Berita Terkini

Hamas Terima Usulan Tukar Tawanan dan Gencatan Senjata Sementara

GAZA (jurnalislam.com)– Hamas mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh mediator Qatar dan Mesir. Langkah ini disampaikan pada Senin (18/8/2025) dan dinilai membuka peluang dimulainya kembali perundingan untuk mengakhiri perang Israel di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina.

“Hamas, bersama dengan faksi-faksi Palestina, menyampaikan penerimaan mereka atas proposal yang diajukan kemarin oleh mediator Qatar dan Mesir,” demikian pernyataan singkat Hamas. Media Israel, The Times of Israel dan Channel 12, melaporkan bahwa Tel Aviv telah menerima tanggapan Hamas tersebut.

Menurut sumber yang mengetahui perundingan, proposal tersebut mencakup penghentian sementara operasi militer selama 60 hari. Dalam periode itu, tentara Israel akan direlokasi guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Selain itu, separuh dari 50 tawanan Israel akan ditukar dengan tawanan Palestina.

Sumber yang dikutip Al Jazeera menyebut bahwa kesepakatan ini “menandai awal dari jalan menuju solusi komprehensif.”

Pengumuman Hamas datang setelah Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, melakukan pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo.

𝗣𝗲𝗿𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Meski demikian, pengumuman ini belum menjamin berakhirnya perang. Hamas menginginkan penghentian permanen, sementara Israel hanya bersedia menyetujui gencatan senjata sementara yang memungkinkan dilanjutkannya operasi militer setelah pembebasan tawanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pihaknya tengah mematangkan rencana merebut Kota Gaza.

“Kami telah berbicara mengenai rencana ini. Hamas berada di bawah tekanan berat,” ujarnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Hamas hanya bersedia membahas pembebasan tawanan karena khawatir akan jatuhnya Kota Gaza. Sementara itu, Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich menolak keras setiap bentuk gencatan senjata.

“Hamas mencoba menghentikan tekanan dengan kembali ke kesepakatan parsial. Justru karena alasan inilah kita tidak boleh menyerah dan memberi musuh jalan keluar,” kata Smotrich.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Koresponden Al Jazeera, Hamdah Salhout, melaporkan bahwa militer Israel menghadapi kekurangan personel tempur. Pihak militer telah berulang kali menyerukan wajib militer, baik di dalam maupun luar negeri, untuk menambah kekuatan.

“Mereka mengatakan bertekad melanjutkan rencana merebut Kota Gaza, tetapi belum jelas kapan dan bagaimana akan dilakukan,” kata Salhout.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗽𝗹𝗼𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁

Para mediator diperkirakan segera mengumumkan jadwal dimulainya kembali perundingan. Upaya Qatar dan Mesir sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang langgeng.

Pada Januari lalu, gencatan senjata yang ditengahi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sempat berlaku namun dilanggar Israel pada Maret. Sejak itu, blokade Israel terhadap pasokan bantuan memperparah krisis kemanusiaan, dengan lebih dari 260 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan.

Putaran terakhir perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di Doha berakhir tanpa hasil pada 25 Juli lalu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Mesir dan Qatar Dorong Kesepakatan Gencatan Senjata, Amnesty Tuding Israel Sengaja Lapar­kan Gaza

KAIRO (jurnalislam.com)– Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, yang pada Senin (18/8/2025) meninjau perbatasan Rafah dengan Gaza, menegaskan bahwa kunjungan Perdana Menteri Qatar bertujuan untuk memperkuat upaya bersama menekan Israel dan Hamas agar segera mencapai kesepakatan gencatan senjata.

“Situasi lapangan saat ini di luar imajinasi,” kata Abdelatty, merujuk pada kondisi kemanusiaan lebih dari dua juta penduduk Gaza yang kian memburuk. Badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan adanya krisis besar di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resmi, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bersama PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menegaskan penolakan terhadap pendudukan kembali Jalur Gaza maupun pengusiran warga Palestina. Keduanya juga menekankan pentingnya upaya diplomasi untuk segera mewujudkan gencatan senjata.

𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗔𝗸𝗮𝗱𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶

Abdullah Al-Arian, profesor sejarah Universitas Georgetown di Qatar, menilai kunjungan pejabat tinggi Qatar ke Mesir mencerminkan keseriusan upaya diplomatik. Namun, menurutnya, hambatan utama tetap pada “kurangnya kemauan politik Israel.”

“Israel terus melanjutkan genosida ini dan membawanya ke tingkat yang baru, mengerikan, dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Al-Arian menambahkan, sejarah menunjukkan genosida jarang berakhir melalui negosiasi, melainkan melalui tekanan eksternal atau intervensi internasional. “Dan itu belum terjadi,” tegasnya.

𝗔𝗺𝗻𝗲𝘀𝘁𝘆 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹: 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗿­𝗸𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮

Pada hari yang sama, Amnesty International menuding Israel memberlakukan “kebijakan yang disengaja” untuk membuat warga Gaza kelaparan. Tuduhan itu diperkuat dengan kesaksian warga Palestina yang mengungsi serta laporan tenaga medis yang merawat anak-anak kekurangan gizi.

“Israel sedang melakukan kampanye kelaparan yang disengaja di Jalur Gaza yang diduduki,” demikian pernyataan Amnesty.

PBB dan komunitas internasional pun berulang kali mengecam Israel karena terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dilanda perang tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

LPPOM dan BP PKU MUI DKI Jakarta Luncurkan Program Duta Halal

JAKARTA (jurnalislam.com)– Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) DKI Jakarta menjalin kerja sama strategis dengan Badan Pendidikan Kader Ulama (BP PKU) MUI DKI Jakarta dalam rangka memperkuat peran MUI dalam pelayanan umat.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan oleh Direktur LPPOM MUI DKI Jakarta, Drg. H Deden Edi Soetrisna, MM dan Direktur BP PKU MUI DKI Jakarta, KH. Muladi, Ph.D., serta disaksikan langsung oleh Ketua MUI DKI Jakarta, KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun dan Prof. Dr. Bunyamin Kepala Bidang Pendidikan MUI DKI Jakarta. Penandatanganan kerja sama dilakukan di Cisarua Bogor, Jawa Barat, Senin (18/8/2025).

Melalui kerja sama ini, LPPOM DKI dan BP-PKU MUI DKI meluncurkan Program Duta Halal MUI DKI Jakarta, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mencetak kader-kader muda yang akan berperan sebagai agen sosialisasi dan edukasi halal di tengah masyarakat.

“Program Duta Halal ini menjadi langkah nyata MUI DKI Jakarta dalam mendukung pemerintah memperluas literasi halal. Kami berharap para kader dapat menjadi pionir yang mengajak masyarakat semakin peduli terhadap produk halal,” ujar KH. Muladi, Ph.D., Direktur BP PKU MUI DKI Jakarta.

Sementara itu, Drg. Deden Edi Soetrisna, MM, Direktur LPPOM DKI Jakarta, menambahkan bahwa Duta Halal akan dibekali dengan pendidikan, wawasan, dan keterampilan dalam menyampaikan pentingnya halal, tidak hanya dari sisi agama, tetapi juga kesehatan, etika bisnis, dan kepentingan masyarakat luas.

Prof. Dr. Bunyamin, Kepala Bidang Pendidikan MUI DKI Jakarta yang membidangi BP PKU, juga menegaskan pentingnya implementasi ilmu kader ulama.

“Peran Kader Ulama bukan hanya sebatas ilmu teori, tetapi juga ilmu terapan yang langsung bermanfaat bagi masyarakat, termasuk dalam memberikan edukasi tentang halal. Hal ini akan membuat masyarakat semakin memahami pentingnya sertifikasi halal,” ujarnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan:
• Masyarakat semakin memahami kewajiban halal dan berkomitmen menghadirkan produk halal dalam usahanya.
• Citra MUI semakin kuat sebagai lembaga pembina halal yang aktif, solutif, dan relevan dengan kebutuhan umat.
• Ekosistem halal di DKI Jakarta dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Ketua MUI DKI Jakarta, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini.

“Program ini adalah bentuk nyata pengabdian MUI kepada umat. Melalui Duta Halal, kita ingin memastikan Jakarta menjadi motor penggerak ekosistem halal di Indonesia,” tegasnya.

Dengan sinergi LPPOM MUI DKI dan BP PKU MUI DKI, diharapkan Program Duta Halal menjadi inspirasi dan teladan dalam memperkuat pelayanan umat sekaligus mewujudkan visi besar Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

TNI Laksanakan Misi Kemanusiaan ke Gaza pada HUT ke-80 RI

JAKARTA (jurnalislam.com)– Atas perintah Presiden Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali melaksanakan misi operasi bantuan kemanusiaan internasional bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza melalui Satgas TNI Garuda Merah Putih-II (GMP-II) pada Minggu (17/8/2025).

Dua pesawat Hercules C-130J TNI AU dari Skadron Udara 31 dikerahkan dengan membawa 66 personel gabungan. Operasi ini dipimpin oleh Komandan Wing I Lanud Halim Perdanakusuma, Kolonel Pnb Puguh Julianto, yang bertugas sebagai Mission Commander.

Setelah tiba di Pangkalan Udara King Abdullah II, Yordania, Satgas GMP-II bergabung dalam operasi multinasional Solidarity Path Operation-2 (SPO-2) yang dipimpin Royal Jordanian Air Force (RJAF). Sebelum pelaksanaan dropping, pasukan melaksanakan persiapan dan pengemasan bundel logistik bersama negara-negara peserta SPO-2.

Misi kemanusiaan ini berlangsung penuh makna karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 17,8 ton bantuan dijatuhkan dari udara menuju Jalur Gaza, jumlah yang dipilih sebagai simbol tanggal dan bulan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

“Momentum Hari Kemerdekaan tidak hanya kita rayakan dengan upacara, tetapi juga dengan aksi nyata kemanusiaan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Gaza,” ujar Kolonel Pnb Puguh Julianto.

Menurut Puguh, total bantuan kemanusiaan yang dibawa mencapai sekitar 800 ton, dengan tahap awal dropping minimal ±45 ton logistik. Bantuan meliputi bahan makanan pokok, makanan siap saji, serta sembako dari BAZNAS, ditambah 1.000 dus makanan instan dari Kementerian Pertahanan RI.

Puguh menegaskan, partisipasi TNI dalam SPO-2 merupakan bukti nyata solidaritas bangsa Indonesia terhadap rakyat Palestina. Melalui metode airdrop, bantuan dapat menjangkau wilayah yang sulit ditembus jalur darat.

“Kehadiran Satgas Garuda Merah Putih-II menjadi wujud kepedulian bangsa Indonesia di panggung internasional, sejalan dengan semangat peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: tni.mil.id

Video Baru Al-Qassam Klaim Serangan yang Menewaskan Tentara Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Senin (18/8/2025) merilis sebuah video terbaru yang menampilkan rangkaian penyergapan terhadap pasukan Israel di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Al-Qassam menyebut bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi bertajuk “Batu Daud”. Video itu menampilkan aksi penyerangan yang menargetkan kendaraan militer, menghancurkan posisi, serta menyerang perkumpulan pasukan Israel di sepanjang poros Khan Yunis dan Salah al-Din, selatan Jalur Gaza.

“Para pejuang kami menargetkan pasukan tentara pendudukan yang berlindung di dalam sebuah rumah dengan rudal TBG dan melepaskan tembakan dengan senapan mesin ke arah seorang penembak jitu yang ditempatkan di dalam salah satu rumah,” demikian pernyataan Brigade Al-Qassam dalam rilisnya.

Al-Qassam juga menambahkan, “Mereka menargetkan dua pengangkut personel Zionis dengan dua pelaku bom yang ditempatkan di dalam kokpit, dan satu pengangkut personel Nimr dengan rudal Al-Yassin 105. Saat para pejuang mundur dari daerah penyergapan, dua rumah tempat tentara pendudukan berlindung menjadi sasaran rudal tandem dan Al-Yassin 105.”

Kelompok itu mengklaim, sejumlah tentara Israel tewas dan terluka selama penyergapan yang berlangsung pada Rabu (13/8) di daerah Al-Barasi, selatan permukiman Al-Zeitoun, Kota Gaza.

Selain itu, dalam keterangan terpisah, Brigade Al-Qassam melaporkan pihaknya bersama Brigade Saraya Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, turut menyerang titik pertemuan pasukan Israel dengan bombardir mortir dan roket Rajum.

Pada Sabtu (16/8), Al-Qassam juga menyatakan telah berhasil menargetkan sebuah tank Merkava Israel dengan rudal Al-Yassin 105 di dekat Persimpangan Dawla, selatan permukiman Zeitoun, Kota Gaza.

Sumber: Situs Resmi Hamas

Dalam lapar, mereka menolong kita-Palestina dan hutang solidaritas Indonesia

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Delapan dekade bukan waktu sebentar bagi sebuah bangsa untuk berdiri, tumbuh, dan belajar memaknai kemerdekaannya. Indonesia hari ini telah menapaki usia ke-80 tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Kita mengenang jasa para pahlawan, mengibarkan bendera, menyanyikan lagu perjuangan, dan merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan.

Namun di tengah gegap gempita perayaan, ada baiknya kita berhenti sejenak merenung dalam diam. Sebab kemerdekaan Indonesia sejatinya bukan hanya buah dari keringat dan darah anak bangsanya sendiri, tapi juga terbangun dari doa-doa yang lirih, dari tangan-tangan yang tak terlihat, dan dari hati-hati tulus di tanah yang jauh, yang tak pernah lelah berharap kebaikan bagi perjuangan Indonesia.

Salah satunya datang dari Palestina. Pada tahun 1948, ketika Indonesia masih tertatih menghadapi Agresi Militer Belanda dan dunia belum sepenuhnya mengakui kedaulatan negeri ini, sebuah dukungan mengalir dari tanah yang jauh. Syekh Ali Taher, seorang tokoh Palestina, mengirimkan bantuan sebesar USD 150.000 untuk mendukung perjuangan diplomasi Indonesia. Sebuah angka yang sangat besar di zamannya dan menjadi jauh lebih berarti karena datang dari bangsa yang saat itu, dan bahkan hingga kini, belum menikmati kemerdekaannya sendiri.

Dukungan-dukungan inilah yang membuat Wakil Presiden Bung Hatta menemui Mufti Palestina dan tokoh-tokoh Arab lainnya seusai menghadiri Konferensi Meja Bundar tahun 1949. “Beliau mengambil kesempatan itu untuk mengucapkan terimakasih kepada segala pihak yang menyokong perjuangan Indonesia sampai menang,” tulis Zein Hassan dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri.

Namun, dukungan itu tak berhenti di halaman sejarah kemerdekaan. Ia melampaui batas waktu dan terus hadir dalam bentuk kepedulian yang nyata. Jauh setelah Indonesia merdeka, Palestina tetap menunjukkan cintanya.

Ketika Yogyakarta dilanda gempa pada tahun 2006, rakyat Palestina yang hidup di bawah penjajahan dan blokade yang menyesakkan ikut menggalang dana untuk membantu. Di tengah perut yang lapar dan kehidupan yang serba kekurangan, mereka tetap menyisihkan apa yang mereka punya. Sebab bagi mereka, memberi bukan soal mampu, tapi soal peduli.

Ketika Sumatera Barat dilanda gempa pada tahun 2009, mereka kembali hadir mengirimkan bantuan dari negeri yang sendiri masih terluka. Dan saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2021, mereka kembali menunjukkan kepeduliannya: mengirimkan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis Indonesia.

Padahal mereka sendiri hidup dalam kekurangan, di bawah penjajahan, di tengah krisis kemanusiaan yang tak pernah reda. Tapi bagi mereka, solidaritas bukan soal kelapangan, melainkan soal kemanusiaan. Bukan soal berapa yang bisa diberi, tapi seberapa tulus hati ikut peduli.

Kisah-kisah ini bukan sekadar fragmen sejarah yang patut dikenang ia adalah cermin bagi kita semua. Bahwa kemerdekaan tak pernah lahir sendirian, dan bahwa solidaritas yang paling murni tak selalu datang dari mereka yang kuat, tapi justru dari hati-hati yang penuh empati, meski dalam kesempitan.

Hari ini, saat kita menikmati kemerdekaan penuh selama 80 tahun, Palestina masih berjuang untuk bebas. Mereka belum merdeka, tetapi mereka tak pernah absen untuk Indonesia di tengah genosida, kelaparan, dan kehilangan nyawa. Dari era revolusi hingga reformasi, ada sebuah fakta yang harus terus kita renungkan: Meski belum Merdeka, Palestina tak pernah meninggalkan kita.

Catatan dalam seminar bertajuk Peran Palestina dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Poltekkes II Kementerian Kesehatan, Jakarta pada 16 Agustus 2025.

UBN Pimpin Ribuan Massa di Bogor, Serukan Dukungan untuk Palestina Lewat Indonesia Peace Convoy

BOGOR (jurnalislam.com)– Ribuan masyarakat Bogor dan sekitarnya mengikuti aksi solidaritas Palestina bertajuk Indonesia Peace Convoy (IPC) pada Sabtu (16/8/2025). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) sebagai bentuk pernyataan sikap masyarakat Indonesia yang menolak kekejaman Israel terhadap warga Gaza.

Aksi konvoi ini digelar dalam momen peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Para peserta memulai perjalanan dari Masjid Al-Muttaqin, berkeliling kota dengan menggunakan kendaraan mayoritas sepeda motor dan kembali ke titik awal untuk mengikuti orasi kebangsaan.

“Ini bukan sekadar konvoi. Ini adalah suara hati rakyat Indonesia untuk menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya hak bangsa kita, tetapi juga hak rakyat Palestina,” kata Ustaz Bachtiar Nasir dalam orasinya yang menjadi puncak acara.

Meski terik matahari menyengat, semangat massa tak surut. Mereka membawa bendera Indonesia dan Palestina, mengumandangkan takbir, serta meneriakkan yel-yel dukungan seperti “Stop starving Gaza!” dan “Palestina merdeka!”. Suasana jalanan Bogor berubah menjadi lautan solidaritas, dengan warga sekitar ikut memberi dukungan.

Dalam orasinya, UBN menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza bukan sekadar akibat perang, melainkan strategi sistematis untuk melemahkan perlawanan rakyat Palestina. “Persoalan kita bukan sekadar melihat Gaza yang kelaparan. Gaza tidak kelaparan. Gaza dilaparkan!” seru UBN disambut pekikan takbir para massa yang hadir.

Ia juga mengkritik sikap dunia internasional yang dinilai lamban. Menurutnya, rakyat Palestina tidak membutuhkan evakuasi massal ke luar negeri, tetapi dukungan konkret agar mereka tetap bertahan di tanah mereka. “Yang mereka butuhkan bukan dievakuasi ke negara lain. Mereka ingin bertahan di tanah airnya. Kita yang harus membantu dengan segala cara,” ujarnya.

UBN mengungkapkan bahwa saat ini tengah digalang gerakan Global Civil Society untuk mematahkan blokade Gaza melalui pengiriman kapal bantuan dari berbagai negara.

Ia juga menyampaikan tekad membangun kembali Gaza menjadi kota metropolitan tanpa bergantung pada bantuan Amerika atau Israel. “14 ribu ton makanan, obat-obatan, air bersih, hingga kendaraan siap kita kirim. Kita akan bangun kembali Gaza, kita tidak butuh bantuan Amerika,” katanya.

Aksi diakhiri dengan pembacaan doa bersama. UBN mengajak seluruh peserta mengangkat tangan, mengucap syahadat, takbir, dan memohon agar Allah menguatkan rakyat Palestina. “Ya Allah, bersama syahadat kami, kirimkan malaikat-Mu mengguncang jiwa-jiwa tentara Israel,” ucapnya dengan suara lantang yang menggema di pelataran Masjid Al-Muttaqin.

Aksi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah masa lalu Indonesia, tetapi juga tentang solidaritas terhadap bangsa lain yang masih dijajah. “Kalau kita dulu berjuang untuk merdeka, mengapa kita diam melihat Palestina masih dijajah?” pungkas UBN.

Israel Umumkan Evakuasi Paksa Warga Palestina dari Kota Gaza, Dalih Hancurkan Benteng Hamas

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel mengumumkan persiapan untuk mengevakuasi paksa warga Palestina dari apa yang disebut sebagai “zona pertempuran” di Kota Gaza menuju wilayah selatan, mulai Ahad (17/8/2025). Langkah ini dilakukan beberapa hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan operasi militer baru untuk merebut kendali pusat kota terbesar di Jalur Gaza.

Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, mengatakan pada Sabtu (16/8) bahwa warga akan diberikan tenda dan perlengkapan perlindungan yang akan diangkut melalui penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga bantuan internasional. Namun, hingga kini PBB belum mengonfirmasi perannya dalam rencana tersebut.

Pengumuman ini muncul kurang dari sepekan setelah Netanyahu menyatakan militer mendapat lampu hijau untuk “membongkar” dua benteng Hamas yang tersisa: Kota Gaza di utara dan al-Mawasi di selatan. Belum jelas apakah bantuan penampungan itu ditujukan bagi sekitar satu juta penduduk Kota Gaza serta di mana lokasi relokasi yang disiapkan di Gaza selatan, termasuk kemungkinan ke wilayah Rafah dekat perbatasan Mesir.

PBB sebelumnya telah memperingatkan bahwa ribuan keluarga Palestina berisiko menghadapi kondisi kemanusiaan yang semakin memprihatinkan bila operasi di Kota Gaza berlanjut.

Kelompok Jihad Islam, sekutu Hamas, menyebut rencana evakuasi Israel sebagai bagian dari “serangan brutal untuk menduduki Kota Gaza” dan menilainya sebagai penghinaan terang-terangan terhadap hukum internasional.

“Memaksa orang mengungsi di tengah kelaparan, pembantaian, dan pengungsian adalah kejahatan berkelanjutan terhadap kemanusiaan,” kata kelompok tersebut.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗨𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻

Sementara itu, pasukan Israel terus meningkatkan operasi di pinggiran Kota Gaza. Warga di lingkungan Zeitoun dan Shujayea melaporkan gempuran udara dan tembakan tank. Menurut kantor berita Wafa, sebuah drone Israel menargetkan warga di daerah Asqaula, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.

Serangan lain menghantam sebuah rumah di dekat Masjid al-Alami di Jalan az-Zarqa, timur Kota Gaza, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.

Di selatan Gaza, perkemahan pengungsi al-Mawasi yang sebelumnya ditetapkan Israel sebagai “zona kemanusiaan” juga diserang pada Sabtu. Serangan udara menewaskan Motasem al-Batta, istrinya, dan bayi perempuan mereka di dalam tenda. “Dua setengah bulan, apa yang telah dia lakukan?” ujar tetangga keluarga tersebut, Fathi Shubeir, kepada Associated Press.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝗶𝘇𝗶

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 61.827 orang tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Dari jumlah itu, 251 meninggal akibat malnutrisi, termasuk 11 orang seorang anak di antaranya dalam 24 jam terakhir.

Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, menyebut lebih dari 200 pasien berada dalam kondisi kritis akibat kelangkaan obat dan gizi buruk. WHO melaporkan sekitar 14.800 pasien membutuhkan perawatan medis penyelamat nyawa yang tidak tersedia di Gaza.

Di Pisa, Italia, seorang perempuan Palestina berusia 20 tahun yang dievakuasi dengan penerbangan kemanusiaan meninggal dunia pada Jumat (15/8) akibat kondisi malnutrisi parah.

Menurut Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, sekitar 40.000 bayi menderita gizi buruk akut. Hanya 10 persen dari kebutuhan pangan harian yang berhasil masuk ke Gaza akibat pembatasan bantuan Israel, kata Amjad Shawa dari Jaringan LSM Palestina.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Sementara itu, keluarga dari 50 sandera Israel yang masih ditahan di Gaza merilis video terbaru yang menunjukkan kondisi kerabat mereka yang kurus dan meminta makanan. Mereka menyerukan aksi protes nasional pada Ahad (17/8).

Netanyahu menolak kritik bahwa operasi militer akan mengancam nyawa para sandera, dengan alasan Israel “tidak punya pilihan” selain menyerang Hamas. Mobilisasi pasukan Israel diperkirakan akan berlangsung berminggu-minggu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Israel Lancarkan Kampanye Sistematis Hapus Keberadaan Kristen di Palestina

RAMALLAH (jurnalislam.com)– Komite Tinggi Presiden Urusan Gereja di Palestina menuduh Israel tengah melancarkan kampanye sistematis untuk menghapus keberadaan umat Kristen di Tanah Suci. Tuduhan itu disampaikan melalui surat resmi kepada para pemimpin Kristen global pada Jumat (15/8/2025).

Dalam surat tersebut, komite menyoroti meningkatnya serangan terhadap gereja-gereja di Palestina, termasuk serangan langsung terhadap Patriarkat Ortodoks di Yerusalem.

“Serangan ini merupakan bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan menghancurkan keberadaan umat Kristen yang autentik di Palestina dan melucuti tanah dari lembaga-lembaga keagamaan bersejarahnya,” bunyi pernyataan itu.

Komite juga mengungkapkan bahwa tanah milik Gereja Ortodoks di sekitar Biara Santo Gerasimus di Deir Hijleh, dekat Yerikho, menjadi sasaran perluasan permukiman Israel. Sejak Oktober 2023, pos-pos ilegal baru didirikan di wilayah tersebut, yang menurut komite, “mengancam langsung karakter historis dan sakralnya.”

Ramzi Khouri, Ketua Komite Presiden Tinggi untuk Urusan Gereja sekaligus anggota Komite Eksekutif PLO, menegaskan bahwa langkah-langkah Israel tersebut merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk mengubah identitas Yerusalem.

“Upaya ini bertujuan menghapus karakter agama dan budaya kota serta pada akhirnya menyingkirkan keberadaan Palestina di Yerusalem,” ujarnya.

Selain itu, otoritas Israel disebut telah membekukan rekening bank Patriarkat dan mengenakan pajak yang dinilai melumpuhkan. Kebijakan tersebut, menurut komite, “sangat mengancam kemampuan Gereja untuk menyediakan layanan spiritual, kemanusiaan, dan komunitas.”

Komite juga mengecam tekanan Israel terhadap gereja-gereja bersejarah di Yerusalem agar membayar pajak, sembari mengizinkan pemukim Israel mengambil alih properti milik gereja. Diamnya komunitas internasional dan gereja-gereja dunia disebut sebagai “lampu hijau bagi kelanjutan tindakan opresif ini.”

“Melindungi gereja-gereja Palestina adalah tanggung jawab kolektif dan amanah bersejarah,” tegas komite.

Serangan Israel terhadap gereja di Gaza turut memperkuat tudingan tersebut. Pada Juli lalu, serangan ke Gereja Keluarga Kudus menewaskan tiga orang, termasuk seorang petugas kebersihan berusia 60 tahun dan seorang perempuan berusia 84 tahun, serta melukai beberapa orang, termasuk pastor paroki. Israel juga disebut menargetkan Gereja Baptis Gaza dan Gereja Saint Porphyrius. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Percepat Pengeboman Gaza, Dunia Kecam Rencana Netanyahu Bentuk “Israel Raya”

GAZA (jurnalislam.com)– Pasukan Israel mempercepat serangan udara di Kota Gaza setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam beberapa pekan terakhir mengumumkan rencana dimulainya pendudukan di wilayah tersebut.

Serangan masif itu memaksa ribuan warga yang sebelumnya telah berulang kali mengungsi kini terjebak tanpa jalan keluar. Laporan menyebutkan pengeboman berlangsung begitu intens hingga tidak ada jalur aman untuk melarikan diri.

Koresponden Al Jazeera di lapangan melaporkan bahwa lingkungan Zeitoun “sedang dihapus dari peta” akibat gempuran tanpa henti Israel. Warga di kawasan itu juga tidak berani meninggalkan rumah karena khawatir menjadi sasaran.

Pada Sabtu pagi (16/8/2025), sedikitnya dua warga Palestina tewas akibat serangan Israel yang menyasar antrean warga di pusat distribusi bantuan dekat Rafah. Sehari sebelumnya, sedikitnya 16 orang juga tewas di dekat lokasi distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

Sejak fajar Sabtu, delapan warga Palestina dilaporkan tewas di Gaza tengah dan selatan, termasuk empat anak-anak di kamp pengungsi Bureij. Sementara itu, Kantor HAM PBB menyebut sejak akhir Mei saat GHF mulai beroperasi sedikitnya 1.760 warga Palestina meninggal saat menunggu bantuan.

Tragedi juga terjadi di laut, seorang nelayan tewas dan seorang lainnya terluka akibat tembakan Israel ketika mereka berusaha mencari makanan di tengah kelaparan berkepanjangan. Pada Jumat (15/8), satu anak Gaza kembali meninggal akibat malnutrisi, sehingga total korban kelaparan mencapai 240 jiwa, termasuk 107 anak-anak.

Kecaman internasional terus menguat. Sebanyak 31 negara Arab dan Islam, Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta Dewan Kerja Sama Teluk menilai rencana Netanyahu membentuk “Israel Raya” sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Konsep “Israel Raya” dipahami mencakup wilayah Tepi Barat, Gaza, Dataran Tinggi Golan di Suriah, bahkan sebagian Semenanjung Sinai di Mesir dan Yordania.

Selain itu, 10 penerima Hadiah Nobel juga mengirimkan surat terbuka kepada Netanyahu. Mereka mendesak Israel menghentikan rencana pendudukan Gaza dan membuka akses bantuan kemanusiaan. Di antara penandatangan surat itu terdapat ekonom terkemuka Edmund S. Phelps, Christopher A. Pissarides, dan Joseph E. Stiglitz. Mereka menyoroti kelaparan paksa di Gaza serta data PBB yang mencatat lonjakan harga pangan di wilayah tersebut.

Sementara itu, media Israel melaporkan para mediator tengah mengintensifkan upaya untuk mencapai kesepakatan di Kairo. Namun, sumber diplomatik Israel menyebut pemerintah tidak menaruh harapan besar terhadap proses tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA