Berita Terkini

Silaturahim Ormas Islam Se-Jawa Timur: Bersatu Lawan Kedzaliman

Jurnalislam.com) – Ormas Islam se-Jawa Timur menggelar silaturahim di Masjid Mujahidin, Perak, Kota Surabaya, Kamis (25/5/2017). Acara diikuti ratusan peserta dari perwakilan ormas-ormas Islam di Jawa Timur.

Acara menitikberatkan pada upaya menjaga ukhuwah Islamiyah dan menggalang kekuatan untuk melawan kedzaliman yang kerap menimpa umat Islam.

“Setiap permasalahan selalu dialihkan oleh pemerintah, sudah saatnya ummat Islam bersatu padu agar kekuatan dan ukhuwah islamiyah terjaga,” kata Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, Ustadz Sudarno Hadi. Ia juga dengan tegas menolak upaya kriminalisasi para ulama.

Dalam kesempatan itu, hadir juga perwakilan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Timur. Dalam paparannya, juru bicara HTI Jatim Ustadz Rachmat S. Labib mengkritisi rencana pemerintah membubarkan ormas tersebut.

“Ormas yang sudah berbadan hukum seperti HTI tidak bisa serta merta dibubarkan, hanya bisa dibubarkan melalui pengadilan dan beberapa tahapan hukum yang berlaku di NKRI, tidak bisa serta merta dan secara represif, harus sesuai koridor hukum,” ujarnya.

Ustadz Rachmat juga menegaskan, HTI adalah organisasi yang taat hukum dan semua kegiatan HTI tidak ada yang melanggar hukum.

“Mereka tidak mempunyai alasan yang sesuai hukum utk membubarkan HTI,” tandasnya.

Kontributor: Oesman, Surabaya

 

Tarhib Ramadhan 1438 Juga Digelar Umat Islam Banyuwangi

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Tarhib Ramadhan 1438 H juga digelar umat Islam Banyuwangi. Ratusan umat Islam mengikuti pawai motor mengelilingi Kota Banyuwangi pada Kamis (25/5/2017) sore.

Mereka juga membagikan selebaran berisi imbauan untuk memperbanyak ibadah di bulan suci Ramadhan berjudul “Ramadhan Mubarok Tinggalkan Maksiat Perbanyak Ibadah”.

Ketua Gabungan Umat Islam Banyuwangi, H Agus Iskandar mengatakan, kegiatan tersebut untuk mempererat ukhuwah Islamiyah umat Islam Banyuwangi.

Ia juga menyeru untuk menjadikan momen bulan Ramadhan sebagai momen kebangkitan umat Islam dengan mengedepankan ukhwah islamiyah.

“Saudaraku muslim jadikanlah momen bulan Ramadhan ini untuk memperkuat ukhwah kita dengan mengedepankan persatuan kesatuan dan kesolidan yang kokoh di antara kita,” tutup H Agus Iskandar.

Kontributor: Jacki Ardhiyansyah, Banyuwangi

FPI Tasikmalaya Siap Jaga Kondusifitas Ramadhan 1438 H

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Front Pembela Islam (FPI) Tasikmalaya mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan dari praktek-praktek kemaksiatan. FPI bersama ormas lainnya juga mengaku siap bekerja sama dengan pemerintah dan aparat keamanan untuk menjaga kondusifitas Ramadhan.

“Kami telah bekerjasama dengan DPR, Kepolisian dan aparat yang lain, dan kami mendorong mereka agar mengamankan Kota Tasikmalaya dan khususnya selama bulan suci Ramadhan,” kata Ketua FPI Tasikmalaya Ustadz Anshori kepada Jurnalislam.com, Kamis (25/5/2017).

Akan tetapi, kata Ustadz Anshori, jika pemerintah dan aparat tidak menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat terkait tempat-tempat kemaksiatan yang membandel, pihaknya akan turun untuk mengingatkan secara langsung.

“Tapi seandainya kami sudah lapor dan menentukan titik kemaksiatan tapi tidak ditindak lanjuti dan tidak bergerak, kewajiban kami akan mengingatkan langsung demi kemaslahatan umat,” tegasnya.

Ustadz Anshori berharap ada kerjasama yang baik antara ulama dan umara di Tasikmalaya untuk mewujudkan Tasikmalaya yang bersih dari kemaksiatan.

“Kita tak neko-neko yang penting Tasik aman, Tasik kondusif, Tasik bersih tidak rujit dengan kemaskiatan, malu jika kota Tasik banyak kemaksiatan,” pungkasnya.

 

Jelang Ramadhan, MUI dan IZI Siapkan 1500 Paket Ramadhan untuk Keluarga Dhuafa

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) menyiapkan 1500 paket untuk tahap pertama akan diberikan kepada keluarga dhuafa. Program Paket Ramadhan ini akan dibagikan ke seluruh wilayah Indonesia.

Acara secara simbolis dilaksanakan di wilayah Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan, Kamis (25/5/2017). Paket lebaran ini secara simbolis akan diserahkan oleh Ketua MUI Kota Semarang dan Kepala Kantor IZI Perwakilan Jawa Tengah dibantu oleh relawan “Agen Kebaikan IZI”.

Mereka mendata warga-warga dhuafa di wilayah Jawa Tengah, yang kemudian diberikan paket Ramadhan oleh IZI melalui relawan agen kebaikan ini. Adapun paket Ramadhan yang diberikan berupa paket sembako dan bahan kebutuhan pokok.

Kepala Kantor Perwakilan IZI Djoko Adhi mengatakan, IZI harus selalu berupaya menjadi lembaga amil zakat yang mempermudah masyarakat, baik memberi kemudahan kepada para mustahik maupun memberi kemudahan kepada masyarakat (muzakki) yang hendak memberikan bantuan melalui IZI.

“Sebagai pelopor lembaga amil zakat, kita harus selalu berusaha mempermudah dan membantu kaum muslimin yang membutuhkan. Jangan lupa juga untuk memberikan kemudahan kepada para dermawan yang hendak menyumbangkan hartanya melalui IZI,” ujar Djoko Adhi.

Sementara itu, Prof. KH. M. Erfan Soebahar M.Ag selaku Ketua MUI Kota Semarang sangat mengapresiasi langkah IZI, program pemberian paket ramadhan ini langkah nyata agar seluruh lapisan masyarakat menyambut gembira dengan hadirnya bulan ramadhan khususnya masyarakat dhuafa.

Rangkaian kegiatan selama bulan Ramadhan 2017, IZI telah menyiapkan berbagai program menarik diantaranya, paket ramadhan untuk dhuafa (penyapu jalan, tukang parkir, penjual koran perempuan, pedagang keliling ), buka bersama di kampung nelayan dan komunitas tuna netra muslim. Kegiatan ini dilakukan di wilayah Kota Semarang, Tegal, Kudus dan Purwokerto.

Siaran Pers

Wujudkan Ramadhan Kondusif, Pemerintah dan Ormas Islam Jember Adakan Rakor

JEMBER (Jurnalislam.com) – Merespon aspirasi umat Islam agar pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan berlangsung kondusif, aparat pemerintahan Jember pada Rabu (24/5/2017) melakukan Rapat Kordinasi (Rakor) dengan MUI dan beberapa perwakilan ormas Islam. Bertempat di Aula Polres Jember, rakor dihadiri oleh perwakilan ormas-ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Laskar Islam Jember (LIJ), Ansharusy Syari’ah, dan beberapa elemen lainnya.
Rakor menyoroti sejumlah tema penting, diantaranya penutupan total tempat hiburan malam, aturan rumah makan yang buka di siang hari dan pemaksimalan info aduan maksiat dan kriminal lewat jalur aparat hukum. Termasuk pula upaya menjaga stabilitas harga pangan dari kecurangan penimbunan oleh oknum pedagang.
pemusnahan miras
“Mohon teman-teman ormas untuk tidak sweeping. Kami turut mengundang para pemilik tempat hiburan untuk tahu info ini. Berbagai pihak terkait kami libatkan untuk berperan serta menjaga kondusifnya ramadhan,” kata perwakilan Polres Jember, AKBP Kusworo Wibowo.
Menanggapi pernyataan itu, perwakilan Laskar Islam Jember (LIJ) Nanag Santoso berharap, upaya tersebut bukan hanya pada Ramadhan saja tetapi bersifat kontinyu.
“Semoga ini bukan sekedar seremonial tapi ada upaya rutin berkelanjutan menjaga kondusifnya Jember sebagai ikon kota Santri,” ungkap Nanang.
Nanang mengingatkan agar pihak aparat menindak serius pelaporan info maksiat selama Ramadhan dan tidak membiarkan adanya pelanggaran yang mencederai ibadah umat Islam selama Ramadhan.
Acara diakhiri dengan pemusnahan barang bukti temuan aparat keamanan berupa miras sejumlah merk, narkoba dan alat bukti kriminal lainnya.

Tarhib Ramadhan 1438 H Soloraya Diikuti DSKS, MUI dan Ormas Islam

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta bekerja sama dengan elemen umat Islam Soloraya menggelar Tarhib Ramadhan 1438 H di Masjid Agung Surakarta, Kamis (25/5/2017). Acara bertajuk ‘Tebar Salam Menuju Persatuan Bangsa Bersatu Di Bawah Bimbingan Ulama’ diisi dengan longmarch mengitari pusat kota Surakarta.

Dalam sambutannya, Ketua DSKS Ustadz Muinuddinillah Basri mengatakan, umat Islam selalu distigmakan negatif seperit intoleran dan terorisme. Kegiatan Tarhib Ramadhan kali menjadi bukti bahwa umat Islam sangat menjunjung tinggi toleransi.

Ketua DSKS, Ustadz Muinudinillah Basri sampaikan sambutan. Foto: Arie R/Jurnis

“Kita mengadakan acara ini, Insya Allah menunjukan toleran artinya yang punya hari raya pada hari ini silahkan kita tidak akan mengganggu sama sekali, dan kita ingin membuktikan bahwa umat Islam sangat toleran,” katanya di hadapan ratusan peserta aksi.

Sementara itu korlap aksi, Dimas Al-Fatah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk menyempaikan pesan kepada masyarakat agar bersiap-siap menyambut bulan Ramadhan dan mempererat ukhwuah dan persaudaran sesama muslim terutama di kota Soloraya.

“Untuk menyatukan persatuan dan ukhuwah karena ini diikuti dari banyak elemen umat islam di Soloraya. Kemudian besok itu sudah bulan Ramadhan agar masyarakat segera menyiapkan satu sama lain, jangan sampai kita terlupakan dimana bulan Ramadhan itu, penuh maghfiroh dan limpahan pahala sehingga kita ingatkan kepada kaum muslimin,” terangnya.

Dimas juga menyampaikan, acara Tarhib Ramadhan kali ini juga diisi dengan bakti sosial membagikan 2000 paket nasi bungkus, flyer jadwal shalat dan imsyakiyah kepada masyarakat di sepanjang rute aksi.

GNPF MUI Minta Polri Profesional Tangani Kasus Bom Kampung Melayu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mendorong aparat keamanan untuk bersikap adil dan profesional dalam memecahkan kasus bom Terminal Kampung Melayu. UBN mengingatkan aparat untuk menghindari kesan menyudutkan agama tertentu.

“Menghindari kesan penyudutan kelompok agama tertentu dalam merilis berita atau menyebarkan informasi khususnya agama Islam yang selama ini direkayasa dan diidentikkan sebagai agama teroris,” katanya dilansir dari aqlnews.com, Kamis (25/5/2017).

Menurutnya, peristiwa yang telah menimbulkan korban jiwa tersebut bukanlah lelucon yang boleh dijadikan mainan untuk kepentingan apapun. “Semoga dalang di balik tindakan biadab ini segera tertangkap dan dihukum dengan hukuman berat. Jauhkan politisasi kasus ini untuk kepentingan politik sesaat karena akan menambah kerugian dan kerusakan serta dendam yang tak berkesudahan,”

UBN mengimbau segenap elemen bangsa Indonesia untuk bersikap jernih guna tidak melekatkan setiap peristiwa kekerasan dengan Islam dan umat Islam. Dikatakan UBN, bersikap empatik adalah sikap bijaksana agar terjaga dari penggeringingan opini yang menyesatkan.

“Kepada segenap ummat Islam tetaplah bersikap rasional dan waspada dalam menyikapi kasus bom bunuh diri di kawasan terminal Kampung Melayu agar kita selamat dari penggiringan isu atau rekayasa isu baru yang menyesatkan,” ujarnya.

“Atas adanya nyawa yang hilang dan ada yang terluka, kita semua berduka sebagai sesama muslim dan sesama anak bangsa, ada keluarga mereka yang kehilangan dan kerabat mereka yang berduka,” tuturnya.

UBN menjelaskan, Indonesia bukan zona perang dalam timbangan syariat, maka bom bunuh diri adalah tindakan yang salah alamat dan di luar batas syariat Islam.

Berislam dengan damai dan menjauhi cara-cara kekerasan adalah komitmen bersama para ulama dan ummat Islam Indonesia. Karenanya, tindakan bom bunuh diri dengan menghilangkan nyawa sendiri dan atau nyawa orang lain adalah tindakan di luar konsensus ulama dan ummat Islam Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: AQLNews

Teror Bom Kampung Melayu: Membidik Siapa?

Oleh : AB Latif (Direktur Indopolitik Watch)

Lagi-lagi bom. Bom kok lagi-lagi. Aneh kan? Negeri ini bukanlah negeri konflik seperti di wilayah lainnya. Anehnya, bom-bom kecil pun meledak, seolah ada teror sebenarnya yang dilakukan anak manusia. Tombol-tombol perang melawan radikalisme, ekstrimisme, terorisme pun dipencet ulang. Jika mau jujur, selama ini ada teror mengerikan yang dilakukan penguasa dengan kenaikan TDL, pencabutan subsidi, instabilitas politik-ekonomi, kriminalisasi, dan kebijakan yang tidak pro rakyat.

Korbannya pun tak tanggung-tanggung, jutaan rakyat yang menghuni di Indonesia raya ini. Tidakkah mereka menyadari itu? Telah terjadi ledakan diduga bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu pada Rabu, 24 Mei 2017 malam yang memakan korban 11 orang yaitu 1 meninggal dunia yang diduga pelaku dan 4 polisi luka-luka dan 5 warga luka-luka (junalislam.com, 25/5/2017). Sebuah rentetan peristiwa dari rajutan cerita bombastis ‘teroris’.

Pertanyaan besar bagi kita, apakah ada pesan tersembunyi dibalik peristiwa ledakan ini? Siapakah yang dibidik? Masih menurut junalislam.com, Kadiv Humas Mabes Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, pihaknya sudah mengetahui akan adanya serangan bom di Indonesia, namun tidak bisa memastikan waktu dan tempatnya. Peristiwa serupa juga sering terjadi, maka umat islam tidak perlu kaget. Skenario drama lagi dirancang. Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian diminta DPR RI untuk menjelaskan tuduhan kriminalisasi ulama dan ormas islam selasa, 23 Mei 2017 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (kompas.com, 23/5/2017).POLRI sedang tersudut, dimana Kapolri habis dicerca dalam raker bersama Komisi III DPR RI terkait sepak terjang POLRI yang diduga tebang pilih dalam menangani kasus yang terjadi belakangan ini terutama yang menyangkut umat Islam.

Teror untuk Siapa?

Berkaitan dengan bom kali ini yang terjadi di terminal jelas sangat aneh dan absurd. Padahal kejadian bom yang lalu biasanya meledak di kawasan elit, markas kepolisian, atau kawasan yang dekat dengan simbol-simbol asing khususnya Amerika atau dirumah ibadah. Maka aneh sekali kalau kali ini bom meledak di terminal yang notabene tempat berkumpul rakyat jelata. Karena boleh jadi perancang bom ini berhitung untuk mengurangi dampak yang tidak diinginkan baik secara ekonomi dll. Apalagi terjadinya bom sangat berkaitan dengan adanya momentum jelang hari besar kaum kristiani. Nampaknya para perancang bom ini sengaja ingin mengaitkan isu agama dengan memanfaatkan momentum hari besar umat nasrani ini. Tujuannya agar dampak dari ledakan tidak terlalu merugikan, akhirnya terminallah yang dijadikan korban lokasi aksi. Dan lihatlah betapa cepatnya Kapolri dan Kapolda tiba dilokasi padahal kabarnya akan bertolak ke Mekkah malam itu.

Di sisi lain peristiwa teror bom, beberapa elemen umat pun sedang menghadapi ketidakadilan penguasa. Sebagaimana GNPF MUI mengadakan konferensi pers yang isinya akan terus melawan kriminalisasi terhadap ulama dan ketidakadilan yang menimpa umat islam. Begitu pun konferensi pers dari Jubir HTI bersama 1000 advokat yang dipimpin oleh pakar hukum ketatanegaraan Prof. Dr. Yusril Izza Mahendra untuk melawan kediktaktoran rezim. Bahkan belakangan ini juga banyak aksi, terutama dari kalangan kaum muslimin di berbagai daerah untuk mendukung ulama dan ormas islam. Lebih-lebih dari kalangan mahasiswa dari berbagai organisasi pun tidak ketinggalan untuk turun kejalan menyuarakan kebenaran.

Dari sini maka kita melihat negitu terpojoknya rezim yang berkuasa saat ini. Dukungan masyarakat sudah lepas dan yang masih bisa diharapkan oleh rezim adalah aparat pemerintahan itupun tidak semua mendukung. Lalu bagaimana dengan 2 tahun kedepan jika ini terus terjadi. Padahal para pemodal, para kapital terus menekan mereka. Kepentingan-kepentingan para naga dan cukong-cukong asing maupun aseng terancam. Kepercayaan para cukong pemodal baik dari asing maupun aseng berkurang. Padahal harapan mereka kepada rezim sangatlah besar. Atas dasar ini maka mereka membuat rencana baru untuk bisa terus menguasai negeri ini.

Sebentar lagi Ramadhan akan datang menghampiri umat Islam. Umat Islam sedang bersiap untuk mengisi Ramadhan setelah mendapat kemenangan-kemenangan dalam aksi-aksi melawan ketidakadilan. Jika nanti kalau ternyata Polri mengaitkan isu bom ini dengan isu agama dan umat Islam, maka akan semakin terlihat adanya upaya merusak citra umat Islam. Apalagi rezim negeri ini baru saja menebar terror dan ancaman yang menakutkan pihak-pihak yang konon menentang Pancasila, NKRI, Bhineka tunggal ika, dan Undang-Undang Dasar dengan kalimat “GEBUK”. Artinya dengan adanya aksi ini dan biasanya akan dikaitkan dengan isu agama (baca Islam) dan kita akan tahu siapa yang akan digebuk.

Sudahi Kedzaliman

Berlepas dari beragam spekulasi dan analisa dari peristiwa bom Melayu, hendaknya umat Islam terus memiliki kewaspadaan tingkat tinggi. Bergandengan erat untuk senantiasa mengingatkan penguasa, agar tidak menjadikan rakyatnya sebagai korban kebijakan dzalimnya. Begitu pun, peristiwa bom ini jangan sampai menjadi perang baru dari WOT (War on Terorisme) yang sarat kepentingan, menuju WOR (War on Radicalism) untuk membidik umat Islam.

Sampai kapankah permainan kotor ini berlangsung? Tidak ada jalan terbaik bagi umat islam, kecuali berjuang bersama untuk tegaknya agama Allah swt. Kemuliaan umat akan terwujud bila syariat Allah ini diterapkan diseluruh lini kehidupan. Mari, menjelang Ramadhan ini untuk bisa berjuang dan memohon kemanangan agar umat Islam kembali lagi memimpin dunia. Bagi penguasa negeri ini, sudahilah kedzaliman. Buatlah suasana nyaman, aman, dan melindungi. Jangan sampai sesama anak bangsa saling merasa curiga dengan beragam isu murahan yang dijual eceran.

LGBT Terus Bergerak, AILA Berharap MK Kabulkan Uji Materi Pasal Kesusilaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Rita Soebagio mengatakan, pembubaran pesta seks kaum homoseksual membuktikan bahwa pergerakan mereka semakin massif.

Rita menyinggung penggerebekan pesta seks ‘The Wild One’ di kawasan Kelapa Gading kemarin serta penggerebekan-penggerebekan sebelumnya di berbagai kota di Indonesia.

“Ini sebenarnya bukan kejadian pertama, kejadian penangkapan prostitusi gay di Ciawi kemudian pesta seks di Surabaya dan seterusnya, ini menjadi bukti bahwa komunitas ini sebenarnya terus bergerak,” kata Rita kepada Jurnalislam.com, Rabu (24/5/2017).

Rita menilai, komunitas LGBT terus melakukan perilaku-perilaku yang jauh dari nilai-nilai beradab serta tidak sesuai dengan harga diri sebagai manusia. Oleh sebab itu, ia berharap hakim segera mengabulkan Judicial Review atau Uji Materi pasal 284, 285, 292 KUHP tentang Kesusilaan di Mahkamah Konstitusi (MK) yang diajukan Rita bersama 12 pemohon lainnya.

“Sebenarnya kejadian ini merupakan gunung es dari fakta yang sebenarnya. Mudah-mudahan ini juga semakin menguatkan para hakim untuk bisa mengambil keputusan sesuai nurani mayoritas kita,” terangnya.

Tanggapi Nasir Abas, Ini Kata Ustadz Abu Tholut tentang Bom Kampung Melayu

SOLO (Jurnalislam.com) – Ada dua metode pendekatan yang harus dilakukan dalam menganalisa serangan bom seperti kejadian Bom Kampung Melayu di Jakarta tadi malam, yaitu pendekatan induktif dan deduktif. Hal tersebut disampaikan pengamat gerakan Islam Ustadz Abu Tholut al Jawi kepada Jurnalislam.com disela-sela kegiatan keumatan di Surakarta, Kamis (25/5/2017).

Pendekatan induktif, kata Ustadz Abu Tholut merupakan pendekatan yang merunut suatu kejadian diawali dari yang sering terjadi, mempelajari kejadian-kejadian yang sudah berlalu untuk dicari benang merahnya lalu diambil suatu kesimpulan.

“Dan tidak hanya pendekatan ini saja, ada satu lagi, yang mana keduanya harus dilakukan,” katanya. Pendekatan kedua, yaitu pendekatan deduktif diawali dengan menganalisa tempat kejadian, mengumpulkan berbagai bukti di lapangan juga berupa jejak yang ada dari tempat asal kejadian sampai menghasilkan suatu kesimpulan.

Karenanya, seorang pengamat harus terjun langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), kata Ustadz Abu Tholut. Dengan melihat tempat kejadian, diyakini pengamat dapat mengumpulkan data-data secara valid sehingga analisanya bisa objektif dan tidak gegabah.

“Jangan baru dapat info sedikit, hanya berbentuk laporan sepihak lalu menyimpulkan, ini justru malah bernilai subyektif dan seorang pengamat seperti ini cenderung tidak independen,” tegas Abu Tholut yang dikenal sebagai pengamat pergerakan Islam dunia.

Tanggapi Nasir Abas

Menanggapi Nasir Abas, yang belakangan disebut pakar terorisme dan mengatakan pembuat bom Melayu mendapatkan keterampilan dari daerah konflik, Ustadz Abu Tholut mengatakan bahwa pernyataan Nasir Abas baru prediksi yang bersifat prematur.

“Banyak mengandung asumsi-asumsi yang sudah mengarahkan pada kelompok tertentu bahkan negeri tertentu, yang jadi pertanyaannya mana data pendukung untuk menyimpulkan hal tersebut?” tanya Ustadz Abu Tholut.

Kata Ustadz Abu Tholut, Kalau alasannya bahan baku dan orang yang punya keterampilan dari luar negeri saja sebagai data pendukung, di Indonesia sudah banyak yang sudah pulang dari daerah konflik.

“Sudah banyak dari dulu yang sudah pulang tapi apakah terjadi serangan seperti yang terjadi akhir-akhir ini,” kata dia.

“Masalah skill dan bahan baku berlimpah, tapi mana pelaku yang atau bomb maker yang punya historis memiliki ketrampilan dari luar?” tanya Ustadz sambil menyebutkan tempat tempat kejadian.

Ustadz Abu Tholut mencontohkan pelaku serangan di pos Polisi Tangerang dulu tidak menggunakan bom. Kasus lain tentang bom panci yang tertangkap di Bekasi dan diduga ingin mengebom istana, mereka tidak pernah keluar neger. “Bom Sarinah juga demikan,” katanya.

Karenanya, menurut Ustadz Abu Tholut, jika bom Melayu dikaitkan dengan data pendukung yang baru sedikit lalu disimpulkan seperti pernyataan Nasir Abas, malah terkesan dipaksakan.

“Belum bisa disimpulkan dari kelompok mana apa motifnya, tujuannya apa? Untuk hari ini, kalau asumsi dan dugaan banyak sekali, tapi pakai data pendukung saja nggak,” tutupnya.

Reporter: Deddy