ANKARA (Jurnalislam.com) – Uni Internasional untuk Cendekiawan Muslim (The International Union for Muslim Scholars-IUMS) telah memperingatkan adanya rencana relokasi kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem (Al Quds).
“[Langkah tersebut] akan menjadi pelanggaran menantang resolusi PBB,” kata badan berbasis Doha tersebut dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Sabtu (21/01/2017).
Presiden AS Donald Trump yang baru dilantik telah berjanji selama kampanye pemilu untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem meskipun administrasi masa lalu, baik Republik maupun Demokrat sama-sama enggan untuk melakukannya.
Walaupun Israel mengklaim Yerusalem sebagai “ibu kota abadi” setelah menduduki Jerusalem Timur selama perang Arab-Israel tahun 1967, masyarakat internasional tidak mengakui klaim Israel tersebut dan kedutaan asing saat ini berada di Tel Aviv.
Awal bulan ini, Senat Partai Republik memperkenalkan undang-undang untuk memindahkan kedutaan dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
“Intelektual Muslim, ulama dan pemimpin tidak akan menerima relokasi kedutaan AS ke Yerusalem,” kata IUMS.
Ia memperingatkan bahwa relokasi kedutaan “akan menjadi bahan bakar semangat bagi konflik dan penghasutan, bermain dengan tangan ekstremis dan menghasut kebencian terhadap mereka yang menyerang hak-hak rakyat Palestina”.
“Pembagian dan fragmentasi yang telah mempengaruhi dunia Islam mendorong mereka menunggu melakukan penyergapan untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan mengambil keuntungan dari kesempatan ini,” bunyi pernyataan tersebut, memanggil umat Islam dan organisasi-organisasi internasional agar meningkatkan suara mereka untuk melindungi hak rakyat Palestina.
Trump menuduh pemerintah mantan Presiden Barack Obama tidak cukup ramah terhadap Israel.
Obama kritis terhadap pembangunan pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur.
Sekarang setelah kepergian Obama, spekulasi muncul tentang bagaimana presiden Trump akan berdampak pada hubungan antara AS dan Israel.
Dua pekan sebelumnya, Trump menunjuk menantu Yahudinya, Jared Kushner, sebagai penasihat senior setelah sebelumnya menyarankan bahwa Kushner bisa berfungsi sebagai utusan Timur Tengah karena link-nya dengan Israel.