Berita Terkini

Ribuan Demonstran Anti Trump Kembali Turun ke Jalan pada Malam Kedua

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Ribuan demonstran yang marah atas kemenangan Donald Trump dalam pemilu turun ke jalan untuk malam kedua berturut-turut, dengan sedikitnya satu demonstrasi berubah menjadi kerusuhan menentang sang taipan yang berubah menjadi presiden terpilih, World Bulletin melaporkan, Jumat (11/11/2016)

Kekerasan terburuk terjadi di kota barat laut Portland, di mana demonstran melemparkan proyektil ke arah petugas, merusak toko, memecahkan kaca jendela mobil dan menyerang supir.

Polisi mengatakan mereka memperlakukan protes sebagai mana mengatasi “kerusuhan” karena menganggapnya sebagai “perilaku kriminal dan berbahaya yang meluas.”

Dalam komentar pertamanya mengenai kerusuhan, Trump menyalahkan media.

“Kita baru saja melaksanakan pemilihan presiden yang sangat terbuka dan sukses. Sekarang demonstran profesional, dihasut oleh media, memprotes. Sangat tidak adil!” tweeted Trump.

Kekerasan yang terjadi kontras dengan pertemuan yang tampak harmonis antara Trump dan Presiden Barack Obama yang dirancang untuk menyembuhkan perpecahan setelah kampanye pemilu yang paling sengit.

Obama dan Trump mengesampingkan permusuhan masa lalu selama pertemuan 90 menit di Gedung Putih yang dirancang untuk memadamkan kekhawatiran tentang kesehatan demokrasi unggulan dunia tersebut, dan bersumpah untuk melaksanakan transfer kekuasaan yang lancar.

Setelah kampanye jahat yang memuncak dalam pemilihan seorang miliarder 70 tahun dan mantan bintang reality TV yang belum pernah memegang jabatan publik dan yang memperoleh kekuasaan pada platform populis, pesan yang mencuat adalah: ini adalah bisnis seperti biasa dalam demokrasi.

Presiden Demokrat yang terkemuka dan penggantinya itu berhadapan di Oval Office, untuk – yang disebut Obama sebagai – “percakapan yang sangat baik” dan kemudian menjadi penampilan publik bersama yang sangat sopan.

“Sangat penting bagi kita semua, terlepas apapun partainya dan terlepas dari apapun preferensi politik yang dianut, sekarang datang bersama-sama, bekerja sama, untuk mengatasi berbagai tantangan yang kita hadapi,” kata Obama.

Trump muncul lebih pendiam dari biasanya, dan dia luar biasa hati-hati dan hormat dalam sambutannya.

“Bapak Presiden, merupakan kehormatan yang besar berada bersama Anda,” kata Trump, menyebut Obama “orang yang sangat baik.”

 

PBB: IS Eksekusi Warga Sipil Secara Massal di Irak

MOSUL (Jurnalislam.com) – Kelompok pasukan Islamic State (IS) dilaporkan telah menembak dan membunuh sejumlah warga sipil di Mosul dalam beberapa hari terakhir, PBB mengatakan, saat menegaskan penemuan kuburan massal di kota terdekat Hammam al-Alil di mana lebih dari 100 mayat ditemukan, Al Jazeera melaporkan, Jumat (11/11/2016).

Dalam pernyataan yang diterbitkan Jumat merinci serangkaian eksekusi dan pelanggaran IS, kantor hak asasi manusia PBB mengatakan bahwa 40 orang dieksekusi oleh kelompok bersenjata pada Selasa karena “pengkhianatan dan melakukan kolaborasi” dengan pasukan Irak dan sekutu mereka selama operasi militer.

Mengenakan jumpsuits orange, mayat korban digantung di tiang listrik di beberapa daerah di sekitar Mosul, kata PBB.

Pada Rabu malam, IS dilaporkan menembak mati 20 warga sipil lainnya di pangkalan militer Ghabat di Mosul utara, juga atas tuduhan membocorkan informasi.

“Tubuh mereka juga digantung pada berbagai persimpangan di Mosul, dengan catatan yang menyatakan: ‘Keputusan eksekusi’ dan ‘ponsel digunakan untuk membocorkan informasi kepada Pasukan Keamanan Irak (the Iraqi Security Forces-ISF)’,” kata PBB.

Kantor hak asasi juga mengatakan kuburan massal di Hammam al-Alil di selatan Mosul tersebut hanya salah satu dari beberapa lahan pembunuhan IS.

Situs ini ditemukan pada hari Senin dan berisi sedikitnya 100 mayat, termasuk mantan perwira ISF dan tahanan IS, serta beberapa orang yang tewas saat memulai serangan anti-IS sejak awal operasi Mosul empat minggu lalu.

“Aku sudah berada di Erbil sejak awal operasi militer ini untuk merebut kembali kota Mosul dan kami telah mendokumentasikan ratusan eksekusi oleh IS,” Belkis Wille, juru bicara Human Rights Watch (HRW), mengatakan kepada Al Jazeera dari Erbil.

“Sayangnya kami tidak terkejut melihat kuburan massal seperti ini [di Hammam al-Alil]; itu pasti bukan satu-satunya.”

Badan HAM mengatakan mereka telah menerima laporan bahwa IS menimbun sejumlah besar bahan kimia di daerah-daerah sipil agar dapat digunakan sebagai senjata.

Sedikitnya empat orang tewas karena menghirup asap setelah IS mengupas dan membakar pabrik gas belerang al-Mishrag di Mosul pada 23 Oktober.

PBB juga mengatakan memiliki bukti yang dikumpulkan bahwa remaja dan anak laki-laki digunakan oleh IS sebagai pelaku bom bunuh diri selama serangan, sementara gadis-gadis muda dan perempuan dieksploitasi secara seksual oleh anggota kelompok bersenjata tersebut.

“Sejak 27 Oktober IS telah merelokasi perempuan yang diculik, termasuk perempuan Yazidi, ke kota Mosul dan ke kota Tel Afar,” kata badan hak asasi manusia dalam pernyataannya.

“Beberapa wanita dilaporkan ‘didistribusikan’ untuk pasukan IS sementara yang lain telah diberitahu bahwa mereka akan digunakan untuk mengiringi konvoi IS.”

Didukung Masyarakat NTB, Buni Yani Sampaikan Terimakasih

Mataram (Jurnalislam.com) – Buni Yani, kini berhadapan dengan hukum setelah dituduh menyebarkan video yang disertai transkrip pernyataan kontroversial Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Di tengah memanasnya proses hukum yang ia jalani, pria asal Rensing, Lombok Timur ini menyampaikan ucapan terimakasihnya atas dukungan masyarakat NTB.

Dukungan terhadap dirinya mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak terkecuali dukungan dari masyarakat NTB, khususnya Lombok yang menjadi daerah kelahiran Buni Yani. Melihat begitu banyaknya dukungan terhadap dirinya, pria asal Rensing, Sakra, Lombok Timur ini mengucapkan terimakasih bagi masyarakat NTB.

“Terimakasih banyak untuk saudara-saudara saya di NTB. Mohon didoakan buat yang terbaik untuk masyarakat NTB dan seluruh masyarakat Indonesia. Apapun yang kita perjuangkan, ini untuk kebaikan bersama, lillahita’alla. Tidak ada sama sekali tujuan lain selain untuk tujuan bersama,” ujar Buni Yani saat Jumat, (11/11/2016) dilansir suarantb.

Buni Yani juga mengungkapkan dirinya sempat menitikkan air mata melihat persatuan umat Islam dalam memperjuangkan keadilan. Begitu pula dengan mengalirnya dukungan terhadap dirinya.

“Saya terharu dapat dukungan yang begitu luas. Saya kadang-kadang, tidak terasa menitikkan air mata, melihat persatuan umat muslim dan dukungan terhadap saya,” ungkapnya.

Sejak muda, Buni Yani selalu berpetualang merantau ke daerah dan negara lain. Ia mengatakan bahwa itu tidak mengubah jati dirinya sebagai seorang berdarah Sasak. Buni Yani mengatakan nilai-nilai masyarakat Suku Sasak, Lombok selalu ada dalam hatinya.

“Karena saya sejak muda sudah merantau, ke Bali, terus ke Jakarta, lalu di sana agak menderita. Saya juga ke Amerika, terus ke Belanda. Jadi dua per tiga hidup saya di bumi paer-nya orang. Tapi itu tidak mengurangi kesasakkan saya sebagai orang NTB. Saya 100 persen orang Sasak,” ucap Buni.

Hingga saat ini, Buni Yani telah menjalani pemeriksaan di Mabes Polri. Status Buni Yani sebagai saksi dari kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok, membuat dirinya terus dibanjiri dukungan. Khusus untuk masyarakat NTB, dukungan terhadap Buni selalu mengalir.

Reporter: Sirath

HMI Solo Mengecam Keras Arogansi Polda Metro Jaya

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Solo, M Pandu Irawan, mengecam keras sikap arogansi Polda Metro Jaya yang menangkap Sekjend dan kader-kader HMI.

“Kami sangat mengecam tindakan yang di lakukan Polda Metro Jaya yang tidak mengedepankan asas equality before the law (persamaan di mata hukum -red) dan asas praduga tidak bersalah dalam penangkapan paksa Sekjend PB HMI dan beberapa kader HMI,” katanya kepada jurniscom di depan Mapolresta Surakarta, Jum’at (11/11/2016).

Ia menegaskan, status tersangka yang disematkan kepada Sekjend HMI dan para kader HMI untuk segera dicabut karena dinilai salah sasaran.

Pandu menilai, pernyataan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Drs. M. Iriawan, S.H., M.M., M.H. dengan mengatakan HMI sebagai provokator aksi 411 kemarin tidak tepat.

“Kami juga mengecam pernyataan Kapolda Metro Jaya yang menyatakan bahwa HMI sebagai provokator dalam aksi damai 4 November 2016 kemarin,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, paska aksi 411 Sekjend dan sejumlah kader HMI ditangkap pihak kepolisian karena dinilai provokator aksi.

Reporter: Riyanto

Sri Bintang: Kasus Penistaan Agama oleh Ahok Bentuk Pelanggaran Ketertiban Umum

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aktivis Politik Sri Bintang Pamungkas, menyatakan bahwa kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok ialah pelanggaran ketertiban umum. Hal itu disampaikan dalam malam keprihatinan di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/11/2016) malam.

“Dalam supremasi hukum, soal penistaan agama itu ada di bab ketertiban umum. Jadi, Ahok ini melanggar ketertiban hukum selain penistaan agama. Apa yang diucapkan oleh Ahok itu jelas sebuah penistaan,” ungkapnya.

Terkait pernyataan Jokowi akan melakukan gelar perkara secara terbuka terhadap Ahok, Sri dengan tegas menolaknya. Menurutnya, gelar perkara secara terbuka di depan publik tidak ada aturannya dalam kitab hukum.

Sri Bintang menilai gelar perkara di depan publik ini merupakan upaya pembentukan opini kepada masyarakat.

“Gelar perkara secara terbuka itu bisa mempengaruhi pandangan umum. Sehingga dipelintir opininya, ujung-ujungnya kita tahu bahwa dia (Ahok-red) akan dibebaskan,” tambah tokoh pergerakan ini.

Terakhir, Sri menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para ulama yang begitu hebat karena mampu mengumpulkan 2 juta massa dalam aksi 411.

“Masalah agama ini ada di konstitusi, jadi agama tidak bisa dipisahkan oleh Negara, dipisahkan oleh hukum. Yurisprudensinya sudah ada, ngapain Ahok dibiarkan berkeliaran,” tandasnya.

Reporter: Ali Muhtadin/JITU

 

Sekber Aktivis Indonesia: Aksi 411 Terjadi Karena Saluran Hukum Tak Berjalan Baik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pasca aksi bela Qur’an 4 November lalu, ada sebagian kalangan yang menuduh aksi tersebut ditunggangi aktor politik. Namun, Ketua Presidium Sekretariat Bersama Aktivis untuk Indonesia, Ari Wibowo mengungkapkan, aksi tersebut bukan ditunggangi aktor politik melainkan ‘ditunggangi’ oleh hati nurani.

“Aksi 411 lalu kita turun murni ditunggangi hati nurani. Karena keprihatinan hilangnya keadilan hukum di negara ini,” katanya dalam malam keprihatinan di Taman Proklamasi, Jakarta, Jum’at (11/11/2016).

Ari menjelaskan, berbagai kasus hukum yang tak selesai telah menunjukkan hilangnya supremasi hukum di negeri ini. Puncaknya, lanjut dia, kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Aksi 411, dinilai Ari terjadi karena saluran hukum tidak berjalan dengan baik. “Aksi tersebut harusnya tidak terjadi kalau saluran hukum berjalan dengan baik,” tegasnya.

Ia juga menegaskan, Indonesia sedang mengalami kemunduran sejarah. Hal itu terlihat saat aksi damai jutaan manusia ternoda dengan kekerasan aparat.

Reporter: Tommy Abdullah/JITU

Lagi, Sejumlah Elemen Umat Islam Solo Berunjuk Rasa Percepat Proses Ahok

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejumlah elemen umat Islam Surakarta kembali turun ke jalan menuntut percepatan proses peradilan dugaan penistaan agama oleh Ahok, Jum’at (11/11/2016).

Aksi Longmarch yang di mulai dari Masjid Kota Barat menuju depan Mapolresta Surakarta itu mendapatkan pengawalan yang cukup ketat dari Aparat Kepolisian. Terlihat 1 unit mobil water canon disiagakan di samping pintu masuk Mapolresta.

Didaulat sebagai orator, ketua HMI Solo M. Pandu Irawan mengatakan,
dugaan penistaan agama petahana DKI itu sudah jelas terbukti menghina al Qur’an.

“Kita menuntut segera di selesaikannya kasus penistaan agama oleh Ahok yang jelas-jelas sudah menistakan Al Qur’an,” ucapnya.

“Aksi yang kita laksanakan siang ini bukanlah ‘Aksi Sampah’ akan tetapi aksi ini adalah aksi membela kebenaran dari kitab suci kita,” tambahnya.

Sementara Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) melalui perwakilannya, Edy Lukito menegaskan sejarah mencatat penghianatan dari oknum etnis Tiongkok terhadap keutuhan NKRI, diantaranya peristiwa G30 S/PKI.

“Saudara-saudara telah kita ketahui bersama mereka telah beberapa kali berusaha merongrong keutuhan NKRI dengan membantu para PKI dalam pemberontakan G 30 S/PKI,” tegasnya.

Aksi selesai dengan pembacaan pernyataan sikap dari DSKS, para peserta membubarkan diri dengan tertib.

Aksi tuntut Ahok Surakarta

411 Dibayar? Aktivis Malari: ‘Jangan Sembarangan Nuduh’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aktivis Malari (Malapetaka Limabelas Januari) era 74, Salim Hutadjulu mengimbau semua pihak agar tidak sembarangan menuduh aksi 411 telah ‘dibiayai’.

Salim juga mengatakan bahwa reaksi itu adalah wajar. Pasalnya, siapapun tidak akan rela jika agamanya dihina. Siapapun yang dihina pasti akan menimbulkan kemarahan.

“Saya bukan sok agama, nanti kali orang lain ada agamanya dihina pasti dia marah. Ini kok dituduh dibayar, jangan sembarangan nuduh dong,” kata Salim saat menghadiri acara malam keprihatinan di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/11/2016) malam.

Salim juga memuji umat Islam di berbagai daerah yang dengan cepat bereaksi atas penistaan agama oleh Ahok.

“Hebatnya ini kan soal penistaan agama, tapi demonya bukan hanya di Jakarta, tapi juga di daerah,” ungkapnya.

Salim mengaku sebagai aktivis, dirinya masih tetap konsisten dan konsekuen untuk pro terhadap rakyat.

Di lain pihak, Ari Wibowo selaku Ketua Presidium Sekretariat Bersama Aktivis untuk Indonesia mengungkapkan bahwa demokrasi Indonesia saat ini dalam kondisi sekarat.

“Supremasi hukum yang menjadi panglima demokrasi saat ini sekarat. Berbagai kasus hukum terutama kasus penistaan hukum mengindikasikan adanya kemunduran dalam penegakan supremasi hukum,” ujar Ari.

Ia menambahkan, proses demokrasi saat ini di Tanah Air mengalami jalan di tempat bahkan mundur. Ia juga mengecam penangkapan para kader mahasiswa yang merupakan cara-cara represif model rezim orde baru.

“Penangkapan penangkapan yang telah terjadi itu adalah cara orde baru, dalam pendekatan keamanannya,” tutur aktivis mahasiswa ini.

Aksi damai gerakan bela Qur’an yang berjalan dengan baik pun dinodai oleh kekerasan aparat, apalagi jika ditambah dengan adanya gelombang penangkapan-penangkapan yang terjadi.

Reporter: Ali Muhtadin/JITU

ILUNI UI: Kami Adalah Gerakan Moral Bukan Gerakan Politik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Ikatan Alumni UI (ILUNI UI), R Ima Soerjo Kuesoemo menyatakan saat ini Indonesia belum mempunyai pemimpin yang mampu berikan kenyamanan bagi masyarakat. Hal itu ia utarakan dalam malam keprihatinan di Taman Proklamasi, Jakarta pusat, pada Jumat (11/11/2016) malam.

“Yang menjadi perhatian kita adalah bahwa saat ini negeri kita mengalami sebuah keadaan yang mana menunjukkan setelah 71 tahun kita merdeka ternyata para pemimpin, elit belum mampu menciptakan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat memberikan rasa aman bagi segenap bangsa Indonesia,” ucapnya.

Ima juga menegaskan bahwa apa yang diperjuangkan saat ini bukanlah gerakan politik, katanya.

“Kita ini bukan politisi, kita ini gerakan moral. Jadi, kalau ada yang mengira kita melakukan kegiatan politik itu orang mungkin tidak sekolah atau ijazahnya beli. Aktivis mahasiswa itu pasti gerakan moral,” tambahnya di depan puluhan aktivis mahasiswa yang hadir.

Menurutnya, kelemahan yang dimiliki bangsa ini hanyalah kurangnya menutupi perbedaan.

“Yang saya lihat kelemahan kita selama ini adalah kita kurang bisa menutupi perbedaan dan mempertebal persamaan,” tukasnya.

Ima menegaskan, bahwa sikap terorganisirlah yang harus kembali dipelajari oleh para aktivis mahasiswa.

“Kepentingan luar yang ingin menguras kekayaan bangsa kita, menjadikan bangsa kita bangsa marjinal maka kita harus terorganisir. Kita harus punya konsep yang jelas,” tegasnya.

ILUNI UI pun menyatakan siap mengawal aspirasi rakyat untuk menegakkan hukum. Pasalnya, ILUNI UI merupakan badan hukum dalam aturan organisasi yang akan terus mengawal gerakan moral

“Kita tidak melakukan tindakan politik. Kita mewakili aspirasi amanat penderitaan rakyat. Dan kami akan melakukan apapun untuk memback-up ini,” tutupnya.

Reporter: Ali Muhtadin/JITU

Ahli Linguistik Forensik Tegaskan Ungkapan Ahok Soal Al-Maidah 51 Adalah Penistaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Doktor bidang Linguistik Forensik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Andika Dutha Bachari menegaskan, ungkapan Basuki Tjahaja Purnama soal Al-Maidah 51 adalah sebuah penistaan.

Andika menjelaskan, ada beberapa unsur yang membuat ungkapan Ahok merupakan penistaan. Pertama, sisi esensial. Yang mana kata ‘dibohongi’ dan ‘dibodohi’ maknanya sudah negatif.

Kedua, sambungnya, unsur kategorisasi. Menurut Andika, dalam Islam ajakan untuk menjalankan perintah tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin disebut dakwah, sedangkan bagi Ahok dikategorikan sebagai membodohi.

“Ada kategorisasi negatif yang dilakukan Ahok terhadap umat Islam,” ujarnya dalam Diskusi bertema ‘Bedah kasus penodaan agama, Layakkah Ahok Dipenjara?’ di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Jum’at (11/11/2016).

Unsur selanjutnya, jelas Andika, terkait syarat kewenangan. Yakni wewenang Ahok untuk membicarakan hal tersebut, yang mana menjalankan perintah kitab suci merupakan urusan keyakinan pribadi seseorang.

Kemudian, kata dia, unsur pressing posisi, yaitu keyakinan seseorang untuk berbicara tentang tema yang dimaksud.

Selain itu, menurut Andika, Ahok telah melanggar maksim kualitas atau kebenaran isi informasi yang disampaikan.

“Kecuali dia bisa menunjukan apa betul ada yang membohongi dan dibohongi pakai al-Maidah 51. Meskipun itu sendiri masih jadi perdebatan karena faktor kategorisasi tadi,” tandasnya.

Andika mengungkapkan, walaupun tanpa maksud menghina. Apa yang disampaikan Ahok menggambarkan ketidaksukaan karena bukan hanya sekali dilakukan.

“Menyampaikan ketidaksukaan terhadap agama tertentu merupakan suatu yang dilarang. Apalagi al-Qur’an sebagai entitas yang secara subtantif ada di hati umat Islam. Pasti merasa tersakiti,” pungkasnya

Reporter: Yahya Nasrullah/JITU