Berita Terkini

Solo Bangkit untuk Gaza: Ribuan Warga Long March Bela Palestina, Desak Sanksi Global untuk Israel

SOLO (jurnalislam.com)- Ribuan warga Soloraya menggelar aksi bela Palestina bertajuk ‘Open March to Gaza’ di Bundaran Gladag, Solo pada Ahad, (27/7/2025).

Aksi yang diinisiasi oleh Solo Peace Convoy tersebut diawali dengan aksi konvoi dari Goro Assalam, Kartasura, Sukoharjo menuju Bundaran Gladag, Solo.

Sejumlah tokoh umat Islam nampak hadir dalam aksi kali ini, diantaranya Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), KH Muhammad Halim, Rois DSKS Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir, Ustadz Muzzayin Marzuki, Ustadz Syihabudin dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Rois Tanfidzi DSKS ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengutuk keras tindakan genosida dan kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza yang secara nyata melanggar prinsip kemanusiaan, hukum internasional, dan nilai-nilai keadilan.

“Mengecam keras diamnya dunia internasional, khususnya negara-negara besar, yang justru membiarkan kekejaman ini terus berlangsung tanpa sanksi tegas terhadap penjajah Zionis Israel,” tegasnya.

Selain itu, Ustadz Abdul Rochim juga mendorong dan menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia,
untuk menyisihkan harta terbaiknya untuk membantu rakyat Gaza.

“Baik melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya. Memanjatkan doa-doa terbaik untuk keselamatan dan kemenangan rakyat
Palestina atas kedzaliman yang mereka hadapi,” ungkapnya.

“Meningkatkan kesadaran dan kepedulian sosial terhadap perjuangan bangsa
Palestina melalui pendidikan, pengajian, media sosial, dan aksi-aksi damai,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Rochim mendesak Pemerintah Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan
konstitusinya menjunjung tinggi kemerdekaan setiap bangsa, untuk Mengambil sikap tegas dan nyata dalam forum-forum internasional.

“Untuk menghentikan agresi Israel dan menyerukan sanksi global terhadap kejahatan perang yang dilakukan. Mengeluarkan pernyataan resmi pemerintah yang mengutuk tindakan genosida ini dan memperkuat diplomasi kemanusiaan untuk Palestina,” paparnya.

“Mengajak seluruh elemen bangsa, dari ormas Islam, tokoh masyarakat, akademisi,
media, hingga generasi muda, untuk bersatu dalam kepedulian terhadap Gaza dan
terus mengawal isu Palestina agar tetap menjadi perhatian utama umat Islam dan
bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari

Hamas Kecam Pembajakan Kapal Handala: Tindakan Terorisme dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengecam keras tindakan militer Israel yang menyerbu dan membajak kapal Handala di perairan internasional pada Sabtu (26/7/2025). Kapal tersebut merupakan bagian dari misi kemanusiaan Freedom Flotilla yang membawa bantuan untuk warga Gaza.

Dalam siaran pers resmi yang dirilis pada Ahad (27/7), Hamas menyebut tindakan tersebut sebagai “kejahatan terorisme dan pembajakan” yang merupakan bentuk nyata dari pelanggaran hukum internasional dan kehendak kemanusiaan global.

“Tentara pendudukan Zionis yang kriminal melakukan kejahatan pembajakan baru di perairan internasional dengan mencegat kapal kemanusiaan Handala dan mencegahnya mencapai Jalur Gaza yang terkepung, yang sedang menjadi sasaran perang genosida dan kelaparan sistematis,” bunyi pernyataan tersebut.

Hamas menyampaikan apresiasi atas keberanian para aktivis internasional yang tergabung dalam Freedom Flotilla dan menyatakan bahwa pesan solidaritas mereka telah sampai kepada rakyat Gaza dan dunia internasional.

“Kami sangat menghargai keberanian para aktivis solidaritas internasional dan tekad mereka untuk berlayar ke Jalur Gaza, terlepas dari teror dan ancaman dari entitas pendudukan,” tulis Hamas.

Lebih lanjut, Hamas menilai bahwa tindakan represif Israel terhadap upaya rakyat sipil internasional menunjukkan kegagalan moral dan semakin membuka kedok dukungan sebagian pihak internasional terhadap pengepungan yang tidak adil di Gaza.

Gerakan tersebut juga menuntut agar pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertanggung jawab penuh atas keselamatan seluruh aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal Handala.

“Kami menyerukan kepada semua orang yang bebas untuk terus berlayar dengan kapal dan konvoi hingga blokade yang tidak adil ini dipatahkan dan kebijakan kelaparan serta perampasan air terhadap anak-anak dan warga sipil yang tak berdaya dihentikan,” tegas Hamas.

Hamas juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya untuk menjalankan tanggung jawab hukum dan moral mereka dalam mengutuk insiden ini serta menekan Israel agar menghentikan perang genosida dan blokade terhadap Gaza.

Insiden pembajakan kapal Handala terjadi ketika kapal tersebut berada sekitar 100 kilometer di sebelah barat Gaza. Kapal membawa 19 aktivis internasional, termasuk dua anggota parlemen Prancis dan dua jurnalis dari Al Jazeera. Hingga saat ini, seluruh penumpang dilaporkan selamat dan kapal telah diarahkan ke pelabuhan di wilayah Israel. (Bahry)

Kapal Handala Dihadang Pasukan Israel di Perairan Internasional saat Bawa Bantuan ke Gaza

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pasukan Israel menyerbu kapal milik kelompok aktivis pro-Palestina, Freedom Flotilla, yang sedang berlayar menuju Gaza pada Sabtu (26/7/2025). Insiden tersebut terjadi di perairan internasional dan disiarkan langsung oleh para aktivis melalui media daring.

Dalam siaran langsung tersebut, para aktivis terlihat duduk di dek kapal sambil mengangkat tangan dan menyanyikan lagu anti-fasis Italia, Bella Ciao, saat tentara Israel mengambil alih kendali kapal. Beberapa menit kemudian, siaran daring tersebut terputus.

Kapal Handala diketahui sedang dalam perjalanan untuk menembus blokade laut Israel dan membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Koalisi Freedom Flotilla menyatakan melalui media sosial bahwa kapal mereka telah dicegat secara ilegal oleh pasukan Israel saat berada di perairan internasional.

“Handala telah dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh pasukan Israel saat berada di perairan internasional,” tulis mereka di platform X.

Israel, yang sebelumnya telah menyatakan komitmennya untuk menegakkan blokade laut terhadap Gaza, menyebut bahwa upaya menerobos blokade merupakan tindakan berbahaya dan melanggar hukum.

“Angkatan Laut Israel telah menghentikan kapal Navarn memasuki zona maritim Gaza secara ilegal,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel di X.

Pihak Israel menegaskan bahwa seluruh penumpang dalam kondisi selamat dan kapal sedang diarahkan ke pantai Israel.

Berdasarkan pelacakan daring, kapal Handala dicegat saat berada sekitar 50 kilometer dari pantai Mesir dan 100 kilometer sebelah barat Gaza. Kapal tersebut membawa 19 aktivis, termasuk sejumlah politisi Eropa, serta dua jurnalis dari Al Jazeera yang sempat menyiarkan situasi hingga sesaat sebelum kapal dicegat.

Dua anggota parlemen Prancis, Emma Fourreau dan Gabrielle Cathala, termasuk di antara para aktivis yang ditahan. Pemimpin partai mereka, Jean-Luc Mélenchon dari France Unbowed (LFI), mengecam keras tindakan tersebut.

“Preman Netanyahu menaiki Handala. Mereka menyerang 21 orang tak bersenjata di perairan internasional. Ini adalah tindakan penculikan terhadap dua anggota parlemen Prancis,” tulis Mélenchon melalui akun X, sembari mendesak pemerintah Prancis untuk mengambil tindakan.

Kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. PBB dan sejumlah organisasi kemanusiaan memperingatkan adanya ancaman kelaparan, sementara otoritas kesehatan setempat melaporkan warga sipil mulai meninggal dunia akibat kekurangan pangan.

Sebelum keberangkatan, awak kapal Handala telah menyatakan akan melakukan mogok makan jika kapal dicegat dan mereka ditahan oleh militer Israel.

Sebelumnya, pada 9 Juni lalu, kapal Madleen milik Freedom Flotilla juga dicegat oleh Israel di perairan internasional. Kapal itu membawa 12 aktivis, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg. Seluruh penumpang kemudian dideportasi setelah kapal ditarik ke pelabuhan Ashdod. (Bahry)

Sumber: TNA

Korban Militer Bertambah, Israel Umumkan Tentara ke-16 Tewas di Bulan Juli

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang prajurit cadangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang mengalami luka parah dalam serangan bom pinggir jalan di Jalur Gaza selatan, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (26/7/2025). Dengan demikian, jumlah tentara Israel yang tewas di Gaza sepanjang Juli 2025 bertambah menjadi 16 orang.

Korban terbaru adalah Sersan Mayor (Purn.) Betzalel Yehoshua Mosbacher (32), anggota Batalyon Zeni Tempur ke-749. Ia tumbuh besar di Avnei Eitan, Dataran Tinggi Golan, dan tinggal di Or Yehuda. Mosbacher terluka dalam serangan bom yang menghantam Humvee yang ia kendarai bersama seorang prajurit zeni tempur lainnya di Khan Younis pada 19 Juli lalu.

Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Namun, nyawa Mosbacher tak tertolong. Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa Mosbacher bekerja di Otoritas Listrik Israel dan meninggalkan seorang istri, seorang putri berusia dua tahun, orang tua, dan saudara kandung.

Pertempuran di Jalur Gaza masih terus berlangsung. Sementara itu, upaya perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera dilaporkan menemui jalan buntu.

Sejak awal bulan Juli 2025, total 16 tentara Israel tewas di Gaza. Adapun sejak dimulainya invasi darat ke wilayah tersebut dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza, jumlah korban dari pihak Israel mencapai 457 orang, termasuk dua petugas kepolisian dan tiga kontraktor sipil dari Kementerian Pertahanan.

Secara keseluruhan, jumlah korban tewas dari pihak militer Israel sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 tercatat mencapai 896 orang, termasuk korban dalam pertempuran melawan pejuang Hamas dan serangan mendadak di wilayah Israel selatan. (Bahry)

Sumber: TOI

Korban Tewas Konflik Thailand–Kamboja Capai 32 Orang, Kekhawatiran Perang Berkepanjangan Meningkat

BANGKOK (jurnalislam.com)– Jumlah korban tewas akibat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja terus meningkat. Hingga Sabtu (26/7/2025), total korban jiwa dari kedua belah pihak mencapai 32 orang, memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik berkepanjangan di kawasan Asia Tenggara.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, melaporkan bahwa 12 warga Kamboja telah tewas — terdiri dari tujuh warga sipil dan lima tentara. Sebelumnya, satu pria Kamboja dilaporkan meninggal dunia setelah roket Thailand menghantam sebuah pagoda Buddha di mana ia berlindung pada Kamis (24/7). Setidaknya 50 warga sipil dan lebih dari 20 tentara Kamboja dilaporkan mengalami luka-luka.

Sementara itu, pihak Thailand melaporkan 13 warga sipil, termasuk anak-anak, serta enam tentara tewas dalam dua hari pertempuran. Selain itu, 30 warga sipil dan 29 tentara mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Kamboja.

Pihak berwenang di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, kepada surat kabar Khmer Times, menyebutkan bahwa sekitar 20.000 warga telah dievakuasi dari wilayah perbatasan. Di pihak Thailand, lebih dari 138.000 warga telah mengungsi dari empat provinsi perbatasan, dan sekitar 300 pusat evakuasi telah dibuka. Pemerintah Thailand juga telah memberlakukan status darurat militer di delapan distrik di sepanjang garis perbatasan.

Konflik terbaru dipicu oleh ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan pada Kamis pagi, yang melukai lima tentara Thailand. Insiden ini memicu aksi saling serang antara kedua negara. Thailand menuduh militer Kamboja melepaskan tembakan pertama dan meluncurkan roket jarak jauh ke sasaran sipil, termasuk sebuah pom bensin yang menewaskan sedikitnya enam orang.

Sebagai balasan, militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk membombardir target di wilayah Kamboja, termasuk serangan yang dilaporkan mengenai kompleks pagoda Buddha.

Kamboja menuduh Thailand menggunakan munisi tandan, senjata yang kontroversial dan telah dikecam luas di dunia internasional karena dampaknya terhadap warga sipil. Kamboja menyebut penggunaan senjata tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, menuduh Kamboja telah melakukan kejahatan perang, terutama akibat serangan terhadap fasilitas sipil, termasuk sebuah rumah sakit.

Menanggapi situasi yang memanas, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menggelar pertemuan darurat tertutup pada Jumat malam di New York. Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan pasca-pertemuan, Associated Press melaporkan bahwa seluruh 15 anggota DK menyerukan agar kedua belah pihak segera menghentikan pertempuran, menahan diri, dan menyelesaikan perselisihan melalui jalur damai.

Pertikaian antara Thailand dan Kamboja ini merupakan kelanjutan dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, khususnya di wilayah yang diperebutkan di sekitar Kuil Ta Moan Thom dan kawasan perbatasan lainnya. Situasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Seruan mediasi dari komunitas internasional pun terus mengalir, dengan harapan krisis ini tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

TB Hasanuddin: Sengketa Perbatasan Kamboja–Thailand Harus Diselesaikan Lewat Mekanisme Asean , Peran Indonesia Sangat Penting

JAKARTA (jurnalislam.com)- Perang telah pecah antara Thailand dan Kamboja di sepanjang perbatasan sejak hari Kamis. Perang ini merupakan letupan konflik lama soal sengketa wilayah di sekitar kuil suci Preah Vihear.

Menanggapi ketegangan terbaru antara Kamboja dan Thailand yang dipicu oleh persoalan perbatasan, Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyerukan penyelesaian damai melalui peran aktif ASEAN sebagai organisasi kawasan.

“Karena penyebabnya soal perbatasan, saya menyarankan sebaiknya kedua kepala negara, Kamboja dan Thailand, segera diundang oleh Ketua ASEAN, yaitu Malaysia. Sekretariat ASEAN perlu difungsikan untuk memediasi dan mendamaikan kedua pihak secara regional,” ujar TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (26/7/2025).

Ia juga mendorong agar ASEAN mempertimbangkan menggelar pertemuan tingkat tinggi jika situasi tidak segera mereda. “Jika diperlukan, ASEAN harus mengadakan pertemuan khusus di tingkat kepala negara untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai dan konstruktif,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan damai melalui ASEAN sangat penting untuk menjaga kohesi internal organisasi tersebut. “Masalah antarnegara ASEAN harus diselesaikan oleh ASEAN sendiri. Ini penting untuk menjaga keutuhan dan kredibilitas ASEAN dalam menghadapi tantangan kawasan,” tambahnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk ikut berperan dalam proses perdamaian.

“Sebagai negara besar dan berpengaruh di ASEAN, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara Kamboja dan Thailand. Baik melalui diplomasi bilateral maupun dalam kerangka ASEAN,” katanya.

Diketahui, ketegangan memuncak pada Mei lalu setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat dengan pasukan Thailand di wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, lokasi pertemuan perbatasan antara Thailand, Kamboja, dan Laos.

Kedua pihak saling menuduh dan mengklaim bertindak untuk membela diri. Meski pimpinan militer kedua negara sempat menyatakan niat untuk meredakan situasi, langkah-langkah provokatif terus diambil.

Thailand memperketat pengawasan di pos perbatasan, membatasi lalu lintas warga, hingga mengancam memutus aliran listrik dan internet ke kota-kota perbatasan Kamboja. Sebagai balasan, Kamboja menghentikan impor buah dan sayuran dari Thailand serta melarang penayangan film dan drama Thailand.

Konflik Thailand–Kamboja Memaksa Lebih dari 100 Ribu Warga Mengungsi

THAILAND (jurnalislam.com)– Konflik bersenjata yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 100.000 warga Thailand terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak pecahnya pertempuran pada Kamis (24/7/2025), menjadikan ini sebagai pertempuran perbatasan terburuk dalam lebih dari satu dekade antara kedua negara bertetangga tersebut.

Suara dentuman artileri dan tembakan senjata berat menggema di sepanjang perbatasan, mendorong ribuan warga dari empat provinsi di Thailand, termasuk Surin, untuk mencari perlindungan ke pusat-pusat evakuasi darurat.

Salah satu lokasi pengungsian terbesar berada di gedung olahraga Universitas Surindra Rajabhat di pusat Kota Surin. Hampir 3.000 pengungsi, sebagian besar dari distrik-distrik perbatasan, memadati gedung tersebut. Mereka tidur berdesakan di atas tikar plastik, dengan selimut seadanya, dan membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan dalam kepanikan.

“Saya khawatir tentang rumah kami, hewan-hewan kami, dan tanaman yang telah kami tanam dengan susah payah,” ungkap Thidarat Homhuan (37 tahun) kepada kantor berita AFP. Ia mengungsi bersama sembilan anggota keluarganya, termasuk nenek berusia 87 tahun yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Thidarat berada di sebuah sekolah saat suara tembakan terdengar.

“Saya mendengar suara seperti senapan mesin, lalu dentuman keras artileri. Kekacauan melanda, anak-anak ketakutan. Saya langsung membawa mereka ke bunker sekolah,” ujarnya.

Di tempat penampungan, para pengungsi tidur berdampingan di bawah atap tinggi gedung olahraga, di tengah suara kipas angin dan percakapan pelan yang penuh kecemasan. Lansia terbaring dalam selimut, bayi-bayi diayun dalam buaian darurat, sementara anak-anak berusaha bermain dalam keterbatasan ruang. Bahkan kucing-kucing peliharaan ikut dievakuasi, diletakkan dalam kandang di dekat toilet umum.

Menurut Chai Samoraphum, Direktur Kantor Presiden Universitas Surindra Rajabhat, ini merupakan pertama kalinya kampus tersebut diaktifkan sepenuhnya sebagai pusat evakuasi. Perkuliahan dibatalkan, dan dalam waktu satu jam, kampus berubah menjadi tempat perlindungan darurat. Para pengungsi didistribusikan ke enam lokasi berbeda di dalam area kampus.

“Sebagian besar dari mereka pergi dengan tergesa-gesa. Beberapa memiliki kondisi kesehatan kronis tetapi tidak sempat membawa obat-obatan. Ada juga yang hanya membawa satu atau dua tas kecil,” kata Chai. Ia menambahkan, layanan kesehatan dan dukungan psikologis telah disediakan dengan bantuan rumah sakit provinsi.

Meski sudah berada di zona yang lebih aman, para pengungsi tetap diliputi kekhawatiran dan ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah.

“Kami sekarang jauh dari bahaya, tapi belum tahu sampai kapan di sini,” kata Thidarat.

“Saya ingin pemerintah bertindak tegas. Jangan menunggu hingga ada korban jiwa lebih banyak. Kami sangat bergantung pada negara untuk perlindungan.”

Sementara itu, di pihak Kamboja, sekitar 20.000 penduduk juga telah dievakuasi dari wilayah utara, terutama dari Provinsi Preah Vihear, yang berbatasan langsung dengan Thailand. Informasi ini disampaikan media setempat Khmer Times, mengutip pejabat lokal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Negara-Negara Eropa Terbelah Soal Pengakuan Negara Palestina

PALESTINA (jurnalislam.com)- Sejumlah negara Eropa masih terpecah terkait pengakuan terhadap negara Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Jalur Gaza.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menolak seruan untuk segera mengakui negara Palestina, meskipun sekitar 221 anggota parlemen telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk menyatakan pengakuan tersebut dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan depan.

Meski demikian, Starmer menyatakan dirinya tetap berkomitmen pada solusi dua negara. Ia menekankan bahwa pengakuan Palestina harus menjadi bagian dari “rencana yang lebih luas” yang menjamin solusi damai serta keamanan jangka panjang bagi Israel dan Palestina.

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Dalam wawancaranya dengan harian La Repubblica pada Sabtu (26/7), Meloni menyatakan bahwa pengakuan prematur terhadap negara Palestina justru bisa menjadi kontraproduktif.

“Saya sangat mendukung negara Palestina, tetapi saya tidak mendukung pengakuan sebelum negara itu benar-benar terbentuk,” ujar Meloni.

“Mengakui sesuatu yang belum ada hanya akan menciptakan kesan bahwa masalah telah selesai, padahal kenyataannya belum.”

Sementara itu, pemerintah Jerman menyatakan belum memiliki rencana untuk mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Juru bicara pemerintah pada Jumat (25/7) menyebut bahwa prioritas Berlin saat ini adalah mendorong kemajuan menuju solusi dua negara yang telah lama dinantikan.

Berbeda dengan Inggris, Italia, dan Jerman, Prancis justru menyatakan dukungannya terhadap pengakuan Palestina. Presiden Emmanuel Macron mengumumkan niatnya untuk menyampaikan pengakuan resmi terhadap negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.

Langkah Macron itu menuai kritik dari Israel dan Amerika Serikat. Namun, dalam surat yang dikirim kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Macron menegaskan komitmen Prancis untuk terus melangkah maju dalam pengakuan Palestina serta mendorong negara lain agar mengikuti jejak tersebut.

Menurut basis data Agence France-Presse (AFP), hingga kini sedikitnya 142 dari 193 negara anggota PBB termasuk Prancis telah mengakui negara Palestina yang diproklamasikan oleh para pemimpin Palestina di pengasingan pada tahun 1988. (Bahry)

Sumber: The Guardian

PBB: Pengiriman Bantuan Lewat Udara ke Gaza Tidak Efisien dan Tak Menyelesaikan Masalah

PALESTINA (jurnalislam.com)- Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengkritik keras pengiriman bantuan kemanusiaan lewat udara ke Gaza. Ia menilai metode tersebut tidak efektif dan hanya menjadi pengalih perhatian dari upaya menyelesaikan akar penyebab krisis.

“Pengiriman bantuan lewat udara tidak akan menghentikan kelaparan yang semakin memburuk,” kata Lazzarini dalam pernyataannya.

“Metode ini mahal, tidak efisien, dan bahkan berisiko membahayakan warga sipil yang kelaparan. Ini hanyalah pengalih perhatian dan bentuk penipuan,” tambahnya.

Menurut Lazzarini, kelaparan yang terjadi merupakan hasil dari tindakan manusia dan hanya bisa diatasi dengan kemauan politik. Ia mendesak agar blokade di Gaza dihentikan, akses kemanusiaan dibuka, dan pergerakan orang serta barang dilakukan dengan aman dan bermartabat.

“Memberikan bantuan secara langsung jauh lebih mudah, efektif, cepat, murah, dan aman. Ini juga lebih manusiawi bagi rakyat Gaza,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya keterlibatan Inggris dalam upaya internasional mengirimkan bantuan melalui udara ke Gaza. Pada Jumat (25/7), Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengumumkan bahwa pemerintahnya bekerja sama dengan Yordania dalam rencana pengiriman bantuan udara.

Lebih dari sepertiga anggota parlemen Inggris sebelumnya telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk segera mengakui negara Palestina.

BBC melaporkan, Inggris juga telah mengirimkan tim kecil yang terdiri atas perencana militer dan ahli logistik guna mendukung operasi pengiriman bantuan bersama Yordania. (Bahry)

Sumber: The Guardian

232 Jurnalis Gugur di Gaza, Israel Bikin Jurnalis Kelaparan dan Bungkam

GAZA (jurnalislam.com)– Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi jurnalis di Gaza yang kini menghadapi kelaparan parah di tengah pengepungan Israel yang terus berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan CPJ pada Rabu (23/7), bersamaan dengan lebih dari 100 lembaga kemanusiaan yang menyerukan diakhirinya blokade Israel yang menyebabkan jutaan warga Gaza terancam kelaparan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 100 orang, mayoritas anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan. Israel diketahui menghentikan seluruh aliran bantuan ke Gaza sejak Maret lalu.

Meski sempat sedikit melonggarkan blokade pada akhir Mei melalui program distribusi makanan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF) – yang didukung AS dan Israel – skema tersebut justru menuai kritik tajam dari PBB dan organisasi kemanusiaan internasional. Mereka menyebutnya sebagai “jebakan maut” akibat kekacauan dan kekerasan yang terjadi di lokasi distribusi.

Dilaporkan lebih dari 1.000 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bantuan dari titik distribusi GHF karena ditembaki oleh tentara Israel.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻, 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗠𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗠𝗲𝗹𝗶𝗽𝘂𝘁

Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menyatakan bahwa jurnalis di Gaza kini tak hanya terancam keselamatannya, tetapi juga menderita kelaparan parah.

“Israel membuat jurnalis Gaza kelaparan hingga bungkam. Mereka bukan sekadar reporter, mereka adalah saksi garis depan, yang kini terlantar karena media internasional ditarik keluar dan ditolak masuk,” ujar Qudah.

“Dunia harus bertindak sekarang: lindungi mereka, beri mereka makan, dan biarkan mereka pulih. Keberanian mereka dalam meliput perang selama lebih dari 650 hari tidak boleh dibalas dengan kelaparan,” tegasnya.

Lembaga-lembaga berita internasional seperti AFP, AP, BBC News, dan Reuters juga menyampaikan keprihatinan mereka dalam pernyataan bersama, menyebut jurnalis mereka di Gaza kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup.

“Selama berbulan-bulan, para jurnalis independen ini telah menjadi mata dan telinga dunia di Gaza. Kini mereka menghadapi ancaman kelaparan,” tulis mereka. Mereka juga mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan jurnalis masuk dan keluar dari Gaza serta memastikan akses pangan yang memadai.

𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗔𝗹 𝗝𝗮𝘇𝗲𝗲𝗿𝗮

Sementara itu, reporter Palestina Anas al-Sharif, yang bekerja untuk Al Jazeera, mengaku menjadi target kampanye hasutan oleh militer Israel. Dalam pernyataan di platform X, juru bicara militer Israel untuk dunia Arab, Avichay Adraee, menuduh Al-Sharif sebagai bagian dari “mesin militer Hamas” dan menuding Al Jazeera sebagai saluran media yang memutarbalikkan fakta.

Menanggapi tudingan itu, Al-Sharif menulis:
“Saya, Anas Al-Sharif, adalah seorang jurnalis tanpa afiliasi politik. Satu-satunya misi saya adalah melaporkan kebenaran dari lapangan apa adanya, tanpa bias.”

Ia juga meminta organisasi hak asasi manusia dan kebebasan pers untuk memberi perlindungan atas ancaman yang diterimanya.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗛𝗮𝗺𝗶𝗹 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮

Di hari yang sama, jurnalis Palestina Walaa al-Jaabari tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Kota Gaza. Al-Jaabari, yang tengah hamil, meninggal dunia bersama suami dan empat anaknya dalam serangan tersebut.

Ia dikenal sebagai jurnalis lepas yang pernah bekerja dengan sejumlah media lokal. Dalam unggahan terakhirnya di media sosial, ia menulis:
“Saya tidak takut mati kelaparan… Saya khawatir akan patah hati jika perang gila ini tidak berakhir!”

Kantor Media Pemerintah di Gaza menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang tewas sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 232 orang. Kantor tersebut mengecam pembunuhan terhadap Al-Jaabari, menyebutnya sebagai bagian dari upaya sistematis Israel untuk membungkam suara dan menghalangi pelaporan kejahatan perang yang sedang berlangsung. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera