Berita Terkini

MUI Desak Pemerintah Bertindak Selamatkan WNI di Wuhan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan rasa keprihatinan yang sangat mendalam atas munculnya wabah virus corona yang menyebar di Kota Wuhan, China.

MUI juga meminta pemerintah Indonesia menyelamatkan warga negara Indonesia (WNI) di daerah terpapar virus corona di China.

Wakil Ketua Umum MUI, KH Zainut Tauhid Sa’adi menyampaikan, sampai hari ini virus corona telah menelan korban 131 orang dan kemungkinan besar akan terus bertambah korbannya.

MUI meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah penyelamatan WNI yang masih berada di Kota Wuhan dan daerah terpapar virus corona lainnya.

“Agar mereka (WNI) mendapat perlindungan kesehatan dan keselamatan jiwanya. Jika dimungkinkan dan sesuai dengan prosedur keselamatan dan standar kebijakan pemerintah setempat maka langkah evakuasi harus segera dilaksanakan agar WNI dapat selamat,” kata Kiai Zainut, Rabu (29/1).

Ia menyampaikan, MUI mengimbau kepada seluruh masyarakat agar menaati anjuran pemerintah melalui travel warning untuk tidak melakukan perjalanan ke negara-negara yang terpapar virus corona.

Sebaliknya untuk sementara waktu pemerintah perlu menolak kunjungan warga asing dari wilayah ang terpapar virus corona. Hal ini semata untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona di Indonesia.

MUI meminta kepada imigrasi di bandara dan pelabuhan di seluruh Indonesia untuk melakukan test kesehatan secara ketat. “Untuk memastikan para penumpang pesawat yang datang dan berangkat dari luar negeri terbebas dari virus corona,” ujarnya.

Kiai Zainut mengatakan, MUI juga mengimbau umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia tetap menjaga kesehatan dengan berperilaku hidup bersih dan sehat. Caranya dengan mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Kemudian membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan.

“Dan istirahat yang cukup dan olahraga untuk tetap menjaga stamina dan imunitas tubuh agar tidak mudah terjangkit penyakit. Jika ada gejala sakit segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar segera diobati,” ujarnya.

sumber: republika.co.id

 

Rezim Suriah Gencarkan Serangan, PBB: Situasi Kemanusiaan Idlib Memburuk!

Korban Serangan Rezim Terus Bertambah, PBB: Situasi Idlib Memburuk

JAKARTA — Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat PBB, Mark Lowcock, menyuarakan keprihatinannya atas situasi kemanusiaan yang mengerikan dan memburuk di Idlib barat laut Suriah.

Dia mengatakan laporan yang paling mengkhawatirkan datang dari Idlib selatan.

Lowcock menyampaikan, Idlib selatan adalah tempat ratusan serangan udara oleh pemerintah Suriah dan sekutu.

Konflik telah meningkat dalam beberapa hari terakhir di daerah Idlib, terutama di sekitar Ma’arat al-Numan, Saraqeb, dan Aleppo barat.

“Pertempuran di daerah-daerah ini tampaknya lebih intens daripada apa yang telah kita lihat di tahun terakhir,” tutur pejabat senior PBB itu, dilansir Anadolu Agency, Kamis (30/1).

Mengutip data Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Lowcock mengatakan setidaknya 81 warga sipil, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, tewas akibat serangan udara dan serangan darat di minggu 15 Januari-23 Januari.

“Total ini merupakan tambahan dari lebih dari 1.500 kematian warga sipil yang telah diverifikasi OHCHR sejak eskalasi dimulai pada akhir April,” katanya.

Lowcock melanjutkan, sebagian besar orang yang terkena dampak, yakni lebih dari 99 persen dari mereka, telah pindah dari Idlib selatan ke lokasi lain di daerah yang tidak dikendalikan pemerintah.

“Penilaian kami adalah bahwa setidaknya 20 ribu orang telah pindah dalam dua hari terakhir. Sekitar 115 ribu telah pergi dalam seminggu terakhir. Hampir 390 ribu telah melarikan diri dalam dua bulan terakhir,” ujarnya.

Lowcock menekankan bahwa meski Turki dan Rusia mengumumkan gencatan senjata pada 12 Januari, kesepakatan itu tidak berlaku. Sekitar 541 ribu warga sipil telah mengungsi dari permukiman di selatan, tenggara, dan barat Aleppo di selatan sejak November 2019.

sumber: republika.co.id

Korban Kematian Akibat Virus Corona Bertambah Jadi 170 Orang

WUHAN(Jurnalislam.com) — Pemerintah China kembali memutakhirkan data korban kematian akibat virus corona jenis baru pada Kamis (30/1) waktu setempat. Korban kematian nasional dari epidemic virus corona yang dikenal dengan N-2019 CoV meningkat menjadi 170 orang, dan lebih dari 1.700 infeksi baru dikonfirmasi.

Dilansir Channel News Asia, sebanyak 37 kasus dari 38 kematian baru terjadi di provinsi Hubei, pusat penyebaran penyakit menular yang menyebabkan meningkatnya ketakutan global. Kematian lain terjadi di provinsi Sichuan barat daya. Pemerintah juga melaporkan, Tibet juga mengumumkan kasus pasien terdeteksi virus corona baru pertamannya.

Dari 38 kematian baru ini menandai lompatan satu hari terbesar dan datang sebagai upaya penahanan besar-besaran sedang berlangsung yang telah secara efektif mengunci puluhan juta orang di Hubei. Angka-angka baru membuat jumlah total orang yang terinfeksi di China menjadi lebih dari 7.700.

Sementara itu, Komisi kesehatan untuk Hubei mengatakan kematian di provinsi Hubei akibat penyakit itu, telah meningkat 37 hingga 162 pada akhir 29 Januari. Ada 1.032 kasus lain yang terdeteksi di Hubei saja, dengan total menjadi 4.586 kasus.

Dengan kekhawatiran penyebaran, sejumlah negara telah menerbangkan warganya keluar dari daerah itu. Sebab jumlah kematian melonjak dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyuarakan ‘keprihatinan serius’ tentang penyebaran antar-manusia di tiga negara lain.

sumber: republika.co.id

 

Gelar Rapat Darurat, WHO Peringkatkan Kepala Negara tentang Penyebaran Wabah Corona

JENEWA(Jurnalislam.com) — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan kembali menggelar rapat darurat karena keprihatinan serius mengenai penyebara virus corona antar-manusia.

Meskipun, WHO tetap memuji langkah China mengatasi wabah virus corona jenis baru tersebut.

WHO memperingatkan kepada semua pemerintah di seluruh dunia untuk mengambil tindakan atas virus yang menyebar dari China.

Sejauh ini, virus corona telah merenggut 170 nyawa di China. Virus korona jenis baru yang disebut Nover-Coronavirus itu juga telah menginfeksi total lebih dari 7.000 orang di China dan negara lain. Kasus-kasus baru dilaporkan di Finlandia dan Uni Emirate Arab.

WHO menyerukan pertemuan darurat pada Kamis (30/1) mengenai apakah epidemi virus harus dinyatakan sebagai darurat kesehatan global atau tidak. Pertemuan itu dapat mengarah pada peningkatan koordinasi internasional.

Dua kali pada pekan lalu WHO menolak melakukannya, dengan alasan perlunya lebih banyak informasi dan bukti.

Namun, virus telah menyebar dengan cepat dan sekarang telah terdeteksi di 15 negara lain.

“Meningkatnya jumlah kasus dan bukti penularan dari manusia ke manusia di luar China tentu saja sangat memprihatinkan. Meskipun jumlah di luar China masih relatif kecil, mereka memiliki potensi wabah yang jauh lebih besar,” kata ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip Channel News Asia, Kamis (30/1).

Tedros mengatakan, dalam beberapa hari terakhir perkembangan virus terutama di beberapa negara, terutama penularan dari manusia ke manusia membuat dunia khawatir.

“Jika ini masuk ke negara dengan sistem kesehatan yang lemah maka itu bisa menjadi masalah,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya, maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan atau mengurangi layanan masuk dan keluar dari China.

Hal itu untuk mengurangi dan pencegahan kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia di luar negeri.

Sumber: republika.co.id

Mencegah dan Menjauhi Wabah Penyakit dalam Pandangan Islam

Oleh: Irma Setyawati, S.Pd*

Mewabahnya virus corona di China tidak membuat Pemerintah Indonesia membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri panda tersebut.Kementerian Kesehatan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan  perjalanan dari dan ke Daratan China melalui jalur udara, laut dan darat.

Kementerian Kesehatan hanya mengeluarkan anjuran perjalanan (travel advisory) guna meminimalisir dampak pandemi tersebut.

 

“Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti,” kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma’aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam.

 

Anas menjelaskan terdapat upaya yang dilakukan pihaknya sebagai pintu gerbang negara dalam upaya membentengi diri dari penyebaran penyakit mematikan ini.

 

Hal tersebut seperti peningkatan pengawasan terhadap penerbangan asal China, pengadaan fasilitas kesehatan seperti thermal scanner, health alert card dan alat pelindung diri, serta membekali petugas dengan informasi terbaru.

 

Sejumlah negara di dunia telah mencegah kedatangan warga China masuk ke wilayah negaranya masing-masing pasca mewabahnya virus Corona.

 

Diantaranya, Korea Selatan, Korea Utara, Australia dan Arab Saudi. Negara-negara tersebut tak ingin warga China yang datang sebagai turis malah membawa virus Corona.

 

Sikap yang di tunjukkan pemerintah Indonesia justru sangat kontradiktif dengan sikap negara-negara tersebut. Justru Jumat (24/1/2020) Pemerintah Indonesia menerima ratusan turis China yang berasal dari Kota Shenzen, China dan mendarat di Bandara Hang Nadim, Kota Batam. Dan di sambut dengan antusias oleh pemerintah setempat bak tamu agung.

 

Tidak hanya wisatawan, Ombudsman RI menyebut bahwa para pekerja asal China sebenarnya hampir setiap hari masuk ke Indonesia, khususnya ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Mereka umumnya pekerja di smelter-smelter yang dimiliki oleh perusahaan asal China.

 

Selain itu, tercatat pula sebanyak 70 persen penumpang pesawat yang masuk ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah dari Jakarta merupakan pekerja asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

 

 

Pemerintah seolah tidak mau berkaca pada fakta yang terjadi di dunia, fakta telah menunjukkan bahwa virus yang disebut berasal kota Wuhan, China itu telah menjangkiti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, Australia, Nepal, Vietnam, Malaysia, Kanada, Kamboja dan Sri Lanka.

 

Selain negara-negara itu, wilayah milik China yang ada di luar China daratan, yaitu Hong Kong dan Makau, juga telah melaporkan kasus corona virus.

 

Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat wabah yang mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) ini telah mencapai 82 orang pada Selasa. Sedangkan jumlah pasien yang terinfeksi telah mencapai 2.900 orang di seluruh dunia.

 

Bahkan 4 Ilmuwan dari Amerika dan Australia yang telah membuat proyeksi sebaran virus corona, menyebutkan bahwa Indonesia berpotensi untuk kena. Tim ilmuwan ini menciptakan model simulasi epidemik virus corona Wuhan (2019-nCoV).

 

Mereka memakai parameter Susceptible-Exposed-Infected-Recovered (SEIR) yang dihitung dalam 10 hari (5 hari inkubasi + 5 hari pemulihan).

 

Mewabahnya virus mematikan tersebut bertepatan dengan perayaan Imlek 2020 dimana warga China kerap memanfaatkan hari liburnya untuk liburan ke luar negeri. Tak terkecuali Indonesia.

 

Saran untuk Pemerintah

 

Jika Indonesia tidak luput dari ancaman virus corona tersebut, harusnya Pemerintah segera mengambil langkah-langkah nyata berikut, di antaranya:

 

  1. Mengeluarkan larangan masuk ke Indonesia baik pekerja maupun wisatawan asal China. Karena faktanya penyebaran Virus Corona yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.
  2. Baik pekerja maupun wisatawan asal China yang sudah telanjur berada di Indonesia pun segera didata dan diperiksa secara khusus untuk memastikan mereka terbebas dari Virus Corona. Jika ada yang sudah terkena mereka harus di karantina sampai sembuh
  3. Pemerintah Indonesia juga harus membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke China.
  4. Pemerintah harus segera merubah cara pandang untung rugi dalam menghadapi sebuah masalah. Ini menyangkut masalah nyawa rakyat. Jangan sampai khawatir bisnis dan investasi melemah akhirnya tetap membiarkan keluar masuknya warga dari dan ke China.

 

Pesan Rasulullah

 

Pemerintah harusnya belajar dari strategi Sistem Pemerintahan Islam yang di pimpin oleh Rasulullah dan khalifah setelahnya dalam menghadapi merebaknya wabah penyakit.

 

Islam tidak hanya mengajarkan do’a saja untuk menangkal sebuah penyakit. Sebagaimana pernyataan MenKes beberapa waktu yang lalu.

 

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain.

 

Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasulullah mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

 

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa.”

 

Di masa ke Khalifah Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya.

 

Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan

Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy.

 

Yang kemudian menyarankan agar khalifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit.

 

“Menurut kami, engkau beserta orang-orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah dan janganlah engkau bawa mereka ke tempat yang terjangkit penyakit itu,” ujar sesepuh Quraisy sebagaimana dikutip dalam buku Pesona Akhlak Nabi, (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

 

Namun di antara rombongan, Abu Ubaidah bin Jarrah masih menyangsikan keputusan Khalifah. “Kenapa engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?” ujarnya.

 

Begitulah Islam mengajarkan upaya – upaya preventif dan kuratif menghadapi wabah atau virus penyakit.

 

Semakin jelas bahwa Islam bukanlah agama langit yang hanya mengajarkan aturan beribadah pada Pencipta saja, akan tetapi Islam adalah agama yang menjadi pegangan dalam menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia. Termasuk mengatasi merebaknya wabah penyakit.

*Aktivis Muslimah Pasuruan

 

Ki Manteb Soedharsono: Wayang dan Islam Tak Bisa Dipisahkan

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Dalang Oye, Ki Manteb Soedharsono, pewayangan bisa sebagai alat untuk berdakwah dan kebaikan tergantung dari dalangnya.

“Wayang dan budaya Islam tidak bisa dipisahkan, karena wayang adalah olah budaya dari para wali songo,” kata dalang yang pernah keliling Eropa dan menerima berbagai perhargaan tersebut, kepada Jurnalislam.com, Selasa(29/1/2020).

Wayang, katanya adalah media untuk mengajak kepada kebaikan.

“saya sangat tidak setuju kalau wayang dijadikan untuk berbuat keburukan, dulu ada Dalang muda yang mengajak mendem(minum minuman keras-Red) dan Main(judi),” tambahnya.

Budaya dan Agama, menurut Ki Manteb sebenarnya tidak boleh dibentur-benturkan.

“kebanyakan orang sekarang membenturkan agama dan budaya. Agama tanpa budaya akan kaku dalam beragama, sedangkan budaya tanpa Agama akan bubrah(hancu-red),” pungkas Dalang bintang Iklan Obat sakit kepala tersebut

 

Fachrul Razi Klaim Berkomitmen Akan Berantas Korupsi di Kemenag

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Fachrul Razi menegaskan komitmennya untuk membersihkan Kementerian Agama dari praktek-praktek korupsi.

Menag menegaskan, pemberantasan korupsi menjadi keharusan di Kementerian Agama untuk menjamin terjadinya perbaikan layanan publik.

“Saya merasa bangga, saat ini banyak sekali kemajuan yang sudah ada di Kementerian ini, dan harus terus dipertahankan serta dilakukan perbaikan kalau masih kurang. Kita juga harus tegaskan komitmen sekali lagi, bahwa tidak ada hanky panky di Kementerian ini,” katanya saat membuka Rakernas di Hotel Redtop, Pecenongan, Jakpus, Rabu (29/02/2020).

Menag menyampaikan komitmennya untuk melakukan pemberantasan korupsi juga harus dipahami oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pengadaan di lembaga yang dipimpinnya. Baik pengadaan barang, jasa, maupun jabatan.

Ia mencontohkan, beberapa hari lalu dirinya telah mengumpulkan pemenang lelang pembangunan kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

“Saya kumpulkan, dan kemudian saya katakan, ‘Bapak-bapak tidak punya hutang budi pribadi kepada Menteri Agama, Wakil Menteri Agama, Dirjen atau Rektor. Tapi Bapak punya hutang budi kepada negara. Maka, lakukan pekerjaan dan kewajiban bapak dengan baik’. Begitu saya katakan,” ujar Menag.

Hal ini menurut Menag, harus dicamkan oleh seluruh ASN Kementerian Agama.

“Saya tegaskan, kalau Anda menyimpang sedikit saja, tidak perlu sampai KPK tahu. Karena kami yang akan panggil KPK untuk menangkap anda,” tandas Menag.

Turut hadir dalam pembukaan Rakernas Kemenag 2019 Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Haryono. Hadir pula, Dewan Pengawas BPIP Tri Sutrisno, Wisnu Bawa Tenaya, Sudhamek, KH Syafii Maarif, dan KH Said Aqil Siradj, serta Pimpinan Majelis-majelis Agama.

Rakernas Kemenag Usung Tema Moderasi Beragama

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Agama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) tahun 2020, di Jakarta.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan mengatakan rakernas akan membahas beberapa hal, di antaranya Lima Program Prioritas Kemenag tahun 2019-2020.

“Lima Program Prioritas ini kita ambil sesuai dengan arahan Bapak Menteri Agama pada saat awal tiba di Kementerian Agama di 2019 lalu. Ini yang selanjutnya menjadi panduan kita untuk melakukan serangkaian program-program ini,” katanya Kamis (29/01/2020).

Menurutnya Rakernas yang mengusung tema “Moderasi Beragama, Umat Rukun, Indonesia Maju’ ini menjadi momentum, bukan hanya mensent program, tapi juga delivery program kepada seluruh pimpinan Kemenag di daerah.

Selain itu Rakernas juga merupakan kesempatan untuk memberikan apresiasi kepada pimpinan-pimpinan yang inspiratif di lingkungan Kementerian Agama.

“Hari ini akan kita berikan sejumlah penghargaan kepada pimpinan satuan kerja yang berprestasi. Semoga ini dapat menjadi uswah, teladan bagi yang lain,” paparnya.

PCIM Cina: 83 Mahasiswa Indonesia Terjebak di Wuhan

JAKART(Jurnalislam.com) — Ketua Umum Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) China Muhammad Aziz menyampaikan, masih ada sekitar 83 mahasiswa Indonesia di Kota Wuhan, China.

Mereka berharap bisa segera pulang ke Indonesia atau dievakuasi agar bisa menjauh dari Wuhan tempat endemi virus corona.

“Masih ada sekitar 83 mahasiswa Indonesia di Kota Wuhan, mereka tidak, Selasa (28/1).

Ia menyampaikan, orang-orang dari Wuhan tidak bisa keluar dan orang-orang dari luar tidak bisa masuk ke Wuhan. Mahasiswa Indonesia di Wuhan sudah mulai cemas, begitu pula keluarganya di Indonesia semakin khawatir.

Ia mengatakan, bila memungkinkan mereka berharap bisa keluar dari Wuhan atau dievakuasi ke kota lain yang jauh dari Wuhan. Mereka juga sangat mengharapkan bisa kembali ke Indonesia sampai situasi di China lebih kondusif.

“Itu harapan teman-teman mahasiswa seperti itu, mahasiswa terpaksa berada di asrama masing-masing, tidak bisa keluar karena jika keluar dari asrama terlalu berisiko,” ujarnya.

Kandidat Ph.D dari Hohai University di Cina ini menceritakan, para mahasiswa yang masih berada di Wuhan hanya bisa bertahan di dalam asrama. Perbekalan dan cadangan makanan mereka semakin menipis.

Sehari-hari mereka menggunakan masker dan melaksanakan pola hidup sehat di dalam asrama. Bila mereka kehabisan makanan diharapkan pemerintah setempat atau kampus tempat mereka belajar dapat memberi pasokan makanan.

“Harapannya (mahasiswa Indonesia di Wuhan) seperti itu kalau memang harus bertahan dan nggak bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Mahasiswa Indonesia di Wuhan Ingin Dievakuasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Mahasiswa Indonesia di Wuhan, China mengakui ingin keluar dari kota tersebut. Tapi di sisi lain mereka juga mengerti proses untuk bisa keluar dari kota yang dibatasi itu tidak dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.

“Tentu ingin keluar dari Wuhan, atau provinsi, atau pulang ke Indonesia tapi kan kami tahu ada prosesnya,” kata mahasiswa Indonesia di Wuhan Muhammad Aris Ichwanto, Selasa (28/1).

Aris mengatakan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) pun menyatakan masih mengusahakan untuk mengeluarkan mahasiswa Indonesia dari Wuhan. Menurut Aris hingga kini proses evakuasi masih sulit dilakukan.

“Kemarin saya dikirimi tulisan oleh orang tua mahasiswa, Amerika atau Inggris sudah melakukan evakuasi tapi hingga kini pun masih belum,” kata Aris.

Aris mengatakan proses pendataan sudah dilakukan sejak pemerintah China mengumumkan membatasi pergerakan warga Wuhan pada 23 Januari. Dari data terbaru ada sekitar 93 warga Indonesia di Wuhan. Tidak hanya mahasiswa tapi juga warga Indonesia yang memiliki kepentingan lain seperti ibu rumah tangga dan profesional.

Aris menambahkan perhimpunan mahasiswa terus melakukan komunikasi baik dengan KBRI maupun Kementerian Luar Negeri. Hingga kini himbauan untuk tidak keluar dari wilayah kampus masih diberlakukan sebab kampus dianggap wilayah yang paling aman.

sumber: republika.co.id