Ketua Umum FBR : "Tidak Semua Syiah Sesat, Tidak Semua Ahlusunnah Benar"

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Lutfi Hakim mengatakan bahwa tidak semua Syiah sesat dan tidak semua ahlusunnah itu benar. Pernyataan itu beliau sampaikan dalm acara Temu Pembaca Suara Islam bertema "Kasus Majelis Az Zikra dan Ancaman Syiah Terhadap Ahlusunnah di Indonesia" yang diadakan di Masjid Abu Bakar Shidiq Jl. Otista Raya No. 411, Cawang Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015).

"Kita harus tetap bijak melihat insiden tersebut, agar tidak terjebak ke dalam perpecahan umat dengan mempertajam atau memperuncing sebuah perbedaan ideologi yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, yakni Syiah versus Ahlusunnah," ungkapnya.

Menurutnya, tidak sedikit orang yang berpegang pada pendapat ulama yang menganggap Syiah masih bagian dari Islam. Realitanya mereka masih boleh pergi haji atau umrah dan tidak dikeluarkan dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). "Itu mungkin yang menjadi alasan masih menerima Syiah sebagai bagian dari Islam," lanjutnya.

Karenanya, Kyai Lutfi menyimpulkan bahwa tidak semua Syiah itu sesat. "Begitu pula dengan ahlusunnah, tidak semua benar," ujarnya.

Ia melanjutkan, semua aliran-alisan sesat dan nabi-nabi palsu di Indonesia mengaku ahlusunnah. "Di Indonesia ada yang mengaku nabi, seperti Musadek, Ahmad Abdurrahman dan ada yang mengaku sebagai malaikat Jibril, itu kan ahlusunnah diakui atau tidak," katanya.

Sebelumnya, pembicara dari Front Pembela Islam (FPI) KH. Shabri Lubis menjelaskan hal senada bahwa tidak semua Syiah itu sesat. Karena menurutnya, ada kelompok Syiah yang tidak mengkafirkan para sahabat Nabi, yakni Syiah Zaidiyah. Meski demikian, Kyai Shabri dan Kyai Lutfi sepakat bahwa Syiah yang menyerang Majelis Az Zikra harus ditindak tegas.

Syiah Indonesia bersumber dari Iran penganut Syiah Rafidah yang mengkafirkan para sahabat Nabi Saw

Menurut pakar Syiah di Indonesia ustadz Farid Okbah, Syiah masuk ke Indonesia pada tahun 1979 melalui kota Bangil, Jawa Timur setelah revolusi Iran. Menurutnya ulama yang juga asli Bangil itu, setelah Revolusi Iran, seorang tokoh Bangil bernama Husein al Habsyi berbaiat kepada Khomeini lalu mendapat tugas untuk menyebarkan Syiah di Indonesia.

Syiah Iran diketahui menganut ajaran Rafidah yang gemar mencaci maki para sahabat Nabi Saw. Gerakan Syiah di Indonesia, lanjut Ustadz Farid, dikomandoi oleh Islamic Cultural Center di Jakarta yang berada langsung dibawah Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia.

"Dari situlah kemudian lahir nama-nama tokoh Syiah. Mereka membangun aktifitas dakwah dalam semua lini. Dari mulai perorangan sampai saat ini mereka mempunyai 2 ormas resmi, yaitu IJABI dan ABI," bebernya.

Reporter : Irfan | Editor : Ally | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.