Berita Terkini

Penasihat Militer Iran: Ribuan Milisi Hizbullah Lebanon Tewas di Suriah

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Iran untuk pertama kalinya mengakui secara resmi bahwa milisi Syiah Hizbullah Lebanon menderita banyak kematian selama pertempuran berlangsung di Suriah, melaporkan bahwa kerugian milisi Syiah Hizbullah lebih banyak dari yang diderita Iran, ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (06/11/2016).

Pengakuan ini diucapkan oleh Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran untuk urusan militer, di mana ia mengatakan: “Ribuan anggota Hizbullah Lebanon tewas di Suriah, jumlah mereka lebih banyak dari jumlah pasukan Iran yang mati.”

Statistik yang disiapkan oleh Komite Luar Negeri dan Pertahanan Knesset Israel awal tahun ini menyatakan bahwa jumlah korban Hizbullah yang tewas di Suriah mencapai 1.600 selain yang terluka antara lima dan enam ribu. Tapi dalam enam bulan terakhir telah terjadi peningkatan dramatis dalam jumlah milisi yang tewas, terutama dalam pertempuran di barat daya dan selatan Aleppo, di mana ia mencatat kematian lebih dari 57 pasukan Hizbullah.

Surat kabar Iran Kehaan beberapa hari lalu menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa jumlah korban tewas dan tawanan Pasukan Quds Iran serta milisi “Fatemioun” dan “Zanbioun” sekitar 2.700 pasukan tewas dalam empat tahun di Suriah.

 

Fuad Al Hazimi: Kaum Fajir Tetap Mendapat Loyalitas Umat Islam

SERANG (Jurnalislam.com) – Menegakan syariat Islam dengan konsep kekinian dinilai pemerhati dunia Islam, Ustadz Fuad al-Hazimi penting dilakukan. Sebab, akan menyeluruh penerapan itu bagi siapa saja yang mengaku muslim.

“Konsep menegakan agama yang diwasiatkan para Nabi terdahulu dan larangan berpecah-belah,” katanya dalam tablig akbar “konsep memperjuangkan Islam di era kekinian” di Masjid at-Taubah, Kp. Kemang, Serang, Ahad (6/11/2016).

Makna yang diambil dari al-Qur’an surat asyuro ayat 13 itu, lanjutnya,
Meminimaliris adanya gesekan diantara kaum muslimin.

“Sikap insof, adil, toleran dan saling menghargai dalam menghukumi umat Islam baik dia fajir, ahli maksiat semua sama ,” terang Mudir Mahad Tahfidz An-Nahl Magelang.

“Kita liat bersama pada aksi bela Islam kemarin ada sekelompok Punk Muslim, mereka tetap mendapatkan haq loyalitas dari kita,” tambahnya lagi.

Untuk itu, umat Islam harus dapat bayan (penjelasan -red), dakwah yang baik untuk mengajarkan syariat Islam dan diajak amar makruf nahi munkar.

“Tidak pernah putus untuk saling menasehati dan saling mengingatkan dalam kesabaran,” terang mantan imam Masjid di Negeri Kanguru itu.

“Apa kontribusimu untuk Islam? Masing-masing punya kontribusi sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya, hidup hanya satu kali, maksimalkanlah untuk Islam,” pungkasnya.

Feature: Jalan Juang Pak Oye, Syuhada Pembela Quran

Jurnalislam.com – Malam sudah larut, namun Hermalina, wanita paruh baya itu masih asyik menyetrika baju koko dan sorban putih yang akan digunakan suaminya, Syachrie Oemar Yunan (65), pagi-pagi sekali akan berangkat mengikuti aksi damai Bela Islam menuntut keadilan bersama jutaan kaum muslimin lainnya di depan Istana negara.

Masih ingat dalam benak ibu tujuh anak ini, beberapa hari ini, suaminya nampak sangat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. “Bapak sangat semangat sekali, sampai mengajak tetangga-tetangga untuk berjihad. Beliau menyebut aksi tanggal 4 November sebagai jihad,” kenang Hermalina kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Sabtu (5/11/2016) di kediamannya di bilangan Binong Kabupaten Tanggerang.

Malam itu, ditatapnya lamat-lamat wajah suaminya yang tak lagi muda, sedang pulas tertidur setelah ba’da isya berkeliling kampung mengajak warga untuk ikut membela Islam Jumat ini. Herlina tak kan pernah menyangka, malam itu akan menjadi malam terakhir bersama sang belahan jiwa.

“Saya benar-benar nggak pernah menyangka. Mungkin karena beliau benar-benar sudah ikhlas ingin berjihad, tidak ada pesan khusus apapun” kenang Hermalina. Namun, tetangga-tetangga yang didatangi Syahrie menyampaikan keanehan pada Syachrie. “Wajah bapak nampak cerah dan bercahaya malam itu,”kata Hermalina mengenang.

Syachrie Oemar Yunan, dikenal kerabat dan tetangga dengan panggilan karib Pak Oye. Beliau merupakan tokoh sepuh di RW 07 Binong Permai Kabupaten Tanggerang yang konsern pada umat apalagi ketika al Quran dinista.

Memang, pernah terjadi diskusi antara sejoli ini, mengapa Syachri yang sudah sepuh, berusia lebih dari kepala 6 harus capek-capek ikut aksi damai. “Kita ini membela al Qur’an dari si penista, jangan takut mati untuk membela kebenaran,” nasihat Syachrie bergebu-gebu kepada Harmalina yang terus terngiang-ngiang.
Jangan takut mati untuk membela kebenaran.

Maka, pagi itu Syachrie Oemar berangkat sebagi seorang mujahid. “Beliau berkali-kali menyebut aksi damai itu adalah jihad membela al Qur’an,” kata Dede Winata, kerabat dekat Syachrie yang juga warga Tanggerang. Beberapa malam sebelum keberangkatan, di rumah Dede berkumpul para sesepuh yang akan melaksanakan aksi.

“Saya masih ingat kata-kata beliau yang begitu menyentuh,” kenang Dede. Kata-kata yang menurut Dede begitu membekas di hadapan para hadirin. Inilah kata-kata Syachrie yang kelak terwujud.
“Jika ada 1000 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 100 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 10 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika hanya tersisa seorang yang berjihad, maka seorang itu adalah saya”.

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang.”Doakan saya mau berjuang,” kata Syachrie menatap sang belahan jiwa setelah diam mematung cukup lama di depan pintu rumahnya. Itulah ucapan terakhir Syachrie kepada Herlina.

Pagi itu, Syachrie sendiri yang menyetir mobil bermuatan enam orang itu. “Saya berangkat tujuh orang, bersama Pak Oye, Pak Acang, Pak Ganda, Istri dan dua anak saya si Ben sama Aurel,” kata Wawan, tetangga Pak Oye yang merupakan jamaah ustaz Subki.

“Beliau berangkat dalam keadaan sangat sehat dan bersemangat, mobil aja dia yang nyetir,” kata Wawan. Beberapa hari sebelumnya, memang kata Wawan, sebagai sesepuh kampung, Pak Oye terus mengajak warga untuk membela al Quran.

“Padahal beliau bukan anggota parta politik apapun, bukan anggota ormas mana pun, beliau pencinta zikir dan shalawat, murni karena ingin membela al Quran,” Dede Winata menambahkan. Saking semangatnya, Wawan, karibnya memutuskan untuk cuti kerja.

“Ini jihad kita membela al Quran, bahkan kalau harus mati kita jalanin,” Pak Oye membuat Wawan terenyuh dan memilih bergabung bersama massa. “Saya tanya istri, dia juga mau ikut, sekalian saya mau nengok ke rumah mertua saya,” kenang Wawan.

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang. Semobil dengan Pak Oye, Wawan begitu takjub mendengar beliau hanya berzikir dan membaca shalawat tak henti-hentinya. “Saya sama istri diturunin di Kota Bambu, saya ajak beliau mampir makan dulu, tapi beliau bilang mau ke Tanah Abang, kan dia banyak teman di sana,” kata Wawan yang akhirnya berpisah dengan pak Oye.

Suganda, yang hingga detik-detik akhir bersama dengan Pak Oye mengisahkan semangat beliau dan nostalgia Pak Oye bersama kawan-kawannya di Tanah Abang. “Jam 08 pagi kita sudah sampai di Tanah Abang, entah kenapa beliau mau ketemu teman-teman lamanya yang sudah 15 taun nggak ketemu, kangen katanya,” kata Suganda.

Suganda memperhatikan Pak Oye benar-benar menikmati silaturahim dengan kawan-kawannya, karena Pak Oye merupakan orang asli Betawi. “Obrolan beliau sepertinya begitu membekas bersama kawan-kawannya. Kita lanjutin shalat Jumat di Masjid Istiqlal, tapi ga memungkinkan karena sepanjang jalan sudah penuh,” kata Suganda.

Akhirnya, Pak Oye dan Suganda shalat bersama di Masjid Ar Rahal di bilangan Abdul Muis. “Beres Jum’atan kita makan, kita bawa bekel. Kita makan kesukaan beliau, pepes ikan,” kata Suganda.

Suganda mengenang, Rabu malam, Suganda membawakan pepes ikan kembung dan dimakan lahap berdua bersama Pak Oye. “Sampe dia catet sendiri resepnya pake HP, eh sekarang dia bawa pepes,” kata Suganda. Usai makan, mereka bergerak, bersatu dengan lautan manusia menyusur Abdul Muis hingga jalan Budi Kemuliaan.

“Selama di perjalanan beliau sangat sehat, sangat bersemangat,” kata Suganda yang menemani perjalanan beliau. “Beliau tak henti-hentinya berzikir dan shalawat dengan semangat, memang beliau pencinta shalawat,”tambahnya.

Senja. Kuning keemasan, menaungi lautan manusia yang menyemut seakan tak berujung di sudut-sudut jalan protokol Ibu Kota. Suganda dan Pak Oye tiba di Patung Kuda, ujung Jalan Merdeka Barat dan Thamrin, bergabung dengan jutaan manusia yang terus menerus menyerukan keadilan.

Beristirahat sejenak, dengan semangat menggebu dan kondisi prima, Pak Oye berniat melanjutkan maju ke Istana, bersua dengan ulama mereka. “Saya baru teringat ucapan beliau di Patung Kuda, dia bilang mungkin bercanda.’Da, sampe sini aja kali ya kite, habis ini pisah kali ya’” katanya.

Suganda cuman bisa nyengir. “Maksudnya gimana? Jangan gitu dong, nanti kite balik yang nyetir siape?” kata Suganda sambil terkekeh. Mereka berdua menyusur lautan manusia hingga sampai di Ring 1 dekat para ulama dan habaib di depan. “Kira-kira di sebelah kanan para ulama, dekat monas,” kata Suganda.

Kumandang azan syahdu menggantung di langit Istana Merdeka, di hadapan jutaan massa aksi damai bela Islam. Pemandangan dramatis, saat jutaan manusia di jalanan bersama melafalkan kalam suciNya, berdiri, rukuk dan sujud dipimpin para ulama.

Selepas isya, Suganda masih bersama Pak Oye membelakangi Monas bersama lautan manusia. Sejauh mata memandang, para ulama itu masih dengan sejuk melafalkan takbir. Para demonstran pun berdiam rapi, termasuk Suganda dan Pak Oye.

Tetiba, insiden itu pecah. “Kami tiba-tiba ditembakkin gas air mata,” kata Suganda kaget. Padahal, posisinya di dekat monas dan para ulama merupakan kondisi yang damai dan tertib. Dalam kepanikan, suara tembakkan terus menggelegar di pelataran Istana. “Dor..dor…dor..”

“Saya kempit itu Pak Oye, saat itu saya udah perih banget, rasanya udah ampir setengah mati, kita tiba-tiba ditembakin gas air mata,” kenang Suganda yang berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena massa penuh sesak.

Sedikit demi sedikit, ia merapat ke daerah pagar monas yang dirasa aman dari tembakkan. “Eh kita ke kanan malah ditembakin juga, saya bawa tuh Pak Oye,” katanya. Ia pun mundur sedikit dekat dengan pepohonan dan pagar. Di atas mobil, ulama terus berzikir, meminta massa agar tidak maju dan meninta polisi untuk berhenti menembak. (baca laporan pandangan wartawan anggota JITU di tempat kejadian)

Sejenak menepi dari tembakan yang terus menderu, Suganda hanya bisa menahan sesak dan mual. “Saya lihat ke sebelah saya, ternyata beliau sudah pingsan. ‘Ye bangun Ye’” Suganda menepuk-nepuk pipi Pak Oye. Di tengah kalap dan gemuruh, Oye meminta bantuan lima hingga enam orang sekitarnya.

“Saya bopong berlima, ke kiri, eh udah ada gas air mata. Kita ke kanan juga disemprotin gas air mata, kita sampe ke pagar tinggi, mau lewatin beliau, tapi ya Allah, di situ ada pagar ada tombaknya, ga mungkin kita lempar beliau ke sana,” lirih Suganda.

Massa semakin panik setelah polisi meringsek aksi damai dan menembakkan gas air mata ke arah para ulama yang menyerukan aksi damai. Suara takbir, tahlil hingga tahmid pecah. Suganda terpojok ke pertigaan monas, terpepet. “Saat itu ada coran pembatas mobil itu, saya terjatuh, tergeletak,” kata Suganda.

Sejak detik itu, entah ke mana jasad Pak Oye yang saat itu entah masih pingsan, sudah sadar atau ternyata meninggal. Saat bersusah payah bangun, Suganda melihat pemandangan yang begitu dramatis. “Saya lihat orang-orang pingsan, ga tua ga muda,” lirihnya.

Di tengah kepanikan massa, dan keteguhan para ulama yang terus bergeming walau ditembaki gas air mata, Suganda mencari-cari Pak Oye ke sana ke mari, bertanya-tanya hingga masuk ke dalam monas k epos medis. “Di Posko sudah nggak ada, ada yang bilang ke rumah sakit Polri Kramat jati,” katanya.

“Mulai saat itu tiba-tiba saya lemas, saya kehilangan jejak,” keluhnya. Tak hilang kendali, ia berusaha mengontak putra Pak Oye, Gilang, yang juga mengikuti aksi bela Islam. “Cing posisi di mana?” tanya suara di balik telepon sana yang baru bisa dihubungi, karena sejak tadi siang entah mengapa sinyal di sekitaran istana mati.”

“Jam Sembilan lewat tiga, saya dapat kabar dari warga Binong juga, ada kabar dari rumah sakit Gatot Subroto kalau beliau sudah meninggal. Seakan nggak percaya, innalillahi wa innailaihi rajiuun,” lirih Suganda mengenang kejadian yang begitu mengagetkannya.

“Wafatnya beliau mengajarkan kita bahwa walau beliau sepuh, beliau tetap ingin mengikuti perjuangan untuk membela al Qur’an,” kata Dede Winata mengenang. Di pengujung usia senjanya, Pak Oye menorehkan jejak yang membuat keluarga, warga hingga pemerintah setempat bangga.

“Beliau salah satu orang yang terpilih dari sekian banyak yang akhirnya meninggal. Semua masyarakat merasa bangga. Di sini orang-orang pada bilang, cocoklah kalau Pak Syachrie yang dapat (syahid, red). Semua anak-anak dan warga bangga dengan beliau,” kata Hermalina tersenyum.

Cukuplah masjid Bina Ihsani yang ia rintis 20 tahun silam menjadi saksi atas penuh sesaknya shalat jenazah beliau. Cukuplah jutaan muslim yang ikut aksi bersama menjadi saksi bahwa dia menjadi bagian dari mereka. Cukuplah berbodong-bondong warga hingga Bupati menghormati kepergiannya.

Cukuplah orang-orang yang walau belum pernah menatap wajahnya, kini berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia ke lorong rumahnya yang tak terlalu lebar. Kisah heroik Pak Oye kini meluber, anak-anak muda di sudut-sudut gang membincang kisahnya, para remaja hingga orang dewasa.

“Insya Allah beliau Syahid,” kata Bupati Kabupaten Tanggerang M Aziz saat melayat ke kediamannya. Pak Oye, mengajarkan kita semua tentang makna perjuangan.

“Ternyata Allah kabulkan ucapannya, jika ada satu mujahid yang gugur, maka itulah beliau,” tegas Dede disambut takbir hadirin yang memenuhi jalanan di depan kediamannya.

“Sungguh, kami semua iri dengan beliau, semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan beliau, doakan beliau agar Allah menerima amalNya dan mendapat surgaNya,” tutup Gilly, putra sulung Pak Oye menutup kisah tentang heroisme ayahnya.

Penulis: RL
Rep: fajar shadiq & MR

Ratusan Orang Iringi Jasad Syuhada Bela Quran, Warga: Cocoklah Kalau Pak Syachrie Dapat Syahid

Jurnalislam.com – Sebelum berangkat menuju #AksiBelaQuran, almarhum Syahrie Oemar Yunan (65 tahun), sempat berdiri lama di depan pintu. Kepada istrinya, ia meminta didoakan agar perjuangannya diridhai Allah SWT.

“Dia sempat berdiri lama di depan pintu. Dia berdoa panjang, kemudian berkata: doakan saya mau berjuang,” ujar Hermalina, istri syuhada (kama nahsabuhu, red) #AksiBelaQuran ini.

M. Syachrie menghadap ke rahmatullah dengan meninggalkan 7 putera dan puteri. Ia memiliki 3 orang putera dan 4 orang puteri.

Pantauan wartawan anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di rumah duka, tak ada tanda-tanda kesedihan mendalam pada raut istri dan anak-anak almarhum M. Syachrie. Keluarga dan tetangga malah nampak bangga dan gembira. Usai tahlilan, para pemuda yang duduk di ujung gang dengan semangat menceritakan jihad dan kisah syahidnya M. Syachrie sambil mengepulkan asap rokok.

“Di sini orang-orang pada bilang, cocoklah kalau Pak Syachrie yang dapat (syahid -red). Semua anak-anak dan warga bangga dengan beliau,” ujar Hermalina saat ditemui di kediamannya di Komplek Binong Permai, Kelurahan Curug, Kecamatan Binong, Tangerang pada Sabtu, (05/11).

Karena terkesan atas kebaikan M. Syachrie semasa hidupnya, warga sekitar pun berbondong-bondong untuk menyalati dan mengiringi jasadnya ke liang lahat.

“Banyak banget, ada ratusan orang sampai masjid gak muat. Itu Masjid keisi semua ga ada ruang yang kosong, sebenarnya pada mau masuk tapi ga muat,” tuturnya.

Reporter: Fajar Shadiq, Rizki Lesus

M Syachrie, Syuhada Aksi Bela Quran Adalah Murid Setia Habib Munzir

Jurnalislam.com – Sosok Syuhada #AksiBelaQuran Almarhum M. Syachrie Oemar Yunan (65 tahun) dikenal warga sekitar sebagai jemaah zikir dan shalawat, serta pribadi yang suka membantu tetangga.

Syachrie merupakan Ketua Pengurus Musholla Bina Ihsani di Komplek Binong Permai, Kelurahan Curug, Kecamatan Binong, Tangerang. Ia merupakan aktivis majelis taklim dan Jemaah Majelis Rasulullah pimpinan almarhum Habib Munzir Al-Musawa.

Kepada JITU, istri M. Syachrie, Hermalina menunjukkan foto almarhum M. Syachrie bersama dengan almarhum Habib Munzir Al-Musawa. “Foto ini diambil sebulan sebelum Habib Munzir meninggal,” kata dia.

Malam sebelum aksi 4 Nopember, Syachrie mengajak tetangganya sekitar untuk berjihad dan turut serta dalam #AksiBelaQuran di depan Istana Negara.

“Hampir semua tetangga ketemu Pak Syachrie semangat sekali. Beliau menyampaikan ini adalah jihad, beliau sudah bertekad untuk membela Al-Quran,” ujar Hermalina, istri almarhum kepada wartawan anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di kediamannya di Komplek Binong Permai pada Sabtu, (05/11).

Meskipun sudah berusia lanjut, Syachrie adalah pribadi yang bersemangat. Ia orang yang disiplin dan tegas tapi mudah terenyuh dan ringan tangan.

“Dia orangnya keras tegas, mudah terenyuh. Ada gimana-gimana, dia kalau diminta bantuan cepat dan semangat,” ungkapnya bahagia.

Sebab itu, banyak warga di lingkungan sekitar merasa kehilangan dengan kepergian almarhum Syachrie.

“Tetangga kiri-kanan sudah kaya saudara semua. Banyak yang nangis, kepada siapa lagi saya curhat. Pak RW dan Pak RT juga bilang begitu,” tambahnya.

Reporter: Fajar Shadiq, Rizki Lesus

Keluarga Bantah Korban 4 November Punya Riwayat Penyakit Asma

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Istri syuhada #AksiBelaQuran, almarhum Syahri Oemar Yunan menegaskan bahwa suaminya tidak memiliki riwayat penyakit asma. Pernyataan ini membantah keterangan polisi bahwa almarhum M Syachrie (65 tahun) meninggal saat #AksiBelaQuran karena penyakit asma.

“Gak ada riwayat sakit asma. (Kalau memang ada asma -red) gak mungkin diizinin,” ujar Hermalina, istri almarhum M. Syachrie kepada wartawan anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) pada Sabtu, (5/11/2016) di Komplek Binong Permai, Curug, Tangerang.

Menurut penuturan Hermalina, tidak mungkin pihak keluarga membiarkan almarhum mengikuti aksi jika ia memiliki penyakit asma. Kendati demikian, almarhum M. Syachrie memang memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti #AksiBelaQuran.

“Sejak malam jumat dia sudah siapkan bajunya yang putih-putih, dia setrikain sendiri. Dia bawa baju putih, peci putih, sorban putih. Orang-orang bilang pak Syahrie mukanya lain. Mukanya kayak bercahaya. Katanya sih begitu tapi Wallahu a’lam ya,” tambahnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Ami Setiyono menyatakan korban meninggal dunia akibat asma.
“Korban meninggal dunia dikarenakan sakit asma,” kata
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu dinihari.

Awi menuturkan korban meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta usai berunjuk rasa pada Jumat (4/11/2016). Awi juga menegaskan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun luka pada tubuh korban.

Reporter: Fajar Shadiq, Rizki Lesus

Abdul Rochim Ba’asyir: Dengan Kitabullah, Allah akan Muliakan dan Hinakan Manusia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam menanggapi aksi Bela Islam II yang dikenal aksi 411 (4 November) Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir atau biasa disapa Ustadz Iim mengatakan, ini adalah bukti nyata kalau umat Islam dapat bersatu dibawah naungan Al Qur’an dengan menjaga kehormatannya tanpa melihat perbedaan-perbedaan yang ada dalam tubuh umat maka dengan perjuangan atas niat itu Allah akan muliakan kita.

“Aksi 4 November, Bela Islam II, merupakan langkah maju bagi umat Islam dalam ukhuwah Islamiyah yang terbukti dapat disatukan oleh Allah Swt dengan hadiah Al Maidah 51, umat yang selama ini dipecah belah oleh musuh-musuh Islam ternyata ketika Allah berkehendak untuk bersatu maka tidak akan ada lagi yang sanggup menghalanginya,” kata Ustadz Iim dalam wawancara telepon tim Jurniscom, Sabtu (05/11/2016).

bela-islam2-aDalam sambungan telepon tersebut, Ustad Iim yang dikenal sebagai Juru bicara Jamaah Ansharusyariah juga menyampaikan, “ aksi kemarin (bela Islam II) adalah aksi yang sangat mulia karena untuk pembelaan terhadap kalimat Allah Swt yang merupakan bagian dari Iqomatudin (penegakan din) dengan upaya menjaga kehormatannya, yaitu kehormatan Al Qur’an, “ dengan mengutip hadist Rasulullah Saw dalam riwayat Imam Muslim, beliau melanjutkan, Sesungguhnya Allah Akan Memuliakan Suatu Kaum Dengan Kitab Ini (Al Qur`an) dan Menghinakan Yang Lain, kita bisa lihat sekarang Ahok manusia yang dihinakan oleh Allah Swt karena penistaan dia terhadap Al Quran sedangkan manusia yang membela Al Qur’an adalah manusia yang dimuliakan oleh Allah Swt. Dan ini Sunnatullah yang akan terus berjalan hingga kiamat.”

Kita sangat mengapresiasi aksi ini, lanjut Ustadz Iim, kita juga sangat mensyukuri, Alhamdulillah, sebuah awal yang baik, kerjasama yang luar biasa. Tidak hanya jumlah jutaan umat yang hadir tapi kerjasama yang sistemis dari semua potensi umat memberikan bantuan dan dukungan dibidangnya masing-masing.

“Tidak hanya jumlah jutaan umat Islam yang hadir disana saja, tapi kita juga melihat kerjasama yang sistemis dari seluruh potensi umat Islam dari berbagai daerah dan elemen dengan memberikan bantuan dan dukungan dibidangnya masing-masing dalam membela agama Allah, masya Allah,” kata beliau.

Kesaksian Ustadz Bachtiar Nasir Soal Insiden 411

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ustadz Bachtiar Nashir menganggap ada sesuatu yang aneh dalam kericuhan dalam #AksiBelaQuran Jum’at malam 4 November 2016. Ia mengungkapkan, gas air mata yang awalnya ditembakkan ke pihak provokator, tiba-tiba ditembakkan ke masa yang damai.

“Ketika gas air dihujankan yang tadinya hanya di pihak provokator, tiba-tiba disemprotkan ke peserta yang damai. Padahal banyak peserta damai, banyak ibu-ibu. Kemudian terjadi tembakan membabi buta sehingga banyak korban,” katanya dalam konferensi pres di Restoran Pulau Dua Jakarta, dilansir kiblatnet, Sabtu (05/11/2016).

UBN mengatakan bahwa Ustadz Arifin Ilham menjadi korban gas air mata ketika keluar dari negosiasi, kemudian Syaikh Ali Jaber juga menjadi korban.

“Padahal kami mencoba untuk persuasif. Sampai kemudian ada yang meninggal dunia,” ucapnya.

Saat terjadi kericuhan, kata dia, Kapolri Tito Karnavian dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sudah berteriak untuk menghentikan tembakan. Namun aparat tidak menggubris.

“Pak Kapolri dan Panglima TNI berteriak dengan sangat keras, tapi tembakan air mata dan peluru karet terus ditembakkan. Motor-motor polisi berkurumunan di tengah massa dan menggilas,” tuturnya.

Melihat tekanan yang begitu represif, UBN menjelaskan bahwa pihaknya berusaha untuk menjauhkan seruan-seruan bernada melawan.

“Jangan melawan, jangan maju, bertahan! Jadi perlawanan kami bertahan tanpa melakukan perlawanan. Karena kami tidak mau dibenturkan dengan Kapolri dan TNI,” pungkasnya.

Seperti diketahui, aksi damai bela Al-Quran yang berlangsung hari Jum’at kemarin harus berlangsung ricuh ketika polisi memaksa pembubaran massa yang menuntut proses hukum segera terhadap Ahok. Setidaknya puluhan orang luka-luka dan 1 orang tewas lantaran sesak nafas.