Berita Terkini

Kemenangan Donald Trump Diprotes Ribuan Warga di New York

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Ribuan orang telah turun ke jalan di beberapa kota di AS untuk memprotes kemenangan mengejutkan wakil Republik Donald Trump dalam pemilihan presiden, mengutuk retorika kampanyenya sekitar imigran, Muslim dan kelompok-kelompok lain, Aljazeera melaporkan Kamis (10/11/2016).

Pada Rabu malam, ribuan demonstran memadati jalan-jalan di tengah kota Manhattan, New York City. Beberapa membakar bendera AS saat mereka mencapai Trump Tower sementara yang lain meneriakkan: “Not my president.”

Di Chicago, sekitar 1.000 orang berusaha berkumpul di luar Trump International Hotel and Tower di pusat kota sambil menyanyikan frase seperti “No Trump! No KKK! No USA racist.”

Polisi Chicago menutup jalan di daerah, menghalangi jalan para demonstran.

Para pengunjuk rasa mengutuk janji kampanye Trump untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan dengan Meksiko demi mencegah imigran gelap serta kebijakan lainnya yang dianggap mempengaruhi orang kulit berwarna.

Namun dalam pidato kemenangannya Trump mengatakan bahwa dia akan menjadi presiden untuk semua orang Amerika, dengan mengatakan: “Ini saatnya bagi kita untuk datang bersama sebagai satu bangsa yang bersatu.”

Di Chicago, Angie Victoria, 27, mengatakan kepada Al Jazeera: “Saya pikir terpilihnya [Trump] adalah kekejaman. Dia tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden, dia sangat tidak menentu. Tidak memiliki platform dan hanya mengimbau agar masyarakat kesal dengan kefanatikan dan.. rasisme.”

Izzy Mosser, 19, mengatakan: “Sebuah kepemimpinan di bawah Trump adalah … menakutkan. Merupakan hal yang baik bahwa orang datang bersama-sama untuk menghentikannya. Ini membagi dan menyatukan pada saat yang sama…”

Di Austin, ibukota Texas, sekitar 400 orang melakukan pawai melalui jalan-jalan kota, kata polisi.

Protes lainnya diselenggarakan di Washington DC, San Francisco, Seattle, Portland, Tennessee dan kota-kota lainnya.

Sebelumnya pada hari itu, sekitar 1.500 siswa dan guru California berunjuk rasa di halaman Berkeley High School, sebuah kota San Francisco Bay Area yang dikenal menganut politik progresif, sebelum berbaris menuju kampus Universitas California, Berkeley.

Ratusan pelajar dan mahasiswa sekolah tinggi berjalan keluar saat melancarkan protes di Seattle, Phoenix, Los Angeles dan tiga kota lainnya di Bay Area, Richmond, El Cerrito dan Oakland.

Sekelompok warga yang didominasi Latino dari sekitar 300 siswa SMA berjalan keluar dari kelas pada hari Rabu pagi di Los Angeles dan berbaris dari Balai Kota, di mana mereka menggelar unjuk rasa singkat tapi energik.

3000

Bernyanyi dalam bahasa Spanyol, “Orang-orang yang bersatu tidak akan pernah dikalahkan,” kelompok tersebut membawa papan slogan-slogan seperti “Rasisme Tidak Diddukung, Bukan Presiden Saya” dan “Imigran yang Membuat Great America.”

Banyak dari siswa tersebut merupakan anggota dari generasi “Dreamers,” anak-anak yang orang tuanya memasuki AS bersama mereka secara ilegal, pejabat sekolah mengatakan, dan takut akan dideportasi di bawah pemerintahan Trump.

Demonstrasi hari Rabu berlanjut hingga malam dengan melancarkan protes di sekitar San Francisco Bay Area dan di tempat lain di negara itu dalam menanggapi politik Trump yang penuh kemarahan.

Di kubu Demokrat Washington DC, ratusan lawan Trump dan beberapa pendukungnya berkumpul di Gedung Putih, menyuarakan dukungan terhadap imigran dan menentang presiden terpilih.

Demonstran menyerang jendela etalase serta membakar sampah dan ban larut malam Selasa di distrik bisnis Oakland, California.

Menjawab Kegelisahan Umat atas Kelanjutan Kasus Ahok, Ormas Islam Se-Yogyakarta Dukung GNPF MUI

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Carut-marut kelanjutan dugaan penistaan agama oleh petahana DKI Jakarta, Basuki Cahya Purnama alias Ahok dikritisi berbagai pihak. Kumpulan ormas se-Yogyakarta ikut mendiskusikan kasus itu.

Dalam silaturahim umat di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Kamis (10/11/2016) itu, kumpulan ormas se-Yogyakarta berkoordinasi dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Lewat sambungan telepon, ketua GNPF MUI, Ustadz Bachtiar Nasir atau yang karib dipanggil UBN menyeru umat untuk tetap menjaga semangat dan kewaspadaan.

“Aksi Damai Bela Islam Jilid III tetap akan kita selenggarakan dengan tema besar ‘Bela Qur’an’,” ujarnya malam tadi.

Namun, waktu pelaksanaan belum ditetapkan sambil menunggu tenggat waktu 2 pekan yang dijanjikan Wapres Jusuf Kalla pada Jumat lalu.

“Dengan terus mencermati perkembangan penanganan kasus penistaan Al Quran,” ucapnya.

Kumpulan ormas dalam diskusinya mengatakan, aksi bela Qur’an rawan dengan pemanfaatan oleh segelintir orang. Sebab itu dapat menjadi ajang keuntungan bagi segelintir orang itu.

Oleh sebab itu, jangan sampai euforia kesuksesan kecil setelah Aksi Bela Islam Jilid II kemarin, melemahkan umat seperti terjadi pada Perang Hunain setelah Fathu Makkah.

ubn

Maka, diskusi itu menghasilkan sebuah risalah (surat) yang dibuat atas respon kelanjutan dari kasus dugaan penistaan agama Ahok. Berikut risalah Yogya;

1. Mari ajak seluruh ummat menjaga dan merutinkan tilawah Al Quran. Jadikan kemesraan dengan Al Quran sebagai sumber kekuatan keyakinan, fikrah, dan akhlaq perjuangan kita.

2. Mari ajak seluruh ummat menghayati kandungan makna Surat Al Maidah. Kepada para Ustadz, Guru, dan ‘Alim-‘Ulama agar menyampaikan kajian tafsir Surat Al Maidah di majelis-majelisnya.

3. Mari ajak seluruh ummat menyemarakkan Gerakan Shalat Berjama’ah di Masjid, sebagai sarana dasar menyatukan langkah dan hati.

4. Kedepan, akan makin banyak yang berkepentingan untuk menunggangi perjuangan kita. Jangan terpancing, jangan melawan dengan melawan, lawan dengan bertahan. Tetaplah bertahan pada syi’ar kita: ”Hukum Penista Al Quran dan Pelindungnya!”

5. Teruslah menguatkan komunikasi dan sinergi antar anasir ummat, rapikan koordinasi di bawah komando GNPF MUI, jalin ukhuwah, perbanyak kawan dan sedikitkan lawan.

 

Reporter: Budhi Setiawan

Persis: Kami Tidak Menghadiri Undangan Istana karena Empati Kepada Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Menjawab pertanyaan umat Islam tentang ketidak hadiran PP Persatuan Islam (Persis) atas undangan Istana, Rabu (9/11/2016). Waketum PP Persis, Dr. Jeje Zaenudin menjelaskan, Persis mengapresiasi langkah positif itu. Namun, Persis juga mengkritisi langkah-langkah Presiden RI.

Ia mengatakan, alasan pertama Persis tidak menghadiri undangan dikarenakan Ketum PP Persis sedang sakit dan sudah menyampaikan permohonan maaf ke protokoler Istana.

Ulama asal Tasik itu menilai, cara yang ditempuh Presiden dengan metode ‘tebang pilih’ dalam mengundang pimpinan ormas Islam akan berpotensi menimbulkan perpecahan di tubuh umat.

Dr Jeje 2“Terus terang kami juga sangat menyayangkan cara bapak presiden dalam memperlakukan pimpinan-pimpinan Islam yang mengesankan adanya pemilahan dan pilih pilih antara ormas Islam mainstream dengan ormas Islam yg seakan dimarjinalkan,” ujarnya kepada jurniscom melalui pesan singkat, Kamis (10/11/2016).

Menurutnya, sikap seperti ini akan menimbulkan persepsi perpecahan di tubuh ormas-ormas Islam, antara ormas yang pro dan kontra pemerintah.

“Padahal sebenarnya tidak ada fakta seperti itu,” cetusnya.

Ulama sekaligus peneliti itu juga menegaskan, Presiden sebagai Kepala Negara seharusnya memberikan perhatian, perlakuan, dan pengayoman yang sama kepada rakyatnya.

“Apalagi dengan tidak diundangnya pimpinan ormas yang terlibat, bahkan jadi pimpinan aksi tanggal 4 November yang lalu,” tegasnya.

Dengan tidak mengirim perwakilan untuk hadir di Istana, kata dia, Persis juga ingin menunjukan empati kepada seluruh umat Islam yang kecewa dengan sikap Presiden yang memilih meninggalkan Istana, dan tidak bersedia menemui utusan para peserta aksi yang jumlahnya mencapai lebih dari satu juta orang itu.

“Semoga sikap seperti itu tidak berulang-ulang dilakukan oleh kepala negara yang seharusnya memang menjadi pemimpin semua
kalangan,” pungkas Ustadz Jeje.

Ustadz Harits Abu Ulya: Kekuatan Akidah dan Kesadaran Politik Umat Penggerak Utama Aksi Bela Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Ustadz Harits Abu Ulya mengatakan kekuatan akidah dan moral menjadi penggerak utama aksi bela Islam II pada 4 November lalu. Hal ini menjadi sebuah cerminan bahwa kesadaran politik rakyat mulai tumbuh baik.

Menurutnya ada determinasi energi keyakinan yang membuat mereka bergerak swadana dan tidak peduli dengan soal kepentingan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada). Harits mengatakan hanya orang yang terlibat intens dalam people power tersebut ini yang mengetahui seluk-beluk gerakan aksi 4 November.

“Penilaian yang dangkal sekali jika melihat isi orasi dari video aksi 4 November ditemukan frase gulingkan Jokowi, kemudian disimpulkan target aksi 4 November adalah kudeta. Ini yang namanya oversimplikasi (terlalu menganggap sederhana) akut,” ujarnya, Selasa (8/11).

Harits sendiri telah beberapa kali terlibat aksi dan sering menjadi orator. Menurutnya, terkadang seseorang dalam situasi dan kondisi aksi yang memanas bisa saja tiba-tiba mengeluarkan amunisi kata-kata yang terlintas di benak dan itu over ekspektasi dari target sebenarnya.

Gabungan dinamika massa, cuaca, suasana batin sang orator dan sikon yang menganjal langkah aksi akan membuat sang orator harus cepat menemukan frase yang bisa menjaga gelora semangat para demonstran. Ia menilai aksi 4 November bukan didesain untuk kudeta, melainkan menuntut agar Basuki Tjaha Purnama (Ahok) ditangkap karena diduga menistakan agama.

ustadz-harits-abu-ulya

Harits menyebut umat Islam sangat elegan, sabar dan mau bernegosiasi yang melahirkan janji dua pekan (hingga18 November) dari rezim Jokowi. Aksi 4 November adalah benih kekuatan umat yang dahsyat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana nasib Ahok sebelum tanggal tersebut? Pemerintah sudah menjanjikan waktu dua pekan dan Ahok akan diproses secepatnya secara tegas, transparan dan mengikuti koridor hukum.

“Nalar saya sepakat kalau akhirnya Ahok menjadi tersangka. Kenapa demikian? Sebab itu adalah hasil yang elegan dan bisa membuat keseimbangan sikon politik keamanan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, toh bagi Ahok status tersangka belum pasti divonis bersalah. Dia menduga di pengadilan bisa saja Ahok bersilat lidah untuk membela diri dengan menghadirkan saksi ahli versi Ahok dan memainkan poin ‘niat’ pada ucapannya. Status Ahok sebagai tersangka bisa mengurangi rasa malu pemerintah yang sudah berjanji dan bisa meredam kemarahan umat islam.

Sebaliknya, apabila Ahok tidak menjadi tersangka sebelum 18 November Maka dikhawatirkan akan berpotensi memicu kesabaran umat Islam hingga mencapai titik kulminasi. Jika ini terjadi, maka Indonesia di ambang people power yang targetnya jauh lebih besar.

Umat Islam, kata Harits, tidak lagi sekadar melihat kasus Ahok sebagai terduga penista agama, tetapi sebagai ‘wayang’ dari kepentingan lebih besar yang dieja oleh umat Islam sebagai ancaman yang harus dilawan. Dan saat itulah perlawanan ketemu momentumnya.

Dia khawatir apabila Ahok tidak ditetapkan sebagai tersangka, atau telah ditetapkan sebagai tersangka namun dinyatakan tidak bersalah, maka bisa melahirkan sikon bahaya besar bagi negara.

“Rezim Jokowi perlu mengkaji kaidah ahwanu syaroini artinya ambilah mudarat yang lebih kecil, jangan sampai hanya karena seorang Ahok kemudian bangsa dan negara ini akan hancur,” ujarnya.

(Republika)

Pasukan Irak Tangguhkan Operasi di Timur Mosul, Ada Apa?

NINIWE (Jurnalislam.com) – Lembaga anti-terorisme Irak untuk sementara menghentikan operasi militer di bagian timur kota Mosul yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) sambil menekankan bahwa pasukan Irak tidak ditarik dari daerah tersebut, menurut sumber militer Irak.

“Pasukan Anti-terorisme tetap terkonsentrasi di wilayah kabupaten Al-Intisar dan Al-Samah al-Thaniya dan di kompleks radio dan televisi negara di Mosul timur,” kata seorang kapten tentara Irak kepada Anadolu Agency secara anonim karena pembatasan berkomunikasi dengan media, Rabu (09/11/2016).

Dia mengaitkan strategi itu dengan tindakan luas militan IS yang menggunakan warga sipil sebagai “perisai manusia” dan terus menggunakan jaringan terowongan kompleks yang digali di bawah kota.

Sumber itu melanjutkan untuk menekankan bahwa pasukan anti-terorisme Irak telah menderita kerugian manusia dan material yang signifikan – ia tidak memberikan angka pastinya – sebagai akibat “penyergapan, bahan peledak di pinggir jalan dan bom mobil” oleh IS.

“Pasukan IS juga telah menderita kerugian jiwa dan material yang besar,” tambahnya, “tapi hal tersebut tidak mempengaruhi semangat kelompok karena mereka memiliki tentara bayaran.”

Sumber yang sama juga menyuarakan ketidakpuasan dengan dukungan udara yang disediakan untuk pasukan Irak di dan sekitar Mosul oleh koalisi udara AS.

“Permintaan telah dikirim ke komando umum Angkatan Darat untuk membahas ketidakcukupan dukungan udara dengan komandan koalisi pimpinan AS,” katanya.

Pada tanggal 18 Oktober, tentara, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, yang direbut IS pada pertengahan 2014, bersama dengan sejumlah luas wilayah di utara dan barat Irak.

Beberapa bulan terakhir tentara Irak dan sekutunya merebut kembali banyak wilayah dari IS, terutama di pinggiran Mosul dan provinsi Anbar di barat Irak.

Koalisi Pimpinan AS Lakukan Pembantaian Mengerikan di Pedesaan Utara Raqqa

SURIAH (Jurnalislam.com) – Koalisi Internasional Pimpinan AS melawan kelompok Islamic State (IS) pada Selasa malam (08/11/2016) melakukan pembantaian mengerikan terhadap warga sipil di pedesaan utara Provinsi Raqqa dengan meluncurkan banyak serangan udara, ElDorar AlShamia melaporkan, Rabu (09/11/2016).

Milisi Pasukan Pertahanan Suriah (Syrian Defence Force-SDF) kemarin mengumumkan bahwa mereka akan pergi ke Raqqa untuk melawan IS, sedangkan pimpinan pasukan koalisi menegaskan bahwa mereka akan memberikan perlindungan udara.

Serangan udara koalisi yang brutal menyebabkan eksodus massal warga desa Heisha, menyusul pembantaian yang merenggut nyawa sedikitnya 23 orang dari desa yang sama di samping warga yang terluka yang tidak diketahui jumlahnya.

Milisi SDF sejak Mei tahun ini telah mengumumkan operasi besar di kota Raqqa, dengan dukungan udara dari koalisi, tetapi tidak berhasil mencapai hasil yang signifikan, namun dapat memperkuat posisi mereka di utara kota.

 

Ketua Dewan Pertimbangan MUI: 5 Juta Muslim Jabar Siap Turun Aksi Bela Islam III

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Din Syamsuddin mengatakan, muslim di Jawa Barat (Jabar) sudah siap turun ke jalan pada 25 November 2016 sebagai tindak lanjut demo 4 November 2016. Namun ia menahannya.

“Ada yang menyampaikan ke saya kami siap turunkan 5 juta orang dari Jabar untuk meluruskan keadaan,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia itu di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (9/11/2016).

Din Syamsudin menuturkan, ia menahannya karena saat ini yang dibutuhkan adalah untuk meluruskan keadaan. Sebab persoalan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama bukan hanya sebatas persoalan lokal.

“Bukan hanya soal masalah di Pulau Seribu (tempat Ahok diduga melakukan penistaan agama), bukan hanya masalah ujaran kebencian. Ini masalah bangsa yang lebih luas,” tuturnya.

Selain itu Din Syamsudin juga khawatir masalah dugaan penistaan agama ini semakin meluas menjadi masalah yang lebih besar. Oleh karena itu ia berharap proses hukumnya dilakukan secara adil, bukan hanya sekedar dibuka.

Sebelumnya dikabarkan Polri terus mengusut kasus ini. Sejumlah saksi sudah diperiksa untuk selanjutnya dibuat gelar perkara.

(Eramuslim)

PM Zionis, Netanyahu: Selamat Trump, Seorang ‘Teman Sejati’ Bagi Israel

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas pemilihannya sebagai presiden AS pada hari Rabu (09/11/2016) dan memanggilnya “teman sejati negara Israel,” World Bulletin melaporkan, Rabu.

“Ikatan erat antara Amerika Serikat dan Israel berakar pada nilai-nilai bersama, ditopang oleh kepentingan bersama dan didorong oleh tujuan bersama.

“Saya yakin bahwa presiden terpilih Trump dan saya akan terus memperkuat aliansi yang unik antara kedua negara dan membawanya ke arah ketinggian untuk semakin besar.”

Netanyahu menghindari topik kontroversial dalam keterangannya, tidak seperti anggota pemerintahnya.

Menteri Pendidikan Naftali Bennett, yang mengepalai partai garis keras zionis, Rumah Yahudi (Jewish Home), mengatakan bahwa setelah kemenangan Trump tidak akan ada lagi gagasan sebuah negara Palestina.

“Kemenangan Trump adalah kesempatan bagi Israel untuk segera menarik kembali gagasan sebuah negara Palestina di dalam Negara (Israel), yang akan merugikan keamanan kita,” kata Bennett, tampaknya mengacu kepada Tepi Barat milik bangsa Palestina yang diduduki.

“Ini adalah posisi presiden terpilih … Era negara Palestina berakhir.”

Politisi lain, termasuk dari partai Likud milik Netanyahu, menyerukan Trump untuk menindaklanjuti janjinya untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Siapa Donald Trump?

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden terpilih Donald Trump memperoleh kemenangan pemilu yang mengejutkan untuk mengamankan tempatnya sebagai presiden Amerika Serikat ke-45, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (09/11/2016).

Tokoh politik yang dikenal Anti-Islam, adalah miliarder properti terkemuka di AS, Trump mengumpulkan 279 orang electoral college, jauh di atas 270 yang dibutuhkan, dalam jajak pendapat Selasa. Saingannya Hillary Clinton mengumpulkan 228.

Dengan kemenangan tersebut, calon Partai Republik itu menjadi presiden terpilih pada usia 70. Dia akan menjadi presiden tertua, mengalahkan Ronald Reagan setahun.

Trump juga menjadi presiden pertama tanpa pengalaman politik dalam 63 tahun untuk memenangkan pemilihan presiden setelah mantan Jenderal Dwight Eisenhower.

Dia dijadwalkan bertugas pada 20 Januari.

Dalam pidato kemenangannya, Trump mengatakan: “Sekarang saatnya bagi Amerika untuk mengikat luka akibat perpecahan – kita harus bersatu.

“Untuk semua anggota Partai Republik, partai Demokrat dan serta partai independen di seluruh bangsa ini, saya mengatakan ini adalah waktu bagi kita untuk bersama-sama sebagai satu kesatuan. Sudah waktunya. Saya berjanji kepada setiap warga tanah air kami bahwa saya akan menjadi presiden untuk semua orang Amerika dan ini sangat penting bagi saya.”

Trump lahir pada 14 Juni 1946, di kota New York sebagai anak kelima dari Frederick Trump dan Mary MacLeod. Dia adalah keturunan Jerman di sisi ayahnya.

Ia menerima gelar sarjana di bidang ekonomi dari Wharton School of University of Pennsylvania pada tahun 1968 dan saat ini menjabat ketua dan presiden the Trump Organization, yang ia ambil alih dari ayahnya pada tahun 1971. the Trump Organization adalah perusahaan induk untuk usaha dan bisnis real estate.

Trump memindahkan markas organisasinya ke Manhattan, New York, dan menjadi terkenal di seluruh Amerika melalui jaringan hotelnya. Dia juga muncul di reality show TV The Apprentice pada tahun 2004.

Kekayaan bersih Trump diperkirakan sebesar $ 3,7 milyar menurut Majalah Forbes, dan dia terdaftar di antara 400 orang terkaya di dunia.

Namun, ia dilaporkan gagal membayar pajak selama 18 tahun terakhir.

Dikritik karena pernyataan Islamophobia, kebenciannya terhadap Islam yang ia keluarkan selama kampanye pemilu, Trump dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2016 untuk “perdamaian kuat melalui kekuatan ideologi.”

Dia telah menikah tiga kali dan memiliki lima anak.

Aa Gym di ILC: Hallo Pak, Cita-cita Kami Adil Ditegakkan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid Bandung, KH Abdullah Gymnastiar atau yang karib disapa Aa Gym mengatakan, aksi bela Qur’an tuntut Ahok yang dilakukan jutaan umat Islam itu murni masalah hati, bukan yang lain.

“Saya juga bingung mengapa saya ikut tergerak, ternyata yang menggerakan masa kemarin ini masalah hati , dan yang mengerti hanya para peserta aksi,” katanya dalam acara talk show Indonesia Lawyers Club (ILC)
di stasiun TV One, Selasa (8/11/2016).

Aa yang membawa 1500 pasukan pembersih pada aksi 411 itu menggambarkan masalah rasa, ada guru yang mengatakan kepada para ibu, lanjutnya untuk tidak memakan babi karena haram, dalilnya surat al Maidah ayat 3. Datang pedagang babi tiba-tiba mengatakan, jangan mau dibohongi pakai Al Maidah ayat 3.

“Jadi heran ini siapa? Kenapa memakai al Maidah? Kalau suka makan babi silahkan saja. Tapi ini wilayah yang berbeda, nyelek kesini pak, kenapa Ustadz yang mengajari dan al Maidah dianggap bohong?” Terangnya membuat peserta yang hadir terperangah.

“Itu sederhananya Pak, hallo Pak itu yang saya rasakan,” cetusnya mengarah kepada Kapolri sebagai Narasumber yang sama.

Pada kesempatan itu Aa menegaskan, jutaan massa aksi bela Qur’an itu bukan musuh, tapi aset Negara. Mereka yang terluka hatinya, kata Aa, tapi tidak membalas dengan merusak.

“Saya berada dilapisan bawah dan melihat dengan indahnya tidak ada yang dirugikan. Sampai rumputpun dijaga,” tegasnya.

Menurutnya, umat Islam pada waktu itu hanya ingin keadilan hukum Negara. Bukan Negara juga kekayaan yang berada didalamnya.

“Bukan itukah yang kita rindukan? Hallo Pak. Jadi orang-orang ini hanya meminta apa yang dicita-citakan,” tukasnya.

“Cita-cita kami adil ditegakkan, dan jadi pembelajaran agar tidak terulang lagi. Karena ini sensitif dan membahayakan,” pungkas Aa.

Lebih lanjut, da’i kondang asal Sunda itu mendoakan para peserta dan aparat yang terluka agar disembuhkan lahir dan bathinnya.