Berita Terkini

SDM Unggul Kunci Pengembangan Ekonomi Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin meminta kinerja perusahaan yang bergerak di bidang keuangan syariah yang sudah baik agar dijaga kesinambungannya. Termasuk perusahaan asuransi syariah, yang harus selalu diperkuat kesiapannya dalam menghadapi risiko-risiko yang tidak dapat diprediksi, seperti bencana yang dapat memicu klaim atau penarikan dana dalam jumlah besar.

“Sebagai upaya optimalisasi performa industri asuransi syariah dan keberlanjutannya, saya kira ada beberapa faktor kunci yang harus dipenuhi,” ungkap Wapres saat memberikan Keynote Speech pada acara Peluncuran PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) melalui konferensi video di Jakarta, Selasa (05/04/2022).

Lebih lanjut, Wapres menyebutkan bahwa faktor pertama yang diperlukan untuk menguatkan performa industri asuransi syariah adalah peningkatan kualitas SDM. Menurutnya, SDM menjadi salah satu kunci kemajuan sektor asuransi syariah dan industri keuangan syariah secara umum.

“Tidak dapat kita mungkiri, kita masih kekurangan banyak SDM dengan kompetensi ekonomi dan keuangan, sekaligus memahami prinsip-prinsip syariah,” tuturnya.

SDM yang ahli di bidang ekonomi dan keuangan syariah, sambung Wapres, akan mampu memajukan industri asuransi syariah di tanah air.

“Antara lain melalui penciptaan produk yang inovatif dan perluasan pangsa pasar baru,” sebutnya.

Selanjurnya, Wapres menyebutkan bahwa faktor kedua yang diperlukan dalam upaya penguatan performa industri asuransi syariah adalah terus menjaga nilai-nilai syariah. Hal ini menurutnya penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus meningkatkan keyakinan publik akan keunggulan produk jasa keuangan syariah dibandingkan produk jasa keuangan konvensional.

“Kita bersyukur karena produk-produk jasa keuangan syariah telah menarik konsumen terlepas dari agama dan keyakinannya,” ungkap Wapres.

“Namun kita belum dapat berpuas diri karena kesadaran publik akan manfaat produk-produk keuangan syariah secara global masih terbilang rendah sehingga masih banyak ruang untuk mendorong pertumbuhan sektor ini,” imbuhnya.

Lebih jauh, Wapres mengungkapkan bahwa upaya peningkatan performa industri asuransi syariah juga perlu pemanfaatan instrumen investasi yang bersifat produktif.

“Langkah ini membutuhkan kejelian untuk melihat potensi industri-industri syariah lainnya,” ujarnya.

Terakhir, Wapres menuturkan bahwa faktor keempat yang diperlukan untuk memperkuat industri asurasi syariah adalah pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya hal ini telah menjadi keniscayaan agar layanan sektor keuangan dan asuransi dapat lebih cepat, mudah dan murah, sekaligus mampu menggaet konsumen dari generasi milenial dan generasi Z.

“Terlebih di masa depan, nasabah asuransi, baik individu maupun bisnis, akan semakin mengharapkan layanan yang personal dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan,” pungkas Wapres.

Bank Syariah Digital Bermunculan. Seperti Apa?

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sejak diresmikan pada tahun 2020 Layanan Syariah LinkAja telah berkembang pesat sebagai satu-satunya dompet digital berbasis syariah di Indonesia. Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin memberikan apresiasi kepada PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) yang terus bertumbuh dan berinovasi, serta mendukung rencana spin off Layanan Syariah LinkAja menjadi LinkAja Syariah yang akan berdiri sendiri sebagai bank syariah digital pertama di Indonesia.

“Saya mendorong dan setuju rencana spin off Layanan Syariah LinkAja menjadi LinkAja syariah. Saya juga mendorong berbagai unit, termasuk BPD, agar bank-bank daerah dapat menjadi bank umum,” ucap Wapres saat menerima jajaran pengurus PT Finarya melalui konferensi video, Selasa (05/04/2022).

Wapres menekankan pentingnya aspek kehati-hatian dan kesesuaian syariah dapat diterapkan oleh LinkAja, juga persiapannya dalam memenuhi segala persyaratan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Tentu eksekusi keberhasilannya bergantung pada kesiapan LinkAja di dalam memenuhi persyaratan dari OJK. Harus tetap mengutamakan aspek prudensial dan kehati-hatian, serta aspek kesesuaian syariahnya. Itu penting,” tegas Wapres.

Menurut Wapres, saat ini transaksi keuangan dapat dilakukan lebih mudah dan mobilitas masyarakat dapat terkendali melalui keberadaan fintech.

“Transaksi keuangan menjadi lebih cepat, mudah, sekaligus juga selama pandemi ini mampu mengurangi mobilitas masyarakat,” ucapnya.

Adapun Wapres mengakui perubahan gaya hidup masyarakat dalam melakukan transaksi cukup dipengaruhi dengan adanya penggunaan fintech yang meningkat semenjak pandemi Covid-19 melanda.

“Fenomena meningkatnya penggunaan fintech ini memang didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat dalam bertransaksi ekonomi yang diakselerasi dengan adanya pandemi,” terang Wapres.

“Saya harapkan LinkAja Syariah bisa melengkapi dan mendukung sistem digital ekonomi dan keuangan syariah,” pungkas Wapres.

Sebelumnya, Plt. Direktur Utama PT. Fintek Karya Nusantara Wibawa Prasetyawan menyampaikan akan mendukung segala upaya pemerintah di dalam memajukan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, khususnya dalam mengakselerasi keuangan digital.

“Kami senantiasa berkomitmen untuk terus berinovasi guna mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi inklusi keuangan digital berbasis bank syariah di Indonesia,” ungkap Wibawa.

Sebagai informasi, PT Fintek Karya Nusantara adalah perusahaan pembayaran digital yang telah memiliki produk layanan syariah bernama Layanan Syariah LinkAja. Layanan Syariah LinkAja merupakan perluasan layanan dari aplikasi LinkAja yang diperuntukkan bagi masyarakat yang menginginkan transaksi dengan prinsip syariah. Layanan Syariah LinkAja direncanakan akan bertransformasi menjadi LinkAja Syariah yang akan berdiri sendiri dan mandiri dalam pengelolaannya.

Turut hadir secara virtual Anggota Dewan Pengawas Syariah Zainud Tauhid Sa’adi dan Asep Supyadillah, Chief Operation OfficerWidjayanto Djaenuddin, Group Head LinkAja Syariah Donny Fernando, serta Syariah Compliance and Advisory LinkAja Syariah Sahal Muzaki.

Sementara Wapres didampingi secara langsung oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Plt. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing M. Zulkarnain, dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi, serta Staf Khusus Wapres Lukmanul Hakim yang hadir secara virtual.

 

Melihat Cara Buzzer Sebar Hoaks Soal MUI dan Ayu Ting-ting

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kabar Hoaks beberapa waktu lalu sempat menimpa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut bahwa Wakil Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI, Elvi Hudhriyah, yang meminta untuk menghentikan seluruh program televisi yang diisi oleh Ayu Ting Ting.

Terkait dengan hal ini, DroneEmprit melakukan penelurusan terkait kabar hoaks tersebut yang dibuat oleh Nova.id di amplikasi di media online dan twitter oleh sejumlah akun-akun yang berpengaruh dalam penyeberan hoaks tersebut dalam periode 18-22 Maret 2022.

Dalam penelusuran DroneEmprit ditemukan bahwa akun @Abdi_Nagari terindikasi sebagai amplifikator pertama yang menyebarkan hoaks narasi Nova.id di media sosial pada 18 Maret pukul 22:50 WIB. Selanjutnya, akun-akun yang mayoritas kontra terhadap MUI mengamplikasi cuitan @Abdi_Nagari.

Setidaknya dari 20 top influencers yang semuanya kontra terhadap MUI, ada beberapa akun buzzer. Lima teratas di antaranya yaitu @Abdi_Nagari, @Lady_Zeebo, @Ghurem2, @_ekokuntadhi, dan @_AnakKolong. Dari temuan SNA, tanggal 18-23 Maret pukul 16:59 WIB.

Ditemukan bahwa hanya terbentuk satu klaster besar yang berisi akun-akun kontra MUI yang saling merespons dan berjejaring suarakan kecaman kepada MUI.

 

Namun di sisi lain, pada tanggal 23 Maret pukul 17:00 WIB sampai 28 Maret pukul 23:59 WIB, karakteristik SNA mengalami perubahan yang siginifikan. Dimana kluster sebelumnya yang berisi akun-akun kontra terhadap MUI hampir menghilang, sementara akun-akun pro MUI membentuk kluster yang besar.

Hal ini dipicu setelah MUI melakukan klarifikasi bahwa berita yang dimuat oleh Nova.id tersebut mengandung hoaks karena tidak sesuai dengan keterengan yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Infokom MUI, Elvi Hudhriyah.

Selain itu, klarifikasi MUI tersebut diperkuat dengan argumentasi Wakil Ketua Komisi Infokom MUI, Ismail Fahmi dalam akun pribadinya @ismailfahmi pada 23 Maret pukul 17:35 WIB yang terpantau mulai aktif mengedukasi warganet terkait isu hoaks tersebut. Akibatnya, pandangan miring publik terhadap MUI jauh berkurang.

Dalam kasus ini, terjadi penyebaran (difusi) agenda dan frame atau bingkai antara media massa dan publik (warganet). Framming dari isu ini terjadi ketika bingkai media (Nova.id pada 18 Maret) salah menafsirkan keterangan dari pengurus Komisi Infokom MUI, Elvi Hudriyah, yang berdampak buruk pada reputasi MUI di mata publik.
Setidaknya ada dua poin kesalahan bingkai yang dihadirkan Nova.id.

Pertama, narasi berita yang dimuat Nova.id tanggal 18 Maret 2022 merupakan rilis kegiatan pada hari kesepuluh bulan Ramadhan 1441 H atau bertepatan dengan tahun 2019.

Kedua, judul dan bingkai tulisan Nova.id memberikan kesan, seolah-olah seluruh program TV yang diisi Ayu Ting Ting diminta dihentikan, karena statusnya sebagai janda. Padahal yang diminta dihentikan adalah program tertentu karena adegan yang tidak patut.

 

Ismail Fahmi yang juga Founder DroneEmprit mengatakan, MUI di dalamnya memiliki kompenen yang sangat banyak dari berbagai elemen umat Islam di Indonesia.

“Yang gak suka juga banyak, dan yang dukung juga banyak. Kebetulan ada beberapa yang mungkin gak setuju dan sepaham dengan MUI. Maka memberikan banyak serangan, misalkan bubarkan MUI segala macam,” ujarnya saat diwawancara oleh MUIDigital, Selasa (5/3/2022) malam.

Ismail Fahmi menduga sebagian dari mereka yang tidak suka dengan MUI kemudian mencari media untuk melahirkan sentimen terhadap MUI.

“Media itu mempunyai kekuatan untuk membangun setting atau agenda setting. Ada yang kemudian mereka mengambil berita yang lama. Jadi berita yang lama seperti Ayu Ting Ting itu konteks dihapus, tujuannya untuk melahirkan sentimen terhadap MUI,” sambungnya.

Dalam kasus hoaks Ayu Ting Ting, Ismail Fahmi mengungkapkan, Nova.Id mencari berita lama meskipun kejadiannya betul, tetapi diberitakan dengan menghilangkan konteksnya.

“Misalnya itu kan konteks dalam syiar Ramadhan kan, dan Ramadhannya dihapus seolah-olah kejadiannya baru terjadi setelah soal isu label halal. Kesannya MUI menjadi menimbulkan masalah, sehingga orang makin gak suka dengan MUI,” jelasnya.

Apalagi, kata dia, hal ini juga dipengaruhi oleh masyarakat yang cenderung tidak mengecek informasi yang diterima. Sehingga, banyak yang kemudian termakan informasi tersebut.

 

Untuk itu, Ismail Fahmi menyarankan apabila beredar kembali informasi yang tidak benar harus secepatnya di klarifikasi.

Ismail menghimbau kepada masyarakat untuk kritis terhadap setiap informasi yang diterima dengan melihat informasi tersebut dengan 5W+1H.

“Kejadianya dimana, kapan kejadiannya, apakah sekarang atau yang dulu, konteksnya apa, dalam acara apa, harus pinter-pinter bertanya ketika ada informasi atau berita, bertanya kepada diri sendiri,” jelasnya.

Setelah itu, Ismail Fahmi mengimbau masyarakat untuk kembali mengecek berita tersebut melalui google.

“Katanya misalkan seperti diberitakan bulan Maret misal gitu, cari di google, ada gak yang memberitakan lagi misalnya MUI Ayu Ting Ting apakah hanya dia sendiri yang memberitakan. Jadi artinya, bisa saja itu hoaks,” tuturnya.

“Kritis dengan cara 5W+1H tadi ya, paling enggak 5W+1 H nya dicari,” tambahnya.

Di samping itu, Ismail Fahmi juga mengimbau kepada media untuk berhati-hati. Sebab, media memiliki power untuk mempengaruhi opini publik, dan cenderung mudah dipercaya oleh publik.

Sehingga, lanjutnya, apapun yang ditulis meskipun itu benar atau salah, bisa dipercaya oleh publik.

“Dan kalau seandainya itu salah, itu akan menimbulkan keonaran dan menjadi berkonstitusi kepada disinformasi ke media. Jadi (masyarakat) tidak percaya terhadap media,” pungkasnya.

 

Ini Seruan Komisi Dakwah MUI Sambut Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menyambut datangnya Bulan Ramadhan 1443 H/2022 M, Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Ormas Islam Tingkat Pusat, menyampaikan 5 hal seruan dalam rangka memuliakan bulan suci ramadhan.

Ini lima seruan lengkap untuk umat Islam:

  1. Menyerukan kepada segenap Ummat Islam agar memasuki Ramadhan dengan penuh keimanan, senantiasa mengharap Ridha Allah SWT dalam suasana hati yang sejuk, tenang dan damai serta mengembangkan sikap toleran (tasamuh) dalam menjalankan agama, tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan, termasuk perbedaan faham keagamaan serta menghindari diri dari perbuatan yang sia-sia (tabdzir) dan pemborosan/konsumtif (israaf) yang mendatangkan kemudharatan bagi diri sendiri dan orang lain.
  2. Awal Ramadhan tahun 1443 H. diprediksi akan terjadi perbedaan di kalangan umat Islam disebabkan posisi hilal pada awal Ramadhan kurang dari 2 derajat. Bahkan untuk Wilayah Tengah dan Timur Indonesia masih dibawah ufuk. Oleh karena itu, MUI menyerukan kepada seluruh kaum Muslimin untuk saling menghormati perbedaan awal waktu Ramadhan tersebut, dengan tetap menjunjung tinggi semangat ukhuwah Islamiyah.

 

Umat Islam diharapkan mengikuti pengumuman resmi Pemerintah, baik untuk awal Ramadhan maupun awal Syawal, untuk kebersamaan (hukmul hakim ilzam wa yarfa’ul khilaf/keputusan pemerintah mengikat dan meniadakan perbedaan).Mengajak seluruh Organisasi/Lembaga Islam, khususnya lembaga pendidikan, untuk mengisi bulan Ramadhan agar lebih bermakna dengan melakukan pengayaan nilai dan khazanah Ramadhan sebagai bulan penuh berkah (syahr al mubarak), bulan pendidikan dan pelatihan (tarbiyah dan riyadlah), dengan menyelenggarakan berbagai program keutamaan untuk keluarga, remaja dan anak-anak, seperti tadarus al Qur’an, pesantren kilat Ramadhan, kursus keagamaan dan lain sebagainya dengan tetap memperhatikan rambu-rambu protokol kesehatan.

  1. Bulan Ramadhan adalah juga bulan amal. Oleh karena itu, dihimbau kepada para aghniya untuk meningkatkan amal shaleh dengan membantu kaum dhuafa melalui penyaluran zakat, infaq, shadaqah dan amal sosial lainnya.

 

  1. Dalam rangka menggelorakan amal sosial tersebut, MUI menghimbau kepada BUMN dan Swasta, baik Nasional maupun Asing, untuk merealisasikan tanggungjawab sosialnya (CSR/Corporate Social Responsibility) agar terbangun tata sosial kehidupan masyarakat yang harmonis, sebagai refleksi rasa kasih sayang antar sesama (ruhama u bainahum) dan sikap saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa (at ta’awun ‘ala al birri wa at taqwa) serta dalam upaya meringankan beban masyarakat yang masih terdampak akibat pandemi Covid 19 dengan menggelorakan semangat kedermawanan sosial menuju tatanan masyarakat bangsa yang berkesejahteraan.
  1. MUI menyampaikan apresiasi kepada stasiun televisi dan radio yang mengisi siaran Ramadhan dengan berbagai acara/siaran yang sejalan dengan nilai-nilai akhlakul karimah sehingga tercipta situasi Ramadhan yang khusyu’ dan hidmat. Namun demikian, MUI tetap mengharapkan agar berbagai media (TV, Radio, Media Cetak maupun Media Sosial) tidak menyiarkan tayangan yang bertentangan dengan dengan nilai-nilai agama, etika, dan akhlakul karimah.

 

Lima seruan tadi merupakan tausyiah tertulis dari pihak Pimpinan Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dengan resmi untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat muslim di Indonesia dalam rangka menumbuhkan spirit amaliyah dan terselenggaranya program positif selama bulan Ramadhan 1443 H/2022 M.

Ditandatangani secara resmi oleh Ketua dan Sekretaris Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI, Buya Adnan Harahap dan Saiful Bahri, pada Minggu

 

Setiap Hari, 500 Ribu Jamaah Umrah Diizinkan Ziarahi Raudhah

MADINAH (Jurnalislam.com)— Otoritas Kepresidenan Umum urusan Dua Masjid Suci mengerahkan segala upaya untuk memfasilitasi umat Muslim. Mereka memberlakukan sejumlah pengaturan untuk memfasilitasi masuknya jamaah ke Rawdah Syarif sesuai dengan waktu pemesanan.

 

Tak hanya itu, mereka juga berupaya memastikan fleksibilitas di pintu masuk bagi jamaah yang akan  mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan kedua sahabatnya, dalam suasana kerohanian dan ketenangan.

 

Dilansir di Saudi Gazette, Rabu (6/4), salah aatu pengaturan yang berlaku adalah mengeluarkan izin shalat di Rawdah, baik untuk pria dan wanita melalui aplikasi Eatmarna dan Tawakkalna.

 

Hingga hari ke 20 Ramadhan, izin harian rata-rata mencapai angka 16.980 jamaah. Di 10 hari terakhir Ramadhan, akan dikeluarkan izin kepada 11.095 jamaah setiap harinya.

 

Berdasarkan perhitungan otoritas terkait, total 517.702 izin akan dikeluarkan selama Ramadhan dan pada malam Idul Fitri.

 

Kepresidenan mengatur waktu dan gerbang untuk memilah dan mengizinkan akses jamaah ke Rawdah Syarif selama Ramadhan. Jamaah laki-laki dapat masuk pada pagi hari dari halaman Pintu 38, dan pada malam hari dari halaman Pintu 2.

 

Sementara, untuk jamaah perempuan bisa masuk dari Pintu 24 pada waktu pagi, serta Pintu 24 dan 37 di waktu malam hari.

 

Tak hanya untuk jamaah, Kepresidenan juga telah mengatur waktu kunjungan dan shalat di Rawdah selama Ramadhan bagi pengunjung dari Gerbang Al-Salam (No. 1).

 

Jalur khusus telah diatur disiapkan mengurangi kepadatan dan memfasilitasi pergerakan orang banyak. Pengunjung laki-laki dapat masuk dan mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabat tanpa pemesanan sebelumnya.

 

Penelitian Setara Institute Soal Kota Intoleran Dibantah Warga

PARIAMAN(Jurnalislam.com)— Lembaga Setara Institute memasukkan tiga kota yang ada di Sumatera Barat ke dalam daftar 10 kota intoleran. Yakni Kota Pariaman, Kota Padang dan Kota Padang Panjang.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumbar, Duski Samad, mengatakan berdasarkan hasil penilaian Lembaga Setara Institute bahwa ini tidaklah riset.

“Kalau riset harus berdasarkan objektif. Jangan ini dijadikan sebagai referensi bagi kabupaten/kota yang ada di Sumbar,” kata Duski, Selasa (5/4/2022).

Dia juga menuturkan bahwa apabila riset tersebut dinilai berdasarkan demografi daerah, penduduk dikatakan tidak rukun apabila tidak menerima, tidak mengakui dan tidak menghargai agama lain.

Sedangkan Kota Padang Panjang yang merupakan kota pendidikan, Kota Pariaman adalah kota perdagangan dan wisata dan Kota Padang yang juga ibu kota provinsi dan kota perdagangan.

“Untuk tiga daerah di Sumbar yang disebutkan intoleran, FKUB Sumbar sangat tidak menerima dan keberatan dan diminta pertanggungjawaban kepada yang melakukan riset karena untuk mengukur daerah intoleran perlu diukur dengan jelas dari pihak-pihak yang berkompeten,” ucap Duski.

Pada kesempatan berbeda, Asisten I Setda Pariaman, Yaminurizal, mempertanyakan indikator penilaian yang dilakukan Setara Institute.

“Tiba-tiba ada yang menyatakan Kota Pariaman adalah kota yang intoleran, kita ingin tahu juga indikator yang dinilai apa, serta tujuannya apa. Karena penelitian tersebut harus dilakukan dengan data yang valid,” kata Yaminurizal, Selasa (5/4).

Yaminurizal menyebut bahwa Kota Pariaman dikenal dengan masyarakatnya yang homogen dan sudah hidup dengan baik. Menurut dia, selama ini Pemerintah Kota Pariaman tidak memiliki masalah intoleran.

“Diketahui, Kota Pariaman adalah daerah yang sangat toleransi dan terbuka kepada semua pihak. Ini sesuai dengan visi dan misi Pemko Pariaman yang merupakan daerah tujuan wisata,” ujar dia.

Sebanyak 10 kota intoleran yang dirilis Setara Institute adalah Kota Depok (Jawa Barat), Kota Banda Aceh (Provinsi Aceh), Kota Cilegon (Banten), Kota Pariaman (Sumatra Barat), Kota Langsa (Aceh), Kota Sabang (Aceh), Kota Padang Panjang (Sumatra Barat), Kota Padang (Sumatra Barat), Kota Pekanbaru (Riau), dan Kota Makassar (Sulawesi Selatan).

 

Sumber: republika.co.id

Pentingya Pesantren Kilat untuk Anak Saat Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Penyelenggaraan pesantren kilat Ramadhan untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa sangat penting di saat tingkat spiritualitas meningkat pada Ramadhan, maka pemahaman agama akan lebih mudah masuk.

“Saya kira pesantren kilat Ramadhan di bulan Ramadhan sangat penting sekali baik untuk anak-anak maupun untuk orang dewasa. Bagi anak-anak tentu sangat penting untuk mengisi waktu-waktu kosong di bulan Ramadhan, yang biasanya sekolah banyak libur dan juga waktu-waktu kosong anak terisi semua,” kata Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Zubaidi mengungkap pada Selasa (5/4/2022).

“Di satu sisi dengan pesantren ramadhan ini mereka akan digembleng mentalnya jiwanya dengan ilmu-ilmu agama, di sisi lain mereka bisa mengerjakan hal-hal yang positif karena kalau tidak kita tahu sendiri banyak anak-anak remaja kalau bulan Ramadhan suka bergerombol kemudian sampai di beberapa tempat terjadi tawuran,” lanjut Ahmad.

Ahmad berharap dengan adanya Pesantren Ramadhan akan meminimalisir terjadinya perselisihan antar remaja. Selama satu bulan, menurut Ahmad, cukup untuk diberikan sejumlah materi keagamaan, di antaranya akidah, akhlak, dan sirah nabawiyah. Selain itu juga penting untuk hafalan Alquran, hadits dan doa.

Di samping itu, Ahmad mengatakan, anak-anak juga perlu untuk diberikan hiburan di bulan Ramadhan, agar mereka menghabiskan waktunya dengan kegiatan positif. Untuk itu, anak-anak dapat mencapai puasa dengan sebaik-baiknya.

“Terutama orang dewasa perlu agar meluangkan waktu untuk mendalami ilmu agama, mudah-mudahan di masjid-masjid diadakan kajian khusus yang cukup komprehensif, terkait kajian tasawuf, akhlak, akidah, saya kira itu penting,” ucap Ahmad.

Menurut Ahmad, pembelajaran Alquran juga penting untuk diselenggarakan bagi orang dewasa, baik kajian Alquran dan tafsir. “Pada prinsipnya sangat positif di bulan Ramadhan penggemblengan ilmu agama, di bulan ini kita punya spiritualitas tinggi sehingga ajaran agama mudah masuk,” ucapnya.

Sumber: ihram.co.id

Satgas: Mobilitas Masyarakat Naik Cukup Tajam

JAKARTA(Jurnalislam.com) Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, berdasarkan data google mobility hingga 30 Maret 2022, kenaikan mobilitas masyarakat terpantau cukup tajam.

Bahkan, kenaikan mobilitas masyarakat ini mencapai titik tertinggi sejak awal pandemi.

“Data pada google mobility hingga 30 Maret 2022 menunjukan kenaikan mobilitas yang cukup tajam ke taman, toko, bahan makanan, serta tempat retail, dan rekreasi yang bahkan mencapai titik tertinggi sejak awal pandemi,” kata Wiku saat konferensi pers, dikutip pada Rabu (6/4/2022).

Kenaikan mobilitas ini, kata Wiku, menjadi titik balik aktivitas masyarakat dan ekonomi Indonesia, mengingat kasus di tingkat nasional bahkan di tingkat global tengah mengalami penurunan. Namun demikian, ia meminta agar kondisi ini dapat dipertahankan sehingga seluruh aktivitas masyarakat yang bertahap menuju normal tetap aman dari potensi penularan Covid-19.

Karena itu, Wiku meminta masyarakat agar berhati-hati terhadap potensi peningkatan penularan, terutama saat peningkatan aktivitas masyarakat saat ini.

“Seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah perlu untuk terus berhati-hati dan waspada terhadap potensi penularan yang meningkat. Tugas ini adalah tugas kolektif, tidak hanya tugas salah satu unsur tertentu saja,” ungkap dia.

Sumber: republika.co.id

Ramadhan, Kuatkan Solidaritas Kemanusiaan dan Ukhuwah Islamiyah

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Saat ini umat Islam di seluruh dunia, tengah diselimuti kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1443 Hijriah. Selama 1 bulan ke depan, umat Islam akan menjalankan ibadah puasa yang diakhiri dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Kepada segenap umat Islam di seluruh tanah air, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin berpesan agar menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menguatkan solidaritas kemanusiaan dan persaudaraan. Terlebih saat ini masih dalam suasana pandemi Covid-19.

“Bulan Ramadan merupakan momentum bagi umat Islam untuk melakukan penguatan solidaritas kemanusiaan serta momentum untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah,” pesan Wapres dalam tayangan video ucapan menyambut Ramadan 1443 Hijriah, Sabtu (02/04/2021).

Tidak hanya itu, Wapres juga mengajak seluruh umat Islam Indonesia agar menjadikan Ramadan sebagai syahr as-shadaqah atau bulan untuk memperbanyak sedekah termasuk juga mengeluarkan zakat maal.

“Jangan menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan yang lebih konsumtif tapi bulan keprihatinan,” pesannya.

Lebih jauh, Wapres menuturkan bahwa berpuasa di bulan Ramadan bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Namun lebih dari itu, di dalamnya terkandung makna tentang penghambaan kepada Allah, keteladanan Rasulullah, pengorbanan, dan keikhlasan.

“Puasa adalah ibadah yang tidak terlihat, yang hanya diketahui oleh diri yang berpuasa sendiri dan Allah SWT,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Wapres, saat berpuasa adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

“Sekaligus melakukan muhasabah atau introspeksi diri untuk menjernihkan hati dan pikiran,” imbuhnya.

Kemudian, seiring dengan semakin membaiknya kondisi pandemi Covid-19 dan mulai normalnya kehidupan keberagamaan yang sebelumnya turut terdampak pandemi, Wapres berharap umat Islam tetap memperbanyak ibadah sebagai upaya batiniah melindungi diri dari wabah Covid-19.

“Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca shalawat, dan sedekah, serta berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan, inayah, dan keselamatan dari musibah dan marabahaya, dalam rangka menolak bala, khususnya dari pandemi Covid-19,” tuturnya.

Terakhir, kepada umat Islam di seluruh Indonesia, Wapres pun mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa pada bulan suci Ramadan 1443 Hijriah.

“Semoga segala amalan yang kita lakukan dapat semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT,” doanya

Bangun Keakraban Keluarga Saat Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ramadhan selain sebagai momen meningkatkan spirit ibadah, juga dapat meningkatkan kualitas hubungan antar keluarga di rumah. Karena saat Ramadhan banyak momen yang membuat keluarga semakin akrab saat buka dan sahur dilakukan bersama-sama.

Pengasuh Pondok Pesantren Integrasi Quran PPIQ-368, Bandung, KH Iskandar Mirza menjelaskan asal kata ‘akrab’. Dia menyampaikan, sesungguhnya ‘akrab’ berasal dari akar kata “qoroba” artinya dekat dan kata ini juga merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan Allah SWT dengan hambaNya.

“Sehingga dalam urutan ayat yang menyeru pada orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa, tersambung ayat yang artinya “Apabila hambaKU, bertanya tentang AKU, (Wahai Muhammad), katakanlah “Faiinni Qorib” (sesungguhnya aku dekat),” tutur KH Mirza, belum lama ini.

Master Trainer di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Motivasi Spiritual Qurani (MSQ) ini menyampakkan, kata ‘qorib’ yang dimaksud dalam ayat ini adalah bahwa ; orang-orang yang dalam keadaan shiyam, doanya didengar. Karena saat berpuasa seorang hamba sangat dekat dengan Tuhannya.

“Momen ini harus dijadikan sebagai ajang untuk memperbanyak doa di bulan Ramadhan. Karena dekatnya doa orang berpuasa dengan Tuhannya,” katanya.

Kedekatan seorang yang dalam keadaan shiyam, seharusnya juga menjadi berefek dekatnya seseorang pada semua makhluq ciptaan Allah, apalagi dengan keluarga. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan keluarga dekat.

“Maksud dari keluarga dekat akan lebih tepat karena di antara personal keluarga saling mendoakan satu sama lainnya,” katanya.

Sedangkan mereka yang memiliki hubungan karib-kerabat tapi tidak saling mendoakan, lebih tepat disebut keluarga jauh. Sehingga keluarga dekat itu akan saling mendekatkan diri pada Allah SWT agar kelak dapat berhimpun kembali di syurga.

Demikian juga kata, Dosen tetap Pasca Sarjana di UNINUS Bandung ini, sama halnya tujuan utama dari puasa itu adalah taqwa, sebagaimana terekam dalam firman Allah “…La’allakum tattaquun”. Turunan kata taqwa dalam bentuk kata perintahnya adalah “ittaqu”…maknanya adalah takutnya, peliharalah, jagalah, bertaqwalah”.

Perintah ittaqu sering bersanding dengan kata Allah, sehingga berubah menjadi “ittaqullah”. (Takutlah pada Allah), atau dengan api neraka, “ittaqunnaar..” (takutlah pada api neraka). Dalam ayat yang terkait dengan hubungan keluarga secara tegas Allah menyeru “quu amfusakum wa ahlikum naaro” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).

“Sebagaimana yang dipahami bahwa konteks puasa adalah menjaga baik secara lahiriyah (shaum) ataupun batiniyah (shiyam) segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi nilai puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari,” katanya.

KH Mirza menegaskan, inti puasa adalah ‘menjaga’ bukan sekedar menjaga diri, tapi juga keluarga maupun lingkungan masyarakat sosial. Dalam rangka saling menjaga itu, maka langkah utamanya adalah membangun konsep silaturahim lahir batin.

“Lahirnya saling berkunjung, batinnya saling mendoakan,” katanya.

Di masa pandemi yang paling menyeramkan sesungguhnya bukan covid nya, melainkan hilangnya konsep silaturrahim. Bukankah silaturrahim dapat memanjangkan umur dan membarokahi rizqi?.

“Inilah saat yang tepat untuk membangun keakraban keluarga dan ummat melalui keberkahan romadhon Insya Allah,” katanya.

Sumber: ihram.co.id