Berita Terkini

Pemimpin Muslim Kashmir Perpanjang Aksi Pro Kemerdekaan, Tolak Kekuasaan India

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Kepemimpinan pro-kemerdekaan Kashmir telah memutuskan untuk memperpanjang aksi empat bulan menentang kekuasaan India setelah pertemuan panjang dengan aktivis masyarakat sipil dan pengusaha, lansir World Bulletin, Selasa (08/11/2016).

“Semua orang dalam pertemuan itu mengatakan bahwa kepemimpinan harus melanjutkan perjuangan saat ini,” Yasin Malik, pemimpin Front Pembebasan Jammu dan Kashmir (the Jammu and Kashmir Liberation Front) mengatakan pada akhir pertemuan. “Ini adalah gerakan rakyat dan selama rakyat ingin melanjutkannya, maka akan berlanjut.”

Pertemuan ini diselenggarakan oleh Malik bersama Syed Ali Shah Geelani dan Mirwaiz Umar Farooq, para pemimpin dua faksi Konferensi Hurriyat (Hurriyat Conference) yang pro-kemerdekaan dan dihadiri oleh pedagang, guru, transporter, pegawai pemerintah, pemimpin agama dan politik, pengacara dan anggota masyarakat sipil lainnya.

Agitasi yang sedang berlangsung terhadap kekuasaan India adalah salah satu protes yang terpanjang di wilayah yang disengketakan, yang telah melakukan protes serupa di masa lalu.

Menurut sumber di kepolisian, pemerintah yang didukung India di wilayah tersebut mengizinkan pertemuan berlangsung dengan harapan pertemuan itu akan mengakhiri aksi protes.

Sedikitnya 90 warga sipil telah tewas dan lebih dari 10.000 lainnya terluka, menurut angka yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan di kawasan itu, selama pasukan India menindak keras protes.

Kerusuhan terbaru dimulai pada tanggal 8 Juli, ketika puluhan ribu orang berkabung untuk seorang komandan militan Kashmir berusia 21 tahun.

Sejak itu, Kashmir meluncurkan protes selama 121 hari dan pemerintah India merespon dengan jam malam yang ketat, pembatasan komunikasi dan pembekuan beberapa media.

Menurut rincian dari polisi, lebih dari 7.000 warga sipil, termasuk aktivis hak asasi manusia, telah ditangkap karena berpartisipasi dalam demonstrasi pro-kemerdekaan.

Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan di beberapa bagian dan diklaim oleh kedua Negara secara penuh.

Kedua negara terlibat tiga kali perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – setelah mereka dipisahkan pada tahun 1947, dua diantara perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Sejak tahun 1989, kelompok-kelompok perlawanan Muslim Kashmir di wilayah Kashmir yang dikuasai India (Indian Held Kashmir-IHK) telah memperjuangkan kemerdekaan melawan kekuasaan India, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 orang telah dilaporkan tewas dalam konflik sejauh ini, sebagian besar dari mereka oleh pasukan bersenjata India. India mempertahankan lebih dari setengah juta pasukannya di wilayah yang disengketakan.

Pemilu AS untuk Presiden Baru, Ini Ulasannya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Jutaan orang Amerika di seluruh AS mulai memberikan suara untuk presiden negara itu berikutnya Selasa pagi (08/11/2016), Anadolu Agency melaporkan.

Kira-kira 90 juta orang Amerika diharapkan untuk memilih selain jutaan orang lain yang memberikan suara lebih awal.

Gelombang pemilih bergerak menuju TPS di seluruh Amerika Serikat saat waktu menunjukkan pukul 06:00 atau 07:00 tergantung peraturan masing-masing negara bagian. Voting akan berakhir pukul 18:00-21:00 waktu setempat di setiap negara.

Menuju Hari Pemilu, sebagian besar jajak pendapat melaporkan bahwa calon Demokrat Hillary Clinton memimpin di depan calon Republik Donald Trump dengan marjin tipis tiga hingga lima poin.

Tapi dua jajak pendapat awal Selasa menunjukkan Trump memimpin di depan Clinton masing-masing sebanyak dua dan tiga poin, menyoroti adanya ketidakpastian hasul akhir pemilihan ini.

Pemilu kali ini telah mencatatkan rekor sebagai salah satu yang paling memecah belah dengan pendukung dari salah satu calon partai besar tetap membela pilihan mereka.

Di lingkungan Eastern Market di Washington, DC, Laura Babinski, penduduk berusia 29 tahun dari ibukota negara tersebut memilih Clinton karena dia “bersemangat untuk melihat presiden wanita pertama.”

“Selain itu saya menghormatinya dan menghormati pekerjaan yang dia lakukan sepanjang hidupnya dan saya suka dengan kebijakannya,” katanya kepada Anadolu Agency.

Bagi Max Charnley, yang juga warga Eastern Market berusia 29 tahun, dukungannya untuk calon Partai Demokrat itu bersifat pribadi.

“Saya merasa sepertinya dia mewakili kepentingan saya sebagai orang dari komunitas LGBT, serta orang yang menghargai imigran di negara ini,” katanya. “Saya menemukan bahwa setiap bentuk penerimaan dan toleransi adalah pilihan penting bagi presiden yang terpilih.”

Tapi di luar DC di pinggiran Leesburg, Virginia, para pemilih berpandangan jauh berbeda.

“Clinton adalah musuh rakyat Amerika,” kata Ron Kokinda, penduduk berusia 67 tahun yang tidak mengungkapkan pilihan suaranya.

“Saya menentang Hillary Clinton terutama karena ada bahaya Perang Dunia III dengan kebijakannya,” katanya. “Apa yang dia usulkan di Suriah, atau zona larangan terbang, akan menyebabkan Perang Dunia III sangat cepat dengan Rusia.”

Barbara Boyd, juga berusia 67 tahun, menggemakan sentimen setelah dia memberikan suaranya untuk calon Partai Hijau Jill Stein.

“Jika Anda memilih Clinton Anda akan perang dengan Rusia di Timur Tengah,” katanya.

“Clinton mengikuti kebijakan Obama dan itu akan berakhir dalam perang. Ini sangat, sangat sederhana,” tambahnya.

Hasil awal akan mulai bergulir Selasa malam saat warga Amerika di seluruh negeri mempersiapkan diri mencari tahu siapa yang akan duduk di kantor tertinggi negara untuk empat tahun ke depan.

Pasukan Perisai Efrat Tiba di Gerbang Kota IS, al-Bab

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) dari operasi EuphratesShield membuat pergerakan baru pada hari Selasa (08/11/2016) dalam menghadapi kelompok Islamic State (IS) di timur kota Aleppo dan mereka sekarang telah tiba di pinggiran kota strategis “al-Bab” setelah merebut kendali tujuh desa dari IS, ElDorar AlShamia melaporkan Selasa (08/11/2016).

Koresponden Eldora melaporkan bahwa tujuh desa diambil alih oleh faksi EuphratesShield “Petajk, Arab Jodek, Yazici, Trahin, Naaman dan Sosenbat” yang terletak 7 km dari kota al-Bab.

Koresponden ElDorar menambahkan bahwa pertempuran sengit terjadi untuk menguasai desa-desa tersebut; di mana militan IS menggunakan bom mobil untuk mencegah kemajuan faksi EuphratesShield, sebaliknya faksi EuphratesShield menghancurkan kendaraan dekat kota Numan.

Faksi Perisai Efrat yang didukung oleh militer Turki mencoba untuk merebut kota al-Bab dan mengusir IS setelah pembebasan penuh daerah di pedesaan utara Aleppo dan beberapa bagian pedesaan timur seperti kota Jarabulus, serta kota dan desa di sekitarnya.
Pasukan Perisai Efrat Tiba di Gerbang Kota IS ‘al-Bab’

Pasukan Peshmerga Umumkan Pengambilalihan Penuh Kota Bashiqa dari IS

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Peshmerga Kurdi pada hari Selasa “sepenuhnya membebaskan” kota Bashiqa di timur laut Mosul, pejabat Pemerintah Daerah Kurdi (Kurdish Regional Government-KRG) mengatakan, Anadolu Agency melaporkan, Selasa (08/11/2016).

Jabar Yawar, kepala Kementerian Peshmerga KRG, mengatakan distrik Bashiqa telah sepenuhnya dibersihkan dari unsur Islamic State (IS) setelah pasukan Peshmerga merebut pusat kota Senin.

Pasukan Peshmerga, kata dia, saat ini sedang membersihkan daerah dari ranjau darat dan booby-traps (perangkap/jebakan) yang ditanam oleh anggota kelompok IS.

Menurut koresponden Anadolu Agency di Bashiqa, pertempuran terus terjadi secara sporadis antara pasukan Peshmerga dan IS yang bersembunyi di rumah-rumah dan terowongan.

Kota Bashiqa yang mayoritas dihuni etnis Ezidi terletak sekitar 12 kilometer (kira-kira 8 mil) di timur laut Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Turki telah lama memiliki misi pelatihan militer di dekat Camp Bashiqa, di mana tentara Turki telah melatih baik pasukan Peshmerga maupun relawan suku lokal dalam hal teknik tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran misi di Irak utara telah meningkatkan ketegangan antara Baghdad dan Ankara di tengah seruan oleh beberapa anggota parlemen Irak agar pasukan Turki menarik diri dari daerah tersebut.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul.

Pada pertengahan 2014, IS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah luas wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, beberapa bulan terakhir telah merebut kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar, Irak barat.

Terkait Mosul, Komandan Militer Iran Bertemu Langsung Pemimpin PKK di Irak

ERBIL (Jurnalislam.com) – Komandan Pasukan elit Syiah Iran, Quds Force dari Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani, baru-baru ini bertemu Cemil Bayik, pemimpin kelompok ektremis PKK, di kota utara Irak Al-Sulaymaniyah, website Kurdi melaporkan, lansir Anadolu Agency, Selasa (08/11/2016).

Menurut situs basnews, Soleimani meminta Bayik mengirim gerilyawan PKK di Sinjar untuk ambil bagian dalam operasi berkelanjutan yang bertujuan merebut kota Mosul di utara Irak dari kelompok Islamic State (IS).

Terkait dengan Partai Demokrat Kurdi (PPK), website basnews berbasis di wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara.

Sementara di Al-Sulaymaniyah (yang juga terletak di wilayah Kurdi), Soleimani dilaporkan berjanji kepada Bayik bahwa Iran akan meningkatkan dukungan keuangan dan militer kepada PKK jika pasukan kelompok itu ambil bagian dalam operasi Mosul.

Dia juga dilaporkan meminta Bayik untuk meningkatkan kehadiran PKK di wilayah Irak yang jatuh dalam lingkup pengaruh Iran.

Menurut website, pertemuan langsung tersebut terjadi setelah anggota pemerintah pusat Irak “menyediakan fasilitas bagi PKK di Baghdad untuk membangun markas militer dan politik.”

Namun, Shahfan Abdullah, seorang anggota parlemen untuk PPK yang juga anggota komite keamanan dan pertahanan parlemen Irak, menunjukkan bahwa, menurut kesepakatan dengan koalisi operasi Mosul, militan PKK akan ditargetkan (diserang) jika mendekati Mosul dari wilayah Sinjar Mountain.

Ini, kata dia, tidak hanya berlaku untuk PKK, tetapi juga untuk milisi Syiah Hashd al-Shaabi dan kelompok yang berafiliasi.

Didirikan pada pertengahan 2014 dengan tujuan memerangi IS, Hashd al-Shaabi adalah kelompok payung milisi Syiah pro-pemerintah.

Abdullah melanjutkan untuk menegaskan bahwa para ahli militer Iran baru-baru ini mengunjungi garis depan Mosul dan mengadakan sejumlah pertemuan dengan para pemimpin Hashd al-Shaabi.

Ini Tanggapan Abu Rusydan Terkait Aksi Bela Quran

SERANG (Jurnalislam.com) – Pemerhati perjuangan Islam, Ustadz Abu Rusydan memberi tanggapan terkait aksi bela Islam beberapa waktu lalu. Menurutnya aksi 411 itu penting dilakukan untuk proses tahapan selanjutnya.

“Itu perlu dilakukan dan kita doakan yang datang dengan ikhlas pada aksi kemarin diberi balasan oleh Allah,” terangnya saat ditemui jurniscom di Yayasan at-Taubah, Serang, Ahad (6/11/2016).

Perkara yang paling bermanfaat pada 411 kemarin, kata dia, yaitu bagaimana ada komunikasi antar ormas Islam atau kelompok muslim yang selama ini tidak ada komunikasi. Sebab, itu perlu dilakukan untuk yang akan datang.

“Perjuangan itu tidak mungkin dilakukan oleh sekelompok, dua kelompok saja, musti oleh umat Islam,” terangnya.

bela-islam-2Menurutnya, pada aksi bela Islam itu sebagian dari jutaan umat Islam tidak hanya turun untuk merespon Ahok saja. Tetapi, lebih kepada semangat berkorban untuk membela Islam.

“Saya rasa sebagian dari mereka semangat untuk membela Islam. Bukan Ahoknya saja,” ungkapnya.

Berbicara tentang syarat perjuangan yang mengatas namakan Islam, lanjutnya lagi, setidaknya ada 3 syarat yang harus ditepati.

“Dibawah bendera Islam yang jelas, dengan itu tuntutan tidak ragu. Kedua, perjuangan musti dipikul oleh umat, terakhir harus ada pimpinan yang satu, dan pimpinan itu harus yang bertaqwa,” cetusnya.

“Sekali lagi, aksi kemarin itu perlu dilakukan untuk proses tahapan,” tambahnya.

Ia juga mengomentari janji RI 2, Jusuf Kalla pada aksi 411 kemarin.
Menurutnya itu hanya jawaban standar, harapan antara saja.

“Kita memang berharap janji itu terlaksana. Tapi itukan harapan antara saja, sejarah membuktikan selama ini, itu adalah jawaban standar,” pungkasnya.

Ikuti Aksi 411, PAS Apresiasi Kepemimpinan Ulama dan Tekad Perjuangan Umat Islam

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Menyikapi berlangsungnya Aksi Damai Sejuta Ummat Bela Islam dari berbagai elemen masyarakat, lembaga dakwah dan ormas Islam termasuk dari elemen PAS Jabar yakni sebanyak 1000 orang yang berlangsung pada Jum’at, 4 November 2016 dari Masjid Istiqlal hingga depan Istana Negara dan kemudian dilanjutkan di gedung DPR/MPR, maka PAS Jabar menyatakan sikap dan seruan sebagai berikut:

  1. Bersyukur kepada Allah SWT bahwa massa aksi damai Bela Islam telah didukung dan diikuti oleh jutaan umat Islam dari berbagai elemen dakwah dan ormas Islam yang berasal dari berdaerah di Indonesia ( Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Papua dan sebagainya) yang didorong oleh semangat ukhuwah islamiyah dengan penuh pengorbanan yang besar, persatuan, persaudaraan dan kebersamaan, hikmat, dan kesukarelaan yang tinggi.
  2. Berterima kasih kepada umat Islam seluruh dunia yang telah dengan sigap dan bermartabat menjawab seruan untuk membela kehormatan agama dan harga diri umat yang telah diremehkan dan diinjak-injak oleh kaum dan pendukung penista Al-Qur’an.
  3. Mengapresiasi sebesar-besarnya atas kepemimpinan para ulama dan habaib, khususnya Habib Rizieq Syihab dan Ust Bachtiar Nasir yang telah dengan tegar dan sabar memimpin jutaan umat Islam yang berdemonstrasi yang berakhir damai.
  4. Mengapresiasi ketangguhan umat Islam yang berdemo dengan rute cukup panjang dan melelahkan dari Istiqlal, Patung Kuda, Istana, hingga ke DPR/MPR dan sampai berakhir dini hari Sabtu, 5 November 2016 dengan semangat tanpa padam.
  5. Mengapresiasi timbulnya tekad perjuangan dan akhlak yang baik berupa tindakan kebersamaan, saling berbagi dan saling melindungi, kedermawanan yang muncul secara spontan dari sesama massa dan pendukung unjuk rasa dari ummat.
  6. Menyerukan kembali agar umat seluruhnya bersatu mengawal tuntutan aksi damai Bela Islam yang sudah disuarakan untuk memenjarakan Ahok tanpa kenal menyerah.
  7. Menuntut kepada aparat keamanan khususnya Polri atas jatuhnya korban baik yang meninggal dunia maupun luka untuk diusut dan dibawa ke pengadilan.
  8. Tetaplah berjuang, bersatu, dan meningkatkan keimanan dan solidaritas antar umat Islam dan jangan berpecah-belah.
  9. Mengajak semua elemen masyarakat, lembaga dakwah, ormas Islam dan masyarakat yang peduli dan cinta NKRI agar kasus penistaan Al Quran ini harus terus dikawal hingga yang bersangkutan diproses secara hukum sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia serta segera mendapat status hukum yang jelas.

Bandung, 6 November 2016

Muhammad Roinul Balad,Sos.I ( Ketua PAS Jabar)

Mohammad Ferdian ( Sekretaris PAS Jabar)

Ini Pesan Ustadz Fuad Al Hazimi Kepada Aktifis Media

SERANG (Jurnalislam.com) – Pemerhati dunia Islam, Ustadz Fuad Al Hazimi berpesan kepada aktifis media untuk tetap konsisten mengungkap fakta dan kebenaran. Tidak merasa putus asa dalam menyampaikan kebenaran dengan musuh besar yang dihadapi.

“Seperti di dalam al Qur’an, haq (kebenaran -red) akan melenyapkan kebhatilan (keburukan -red). Artinya haq itu harus dilontarkan,” katanya saat ditemui jurniscom di Yayasan at-Taubah, Serang, Ahad (6/11/2016).

Mantan Imam besar di salah satu Masjid Australia itu menganalogikan, Perang media seperti perang David dan Gholiat, seluruh media dikuasai oleh mereka, baik media mainstream, cetak dan elektronik. Mereka punya pasukan sosial media.

Mengomentari rangkaian aksi 4/11 kemarin, menurutnya, menjaga momentum akan kebangkitan umat, dinilai penting dilakukan aktifis media. Sebab, peristiwa dugaan penistaan agama Ahok merupakan puncak kesabaran umat akan rezim ini.

“Melontarkan haq itu butuh kekuatan, ketekunan, kesungguhan dan profesionalisme,” ucap da’i asal Magelang itu.

Ia juga mengatakan, saat ini musuh Islam lewat medianya sangat kuat dan banyak. Dana yang berlimpah serta motivasi yang kuat untuk memutar-balikan fakta.

“Berita mereka massif didukung dengan dana yang besar. Mereka itu bad news is a good news, berita buruk itu malah bagus untuknya,” terangnya.

“Membalikan fakta itu memang pekerjaan mereka,” tambahnya.

Ustadz Fuad menegaskan, Pers pada hari ini sama halnya dengan tukang sihir Firaun dulu. Menyihir pandangan umat dengan pemberitaannya.

Oleh karena itu, ia menyeru kepada aktifis media untuk serius dalam meniti jalan tulis-menulis. Sebab jika tidak Allah tidak memberi pertolongan-Nya.

“Kita yakin makar Allah itu lebih baik dari makar mereka. Tetapi haq itu harus ditata dengan rapih, dengan kesungguhan yang luar biasa lalu Allah melihat kesungguhan kita dan Allah akan memberikan pertolongan,” pungkasnya menasehati.

Muslim AS Hadapi Pilihan Sulit dalam Pemilu

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Saat warga Amerika pergi ke tempat pemungutan suara hari Selasa untuk memilih presiden baru, umat Islam menemukan diri mereka berada di antara batu dan dinding keras.

Itu bukan istilah untuk mengatakan bahwa mereka ragu-ragu, tetapi mereka juga memiliki sentimen yang sama dengan beberapa warga Amerika lain: Mereka percaya bahwa mereka tidak memiliki pilihan yang baik dalam memilih calon untuk mereka dukung.

Pemilih muslim sebagian besar mendukung kandidat Demokrat sejak Presiden Republik George W. Bush menyatakan “perang melawan teror” pada Oktober 2001 dan berakibat negara-negara Islam menanggung beban keputusan itu.

Presiden Barack Obama memenangkan dukungan besar dari 3 juta Muslim Amerika, dengan hampir 89 persen suara untuk Obama pada tahun 2008 dan 85 persen pada 2012, menurut jajak pendapat oleh kelompok advokasi utama Dewan Hubungan Muslim Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations-CAIR).

Tahun ini, data CAIR menunjukkan dukungan lebih condong bagi calon Demokrat Hillary Clinton, yang juga calon perempuan pertama kalinya dari partai besar. Tapi itu bukan keseluruhan cerita.

“Saya tidak berpikir Hillary Clinton adalah calon yang menarik. Pada kenyataannya, fakta bahwa dia hanya ‘menarik’ dibandingkan dengan Donald Trump yang meresahkan,” Sara Zayed, seorang analis teknologi di Wall Street berusia 22 tahun mengatakan kepada Anadolu Agency, Senin (07/11/2016), “Kebijakan luar negerinya juga militan dan sering menyakitkan perempuan dan anak-anak, yang kontras dengan pesannya yang ‘feminis’.”

Perkataan Zayed serupa dengan spektrum luas kelompok pemilih Muslim yang sangat beragam.

Dalam keragaman, mereka memiliki ikatan umum, salah satunya adalah mereka percaya bahwa mereka terjebak antara pilihan yang jelek dan pilihan buruk. Juga, dalam hal mendukung calon presiden, mereka berpikir tentang ummat – komunitas Muslim global – sebanyak mereka memikirkan diri mereka di AS.

Tapi tahun ini, pemilih Muslim berjumlah lebih banyak dari sebelumnya.

Lebih dari 1 juta Muslim telah terdaftar untuk memilih, menurut CAIR. Jumlah itu naik dari 500.000 pada tahun 2012 – menempatkan pemilih Muslim berada dalam posisi memiliki pengaruh nyata yang lebih besar yang dapat menentukan hasil pemilu.

Clinton mengambil sikap. Dalam pertama kalinya dalam kampanye presiden di AS, dia menunjuk direktur penjangkauan Muslim yang bepergian ke seluruh negeri untuk berbicara dengan para pemilih tentang apa yang dipertaruhkan pada hari Selasa.

Selain itu, Clinton memiliki pembantu profil tinggi dan Muslim Huma Abedin, di sisinya. Dia juga mendapat dukungan dari tokoh advokasi terkemuka Rep. Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih duduk di Kongres.

Kebijakan imigrasi Mantan Sekretaris Negara tersebut termasuk menawarkan tempat penampungan untuk pengungsi dalam jumlah yang jauh lebih tinggi, terutama pengungsi dari Suriah. Dia mengusulkan kenaikan 650 persen di atas jumlah 10.000 yang diperbolehkan dari negara yang sedang dilanda perang tersebut.

Sebaliknya, kandidat Partai Republik Donald Trump tidak membuat umat Islam mau mendukungnya.

Pertama, ia menuntut imigrasi garis keras sebagai landasan kampanyenya. Beberapa bulan setelah tahun lalu ia meluncurkan “gerakan” untuk “Membuat Amerika menjadi besar lagi”, Trump mengusulkan “pelarangan total dan lengkap bagi Muslim untuk memasuki Amerika Serikat” dalam reaksinya terhadap pertumbuhan terorisme di AS.

Kemudian pada bulan Maret, Trump mengatakan kepada CNN bahwa “Islam membenci kita”, dan tidak berusaha untuk membedakan antara agama Islam dan kelompok-kelompok ekstremis radikal pinggiran yang dia akui ingin ditargetkan.

Pada Konvensi Nasional Demokrat Juli, Trump menghadapi kritik dari keluarga Gold Star Muslim yang kehilangan anak mereka yang berusia 27 tahun, Capt. Humayun Khan pada tahun 2004 saat ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan sesama prajurit di Irak.

Ayahnya, dalam pernyataan pedih bertanya kepada Trump, “Apakah Anda pernah membaca Konstitusi Amerika Serikat?” yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari konvensi dan menjadi salah satu sorotan dalam kampanye Demokrat tersebut.

Trump mengabaikan kesempatan untuk menjembatani komunikasi dengan pemilih Muslim tersebut dan malah membalas pahit dengan meremehkan Khan dan menggambarkan istrinya sebagai orang yang tertindas.

Dan Trump tidak pernah meminta berkomunikasi dengan pemilih Muslim dalam beberapa kampanyenya di seluruh negeri. Dialog Trump yang mungkin paling dekat dengan umat Islam adalah ketika ia mengatakan bahwa Muslim “harus bekerja sama dengan penegak hukum” karena “mereka tahu” siapa saja yang memiliki niat buruk.

Beberapa hal itu sebagian menjelaskan mengapa hanya 4 persen dari Muslim yang mengatakan mereka akan mendukung Trump, menurut jajak pendapat CAIR terbaru. Sebaliknya, Clinton mendapat dukungan sebesar 72 persen.

Tapi Sajid Tarar, pendiri Muslim Amerika untuk Trump (American Muslims for Trump), percaya bahwa “mayoritas diam – silent majority” akan membantu menempatkan Trump ke Oval Office. Dan umat Islam harus memainkan peran mereka.

“Pemilu ini lebih besar dari Donald Trump,” kata Tarar kepada Anadolu Agency. “Bendera Amerika telah kehilangan rasa hormat di dunia,” katanya, menempatkan kesalahan tepat di pundak pemerintahan Obama-Clinton.

Trump “datang dengan ide-ide baru” dan “mendiagnosis isu ekstremisme IS,” menurut Tarar.

“Saya setuju dengan tawaran Trump untuk melarang umat Islam datang ke AS.”

Ini adalah posisi yang ironis bagi Tarar, yang berasal dari Pakistan, bila kita menganggap keluarganya sendiri akan dilarang memasuki AS jika kebijakan Trump diberlakukan tiga dekade lalu.

Tarar mengakui Pakistan, negara asalnya, “terkenal dengan terorisme” dan ia tidak ingin orang-orang datang dari sana jika mereka ingin menyakiti AS, “Saya mencintai negeri ini lebih dari hidup saya,” katanya.

Tarar, yang menempuh pendidikan di sekolah hukum di AS dan memiliki real estate, memiliki kata-kata kasar bagi umat Islam yang datang ke AS, mengatakan bahwa mayoritas “tidak memiliki konsep demokrasi.”

Dia tidak terganggu dengan beberapa tuduhan penyerangan seksual terhadap Trump atau komentar cabul yang dikeluarkan calon presiden itu tentang memangsa dan meraba-raba perempuan. Orang-orang Amerika telah mengampuni Bill Clinton, dan mereka akan memaafkan Donald Trump, menurut Tarar.

Sentimen mereka tampaknya berada dalam minoritas.

Amerika terkenal memiliki kenangan pendek tapi pemilih perempuan Muslim yang berbicara dengan Anadolu Agency tidak menginginkan presiden Trump.

“Saya tidak bisa membungkus kepala saya dengan gagasan bahwa ada sekelompok umat Islam yang mendukung kampanye Trump,” kata Hatice Cagla Gunaydin, 21-tahun mahasiswa jurusan hubungan internasional Turki-Amerika di Universitas George Washington.

“Saya tidak melihat bagaimana kampanye dan sentimen Trump selaras dengan prinsip Islam tentang perdamaian, masyarakat, dan keadilan,”

katanya.

 

Syiah Pakistan Bentrok dengan Polisi setelah Pemimpin Mereka Ditangkap

KARACHI (Jurnalislam.com) – Polisi di Karachi menembakkan gas air mata dan meluncurkan pentungan saat ratusan pengunjuk rasa memblokir jalan raya dan rel kereta api utama kota setelah penangkapan pemimpin Syiah di tengah gelombang pembunuhan sektarian, kata media lokal, lansir Anadolu Agency, Senin (07/11/2016).

Demonstran sekte Syiah melemparkan batu ke polisi dan penyiar Geo TV melaporkan dua perwira terluka dalam bentrokan di distrik timur pusat komersial Pakistan yang juga kota terbesar.

Rekaman yang disiarkan di televisi menunjukkan antrian panjang kendaraan di kedua sisi jalan raya saat demonstran menyerukan pembebasan pemimpin yang ditangkap Ahad malam.

Ada beberapa gambar pertempuran antara demonstran dan polisi yang didukung oleh kendaraan lapis baja. Lebih dari selusin orang ditangkap.

Polisi telah menangkap sekitar 100 tersangka anggota sekte Syiah dan muslim Sunni dalam tiga hari terakhir, termasuk seorang mantan senator Partai Rakyat Pakistan, Syed Faisal Raza Abidi, atas pembunuhan sektarian yang telah merenggut 11 korban dalam seminggu terakhir.

Pakistan yang mayoritas Muslim Sunni, memiliki sejarah panjang konflik agama. Syiah berjumlah sekitar 10 sampai 15 persen dari 202 juta penduduk Pakistan.