Berita Terkini

Ratusan Santri Ponpes Al Mukmin Ngurki Gela Aksi Bersih ‘Go Green Karnaval’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Sebanyak 313 santri Pondok Pesantren Islam Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo melakukan aksi bersih bersih bertajuk ‘Go Green Carnaval’ di kawasan jalan Ir Soekarno, Sukoharjo pada Ahad, (31/7/2022).

Aksi bersih bersih dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dari Patung Ir Soekarno hingga Patung Pandawa, Solo Baru yang berjarak sekitar 2 KM. Para santri turun ke jalan untuk membersihkan tempat yang kotor dengan sapu lidi, kemudian mengumpulkan sampat yang kemudian diangkut dengan truck sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Menurut ketua panitia, Ustaz Nurdin Urbayani, kegiatan Go Green tersebut merupakan rangkaian acara menyambut setengah abad Pondok Pesantren Al Mukmin Sukoharjo yang bekerjasama dengan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Islam Al Mukmin (Ikappim) Ngruki.

“Dalam rangka setengah abad pondok ngruki, bekerjasama dengan Ikappim mulai dari kemarin pembukaan lomba pidato baca kitab, dan hari ini kita mengadakan go green carnaval ini untuk membuktikan bahwa Alumni Pondok Ngruki yayasannya dan pondok pesantrennya peduli akan lingkungan,” katanya kepada jurnis.com di sela sela kegiatan Go Green.

“Kita mulai dari kampung sekitar, sampai pada CFD hari ini, dan kita kerjasama dengan ibu Bupati, Pemkab Sukoharjo untuk mengadakan ini dan alhamdulillah semua suport dari pemerintah kabupaten Sukoharjo ini sangat membantu sekali,” imbuhnya.

Lebih lanjut ustaz Nurdin menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki ingin terus berupaya membantu umat dan masyarakat khususnya di wilayah Sukoharjo sebagaimana tema yang diambil dalam momen setengah abad yakni ‘Khidmat Pondok Ngruki Untuk Negeri’.

“Alhamdulillah di Al Mukmin alumninya sudah ada 16 ribu, menyebar di seluruh dunia 28 persen adalah ustadz, 27 persen adalah pengusaha, 7 persennya adalah ASN, TNI, Polri termasuk dokter dan profesi yang lain dan sisanya itu rumah tangga dan pelajar,” ujarnya.

“Kita ingin mengatakan bahwa Al Mukmin adalah bagian dari masyarakat,kita ingin menjaga lingkungan sebaik mungkin, kita tunjukan kepada masyarakat bahwa Al Mukmin Pondok Ngruki juga peduli dengan lingkungan, kita jaga sama sama ini Sukoharjo dengan baik, kebersihannya, ketentramannya dan tentu kemakmurannya,” pungkasnya.

Dalam kegiatan Go Green Carnival tersebut, turut hadir Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan sejumlah pejabat yang terkait. Pemkab Sukoharjo juga memberikan bantuan berupa 200 bibit pohon.

Sambut Tahun Baru Hijriyah dan Kemerdekaan RI, Ribuan Warga Soloraya Antusias Ikuti Longmarch Ukhuwah

BOYOLALI (Jurnalislam.com)- Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) bersama dengan Laskar Ummat Islam Surakarta (LUIS) menggelar kegiatan ‘Longmarch Ukhuwah’ dalam rangka Peringatan 1 Muharram dan Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia yang ke 77 pada Ahad (31/7/2022) di Boyolali.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 1200 peserta dari 41 Elemen hadir diantaranya dari pemuda masjid, majlis taklim dan dari berbagai pondok persantren di Soloraya.

Sekjend DSKS Abdullah Khair M.Ag mengatakan dalam sambutanya, bahwa acara tersebut bertujuan untuk mempererat ukhuwah diantara kaum muslimin khususnya di wilayah Soloraya.

“Kami berharap dengan acara ini terjalinnya ukhuwah, kerukunan, kebersamaan dan sekaligus kaum muslimin bisa bersama-sama membangun kebersamaan dan memajukan Indonesia,” terangnya.

Dalam kegiatan Longmarch, panitia juga menyediakan ratusan doorprize untuk peserta.

Longmarch dengan jarak kurang lebih 10 km itu dimulai start dan finish di pondok Miftahul Huda, Desa Sawahan Ngemplak Boyolali.

Sementara itu, menurut Ketua LUIS ustaz Edi Lukito, kegiatan ‘Longmarch Ukhuwah’ teraebut rencananya akan diadakan secara rutin di wilayah Soloraya dan dimulai dari Boyolali.

Reporter: Ridho Asfari

Jadikan Tahun Baru Hijriyah Sebagai Momen Perjuangan

SOLO (Jurnalislam.com)- Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah Ustadz Abdul Rahim Ba’asyir berharap momen tahun baru 1444 Hijriyah menjadi momentum bagi para pejuang dakwah untuk senantiasa optimis dalam memperjuangan dienul Islam.

“Kita mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah kepada seluruh umat Islam di dunia wabil khusus di Indonesia, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan tahun Hijriyah 1444 H menjadi tahun yang membawa keberkahan bagi islam dan kaum muslimin di dunia dan secara khusus di Indonesia,” katanya pada Jum’at, (29/7/2022).

“Jamaah Ansharu Syariah secara umum berharap semoga Allah memberikan kesempatan yang besar dan lebih baik pada dakwah Islam di tahun hadapan ini, semoga langkah langkah dakwah yang dilakukan oleh para pejuang Islam dimanapun mereka berada, tahun 1444 H ini akan menjadi tahun kemenangan, tahun kemajuan yang begitu besar, insyaallah sebagaimana semangat hijrah pada saat itu ada pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dan juga para sahabat sahabatnya dalam rangka untuk menjemput wasilah wasilah kemenangan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan bagi dakwah Islam,” tambahnya.

Oleh karena itu, kata Ustadz Abdul Rahim, setiap kali umat Islam para dai, para pejuang pejuang Islam itu masuki tahun baru Hijriyah, mereka seperti mendapatkan titisan semangat baru.

“Bahwasanya tahun hadapan ini lebih baik dari tahun sebelumnya, dan juga mendapatkan titisan harapan baru, bahwasanya tahun hadapan ini akan menjadi tahun yang membawa kemenangan bagi kaum muslimin,” terangnya.

“Jadi kita harus selalu optimis dan memiliki semangat dalam pelaksanaan upaya kita dalam memperjuangkan dienullah, mudah mudahan semua kebaikan, semua semangat ini disambut oleh Allah Subhanahu wa Taala dengan mengucurkan segala pertolongannya kepada islam dan kaum muslimin,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ustadz Abdul Rahim juga berharap tahun 1444 H kedepan Allah juga memberikan perlindungannya kepada kaum muslimin dari segala kejahatan keburukan musuh musuhnya.

“Semoga tahun depan ini bukan menjadi tahun yang semakin berat dirasakan kaum muslimin tapi menjadikan tahun yang semakin mudah dijalani kaum muslimin, dan ringan berbagai macam ujian ujian yang mereka hadapi nanti insyaallah,” ujarnya.

“Kita selalu optimis dan semangat hijrah nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan juga hijrah kita menuju kepada Ridho Allah dan menuju pada kebaikan kebaikan dan ada semangat didalam jiwa setiap muslim bahwa hari esoknya harus lebih baik dari hari ini insyaallah, aamiin ya Robbal Alamin,” pungkas Ustadz Abdul Rahim.

Ini Dasar Seorang Ulama Berfatwa

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, membuka acara Konferensi Studi Fatwa MUI dan menyampaikan tiga hal yang menjadi aspek dasar dalam mengkaji dan menghasilkan fatwa. Kiai Marsudi juga memaparkan bagaimana fatwa yang semula produk kajian agama lama kelamaan berubah menjadi budaya di masyarakat.

“Fatwa itu minimal melakukan, menginisiasi, dan membumikan tiga hal, ” ungkap Kiai Marsudi dalam Pembukaan 6th Annual Conference on Fatwa MUI Studies di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/07).

Yang pertama, kata dia, al-Jam’u baina ats-Tsabat wa at-Tathawwur. Yaitu bagaimana menyatukan hukum yang tetap dengan permasalahan yang terus berkembang dan berubah setiap saat.

 

Maka dari itu, lanjutnya, dibutuhkan ijtihad-ijtihad yang selanjutnya akan menghasilkan fatwa. Lalu dari fatwa menjadi nizam (peraturan). Mulai dari nizam dalam masyarakat sosial hingga nizam qanuni (undang-undang).

Kemudian Kiai Marsudi menyebutkan, yang kedua, al-Jam’u baina Maslahataini (Maslahatul ‘Aammah wa Maslahatul Khassah). Yaitu bagaimana menyatukan dua kemaslahatan, kemaslahatan publik yang mayoritas dikendalikan oleh pemerintah, dengan kemaslahatan individu.

Lalu yang ketiga, lanjut dia, al-Jam’u baina Hajatil Madiyah wa Hajatir Ruhiyah. Yaitu bagaimana menyatukan antara kebutuhan materi dengan kebutuhan ruhani.

Kiai Marsudi juga menjelaskan bahwa ketika fatwa sudah menjadi hukum, lalu hukum tersebut dijalankan oleh semua orang, maka lama-kelamaan akan menjadi budaya. Inilah maksud dari membumikan fatwa.

“Ketika sudah menjadi fatwa, jadi hukum, lalu dijalankan, maka akhirnya akan menjadi budaya. Kalo sudah menjadi budaya maka akan menjadi kebiasaan, ketika tidak dilaksanakan maka seakan ada sesuatu yang hilang, “kata Kiai Marsudi.

Dalam kegiatan yang menjadi rankaian Milad MUI ke-47 itu, Kiai Marsudi berharap, para penulis dan peneliti akan menghasilkan naqd (kritik yang membangun) bukan hiqd (kebencian). (mui)

 

Masyarakat Diminta Bersiap Hadapi Krisis

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin, mengigatkan umat untuk bersiap menghadapi berbagai krisis yang kemungkinan akan melanda dunia. Krisis tersebut selain karena Covid-19 di beberapa negara yang belum melandai juga karena perang Rusia dan Ukraina.

“Hari ini dunia dalam keadaan mendapatkan tantangan, yang paling besar itu akibat perang Ukraina dan Rusia. Kita harus memastikan diri siap menghadapi krisis energi, krisis pangan, dan krisis keuangan, ” ungkap Kiai Ma’ruf saat memberikan amanah dalam malam puncak Milad MUI ke-47 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/07) malam.

Dikatakannya, MUI bisa berpartisipasi untuk mengimbau masyarakat tetap bersabar dan hati-hati dengan tetap melakukan persiapan matang.

“Agama menyuruh kita untuk selalu prepare menghadapi masalah seperti ini. Syaikh Nawawi mengatakan, bersiap-siaplah kamu menghadapi serangan musuh, ” ungkapnya.

Faktor geopolitik yang mengancam ini sebelumnya juga sudah pernah disampaikan oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Dia juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan ada krisis energi, pangan, dan keuangan yang melanda.

Kiai Ma’ruf mengatakan, jika diibaratkan manusia, MUI dengan usianya yang ke-47 maka sudah bisa dikatakan matang. Kematangan seorang manusia biasanya muncul saat menginjak usia 40 tahun.

Dengan usia yang matang ini, Kiai Ma’ruf berharap, MUI bisa ikut serta mengantisipasi kemungkinan krisis ini nantinya. Momen krisis tersebut juga bisa menjadi ujian MUI memperkokoh visinya sebagai khodimul ummah atau pelayan umat dan shodiqul hukumah atau mitra pemerintah.

“Menjadi kewajiban MUI, sebagai mitra pemerintah dan pelayan umat, untuk ikut membantu mempersipakan kecukukan kebutuhan pangan di berbagai daerah di Indonesia, ” ujarnya.  (mui)

 

Tiga Landasan Persatuan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Panitia Pelaksana Milad ke-47 Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis mengungkapkan tiga landasan untuk memperkuat kesatuan dan kekuatan di antara umat. Ketiga kekuatan itu yakni ta’aruf (mengenal), tafahum (memahami) dan taawun (saling menolong) di antara umat.

“Maka penting bagi kita untuk terus mengasah ini,” kata Kiai Cholil Nafis dalam sambutannya di perayaan Milad ke-47 MUI, di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Selasa (26/7) malam.

Kiai Cholil menambahkan, Indonesia saat ini memasuki masa persiapan tahun politik 2024. Dia mengkhawatirkan terjadinya sebuah konflik yang dibumbui legitimasi agama.

 

“Maka ini penting untuk membangun kesatuan, karena tidak mungkin kita kuat tanpa persatuan,” ujarnya.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah ini mengingatkan, pada saat Piagam Madinah, hal yang pertama ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW adalah persatuan di seluruh rakyat Madinah.

Oleh karena itu, pada Milad ke-47 ini, kata kiai Cholil, MUI ingin mengingatkan kembali untuk menyatukan melalui merajut kesatuan dan kekuatan.

“Oleh karena itu, kami berharap, MUI ini menjadi tenda besar umat Islam untuk merajut persatuan dan kesatuan,” tuturnya.

Dalam membangun ketiga landasan itu, ungkap kiai Cholil, perlu adanya konsepsi baru melihat fenomena dunia yang baru.

“Bagaimana kita ini membangun hubungan yang baik antar sesama warga negara. Ini penting untuk kita lakukan,” sambungnya.

Termasuk, kata kiai Cholil, membangun hubungan antara intelektual dengan pemerintah.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menyayangkan anggapan bahwa ulama yang bagian dari pemerintah sudah tidak ulama.

Selain itu, lanjutnya, bagi ulama yang menghantam pemerintah seakan-akan keulamaannya semakin kritsal. Menurut dia, perlu adanya upaya menyatukan antara ulama dan umaro.

“Sehingga, membangun Indonesia yang sejahtera di masa yang akan datang,”kata dia. (mui)

 

Tokoh Muhammadiyah: Kembangkan Kesenian Tanpa Melanggar Syariat

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI menggelar silaturahim dengan sejumlah artis untuk membahas pengembangan seni budaya Islam di Indonesia. Pada kesempatan itu, Waketum MUI yang juga Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas mengatakan bahwa MUI bertugas menjaga umat agar seni tidak menyimpang dari syara.

“Dalam kesimpulan saya, tidak ada aspek kehidupan kita yang tidak ada tuntunannya, kalau dalam Islam ada tuntunannya,” paparnya di Aula Buya Hamka Gedung MUI, Jakarta Pusat, Rabu (27/7).

Namun, Buya Anwar menyayangkan pada akhir-akhir ini hanya aspek politik yang menonjol, sementara aspek ekonomi Islam lemah.

Padahal, kata dia, ekonomi dan seni merupakan sebuah industri yang tidak bisa dipisahkan, karena menurutnya semua orang menyukai seni.

Dengan demikian, ujar Buya, tidak pas jika keindahan seni budaya hari ini terusik hal-hal secara syar’i. Inilah tugas MUI untuk menjaga umat agar seni tidak menyimpang dari syara.

“Bagaimana caranya supaya umat ini tidak menyimpang, silakan mengembangkan creativity tapi yang dibolehkan syara,”,ujarnya.

MUI: Seni Jadi Perekat Keanekaragaman Peradaban Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam, Kiai Jeje Zaenuddin, mengatakan dengan kesempurnaan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, seni seharusnya tidak hanya indah namun juga terarah.

Kiai Jeje juga menyampaikan bahwa seni budaya bersifat universal sehingga menjadi pintu masuk seluruh pintu dari sekat-sekat peradaban.

“Kita diingatkan silsilah nenek moyang kita, Adam Hawa, keanekaragaman, dari perbedaan diarahkan menjadi ta’aruf, maka keanekaragaman yang luas, ada pintu perekatnya, salah satunya adalah kesenian,”ujarnya.

Pada tahun 2023, kata Kiai, akan diadakan kongres seni budaya. Maka forum seperti ini dibutuhkan sebagai salah satu bentuk realisasi.

Pada kesempatan yang sama, Kiai Jeje juga menyatakan bahwa dalam lingkup kecil, seperti TV MUI, penampilan seni budaya pun masih kosong, dan kekosongan ini harus diisi.

“Sehingga penonton TV MUI, tidak hanya tentang tausiyah, tetapi juga seni budaya,”paparnya.

Dalam kegiatan silaturahim ini, hadir sejumlah pekerja seni alias artis di antaranya Erick Yusuf, Helvy Tiana Rosa, Dwiki Dawarman, Arie Untung dan lainnya. (MUI)

 

Anwar Abbas Berharap Citayem Fashion Week Bisa Lebih Religius

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Wakil Ketua Umum MUI Buya Anwar juga mengapresiasi anak-anak Indonesia yang dinilai hebat dalam mengembangkan seni budaya.

“Kenapa anak-anak yang hebat tidak kita bantu fasilitasi untuk bisa tampil?,”tegasnya.

Selain itu, Buya Anwar juga menegaskan jangan sampai ada kegiatan seni yang menyimpang dari agama.

“Soal Citayam Fashion Week, saya tidak bisa menyalahkan, saya menghimbau agar orang tua dan masyarakat bisa mengoreksi diri, supaya ke depan, Citayam Fashion Week religius,”harapnya.

Buya Anwar juga menyesalkan Citayam Fashion Week yang ternyata dimanfaatkan oleh kalangan LGBT.

“LGBT bukan HAM, karena merugikan banyak orang lain, tidak memberikan kemaslahatan. Saya meminta kawan-kawan yang bergerak di seni budaya juga bertanggung jawab untuk generasi di masa depan,”kata dia. (mui)

Hakim Konstitusi Nilai Fatwa Berikan Pengaruh terhadap Hukum Nasional

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Hakim Konstitusi Republik Indonesia, Dr. Wahiduddin Adams menyampaikan fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia berikan pengaruh terhadap pembaharuan hukum Nasional.

Hal ini disampaikannya dalam pleno yang bertajuk “Fatwa MUI, Perubahan Hukum Nasional, dan Dinamika Sosial Kontemporer”. Sesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara 6th Annual Conference on Fatwa MUI Studies, Rabu (27/07).

“Diperlukan langkah konkret yang lebih luas, guna meningkatkan peran fatwa ulama terkait dengan taqnin dan pembaharuan hukum nasional,” tutur Wadiduddin yang juga merupakan Dewan Penasehat Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI.

 

Wahiduddin menjelaskan, fatwa MUI yang telah masuk dalam peraturan perundang-undangan nasional merupakan peraturan yang mengikat masyarakat secara umum. Selain itu, berkonsekuensi sanksi di dalamnya. Hal ini dikarenakan peraturan yang ditulis dan dibuat oleh pejabat yang berwenang.

Lebih lanjut, dia menyebut kan bahwa fatwa MUI yang mempengaruhi peraturan nasional termasuk dalam hierarki nomenklatur peraturan perundang-undangan sebagaimana yang telah dibuat dan disepakati.

“Namun dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, diperlukan bahan-bahan hukum yang konvensional, sebagaimana yang telah kita ketahui ada hukum adat, hukum warisan kolonial, hukum barat, hingga hukum Islam,” katanya.

Wahiduddin menilai, MUI sebagai organisasi kemasyarakatan berbadan badan hukum perkumpulan, dapat memberi masukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan melalui fatwa, khususnya untuk peraturan yang substansinya masih berkaitan dengan hukum Islam.

Di samping itu, dia mengingatkan bahwa fatwa MUI mulai masuk dalam arus perundang-undangan nasional yaitu ketika lahirnya undang-undang Perseroan terbatas (PT) di tahun 2007.

Wahiduddin menjelaskan bahwa peraturan perseroan yang dikelola berdasarkan prinsip syariah tersebut sebagai cikal bakal dibentuknya Dewan Syariah berdasarkan rekomendasi dari MUI.

“Banyak fatwa MUI yang telah dituangkan dalam perundang-undangan nasional, ini tetap harus kita kawal hingga fatwa-fatwa yang dikeluarkan mampu memberikan maslahat dalam lingkup nasional secara menyeluruh,” pungkasnya.  (mui)