Berita Terkini

PBB: Israel Terus Bunuh Warga Palestina di Gaza Meski Ada Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)— Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Israel terus melakukan pembunuhan terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak pekan lalu.

Petugas medis di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis melaporkan bahwa dua warga Palestina tewas dalam serangan terpisah oleh Israel pada Kamis pagi (16/10).

Seorang pria dilaporkan tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di Bani Suheila, wilayah selatan Khan Younis. Sementara itu, seorang lainnya meninggal dunia karena luka yang dideritanya awal pekan ini di dekat Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Kota Gaza.

Sejak gencatan senjata dimulai pada Jumat lalu, puluhan jenazah telah ditemukan dari reruntuhan bangunan di berbagai wilayah Gaza, dan sedikitnya tiga orang kembali tewas akibat serangan baru Israel.

PBB menyebut pelanggaran-pelanggaran ini menunjukkan bahwa kondisi gencatan senjata masih “rapuh dan berbahaya”, menyusul dua tahun pemboman tanpa henti yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

𝗣𝗕𝗕 𝗦𝗲𝗿𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Kepala Badan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, dalam konferensi di Kairo menyebut Gaza kini menjadi “tanah terlantar” dan mendesak komunitas internasional untuk menunjukkan “kemurahan hati dan akses nyata” agar gencatan senjata tidak runtuh.

“Kami membutuhkan dana, kami membutuhkan akses, dan kami membutuhkan perjanjian damai ini untuk dipertahankan,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Tentara Israel Akui Hamas Izinkan Ibadah dan Beri Taurat Selama Ditawan

GAZA (jurnalislam.com)— Seorang tentara Israel yang baru-baru ini dibebaskan oleh Hamas mengungkapkan bahwa kelompok perlawanan Palestina itu memperlakukannya dengan baik, bahkan memfasilitasi dirinya untuk tetap menjalankan ibadah Yahudi selama masa penawanan di Gaza.

Matan Angrest, tentara Israel yang dibebaskan pada Senin (13/10), mengatakan kepada Channel 13 Israel bahwa ia meminta perlengkapan ibadah seperti tefillin (filakteri yang digunakan saat ibadah), sebuah buku doa, dan gulungan Taurat kepada Hamas.

“Hamas memenuhi permintaan itu. Mereka memberikannya kepada saya, barang-barang tersebut diambil dari tempat yang sebelumnya diduduki tentara Israel di Gaza,” ungkap Angrest.

Ia menuturkan bahwa selama masa penahanan di terowongan Gaza, ia tetap menjalankan doa tiga kali sehari dan selamat dari beberapa serangan udara Israel yang menghantam wilayah dekat tempat ia ditahan.

Perlakuan terhadap para tawanan oleh sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, kerap menarik perhatian publik. Dalam beberapa pembebasan sebelumnya, para tawanan yang dilepaskan terlihat melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada para pejuang yang menjaga mereka.

Hamas berulang kali menegaskan bahwa mereka berupaya melindungi nyawa para tawanan dan memperingatkan bahwa pemboman “tanpa pandang bulu dan berdarah” oleh Israel di Gaza justru membahayakan para tawanan tersebut.

Dalam dua tahun terakhir, operasi militer Israel di Gaza dilaporkan telah menyebabkan 26 tawanan tewas, sebagian akibat serangan udara Israel sendiri atau kondisi penahanan yang memburuk akibat pemboman.

Hamas menangkap sekitar 251 tawanan dalam serangan terhadap wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.

Salah satu insiden paling disorot terjadi pada Desember 2023, ketika tentara Israel menembak mati tiga tawanan Israel yang saat itu sedang mengibarkan bendera putih. Militer Israel kemudian mengakui tindakan tersebut sebagai “kesalahan tragis”.

Pada 9 Februari 2024, militer Israel juga mengumumkan hasil penyelidikan bahwa seorang tawanan bernama Yossi Sharabi, warga Kibbutz Be’eri di dekat perbatasan Gaza, “kemungkinan tewas” akibat serangan udara Israel. Pihak kibbutz sendiri telah mengumumkan kematiannya sebulan sebelumnya.

Sejak awal pekan ini, Hamas telah membebaskan 20 tawanan Israel hidup-hidup dan menyerahkan jenazah 10 tawanan lainnya pada Rabu malam (15/10) sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Kelompok tersebut menyebut proses evakuasi jenazah lainnya masih terkendala karena minimnya peralatan dan intensitas pemboman Israel yang menyebabkan kerusakan besar serta menghalangi akses ke sejumlah area.

Sementara itu, Israel dilaporkan telah membebaskan 250 warga Palestina yang divonis seumur hidup, serta 1.718 tahanan lainnya yang ditangkap di Gaza setelah 8 Oktober 2023.

Foto-foto pembebasan tawanan Israel menunjukkan mereka tampak bersih dan tersenyum berbanding terbalik dengan kondisi para tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel.

Rekaman video menunjukkan tahanan Palestina terlihat lemah, kelelahan, dan trauma setelah mengalami penahanan panjang yang disertai penyiksaan. Sejumlah lembaga hak asasi manusia juga melaporkan adanya kekerasan fisik, pemerkosaan, serta perampasan kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan di penjara-penjara Israel.

Lebih dari 10.000 warga Palestina masih mendekam di penjara Israel, termasuk anak-anak dan perempuan. Banyak di antaranya ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan di bawah status “penahanan administratif”.

Didukung Amerika Serikat, agresi Israel di Gaza sejak 8 Oktober 2023 hingga kini telah menewaskan sedikitnya 67.913 warga Palestina dan melukai 170.134 orang lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. (Bahry)

Sumber: TNA

DSKS Tegaskan Dukungan untuk Ulama, Desak KPI Sanksi TRANS7

SURAKARTA (jurnalislam.com)— Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menyampaikan kecaman keras terhadap program Xpose Uncensored yang tayang di stasiun televisi TRANS7 pada 13 Oktober 2025. Tayangan tersebut dinilai telah memuat ujaran dan narasi yang melecehkan KH. Anwar Manshur serta lembaga Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Dalam pernyataan sikap bernomor 058/SEK/DSKS/X/2025 yang diterima redaksi pada Rabu (15/10/2025), DSKS menilai siaran itu telah melukai perasaan umat Islam dan merendahkan martabat para guru agama.

“Kami mengecam keras segala bentuk siaran televisi, konten media, atau publikasi apa pun yang mengandung penghinaan, pelecehan, atau pencemaran nama baik terhadap ustadz, kiai, maupun lembaga pendidikan Islam,” ungkap Rois Tanfidzi DSKS Ustadz Abdul Rachim Ba’asyir dalam pernyataannya.

DSKS juga menuntut pihak TRANS7 untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada KH. Anwar Manshur melalui media nasional serta melakukan klarifikasi resmi atas tayangan tersebut.

Selain itu, DSKS mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar segera menegakkan kode etik penyiaran dan menjatuhkan sanksi administratif terhadap stasiun televisi yang bersangkutan.

Dalam butir lainnya, DSKS menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) apabila kasus ini dibawa ke ranah hukum.

Ustadz Abdul Rachim juga mengimbau seluruh media massa dan kreator konten agar lebih berhati-hati dalam menayangkan materi yang menyangkut tokoh agama, pesantren, dan lembaga dakwah.

“Dengan tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik serta nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan,” katanya.

“Menegaskan dukungan penuh kepada para ustadz dan kiai dalam menjalankan tugas mulia mereka membimbing umat dan menjaga moralitas bangsa,” pungkasnya.

Trump Umumkan “Fase Kedua” Gencatan Senjata Gaza, Hamas Akan Pulangkan Jenazah Tawanan Israel

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa sudah waktunya untuk beralih ke fase berikutnya dari kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, karena pihak Hamas akan memulangkan lebih banyak jenazah tawanan Israel.

“Kedua puluh sandera telah kembali dan merasa sebaik yang diharapkan. Beban berat telah terangkat, tetapi pekerjaan belum selesai,” kata Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (14/10).

“Jenazah yang disandera belum dipulangkan, seperti yang dijanjikan! Fase kedua dimulai sekarang juga!” tulisnya.

Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump kembali dari kunjungan singkat ke Israel dan Mesir, yang menjadi bagian dari upaya diplomatiknya dalam memperkuat kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.

Menurut seorang pejabat yang terlibat dalam operasi pemulangan tawanan, Hamas telah memberi tahu para mediator bahwa mereka akan memindahkan jenazah empat tawanan Israel lainnya yang telah meninggal ke pihak Israel pada pukul 19.00 GMT, Selasa malam, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Selama kunjungan tersebut, Trump mencanangkan apa yang ia sebut sebagai “fajar bersejarah bagi Timur Tengah yang baru”, setelah para pemimpin regional menandatangani deklarasi untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza dan membuka jalur diplomasi baru.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, 20 tawanan Israel yang masih hidup dibebaskan oleh Hamas tak lama sebelum Trump tiba di Tel Aviv.

Namun, meskipun Hamas telah mengembalikan empat jenazah tawanan Israel pada hari Senin, kelompok perlawanan itu masih menahan 24 jenazah lainnya, yang diperkirakan akan dikembalikan secara bertahap sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, pihak Palestina di Gaza melaporkan bahwa sebuah rumah sakit setempat telah menerima 45 jenazah warga Palestina yang diserahkan kembali oleh Israel sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran jenazah dan penghentian perang.

Perjanjian gencatan senjata ini menjadi bagian dari inisiatif perdamaian regional yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar, dengan dukungan langsung dari pemerintahan Trump, menyusul dua tahun agresi Israel yang menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan menyebabkan kehancuran besar di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Unit Bayangan Hamas Muncul Saat Pertukaran Tawanan, Israel Akui Hamas Masih Kuasai Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), menyampaikan penghormatan khusus kepada “Unit Bayangan” pada Selasa (14/10), menyusul penyerahan sejumlah tentara Israel yang ditawan oleh perlawanan Palestina.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui kanal Telegram resminya, Brigade Al-Qassam menulis:

“Penghormatan yang pantas bagi para tentara tak dikenal dari Unit Bayangan.”

Mereka menggambarkan unit tersebut sebagai kelompok yang bertanggung jawab menjaga dan menyembunyikan tawanan Israel di Jalur Gaza, di tengah upaya intensif penjajah Zionis untuk mengungkap keberadaan para tawanan tersebut.

Brigade Al-Qassam menambahkan, penghormatan itu diberikan untuk para anggota unit yang “melindungi para tawanan musuh selama dua tahun Intifada Al-Aqsa di bawah kondisi paling sulit, mengorbankan tenaga dan darah mereka hingga janji perlawanan untuk membebaskan para tawanan Palestina dapat terpenuhi.”

Unit Bayangan dikenal beroperasi secara sangat rahasia karena sensitifnya misi mereka, yakni memastikan keamanan tawanan Israel di Gaza dan menjaga kerahasiaan penuh demi keberhasilan operasi pertukaran tawanan di masa mendatang.

Keberadaan unit ini pertama kali diakui secara publik pada tahun 2016, satu dekade setelah pembentukannya. Saat itu, terungkap bahwa mereka turut mengawal tawanan Israel Gilad Shalit operasi yang kemudian menghasilkan kesepakatan pertukaran tawanan besar antara Hamas dan Israel.

Menjelang pembebasan tawanan terbaru pada Senin (13/10), anggota unit tersebut bahkan mengizinkan para tawanan berbicara melalui telepon dengan keluarga mereka. Salah seorang anggota, dalam rekaman yang beredar, berbicara dalam bahasa Ibrani dan meminta agar percakapan itu disebarluaskan agar media Israel menyiarkan rekaman dari dalam Gaza.

Media Israel, Channel 12, kemudian melaporkan kemunculan kembali “Unit Bayangan Hamas” yang bertanggung jawab mengamankan para tawanan selama proses pembebasan tahap pertama di Kota Gaza.

Kehadiran unit tersebut, menurut laporan itu, memicu kemarahan di kalangan analis Israel yang menilai bahwa kemunculan publik Unit Bayangan merupakan bukti bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, titik.” (Bahry)

Sumber: PC

Sembilan Warga Sipil Palestina Gugur Sejak Gencatan Senjata Gaza Diberlakukan

GAZA (jurnalislam.com)– Sedikitnya sembilan warga sipil Palestina gugur sejak gencatan senjata Gaza diberlakukan, kata pejabat kesehatan pada Selasa (14/10). Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat agresi militer Israel yang telah berlangsung selama dua tahun terus meningkat.

Menurut kantor berita resmi Palestina, Wafa, tujuh orang gugur pada Selasa pagi, sementara dua lainnya meninggal akibat luka-luka yang diderita dari serangan Israel sebelumnya.

Sebuah pesawat nirawak Israel dilaporkan menewaskan lima warga Palestina ketika mereka sedang memeriksa rumah mereka di lingkungan Shujaiyah, Kota Gaza.

Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa pasukannya telah menewaskan sejumlah orang di wilayah tersebut. Namun, dalam pernyataannya di Telegram, militer hanya menyebut para korban sebagai “tersangka” yang mendekati pasukan tanpa memberikan bukti apa pun.

“Sejumlah tersangka telah diidentifikasi melintasi Garis Kuning dan mendekati pasukan IDF yang beroperasi di Jalur Gaza utara, yang merupakan pelanggaran perjanjian,” bunyi pernyataan militer Israel.

Sumber dari Layanan Darurat Gaza melaporkan bahwa beberapa warga juga terluka setelah pasukan Israel melepaskan tembakan di daerah Halawa, Jabalia, pada hari yang sama.

Di Khan Younis, Gaza selatan, dua warga Palestina turut terluka akibat tembakan Israel, menurut sumber medis dari Kompleks Medis Nasser.

Sementara itu, kru Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sejak dimulainya gencatan senjata, tim penyelamat mulai menemukan jenazah warga yang sebelumnya terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tim telah menemukan lebih dari 250 jenazah sejak perang berakhir. Banyak di antara mereka ditemukan di jalanan dan di bawah puing-puing bangunan yang hancur.

“Kekurangan alat berat sangat menghambat kemampuan tim untuk menjangkau para korban yang terperangkap. Selain itu, sisa-sisa bahan peledak dan amunisi Israel masih tersebar di banyak lokasi, membahayakan warga sipil,” ujarnya.

Menurut Program Pembangunan PBB (UNDP), lebih dari 80 persen bangunan di Jalur Gaza telah hancur akibat agresi Israel, dengan tingkat kerusakan mencapai 92 persen di Kota Gaza, yang menjadi sasaran utama serangan bulan ini.

Sejak awal perang dua tahun lalu, lebih dari 67.000 warga Palestina gugur, sebagian besar wanita dan anak-anak. Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International, telah menyatakan bahwa serangan Israel di Gaza memenuhi unsur genosida.

Selama perang, Israel juga menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza, menyebabkan kelaparan parah yang menewaskan sedikitnya 400 warga Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA

Pasca Gencatan Senjata, Hamas Bersihkan Gaza dari Milisi yang Bekerja untuk Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Pemerintah Gaza yang dipimpin Hamas menawarkan amnesti kepada kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut dalam upaya memulihkan ketertiban pasca bentrokan berdarah dengan milisi lokal yang menewaskan puluhan orang pada pekan kedua Oktober 2025.

Bentrokan sengit terjadi antara pasukan keamanan Hamas dan kelompok bersenjata yang terkait dengan keluarga Doghmush, salah satu klan berpengaruh di Gaza, setelah pasukan pendudukan Israel menarik diri dari Kota Gaza pada akhir pekan.

Sedikitnya delapan pejuang Hamas dan 19 anggota keluarga Doghmush dilaporkan gugur dalam pertempuran yang terjadi di sekitar Rumah Sakit Yordania, kawasan Sabra, Kota Gaza. Menurut laporan Shehab News Agency, puluhan anggota keluarga tersebut juga telah ditangkap oleh pasukan keamanan Hamas.

Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri Gaza memberikan tenggat waktu hingga 19 Oktober bagi anggota apa yang mereka sebut “geng kriminal” dan kelompok bersenjata untuk menyerahkan diri.

“Pihak berwenang akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang menolak menyerah,” demikian pernyataan resmi kementerian, menyebut ultimatum tersebut sebagai “peringatan terakhir.”

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza, Iyad al-Buzum, menegaskan dalam pernyataan di kanal Telegram resminya bahwa langkah ini bertujuan menjaga keamanan internal Gaza setelah penarikan pasukan pendudukan Israel.

“Kami menyerukan kepada semua pihak yang membawa senjata di luar kerangka resmi untuk menyerahkan diri dan senjatanya kepada aparat keamanan. Pemerintah memberi kesempatan hingga 19 Oktober sebagai masa amnesti terakhir. Setelah itu, kami tidak akan mentolerir pihak mana pun yang mengancam keamanan masyarakat,” ujar al-Buzum.

Hamas bertekad menindak tegas kelompok bersenjata yang dituduh bekerja sama dengan militer pendudukan Israel, termasuk Pasukan Rakyat, kelompok yang disebut didukung Israel dan dipimpin oleh mantan gembong narkoba Yasser Abu Shabab.

Menanggapi tuduhan tersebut, keluarga Doghmush melalui pernyataan pada Senin (13/10) membantah keterlibatan mereka dalam aksi kekerasan itu serta menolak tuduhan kerja sama dengan Israel.

“Keluarga tidak bertanggung jawab atas insiden ini dalam bentuk apa pun. Ini adalah tindakan individu yang tidak ada hubungannya dengan keluarga dan justru melayani kepentingan pendudukan,” tulis pernyataan mereka di media sosial yang dikutip Palinfo.

Keluarga itu juga menegaskan bahwa lebih dari 600 anggotanya telah gugur dan ratusan lainnya luka-luka akibat agresi Israel selama dua tahun terakhir di Jalur Gaza.

Di antara korban tewas dalam bentrokan Sabra adalah jurnalis Palestina dan influencer media sosial Saleh al-Jafawari, serta Mohammed Imad Aql, putra dari salah seorang komandan senior Hamas.

Pasca penarikan pasukan Israel menyusul perjanjian gencatan senjata pekan lalu, Hamas berupaya memulihkan kendali penuh atas Gaza. Pasukan keamanan dilaporkan telah berpatroli di wilayah yang ditinggalkan militer Israel, dengan video beredar memperlihatkan polisi bersenjata mengamankan jalan-jalan dan pasar-pasar di Kota Gaza.

Sementara itu, Hamas menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada otoritas independen sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Namun, gerakan perlawanan itu menegaskan tidak akan menyerahkan persenjataannya sebelum proses pengalihan kekuasaan dinegosiasikan secara jelas dan adil. (Bahry)

Sumber: TNA

Merawat Cahaya di Tanah Minoritas, Kiprah Daiyah Aini Hafifah di Toraja

Hari itu, 31 Agustus 2025. Di antara deru kendaraan di Terminal Bus Metro Permai, Makassar, tampak sosok muda berkerudung rapi tengah menenteng tas besar. Ia adalah Aini Hafifah, seorang da’iyyah (pendakwah perempuan) yang bersiap menuju Kabupaten Tana Toraja, wilayah pegunungan yang dikenal dengan masyarakat mayoritas non-Muslim.

Langkahnya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati, menyalakan cahaya Islam di tanah yang sunyi dari lantunan adzan.

Berangkat pukul 09.30 WITA bersama dua pendamping, perjalanan menuju Toraja memakan waktu hampir delapan jam. Jalan menanjak dan berliku menjadi saksi tekadnya. Setibanya di pesantren, ia disambut suasana sederhana, namun penuh semangat dan kehangatan santri.

Kehadirannya merupakan bagian dari program pengabdian da’iyyah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), misi yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menghidupkan ruh pesantren di tengah masyarakat minoritas Muslim.

Mendidik dan Menumbuhkan Iman di Tanah Minoritas

Sejak awal kedatangannya, Ustazah Aini langsung terlibat dalam pembinaan santri. Ia mendampingi peserta Lomba Kemah Tahfidz Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Sidrap (13–17 September 2025). Bersama santri SMP Pesantren Pembangunan Muhammadiyah Tana Toraja, mereka berhasil membawa pulang dua piala di bidang tilawah Al-Qur’an.

Kemenangan itu menjadi bukti bahwa semangat dakwah dan cinta Al-Qur’an tetap menyala meski di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan.

Pada 22 September 2025, Aini memulai hari pertamanya mengajar. Ia menyapa para santri dengan hangat lewat permainan dan diskusi ringan. Selain mengajar menulis, ia juga membimbing tahsin Al-Qur’an dan shalat Dhuha berjamaah, menanamkan disiplin serta kecintaan pada ibadah.

Malam hari, kegiatan rutin Qira’atul Surah Al-Mulk dan penyetoran mufradat bahasa Arab menjadi sarana pembinaan karakter dan kecintaan terhadap ilmu.

Dakwah yang Hidup dari Hati

Setiap akhir pekan, Ustazah Aini mengajak santriwati untuk kegiatan “Jalan Pagi & Bincang Santri” ruang santai untuk berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah, dan mempererat kedekatan.

Di tengah lingkungan yang penuh perbedaan, Aini selalu menegaskan satu pesan, “Dakwah bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling konsisten menebar kebaikan.”

Kehadiran Aini Hafifah diToraja menjadi simbol keteguhan dan harapan bahwa pesantren bisa tetap hidup, dan cahaya Islam akan terus menyala selama masih ada da’iyyah yang berani menjejak, mengajar, dan mencintai umat dengan ketulusan.

Perjuangan Belum Usai: Gencatan Senjata Sebatas Rehat Sejenak

Oleh : Herliana Tri M

Israel dan Hamas yang menyepakati gencatan senjata tahap pertama di Jalur Gaza, pada Rabu (8/10/2025).
Pengumuman kesepakatan ini disampaikan oleh cial Truth ( CNN Indonesia, 09/10/2025)

“Saya sangat bangga mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani Tahap Pertama Rencana Perdamaian (Peace Plan) kami,” tulis Trump.

Israel menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai “hari yang baik” untuk mereka. Sementara itu, Hamas meminta Trump dan komunitas internasional agar mendesak pemerintahan Benjamin Netanyahu mematuhi kesepakatan. Dalam unggahan tersebut, Trump menyebutkan bahwa kesepakatan mencakup pembebasan seluruh sandera dari Gaza serta penarikan pasukan Israel.

“Seluruh sandera akan dibebaskan segera dan Israel menarik pasukan ke garis yang disetujui,” kata Trump. Sementara itu, Qatar sebagai salah satu mediator menyampaikan gambaran kasar fase pertama ini. Namun, rincian lebih lanjut akan disampaikan di kemudian hari.

Lebih detilnya lagi seorang pejabat Hamas mengatakan akan menukar 20 sandera yang masih hidup dengan 2.000 tahanan Palestina di penjara Israel. Pertukaran tahanan akan dilakukan dalam waktu 72 jam setelah implementasi kesepakatan, yang juga “disepakati dengan faksi-faksi Palestina”.

Selain pertukaran tahanan, minimal 400 truk yang membawa bantuan kemanusiaan juga akan masuk ke Jalur Gaza setiap hari, selama lima hari pertama gencatan senjata.

Jiwa Pejuang Sang Pemenang

Tak bisa dipungkiri, kegigihan, kesabaran, daya juang rakyat Gaza dalam mempertahankan tanah para Nabi telah menggerakkan seluruh mata dunia untuk memberikan dukungannya. Tak hanya berkorban harta, boikot, aksi- aksi di berbagai belahan dunia, namun kesabaran rakyat Gaza menghadapi penjajahan membuat rakyat dunia rela berkorban nyawa saat berjuang menembus blokade Israel di laut lepas menuju Gaza. Gerakan Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan kemanusiaan yang mengirimkan bantuan ke Gaza.

Menjadi salah satu dari sekian banyak upaya perjuangan rakyat sipil dunia untuk menembus blokade Israel. Perjuanagn rakyat dunia menyambut kegigihan dan kesabaran rakyat Gaza menghadapi Genosida Israel.

Desakan rakyat sipil Internasional ditambah kegigihan pejuang- pejuang militan dalam berjihad menjadi potensi ancaman di sekeliling Zionis Israel. Di antaranya adalah di Lebanon ada Hizbullah, gerakan Suriah, dari Yordania, lalu juga pejuang dari Mesir. Dan ancaman paling dekat bagi Israel secara faktual adalah Taufan al-Aqsa yang datang dari Gaza, yaitu dari milisi Hamas.

Tekanan yang terus mendesak bahkan tak surut meski bombardir dan pelaparan sistematik telah dilakukan Israel, menjadikannya mau duduk untuk memberikan “jeda” yakni berupa gencatan senjata.

Gencatan senjata menjadi jeda sesaat bagi warga Gaza untuk kembali ke kampung halaman meski dengan kepedihan yang mendalam. Menuju kampung halaman yang sudah porak poranda akibat hantaman serangan Israel. Belum lagi kesedihan karena meninggalnya anggota keluarga atau luka- luka akibat serangan Israel. Jeda sesaat untuk “bernafas” dan mengembalikan kekuatan.

Yang pasti, perang ini belum usai. Kepedihan rakyat Gaza belum berakhir. Mata dunia harus terus mengawal kondisi Gaza. Karena dengan penjajahan yang tak berimbang kekuatannya, membutuhkan kekuatan luar untuk mendukung perjuangan Gaza. Apalagi Israel masih tetap menguasai Palestina, sehingga sewaktu- waktu bisa memborbardir kembali.

Padahal solusi bagi Palestina ini lebih mudah seandainya negara turut campur memberikan bantuan senjata dan mliternya untuk Gaza. Mengusir penjajah dari tanah jajahan. Apalagi kekuatan militer- militer sekitar Gaza cukup canggih untuk menghentikan genosida yang ada. Jangankan kekuatan senjata dari negara- negara sekitar Gaza, untuk menghadapi kegigihan pejuang Gsza saja sampai sekarang Israel masih kewalahan dan belum berhasil menuntaskan ambisinya. Artinya, untuk menyelesaikan penjajahan ini cukup dengan bantuan negara yang memiliki nyali membantu dengan kekuatan militer dan senjatanya.

Israel Tolak Bebaskan Dua Dokter Palestina dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Rezim Zionis Israel menolak membebaskan dua dokter Palestina dalam kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025 antara Israel dan Hamas, termasuk Dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara.

Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada CNN bahwa Tel Aviv menolak memasukkan nama Dr. Safiya dalam daftar tahanan yang dibebaskan.

Selain Safiya, Israel juga menolak membebaskan Dr. Marwan Al Hams, direktur rumah sakit lapangan di Gaza, tambah pejabat tersebut.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, kedua dokter senior itu ditahan oleh pasukan Israel pada bulan Juli lalu.

Dr. Abu Safiya sendiri ditangkap pada 27 Desember 2024, ketika pasukan pendudukan menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, memaksanya keluar dengan todongan senjata, dan menghancurkan sebagian besar fasilitas rumah sakit hingga tidak dapat digunakan kembali.

Sejak saat itu, ia ditahan berdasarkan “Undang-Undang Kombatan Ilegal” Israel peraturan yang memungkinkan penahanan tanpa pengadilan berdasarkan bukti rahasia.

Dr. Abu Safiya dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sistem kesehatan Gaza. Ia tetap bertugas di rumah sakit di tengah serangan udara intensif, menolak perintah evakuasi, dan terus merawat warga sipil yang terluka hingga detik terakhir sebelum penangkapannya.

Tim hukum Dr. Safiya melaporkan bahwa ia belum pernah dihadapkan ke pengadilan sejak Maret dan mengalami kondisi penahanan yang berat, termasuk kekerasan fisik, isolasi berkepanjangan, serta kurangnya perawatan medis.

Meski berbagai organisasi internasional menyerukan pembebasannya karena kondisi kesehatannya yang memburuk dan peran vitalnya dalam sistem medis Gaza, Israel tetap menolak melepaskannya.

Rekaman video penangkapannya menunjukkan Dr. Safiya masih mengenakan jas medis putih, berjalan di tengah reruntuhan menuju tank-tank Israel.

Militer Israel berdalih bahwa ia ditahan sebagai “tersangka” dan tengah diselidiki atas dugaan “keterlibatan dalam aktivitas Hamas.”

Pada bulan September, Physicians for Human Rights (PHR) melaporkan bahwa salah satu pengacara mereka baru saja mengunjungi Abu Safiya di Penjara Ofer, barat Ramallah, Tepi Barat. Kelompok tersebut menyebut Abu Safiya kehilangan berat badan hampir 25 kilogram, menderita kudis, dan mengalami penurunan kesehatan drastis tanpa mendapat perawatan medis yang layak.

PHR juga melaporkan bahwa dokter itu menjadi sasaran kekerasan fisik, penolakan pemeriksaan medis, serta kekurangan makanan dan pakaian bersih selama penahanan.

Naji Abbas, kepala Departemen Tahanan PHR, mengecam tindakan tersebut sebagai “kejahatan moral dan hukum”, dan mendesak Israel segera membebaskan Abu Safiya serta tenaga medis Palestina lainnya yang masih ditahan.

Pada Februari lalu, media Israel menayangkan video yang memperlihatkan Abu Safiya dalam kondisi tangan dan kaki diborgol serta tampak sangat lelah.

Dr. Safiya juga mengalami kehilangan besar selama agresi. Putranya, Ibrahim, gugur ketika pasukan Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan pada 26 Oktober 2024.
Sebulan kemudian, Abu Safiya sendiri terluka dalam serangan di rumah sakit tersebut, namun menolak meninggalkan tempatnya bertugas dan tetap merawat pasien hingga akhirnya ditangkap pada 27 Desember 2024. (Bahry)

Sumber: TRT