Berita Terkini

Lagi, Hanya 2 Hari Puluhan Pasukan Milisi Syiah Hizbullah Tewas di Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah Hizbullah kehilangan puluhan pasukan selama dua hari di Suriah dalam pertempuran yang sedang berlangsung dengan faksi mujahidin Suriah di selatan Aleppo, dimana terjadi pertempuran sporadis dan operasi terhadap milisi Syiah Hizbullah dan gerakan Syiah Irak Nujaba, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (07/11/2016).

Sumber-sumber militer menegaskan bahwa sedikitnya 35 milisi Syiah Hizbullah tewas setelah mereka ditargetkan dengan peluru kendali di dekat bukit “Uhod” di pedesaan selatan Aleppo, sementara sedikitnya 10 pasukan gerakan Irak Nujaba juga tewas di tempat yang sama.

Jaysh al-Mujahidin telah menyiarkan sebuah rekaman yang menunjukkan rudal anti-armor mereka menargetkan kelompok militer yang dikatakan milik Hizbullah Lebanon dan gerakan Irak Nujaba selatan Aleppo, dan menampilkan tembakan langsung ke arah kelompok-kelompok tersebut.

3 Pekan Operasi Mosul, Pasukan Irak Ambil Alih Banyak Wilayah, Ini Laporannya

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Tentara Irak dan sekutunya pada hari Senin terus mencatat kemenangan di dan sekitar wilayah Mosul yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) di tengah operasi pembersihan pasukan IS dari kota kedua terbesar Irak yang sedang berlangsung – yang sekarang memasuki pekan keempat, Anadolu Agency melaporkan, Senin (07/11/2016).

Dalam sebuah pernyataan, General Abdulamir Rashid Yarullah, kepala militer Komando Operasi Niniwe, mengumumkan bahwa pasukan Irak telah merebut tiga desa di barat daya Mosul serta desa dan kabupaten lain di utara Mosul.

Jenderal itu menambahkan bahwa dua komandan IS tewas di selatan dan timur Mosul, sementara pasukan Irak di tenggara Mosul telah merebut tank dan sejumlah besar senjata dari para militan.

Menurut Kolonel Ahmed al-Jubouri, seorang perwira di Komando Operasi Niniwe, pasukan Irak sekarang berdiri sekitar 14 kilometer dari bandara internasional Mosul.

“Setelah menguasai desa Al-Zefteyya, pasukan Irak sekarang berada sekitar 14 kilometer dari bandara dari arah daerah Hammam al-Alil di selatan Mosul,” kata al-Jubouri kepada Anadolu Agency.

Pada hari Sabtu, tentara mengumumkan merebut kembali Hammam al-Alil, salah satu benteng terakhir IS di selatan Mosul, segera setelah menyerbunya.

Pada tanggal 18 Oktober, tentara, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, yang dikuasai IS – bersama dengan tambahan wilayah di utara dan barat Irak – pada pertengahan 2014.

Beberapa bulan terakhir tentara Irak telah merebut kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul – ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak – dan di provinsi barat Anbar.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM), lebih dari 22.000 orang telah mengungsi sejak operasi Mosul dimulai tiga pekan lalu.

Pasukan Kurdi Irak Rebut Kota Bashiqa dari IS

NiNIWE (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak Peshmerga telah “benar-benar merebut” pusat kota strategis Bashiqa dan sekarang mencoba untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) dari seluruh kota, petugas Peshmerga mengumumkan pada Senin sore (07/11/2016).

“Pasukan kami sekarang mengontrol penuh pusat Bashiqa,” kata petugas Peshmerga Sherzad Zakholi kepada Anadolu Agency, Senin.

“Bendera Irak dan bendera daerah [yaitu wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara] telah dikibarkan di atas semua bangunan pemerintah di daerah,” katanya.

Zakholi menambahkan bahwa pasukan Peshmerga sekarang dalam proses membersihkan ranjau dan booby-traps (jebakan/perangkap) yang tersisa yang ditanam oleh militan IS.

Sebelumnya pada hari Senin, pasukan Peshmerga Kurdi menyerbu kota Bashiqa di utara Irak sebagai bagian dari serangan militer yang sedang berlangsung untuk merebut kembali kota terdekat Mosul dari kelompok IS.

Menurut seorang wartawan Anadolu Agency yang berada dekat lokasi pertempuran, pasukan Peshmerga memasuki pusat kota Senin pagi – dari tiga arah – dan saat ini menyerang posisi IS di daerah tersebut.

Ahli militer dari koalisi pimpinan AS memberikan dukungan kepada pasukan Peshmerga yang saat ini berperang di dalam kota, kata wartawan itu.

Menurut Sankar Mustafa, petugas Peshmerga lain, pasukan Peshmerga juga sekarang menguasai penuh jalan utama yang menghubungkan Bashiqa ke Mosul.

Kota Bashiqa yang mayoritas dihuni Ezidi terletak sekitar 12 kilometer (kira-kira 8 mil) di timur laut Mosul, ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak.

Turki memiliki misi pelatihan militer lama di dekat Camp Bashiqa, di mana tentara Turki telah melatih pasukan Peshmerga dan relawan suku lokal dalam hal teknik tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran misi di Irak utara telah meningkatkan ketegangan antara Baghdad dan Ankara di tengah seruan oleh beberapa anggota parlemen Irak agar pasukan Turki menarik diri dari daerah tersebut.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi besar yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Pada pertengahan 2014, IS menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah luas wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, menduduki kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar barat dalam beberapa bulan terakhir

Ketum DDII Himbau Umat Untuk Membentengi Iman di Era Fitnah

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketum Dewan Dawah Islam Indonesia (DDII), Ustadz KH Syuhada Basri mengatakan fitnah di jaman sekarang jauh lebih besar dari pada sebelumnya.

“Akibat fitnah itu kata Rosulullah orang yang paginya iman sorenya menjadi kafir, sore iman paginya kafir, karena banyak orang menjual agamanya dengan keuntungan dunia katanya,” katanya pada acara Executive Gatering di Kusuma Sahid Prince Hotel, Jl Sugiyopranoto 20, Solo, Ahad (6/11/2016).

Kesimpulan dari hadits itu, kata dia, banyak orang saat ini disibukan dengan dunia. Menjaga Iman untuk tetap kokoh di jaman fitnah dinilainya penting dilakukan. Sebab, hal itu dapat membentengi dari derasnya ujian yang akan dihadapi.

“Kalau iman mudah dibeli, maka orang lain mudah pula mengolok-olok dan menghina kita. Kita menghadapi kenyataan bagaimana orang semakin banyak berlomba-lomba untuk membela yang bathil dan memusuhi yang haq,” terangnya menasehati peserta STTD Tabarok.

Menurutnya, kondisi itulah yang melahirkan generasi jauh dari Al Quran. Maka wajar, lanjutnya, jika saat ini ada orang berani terang-terangan melecehkan Al Quran. Ia juga menilai umat tak kokoh iman itu yang membela pelaku penistaan Al-Qur’an.

Untuk itu, Ustadz Syuhada menghimbau kepada umat Islam untuk membentengi bahaya itu dengan mencetak generasi penghafal Qur’an.

Aparat Tidak Mendengar Kapolri Bukti Tidak Adanya Kordinasi Kapolri dengan Kapolda

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Gerindra, Desmond J Mahesa mengatakan, perintah Kapolri agar pasukan menghentikan penembakan gas air mata tidak diindahkan aparat di lapangan. Sebab, aparat dinilai tersulut arahan Kapolda Metro agar menembak gas air mata saat itu juga.

“Suara Kapolri tidak didengar. Ini membuktikan tidak ada koordinasi Kapolri dengan Kapolda,” ujar Desmond dikutip dari eramuslim, Senin (7/11/2016).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada kerusuhan aparat dengan massa Jumat petang lalu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian datang, lalu lewat pengeras suara memerintahkan polisi untuk tidak menembakkan gas air mata.

“Saya Kapolri, jenderal, saya minta kepada seluruh anggota Polri jangan tembakkan air mata,” kata Tito kepada pasukannya melalui pengeras suara dari mobil komando.

Tito yang datang bersama Panglima TNI Jenderal Nurmantyo meminta seluruh pasukannya kembali dan menenangkan suasana.

video-ekslusif-detik-detik-menjelang-bentrokan-massa-dan-aparat-pada-aksi-4-november

“Kita semua bersaudara. Semua bersaudara. Kita semua memiliki keluarga di rumah masing-masing. Saya minta anggota Polri agar hentikan tembakan gas air mata,” tegas Tito.

Namun demikian, aparat pada aksi bela Islam itu seolah tidak mendengar dan tetap melancarkan serangan gas air mata dengan ganas, tidak pandang bulu menyerang massa hingga ulama dan tokoh yang berusaha meredam amarah massa.

Salam UI Kecewa Dengan Presiden Joko Widodo

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi Bela Qur’an pada 4 November beberapa waktu lalu menuai tanggapan. Nuansa Islam Mahasiswa (Salam) UI ikut berkomentar. Salam UI menyesal dengan sikap Presiden RI dengan tidak menemui jutaan massa itu.

“Salam UI menyampaikan kekecewaannya kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sebagai pemimpin yang dipercayakan amanah kenegaraan oleh rakyat Indonesia namun tidak bersedia hadir menemui massa aksi di Istana Negara,” kata Salam UI dalam rilis yang diterima jurniscom, Senin (7/11/2016).

Dalam pernyataan itu Salam UI mengatakan, Kepolisian sebagai pengayom dan pengaman negara harus bijak dalam melihat kondisi. Tidak represif apalagi terprovokasi oleh massa aksi.

“Kepolisian sebagai pelayan masyarakat dalam hal ini harus juga mampu bertindak lebih bijak dalam menyikapi setiap kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi dalam setiap momen aksi, tidak ikut terprovokasi, menghindari tindakan represif serta tetap bersama-sama menjaga situasi berjalan dengan tertib dan damai,” ujar Salam UI.

Namun, Salam UI tidak menampik ada sebagian oknum yang memprovokasi aksi 4 November itu.

“Pelajaran berharga bagi umat Islam untuk lebih waspada dan selalu merapatkan barisan. Agar terhindar dari provokasi serta kemungkinan penyusupan oleh orang-orang yang berusaha menciderai nilai-nilai perdamaian serta kemuliaan Islam,” cetusnya menyindir.

Oleh sebab itu, dengan waktu 2 pekan yang dijanjikan wakil Presiden, Jusuf Kalla untuk memproses petahana DKI, diharapkan umat dapat mempersiapkan lebih matang lagi.

“Umat Islam di Indonesia agar tetap saling menguatkan, bersiap siaga dan mendukung satu sama lain dalam mengawal proses hukum yang sedang berlangsung,” ungkapnya.

“Mengawal proses hukum kasus ini agar tidak terjadi diskriminasi,” pungkasnya.

Reporter: Budi Setiawan

Pejabat Militer Irak: Serangan Udara Bunuh Komandan Senior IS di Mosul

MOSUL (Jurnalislam.com) – Seorang komandan senior yang diduga dari kelompok Islamic State (IS) terbunuh oleh serangan udara di kota Mosul, Irak utara, seorang pejabat militer Irak mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (06/11/2016).

Menurut Kolonel Ahmad al-Jubouri dari Komando Operasi Mosul, Abu Hamza al-Muhajir, yang dikenal sebagai pemimpin ketiga Daesh yang paling penting tewas di kota selatan Mosul, Hammam al-Alil.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi luas untuk merebut kembali Mosul, benteng terakhir Daesh di Irak utara.

Pada pertengahan 2014, IS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah wilayah luas di utara dan barat Irak.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, telah merebut kembali banyak wilayah beberapa bulan terakhir ini.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM), lebih dari 22.000 orang telah mengungsi sejak awal operasi Mosul.

Masjid dan Pusat Budaya Turki di Stockholm Diserang

SWEDIA (Jurnalislam.com) – Penyerang tak dikenal melempari batu ke sebuah Masjid dan pusat budaya yang terkait dengan Turki di Stockholm pada hari Ahad (06/11/2016), seorang pejabat di pusat budaya tersebut mengatakan, lansir World Bulletin, Ahad.

Masjid Rinkeby dan afiliasinya, Turkish Culture Center diserang pada dini hari Ahad, kata pejabat yang ingin tetap anonim karena masalah keamanan tersebut.

Tidak ada korban yang dilaporkan karena tidak ada yang sedang berada di dalam gedung ketika serangan itu terjadi. Namun, jendela bangunan rusak.

Pemerintah Swedia telah meluncurkan sebuah investigasi untuk menangkap para tersangka.

Pasukan Irak Memasuki Bandara Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan khusus Irak mendesak mundur militan Islamic State (IS) dari pusat kota di selatan benteng utama IS di Mosul pada hari Sabtu dan mencapai beberapa km (mil) dari bandara di pinggir kota, kata seorang komandan senior.

Letnan Jenderal Raed Shakir Jawdat mengatakan pasukan keamanan menguasai pusat Hammam al-Alil, sekitar 15 km (10 mil) di selatan Mosul, meskipun dia tidak mengatakan apakah IS telah didorong keluar sepenuhnya, lansir Al Arabiya News Channel, Ahad (06/2016).

Kemajuan diperoleh di garis depan selatan beberapa hari setelah pasukan khusus Irak bergerak ke sisi timur Mosul, mengambil kendali atas enam wilayah menurut pejabat Irak dan memulihkan pijakan di kota untuk pertama kalinya sejak tentara Irak mundur dengan memalukan dua tahun lalu.

Unit lain maju lebih jauh lagi ke utara hingga tepi barat sungai Tigris pada hari Sabtu, Jawdat menambahkan. “Pasukan elit kami telah mencapai daerah yang terletak hanya 4 km (2 1/2 mil) dari bandara Mosul,” katanya kepada saluran televisi Al-Hurra.

Tidak ada laporan dari kemajuan lebih lanjut di bagian timur kota pada hari Sabtu, dan petugas mengatakan militer sedang membersihkan daerah itu dalam beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, berbicara dalam kunjungan ke garis depan timur, mengatakan ia membawa “pesan kepada warga Mosul yang disandera Daesh IS – kami akan membebaskan Anda segera.”

Abadi mengatakan kemajuan dalam operasi yang berjalan hampir tiga minggu, dan juga maju ke Mosul, sudah lebih cepat dari yang diharapkan. Tetapi dalam menghadapi perlawanan sengit, termasuk pemboman mobil IS, penembak jitu dan bom pinggir jalan, ia menyatakan bahwa kemajuan mungkin tersendat.

Jenderal Jawdat mengatakan pasukannya telah menghancurkan 17 mobil bermuatan bom yang telah menargetkan mereka di garis depan utara.

Sejauh ini tentara mengontrol hanya sebagian kecil dari Mosul yang merupakan rumah bagi 2 juta orang sebelum IS mengambil alih pada tahun 2014. Lebih dari 1 juta tetap menetap di kota – dan merupakan jumlah penduduk terbesar di bawah kontrol IS baik di Irak ataupun di Suriah.

Seorang koresponden Reuters di desa Ali Rash, sekitar 7 km (4 mil) di tenggara kota, melihat asap mengepul dari distrik timur pada Sabtu, sementara serangan udara, artileri dan tembakan terdengar.

PBB telah memperingatkan kemungkinan eksodus ratusan ribu pengungsi. Sejauh ini hanya 31.000 yang telah mengungsi, dimana lebih dari 3.000 lainnya telah kembali ke rumah mereka, kata William Lacy Swing, kepala Organisasi Internasional untuk Migrasi.

“Jumlahnya tidak sebesar yang diharapkan. Kami telah mendengar jumlah hingga 500.000 atau 700.000,” katanya kepada Reuters.

“Kami sedang berusaha untuk mempersiapkan, tetapi sangat sulit untuk melakukan perencanaan kontingensi dengan tingkat akurasi karena kita tidak tahu apa yang akan mereka temukan ketika mereka masuk ke dalam.”

 

 

Pasukan SDF Dukungan AS akan Mulai Serangan ke Raqqa

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan Demokratik Suriah yang didukung AS (SDF) telah menyatakan secara terbuka untuk meluncurkan serangan terhadap Raqqa yang masih dikuasai Islamic State (IS), Aljazeera melaporkan, Ahad (06/11/2016).

SDF, sebuah kelompok payung yang terdiri dari kelompok pemberontak Kurdi dan Arab yang bertempur di Suriah, mengatakan pada konferensi pers hari Ahad bahwa serangan untuk merebut kembali ibukota de facto Islamic State yang akan dimulai pada Sabtu.

Dalam konferensi pers di Ayn Issa, milisi SDF di Suriah utara akan “terus [melancarkan serangan] sampai semua tujuan terpenuhi, yaitu, merebut dan menjatuhkan ibukota IS.”

“Pada kesempatan ini, kami menyerukan kepada masyarakat internasional dan pasukan regional untuk berkoordinasi dan ambil bagian dalam operasi untuk membasmi IS,” kata seorang pejabat SDF sebelum mengumumkan AS akan menawarkan dukungan udara dalam serangan itu.

“Kami juga mengimbau lembaga-lembaga kemanusiaan dan bantuan internasional untuk melakukan tugas mereka bagi orang-orang di Raqqa setelah kota ini telah dibebaskan.”

Para milisi menyerukan warga sipil untuk menjauh dari area di mana pasukan IS diketahui berada, dan mencoba untuk pindah ke wilayah negara yang telah “dibebaskan.”

Pengumuman itu muncul saat pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga Kurdi Irak, dengan bantuan dari koalisi yang didukung AS, terus malancarkan pertempuran di Irak untuk merebut kembali Mosul.

Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG) – yang sudah mengalahkan IS beberapa kali, termasuk merebut kota perbatasan kunci Tal Abyad – menjadi tulang punggung aliansi.

Seiring dengan Unit Perlindungan Perempuan Kurdi, kelompok SDF termasuk faksi Arab, pasukan Kristen Suriah dan unit Turkmen.

The Raqqa Falcons Brigade, kekuatan Arab dengan 1.000 pasukan yang semua pejuangnya berasal dari Raqqa, diharapkan menjadi komponen kunci dalam perjuangan untuk Mosul.

“Ketika datang ke Raqqa, kami ingin sebuah kekuatan untuk membebaskan Raqqa yang terutama berasal dari daerah setempat. Kami telah melatih banyak milisi ini dan kekuatan yang akan terus tumbuh seperti yang kita dapatkan untuk fase berikutnya dalam operasi ini,” Brett McGurk, pejabat Amerika yang memimpin perjuangan melawan IS, mengatakan dalam konferensi pers di Yordania.

“Kami bekerja sama dengan Pasukan Demokratik Suriah. Ketika mereka melawan Daesh [IS], kami memberikan dukungan udara. Dan akan terus mendukung saat mereka bergerak ke selatan melawan posisi Daesh di utara Raqqa.”

Menteri Pertahanan AS Ashton Carter memperingatkan pada hari Ahad bahwa perjuangan untuk merebut kendali Raqqa dari IS “tidak akan mudah.”

AS menganggap YPG sebagai kekuatan yang paling efektif dalam menghadapi IS di Suriah, namun Turki memandangnya sebagai organisasi “teroris” dan mengatakan YPG terkait dengan kelompok Kurdi yang terlarang di Turki, Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Para pejabat Turki termasuk Presiden Recep Tayip Erdogan mengatakan mereka tidak akan menerima peran Kurdi dalam pembebasan Raqqa.

Reporter Al Jazeera Mohammed Adow, melaporkan dari Gaziantep di perbatasan Turki dengan Suriah, bahwa meskipun SDF meminta pasukan internasional untuk membantu serangan, mereka jelas tidak menginginkan keterlibatan militer Turki.

“Siapa yang akan berpartisipasi dengan SDF [dalam serangan di Raqqa] masih harus dilihat,” katanya sebelum menambahkan bahwa militer Turki telah menolak dengan SDF terutama Kurdi, dan lebih memilih untuk bersekutu dengan Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA).

Andreas Krieg, seorang peneliti Pusat Keamanan dan Strategi Timur Dekat di Kings College London, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “Turki tidak menginginkan YPG [Unit Perlindungan Rakyat Kurdi] atau SDF untuk mengontrol tanah [di Suriah], itulah mengapa militer mereka terlibat di sana.”

Krieg menambahkan bahwa pasukan oposisi berada 40 sampai 50km di luar Raqqa, dan ada banyak kota-kota dan desa-desa di sepanjang jalan.

“Tidak mungkin bahwa SDF akan mampu memenangkan pertempuran ini,” tambah Krieg. “Tapi masih harus dilihat siapa, apakah FSA, pasukan pemerintah Suriah, atau pasukan internasional, yang akan berpartisipasi.”

Tidak ada komentar segera dari Turki mengenai pengumuman Kurdi.

Turki melancarkan operasi di dalam wilayah Suriah pada 24 Agustus bersama pasukan Pembebasan Suriah (FSA) yang telah berhasil merebut kembali kubu Jarabulus IS dan kota simbolis penting Dabiq.

Tapi salah satu tujuan operasi ini juga untuk memeriksa kemajuan Kurdi Suriah, dan pasukan Turki telah melakukan serangan udara terhadap posisi YPG.