KANADA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya enam orang meninggal dunia dalam penembakan di sebuah Masjid di Kota Quebec saat sholat Isya, kata polisi.
Orang-orang bersenjata menembaki sekitar 50 orang yang sedang sholat di dalam Pusat Kebudayaan Islam Quebec (the Quebec Islamic Cultural Centre) pada hari Ahad (29/01/2017) pukul 20.00 waktu setempat (01:00 GMT), lansir Aljazeera.
“Enam orang dipastikan meninggal dunia – usia mereka berkisar antara 35 sampai 70,” juru bicara polisi provinsi Quebec, Christine Coulombe, mengatakan kepada wartawan, menambahkan bahwa delapan orang terluka dan 39 lainnya terluka.
Polisi mengatakan dua tersangka telah ditangkap, tapi tidak memberikan rincian tentang mereka atau apa penyebab/alasan melakukan serangan.
Imam Masjid, Mohamed Yangui, tidak berada di dalam masjid pada saat penembakan. Ia menerima telepon dari jamaah yang panik.
Dia mengatakan: “Mengapa hal ini terjadi di sini? Ini barbar.”
Berbicara kepada Al Jazeera melalui telepon, ia berkata: “Salah satu administrator menelepon saya dan mengatakan ada penembakan di masjid. Saya masih shock. Saya berlari ke masjid. Saya diberitahu bahwa salah satu penyerang ditangkap di tempat sementara yang satu lagi ditangkap di dekatnya.”
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengutuk penembakan itu sebagai “serangan teror pada umat Islam di pusat ibadah dan pusat perlindungan.”
“Muslim Kanada adalah bagian penting dari ikatan nasional kita, dan tindakan yang tidak masuk akal ini tidak memiliki tempat dalam masyarakat, kota dan negara kita,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Penembakan itu terjadi pada akhir pekan setelah Trudeau mengatakan Kanada akan menyambut para pengungsi, setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan program pengungsi AS dan melarang sementara warga dari tujuh negara mayoritas Muslim memasuki negara itu.
Philippe Couillard, walikota Quebec, mengatakan di Twitter bahwa serangan hari Ahad tersebut “adalah tindakan teroris”, dan menyerukan “solidaritas dengan warga Quebec yang beragama Islam.”
Imam masjid Yangui menambahkan bahwa Islamic Centre tersebut tidak pernah menerima ancaman apapun sebelum serangan itu.
“Lingkungan di sini sangat damai. Kami memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah dan walikota Quebec. Kami tidak punya masalah apa pun,” katanya.
Menulis di halaman Facebook-nya setelah serangan, Islamic Centre itu mengatakan: “Semua pikiran kita bersama dengan anak-anak yang kami harus beritahukan kematian ayah mereka.”
Masjid ini sebelumnya pernah ditargetkan dalam serangan Islamofobia. Pada bulan Juni 2016, selama bulan Ramadhan, kepala babi ditinggalkan di depan pintu masjid bersama dengan catatan yang mengatakan “bon appetit (selamat menikmati)”. Babi dilarang dalam Islam.
“Kami tidak aman di sini,” kata Mohammed Oudghiri, yang biasanya menghadiri shalat di masjid di daerah perumahan kelas menengah tersebut, tapi tidak pada hari Ahad.
Berbicara kepada Reuters, Oudghiri mengatakan ia telah tinggal di Quebec selama 42 tahun tapi sekarang “sangat khawatir” dan berpikir untuk pindah kembali ke Maroko.
Basem Boshra, managing editor Montreal Gazette, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa the Quebec Islamic Cultural Centre adalah masjid terbesar dari enam masjid di kota itu, dengan sekitar 5.000 jamaah.
“Ada komunitas Muslim yang cukup kuat di Kota Quebec,” katanya, menambahkan bahwa ada rencana untuk menurunkan bendera di majelis nasional sebagai tanda penghormatan bagi para korban.
Ralph Goodale, menteri keamanan publik Kanada, mengatakan di Twitter bahwa ia “sangat sedih” dengan hilangnya nyawa dan benyaknya korban yang terluka.
Greg Fergus, seorang anggota parlemen di Quebec, menjelaskan di Twitter serangan itu sebagai “aksi teroris – hasil dari tahun pengutukan Muslim.”
Walikota New York Bill de Blasio mengatakan polisi memberikan perlindungan tambahan untuk masjid di kota itu menyusul penembakan Quebec. “Semua warga New York harus waspada. Jika Anda melihat sesuatu, laporkanlah,” tweeted dia.
Insiden Islamophobia telah meningkat di Quebec dalam beberapa tahun terakhir.
Isu itu menjadi masalah besar di pemilihan federal Kanada tahun 2015, terutama di Quebec, di mana mayoritas penduduk mendukung larangan itu pada upacara kewarganegaraan.
Pada 2013, polisi menyelidiki sebuah insiden di mana sebuah masjid di wilayah provinsi Saguenay berlumuran dengan yang diyakini adalah darah babi.
Di provinsi tetangga Ontario, sebuah masjid dibakar pada tahun 2015, sehari setelah serangan oleh kelompok bersenjata dan pemboman di Paris.
“Ini hari yang menyedihkan bagi semua warga Quebec dan Kanada melihat serangan teroris terjadi di Kota Quebec yang damai,” kata Mohamed Yacoub, co-ketua pusat komunitas Islam di pinggiran kota Montreal. “Saya harap itu adalah insiden yang terisolasi.”