JERMAN (Jurnalislam.com) – Serangan bom menghantam sebuah masjid dan pusat konvensi di kota Dresden di Jerman timur, kata polisi pada hari Selasa, menambahkan motif kejahatan tersebut tampaknya xenophobia dan Islamophobia, Aljazeera melaporkan, Selasa (27/09/2016)
Tidak ada yang terluka dalam ledakan Senin di kota yang telah menjadi hotspot untuk protes kelompok kanan dan kejahatan kebencian menyusul masuknya migran dan pengungsi ke Jerman.
Imam Masjid, istri dan dua anak laki-lakinya sedang berada di masjid Fatih Camii pada saat ledakan. Polisi mengatakan mereka menemukan sisa-sisa bahan peledak buatan sendiri di kedua TKP.
“Meskipun sejauh ini tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, kita harus mengasumsikan bahwa ada motif xenophobia,” kata kepala polisi Dresden, Horst Kretschmar.
Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere mengatakan serangan Masjid tersebut merupakan “skandal yang sangat besar” karena terjadi pada malam pertemuan tahunan ke-10 Konferensi Islam Jerman (the German Islam Conference).
Polisi mengaitkan ledakan dengan pusat kongres untuk perayaan yang direncanakan berlangsung pekan depan di Dresden menandai ulang tahun ke-26 penyatuan Jerman, yang akan dihadiri oleh Presiden Jerman Joachim Gauck.
“Kami sekarang telah beralih ke mode krisis,” Kretzxchmar mengatakan, saat polisi dikerahkan untuk menjaga dua Masjid dan pusat kebudayaan Islam di kota itu.
Sekitar 300 jamaah secara teratur menghadiri shalat Jumat di Masjid Fatih Camii, yang terletak tidak jauh dari pusat bersejarah Dresden.
Ledakan di Masjid tersebut terdengar pada pukul 1953 GMT pada hari Senin. Kekuatan ledakan itu mendorong pintu depan bangunan ke dalam dan menyebabkan gedung ditutupi dengan jelaga, kata polisi.
Ledakan di pusat konvensi – terletak sekitar 2 kilometer dari Masjid Fatih Camii dan terletak di pinggir Sungai Elbe, yang melintas melalui Dresden – terjadi sekitar setengah jam kemudian.
Panas yang disebabkan oleh ledakan di pusat menghancurkan sisi kubus kaca dekoratif di daerah terbuka di gedung kongres dan berserakan di bagian bangunan yang sedang dievakuasi.
Dresden, sebuah kota Baroque di Jerman bekas komunis timur, juga merupakan tempat kelahiran gerakan jalan anti-Islam PEGIDA, singkatan untuk Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the Occident).
Anggotanya telah memprotes penuh kemarahan atas masuknya pengungsi dan migran yang tahun lalu membawa satu juta pencari suaka ke Eropa yang memiliki ekonomi terbesar.
Sekitar selusin demonstrasi direncanakan selama akhir pekan, baik oleh PEGIDA maupun oleh kelompok-kelompok anti-fasis.
Perdana menteri Negara bagian Saxony, Stanislaw Tillich menyebut “pemboman pengecut” tersebut sebagai sebuah “serangan terhadap kebebasan beragama dan nilai-nilai masyarakat yang tercerahkan” yang bisa dengan mudah menghilangkan nyawa.
Kejahatan kebencian kelompok kanan yang menargetkan kaum Muslim di tempat penampungan bagi para pencari suaka di Saxony naik menjadi 106 pada tahun 2015, dengan 50 serangan lain tercatat pada semester pertama tahun ini.
Dalam laporan tahunan yang menguraikan kemajuan sejak reunifikasi, pemerintah memperingatkan pekan lalu bahwa tumbuhnya xenophobia/Islamophobia dan “ekstremisme” sayap kanan bisa mengancam perdamaian di timur Jerman.
“Saya pikir perdebatan keamanan akan menjadi lebih intens dan juga lebih umum di masa depan,” katanya.
“Pengaruh Politik luar negeri di Jerman melalui agama adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima,” kata de Maiziere.
Namun, para pemimpin Muslim yang menghadiri forum dialog peringatan 10 tahun tersebut berkomentar balik.
“Salah jika menyebut Muslim sebagai wakil kekuatan asing dan menyebut mereka memiliki peran sebagai wakil”, kata sekretaris jenderal Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (the Turkish-Islamic Union for Religious Affairs) Bekir Alboga.