Menyongsong Khilafah Ala Minhajin Nubuwah

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Mimbar Dakwah Wal Jihad Shoutul Haq menggelar kajian akhbar bertema "Menyongsong Khilafah Ala Minhajin Nubuwah" di Masjid Jami' MUI Surakarta Jl.Serang No 10, Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta, Ahad (27/12/2015). Menghadirkan Ketua Laznah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), ustadz Irfan S Awwas dan pengamat pergerakan Islam, ustadz Abu Thalut.

Ustad Abu Tholut menuturkan, untuk mendirikan sebuah khilafah yang sesuai dengan sunnah nabi harus memenuhi syarat-syaratnya. Diantaranya, seorang khalifah adalah keturunan nabi atau orang Quraisy.

"Dari pihak ISIS, persoalan Quraisy ini sumbernya hanya dua. Satu pengumuman jubir resminya Abu Muhammad Al Adnani dalam pidatonya disebutkan nasabnya (khalifah). Cuma lima nama habis itu langsung lompat nama yang lain, maka kita pertanyakan kemana nama yang lain," jelas Abu Tholut.

Kedua, 

"Yang kedua, sorang mufti yang terkemuka dari Bahrain yang menjelaskan keturunan kholifah ada sepuluh nama yang seharusnya ada, ini dipertanyakan siapa generasi keturunan nabi ini" terang Abu Tholut.

Tak ketinggalan pula ustad  Irfan S Awwas membeberkan bahwa suatu kelompok yang tidak punya negara hanya sebuah kota yang dikuasai, lalu mengangkat kholifah terus memaksa kaum muslimin untuk berbai'at sebagai sebuah khilafah. 

"Kalo ada seorang kholifah diangkat beberapa orang, negara ndak punya, kemudian dibuat video disebarkan keseluruh dunia seakan ini menjadi iklan pengumuman Kekholifahan. Karna itu seseorang kholifah tanpa Kesepakatan kaum muslimin, Umar Bin Khotob menerangkan tidak boleh diikuti" ucap Irfan ketua Lajjah Tafidiyah Majelis Mujahidin.

Sukses acara digelar membuat kesan panitia untuk mengadakan agenda kajian kedepan yang serupa. "Perlu diketahui, kami akan adakan acara yg serupa dengan pembicara dari pendukung ISIS dan yang anti dengan paham ISIS" pungkas Fahmi.

Dikabarkan bahwa ada isu teror terhadap Fahmi selaku ketua panitia, untuk membubarkan acara tersebut namun hal ini tidak digubrisnya. 

"Bagi panitia sudah menjadi hal yang wajar kalo banyak teror yang masuk melalui telpon atau sms yg intinya ingin membubarkan acara kajian akhbar tersebut dikarenakan lokasi kajian berdekatan sekali dengan rumah pendukung daulah yang ada di Solo, namun kami meyakini ini hanya teror semu saja" ujar Fahmi.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.