Hadiri dan Ikuti
Mendukung Aksi Jakarta Bela Islam III : “TAHAN AHOK”
Longmarch: Utara Stadion Sliwedari -Gladag
Jumat, 2 Desember 2016, Jam 13.00 – Selesai
Korlap:
- Yusuf Suparno; 085329003344 (WA 088216533032)
- Abu Hanifah; 085642116828
Hadiri dan Ikuti
Mendukung Aksi Jakarta Bela Islam III : “TAHAN AHOK”
Longmarch: Utara Stadion Sliwedari -Gladag
Jumat, 2 Desember 2016, Jam 13.00 – Selesai
Korlap:
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI mendatangi Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (01/12/2016). Kedatangan itu dimasudkan untuk mempertanyakan alasan Kejagung tidak menahan tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Kita banyak menerima desakan dari umat Islam yang mempertanyakan alasan kenapa Ahok tidak ditahan,” ujar salah seorang anggota tim advokasi GNPF MUI, Irfan Pulungan lansir Islamic News Agency (INA).
Pantauan INA di lokasi, tim advokasi GNPF-MUI ditemui oleh Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung, M Rum dan mengadakan diskusi tertutup selama hampir 1 jam.
“Ya mereka (tim advokasi GNPF MUI -red) menanyakan soal itu (kenapa Ahok tidak ditahan). Tadi juga mereka ingin bagaimana perkara ini terbukti di pengadilan. Silakan saja,” cetus Rum usai pertemuan.
Sebagaimana diketahui, saat ini berkas perkara kasus Ahok sudah diserahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara oleh Bareskrim Polri.
Reporter: Yahya G Nasrullah/INA
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Putri proklamator kemerdekaan RI Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, mengungkapkan kesedihannya melihat permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia akhir-akhir ini.
Menurutnya, kasus petahana DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan penistaan agama yang dibuatnya telah menyentuh masalah ketidakharmonisan yang menimbulkan bibit pemecah belah bangsa.
“Untuk itu, Ahok harusnya diproses hukum dan ditahan,” ungkapnya dengan suara tersekat sambil menitikkan air mata di Aula Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Rabu (30/11/2016), lansir Islamic News Agency (INA).
Namun, terang Rahmawati, tidak hanya kasus tersebut. Ahok dinilai telah beberapa kali melakukan sikap yang sangat bertentangan dengan nurani rakyat. Seperti, dugaan kasus korupsi, penggusuran, dan terutama soal reklamasi.
“Reklamasi hanyalah bagian kepentingan pengembang yang dilindungi oleh Ahok, dan notabene tidak ada kepentingannya untuk rakyat,” ujarnya.
Lebih lanjut Rachmawati menegaskan kasus hukum Ahok sudah membuat gaduh bangsa Indonesia.
Reporter: Yahya G Nasrullah/INA
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Aksi Bela Islam III terjadi akibat adanya keraguan umat Islam terhadap penegakan supremasi hukum oleh pemerintah. Sebab, sampai saat ini kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok belum tuntas tepat sasaran.
“Andai tidak ada Aksi Bela Islam 1 masyarakat pesimis Ahok akan diproses hukum, dan andai tidak ada Aksi Bela Islam 2 masyarakat juga pesimis Ahok akan diproses dengan tegas, cepat dan transparan,” demikian disampaikan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Bachtiar Nasir dalam media resmi GNPF-MUI, belaquran.com, Kamis (01/12/2016).
Menurutnya, atas dasar lumpuhnya keadilan hukum dan keadilan sosial inilah maka Aksi Bela Islam III disambut secara heroik oleh jutaan masyarakat Indonesia, baik dari muslim maupun agama lainnya.
Panggilan Aksi Bela Islam III, Jumat, 2 Desember 2016 tak terbendung. Sejak aksi ini dideklarasikan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), penghadangan secara sistematis, terstruktur, dan masif dilancarkan oleh mereka yang tidak ingin umat Islam bersatu menyuarakan keadilan sosial dan keadilan hukum. Mulai dari tudingan politisasi hingga isu makar.
“Semua tuduhan itu hanya isapan jempol belaka. Umat Islam tidak percaya lagi dengan propaganda dan agenda setting semacam itu. Sebaliknya, umat Islam semakin menguatkan ketaatan dan keterikatan kepada ulama dalam bingkai syariat. Itu terlihat pada aksi Bela Islam 2 dan berlanjut pada Aksi Bela Islam III,” ujarnya dirilis Islamic News Agency (INA).
Bahtiar Nasir atau yang karib dipanggil UBN menjelaskan, gejala Aksi Bela Islam III atau yang sering disebut Aksi 212 itu hakekatnya adalah gerakan soft Muslim People Power dalam bentuk Aksi Super Damai yang digerakkan oleh kesamaan rasa akibat penistaan agama dan Kitab Suci Umat Islam, dimana tersangkanya Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Pendiri Ar-Rahmān Quranic Learning Center (AQL) ini juga menegaskan, aksi ini hanya gunung es sebagai akumulasi berbagai kasus ketidakadilan sosial Indonesia, khususnya terhadap umat Islam sebagai pihak yang sering tersudutkan.
“Mereka sering tertuduh sebagai pihak yang tidak nasionalis, anti Pancasila, tidak pro Bhinneka Tunggal Ika, dan lain-lain. Ironisnya, hak-haknya sebagai rakyat kecil terpinggirkan demi kepentingan pemodal asing dan aseng,” papar pria yang sering menggunakan kopiah hitam dengan pin merah putih itu.
Di antara target Aksi Bela Islam, kata dia, adalah menguatkan rasa dan barisan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Nasionalisme) yang membawa pada Persatuan Indonesia, mengokohkan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai-nilai UUD 1945 yang asli.
Sekali lagi ia tegaskan, meski konsep acara Aksi Bela Islam III adalah dzikir dan doa, tetapi tujuan utama tetap menginginkan agar penegak hukum segera memenjarakan tersangka penista agama.
“Yang tak kalah pentingnya juga, aksi ini menuntut keadilan sosial dan keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia serta melawan kekuatan oligarki yang telah membuat Indonesia terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Penjarakan penista agama secepatnya,” pungkasnya.
Reporter: CAK
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Persatuan Islam (Persis) menyatakan akan mengerahkan puluhan ribu warganya, terutama yang di daerah, untuk ikut Aksi Bela Islam III di Jakarta, Jumat (02/12/2016) besok.
Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Persis (HIMA PERSIS), Nizar Ahmad Saputra saat konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/16) sore.
“Ada dari daerah Sumatera, daerah Lampung, Maluku, daerah Kalimantan. Juga seluruh daerah yang ada pimpinan wilayah Persatuan Islam, terutama di Jawa Barat dan Jabodetabek. Itu semuanya akan hadir, ada sekitar puluhan ribu,” ujarnya.
Pengerahan massa Aksi Super Damai 212 tersebut murni dari dari swadaya kader Persis, kata dia, lansir Islamic News Agency (INA).
“Itu semua swadaya dari kader. Juga organisasi ini, kita rutin untuk melaksanakan urunan, infak organisasi. Oleh karenanya tidak sulit untuk kita mendatangkan kader-kader,” ungkapnya.
Terkait akomodasi, Nizar mengaku massa menggunakan uang pribadi karena dorongan hati nurani.
“Untuk akomodasi itu murni swadaya anggota kita yang tergerak hatinya untuk ikut Aksi Bela Islam,” katanya.
Melihat antusiasme tersebut, Nizar menyatakan bahwa umat juga mempunyai kekuatan dalam ukhuwahnya.
“Kita ini selain imamah imarah, kita juga kuat ukhuwahnya. Tali persaudaraannya, gotong-royongnya,” paparnya.*
Reporter: Ali Muhtadin/INA
BANTEN (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi aktivis muda Muhammadiyah dalam acara Penutupan Tanwir I Pemuda Muhammadiyah.
Pada acara yang berlangsung di Hotel Narita, Cipondoh, Tangerang, Banten, Rabu (30/11/2016) itu, Pemuda Muhammadiyah menyampaikan Petisi Kebangsaan kepada Presiden Jokowi.
Petisi tersebut disampaikan setelah mencermati kondisi bangsa yang sedang menghadapi prahara penistaan agama Islam, dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama (BTP/Ahok).
“Yang (mana prahara itu) semakin menguras energi bangsa Indonesia dan berpotensi menimbulkan gejolak di seluruh pelosok Nusantara,” ujar Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, Pedri Kasman.
Melalui petisi itu, aktivis Pemuda Muhammadiyah, pertama, menyampaikan dukungannya terhadap sikap dan pendapat keagamaan Majelis Ulama Indonesia tentang penistaan agama oleh tersangka Ahok.
“Fatwa tersebut sudah tepat dan melalui proses pengkajian dan penelitian oleh MUI,” ujarnya dalam siaran pers kepada Islamic News Agency (INA).
Petisi tersebut ditandatangani oleh 33 Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) seluruh Indonesia.
“Kedua, Pemuda Muhammadiyah mengapresiasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, sebagai lokomotif aspirasi umat Islam dalam menuntut keadilan terhadap penistaan agama Islam,” ujar Pedri.
Ketiga, Pemuda Muhammadiyah mengapresiasi langkah-langkah Polri yang dinilai telah merespon aspirasi umat Islam, dengan menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama.
Kemudian, organisasi itu menuntut agar Ahok segera ditahan, sebab telah memenuhi segala aspek hukum terkait dugaan penistaan agama Islam.
“Agar penahanan penista agama Islam ini dilakukan segera karena BTP (Ahok) senantiasa berpotensi mengulangi tindakannya yang ‘ugal-ugalan’ dalam kasus ini,” ujar Pedri.
Terakhir, Pemuda Muhammadiyah tidak segan-segan melakukan aksi-aksi Bela Islam berikutnya di seluruh Nusantara.
“Jika penista agama Islam ini tidak ditahan sebagaimana pelaku penista agama lainnya (selama ini),” tegasnya.
“Demikian Petisi Kebangsaan ini kami sampaikan secara tegas kepada semua pihak yang bertanggung jawab dalam proses penuntasan kasus ini,” lanjutnya.
Tanwir I Pemuda Muhammadiyah 2016 berlangsung pada Ahad-Rabu (27-30/11/2016), beberapa hari menjelang Aksi Bela Islam III yang akan digelar besok, Jumat (02/12/2016).*
Reporter: Muhammad Abdus Syakur/INA
SAN FRANSISCO (Jurnalislam.com) – Serangan perangkat lunak berbahaya baru telah terdeteksi terhadap lebih dari 1 juta perangkat Android, sebuah perusahaan cybersecurity melaporkan Rabu (30/11/2016), lansir Anadolu Agency.
Rata-rata 13.000 perangkat baru per hari terancam secara global, menurut Check Point.
Malware baru ini pertama kali muncul pada bulan Agustus dan dijuluki Gooligan, kombinasi dari kata hooligan dan Google.
Check Point, yang menemukan malware tersebut, mengatakan Gooligan menargetkan kerentanan dalam sistem operasi Android, khususnya, perangkat yang bekerja pada Android 4 dan Android 5, termasuk Jelly Bean, KitKat dan Lollipop.
Gooligan kemudian menyebar melalui aplikasi yang diunduh dari toko aplikasi pihak ketiga, yaitu aplikasi Google Play Store yang tidak resmi. Aplikasi tersebut membanggakan judul atau nama software yang terdengar sah dan dengan bermacam fungsi, mulai dari mobile game bernama Slots Mania hingga ke software yang memiliki nama aneh seperti Kiss Browser (Browser Ciuman).
Setelah perangkat terinfeksi, hacker dapat mengakses data pengguna dari Google Play, Gmail, Foto Google, Google Docs, G Suite, Google Drive dan aplikasi lainnya.
Toko aplikasi pihak ketiga tersebut adalah yang paling populer di Asia, dan Check Point mencatat bahwa benua itu menjadi rumah bagi 57 persen dari perangkat yang terinfeksi Gooligan. 19 persen perangkat lain yang terinfeksi berada di Amerika, 15 persen di Afrika dan 9 persen di Eropa.
Check Point menawarkan layanan gratis bagi pengguna Android untuk memeriksa apakah perangkat mereka terinfeksi Gooligan.
“Gooligan telah merusak lebih dari satu juta akun Google,” tegas Check Point dalam laporannya.
“Kami percaya bahwa itu adalah pelanggaran akun Google terbesar sampai saat ini, dan kami bekerja sama dengan Google untuk melanjutkan penyelidikan. Kami mendorong pengguna Android untuk memvalidasi apakah akun mereka telah dilanggar.”
Saat Gooligan menginfeksi perangkat lebih banyak lagi setiap hari, Google dan Check Point bekerja memperbaiki malware. Check Point percaya malware itu adalah varian baru dan merusak sebuah keluarga malware yang lebih tua yang disebut Ghost Push.
“Sebagai bagian dari upaya kami untuk melindungi pengguna dari keluarga Ghost Push malware, kami telah mengambil banyak langkah untuk melindungi pengguna kami dan meningkatkan keamanan ekosistem Android secara keseluruhan,” Adrian Ludwig, direktur Google untuk keamanan Android, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
MOSKOW (Jurnalislam.com) – Pada hari Rabu, Kremlin mengumumkan bahwa pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyatakan pasukan Turki berada di Suriah untuk menggulingkan Bashar al-Assad mengejutkan Moskow dan mereka mengharapkan penjelasan dari Ankara, Eldorar Alshamia melaporkan, Rabu (30/11/2016).
Pada hari Selasa, Erdogan mengatakan dalam sambutannya yang mengejutkan: Militer Turki datang ke Suriah untuk mengakhiri kekuasaan rezim al-Assad, dan masuk bersama dengan Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army) untuk melindungi pemilik wilayah yang sejati, membangun keadilan, mengakhiri aturan “biadab” Assad yang mempraktekkan kebijakan terorisme di dalam negara.
Sebuah serangan udara menargetkan tentara Turki di dekat Al-Bab (kota timur dari kota Aleppo), dan menyebabkan kematian tiga tentara serta melukai 10 orang lainnya.
Staf Umum Turki mengatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat perang milik rezim Syiah Assad, sementara sumber-sumber media berbicara tentang persiapan pasukan rezim Assad dan milisi PYD menyerang kota untuk menguasainya sebelum dibebaskan oleh FSA, yang bersiap untuk menyerang sebagai bagian dari operasi Perisai Efrat (Euphrates Shield).
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan: “Pernyataan ini baru bagi kami … pernyataan yang sangat berbahaya dan berbeda dari pernyataan sebelumnya serta berbeda dengan pemahaman kami tentang situasi, kami berharap bahwa mitra Turki kami memberikan sebuah penjelasan.”
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan: “Kami mempelajari hal ini kemarin, pernyataan ini telah mengangkat pertempuran yang besar, dan kami mencoba untuk memahami apakah dia (Erdogan) benar-benar mengatakannya, kami pelajari bagaimana pernyataannya dikutip, dan apakah yang dikutip bukan merupakan pernyataan rekaman,” katanya, “Kami hanya mengandalkan pernyataan publik saja.”
Diduga bahwa Lavrov bergegas menuju Turki, di mana ia akan mengadakan pembicaraan dengan timpalannya dari Turki, Mevlut Cavusoglu.
AL QUDS (Jurnalislam.com) – Dua saluran televisi Israel dilaporkan di-hack pada hari Selasa oleh hacker anonymous yang menyiarkan adzan dan gambar kebakaran hutan yang menghanguskan seluruh Israel pekan lalu, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (30/11/2016).
Dalam pernyataan terpisah, jaringan televisi Israel Channel 2 dan Channel 10 mengatakan transmisi mereka terputus selama beberapa menit dengan gambar ikon Yerusalem, Masjid Al-Aqsha.
Adzan juga disiarkan, bersama dengan gambar kebakaran hutan yang terjadi pekan lalu di beberapa bagian negara Yahudi, dua saluran televisi tersebut menambahkan.
Menurut keduanya, hacker juga menyiarkan pesan dalam bahasa Ibrani menghubungkan RUU kontroversial di Knesset – yang akan melarang penggunaan pengeras suara untuk memperkuat adzan dengan kebakaran pekan lalu.
“Ini adalah hukuman dari Allah; api membakar hati mereka; Allah adalah yang paling tinggi,” isi pesan itu.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh Jerusalem Post, Channel 2 mengatakan bahwa penyelidikan awal telah menemukan bahwa hacker “mengambil kendali [jaringan] penyiaran satelit di komunitas yang sebagian besar Arab”.
ALEPPO (Jurnalislam.com) – Hampir 20.000 orang telah meninggalkan Aleppo Timur selama 72 jam terakhir karena serangan udara brutal pasukan rezim Suriah dan Rusia, didukung terus majunya pasukan Assad dan sekutunya ke wilayah kota yang dikuasai para pejuang Aleppo, menurut Palang Merah, lansir Aljazeera, Rabu (30/11/2016).
Warga sipil yang ketakutan akan kekejaman pasukan rezim melarikan diri dengan tangan kosong ke wilayah yang masih dikuasai para pejuang Aleppo, atau menyeberang ke Aleppo barat yang dikuasai rezim atau kabupaten yang dikendalikan Kurdi.
Jumlah 20.000 merupakan perkiraan dan dapat meningkat karena “orang-orang yang mengungsi ke arah yang berbeda”, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross) Krista Armstrong mengatakan kepada kantor berita AFP.
Kepala kemanusiaan PBB Stephen O’Brien sebelumnya menyatakan jumlah pengungsi dari Aleppo timur berjumlah 16.000.
Aleppo, yang sebelum dimulainya perang merupakan kota Suriah terbesar tersebut telah dibagi antara barat yang dikuasai rezim Assad dan timur yang dikuasai oposisi bersenjata dan para mujahidin, dimana para pejabat PBB mengatakan sedikitnya 250.000 orang tetap berada di bawah pengepungan.
Serangan udara brutal rezim Suriah dan Rusia untuk mengusai wilayah Aleppo yang dikendalikan oposisi telah memicu kekhawatiran internasional karena semakin intensif mereka menyerang penduduk sipil dan fasilitas umum, seperti; rumah sakit, sekolah dan pabrik roti.