Indonesia.

“Setelah kembali ke tanah airnya dan sampaikan pengalaman mereka selama di Indonesia,” tambahnya.

MUI pun berharap tidak ada gejolak lagi di Afghanistan.

“Mereka pun bilang kami sudah lelah perang, kami tidak akan perang dengan saudara saudara kami. Kami dulu mahasiswa tinggalkan kuliah sekolah sampai umur sekarang kami masih berjuang.”

Bertemu Taliban, MUI: Kami Sambut Baik Kabar AS akan Keluar dari Afganistan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Delapan anggota Taliban berkunjung ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Delegasi Taliban dipimpin pimpinan Taliban, Abdul Ghani Baradar.

Dalam kunjungannya, Taliban mengabarkan kepada MUI bahwa Amerika akan segera keluar dari Afganistan dalam waktu sebentar lagi, sesuai dengan diplomasi.

“MUI menyambut baik kabar gembira yang diterima bahwa AS akan segera keluar dari afganistan dalam waktu tidak lama. Taliban saat ini sudah kuasai 70% dari wilayah Afgan, sisa 30% itu non Taliban,” kata kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Kiai Muhyidin Junaidi kepada Jurnalislam.com, Selasa (30/07/2019) di kantornya.

Muhyidin mengatakan kunjungan Taliban ke MUI atas undangan Wapres Jusuf Kalla untuk menindak lanjuti pertemuan antar ulama 3 negara Indonesia, Pakistan dan Afganistan.

Delegasi Taliban diterima petinggi MUI. Di antaranya Waketum Yunahar Ilyas, Wasekjen Zaitun Rasmin, Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri Muhyidin Junaidi dan Waketum MUI Zainut Tauhid.

MUI Terima Kunjungan Resmi Delegasi Taliban

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Delapan anggota Taliban berkunjung ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Delegasi Taliban dipimpin oleh Abdul Ghani Baradar.

 

“Hari ini MUI menerima kunjungan delapan anggota Taliban pimpinan Abdul Ghani Baradar, kaki tangan Mullah Umar,” kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Kiai Muhyidin Junaidi kepada Jurnalislam.com, Selasa (30/07/2019) di kantornya.

 

Muhyidin mengatakan kunjungan Taliban ke MUI atas undangan Wapres Jusuf Kalla untuk menindak lanjuti pertemuan antar ulama 3 negara Indonesia, Pakistan dan Afganistan.

 

Selain itu, Lanjutnya. Taliban mengabarkan bahwa Amerika akan segera keluar dari Afganistan dalam waktu sebentar lagi.

 

“MUI menyambut baik kabar gembira yang diterima bahwa AS akan segera keluar dari afganistan dalam waktu tidak lama. Taliban saat ini sudah kuasai 70% dari wilayah Afgan, sisa 30% itu non Taliban,” tuturnya.

 

Delegasi Taliban diterima petinggi MUI. Di antaranya Waketum Yunahar Ilyas, Wasekjen Zaitun Rasmin, Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri Muhyidin Junaidi dan Waketum MUI Zainut Tauhid.

Jamaah Haji Aceh Terima Hasil Wakaf Rp 22 Miliar

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Jamaah haji asal Provinsi Aceh tahun ini mendapatkan pembagian dana wakaf dari Baitul Asyi (rumah Aceh) di Kota Mekkah, Arab Saudi sebesar 6 juta riyal atau sekitar Rp22 miliar. Dana wakaf tersebut dibagi rata kepada 4.688 warga Aceh yang berangkat haji tahun ini.

Pembagian dana wakaf telah dimulai sejak Minggu (28/7/2019) kepada jamaah haji kelompok terbang (kloter) 1 dan 2 Embarkasi Aceh (BTJ) yang tinggal di zona Syisyah.

Dana wakaf diberikan langsung kepada jamaah haji di tempat menginap. Kloter 1 di Alkhulafa Hotel 5 dan kloter 2 di Murjan Al Multazam.

Sementara kemarin, pembagian dilanjutkan untuk jamaah haji kloter 3 dan 4 di Al Khulafa Hotel 4 dan Murjan Al Multazam Hotel.

Rencananya, pendistribusian dana wakaf Baitul Asyi ini akan berlangsung setiap hari hingga Senin (5/8/2019) pekan depan, kecuali Jumat.

Berdasarkan jadwal, jamaah haji terakhir yang mendapat pembagian dana wakaf adalah kloter 12 yang menempati Hotel Hajar Palace.

Tak Bisa Diwakilkan

Penghubung Pemerintah Aceh dan Wazir Wakaf Baitul Asyi di Mekkah, Jamaluddin Affan Ashi mengatakan, dana wakaf diberikan langsung oleh nazir (pengelola) Wakaf Baitul Asyi, Syeikh Abdul Latif Baltou kepada jamaah haji Aceh.

Penerimaan dana wakaf tidak bisa diwakilkan, sehingga harus hadir saat pembagian.

“Syeikh Baltou tidak akan memberikan kecuali kepada orangnya langsung, tidak bisa diwakilkan,” katanya kepada tim Media Center Haji (MCH), kemarin.

Wakaf Baitul Asyi ini merupakan tanah wakaf yang diberikan oleh Habib Bugak Asyi pada 1224 H atau sekitar tahun 1800 Masehi.

Di depan Mahkamah Syariah, Habib Bugak mengucapkan ikrar wakaf yang menyatakan bahwa tanah wakaf dan manfaatnya diberikan kepada jamaah haji asal Aceh atau warga Arab Saudi keturunan Aceh atau warga Aceh yang menjadi mukimin di Arab Saudi.

Tanah wakaf yang lokasinya di samping Masjidil Haram tersebut kemudian dikelola oleh seorang nazir.

Awalnya sebuah bangunan didirikan untuk menampung jamaah haji asal Aceh. Ketika ada proyek perluasan Masjidil Haram, tanah tersebut kemudian dialihkan menjadi aset-aset dalam bentuk bangunan hotel.

Seperti Elaf Masyair, Ramada Ajyad, dan Aziziyah Hotel di Mekkah. “Aset dari wakaf itu kini menjelma menjadi 5 bangunan yang berada titik-titik strategis di Mekkah,” katanya.

sumber: sindonews.com