BAGHDAD (Jurnalidlsm.com) – Parlemen Irak memilih Barham Salih dari suku kurdi sebagai presiden baru pada Selasa (2/10/2018) malam setelah putaran kedua pemungutan suara.
Salih, anggota Persatuan Patriotik Kurdistan (the Patriotic Union of Kurdistan-PUK), menerima 219 suara dari 272 anggota parlemen dan tampak jelas memenangkan mayoritas.
Tujuh kandidat, termasuk seorang wanita, bersaing untuk posisi itu. Mereka adalah Sardar Abdullah, Sarwa Abdul-Wahed, Abdullatif Rashid, Omar Barzanji, Fuad Hussein dan Abdulkarem Abtan al-Joubori.
Baca juga: Pemimpin Kurdi Irak Tidak Ikut Serta dalam Pemilihan Presiden, Ini Alasannya

Kandidat Partai Demokrat Kurdistan (Kurdistan Democratic Party-KDP) Fuad Hussein keluar dari pemilihan, menurut pernyataan dari partainya.
Pada upacara pengambilan sumpahnya, Salih berkata: “Saya akan mempertahankan persatuan Irak. Saya akan menjadi presiden seluruh Irak, bukan hanya kelompok tertentu, ” lansir Anadolu Agency.
Di bawah perjanjian tidak resmi, kepresidenan Irak – yang sebagian besar merupakan peran seremonial – dipegang oleh seorang Kurdi, perdana menteri adalah Syiah dan ketua parlemen Sunni.
Baca juga: PM Irak Serukan Hentikan Pertempuran dengan Kurdi
Salih menjabat sebagai perdana menteri Pemerintah Daerah Kurdi (the Kurdish Regional Government-KRG) antara 2009 hingga 2011. Dia juga wakil perdana menteri Irak di bawah Ayad Allawi, yang menjadi perdana menteri setelah jatuhnya Saddam Hussein.
Dia diberi tugas untuk membentuk pemerintah bagi kandidat independen Syiah Adil Abdul-Mahdi.
Salih lahir pada tahun 1960 di Sulaymaniyah, Irak utara.
Ia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Cardiff pada 1983. Ia juga mendapat gelar master dalam bidang teknik dari Liverpool University.
Ia mendirikan Sulaymaniyah American University dan masih merupakan ketua dewan pengawas.
Dia juga perwakilan PUK di Inggris pada tahun 80-an.